Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan yang belum nyata hasilnya. Al-Laits berkata : Telah diriwayatkan dari Abu Az-Zinad bahwa Urwah bin Az-Zubair menceritakan dari Sahal bin Abi Hatsmah Al Anshari (dari bani Haritsah), dia telah menceritakan kepadanya dari Zaid bin Tsabit r.a., dia berkata, âOrang-orang pada masa Rasulullah s.a.w. melakukan jual-beli buah-buahan. Apabila mereka telah panen dan tiba waktu membayar, maka pembeli berkata,âSesungguhnya buahnya busuk, kena penyakit, layuâ¦â(jenis-jenis penyakit yang mereka jadikan dalih). Maka Rasulullah s.a.w. bersabda ketika banyak terjadi perselisihan dalam hal itu, âJika begitu, janganlah tuan-tuan berjual beli hingga telah nyata benar buah itu baik.â Selaku orang yang suka bermusyawarah (demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama merekaâ (Bukhari). Kharijah bin Zaid bin Tsabit telah mengabarkan kepadaku bahwa Zaid bin Tsabit tidak menjual buah di kebunnya hingga terbit tsuraya, maka jelaslah mana yang kuning dan mana yang merah. Abu Abdillah berkata,â Riwayat itu telah dinukil oleh Ali bin Bahr, Hakkam telah menceritakan kepada kami, Anbasah telah menceritakan kepada kami dari Zakariya, dari Abu Az-Zinad, dari Urwah, dari Sahal, dari Zaid.â Menurut Ibnu Hajar Asqalani, tsuraya adalah bersamaan dengan terbit fajar. Abu Daud meriwayatkan melalui jalur Athaâ dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w. bersabda :âApabila bintang telah terbit di pagi hari, maka diangkatlah segala hama dari setiap negeri.â Sementara dalam riwayat Abu Hanifah dari Athaâ disebutkan. âHama diangkat dari buah-buahan.â Adapun bintang yang dimaksud adalah tsuraya. Munculnya bintang inni pada pagi hari terjadi pada musim panas, dimana saat itu cuaca sangat panas di Hijaz dan merupakan awal masa masaknya buah-buahan. Dengan demikian, yang menjadi pedoman adalah masaknya buah-buahan, sedangkan terbitnya bintang tsuraya menjadi tanda bagnya. Dari Malik, dari Nafiâ, dari Abdullah bin Umar r.a. bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan hingga tampak masak. Beliau melarang penjual-pembeli (Bukhari). Juga dari Humaid Ath-Tawil, dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah kurma hingga masak, Abdu Abdillah berkata, âMaksudnya hingga memerah.â  Demikian pula dari Jabir r.a. katanya : âRasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan, kecuali setelah menjadi (tampak) baikâ (Bukhari dan Muslim). Juga dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : âNabi saw, melarang menjual buah-buah sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, âBagaimanakah buah yang masak ?âJawab Nabi saw., âKemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketikaâ (Bukhari). Riwayat lain dari Anas bin Malik r.a, katanya : âSesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, âBagaimanakah yang masak itu ?â Sabda Nabi s.a.w., âSehingga merah,â Kemudian beliau melanjutkan, âBagaimanakah jadinya kamu, apabila Allah telah melarang (menjual) buah-buahan (yang masih muda), dengan jalan mana seseorang kamu (seolah-olah) mengambil harta saudaranya.â (Bukhari). Selain melarang menjual buah-buah sebelum masak, Rasulullah s.a.w. melarang menjual kurma basah dengan kurma kering. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : âRasulullah s.a.w. bersabda : âJanganlah kamu jual buah-buahan hingga nyata hasilnya, dan jangan kamu jual kurma basah dengan kurma keringâ (Bukhari).