Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KAMPANYE TERBUKA “ASI SAJA SAMPAI USIA 6 BULAN” SEBAGAI UPAYA PEMENUHAN GIZI PADA BAYI DI DUSUN GUNUNG KAWUNG DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2019 Hariyani Sulistyoningsih; chanty Yunie HR; Tupriliany Danefi; novi siti fatimah; aeni nooranisa
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 1 (2020): April 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v1i02.291

Abstract

Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu fondasi kesehatan, perkembangan dan terutama kelangsungan hidup anak. Pemberian ASI eksklusif menghindari anak dari penyakit seperti diare, pneumonia dan gizi buruk yang merupakan penyebab umum kematian anak di bawah 5 tahun (WHO, 2017).World Health Organization (WHO) menyebutkan target pencapaian ASI eks-klusif tahun 2025 sebesar 50%, tetapi saat ini pencapaian secara global, hanya 38% bayi di bawah usia enam bulan yang disusui secara eksklusif (WHO, 2017). Target pem-berian ASI eksklusif di Indonesia tahun 2015 sebesar 55.7%, angka ini masih jauh dari target nasional yaitu 80%.Cakupan pemberian ASI di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 55,7% dan pada jika mengacu pada target renstra pada tahun 2015 yang sebesar 39%, maka secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia kurang dari enam bulan telah mencapai target. Menurut provinsi, kisaran cakupan ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan antara 26,3% (Sulawesi Utara) sampai 86,9% (NusaTenggara Barat). Dari 33 provinsi yang melapor, sebanyak 29 di antaranya (88%) berhasil mencapai target renstra 2015 (Kemenkes RI, 2016).Sedangkan Pada tahun 2016 di Indonesia diketahui bahwa jumlah persentase bayi mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sebesar 29,5% dan bayi yang mendapat ASI usia 0-5 bulan sebesar 54,0% (Kemenkes RI, 2017).Pemberian ASI ekslusif di Jawa Barat sebanyak 349.968 Bayi umur 0-6 bulan dari 754.438 jumlah bayi 0-6 bulan (46,4%) gambaran ini masih dibawah cakupan nasional 52,3% terlebih Target nasional sebesar 80% walaupun demikian terdapat 2 kab/kota yang telah melampaui target nasional yaitu Kota Bandung 97,4% dan Kota Sukabumi 85,1% (Jawa Barat, 2016)Berdasarkan tabel profil Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya cakupan tidak diberikan ASI eksklusif sebanyak 76,64% (Dinkes Kab Tasikmalaya, 2016).Bayi yang tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif memiliki risiko kematian karena diare 3.94 kali (Ekawati et al., 2015). Estimasi37menunjukkan bahwa dalam praktik pemberian ASI eksklusif yang dapat mencegah kematian balita sebesar 11.6% (Black et al., 2013).Faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan ibu, motivasi dalam memberikan ASI, kurangnya pelayanan konseling, kurangnya kampanye ASI eksklusif, peran petugas kesehatan, ibu bekerja, kampanye susu formula, sikap ibu, dan dukungan keluarga (Irma dan Kustati, 2013; Wulandari, 2015).Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan oleh mahasiswa PBL 1 Tahun 2018.terdapat bayi yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebanyak 6 bayi (11,6%) di Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna pada tahun 2018. Dengan adanya program Indonesia sehat pendekatan keluarga yang bertujuan untuk meningkatan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang di didukung dengan perlindungan financial dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakkat dengan memiliki 12 indikator yang diantaranya adanya pemberian ASI Eksklusif terhadap bayi. Oleh karena itu untuk upaya peningkatan sikap positif terhadap pemberian ASI Eksklusif, penulis melaksanakan kegiatan pendidikan kesehatan dengan metode penyuluhan dan metode kampanye terbuka.
UPAYA PENINGKATAN PERSONAL HIGIENE ORGAN REPRODUKSI PEREMPUAN SANTRI PONDOK PESANTREN UMMUL QURO SALOPA Hariyani Sulistyoningsih; Sinta Fitriani
JURNAL ABDIMAS KESEHATAN TASIKMALAYA Vol. 2 No. 02 (2020): Oktober 2020
Publisher : STIKes Respati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48186/abdimas.v2i02.303

Abstract

Kesehatan reproduksi remaja merupakan kondisi kesehatan yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja. Masalah kesehatan reproduksi pada usia remaja merupakan salah satu masalah penting dalam siklus kehidupan. Perilaku hidup sehat sejak usia dini merupakan salah satu upaya dalam menciptakan sumber daya manusia yang produktif dan berkualitas di masa yang akan datang. Remaja perlu dibekali informasi tepat mengenai kesehatan reproduksi dan berbagai faktor yang mungkin memengaruhinya agar remaja tidak melakukan hal-hal yang berisiko memberikan efek negatif terhadap kesehatan organ reproduksinya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja, khususnya santri putri di SMAIT Ummul Quro Salopa tentang personal higiene organ reproduksi perempuan. Kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan dengan metode ceramah dan tanya jawab menggunakan media powerpoint. Setelah mengikuti kegiatan ini sasaran mendapatkan informasi mengenai organ reproduksi perempuan, fungsi dan cara perawatannya serta masalah kesehatan yang mungkin terjadi pada organ reroduksi perempuan. Dukungan teman sebaya, orang tua dan guru/ pihak sekolah dibutuhkan dalam mendorong dan mengingatkan remaja untuk dapat menerapkan personal higiene khususnya yang berkaitan dengan kesehatan organ reproduksi.
Behavior Analysis Of COVID-19 Prevention In The Elderly In Jakarta, Tasikmalaya ,and Yogyakarta Hariyani Sulistyoningsih; Santi Susanti; Tri Budi W Rahardjo; Yeny Sulistyowati; Tri Suratmi; Dini Agustin; Lili Indrawati; Yenni Ariestanti; Nur Apriyan; Rodiyah Rodiyah; Ashish Goel; Ashish Jindal; Alpana Raizada; Maw Pin Tan; George Rebok
Journal of Ageing And Family Vol 2, No 1 (2022): Journal Of Ageing And Family
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Universitas Respati Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/joaf.v2i1.2299

Abstract

Background. Covid-19 is a virus that can affect all age groups, including the elderly. The World Health Organization or WHO concluded that this virus is very risky in those aged over 65 years due to a weakened immune system. In addition, the elderly have a higher risk of experiencing a more severe impact than other groups due to degenerative diseases commonly experienced by the elderly. Implementing clean and healthy living behavior as a prevention effort is the main thing to break the chain of transmission of Covid-19. This study aims to determine the prevention behavior of Covid-19 in the elderly and the factors associated with it. Methods. The research design was cross sectional. The sample consisted of men and women aged 60 years or more as many as 135 people. The instrument used is a questionnaire distributed through social media. The data obtained were analyzed by univariate and bivariate using chi square test. results.There is a relationship between age and education with Covid-19 prevention behavior in the elderly with p values of 0.038 and 0.001 respectively. Conclusion. Age and education are related to Covid-19 prevention behavior in the elderly.  Keyword : COVID-19, Behavior, Degenerative Disease
Inovasi Kakak Asuh Stunting: Upaya Pencegahan Stunting di Lokus Percepatan Penanganan Stunting Erwina Sumartini; Sinta Fitriani; Hariyani Sulistyoningsih; Dendi Ramdani; Bilda Yadika Rabbani; Nadya Sri Wahyuni; Galih Galistan Tirtana; Ai Aswipatul Jannah; Dila Apriyani; Amelia Putri Ayu; Ai Irma Nur Padilah; Syifa Agustina; Nida Ghithrif Lestari; Risa Rismawati
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 6 No 2 (2026): I-Com: Indonesian Community Journal (Juni 2026)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/i-com.v6i2.10162

Abstract

Kabupaten Tasikmalaya memiliki prevalensi stunting cukup tinggi yaitu 24,2% di tahun 2021 dan  menjadi 20,7% di tahun 2023. Pemerintah menetapkan pada tahun 2024 stunting harus diturunkan menjadi 14%. Upaya untuk mencapai target tersebut dimulai dengan meningkatkan pengetahuan ibu dan asupan nutrisi adekuat bagi bayi. Metode yang digunakan yaitu penyuluhan dan pendampingan konsumsi MP-ASI selama 3 bulan. Hasil kegiatan menunjukkan telah terjadi peningkatan pengetahuan ibu terutama pada ibu dengan kategori pengetahuan baik sebesar 20,96%, terdapat peningkatan rata-rata ukuran antropometri bayi meliputi: Kelompok I berat badan sebesar 1,04 kg, panjang badan sebesar 3,23 cm dan lingkar kepala sebesar 1,62 cm dan Kelompok II berat badan sebesar 0,69 kg, panjang badan 2,3 cm dan lingkar kepala 1,45 cm. Kontribusi nyata yang diberikan yaitu peningkatan pengetahuan ibu dan perbaikan pertumbuhan bayi yang dapat berkontribusi terhadap pencegahan penambahan kasus stunting baru di Desa Cikunir dan Desa Cintaraja.
Effectiveness of Health Education on Iron Supplement Adherence Among Adolescent Girls: A Scoping Review Hariyani Sulistyoningsih; Ayun Sriatmi; Apoina Kartini; Syamsulhuda Budi Musthofa
Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia Vol 6 No 2: August 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/jkki.v6i2.729

Abstract

Anemia in adolescent girls affects cognitive performance, physical and mental health, social development, and increases the risk of anemia during pregnancy. Health education programs have been implemented to improve adherence with iron supplementation, yet evidence comparing the effectiveness of different approaches remains limited. This study aimed to map and synthesize evidence on the effectiveness of health education interventions in improving adherence to iron supplementation among adolescent girls. A scoping review was conducted following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR) and the Joanna Briggs Institute (JBI) scoping review framework with PCC criteria: adolescent girls (Population); health education (Concept); adherence with iron supplementation (Context). Articles with no date restriction were retrieved from Scopus, PubMed, and EBSCO using predefined keywords. Data extraction included country, design, findings, and study limitations. Seven articles were included following title, abstract, and full-text screening. Thematic analysis was applied, and results were presented in tables and narrative form. Studies were conducted in India (n=4) and Indonesia (n=3), published between 2008 and 2025, involving samples ranging from 70 to 150,700 adolescent girls. All included studies reported a positive association between health education and improved adherence to iron supplementation, with adherence rates ranging from 26.5% in WhatsApp-based reminder interventions to 97.1% in teacher-supervised, directly observed treatment. Health education combined with direct supervision, family support, and digital reminders can effectively improve adolescent girls' adherence to iron supplementation. Subsequent studies should use standardized adherence indicators and longer follow-up periods to enhance comparability and generalizability.