Claim Missing Document
Check
Articles

Eksplorasi dan Identifikasi Bacillus sp. dari Tanah Rizosfer Bambu dan Tomat di Kelurahan Made, Sambikerep, Surabaya : Exploration and Identification of Bacillus sp. from Bamboo and Tomato Rhizosphere Soil in Made Village, Sambikerep, Surabaya Fatimah Lailatus Saadah; Noni Rahmadhini; Suharto
Agrocentrum Vol. 1 No. 1 (2023): Agrocentrum
Publisher : Agriculture Faculty - UPN "Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/agrocentrum.v1i1.7

Abstract

Bacillus sp. is one of the Biological Control Agents (BCA) that has effectiveness in inhibiting pathogenic bacterial and fungal pathogens. The purpose of this study was to determine the presence of Bacillus sp. on bamboo and tomato root soil. The research stage started from the exploration stage which was carried out on agricultural land in Made Village, Sambikerep District, Surabaya City. Soil sampling was taken compositely at 5 different points. From the isolation results, 6 bacterial colonies were found which were suspected to Bacillus sp. The six isolates were BS 1, BS 2, BS 3, BS 4, BS 5, and BS 6. Of the six colonies, only BS 3 colonies could not grow. The results of the isolation were then identified by colony morphology, physiological and biochemical characteristics. The results of the gram test showed that BS 2, BS 4, and BS 6 were gram-positive. The results of the soft rot test showed that BS 6 showed a positive reaction. So that it is suspected as Bacillus sp. are BS 2 and BS 4.
In Vitro Evaluation of Trichoderma spp. against Sugarcane Eye Spot Disease (Bipolaris sp.) Laksamana Agadhia Raharjo; Arga Dwi Indrawan; Noni Rahmadhini
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 29 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.29.1.143

Abstract

Sugar cane (Saccharum officinarum L.) is the main ingredient in sugar production. Sugarcane is widely cultivated in warm and tropical areas and is widely used as a sweetener because it contains a lot of fructose and glucose. National sugar production shows a decline, the majority of which is caused by pathogens, especially the fungus Bipolaris sp. capable of producing up to 85% damage per Ha if no control is applied. Biological control using Trichoderma spp. can control this pathogen and is able to promote sugarcane growth. The purpose of this study was to determine the effectiveness of Trichoderma spp. in controlling Bipolaris sp. in vitro. The results showed isolates TD1, TD2, TD3 were able to inhibit Bipolaris sp. antagonistically and volatilely, the antagonist test showed a result of 86% (TD1) while the volatile test of 65% (TD2). Conclusion Trichoderma spp. can inhibit the growth of Bipolaris sp. on an in vitro scale. Keywords: BCA, Bipolaris sp. Trichoderma spp. ABSTRAK Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan bahan utama dalam pembuatan gula. Tebu banyak dibudidayakan didaerah hangat dan tropikal dan banyak digunakan sebagai pemanis dikarenakan mengandung banyak fruktosa dan glukosa. Produksi gula nasional menunjukan adanya penurunan yang mayoritas disebabkan oleh patogen terutama jamur Bipolaris sp. yang mampu menghasilkan kerusakan hingga 85% per Ha jika tidak diberlakukan pengendalian. Pengendalian biologis menggunakan Trichoderma spp. dapat mengendalikan patogen ini dan mampu mendorong pertumbuhan tebu. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui efektivitas Trichoderma spp. dalam mengendalikan Bipolaris sp. secara In vitro. Hasil menunjukkan isolat TD1, TD2, TD3 mampu menghambat Bipolaris sp. secara antagonis dan volatile, uji antagonis memperlihatkan TD1 memiliki hasil 86% sementara uji volatile TD2 memiliki hasil 65%. Kesimpulan Trichoderma spp. dapat menghambat pertumbuhan Bipolaris sp. dalam skala In vitro. Kata kunci: APH, Bipolaris sp. Trichoderma spp.
Pengaruh Pemberian Pestisida Nabati Tanaman Tembakau dan Brotowali terhadap Tingkat Kerusakan Hama Kutu Hijau pada Tanaman Kopi Varietas Robusta di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek Erlyana Desy Rahmawati; Noni Rahmadhini; Yenny Wuryandari
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 23, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v23i1.3020

Abstract

Green fleas or Coccus viridis (Homopterа: Coccidae) is one of the pests of coffee plants. Pest control efforts can be carred out by using environmentally friendly botanical pesticides. Vegetable pesticides are pesticides whose main ingredients come from plants. The purpose of this study was to determine the effect of giving pesticides from tobacco plants, brotowali plants, and a mixture of the two, with different concentrations on the level of damage to green tick pests on Robusta coffee plants in Dompyong Village, Bendungan District, Trenggalek Regency. This research was carried out in vivo and in vitro. In vivo testing using the RAK method or Factorial Randomized Block Design and then for in vitro testing using the non-factorial RAL method. For in vivo testing there are 6 levels of treatment, each treatment has 4 replications. In vitro testing was carried out in the laboratory with 5 levels of treatment and there were 4 replications. The application of botanical pesticides has a significant effect on the intensity of pest attacks, the number of pest populations, and the mortality of green lice. The result of this study is that the most effective composition of botanical pesticides to reduce pest attacks on coffee plants in Dompyong village, Bendungan district, Trenggalek district is to use a composition of vegetable pesticides made from tobacco plants. For the concentration of botanical pesticides that are effective in reducing the level of damage to coffee plants caused by green lice is a concentration of 200 ml/l with an average mortality value of 20.00.
Efisiensi Beberapa Jenis Warna Lampu terhadap Keanekaragaman Serangga Nokturnal pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.) Barna Deta Cristin Naftaly; Wiwin Windriyanti; Noni Rahmadhini
Agroteknika Vol 7 No 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v7i1.237

Abstract

Keberadaan serangga khususnya serangga hama nokturnal pada tanaman jagung menjadi salah satu faktor penyebab penurunan hasil produksi jagung. Penggunaan light trap menjadi alternatif alat monitoring populasi hama pada tingkatan rendah. Warna cahaya lampu mampu menghasilkan panjang gelombang yang berbeda, yang mana berpengaruh terhadap daya tarik serangga. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efisiensi warna lampu terhadap keanekaragaman serangga nokturnal pada pertanaman jagung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Agustus 2023 di Desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat plot berukuran 10 m x 10 m dan jarak antar plot 10 m. Setiap plot diberi perlakuan satu jenis warna lampu, yaitu merah, kuning, biru, dan putih. Parameter yang diamati mencakup jenis, peran, dan populasi serangga nokturnal pada pertanaman jagung. Analisis data dilakukan menggunakan one-way ANOVA dan uji lanjut Tukey dengan taraf signifikansi 5%, disertai dengan perhitungan efisiensi warna lampu terhadap jumlah tangkapan serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga nokturnal yang tertangkap oleh light trap terdiri dari 6 ordo; 13 famili; dan 18 genus. Total individu terbanyak ditemukan pada lampu biru (531 indvidu) dan terendah pada lampu merah (296 individu). Warna lampu berpengaruh secara signifikan terhadap rata-rata jumlah tangkapan serangga nokturnal, dengan lampu biru menunjukkan rata-rata jumlah tangkapan tertinggi (88,50) yang mana memiliki hasil yang berbeda nyata dengan lampu kuning (74,33) dan merah (49,33). Efisiensi tertinggi terdapat pada lampu biru dengan nilai mencapai 100% pada jumlah tangkapan jenis serangga dan total individu.
PENGARUH SAMPING INSEKTISIDA BERBAHAN AKTIF DIMEHIPO DAN FIPRONIL TERHADAP MORTALITAS DAN KEMUNCULAN IMAGO Trichogramma chilonis Muhammad Arif Wahyudin; Wiwin Windriyanti; Noni Rahmadhini; Safira Rizka Lestari
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 2 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, Mei 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i2.7691

Abstract

Pengendalian hayati menggunakan parasitoid seringkali disertai dengan aplikasi insektisida sintetis. Aplikasi pengendalian secara bersamaan tersebut masih mengalami kendala yaitu penggunaan insektisida yang tidak hanya membunuh hama target namun juga mempengaruhi keberadaan parasitoid yang memiliki peran penting dalam menekan perkembangan populasi hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan aktif dimehipo dan fipronil tersebut terhadap mortalitas dan kemunculan T. chilonis. Metode pengujian menggunakan metode uji Fresh Residue Contact. Proses perbanyakan T. chilonis meliputi pembiakan inang C. cephalonica, persiapan pias dan pembiakan T. chilonis. Pengujian residual insektisida dengan bahan aktif dimehipo dan fipronil menggunakan konsentrasi anjuran lapang paling rendah yaitu masing-masing 0.75 ml/l. Parameter pengamatan pada penelitian ini meliputi mortalitas, kemunculan imago, dan morfologi serangga setelah aplikasi insektisida. Data mortalitas dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilakukan uji lanjut DMRT. Hasil penelitian menunjukan bahwa insektisida berbahan aktif dimehipo dan fipronil berpengaruh berbahaya terhadap mortalitas imago T. chilonis. Persentase kemunculan imago T. chilonis perlakuan insektisida dimehipo dan fipronil yaitu 21.56%, dan 34.89%. Aplikasi insektisida tersebut mengakibatkan imago T. chilonis mengalami abnormalitas pada bagian sayap yang mengerut, berkurangnya rumbai-rumbai pada tepi sayap dan tubuh serangga tampak mengkerut dan mengering. Hasil penelitian menunjukan insektisida berbahan aktif dimehipo dan fipronil berbahaya terhadap T. chilonis sehingga akan menurunkan efektivitas pengendalian hayati yang dilakukan.
Pengaruh Tanaman Refugia (Cosmos Sulphureus dan Zinnia sp.) terhadap Keanekaragaman Serangga Musuh Alami pada Pertanaman Padi Yulifada, Dede Angelina; Rahmadhini, Noni; Widajati, Wiludjeng
JURNAL AGROTROPIKA Vol 23, No 2 (2024): Jurnal Agrotropika Vol 23 No 2, Oktober 2024
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ja.v23i2.8508

Abstract

Upaya yang dapat dilakukan dalam meningkatkan produktivitas padi adalah penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) sehingga dapat menjaga kestabilan ekosistem pada pemeliharaan padi sawah secara ekologis dengan penanaman tanaman refugia. Bunga kenikir ( Cosmos sulphureus ) dan bunga kertas ( Zinnia sp.) termasuk jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai refugia. Karakteristik dari dua tanaman tersebut yaitu mudah tumbuh, memiliki warna dan aroma yang khas sehingga dapat menjadi mikrohabitat dari serangga musuh alami. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman dan menceritakan serangga musuh alami pada fase pertumbuhan padi dengan penerapan refugia di Dusun Gempal, Desa Lundo, Benjeng, Gresik. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung dan pemasangan beberapa perangkap seperti jaring penyapu (jaring), perangkap cahaya (perangkap lampu), perangkap jatuh (perangkap sumuran) dan perangkap kuning (perangkap kuning). Analisis data meliputi indeks penerbitan relatif, indeks keanekaragaman jenis, indeks kemertaan dan indeks dominansi kemudian data ditabulasi dengan Microsoft Excle. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai yang diceritakan relatif tertinggi yaitu famili Formicidae dan Conylostilus yang berperan sebagai predator, keanekaragaman jenis serangga musuh alami termasuk kategori sedang pada fase vegetatif 1,81 dan fase generatif 1,89. Nilai indeks kemerataan termasuk kategori sedang fase vegetatif 0,67 dan fase generatif 0,69. Nilai indeks dominansi termasuk kategori rendah, yaitu fase vegetatif 0,25 dan fase generatif 0,23.
Pengujian Biologis Formulasi Bioenkapsulasi Bacillus sp. untuk Menghambat Penyakit Layu Bakteri pada Tanaman Cabai Saputra, Mochammad Mirza; Wuryandari, Yenny; Rahmadhini, Noni
Jurnal Agroekoteknologi Vol 16, No 1 (2024)
Publisher : Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33512/jur.agroekotetek.v16i1.23213

Abstract

Bacterial wilt disease is a serious threat to cayenne pepper plants because it can cause a significant reduction in production. Although Bacillus sp. has been applied using liquid formulations, the results have not been optimal. Therefore, bioencapsulated formulations in the form of Beads have been tested as an alternative to increase their effectiveness. These Beads were made using sodium alginate cross-linked with CaCl2 through an extrusion technique. The application of Beads with the K2W1 treatment combination showed the lowest disease intensity level, which was 55.5%, and the effectiveness of inhibition reached 44.5%. From the results of this study, it can be concluded that the beads formulation is significantly potentian in inhibiting bacterial wilt disease on chili plant
EVALUATING THE LONG-TERM STORAGE TIME VIABILITY AND SIZE DYNAMICS OF BACILLUS SP. BIOENCAPSULATION IN SODIUM ALGINATE MATRIX Mochammad Mirza Saputra; Yenny Wuryandari; Noni Rahmadhini; Safira Rizka Lestari
Jurnal Bioteknologi dan Biosains Indonesia Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of biological agents such as Bacillus sp. bacteria has begun to be widely used by farmers as a new form of control. Bacillus sp. needs to require special methods in its application because it has certain living conditions, and Bacillus sp. is vulnerable to environmental pressures. Bioencapsulated formulation in the form of granules is considered effective as a form of bacterial application in soil because it is able to protect Bacillus sp. and maintain survival. This study aims to determine the best concentration of sodium alginate in maintaining the viability of Bacillus sp. at the in vitro stage and to see changes in the size of the beads. The beads were made using extrusion method by combining Bacillus sp. suspension and sodium alginate suspension at 1%, 1.5%, and 2% concentration. The concentration of sodium alginate was not a major factor in changes in bead size and viability test results experienced significant changes in each observation. 1.5% and 2% concentrations can reach the highest viability value of 3x106 CFU/mL and decreased during 1 month of observation. Changes in bead size and viability were caused by the alginase enzyme produced by Bacillus sp.
Beetle Preferences Callosobruchus Sp. On Some Types of Nuts Muhammad Arif Wahyudin; Wiwin Windriyanti; Trijanti A. Widinni; Noni Rahmadhini
Nusantara Science and Technology Proceedings The 4th International Conference on Agriculture and Environmental Sciences (ICAES) 2023
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2024.3906

Abstract

Legume agricultural products are among the Indonesian populace's primary sustenance sources. Nevertheless, the production of legumes in Indonesia needs to be improved, necessitating the country to engage in imports from several nations to meet demand. One of the factors contributing to this low production is the post-harvest seed deterioration that transpires during long-term storage. The grain beetle pest, Callosobruchus sp. (Coleoptera: Bruchidae), stands as one of the stored-product pests that exhibit a broad host range, encompassing various types of legumes. As a strategy to mitigate the resultant damages, it becomes imperative to examine the preference for egg-laying by Callosobruchus sp. on different legume species. Callosobruchus sp. egg-laying preference was assessed within the entomology laboratory of SEAMEO BIOTROP. This evaluation employed two distinct methodologies: the choice and no-choice tests, executed across various legume types. The selected legumes encompassed seven species: snap beans, mung beans, yardlong beans, peanuts, cowpeas, red beans, and soybeans. The testing outcomes unveiled that, under the choice test, Callosobruchus sp. laid the highest number of eggs on mung beans, totalling 70 eggs, followed by yardlong beans with 58 eggs. Subsequently, within the no-choice test, the highest egg deposition was observed on mung and yardlong beans, amounting to 87 eggs. Callosobruchus sp. preferred egg-laying and optimal development as imago on yardlong beans. Conversely, peanuts were the least favoured for egg-laying by Callosobruchus sp. and were deemed unsuitable for imago development. The attraction of Callosobruchus sp. is influenced by several factors, including seed essential constituents, seed texture, and microenvironmental conditions.
NEMATODA YANG BERASOSIASI DENGAN TANAMAN PADI (Oryza Sativa L.) DI DESA SUMBERNGEPOH, LAWANG, KABUPATEN MALANG Amir, Faradila; Widajati, Wiludjeng; Rahmadhini, Noni; Imanadi, Latief
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 4 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, NOVEMBER 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i4.7642

Abstract

Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah salah satu tanaman pangan penting dan merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Salah satu mikroorganisme yang berasosiasi dengan tanaman padi dan memiliki peran ekologi yang beragam adalah nematoda. Nematoda dapat digolongkan menjadi nematoda parasit dan nematoda non-parasit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kepadatan populasi, serta peran ekologis nematoda pada area pertanaman padi di Desa Sumberngepoh, Lawang, Kabupaten Malang. Sampel yang diamati adalah sampel tanah dan akar dari lahan padi Desa Sumberngepoh yang dibudidayakan secara organik, semiorganik, dan konvensional. Sampel yang diperoleh diekstraksi menggunakan metode Corong Baermann yang dimodifikasi. Hasil pengamatan pada sampel akar di semua lahan menunjukkan bahwa, nematoda parasit lebih dominan daripada nematoda non-parasit. Genus nematoda parasit yang ditemukan pada sampel akar padi organik dan semiorganik adalah Hirschmanniella sp., Meloidogyne sp., dan Radopholus sp., sementara pada sampel akar padi konvensional hanya ditemukan Hirschmanniella sp., dan Meloidogyne sp. Genus nematoda non-parasit yang ditemukan pada sampel akar padi organik adalah adalah Plectus sp., dan Dorylaimus sp., sementara pada sampel akar semiorganik dan konvensional ditemukan Rhabditis sp., dan Plectus sp. Nematoda pada sampel tanah lebih didominasi oleh nematoda non-parasit dengan genus Rhabditis sp., dan Diplogaster sp., ditemukan pada sampel tanah padi organik dan konvensional. Genus Rhabditis sp., Plectus sp., Diplogaster sp., dan Dorylaimus sp. ditemukan pada sampel tanah semiorganik, sementara nematoda parasit yang ditemukan pada ketiga lahan hanya Hirschmanniella sp., dan Meloidogyne sp. Nematoda Rhabditis sp. dan Plectus sp. adalah nematoda pemakan bakteri, Diplogaster sp. adalah nematoda predator, dan Dorylaimus sp., adalah nematoda omnivora.