Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Gambaran Subjective Well-Being Pada Wanita Yang Aktif Dalam Kegiatan Ngayah Di Bali Septiani Putri Widana, Ni Made Rajani; Wulandari, Nanda Yunika; Moordiningsih; Peristianto, Sheilla Varadhila; Dyah Arum, Angelina
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 18 No. 1 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v18i1.66952

Abstract

Ngayah merupakan tradisi dari Bali yang berupa kegiatan gotong royong,dimana kegiatan ini bisa dilakukan dalam lingkup kepada tuhan maupun kepada manusia. Wanita yang sudah menikah akan memiliki tanggung jawab untuk ngayah di banjar (lingkungan) mereka, yang dimana wanita juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi ibu rumah tangga, dan bekerja. Memiliki banyak tanggung jawab akan membuat beban kerja yang berat sehingga dapat mempengaruhi Subjective Well-Being. Subjective Well-Being merupakan perasaan seseornag tentang hidupnya termasuk perasaan positif, negatif serta mampu menilai kepuasan hidupnya. Penelitian ini dilakukan guna memahami lebih dalam lagi mengenai Subjective Well-Being pada wanita yang aktif dalam kegiatan ngayah terutama yang sudah menikah. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi kualitatif dan melibatkan tiga subjek yang aktif dalam kegiatan ngayah. Metode pengumpulan data menggunakan studi literatur dan wawancara dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yaitu melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif setiap subjek berbeda-beda namun memiliki tingkat yang hampir sama yaitu saling berkesinambungan. Selain itu, tidak hanya kepuasan hidup, pengalaman bahagia, emosi negatif, dan penyelesaian masalah yang dapat dikatakan kesejahteraan subjektif, namun terdapat hubungan dengan penerimaan diri individu.
The effect of rasa rumangsa (self-awareness and empathy) on the subjective burden of families caring for individuals with schizophrenia: Social support as a mediator Peristianto, Sheilla Varadhila; Subandi, M. A.; Utami, Muhana Sofiati
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v10i1.25099

Abstract

Families caring for schizophrenic individuals experience pressure due to their associated roles and responsibilities, a situation known as subjective burden. Cultural values influence decision-making related to caretaking behavior, including that based on the Javanese value of rasa rumangsa as an adaptive coping mechanism in caregiving contexts. Social support is a factor that helps to reduce the subjective burden of families taking care of schizophrenic individuals. This study examines social support as a mediator in the role of rasa rumangsa in relation to such subjective burden. The quantitative research used surveys for the data collection method, with 112 carer families of schizophrenic individuals chosen for the study by purposive sampling. The questionnaires used were 1) the Rasa Rumangsa Scale; 2) the Interpersonal Support Evaluation List (ISEL); and 3) the Zarit Burden Interview (ZBI). The hypothesis was tested using Jamovi version 2.6.13 with the medmod module, following Model 4 of Hayes' simple mediation framework. The results indicate that social support fully mediates the relationship between rasa rumangsa and the subjective burden of families caring for individuals with schizophrenia (indirect effect: ß = -.1137, p < .05, 95% CI = -.2186, -.0105). The implication of studying rasa rumangsa as a cultural coping mechanism can be an alternative way of explaining its relationship with the subjective burden of such families. In addition, the findings could also be used to develop mental health programs to improve social support, which will ultimately reduce the subjective burden.
DUKUNGAN SOSIAL DAN KECEMASAN PADA ORANG TUA DENGAN ANAK DISABILITAS Agustin, Trias Putri Agustin; Peristianto, Sheilla Varadhila
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 17 No. 2 (2024): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/psikologikonseling.v17i2.69418

Abstract

Orang tua dengan anak disabilitas mengalami kecemasan yang besar terutama karena kekhawatiran terhadap pandangan orang lain terhadap anak, diasingkan saat bersosialisasi, dan terhadap kemandirian anak. Dukungan sosial yang diberikan oleh orang lain membantu orang tua menghadapi kecemasan yang timbul dari mengasuh anak dengan disabilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan antara dukungan sosial dengan kecemasan pada orang tua dengan anak disabilitas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel 63 orang tua berusia 20-65 tahun yang memiliki anak disabilitas. Sampel diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data didapatkan melalui kuisioner yang diberikan secara langsung kepada responden menggunakan skala DASS 42 (Depression Anxiety Stress Scales) dan skala MSPSS (Multidimensional Scale of Perceived Social Support). Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan Pearson Product Moment Corellation dengan bantuan software jamovi. Hasil analisis dari penelitian ini menunjukkan dukungan sosial memiliki hubungan negatif dengan kecemasan, ini berarti semakin besar dukungan sosial yang diterima, maka semakin rendah Tingkat kecmasan yang dialami. Temuan ini menekankan pentingnya peran dukungan sosial dalam mengelola kecemasan dan implikasinya sebagai rujukan referensi pada konteks komunitas marginal, dalam hal ini adalah disabilitas.
Work-Life Balance Pada Wanita Karier Yang Menikah Muda Pratiwi, Elfira; Peristianto, Sheilla Varadhila; Efendy, Mamang
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i1.7964

Abstract

Dinamika kegiatan ekonomi saat ini, wanita karier tidak hanya menargetkan pencapaian kemandirian finansial melalui pengembangan karier, tetapi juga berperan signifikan dalam mendorong roda perekonomian. Namun, tantangan muncul ketika wanita karier memilih untuk menikah, khususnya di usia muda, di mana proses penyesuaian diri dengan peran baru sebagai istri dan ibu seringkali menimbulkan konflik dan tekanan. Keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan ini disebut dengan work-life balance. Proposal penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran work-life balance pada wanita karier yang menikah muda. Dalam penelitian ini menggunakan tipe penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan fenomenologi. Pengambilan sample dalam penelitian kualitatif menggunakan purposive sampling. Teknik penggalian data yang digunakan adalah teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Proses pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai 3 wanita karier yang menikah muda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Subjek KR dan T memiliki Work-Life Balance yang baik dalam menyeimbangkan peran yang dijalaninya sedangkan, subjek S belum memiliki work-life balance yang baik terlihat masih terfokus hanya dalam satu pekerjaan dan seringkali keteteran dalam menjalankan tugas sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga.
The Quality of Life of Women Divorced due to Domestic Violence Dian Nur Latifah; Sheilla Varadhila Peristianto
Developmental and Clinical Psychology Vol. 5 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/dcp.v5i1.6205

Abstract

The Indonesian government defines domestic violence as any act of violence against a person, particularly women, that results in physical, sexual, psychological, or economic harm or suffering within the home. This encompasses threats of violence, coercion, and the deprivation of freedom. The high prevalence of domestic violence and the negative impacts that occur on victims of domestic violence make problems related to domestic violence a significant problem that affects the quality of life. This research employs a qualitative research method with a case study approach, with the objective of elucidating the quality of life of women who are divorced as a result of domestic violence. The findings of this study indicate that the participants' physical condition deteriorated following divorce, increasing their susceptibility to disease. Furthermore, the psychological condition of the participants was found to be poor, their spiritual quality was low, and their social relationships declined. However, following the commencement of employment, women who were divorced due to domestic violence were ultimately able to enhance their quality of life, including attaining greater financial stability and psychological well-being. This was characterized by a lack of fear and depression. Furthermore, there was a discernible improvement in their quality of life in social relationships, manifested in the form of numerous interpersonal connections
RELASI ORANGTUA-ANAK DAN KUALITAS HIDUP PENYANDANG SKIZOFRENIA Peristianto, Sheilla Varadhila
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 21 No. 1: Februari 2019
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.624 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v21i1.764

Abstract

Anak yang mengalami skizofrenia tidak dapat berfungsi optimal dalam kehidupannya sehingga membutuhkan bantuan dari orang sekitar. Keberadaan anak justru sering dianggap berbahaya karena stigmasasi masyarakat. Orangtua pun menjadi kurang mendukung kesembuhan anak. Orangtua menyerahkan sepenuhnya penanganan anak pada petugas medis. Orangtua menampilkan ekspresi emosi yang tinggi pada anak yaitu berperilaku intrusive antara lain berlebihan, kejam, kritis dan tidak mendukung sehingga anak cenderung mengalami kekambuhan (Hasanat, 2004). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan relasi orangtua dan anak, serta kualitas hidup anak penyandang skizofrenia. Subjek adalah orangtua yang memiliki anak penyandang skizofrenia. Relasi orangtua dan anak ditemukan peneliti pada saat wawancara di rumah sakit jiwa. Kualitas hidup anak penyandang skizofrenia diketahui menggunakan SQLS (Schizophrenia Quality of Life Scale) sebagai panduan observasi dan wawancara peneliti. Tulisan ini memberikan gambaran tentang relasi orangtua dan anak penyandang skizofrenia sebagai bagian dari faktor yang mempengaruhi kekambuhan gangguan yang dialaminya. Kurangnya kualitas dalam berkomunikasi sebagai salah satu tanda relasi orangtua dan anak penyandang skizofrenia. Kualitas hidup anak berupa perasaan kesepian, tidak memiliki teman, orang lain menghindari dirinya, serta kurang bersemangat untuk melakukan aktivitas.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA KELUARGA BROKEN HOME Munandar, Aris; Purnamasari, Santi Esterlita; Peristianto, Sheilla Varadhila
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 22 No. 1: Februari 2020
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.142 KB) | DOI: 10.26486/psikologi.v22i1 Feb.959

Abstract

Ketidakharmonisan dalam suatu keluarga yaitu akibat kondisi broken home dapat berdampak pada tingkat kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesejahteraan psikologis yang mengalami broken home pada usia dewasa awal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan karakteristik usia dewasa awal berjenis kelamin laki-laki dan berasal dari keluarga broken home. Partisipan berjumlah tiga orang yaitu dalam rentang usia masa dewasa awal berkisar antara 18 hingga 25 tahun. Pengumpulan data penelitian dengan cara wawancara mendalam dan observasi partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan memiliki aspek aspek kesejahteraan subyektif yang berbeda-beda. Kesejahteraan psikologis OD bersifat kurang positif sedangkan RY dan WM bersifat positif.