Claim Missing Document
Check
Articles

STRATEGI BISNIS PEDAGANG ANGKRINGAN (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.544 KB)

Abstract

 Kita telah belajar tentang strategi bisnis dari pedagang angkringan. Meskipun bisnis yang kecil dan sederhana, tetapi butuh strategi yang jitu. Strategi bisnis yang lain digunakan oleh pedagang angkringan itu adalah mengenali pelanggannya dengan. Pelanggannya sebagian besar yang bekerja di sekitar terminal Umbulharjo, termasuk mengenali nama-nama pelanggannya. Kadangkala menyapanya. Itulah pelajaran kedua yang dapat kita peroleh. Hubungan pribadi dengan pelanggannya merupakan strategi kedua yang membuat dagangannya laris. Sebuah hubungan lebih dari sekedar pelanggan membeli berulang atau pelanggan bertahan. Sebuah hubungan mengimplikasikan loyalitas, emosi dan perasaan positif terhadap sesuatu atau seseorang. Ketika seseorang pelanggan berbicara tentang ”makanan yang dimakan” merasa enak, merasa senang dan merasa laparnya telah hilang menunjukkan bahwa telah terjadi suatu hubungan.   Strategi yang dilakukan pedagang angkringan tersebut sederhana, tetapi jelas dan terfokus. Strategi tersebut hanya dilakukan oleh seorang pedagang angkringan, tetapi msesungguhnya strategi hubungan pelanggan merupakan strategi bisnis yang paling modern. Kunci sukses dalam bisnis adalah memahami dasar-dasar bisnis. Dasar bisnis yang nomor satu adalah merancang dan mempertahankan strategi yang jelas dan terfokus. “Kami sudah lama menjadi perusahaan yang sukses sekali, tetapi sukses bisa menjadi musuh yang paling buruk. Kami ingin berhati-hati agar kami tidak terlalu percaya diri. Beberapa orang menggunakan kata angkuh. Dalam keadaan sukses seperti kami, kami tidak ingin merasa puas. Kami ingin mendekati setiap hari dengan ketidakpuasan yang sehat dengan status quo” kata Arnold Langbo, CEO Kellog Company. Saya mendengar cerita dari pedagang angkringan tersebut sangat mengasikkan. Tidak terasa, saya dan istri saya menunggu surat perjanjian yang dibuat Notaris ternyata sudah selesai. Kemudian kami dan pengusaha angkringan tersebut menandatangani surat perjanjian dan transaksi jual beli selesai. Setahun kemudian, pengusaha angkringan tersebut menemui istri saya, untuk membeli rumahnya kembali. Pengusaha angkringan tersebut memberikan keuntungan tertentu dibandingkan dengan setahun yang lalu. Saya dan istri saya sepakat untuk menjualnya kembali dengan cara sederhana dan mudah. Ia bercerita kalau tidak lagi berjualan angkringan, karena situasi yang mengharuskan ia mengubah bisnisnya. ”Dua angkringan yang dulu sebagai bisnis utama saya sudah tidak saya jalankan lagi. Dua angkringan saya lokasinya di dekat terbinal bis Umbulharjo, setelah terminalnya pindah, pembelinya sangat sepi sekali. Saya tidak boleh jualan di terminal yang baru Pak. Kelihatannya peraturan itu tidak memihak orang kecil seperti saya ini. Maka tetap saja harus mengambil hikmah, terus saya banting setir sisa uang yang ada saya gunakan untuk membuka bengkel Pak” kata mantan pedagang angkringan.
PERUSAHAAN YANG BERUMUR PANJANG Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

             Corporate Social  Responsibility (CSR) merupakan konsep yang menyeimbangkan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dengan aspek sosial dan lingkungan.  “Perusahaan modern adalah perusahaan yang seharusnya mentransformasi diri menjadi institusi sosial” kata Berle dan Means dalam bukunya The Modern Corporation and Private Property. Rachel Carson dalam bukunya yang berjudul Silent Spring   menyatakan bahwa pestisida dapat mematikan lingkungan dan kehidupan, maka perusahaan harus sadar akan lingkungan, karena rusaknya lingkungan akan membawa kehancuran bersama. Buku Beyond the Bottom Line, tulisan Courtney C. Brown menekankan adanya tanggungjawab sosial bagi perusahaan di samping mencari keuntungan dan memperhatikan lingkungan.             Pada 2004, perusahaan yang dinobatkan sebagai Nomor 1 untuk CSR ini adalah Fannie Mae. Perusahaan ini membeli hipotik dari peminjam lokal dan membuatnya paket untuk dijual sebagai sekuritas.  Pada 2003, lebih dari $240 milyar hipotik rumah yang didanai, yang diperuntukkan 1,6 juta kaum minoritas untuk pembelian rumah yang pertama kalinya. Prioritas ini meningkat 60 % setiap tahunnya. Bahkan $ 10 juta dari Fannie Mae bekerjasama dengan institusi keuangan Islam untuk membuka perumahan di Kalifornia Selatan untuk kaum Muslim. Sistem pembayarannya menggunakan sistem syariah.             Proter & Gamble merupakan perusahaan yang menduduki Nomor 2. Perusahaan ini dinilai memberikan pelayanan istimewa kepada kaum minoritas, wanita dan masyarakat. Perusahaan ini membantu para pemuda yang tidak beruntung di Vietnam, memberantas anak-anak yang kekurangan nutrisi di India dan menyediakan pertolongan pada gempa bumi di Turki.                Perusahaan-perusahaan yang akan bertahan dalam jangka panjang adalah perusahaan seperti Fannie mae dan Procter & Gamble, yang perduli terhadap masyarakat yang kurang mampu atau masyarakat dalam kesulitan dan ramah terhadap lingkungan. Sebaliknya perusahaan yang tidak peka terhadap masyarakat yang tidak beruntung, bahkan mengusir mereka, mencela mereka, menyakiti mereka, mngambil hak mereka, menumpahkan darah mereka dan tidak ramah dengan lingkungan serta perusahaan yang arogan, maka perusahaan tersebut tidak akan berumur panjang dan akan bangkrut. “Tahukah engkau yang bangkrut ? Mereka menjawab, pailit (bangkrut) adalah orang yang tidak mempunyai uang ataupun benda, maka Rasulullah bersabda : “Pengertian pailit bagi umatku adalah siapa yang datang hari kiamat dengan shalat zakat, puasa tapi selalu mencela ini, menunduh itu, memakan barang ini, mencucurkan darah itu, memukul ini, maka diambillah amal kebajikannya dan diberikan kepada orang yang telah disakiti dan bila masih tidak cukup pahalanya, maka dosa daripada orang yang disakiti akan diambil dan dibebankan kepada mereka. “ sabda Rasulullah s.a.w.
PENDAPATAN PRIMER NEGARA PADA PERIODE AWAL ISLAM (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada awal perkembangan Islam sumber utama pendapatan negara adalah khums, sodaqoh fitrah, zakat, kharaj (pajak tanah) dan jizyah (pengumpulan pajak).  Khums dikeluarkan pada tahun 2 hijrah. Sodaqoh fitrah diwajibkan juga pada tahun 2 hijrah. Kharaj ditarik pada 7 tahun hijrah, setelah menundukkan khaibar. Zakat diwajibkan pada tahun 8 hijriah dan jizyah ditentukan pada tahun 8 hijrah pula (Sadr, 1989). Pada masa Rasulullah, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pendapatan Negara adalah mendistribusikan semua pendapatan yang diterima. Kebijakan tersebut berubah pada masa Khalifah Umar. Pada saat itu pendapatan meningkat tajam dan baitul maal didirikan secara permanen di pusat kota dan ibukota propinsi, sehingga masih tersisa Khums dalam bahasa Arab berarti seperlima. Khums merupakan salah satu sumber pendapatan Baitul Maal, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an (8:41). Seperlima untuk Allah dan Rasul-Nya adalah untuk negara digunakan untuk kesejahteraan umum (Pickthall, 1969). Rasulullah s.a.w biasanya membagai khums menjadi tiga bagian, bagian pertama untuk dirinya dan keluarganya, bagian ke dua untuk kerabatnya dan bagian ketiga untuk anak yatim piatu, orang yang membutuhkan dan orang yang sedang dalam perjalanan. Empat perlima bagian yang lain dibagi di antara para prajurit yang ikut dalam perang (dalam kasus tertentu beberapa orang yang tidak ikut serta dalam perang juga mendapat bagian). Penunggang kuda mendapat dua bagian (untuk dirinya sendiri dan kudanya), bagian untuk prajurit, wanita yang hadir dalam perang untuk membantu beberapa hal tidak mendapat bagian dari rampasan perang (Sabzwari, 1984). Pada tahun kedua setelah Hijrah sodaqoh fitrah diwajibkan. Sodaqoh yang juga dikenal sebagai zakat fitrah ini diwajibkan setiap bulan puasa Ramadhan. Besarnya satu Sha kurma, gandum (barley), tepung keju atau kismis, atau setengah Sha gandum untuk tiap muslim, budak atau orang bebas, laki-laki atau perempuan, muda atau tua, dan dibayar sebelum shalat Id (Bukhari, 1979). Kharaj merujuk pada pendapatan yang diperoleh dari biaya sewa atas tanah pertanian dan hutan milik ummat. Jika tanah yang diolah dan kebun buah-buahan yang dimiliki non muslim jatuh ke tangan orang Islam akibat kalah dalam pertempuran, aset tersebut menjadi bagian dari kepemilikan publik umat Islam. Karena itu siapa pun yang ingin mengolah lahan tersebut harus membayar sewa. Pendapatan dari sewa inilah yang termasuk dalam lingkup kharaj. Contohnya adalah sewa yang dipungut atas beberapa lahan di Khaibar yang merupakan barang rampasan perang dan menjadi kepemilikan publik umat Islam (Sadr, 1989).  Ketika Khaibar ditaklukkan, tanahnya diambil alih oleh orang muslim dan pemilik lamanya menawarkan untuk mengolah tanah tersebut sebagai pengganti sewa tanah dan bersedia memberikan sebagian hasil produksi kepada negara. Jumlah kharaj dari tanah ini tetap yaitu setengah dari hasil produksi.  Rasulullah s.a.w biasanya mengirim orang yang memiliki pengetahuan dalam masalah ini untuk memperkirakan jumlah hasil produksi. Setelah mengurangi sepertiga sebagai kelebihan perkiraan, dua per tiga bagian dibagikan dan mereka bebas memilih, menerima atau menolak pembagian tersebut. Prosedur yang sama juga diterapkan di daerah lain. Kharaj ini menjadi sumber pendapatan yang penting (Sabzwari, 1984).
GAJI LUAR BIASA (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanyaan seorang Ibu ketika mengikuti seminar saya di Balai Kota ”bagaimana saya dapat mempertahankan karyawan saya meskipun gajinya kecil?” Jawaban saya adalah tidaklah mudah untuk mempertahankan karyawan yang berkualitas. Meskipun demikian bukanlah tidak ada jalan untuk dapat mempertahankan karyawan tersebut. Saya memulai bisnis dari kecil, karena saya mulai bisnis tanpa menggunakan modal uang tunai, sehingga karyawan saya gaji dengan gaji yang kecil seperti yang dilakukan oleh ibu. Karena kemampuan bayar belum memungkinkan untuk membayar dengan gaji yang memadai. Sesungguhnya gaji bukanlah sebagai faktor untuk memotivasi, tetapi hanya sekedar menjaga motivasi.  Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi, sehingga dapat menghasilkan prestasi kerja yang baik adalah bagaimana karyawan tersebut dapat berprestasi. Jika dapat membuat karyawan kita berprestasi dengan memberikan kesempatan untuk menjalankan idenya. Apakah idenya itu berhasil atau tidak, tetapi kita telah memberikan kesempatan. Biasanya karyawan itu akan bekerja keras untuk membuktikan bahwa idenya tersebut merupakan ide yang cemerlang.    Saya teringat ketika saya masih menjadi guru di salah satu SMA pinggiran kota yang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah yang menggores dalam di hati saya dalam cara memimpin. Kepala Sekolah tersebut bernama Bapak Drs. Anggoro. Saya di SMA sebagai Guru Tetap Yayasan di gaji kecil, tetapi saya tetap bersemangat mengajar dan memberikan keahlian apa saja yang saya punya Hal ini juga yang dilakukan oleh Guru yang yang lain, bahkan ada juga Dosen yang mau mengajar di sekolah tersebut. Gaji yang diberikan Pak Anggora kepada guru-guru adalah memberikan kesempatan seluruh guru untuk melaksanakan idenya. Pada saat akan adanya penerimaan siswa baru, guru-guru dikumpulkan oleh Kepala Sekolah tersebut untuk membicarakan strategi agar SMA tersebut mendapat siswa yang banyak. Salah seorang yang beliau juga Dosen di ISI bernama Pak Supriaswoto, mengatakan ”Saya Pak yang membuat sepanduknya. Saya cukup dibelikan bahannya”. ”Saya Pak mengumumkan ke SMP tempat saya mengajar” kata Pak Subarjo. ”Saya yang membuat brosurnya Pak” kata saya. Semua guru yang kumpul di SMA itu mengeluarkan idenya masing-masing dan Pak Anggoro hanya menyerahkan kepada guru-guru tersebut untuk menjalankan idenya. Hasilnya luar biasa, siswa baru di SMA tersebut cukup mengagumkan. Saya telah belajar dari Pak Anggoro tentang gaji. Ternyata memberikan gaji tidak dengan uang tetapi dengan ide terbukti ampuh melebihi gaji yang berupa uang. Sayang, turun peraturan bahwa lulusan dari Sekolah Agama tidak boleh menjadi Kepala Sekolah, akhirnya Pak Anggoro harus rela melepaskan jabatan. Tdak begitu lama Pak Anggoro yang menjadi guru kehidupan saya dipanggil oleh Sang Pemiliknya. Tuhan memang mempunyai skenario terbaik. Saya merasa kehilangan karena baru belajar sedikit dari beliau. Semoga Pak Anggoro, damai di sisi-Nya.
INDUSTRI PERHIASAN (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.343 KB)

Abstract

Industri berbasis non pertanian pada abad pertengahan awal di Hijaz cukup bervariasi, mulai dari pertambangan sampai perburuan dan perikanan, konstruksi dan manufaktur serta perusahaan produksi lainnya. Di antara berbagai perusahaan, perusahaan manufaktur pribumi merupakan suatu sector industri yang terdiri dari beberapa sub sector. Pengrajin Hijaz terlibat dalam berbagai aktivitas produksi komoditas pilihan penting yang dapat dipasarkan. Sub sektor penting tersebut mencakup perhiasan,pandai besi,penyamakan, tekstil dan parfum. Industri perhiasan dari emas dan perak berkembang dengan baik di Hijaz, sehingga profesi sebagai pembuat perhiasan dari emas dan perak. Orang Hijaz menyukai dekorasi dari logam mulia dan Al Qur’an banyak menyebutkan emas dan perak merupakan barang yang sangat berharga.  “Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai dibawahnya,  di dalam surga itu, mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan emas yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indah”(Al Kahfi:31). “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaian mereka adalah sutera” (Al Hajj:23). Demikian pula dalam surat Faathir ayat 33 : “(Bagi mereka) surga ‘Adn, merekamasuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara dan pakaian mereka adalah sutera” “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” (Az Zukhruf:71). Sebaliknya jika emas dan perak tidak dinafkahkan di jalan Allah akan mendapatkan siksa,seperti dalamAl Qur’an :“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (At Taubah:34).
BELAJAR DARI SIAPA SAJA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh-tokoh dunia yang hebat, mereka memiliki sifat rendah hati, mampu mendengarkan orang lain dengan penuh kesabaran, mau mengakui bahwa mereka tidak tahu segalanya dan mau belajar dari orang lain. Dengan demikian kita dapat belajar kepada siapa saja tentang optimisme. Menurut Daniel Goleman, optimisme merupakan kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan. Orang dengan kemampuan ini tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan, bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya untuk gagal, memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan ketimbang kekurangan pribadi. Dr. Moustafa Mahmoud, dalam buku Mind and Body, menyatakan bahwa “Kita akan menghadapi segala yang kita harapkan dan ramalkan menjadi suatu kesuksesan”. Kita harus selalu meningkatkan terus harapan positif dan menjadi orang yang optimis. Kita juga harus belajar dari Helen Keller. Ia seorang yang tuli, buta dan bisu tetapi hatinya bercahaya. Akhirnya ia menjadi seorang penulis terkenal., yang dipenuhi rasa optimisme. Ia pernah mengatakan ”Optimisme adalah keyakinan yang menghantarkan kita menuju kesuksesan”. Saya merasa bersyukur kepada Allah, meskipun saya telah ditinggal oleh kedua orang tua saya pada usia sekitar 3 tahun, sehingga saya harus ikut Nenek saya dan dapat belajar dari nenek saya. Ketika masih kecil Nenek saya  selalu bercerita tentang putra-putranya, termasuk bercerita tentang Bapak saya. Suatu saat, Nenek saya bercerita tentang Paman saya yang paling kecil. ”Om Kamil itu dahulu susah hidupnya, harus ikut orang lain supaya dapat sekolah. Tetapi sekarang sudah jadi Orang” kata Nenek saya. Om saya ketika itu menjadi Marketing Manager Perusahaan Swedia. Setelah itu, beliau mendirikan pabrik kompresor di Bekasi. Saya mengidolakan beliau yang mempunyai pabrik atau jadi pengusaha. Saat yang lain Nenek bercerita tentang Om saya yang bernama Om Tarjo yang selalu memperagakan cara menyetir mobil. Sayapun berharap suatu saat kelak mempunyai mobil seperti Om saya. Bahkan Nenek juga bercerita tentang Om saya yang bernama Om Kamal. ”Om Kamal itu jadi guru di sekolah Telale Gajah” kata Nenek saya. Saya mendengar sambil tersenyum, karena Nenek saya menyebutkan hal yang lucu. Telale gajah adalah bahasa Jawa atau dalam bahasa Indonesianya belalai gajah.  Tetapi  maksudnya menjadi Dosen di Universitas Gadjah Mada. Membangkitkan optimisme saya suatu saat seperti Om saya yang dapat kuliah di Universitas Gadjah Mada. Nenek saya memang buta huruf, tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mengajarkan optimisme kepada saya dengan hati yang tulus. Ajaran tersebut menggores pada hati saya yang paling dalam, bekas goresan tersebut tidak dapat dihapus hingga saat ini, tetap membara tanpa bisa dipadamkan, kecuali oleh Sang Pencipta. Nenek saya adalah Guru terbaik yang tidak ada tandingannya. Saya sangat berhutang budi kepada Nenek saya, saya belum sempat membalas kebaikan Nenek saya, tetapi Allah telah memanggilNya.  Saya hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya. ”Berharaplah terhadap kebaikan, niscaya kalian akan mendapatkannya” sabda Rasulullah SAW.
STRATEGI PROMOSI NABI SAW (3) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nabi Muhammad s.a.w. memberikan pelayanan hebat kepada pelanggannya. Djabir r.a. berkata : Rasulullah saw, bersabda :”Allah merahmati kepada orang yang ringan jika menjual atau membeli dan jika menagih hutang.” (Bukhari). Abu Qotadah r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Siapa yang ingin diselamatkan Allah dari kesukaran hari qiyamat harus memberi tempo pada orang yang masih belum dapat membayar hutang atau menguranginya (Muslim). Dari Hudzaifah r.a., katanya Nabi saw, pernah bersabda : “Para malaikat datang bertemu dengan ruh orang-orang yang sebelum kamu. Mereka bertanya, “Amal baik apa sajakah yang telah engkau laksanakan ?” Jawab orang itu, “Aku pernah memerintahkan kepada para pelayanku supaya mereka memberi janji kepada orang miskin dan bersikap lapang kepada orang kaya.”Lantas para malaikat itu memberikan kelapangan kepadanya (Bukhari). Dan juga Hudzaifah r.a. berkata: Ketika dihadapkan kepada Allah seorang hamba yang telah diberiNya kekayaan dan ditanya : “Apakah yang kau lakukan terhadap harta kekayaan yang telah Aku berikan kepada kamu di dunia ?” Hudzaifah berkata : Dan mereka ketika itu tidak dapat menyembunyikan sesuatu apapun dari Allah. Maka jawab orang itu kepada Allah : “Tuhanku saya dahulu telah mendapat karunia berupa harta, maka saya telah melakukan hubungan dagang dengan orang-orang dan kebiasaan saya memaafkan meringankan kepada orang kaya dan memberi tempo orang yang tidak punya. Maka Allah berfirman: “Saya lebih berhak daripadamu untuk demikian. Maafkanlah hambaKu, Keterangan ini disambut oleh Uqbah bin Amir dan Abu Mas’ud bahwa kedua orang ini telah mendengar keterangan itu dari Rasulullah s.a.w. (Muslim). Nabi Muhammad s.a.w. menjalin hubungan komunikasi (bermusyawarah) dengan baik agar tidak terjadi perselisihan antara orang melaksanakan jual beli. Dari Zaid bin Tsabit r.a. katanya ”Biasanya pada masa Rasulullah saw orang banyak berjual beli buah-buahan, setelah tiba waktu memtik dan bayar membayar, sipembeli mengatakan : buah ini busuk, kena penyakit, layu dan macam-macam kerusakan yang mereka jadikan alasan. Ketika mereka bertengkar sudah demikian rupa, Nabi saw. Bersabda : ’Jika begitu, janganlah Tuan-tuan berjual beli sehingga telah nyata benar buah itu baik.” Selaku orang yang suka bermusyawarah (berkomunikasi secara demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama mereka” (Bukhari). Nabi Muhammad s.a.w. menjalin hubungan yang bersifat pribadi. Dari Anas bin Malik r.a, katanya ”Pada suatu waktu ketika Nabi saw, sedang berada di pasar, seorang laki-laki memanggil beliau, katanya, ”Hai, Abu Qasim !” Nabi saw, melenggong kepadanya. Maka kata si laki-laki tadi. ”Saya memanggil orang ini.” Sabda Nabi saw. : ”Berilah nama dengan namaku, tetapi jangan kamu bergelar dengan gelarku.”
STRATEGI ADALAH BERTAHAN HIDUP Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Webter’s New World Dictionary, definisi strategi ádalah ilmu perencanaan dan penentuan arah operasi-operasi militer berskala besar. Strategi adalah bagaimana menggerakkan pasukan ke posisi paling menguntungkan sebelum pertempuran aktual dengan musuh.Sedangkan Jack Trout dalam bukunya Trout On Stategy, inti dari strategi adalah bertahan hidup, persepsi, menjadi berbeda, persaingan, spesialisasi, kesederhanaan, kepemimpinan dan realitas.Menggunakan strategi yang baik adalah bagaimana bertahan hidup dalam dunia kompetitif. Kunci sukses adalah memahami dasar-dasar bisnis. Dasar bisnisyang nomor satu adalah merancang dan mempertahankan strategi yang jelas dan terfokus. “Kami sudah lama menjadi perusahaan yang sukses sekali, tetapi sukses bisa menjadi musuh yang paling buruk. Kami ingin berhati-hati agar kami tidak terlalu percaya diri. Beberapa orang menggunakan kata angkuh. Dalam keadaan sukses seperti kami, kami tidak ingin merasa puas. Kami ingin mendekati setiap hari dengan ketidakpuasan yang sehat dengan status quo” kata Arnold Langbo, CEO Kellog Company.
RIBA DALAM BERBAGAI AGAMA (2) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.612 KB)

Abstract

 Hukum gereja abad pertengahan, karenanya, melarang pembayaran atas penggunaan suatu pinjaman, yang (menurut hukum Romawi) disebut usura. Tetapi meskipun seseorang dilarang memungut uang sebagai pembayaran atas suatu pinjaman, ia dapat meminta kompensasi damna et interesse jika ia dibayar lunas pada waktunya. Interesse merupakan kompensasi yang diberikan oleh seorang debitur (pengutang) kepada seorang kreditur (pemberi utang) atas kerugian yang dialami kreditur sebagai akibat dari kelalaian atau penundaan pengembalian uang pokok pinjaman, yang dapat disamakan dengan ‘kerugian yang muncul atau keuntungan yang tidak jadi diperoleh oleh pihak kreditur’. Karena interesse semacam itu adalah sah dan secara konseptual berbeda dari usura yang tidak sah, maka mudah untuk memahami mengapa istilah ‘interest’ (bunga) telah digunakan secara universal dalam masyarakat pasca-Abad Pertengahan, dan juga mengapa pada Abad pertengahan para kreditur memiliki dorongan kuat untuk berusaha menyamarkan usury sebagai interesse sehingga tidak melanggar Gereja (Lewis and Algaoud, 2001:267). Gereja adalah satu-satunya institusi paling berpengaruh pada Abad Pertengahan, dan pengaruhnya atas kehidupan manusia bekerja melalui kombinasi kekuatan material dan spiritual. Penguasaannya atas tanah menjadikan gereja sebagai tuan tanah feodal paling besar, dan lahan-lahan yang dikuasainya menjadi sumber produksi dan konsumsi yang sangat menguntungkan. Selain itu, gereja mempunyai kesatuan doktrin dan perintah yang tegas dan mengatur totalitas hubungan manusia. Seperti Islam saat ini, agama Kristen tidak sekadar sebuah agama melainkan juga sebuah jalan hidup yang mengatur baik perilaku di muka bumi maupun keselamatan spiritual di alam akhirat. Doktrin Kristen berasal dari tiga sumber pokok. Pertama adalah beberapa kitab suci, khususnya Injil dan ajaran Yesus. Kedua, dengan berjalannya Abad Pertengahan dan gereja menjadi semakin melembaga, ucapan Yesus tidak cukup untuk mencakup segala kemungkinan, sehingga ditambah, dan banyak sekali yang diganti, oleh hukum gereja yang didasarkan pada keputusan dewan-dewan gereja dan pengadilan gereja. Ketiga, kalangan terpelajar dan teolog meletakkan fondasi teologi Kristen, dengan mengambil prinsip etika yang dikembangkan oleh para filusuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles (Lewis and Algaoud, 2001:267). Perjanjian Baru memiliki tiga rujukan mengenai riba, dan Perjanjian Lama ada empat rujukan. Dari tiga pasal tentang riba dalam Perjanjian Baru, dua diantaranya identik dan berhubungan dengan padanan (misal) uang (parable of the talents) (Matius 25:14-30, dan Lukman 19:12-27). Keduanya jelas-jelas bersifat ambigu mengenai persoalan riba (Gordon, 1982). Pelayan yang mengembalikan uang sejumlah yang semula diterimanya dulu akan dihukum oleh sang bangsawan karena belum ‘mengganti uang saya’ dan kemudian pada saat saya datang saya harus sudah menerima uang saya ditambah riba’ (Matius 25:27). Jika diterjemahkan secara harfiah, ayat ini kelihatannya memaafkan penarikan riba, namun pada saat yang sama si penerima dikecam karena ‘memungut (memanen) yang tidak kamu tebar (tanam)’ (Lukman, 19:21). Namun, dalam Perjanjian Baru disebutkan dengan cukup jelas : Kasihilah musuh-musuhmu, dan berbuatlah baik, dan pinjamilah, dengan tidak mengharapkan apa pun lagi; dan pahalamu akan besar, dan engkau akan menjadi anak-anak dari Yang Mahatinggi. (Lukman 6:35). Yesus sendiri jelas menunjukkan sikap anti riba ketika ia melemparkan para pemberi pinjaman uang dari kuil, sementara Khutbah di atas Bukit juga dengan tegas mengungkapkan sentimen anti kekayaan.  
MENGAMBIL HIKMAH Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

          Hikmah merupakan sesuatu yang mempunyai arti atau makna yang mendalam atau sesuatu yang berupa kebijakksanaan yang berasal dari Allah. Meskipun kebijaksanaan itu dari Allah, tetapi tidak semua orang dapat menerima kesulitan, penderitaan, kesedihan dan kegagalan. Cara mengambil hikmah ini yang membedakan orang sukses dan orang yang gagal. Orang yang gagal begitu jatuh, ia tak pernah bangun lagi dan tidak dapat mengambil hikmah. Sedangkan orang yang sukses, begitu jatuh ia akan bangun dan mengambil hikmah. Filosofi keluarga Tionghoa belum mau putus asa sebelum gagal lebih dari tiga kali, sedangkan orang Jepang akan bangkit terus sebelum gagal tujuh kali. Itulah cara mereka menyikapi dari kegagalan dan mengambil hikmah.           Ketika saya gagal memasuki Perguruan Tinggi yang saya idam-idamkan, yaitu Institut Teknologi Bandung jurusan Mesin, maka saya harus menerima dengan lapang ketika diterima di FMIPA Fisika UGM. Saya dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Barangkali Tuhan menghendaki saya untuk ada di dunia pendidikan. Alhamdulillah, sekarang saya telah mengelola lebih dari sepuluh Perguruan Tinggi dari Akademi sampai Universitas. Ketika Primagama didirikan dengan modal yang sangat kecil, hanya mampu menyewa ruangan Rp25.000,00 per bulan. Setelah 3 bulan kita disuruh untuk pindah. “Dik Purdi biasanya kita berbicara masalah keluarga, tetapi kali ini saya mau bicara masalah bisnis. Mengingat Anda belum melunasi sewa rumah saya selama tiga bulan, maka saya mohon semua barang yang ada di rumah saya ini Anda bawa pulang”, kata pemilik rumah. Pak Purdi menjawab, “Saya bersama kawan-kawan, baru saja menyebar brosur Pak. Mohon saya diberi kesempatan”. “Saya beri waktu satu minggu rumah saya harus bersih”, kata pemilik rumah. Kemudian Pak Purdi pulang menemui saya dan menyampaikan apa yang dikatakan si pemilik rumah. Ketika itu saya menjawab, “Insya Allah ada hikmahnya”. Kemudian kita berdua berjuang menyebar brosur agar dapat siswa dan tidak menyia-nyiakan waktu satu minggu itu. Dalam satu minggu itu akhirnya kami mendapatkan uang Rp50.000,00. Kemudian, saya bersama Pak Purdi mencari tempat lain dan akhirnya mendapat tempat dengan sewa Rp30.000,00 per bulan. Setelah menandatangani perjanjian, kemudian Pak Purdi saya ajak untuk melihat kantor yang baru dari depan. Kemudian saya katakan, “Kantor kita yang baru sedikit lebih baik dibanding kantor yang lama kan. Itulah hikmahnya”. Pak Purdi mengangguk.           Demikian juga ketika saya mendirikan STMIK AMIKOM Yogyakarta, saya minta kepada Primagama untuk disewakan tempat atau kantor. Tetapi Primagama tidak mau menyewakan tempat atau kantor. Saya harus mengambil hikmah dari kejadian tersebut. “Barangkali saya harus belajar menemukan cara ketika tidak mempunyai uang untuk menyewa kantor” kata saya dalam hati. Dari kesulitan ini akhirnya saya menemukan jalan, yaitu mendatang pemilik rumah kosong di Jl. Monginsidi No. 8. Hal itu terjadi pada bulan April 1994.. Pemilik rumah itu bernama Bapak Drs. Budi Sutrisno. “Pak, saya ingin menyewa rumah Bapak selama dua tahun” kata saya. “Boleh. rumah itu kosong” kata Pak Budi. Kemudian saya mencoba untuk menyewa dengan membayar bulan Agustus dan September. Pak membolehkan untuk disewa dengan syarat dinotariskan. Setiap kegagalan selalu ada hikmahnya. Jika kita telah mengetahui sisi positifnya atau kita dapat mengambil hikmah, maka itulah awal dari kesuksesan.  “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”  (Alam Nasyrah : 5-6).