Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN REFUGIA SEBAGAI MEDIA KONSERVASI ARTHROPODA DI LAHAN PADI DESA DELIKSUMBER Wijayanti, Ari; Windriyanti, Wiwin; Rahmadhini, Noni
Viabel : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 15 No 2 (2021): November 2021
Publisher : Universitas Islam Balitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/viabel.v15i2.1626

Abstract

Rice is basic neet for Indonesia people. East Java experienced decrease rice production 2% in 2014, the problem was insect pest. Insecticides are dangerous that replaced use refugia attracting biological agens. Purpose of the research to discover the role of refugia as conservation medium in suppressing pets attacks and increasing the diversity arthropod populations in rice fields. This study uses a direct insect sampling method and uses traps such as sweep nets, yellow traps, pitfall traps and light traps. Identification of insects using an introduction to the study insect and iNaturalist. Analysis of the observational data quantitatively by calculating the species diversity index (H’), evenness index (E), Richness index (R) and dominance index (C) then tabulated using excel. observations indicate the number of insects found on land A (rice with refugia) was 5661 individuals consisting of 12 ordo, 61 family and 94 species. Meanwhile on land B (rice without refugia) was 3,198 individuals consisting of 11 ordo, 43 family and 56 species. Refugia affected the population of biological agens more on land A was 2707 individuals than on land B was 1215 individuals. While the pest population on land A much less as 364 individuals than on land B as 763 individuals. Tabulation from the calculation of the species diversity index as 0.142 and 0.118, the species evenness index as 0.030 and 0.025, the dominance index of 0.0004 and 0.0013 is classified as low, while the species richness index of 10.76 and 6.82 is classified as high.
Bio-Priming with Trichoderma spp. to Suppress Aspergillus flavus, the Causal Agent of Damping-off Disease in Peanuts Anita, Tri Yuli; Suryaminarsih, Penta; Rahmadhini, Noni
BIOEDUSCIENCE Vol 9 No 2 (2025): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jbes/14937

Abstract

Background: Aspergillus flavus is a fungus that produces aflatoxin, a toxic compound that can contaminate food products, especially nuts. The impact caused by A. flavus causes significant losses for peanut-producing countries in cases of international trade. A. flavus infection in peanuts causes physical changes and quality, as well as a decrease in seed germination. Environmentally friendly control efforts for A. flavus can be carried out by utilizing biological agents such as Trichoderma spp. This study aims to evaluate the ability of T. harzianum and T. asperellum to inhibit the growth of A. flavus. This study also evaluates bio-priming methods enriched with Trichoderma spp. to optimize peanut seed germination. Methods: The research used a factorial Completely Randomized Design (CRD) of 2 factors. The first factor is the isolate species Trichoderma spp. namely T. harzianum (T1), T. asperellum (T2), and Control (T0), namely A. flavus without biological control treatment. The second factor is the application method, which includes the bio-priming (B1) and bio-matrixpriming (B2) methods. Each treatment combination was repeated 4 times, and the number of seeds used was five in each unit. Results: T. harzianum showed the highest inhibitory ability against A. flavus in the in vitro test, namely 49%. Bio-priming treatment containing the active ingredient T. harzianum is the best treatment for increasing peanut germination by 95%. Conclusions: The research results showed that bio-priming treatment with the active ingredient T. harzianum increased the germination rate significantly compared to other treatments.
BIODIVERSITAS ARTHROPODA PERMUKAAN DAN DALAM TANAH PADA KAWASAN AGROFORESTRI DI KECAMATAN WONOSALAM JOMBANG JAWA TIMUR Wijayanto, Mohamad Adi; Windriyanti, Wiwin; Rahmadhini, Noni
Agros Journal of Agriculture Science Vol 24, No 2 (2022): edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v24i2.2118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman arthropoda tanah serta kesamaan komunitas arthropoda permukaan dan dalam tanah pada kawasan agroforestri di Kecamatan Wonosalam, Jombang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni. Metode pengamatan yang dilakukan menggunakan metode perangkap jatuh (Pitfall trap) dan pengambilan sampel tanah menggunakan alat corong Berlese-Tullgren yang telah dimodifikasi. Kemudian data diolah menggunakan 5 indeks ekologi, yaitu indeks diversitas Shannon-Weiner (H’), indeks kekayaan jenis (R), indeks kemerataan jenis Evennes (E), indeks dominansi Simpson (C) dan indeks kesamaan Komunitas Bray-Curtis (IS). Hasil penelitian menunjukkan arthropoda permukaan dan dalam tanah yang ditemukan pada kawasan agroforestri di Kecamatan Wonosalam, Jombang sebanyak 2077 individu yang terdiri dari 11 ordo, 17 famili dan 27 spesies. Indeks diversitas (H’) arthropoda permukaan dan dalam tanah pada kawasan sampling tergolong sedang (2,36-2,56), kemudian indeks kekayaan (R) berkisar 0,29-0,52 yang tergolong rendah, untuk indeks kemerataan (E) berkisar 1,15-1,22 yang tergolong tinggi, nilai indeks dominansi (C) sebesar 0,10-0,12 yang tergolong rendah serta nilai kesamaan komunitas arthropoda permukaan dan dalam tanah sebesar 49% yang menunjukkan adanya perbedaan komunitas arthropoda permukaan dan dalam tanah. Keterkaitan ini dipengaruhi dengan tersedianya bahan organik, akumulasi seresah dan karakteristik habitat yang berada dalam satu kawasan yang dapat memengaruhi kelimpahan dan keberadaan komunitas arthropoda permukaan dan dalam tanah.
EFEKTIVITAS MINYAK ATSIRI KEMANGI DAN PALA TERHADAP HASIL TANGKAPAN LALAT BUAH (Bactrocera spp.) PADA TANAMAN BELIMBING DI AGROWISATA BELIMBING BOJONEGORO Putri, Fanny Etrisya; Windriyanti, Wiwin; Rahmadhini, Noni
Agrika Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v18i2.6411

Abstract

ABSTRAK Lalat buah merupakan hama utama tanaman belimbing. Atraktan tanaman aromatik merupakan salah satu pengendalian yang ramah lingkungan. Jenis tanaman yang dapat dijadikan atraktan adalah pala dan kemangi. Metil eugenol pada minyak atsiri tanaman menghasilkan aroma feromon seks yang mirip dengan lalat buah betina sehingga menurunkan laju reproduksinya. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Pengumpulan data dilakukan dengan deteksi varian, jika terdapat perbedaan nyata maka dilanjutkan uji BNJ pada taraf 5%. Korelasi antara faktor abiotik dan populasi lalat buah juga diamati. Atraktan yang paling sering menangkap lalat buah adalah minyak atsiri pala. Korelasi suhu dan jumlah populasi lalat buah Y= 30.275 – 0.001x; R²=0.602 dan korelasi curah hujan dengan populasi lalat buah Y= -14.457 + 0.013x; R²=0.081. Kedua korelasi tersebut sama-sama tidak berpengaruh nyata. Semua lalat buah yang tertangkap adalah lalat buah jantan dari spesies B. carambole. Minyak atsiri pala mampu menangkap lalat buah lebih banyak yaitu sebanyak 262.5-344.7 ekor dibandingkan minyak atsiri kemangi sebanyak 35.6-39.7 ekor. Minyak atsiri pala memiliki masa aktif lebih dari 7 hari sedangkan kemangi hanya memiliki masa aktif 4 hari. ABSTRACT Fruit flies are the main pest of star fruit plants. Aromatic plant attractants are an environmentally friendly control agent. Types of plants that can be used as attractants are nutmeg and basil. Methyl eugenol in the plant's essential oil produces a sex pheromone aroma similar to that of female fruit flies, thereby reducing their reproductive rate. The study used a completely randomized design with 5 treatments and 4 replications. Data collection was carried out by variant detection, and if there were real differences then the BNJ test was continued at the 5% level. Correlations between abiotic factors and fruit fly populations were also observed. The attractant that most often catches fruit flies was nutmeg essential oil. Correlation between temperature and fruit fly population size was Y= 30.275 – 0.001x; R²=0.602 and correlation between rainfall and fruit fly population was Y= -14.457 + 0.013x; R²=0.081. Both correlations had no real effect. All fruit flies caught were male fruit flies of the species B. carambole. Nutmeg essential oil was able to catch more fruit flies, namely 262.5-344.7 compared to 35.6-39.7 basil essential oil. Nutmeg essential oil had an active period of more than 7 days, while basil only had an active period of 4 days.
Study of Streptomyces spp. to control purple blotch disease caused by Alternaria porri in shallot plant Risdiyanti, Rateh Lailatul; Rahmadhini, Noni; Suryaminarsih, Penta; Mujoko, Tri
CROPSAVER Vol 6, No 1 (2023)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v6i1.43647

Abstract

Alternaria porri is a fungal pathogen that causes purple blotch on shallots, this fungus can cause crop yield loss of 3 – 57%. A. porri was obtained from the Sumber Brantas onion farm and then isolated by planting infected tissue. Streptomyces spp. is a filamentous bacterium that is abundant in the soil and can be used as a biological agent, decomposer and plant growth promote. Streptomyces spp. was obtained one isolate from shallot land location in Pare, Kediri, East Java (BMP: Bawang Merah Pare) and three isolates from Sidera, Palu, Central Sulawesi (BMS: Bawang Merah Sidera) (BMS1, BMS2, BMS3). The purpose of this study was to determine the efficacy of Streptomyces spp. to control A porri consist of in vitro and In vivo antagonist test. Antagonist test was carried out by dual culture method and the Streptomyces spp. which can inhibit the development of A porri would be used antagonist test   in vivo. The study was designed using a Factorial Complete Randomized Design with two factors, candidate isolates of biological control agents and concentrations of Streptomyces spp. be diluted into 5%, 10%, and 15%, it will applied on shallot plant Bauji variety. The results of the In vitro test shown the highest inhibition zone from BMP 17.75% while BMS1 13.75%, BMS2 8,75%, and 8.50%. in vivo test shown lowest disease severity value in BMP 15% concentration was 1.13% while diseases severity of BMS1 was 1.27%, and BMS2 was 1.80%. Therefore, Streptomyces spp. has potency as an alternative pesticide for sustainable agriculture.
Keanekaragaman Arthropoda Pada Pertanaman Mangga Gadung 21 Di Desa Oro-oro Ombo, Rembang, Pasuruan Indah Nathasya, Rachmawaty; Windriyanti, Wiwin; Rahmadhini, Noni
Agrium Vol 19 No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v19i3.8747

Abstract

Mangga merupakan tanaman yang banyak ditemukan dan diproduksi kedua setelah komoditas pisang di Indonesia. Mangga Gadung 21 mulai dikembangkan di Kabupaten Pasuruan sejak tahun 1994 dan ternyata telah meningkatkan pendapatan petani di Desa Oro - oro Ombo. Lahan pertanaman Mangga ini menggunakan sistem pola tanam polikultur. Penggunaan pola tanam polikultur yang dilakukan oleh petani dapat mempengaruhi keanekaragaman arthropoda dalam suatu pertanaman. Keanekaragaman arthropoda diyakini dapat digunakan sebagai salah satu bioindikator kondisi suatu ekosistem. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman arthropoda di pertanaman Mangga. Metode penelitian yang digunakan seperti pengamatan langsung, perangkap jaring, perangkap kuning dan perangkap jatuh. Identifikasi serangga menggunakan buku pengenalan serangga dan aplikasi naturalis. Data dianalisis secara kuantitatif dengan menghitung indeks keanekaragaman jenis (H), indeks kekayaan jenis (R1), dan indeks dominansi (C). Hasil pengamatan menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada lahan sebanyak 22.105 individu yang terdiri dari 15 ordo 63 famili 114 spesies. Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman jenis (H) yang diperoleh yaitu 0,125; termasuk kategori rendah. Nilai kekayaan jenis (R1) yang diperoleh yaitu 11,30; termasuk kategori tinggi. Nilai dominansi (C) yang diperoleh yaitu 0,00003; termasuk kategori rendah.
Ketertarikan Arthropoda Pada Blok Refugia (Cosmos caudatus, Helianthus annuus L., Zinnnia acceraso) Di Lahan Mangga Alpukat Di Desa Oro-Oro Ombo Kulon, Rembang, Pasuruan Musarofa, Musarofa; Windriyanti, Wiwin; Rahmadhini, Noni
Agrium Vol 20 No 1 (2023)
Publisher : Faculty of Agriculture, Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/agrium.v20i1.10621

Abstract

Mangga merupakan tanaman potensial untuk dikembangkan karena disukai oleh hampir semua lapisan masyarakat dan memiliki pasar yang luas. Permasalahan utama dalam pengembangan mangga adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Konsep pengendalian hama dengan menanam refugia pada sekeliling lahan tanaman berkemampuan memikat banyak musuh alami karena berfungsi sebagai sumber pakan maupun tempat perhentian. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang kertetarikan arthropoda pada blok refugia di Desa Oro-oro Ombo Kulon. Pola penanaman  refugia (C. caudatus, H. annuus L., Z. acceraso) yaitu dengan pola kombinasi tanam pinggir petak lahan (hedge rows) dan pola tanam sistem bank serangga (insectary bank). Pengamatan dilakukan dengan metode scan sampling yaitu dengan mengamati serangga yang hinggap pada refugia dengan menghitung jumlah spesies dan individu serangga pengunjung. Pengumpulan dan pengamatan serangga pada tanaman refugia di area tanaman mangga alpukat dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung, menggunakan jaring ayun (sweep net), menggunakan yellow sticky traps, dan menggunakan pitfall trap. Data dianalisis secara kuantitatif dengan menghitung indeks keanekaragaman (H) dan indeks kelimpahan relatif (IKR%). Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 16963 individu, yang terdiri dari 104 spesies, 56 famili, dan 12 ordo serangga sebagai hama, predator, penyerbuk, parasit, dan pengurai.
Pengaruh Pestisida Nabati Daun Kemangi Untuk Pengendalian Hama Spodoptera frugiperda (LEPIDOPTERA : NOCTUIDAE) Pada Tanaman Jagung Karuniadin Mukti, Ahmad Novarda; Rahmadhini, Noni; Triwahyu, Endang
Biofarm : Jurnal Ilmiah Pertanian Vol. 20 No. 1 (2024): BIOFARM JURNAL ILMIAH PERTANIAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/biofarm.v20i1.3840

Abstract

Abstrak Jagung termasuk bahan pangan kedua setelah beras. Penggunaan jagung sebagai bahan pangan dan pakan terus mengalami peningkatan sementara ketersediaannya terbatas.. Tanamanjagung termasuk salah satu makanan pokok di Indonesia dan juga digunakan sebagai bahan pakan ternak maupun bahan utama industri. Tingkat produktivitas tanaman jagung dapat dipengaruhi beberapa faktor, seperti serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama ulat grayak (Spodoptera frugiperda). S. frugiperda dapat menyerang tanaman jagung berkisar 5-50% dan dapat menimbulkan kematian pada tanaman jagung. Pengendalian S. frugiperda dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti secara mekanis, hayati, dan kimiawi. Pengendalian menggunakan pestisida nabati daun kemangi yang berfungsi sebagai pestisida ramah lingkungan dan bebas bahan kimia sehingga tidak merusak lingkungan sekitar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektivitas pestisida nabati daun kemangi dalam mengendalikan S. frugiperda. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga mendapatkan 24 satuan percobaan. Terdapat 6 perlakuan, yaitu Kontrol (A1), penyemprotan ekstrak daun kemangi dengan konsentrasi 25% (A2), konsentrasi 35% (A3), konsentrasi 45% (A4), konsentrasi 55% (A5), dan konsentrasi 65% (A6). Data yang didapatkan akan diuji dengan menggunakan Uji BNT 5%. Hasil yang didapat menunjukan bahwa pestisida nabati daun kemangi mampu mengendalikan populasi S. frugiperda dengan mortalitas tertinggi sebesar 77,5 % dengan LC50 konsentrasi larutan 65%. Kata kunci : Pestisida nabati daun kemangi. S. frugiperda, Jagung
EVALUATING THE LONG-TERM STORAGE TIME VIABILITY AND SIZE DYNAMICS OF BACILLUS SP. BIOENCAPSULATION IN SODIUM ALGINATE MATRIX Saputra, Mochammad Mirza; Wuryandari, Yenny; Rahmadhini, Noni; Lestari, Safira Rizka
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2023.2549

Abstract

The use of biological agents such as Bacillus sp. bacteria has begun to be widely used by farmers as a new form of control. Bacillus sp. needs to require special methods in its application because it has certain living conditions, and Bacillus sp. is vulnerable to environmental pressures. Bioencapsulated formulation in the form of granules is considered effective as a form of bacterial application in soil because it is able to protect Bacillus sp. and maintain survival. This study aims to determine the best concentration of sodium alginate in maintaining the viability of Bacillus sp. at the in vitro stage and to see changes in the size of the beads. The beads were made using extrusion method by combining Bacillus sp. suspension and sodium alginate suspension at 1%, 1.5%, and 2% concentration. The concentration of sodium alginate was not a major factor in changes in bead size and viability test results experienced significant changes in each observation. 1.5% and 2% concentrations can reach the highest viability value of 3x106 CFU/mL and decreased during 1 month of observation. Changes in bead size and viability were caused by the alginase enzyme produced by Bacillus sp.
PENDEKATAN GEOSTATISTIK UNTUK MEMETAKAN SEBARAN HAMA KUTU KEBUL (Bemisia sp.) PADA LAHAN TANAMAN MELON: A GEOSTATISTICAL APPROACH FOR MAPPING THE SPATIAL DISTRIBUTION OF WHITEFLY (Bemisia sp.) IN MELON FIELDS Hasbulloh, Mu'arif Ihza; Nirwanto, Hery; Rahmadhini, Noni
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 13 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2025.013.4.3

Abstract

Kutu kebul (Bemisia sp.) merupakan salah satu hama utama pada tanaman melon yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi spasial hama kutu kebul menggunakan pendekatan geostatistik sebagai dasar pengendalian yang tepat sasaran. Penelitian dilakukan di lahan tanaman melon varietas Amanda di Desa Pilang, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Pengambilan data menggunakan perangkap kuning (yellow trap) yang dipasang secara teratur, dengan penentuan titik koordinat menggunakan GPS. Data dianalisis menggunakan software Stanford Geostatistical Modeling Software (SGeMS) melalui tahapan penyusunan variogram, pemilihan model teoritis (spherical, exponensial, gaussian), dan interpolasi dengan metode Ordinary Kriging. Hasil analisis menunjukkan bahwa model variogram exponensial merupakan model terbaik dengan nilai RMSE terkecil yaitu 1,76. Nilai nugget effect sebesar 0,05, sill 2, dan range 8,55 meter menunjukkan pola distribusi kutu kebul yang cenderung mengelompok. Peta kontur yang dihasilkan memperlihatkan konsentrasi hama tinggi pada tanaman melon sehat di bagian selatan lahan, yang berkorelasi dengan kondisi tanaman melon yang lebih sehat di area tersebut. Pola ini kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi mikroklimat yang lebih mendukung atau pola kolonisasi awal hama. Pendekatan ini memberikan informasi spasial yang penting untuk pengendalian hama secara efisien dan ramah lingkungan, serta mendukung penerapan pengelolaan hama terpadu.