Kekuasaan al-Harits kemudian dilanjutkan oleh anak laki-lakinya, al-Mundzir, yang Juga disebut Alamundarus oleh para penutur sejarah dari Bizantium. Seperti ayahnya, al-Mundzir menjadi pelindung utama ajaran Monofisit, dan untuk beberapa waktu hal ini memupus simpati Bizantium serta memicu pembrontakan terbuka di Gassan. Pada 589, ia mengunjungi Konstantinopel bersama berdua anak laki-lakinya, dan diterima dengan penuh kehormatan oleh Tiberius II, yang mengganti batu permata di mahkotanya dengan batas permata yang lebih mahal. Di tahun itu pula ia berhasil menyerang dan membakar Hirts, ibu kota kerajaan musuhnya Bizantium yang menuduhnya berkhianat, tuduhan sama yang sebelumnya dialamatkan pada ayahnya Ketika berkunjung ke gereja di Huwarin, antara Damaskus dan Palmyra, ia ditangkap dan dipenjara di Konstantinopel, dan kemudian dipindahkan ke Sisilia. Anak laki-laki dan penerusnya, al-Nu?man, yang berusaha menyerbu dan menggoyangkan kekuasaan Bizantium, juga dibawa ke Konstantinopel. Tingkat budaya yang dicapai oleh orang-orang Gassan, kerajaan tetangga Bizantium, tidak diragukan lagi lebih tinggi dari pencapaian budaya musuhnya di perbatasan Persia, yaitu kerajaan Lakhmi. Di bawah pemerintahan mereka, dan selama masa di sepanjang perbatasan timur Suriah yang merupakan perpaduan antara unsur budaya Arab. Suriah, dan Yunani. Rumah-rumah dari batu vulkanik, istana, momentum kemenangan, tempat pemandian umum, tempat penampungan air, teater, dan gereja berdiri di tempat-tempat yang kini tinggal membantu yang gersang. Dulu diatas dataran tinggi sebelah timur dan selatan Heurun berdiri sekitar tiga ratus kota dan desa, dan saat ini hanya beberapa diantaranya yang masih bertahan. Sejumlah penyair Arab pra Islam mendapatkan dukungan penuh dari raja kecil Gassan. Dikisahkan bahwa Labid, penyair termuda dari tujuh penyair ?Mua?allaqqt? yang terkenal, berperang bersama orang-orang Gassan dalam pertempuran Halimah. Ketika al-Nablghah al-Dzubyani bertengkar dengan raja Lakhmi, ia pergi meminta perlindungan ke istana anak laki-laki al-Harits. Seorang penyair dari Madinah, Hassan ibn Tsabit (lahir sekitar 563), yang sebelum menjadi penyair yang dipuji oleh Nabi Muhammad s.a.w. pernah mengunjungi istana mereka, dan merekam pengalamannya itu dalam antologinya (diwan). Dalam sebuah bait puisinya, ia memaparkan kegelimangan dan kemegahan istana Jabalah yang semarak oleh para penyanyi dan musisi dari Mekah, Babilonia dan Yunani, laki-laki dan perempuan, serta sajian anggur. Setelah kekuasaan al-Mundzir dan al-Nu?man, kerusuhan merebak di negeri Gassan. Berbagai suku di gurun Suriah mengangkat pempimpinnya masing-masing. Jatuhnya Yarusalem dan Damaskus (613-614) ke tangan Khusraw Parwiz dari Sasaniyah merupakan pukulan terakhir yang mematikan Dinasti Jafna. Apakah ketika menaklukkan kembali Suriah pada 629, Heraclius berhasil mengembalikan kedudukan raja kecil Suriah-Arab belum bisa diketahui dengan pasti. Para penutur sejarah Arab menyebut Jabalah ibn al-Ayham sebagai raja terakhir Wangsa Gassan. Dalam pertempuran Yarmuk yang terkenal (636), kerajaan ini berperang bersama Bizantium untuk menghadapi kaum muslim Arab dalam Perang Yarmuk pada 636. Dalam perang tersebut, 12.000 orang Gassan menyeberang ke pasukan Muslim, kemudian ia memluk Islam sebagai gantinya pasukan Muslim memberikan penghargaan dengan membayar gaji mereka. Dan Dikisahkan bahwa ketika sedang mengitari Ka?bah, seorang, badui menginjak bajunya dan mantan raja itu menampar wajahnya. Khalifah Umar kemudian memerintahkan Jabalah untuk menerima tamparan serupa dari orang badui itu, atau membayar denda. Setelah peristiwa itu. Jabalah keluar dari Islam dan pergi menghabiskan masa pensiunannya di Konstantinopel.