Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

TRANSFORMASI NOVEL SABTU BERSAMA BAPAK KARYA ADHITYA MULYA KE DALAM SERIAL FILM : KAJIAN EKRANISASI Wachyudin, Wachyudin; Rahmatillah, Yulia; Malik, Miftahul
SAWERIGADING Vol 31, No 2 (2025): Sawerigading, Edisi Desember 2025
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v31i2.1379

Abstract

AbstrakTransformasi karya sastra dari novel menjadi serial merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan karya sastra dalam berbagai bentuk. Penelitian ini akan menganalisis transformasi karya sastra novel menjadi serial film melalui kajian ekranisasi. Kajian ekranisasi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak pergeseran media ini terhadap interpretasi dan penerimaan khalayak terhadap cerita yang sebelumnya hanya terdapat dalam bentuk tulisan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ekranisasi dari novel ke serial film memengaruhi karakter, alur, dan latar novel dan serial Sabtu Bersama Bapak. Analisis ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Eneste yang mencakup tiga perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan penyusutan, penambahan, dan variasi. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak katat yang kemudian diklasifikasikan dan dianalisis untuk kemudian diambil kesimpulan terhadap hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi proses penyusutan karakter sebanyak 4 tokoh, 29 alur, dan 2 penyusutan latar. Proses penambahan tersebut menghasilkan 14 tokoh, 55 alur/peristiwa. Sedangkan proses perubahannya bervariasi sehingga menghasilkan 2 tokoh, 13 alur, di 6 tempat dan 4 perubahan yang bervariasi dalam latar waktu. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekranisasi ke dalam bentuk film seri dapat memberikan dimensi baru pada cerita, memperkaya karakter dan alur cerita.Kata Kunci : Transformasi Sastra, Kajian Ekranisasi, Novel, Film Seri AbstrakTransformasi karya sastra dari bentuk novel ke seri menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan karya sastra dalam bentuk yang berbeda. Penelitian ini akan menganalisis transformasi karya sastra novel ke dalam film serial melalui kajian ekranisasi. Kajian ekranisasi ini bertujuan untuk mendalami dampak pergeseran media ini terhadap interpretasi dan penerimaan penonton terhadap cerita-cerita yang sebelumnya hanya ditemui dalam bentuk tertulis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ekranisasi dari novel ke film serial mempengaruhi tokoh, alur, dan latar dari Novel dan Serial Sabtu Bersama Bapak. Analisis ini menggunakan teori yang dikemukakan oleh Eneste yang mencakup tiga perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa pensil, penambahan dan perubahan yang bervariasi. Metode penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak katat yang kemudian diklasifikasi dan dianalisis untuk kemudian ditarik kesimpulan atas hasil analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, telah terjadi proses penciutan tokoh sebanyak 4 tokoh, 29 alur, dan 2 penciutan pada latar tempat. Untuk proses penambahan 14 orang, 55 alur/peristiwa. Sedangkan proses perubahan bervariasi menghasilkan 2 karakter, 13 alur, pada 6 latar tempat dan 4 perubahan bervariasi pada latar waktu. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekranisasi ke dalam bentuk film serial dapat memberikan dimensi baru pada cerita, memperkaya karakter, dan membangun dunia cerita secara visual.Kata kunci : Transformasi Sastra, Kajian Ekranisasi, Novel, Film Serial
STRATEGI PENDIDIKAN TINGGI DALAM MEMBANGUN SMART STUDENT MELALUI LITERASI KRITIS DAN CIVIC SKILL DI UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA Ricky Yoseptry; Lilis Irmawatie; Wachyudin Wachyudin; Arif Firmansyah; Miftahul Malik
PENDIDIKAN SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 13 No 1 (2026): in Press
Publisher : STKIP PGRI Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/edusaintek.v13i1.2283

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pendidikan tinggi dalam membangun smart student melalui penguatan literasi kritis dan Civic skill di Universitas Islam Nusantara. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, literasi informasi yang baik, serta keterampilan kewarganegaraan yang adaptif terhadap dinamika masyarakat digital. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pendidikan tinggi di Universitas Islam Nusantara telah dilaksanakan melalui penguatan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE), penerapan pembelajaran berpusat pada mahasiswa, serta integrasi teknologi digital dalam proses pembelajaran. Literasi kritis mahasiswa berkembang melalui aktivitas akademik seperti diskusi, analisis studi kasus, dan penulisan ilmiah, meskipun kemampuan evaluasi informasi digital masih perlu ditingkatkan. Sementara itu, Civic skill mahasiswa berkembang melalui keterlibatan dalam organisasi kemahasiswaan, kegiatan pengabdian masyarakat, dan forum diskusi ilmiah. Integrasi antara literasi kritis dan Civic skill masih dalam tahap penguatan, namun menunjukkan potensi signifikan dalam membentuk karakter smart student. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa strategi pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk smart student yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab kewarganegaraan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan integrasi kurikulum, metode pembelajaran, dan budaya akademik untuk mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa secara holistik
Makna dan Simbol pada Tembang Upacara Siraman Adat Sunda sebagai Usulan Bahan Ajar Teks Deskripsi di Kelas VII SMP Wachyudin Wachyudin; Desita Nurama Ningsih; Nira Wahyuni
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 2 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i2.8386

Abstract

This study aims to describe the form, meaning, and symbols contained in the Sundanese traditional siraman ceremony songs, and propose their use as teaching materials for descriptive texts in grade VII of junior high school. This study uses a qualitative method with Charles Sanders Peirce's semiotic approach to interpret the representamen, objects, and interpretants of each song. The analysis results show that the songs contain messages of affection, parental approval, self-reflection, responsibility, and prayers for blessings for the bride and groom. Cultural symbols such as water, flowers, candles, and sinjang kebat enrich the meaning of the siraman tradition as a process of purification and moral strengthening. The research findings are then adapted into proposed teaching materials for descriptive texts based on local culture that are in accordance with the Merdeka Curriculum, so as to improve descriptive literacy skills while fostering students' appreciation of Sundanese culture. This study contributes in the form of integrating local traditions in Indonesian language learning through the development of contextual and culturally valuable materials. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, serta simbol-simbol yang terkandung dalam tembang upacara siraman adat Sunda, serta mengusulkan pemanfaatannya sebagai bahan ajar teks deskripsi di kelas VII SMP. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce untuk menafsirkan representamen, objek, dan interpretan dari setiap tembang. Hasil analisis menunjukkan bahwa tembang-tembang tersebut mengandung pesan kasih sayang, keridaan orang tua, refleksi diri, tanggung jawab, serta doa keberkahan bagi calon pengantin. Simbol-simbol budaya seperti air, bunga, lilin, dan sinjang kebat memperkaya makna tradisi siraman sebagai proses penyucian dan peneguhan moral. Temuan penelitian kemudian diadaptasi menjadi usulan bahan ajar teks deskripsi berbasis budaya lokal yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka, sehingga mampu meningkatkan kemampuan literasi deskriptif sekaligus menumbuhkan apresiasi siswa terhadap budaya Sunda. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa integrasi tradisi lokal dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui pengembangan materi yang kontekstual dan bernilai kultural.
Kajian Semiotik Roland Barthes pada Puisi Sawer Pengantin Sunda sebagai Usulan Bahan Ajar Puisi Rakyat di Kelas VII SMP Wachyudin Wachyudin; Dwi Purwati; Anwar Faris; Yasifa Erida Dzulhijah; Diva Raehandika; Miftahul Malik
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 2 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i2.7825

Abstract

The research was carried out to find out the meaning contained in the bride's sawer poem which will later be used as a proposal for teaching materials for class VII junior high school folk poetry. The bride's sawer poems studied are sawer poems with the rules of pupuh kinanti and asmarandana, which will be analyzed using the Roland Barthes semiotics approach. Denotative meaning and connotative meaning are important points in this study because the results of the meaning analysis will be used as a proposal for teaching materials for folk poetry in grade VII of junior high school, which is then made a folk poetry learning module. The research method used is a qualitative descriptive method that aims to understand the written and oral language of the community and observable behavior. The results of the analysis show that the connotative meaning of the Sundanese bride sawer poem is a request to God so that the expectations of the bride and groom are always fulfilled and get the best in their married life. The text of the Sundanese bride sawer poem has five meanings denotatively: piety to God, hope, responsibility, affection, and ethics. The denotative and connotative meanings that have been analyzed can be used as a reference for the proposed teaching materials for folk poetry in grade VII of junior high school. Because in phase D of the independent curriculum, students are expected to be able to read and watch the content of folk poetry. AbstrakPenelitian dilakukan guna mengetahui makna yang terdapat pada puisi sawer pengantin yang nantinya akan dijadikan sebagai usulan bahan ajar puisi rakyat kelas VII SMP. Puisi sawer pengantin yang dikaji adalah puisi sawer dengan aturan pupuh kinanti dan asmarandana, yang akan dianalisis menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Makna denotatif dan makna konotatif menjadi poin penting dalam penelitian ini karena hasil analisis makna tersebut akan bisa digunakan sebagai usulan bahan ajar puisi rakyat di kelas VII SMP, yang selanjutnya dibuatkan modul pembelajaran puisi rakyat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memahami bahasa tulis dan lisan  masyarakat serta perilaku yang dapat diamati. Hasil analisis menunjukkan bahwa makna konotatif dari puisi sawer pengantin Sunda adalah permohonan kepada Tuhan agar harapan kedua mempelai senantiasa terpenuhi dan mendapatkan yang terbaik dalam hidup rumah tangga mereka. Teks puisi sawer pengantin Sunda memiliki lima makna secara denotatif: ketakwaan kepada Tuhan, harapan, tanggung jawab, kasih sayang, dan budi pekerti. Makna denotatif dan konotatif yang telah dianalisis bisa dijadikan sebagai acuan dari usulan bahan ajar puisi rakyat di kelas VII sekolah menengah pertama. Karena pada fase D kurikulum merdeka peserta didik diharapkan mampu untuk membaca dan memirsa isi dari puisi rakyat.
Penerapan Filsafat Montessori dalam Pengembangan Kemandirian Siswa Sekolah Dasar Fase A, B, dan C di SDIT Cendekia Purwakarta Amelia Pratiwi; Wita Puspita Sari; Silvi Madya; Ricky Yoseptry; Wachyudin Wachyudin
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Vol 13 No 3 (2025)
Publisher : STKIP PGRI SITUBONDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/pkwu.v13i3.2125

Abstract

This research is motivated by the understanding that basic education plays a crucial role in forming the foundation of students’ personality, character, and life skills. One important character aspect that must be developed from an early age is independence. This study employs a descriptive qualitative approach. The qualitative method was chosen because the aim is to examine comprehensively and in depth the implementation of educational philosophy in real field contexts. Descriptive research seeks to systematically and accurately describe the facts and characteristics of the object under study. Through this approach, researchers are able to understand the meanings, processes, and experiences of the subjects involved in the implementation of the Montessori approach. The research was conducted at SDIT Cendekia Purwakarta. The research subjects were focused on students in Phase A, B, and C (equivalent to grades 1 through 6). In addition to students, key informants included the school principal, teachers, and parent representatives. Overall, the study concludes that the implementation of Montessori philosophy at SDIT Cendekia Purwakarta is carried out partially yet consistently and has a significant positive influence on the development of children’s independence in Phases A, B, and C. Although the implementation does not fully adhere to pure Montessori standards, the adaptations made produce relevant, measurable outcomes that align with students’ developmental needs. The integration of Montessori values with Islamic values has been proven to be mutually supportive and not contradictory.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan yang Memerdekakan dan Implikasinya terhadap Implementasi Pendidikan di SMP Ricky Yoseptry; Khoirunnisa Khoirunnisa; Liza Putri Renata; Fatmawati Fatmawati; Wachyudin Wachyudin
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Vol 13 No 2 (2025)
Publisher : STKIP PGRI SITUBONDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/pkwu.v13i2.2134

Abstract

The changes brought about by digital technology have had a significant impact on the process of identity formation among adolescents, particularly junior high school students who are in a transitional phase toward adulthood. In the environment of SMPN 2 Babakan Cikao Purwakarta, the use of social media and intense digital interaction has given rise to various issues, such as a tendency toward self-comparison, a decline in the authenticity of expression, anxiety over social judgment, and experiences of alienation from the real environment. This situation indicates the need for an educational approach that is able to address the personal dimension and the meaning of students’ lives. This study examines the relevance of existentialist thought, particularly the ideas of Sartre, Kierkegaard, and Frankl, as a foundation for guiding adolescents to understand themselves more holistically amid the flow of digitalization. The study is conducted using a descriptive qualitative research method based on a literature review, examining various relevant academic sources. The results show that adolescents face challenges such as undirected freedom, pressure to conform, the need for digital recognition, and a sense of meaninglessness. Through education grounded in existential values, teachers can act as facilitators who help students develop responsibility, moral courage, reflective thinking, healthy human relationships, and deeper ethical awareness. The findings of this study emphasize the importance of integrating an existential perspective into the learning process so that students are able to build a more mature identity and discover an authentic direction in life.