Indang Trihandini
Departemen Biostatistik Dan Ilmu Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pola Sebaran Spasial pada Kejadian Stunting di Provinsi Lampung Tahun 2019 -2023 Nugroho, R Nasrullah Nur; Trihandini, Indang; Makful, Martya Rahmaniati
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat gizi buruk, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,5%, sementara Lampung 14,9% yang menempatkannya pada posisi ke-empat terendah setelah Bali, Jambi dan Riau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola sebaran spasial dan autokorelasi spasial kejadian stunting di Provinsi Lampung tahun 2019–2023 dengan pendekatan studi ekologi. Sampel penelitian adalah 13 kabupaten dan 2 kota di Provinsi Lampung. Metode analisis spasial yang digunakan adalah Moran’s I untuk mengukur autokorelasi spasial global dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) untuk mengidentifikasi klaster lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2019–2022 tidak terdapat autokorelasi spasial yang signifikan. Namun, pada 2023 terdeteksi autokorelasi spasial positif yang signifikan. Hal ini mengindikasikan adanya pengelompokan wilayah dengan prevalensi stunting serupa, termasuk identifikasi klaster hotspot. Kurangnya konvergensi program penurunan stunting pada level kebijakan dan implementasi di masing-masing wilayah selama 2019-2020 berkontribusi terhadap tidak adanya autokorelasi spasial. Temuan ini menggarisbawahi perlunya penguatan kebijakan intervensi yang lebih terfokus secara spasial hingga ke tingkat desa, serta komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan untuk menentukan strategi intervensi yang tepat sasaran.
Efektivitas Edukasi Oleh Kader Sebaya Pada Peningkatan Pengetahuan Anemia Remaja Putri Dewi Candra Kurniawati; Indang Trihandini
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45019

Abstract

Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia dengan prevalensi mencapai 32%. Intervensi edukasi konvensional belum optimal meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan anemia. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas edukasi oleh kader sebaya terhadap peningkatan pengetahuan tentang anemia pada remaja putri. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review dengan protokol PRISMA terhadap 19 artikel dari lima database elektronik (PubMed, Scopus, CINAHL, Google Scholar, dan Garuda) dengan rentang publikasi 2013-2023. Hasil tinjauan menunjukkan edukasi sebaya efektif meningkatkan pengetahuan anemia pada remaja putri secara signifikan (p<0,05) dengan peningkatan skor pengetahuan 3,56 poin lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Keberhasilan edukasi sebaya dipengaruhi oleh karakteristik kader, metode dan media edukasi, durasi program, serta faktor sosio-ekonomi. Terdapat korelasi positif antara pengetahuan dengan sikap (β=0,484) dan praktik pencegahan anemia (β=0,579). Untuk keberlanjutan program, diperlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan pendidikan sebaya dan dukungan profesional kesehatan.
Spatial Autocorrelation of Tuberculosis and Demographic, Health Services, Environment, and Economic Factors in West Java in 2024 Cinansa Muthia Dewani; Indang Trihandini; Jihan Ramadhany Ginting Manik
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 2 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i2.686

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia, with West Java reporting 229,683 cases in 2024. The geographic clustering distribution of TB cases requires spatial analysis to identify transmission patterns and determinants. Objective: This study aimed to analyze spatial autocorrelation of TB incidence and its relationships with demographic, health service, environmental, and economic factors in West Java in 2024. Method: Quantitative design with an ecological approach across 27 districts/cities in West Java using data from the West Java Health Profile and Statistics Agency 2025. Spatial autocorrelation analysis employed Global Moran's I and univariate–bivariate LISA with a Queen Contiguity weighting matrix. Variables included TB incidence, population size, population density, health facility ratio, adequate sanitation, non-earth floors, and poor population. Analysis used GeoDa 1.22.0.21 with α = 0.05 and 999 permutations. Result: TB incidence showed significant global spatial autocorrelation (Moran's I = 0.3514, p = 0.001). Univariate LISA identified High-High clusters in the Bogor–Bekasi–Karawang metropolitan corridor and Low-Low clusters in Ciamis–Tasikmalaya–Majalengka. Bivariate autocorrelation revealed significant positive relationships with health facility ratio (I= 0.3207, p = 0.005), population size (I = 0.2449, p = 0.014), and population density (I = 0.2088, p = 0.044). Negative autocorrelation with poor population (I = −0.2950, p = 0.006) indicated an urban paradox. Conclusion: TB incidence distribution demonstrates significant geographic clustering with spatial heterogeneity. Demographic and health service factors show positive correlations, while economic factors exhibit an urban paradox. Intervention priorities should focus on metropolitan High-High clusters with spatial data integration and cross-sectoral collaboration.
Ketimpangan Spasial Antara Insidens HIV dan Cakupan Terapi Antiretroviral (ART) di Indonesia Nungky Permina Sari; Indang Trihandini
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56054

Abstract

Tingginya beban kasus HIV di Indonesia belum sepenuhnya diimbangi dengan capaian cakupan terapi antiretroviral (ART) yang masih berada di bawah target global pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi spasial insidens HIV dan cakupan ART serta mengidentifikasi wilayah prioritas berdasarkan kesesuaian antara beban epidemi dan respons pengobatan. Penelitian ini menggunakan desain ekologis dengan pendekatan analisis spasial terhadap data tingkat provinsi tahun 2024. Autokorelasi spasial global dianalisis menggunakan Moran’s I, sedangkan Local Indicators of Spatial Association (LISA) digunakan untuk mengidentifikasi klaster lokal. Analisis overlay dilakukan untuk menilai kesesuaian spasial antara insidens HIV dan cakupan ART. Hasil menunjukkan adanya autokorelasi spasial positif dan signifikan pada insidens HIV dan cakupan ART. Klaster high–high insidens HIV teridentifikasi di seluruh provinsi Pulau Papua dan Maluku Utara, sedangkan klaster low–low ditemukan pada sebagian provinsi di Sumatera. Sebaliknya, cakupan ART menunjukkan klaster low–low di Papua dan klaster high–high di Sulawesi. Analisis overlay mengidentifikasi sepuluh provinsi dengan insidens tinggi namun cakupan ART rendah, yang menunjukkan ketimpangan spasial antara beban epidemi dan respons layanan pengobatan.