Claim Missing Document
Check
Articles

CUSTOMER EXPERIENCE MANAGEMENT (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengalaman pelanggan (customer experience) merupakan tanggapan pelanggan secara internal dan subjektif terhadap setiap berhubungan dengan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan langsung pada umumnya terjadi pada bagian pembelian, penggunaan dan pelayanan yang biasanya dimulai oleh pelanggan. Hubungan tidak langsung kebanyakan sering melibatkan perjumpaan yang tidak direncanakan dengan penampilan produk, pelayanan dan merek perusahaan dan mengambil bentuk dari rekomendasi atau kritisi kata dari mulut, periklanan, laporan pemberitaan, kajian dan sebagainya. Manajemen pengalaman pelanggan (Customer Experience Management /CEM) berbeda dengan manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management /CRM) pada masalah subjek, waktu, monitor, audien dan tujuannya. Jika manajemen pengalaman pelanggan menangkap dan mendistribusikan apa yang dipikirkan pelanggan tentang sebuah perusahaan, maka manajemen hubungan pelanggan menangkap dan mendistribusikan apa yang perusahaan ketahui tentang pelanggan. Jika manajemen pengalaman pelanggan berfokus pada titik interaksi dengan pelanggan atau ?titik sentuh? dengan pelanggan, maka manajemen hubungan pelanggan berfokus pada setelah bersentuhan dengan pelanggan yang merupakan catatan dari interaksi dengan pelanggan. Jika manajemen pengalaman pelanggan melakukan survei, studi yang dibidik dan diobservasi adalah ?suara pelanggan?, maka manajemen hubungan pelanggan melakukan hal tersebut dari data penjualan, riset pasar, click-through situs web dan pelacakan data pelanggan secara otomatis. Dalam manajemen pengalaman pelanggan yang menggunakan informasi tentang pelanggan adalah pemimpin bisnis atau fungsional agar dapat menciptakan ekpektasi pelanggan yang dapat dipenuhi dan pengalaman pelanggan yang lebih baik terhadap produk dan pelayanan, sedangkan dalam manajemen hubungan pelanggan informasi tentang pelanggan hanya digunakan oleh orang yang bersentuhan langsung dengan pelanggan, misalnya bagian pemasaran, pelayanan lapangan dan pelanggan agar dapat melaksanakan pelayanan pelanggan secara efisien dan efektif. Manajemen pengalaman pelanggan berusaha untuk memperkecil gap antara ekpektasi dan pengalaman pelanggan, manajemen hubungan pelanggan hanya berusaha mengendalikan penjualan dengan mengandalkan paket produk yang bukan diminta pelanggan.
KAWAN ANDA SEBAGAI JAMINAN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Ketika saya memberi seminar Kewirausahaan di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, kawan saya Pak Maryono bercerita tetang bagaimana ia mengawali bisnis. Pak Maryono mengawali bisnis sebagai penjual buku-buku asing dalam bidang kedokteran. Modalnya adalah kawannya di Fakultas Kedokteran sebagai jaminan, agar ia dapat mengambil buku. Dengan jaminan kawannya tersebut, ia dapat menjual buku ke beberapa instansi maupun perguruan tinggi yang berkait dengan bidang ilmu kesehatan atau bidang ilmu lainnya. Hasilnya cukup lumayan, dapat digunakan untuk membiayai kuliahnya. Ketika saya bertemu salah seorang kawan dekat, langsung dia menawarkan kepada saya untuk menjadi dealer komputer Epson. Kawan saya tersebut saat itu sebagai sales representative Metrodata. ?Kamu mau Med menjual komputer Epson ?? tanya kawan saya. Med adalah nama panggilan saya ketika di SMA I Madiun. ?Saya tidak punya modal? jawab saya. ?Ini tidak perlu modal. Cukup kamu pajang komputer Epson itu. Kemudian setelah komputernya laku baru kamu bayar. Saya beri tenggang waktu dua bulan? kata kawan saya. ?Baiklah. Saya akan mencoba untuk jualan komputer Epson? saya mengiyakan. Metrodata percaya kepada saya, karena jaminannya kawan saya tersebut dan kawan saya bersedia menjadi jaminan. Mengapa kawan saya tersebut percaya dengan saya?. Karena kawan saya tersebut ketika di SMA I Madiun sebangku, berangkat sekolah bersama. Jika berangkatnya saya membonceng dia, maka pulangnya gantian dia membonceng saya. Saya membeli bakso dan es bersama, jika saya yang mempunyai uang, maka saya yang membayar, sebaliknya ketika dia punya uang, dia yang membayar. Ketika saya sakit, saya tiduran di rumahnya, sedangkan dia berangkat sekolah sendiri. Saya sering makan di rumahnya dan belajar bersama. Saya sering menghibur adiknya dengan permainan sulap. Saya sering berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya. Saya pernah meminjam uang dengan dia untuk membayar SPP dan saya  mengembalikan pinjaman sesuai dengan janji saya.  Saya sangat beruntung diberi kepercayaan kawan dekat saya. Kawan saya tersebut bernama Agus Honggo Widodo, saat ini dia sebagai Direktur PT. Metrodata. Anda dapat mencoba memulai usaha dengan modal kawan terdekat Anda sebagai jaminan.
Kajian Peran Serta Masyarakat Untuk Mewujudkan Desa Plunturan Menjadi Desa Wisata Budaya Suyanto, Mohammad
Exchall Vol 2 No 2 (2020): Konsorsium Untag Indonesia
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47685/exchall.v2i2.107

Abstract

Plunturan Village is located in Pulung sub-district, Ponorogo district. Plunturan Village is geographically a mountainous area that has a good view and also has the potential for culture and mores which are still preserved until now, so it is very possible to be developed into a cultural tourism village. Unique and interesting cultural potential and strong traditions from the community are one of the basic assets to build a cultural tourism village in order to increase community income. Tourism development that is oriented towards the potential of local wisdom is now starting to be favored by tourists, therefore the empowerment of the people of Plunturan Village through approaches and community awareness is needed so that they can use and have access to control in the development of cultural tourism villages, so that it is hoped that they can bring in many local tourists and abroad in order to improve the economy of the village community in Plunturan. The population of this study were all of the people of Plunturan Village who were involved in traditional and cultural activities in the village of Plunturan, while the research sample was determined by purposive sampling, by determining the number of research samples as many as 100 respondents. Data obtained from distributing questionnaires and field observations. Data analysis using qualitative descriptive analysis. The results showed that there was no management of tradition and culture as elements of cultural tourism villages, this was due to limited access, lack of knowledge and skills of the people of Plunturan Village, while in terms of natural potential as well as cultural wealth and traditions it was very supportive to be appointed as a cultural tourism village. When viewed from the point of view of the motivation and psychological readiness of the community based on the understanding of the principles of sustainability for tourism village development, it is very strong. Viewed from the government side, village policies are very supportive of the realization of a cultural tourism village, whereas from an institutional perspective, there are art and cultural studios. From the results of this study, it can be concluded that the village of Plunturan is very worthy of being appointed as a cultural tourism village. Key words: Plunturan Village, cultural tourism village
PENGEMBANGAN USAHA RUMAH TANGGA KONVEKSI DI DESA TUGU, KECAMATAN SENDANG, KABUPATEN TULUNG AGUNG, PROPINSI JAWA TIMUR Andjarwati, Tri; Suyanto, Mohammad
ABDIMAS Vol 4 No 04 (2024): PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/abdimass.v4i04.1713

Abstract

Desa Tugu. Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulung Agung berada dilereng Gunung Wilis. Mayoritas warga berpenghasilan dari hasil pertanian dan Perkebunan. Ibu Karyati (mitra) sebagai penjahit pakaian dan memiliki banyak pelanggan dari warga setempat juga sudah dikenal oleh beberapa desa tetangga terutama untuk seragam sekolah juga guru-gurunya, terutama dimusim tahun ajaran baru dan menjelang hari raya Idhul Fitri mengalami lonjakan order hal ini terjadi karena hasil jahitannya disukai oleh pelanggannya dan juga sangat sedikit pesaingnya. Mitra hidup bersama suami sebagai buruh tani dengan 4 (empat) orang anak. Dalam menjalankan usahanya mitra dibantu anaknya sendiri yang memang dididik menjahit sejak dini dan disaat kebanjiran order mitra dibantu oleh satu orang tetangganya yang bekerja paruh waktu. Berdasarkan hasil survei dan penjelasan mitra diperoleh informasi bahwa Mitra sering menolak pesanan terutama seragam olah raga yang berbahan kaos dan juga dari Perusahaan konveksi yang ada di Kota Tulung Agung yang berbahan kaos karena mitra tidak memiliki mesin jahitnya yaitu mesin obras. Peluang ini sangat disayangkan kalau tidak dapat dikerjakan hanya karena tidak memiliki mesinnya, untuk itu pengabdi melalui dana hibah perguruan tinggi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mencoba dapat membantu mitra dalam pengadaan mesin obras sesuai kebutuhan mitra. Potensi Mitra: Usaha rumah tangga yang dimiliki oleh mitra sangat potensi dapat dikembangkan dengan lebih cepat karena: Mitra memiliki bakat alami dalam ketrampilan menjahit; Mitra telah memiliki banyak pelanggan; Pesaing di desanya sangat kecil, ada penjahit tapi kurang diminati warga; Mitra memiliki motivasi yang tinggi untuk membesarkan usahanya; Bahan baku mudah didapat; Suami dan anak mendukung usaha mitra.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KELOMPOK SADAR WISATA (POKDARWIS) DIDESA KERTOSARI, KECAMATAN PURWOSARI, KABUPATEN PASURUAN Suyanto, Mohammad
ABDIMAS Vol 5 No 02 (2025): PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/abdimass.v5i02.1998

Abstract

Desa Wisata Kertosari, yang terletak di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, memiliki potensi besar dalam bidang ekowisata dan telah meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada tahun 2019. Namun, desa ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan distinasi wisatanya, salah satunya keterbatasan sumber daya manusia, Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas SDM, dengan memberikan pelatihan pendampingan pada pengurus POKDARWIS Randuwana Desa Wisata Kertosari dalam meningkatkan fungsi dan perannya dalam mengelola ekowisata secara berkelanjutan. Dengan adanya pelatihan dan pendampingan POKDARWIS ini, diharapkan dapat meningkatkan daya tarik sapta pesona dari distinasi wisatanya bagi wisatawan, sehingga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat melalui pengembangan ekowisata berbasis kearifan lokal.
PENGEMBANGAN INDUSTRI SANDAL ASRON NAFIK DESA WEDORO, KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO Suyanto, Mohammad; Abdulrahim, Muslimin
Journal Community Service Consortium Vol 1 No 1 (2020): Journal Community Service Consortium
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/consortium.v1i1.3263

Abstract

Home Industri Sepatu dan sandal merupakan usaha yang banyak dijalankan di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Industri kecil sepatu dan sandal yang berada di Desa Wedoro, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo sudah lama berdiri mulai dari tahun 2.000 an dan semakin bertambahnya tahun jumlah pengrajin sepatu dan sandal semakin bertambah. Industri kecil sepatu dan sandal masih bersifat tradisional karena dalam mengerjakan barang produksi masih menggunakan teknologi/alat yang masih sederhana. Faktor yang mendukung eksisnya suatu industry kecil adalah manajemen/pengelolaan, tersedianya bahan baku serta kebijakan Pemerintah setempat dan faktor yang kurang mendukung adalah teknologi/alat, modal, tenaga kerja, pemasaran. Pola persebaran industri kecil sepatu dan sandal mayoritas berkumpul di satu desa karena faktor warisan dan peran manusia itu sendiri, hal ini dapat membuktikan bahwa Home Industri dapat dijadikan sebagai salah satu strategi dalam mencapai pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan sekali pengembangan Home Industri sebagai salah satu langkah strategis dalam rangka meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian masyarakat Jawa Timur, khususnya dalam hal penyediaan lapangan kerja. Terdapat 26 (dua puluh enam) usaha rumah tangga di Desa Wedoro yang memproduksi sandal diantaranya bapak Asron Nafik, di mana beliau terhimpun pada kelompok usaha “Home Industri Sepatu dan sandal”. Mitra sangat berharap dapat meningkatkan produksinya baik dari sisi kuantitas maupun kualitas dan bisa menjadikan usaha rumah tangga ini menjadi sumber utama ekonomi keluarga. Beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu manajemen usaha yang masih sederhana, pemasaran masih berupa pesanan dan dititipkan dibeberapa toko sekitar yang dikenalnya, proses produksi dilakukan dengan manual, serta kemasan kurang menarik. Berdasarkan kondisi tersebut, kami menawarkan solusi yaitu dengan pengadaan teknologi tepat guna mesin seset tungkak serta manajemen usaha kecil yang terampil, manajemen pemasaran dan manajemen keuangan sederhana.
USAHA RUMAH TANGGA KONVEKSI DI DESA TUGU, KECAMATAN SENDANG, KABUPATEN TULUNG AGUNG, PROPINSI JAWA TIMUR Suyanto, Mohammad; Abdulrahim, Muslimin; Ofani, Maria farnilinda
Journal Community Service Consortium Vol 2 No 1 (2021): Journal Community Service Consortium
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/consortium.v2i1.3306

Abstract

Desa Tugu. Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulung Agung berada dilereng Gunung Wilis. Mayoritas warga berpenghasilan dari hasil pertanian dan perkebunan, begitu juga dengan ibu Karyati. Ibu Karyati sebagai warga desa tersebut tinggal bersama suami dengan empat orang anak, suaminya sehari hari bekerja sebagai petani yang merupakan andalan ekonomi keluarga. Ibu Karyati. Ibu Karyati memiliki usaha sampingan yaitu sebagai penjahit dan memiliki banyak pelanggan dari warga setempat juga sudah dikenal oleh beberapa desa tetangga terutama untuk seragam sekolah juga guru-gurunya, hal ini terjadi karena hasil jahitannya disukai oleh pelanggannya juga sangat sedikit pesaingnya.Ibu Karyati sehari harinya dibantu oleh seorang tenaga penjahit yang sudah dikader dari awal yang bekerja paruh waktu, hal ini disebabkan karena mesin jahit yang dimiliki hanya satu unit sehingga bergantian. Berdasarkan hasil survei dan penjelasan mitra diperoleh informasi bahwa mitra sering menolak pelanggan yang menginginkan selesai lebih cepat dari jadwal yang ditentukan oleh mitra karena harus antri. Dimusim tahun ajaran baru dan menjelang hari raya Idhul Fitri mengalami kesulitan karena pekerjaan yang menumpuk Masalah yang dihadapi Mitra yaitu: (1). Kurangnya mesin jahit, (2) Kurangnya kemampuan dalam managemen pengelolaan usaha. Memperhatikan permasalahan tersebut pengabdi memberikan solusi pengadaan mesin jahit serta memberikan pelatihan manajemen pengelolaan usaha. Dengan menggunakan mesin jahit yang dimiliki hanya satu unit rata-rata sehari hanya mampu menyelesaikan 3- 5 potong pakaian, setelah diberi bantuan satu mesin jahit dan diberi pelatihan managemen pengelolaan usaha yaitu dengan membuat jadwal antrian serta sistem pola kerja ibu karyati dapat menyelesaikan 15-20 potong pakaian, sehingga sangat membantu ekonomi keluarga dan hal ini masih bisa dikembangkan lebih besar lagi menjadi usaha konveksi
Implementasi Kebijakan Program Desa Preneur ddalam Pengembangan UMKM Di Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul Lefteuw, Maria Rosa Mustika; Nugroho, Hanantyo Sri; Suyanto, Mohammad; Riatmaja, Dodi Setiawan
Jurnal Ilmiah Publika Vol 12 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Publika
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/publika.v12i1.9834

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kebijakan pemerintah kalurahan dalam pengembangan UMKM dan untuk mengetahui proses serta faktor-faktor pendukung dan kendala dalam pelaksanaan pengembangan UMKM. Hasil penelitian ini menjelaskan intervensi kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kalurahan Kemiri berwujud pada mengintegrasikan seluruh unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pada satu wadah yang bernama Desa Preneur dan di bawah komando Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Terkhusus pada pelaksnaan program desa preneur sendiri diaharpkan mampu menjadi program yang bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi di kalurahan kemiriyakni dengan Peran pemerintah kalurahan Kemiri untuk membantu akses pelaku UMKM diwujudkan dalam bentuk acara- acara atau event. Melakukan pameran tersendiri, fasilitasi produk untuk pameran. Mewadahi berbagai produk nantinya pada show room atau griya UMIKM yang berada di latar ombo. Kendala yang dihadapi Pemerintah Kalurahan Kemiri dalam pelaksanaan pengembangan UMKM berupa kucuran dana guna lebih membantu dan lebih cepat mengerakan roda perekenomian masyarakat dan percepatan pembangunan wadah UMKM. Selain itu, kerjasama dengan pihak ketiga yang dirasa sulit untuk dilakukan.
Comparative Analysis of Live Action Film Production Management Using Critical Path Method (CPM) Versus Conventional Production Processes Nugroho, Agung; Suyanto, Mohammad; Ariatmanto, Dhani
Intechno Journal : Information Technology Journal Vol. 7 No. 1 (2025): July
Publisher : Universitas Amikom Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24076/intechnojournal.2025v7i1.2019

Abstract

The production of the film “Kinah dan Redjo”, by Universitas Amikom and MSV Sinema, has been completed, prompting researchers to conduct an analysis and evaluation of the production management applied. The focus of this study is on time and cost, which are critical factors supporting film production. An extended production duration was identified as a challenge, as it reduces effectiveness and leads to cost overruns. Therefore, this study aims to compare project management strategies for successful planning and control, using both conventional methods and the Critical Path Method (CPM). This analysis is expected to yield faster project completion and establish efficient, productive standards for future productions. The conventional approach indicated a total production duration of 681 days, comprising 120 days for pre-production, 18 days for production, and 551 days for post-production. Upon analysis using the CPM method, the total duration was reduced to 459 days, including 113 days for pre-production, 152 days for production, and 191 days for post-production. The graphical comparison of methods shows significant cost fluctuations across each production phase with the conventional method, especially increased costs during production despite the shorter duration. Conversely, the CPM method demonstrates more controlled and measurable durations and costs. This study underscores the importance of cost optimization, standardization of the Work Breakdown Structure (WBS), and hybrid modeling to enhance efficiency in dynamic film projects. Furthermore, this analysis serves as a foundational reference for the architectural planning of future applications incorporating artificial intelligence (AI) integration. AI has the potential to accelerate scheduling, optimize resource allocation, and streamline cost management and production design, thereby improving overall project efficiency.