Indang Trihandini
Departemen Biostatistik Dan Ilmu Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Ketimpangan Spasial Antara Insidens HIV dan Cakupan Terapi Antiretroviral (ART) di Indonesia Sari, Nungky Permina; Trihandini, Indang
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56054

Abstract

Tingginya beban kasus HIV di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan capaian cakupan terapi antiretroviral (ART) yang masih berada di bawah target global pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial insidens HIV dan cakupan ART serta mengidentifikasi wilayah prioritas berdasarkan kesesuaian antara beban epidemi dan respons pengobatan. Penelitian ini menggunakan desain ekologis dengan pendekatan analisis spasial terhadap data tingkat provinsi tahun 2024. Autokorelasi spasial global dianalisis menggunakan Moran’s I, sedangkan Local Indicators of Spatial Association (LISA) digunakan untuk mengidentifikasi klaster lokal. Analisis overlay dilakukan untuk menilai kesesuaian spasial antara insidens HIV dan cakupan ART. Hasil menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif dan signifikan pada insidens HIV dan cakupan ART. Klaster high–high insidens HIV teridentifikasi di seluruh provinsi Pulau Papua dan Maluku Utara, sedangkan klaster low–low ditemukan pada sebagian provinsi di Sumatera. Sebaliknya, cakupan ART menunjukkan klaster low–low di Papua dan klaster high–high di Sulawesi. Analisis overlay mengidentifikasi sepuluh provinsi dengan insidens tinggi namun cakupan ART rendah, yang menunjukkan ketimpangan spasial antara beban epidemi dan respons layanan pengobatan.
Spatial Autocorrelation of Tuberculosis and Demographic, Health Services, Environment, and Economic Factors in West Java in 2024 Cinansa Muthia Dewani; Indang Trihandini; Jihan Ramadhany Ginting Manik
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 2 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i2.686

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, with West Java reporting 229,683 cases in 2024. The geographic clustering distribution of TB cases requires spatial analysis to identify transmission patterns and determinants. Objective: This study aimed to analyze spatial autocorrelation of TB incidence and its relationships with demographic, health service, environmental, and economic factors in West Java in 2024. Method: Quantitative design with an ecological approach across 27 districts/cities in West Java using data from the West Java Health Profile and Statistics Agency 2025. Spatial autocorrelation analysis employed Global Moran's I and univariate–bivariate LISA with a Queen Contiguity weighting matrix. Variables included TB incidence, population size, population density, health facility ratio, adequate sanitation, non-earth floors, and poor population. Analysis used GeoDa 1.22.0.21 with α = 0.05 and 999 permutations. Result: TB incidence showed significant global spatial autocorrelation (Moran's I = 0.3514, p = 0.001). Univariate LISA identified High-High clusters in the Bogor–Bekasi–Karawang metropolitan corridor and Low-Low clusters in Ciamis–Tasikmalaya–Majalengka. Bivariate autocorrelation revealed significant positive relationships with health facility ratio (I= 0.3207, p = 0.005), population size (I = 0.2449, p = 0.014), and population density (I = 0.2088, p = 0.044). Negative autocorrelation with poor population (I = −0.2950, p = 0.006) indicated an urban paradox. Conclusion: TB incidence distribution demonstrates significant geographic clustering with spatial heterogeneity. Demographic and health service factors show positive correlations, while economic factors exhibit an urban paradox. Intervention priorities should focus on metropolitan High-High clusters with spatial data integration and cross-sectoral collaboration.