Made Wardhana
Dermatology And Venereology Departement, Faculty Of Medicine, Udayana University, Sanglah General Hospital Denpasar, Bali-Indonesia

Published : 40 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

POLA DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA (DKAK) PADA PEKERJA GARMEN DI DENPASAR Made Wardhana; Luh Mas Rusyati; I.G.A. Karmila; Ratih Vebrianti; Puspawati .; GK Darmaputra; Martima W; Suryawati .
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i12.P01

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan industri garment di Bali semakin meningkat sebagai salah satu industri penunjang pariwisata. Sebagai konsekuensi jumlah perusahan garmen dan tekstil semakin banyak secara kuantitas dan kualitas. Menurut data di kodya Denpasar, tercatat sekitar 125 perusahan garmen yang besar dengan memperkerjakan sedikitnya 100 orang pekerja. Perusahan garmen yang kecil sebagai industri rumah tangga hampir sebanyak lima rastusan. Dampak dari perkembangan industri garment membutuhkan banyak tenaga kerja dengan merekrut, membuka lapangan pekerjaan baik itu untuk pekerja yang terlatih maupun yang tidak terlatih, kebanyakan merupakan pekerja lepas, tanpa mendapat perhatian dari segi kesehatan. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan data tentang pola kelainaan kulit pada(DKAK) pekerja garment di Kodya Denpasar, karena belum memiliki data yang lengkap dan akurat. Metode: Metode yang digunakan pda penelitian ini adalah survelanse, pada 3 perusahan garment yang besar di Denpasar dengan wawancara dan pemeriksaan terhadap pola penyakit kulitnya. Hasil: Dari 288 pekerja yang di ikut sertakan dalam penelitian ini terdiri dari 105 (36,5%) laki-laki dan 183 (63,5 %) perempuan. Dari 288 responden, sebanyak 74 pekerja (25,7 %) yang menderita kelainan kulit yang berhubungan dengan pekerjaannya. Katagori pekerjaan yang paling banyak menderita adalah pada pekerja pencelupan (coloring) sebesar 30 orang. Kesimpulan: Pola penyakit kulit pada pekerja garment sebesar 25,7 % menderita DKAK. Katagori penyakit sering adalah pekerja yang berhubungan kontak dengan bahan warna. Kata kunci; Dermatitis kontak kontak akibat kerja, pekerja garmen
KARAKTERISTIK PENDERITA CACAR AIR (VARICELLA) DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH, DENPASAR PERIODE APRIL 2015 - APRIL 2016 Ni Putu Tiza Murtia Margha; Made Wardhana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Varisella merupakan penyakit yang mudah menular pada manusia, manusia adalah satu-satunya inang pada penyakit ini. Hal ini disebabkan oleh Varicella Zoster Virus, virus yang termasuk bagian dari alpha-herpes yang merupakan jenis virus imunogenik. Sebagai penyakit endemik akut yang paling umum yang menyerang manusia. Hal ini merupakan masalah setiap orang tua hadapi pada anak-anaknya, dan varicella juga bisa terjadi di pada dewasa, varicella biasanya dikenal sebagai cacar air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola varicella pada pasien pada periode Rumah Sakit Sanglah April 2015-April 2016. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi deskriptif desain penelitian retrospektif. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik total sampling, dalam sampel penelitian ini yang digunakan adalah semua pasien pada Rumah Sakit Sanglah periode April 2015-April 2016 yang terinfeksi infeksi varicella. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara deskriptif. Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa 56 orang yang terinfeksi varicella di Rumah Sakit Sanglah, mayoritas pasien yang terinfeksi dengan varicella berada dalam kelompok usia 0 sampai 15 tahun dengan total 30 orang (53,6%), berdasarkan perbedaan jenis kelamin menunjukkan bahwa pasien wanita memiliki insiden tertinggi yaitu 27 orang (48,2%) daripada laki-laki dan hampir mirip jumlahnya. Tidak ada komplikasi dari semua kriteria inklusi yang mana 56 orang (100%). Dan lokasi lesi tersering adalah pada kepala dan ektremitas bagian atas dengan jumlah 26 orang (46,4 %). Kata kunci: varicella, umur, jenis kelamin, komplikasi, lokasi lesi.
KARAKTERISTIK PENDERITA CACAR AIR (VARICELLA) DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH, DENPASAR PERIODE APRIL 2015 - APRIL 2016 Ni Putu Tiza Murtia Margha; Made Wardhana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i6.P10

Abstract

Varisella merupakan penyakit yang mudah menular pada manusia, manusia adalah satu-satunya inang pada penyakit ini. Hal ini disebabkan oleh Varicella Zoster Virus, virus yang termasuk bagian dari alpha-herpes yang merupakan jenis virus imunogenik. Sebagai penyakit endemik akut yang paling umum yang menyerang manusia. Hal ini merupakan masalah setiap orang tua hadapi pada anak-anaknya, dan varicella juga bisa terjadi di pada dewasa, varicella biasanya dikenal sebagai cacar air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola varicella pada pasien pada periode Rumah Sakit Sanglah April 2015-April 2016. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi deskriptif desain penelitian retrospektif. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik total sampling, dalam sampel penelitian ini yang digunakan adalah semua pasien pada Rumah Sakit Sanglah periode April 2015-April 2016 yang terinfeksi infeksi varicella. Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara deskriptif. Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa 56 orang yang terinfeksi varicella di Rumah Sakit Sanglah, mayoritas pasien yang terinfeksi dengan varicella berada dalam kelompok usia 0 sampai 15 tahun dengan total 30 orang (53,6%), berdasarkan perbedaan jenis kelamin menunjukkan bahwa pasien wanita memiliki insiden tertinggi yaitu 27 orang (48,2%) daripada laki-laki dan hampir mirip jumlahnya. Tidak ada komplikasi dari semua kriteria inklusi yang mana 56 orang (100%). Dan lokasi lesi tersering adalah pada kepala dan ektremitas bagian atas dengan jumlah 26 orang (46,4 %). Kata kunci: varicella, umur, jenis kelamin, komplikasi, lokasi lesi.
GAMBARAN KLINIS DAN FITUR DERMOSKOPI KERATOSIS SEBOROIK DI RUMAH SAKIT SANGLAH, DENPASAR. Marrietta Sugiarti Sadeli; Made Wardhana; Martina Windari; Ana Rahmawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i10.P02

Abstract

Latar belakang: Keratosis seboroik (KS) merupakan merupakan tumor jinak kulit yang sering dijumpai pada usia lanjut, sekitar 80 % dari populasi lanjut usia menderita tumor ini, walaupun hampir tidak pernah menjadi keganasan, tapi KS ini dapat sebagai manifestasi kelainan sistemik seperti Parkinson, sindroma metabolik dan sebagainya. Secara klinis KS mempunyai banyak varian, demikian juga dengan pemeriksaan dermoskopi memberikan gambaran yang beragam. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi antara varian klinis dengan gambaran dermoskopi pada SK. Metode: Penelitian ini dilakukan secara retrospektif, dari Januari 2013 sampai Desember 2014 di poliklinik kulit RSUP Sanglah Denpasar dengan melakukan analisis kasus SK secara klinis dan dilakukan pemeriksaan dermoskopi untuk melihat signifikansinya. Hasil: tercatat 67 kasus KS dengan varian klinis terdiri dari: common seborrheic keratosis (CSK), dermatosis papulosa nigra (DPN), pedunculated seborrheic keratoses (PSK), flat seborrheic keratoses (FSK) dan ada beberapa tipe yang jarang. Tipe CSK, sebanyak 44 orang (70,2 %), dengan gambaran dermoskopi dominan, comedo-like opening, millia-like cyst. Tipe PSK, 14 orang (20,9 %) dengan gambaran dermoskopi, millia-like cyst, fisura & ridges (brain-like appearance), tipe DPN 6 orang (8,9 %), gambaran dermoskopi dominan tampak comedo-like opening, hairpin blood vessel, dan tipe FSK 3 orang (4,5 %) gambaran dermoskopi dominan tampak comedo-like opening, millia-like cyst, dan sharp dermacation. Diantaranya terdapat 6 kasus sangat mirip dengan nevus melanositik yang hampir dilakukan bedah eksisi, namun dengan pemeriksaan dermoskopi sesuai dengan KS, sehingga cukup dilakukan bedah listrik saja. Ditemukan juga beberapa bentuk gambaran dermoskopi yang jarang seperti, Moth-eaten border dan network-like structures Kesimpulan: Klasifikasi SK berdasarkan dermoskopi memberikan gambaran yang lebih rinci sehingga dengan jelas dapat membedakan dengan tumor-tumor jinak kulit lainnya, sehingga pemeriksaan dermoskopi sangat diperlukan untuk merencanakan tindakan yang bakan dilakukan. Kata kunci: seboroik keratosis, dermoskopi, lesi kulit jinak lain.
PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJA PADA NELAYAN DI DESA PERANCAK, JEMBRANA TAHUN 2018 Ida Ayu Trisna Dewi; Made Wardhana; Ni Made Dwi Puspawati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.974 KB)

Abstract

ABSTRAKDermatitis kontak akibat kerja (DKAK) adalah salah satu penyakit kulit yang timbul pada lingkungan kerja akibat adanya kontak langsung dari pekerja dengan bahan iritan maupunalergen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prevalensi dan karakteristik kejadiandermatitis kontak akibat kerja pada nelayan di Desa Perancak, Jembrana tahun 2018. Penelitianini dirancang sebagai studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukandengan teknik total sampling, dan didapatkan 46 orang yang sesuai kriteria. Hasil menunjukanbahwa dari 46 orang nelayan didapatkan kejadian tersering pada rentang usia 45-54 tahun(45,7%), dan didominasi oleh laki-laki (84,8%). Gejala tersering adalah likenifikasi (76%),sering terjadi di telapak tangan (87%), dan sebagian besar responden tidak melakukanpengobatan (60,9%). Sebagian besar responden tidak memiliki riwayat atopi diri (80,4%), danpada keluarga (84,8%). Sebagian besar responden sudah memiliki masa kerja ?4 tahun(97,8%).Seluruh responden menyatakan mengalami kontak langsung dengan peralatan kerja, danterkadang mengakibatkan luka. Penggunaan alat pelindung diri tidak dilakukan oleh 43 orang(93,5%). Lama kontak >4 jam/hari (93,5%), dan frekuensi paparan tersering >5 kali/hari (63%).Diperlukan tindakan pencegahan dengan menggunakan alat pelindung diri saat melakukanproses kerja. Kata kunci: dermatitis kontak akibat kerja, prevalensi, karakteristik, nelayan.
Innovative approach of nanoformula moisturizer applications in atopic dermatitis: a review Nyoman Suryawati; Made Wardhana
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 53, No 2 (2021)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.982 KB) | DOI: 10.19106/JMedSci005302202112

Abstract

The skin barrier defect is the first step in the development of atopic dermatitis (AD). Various therapeutic guidelines recommend using moisturizers to maintain the skin barrier and the prevention of AD. The use of a moisturizer in the form of barrier cream is considered to improve the skin barrier. However, this dosage form is occlusion and has an oily texture, resulting in patient noncompliance with therapy. Various techniques were developed to improve patient compliance in applying topical preparations, one of which is by developing nanotechnology. Recent studies aim to develop nanoformula preparations because they can help deliver drug molecules to specific targets with minimize side effects. The application of nanoformula moisturizer is promising in the management of AD because of its ability to reduce water loss and prevent irritation and produce formulations with a thinner texture to increase therapeutic compliance in AD patients. 
English lesson material of reservationist professions in handling personal hotel rooms through telephone Ni Luh Putu Sri Widhiastuty; I Made Wardhana
English Vol 2 No 1 (2018): June 2018
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.222 KB)

Abstract

Reservationist / reservation officer of Front Office Hotel is in charge of handling hotel room reservations. The duty of the hotel's front-line reservationist is to record and complete tasks related to hotel room orders, filing room reservation data, control room inventory well, calculate forecasting, make arrival list guests (arrival list) based on existing bookings, create group information lists, create VIP information lists, create room occupancy statistics, and create daily, monthly, and yearly reports. One ability to apply good selling techniques namely the ability of a reservationist to communicate with foreign guests using the English language. English is the language of international communication, which is needed by employees who work in the world of tourism and hotels in Bali, especially for hotel front reservationist. A hotel front desk reservationist is required to communicate using the correct and standard English when serving guests who make hotel reservations. Reservationists who accept hotel room bookings by phone, usually start the conversation using the standard greeting. As a reservationist, the understanding of hotel products should really be considered, such as the location of the rooms, the types of rooms available, the applicable room rates and other service facilities available at the hotel.
Improving the students' academic English essay writing achievement through rubrics and peer correction I Made Wardhana; Ni Luh Putu Sri Widhiastuty
English Vol 2 No 1 (2018): June 2018
Publisher : Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.993 KB)

Abstract

This study attempted to find out the contribution of rubrics and peer correction in improving the students’ achievement in academic English essay writing in terms of what the students’ perception on the application of rubrics and peer correction in academic English essay writing was; what the students’ academic English essay writing achievement was after being exposed through rubrics and peer correction; whether there was a correlation between rubrics and peer correction and the students’ academic English essay writing achievement. The data were collected from a distributed questionnaire consisting of a five-scale statement and open-ended questions to be responded by 60 samples of two classes out of 9 classes of semester 5 students of English Department of Faculty of Teacher Training and Education of Mahasaraswati University Denpasar in academic year 2016/2017 and the achievement of the students’ academic English essay from a determined thesis statement after being exposed to the application of rubrics and peer correction; both of whose scores were confronted to obtain the correlation. The result showed that there was a strong correlation (0.62) between the students’ perception on the application of rubrics and peer correction and their academic English writing achievement meaning that that rubrics and peer correction had a positive contribution in improving the students’ academic English writing achievement. Therefore, it was logical to recommend that rubrics and peer correction be applied as one of the techniques in improving academic English essay writing.
Positive correlation between psoriasis vulgaris severity degree with HbA1C level Made Swastika Adiguna; Made Wardhana; Fresa Nathania Rahardjo
Bali Dermatology and Venereology Journal Vol. 1 No. 2 (2018)
Publisher : DiscoverSys Inc

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/bdv.v1i2.11

Abstract

Introduction: Psoriasis is a skin abnormality based on chronic inflammation immune mediated. Inflammatory mediator roles (Th-1, TNF-α, IL-6,IL-7, IL-8, IL-17, and IL-23) in its pathogenesis proven to inhibit insulin receptor and glucose uptake from fat tissue and causing insulin resistance, then blood glucose level increased. Mean blood glucose level within 3 months can be represented by HbA1c (glycosylated haemoglobin) level. HbA1c is a bond between glucose and hemoglobin.           Objective: The aim of this study is to understanding correlation between psoriasis vulgaris severity degree with HbA1c.Material and methods: This study is using cross sectional method. HbA1c level examination done by drawing venous blood, then analyzed with chromatography method. Samples were selected by using inclusion and exclusion criteria and consecutive sampling method.Result: Study result shows subject consist of total 51 subjects consists of 33 subjects with psoriasis vulgaris (22 males and 11 females with youngest age of 15 and oldest age of 65 years old), and 18 subjects without psoriasis vulgaris. Psoriasis vulgaris severity degree measured with Psoriasis Area Severity Index (PASI), then grouped to 3 categories: mild PASI score <6, moderate PASI score  6 – 12, and severe PASI score> 12. Mostly  (15 subjects) including mild category. HbA1c level on this study subjects resulted minimum level of 4.6%, maximum 12.1 %, and median 5.4%.  Based on Perkeni consensus, normal HbA1c level is <5,7%, prediabetes 5,7-6,4%, and diabetes >6,5%. HbA1c level of psoriasis vulgaris subjects are higher than non psoriasis vulgaris subjects significantly (p=0,019). Psoriasis vulgaris causing increase of HbA1c level with Prevalence Ratio (PR) 6,55. Thus, Psoriasis vulgaris subjects have increased risk 6,5 times to increase HbA1c level compared with non psoriasis vulgaris subjects. Correlation between severity degree and HbA1c level found in positive course significantly with moderate strength of correlation (Spearman correlation; r = 0.580, p<0,001).Conclusion: HbA1c level on psoriasis vulgaris subjects are higher than non psoriasis vulgaris, and psoriasis vulgaris severity degree positively correlated with HbA1c increasing level. Every increase of  psoriasis vulgaris severity degree will cause increase level of  HbA1c.
High plasma dopamine level as a risk factor for atopic dermatitis Made Swastika Adiguna; Made Wardhana; Ermon Naftali Limbara
Bali Dermatology and Venereology Journal Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : DiscoverSys Inc

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/bdv.v2i1.15

Abstract

Background: Dopamine is responsible for inflammatory response and plays a role in the skin immune system by modulating T-cells, dendritic cells, and keratinocytes which increases skin inflammatory response in atopic dermatitis (AD). Elevation of dopamine level will affect IL-6, IL-8, IL-23, Th-17, and TNF-α, which promotes keratinocyte proliferation and differentiation, infiltration of inflammatory cells, angiogenesis, vasodilation, and skin barrier disruption on AD.Objective: This study aimed to establish whether the increase of plasma dopamine level contributes to a risk factor for AD occurrence.Methods: This is a matched-pair case-control observational analytical study which involves patients with AD and without AD as control. Samples were taken using a consecutive sampling method which fulfilled inclusion and exclusion criteria, matched for gender and age. Plasma dopamine level was measured from venous blood and processed using enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method. The collected data were then analysed using SPSS version 20.0 with Pearson chi-square test for the odds ratio.Results: A total of 30 samples with AD (case group) and 30 samples without AD (control group) involved in this study. This study proves that plasma dopamine levels in the case group were significantly higher than the control group (p<0.05). Odds ratio for plasma dopamine was 42.2 (95%CI: 9.5-187.2, p < 0.001).Conclusion: This study concludes that high plasma dopamine level is a risk factor for AD.
Co-Authors Adeline Santoso Ana Rahmawati Anak Agung Gde Putra Wiraguna Anak Agung Gde Putra Wiraguna Ariana Ariana Ariana Ariana Batan, Putu Nila Wardhani Dewi Gotama Ermon Naftali Limbara Ermon Naftali Limbara Fresa Nathania Rahardjo Fresa Nathania Rahardjo Gde Ngurah Arya Ariwangsa Gde Somayana GK Darmaputra I Dewa Nyoman Wibawa I Gde Nengah Adhilaksman I Gde Nengah Adhilaksman I Gde Nengah Adhilaksman Sunyamurti Wirawan I Gusti Ayu Agung Dwi Karmila I Gusti Ayu Agung Elis Indira I Gusti Ayu Agung Praharsini I Gusti Ayu Agung Praharsisni I Gusti Nyoman Darmaputra I Ketut Mariadi I Ketut Suastika I.G.A. Karmila Ida Ayu Intan Pratiwi Ida Ayu Trisna Dewi IGAA Ratna Medikawati, IGAA Ratna IGN Darma Putra Ivana Sugiarto Ketut Suata Limbara, Ermon Naftali Luh Made Mas Rusyati Made Kusuma Dewi Maharani Made Kusuma Dewi Maharani Made Martina Windari Made Puspawati Made Swastika Adiguna Maharani, Made Kusuma Dewi Marrietta Sugiarti Sadeli Marrietta Sugiarti Sadeli Martima W Martina Windari Martina Windari Nareswari, Putu Ayu Diah Natih, Sintha Aprillia Gita Ni Luh Putu Ratih Vibriyanti Karna Ni Luh Putu Sri Widhiastuty Ni Made Dwi Puspawati Ni Putu Tiza Murtia Margha Nila Puspasari Nila Wardani Nila Wardhani Batan Nyoman Suryawati Nyoman Yoga Maya Pramita Nyoman Yoga Maya Pramita Pande Agung Mahariski Prima Sanjiwani Puspawati . Putu Ayu Diah Nareswari Putu Ayu Diah Nareswari Putu Kurniawan Dhana Rahardjo, Fresa Nathania Ratih Vebrianti Ricky Fernando Maharis Rikcy Fernando Maharis Sadeli, Marrietta Sugiarti Sissy Sissy Sunny Wangko Suryawati . Wiraguna, Swastika Adiguna