Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pendidikan Kesehatan tentang Rhematoid Arthritis dan Senam Rematik Pada Lansia di Posyandu Lansia Mugi Sehat Septiani, Febi; Susanti, Indri Heri; Yuanita, Silvi; Nabila, Nurun; Thurfah, Putri Aziizah; Adelia, Putri Sella; Gumanti, Riang; Pratami, Rifmawati Widya; Saputri, Salsabila; Yuda, Satria Tegar Baratha
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.14032

Abstract

ABSTRAK Prevalensi rheumatoid arthritis berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia adalah 11,9% berdasarkan diagnosis atau gejala adalah 24,7%. Prevalensi berdasarkan usia penderita rheumatoid arthritis 45-54 tahun mencapai 37,2%, usia 55-64 tahun sebanyak 45,0%, usia 65-74 tahun sebanyak 51,9% dan usia lebih dari 75 tahun mencapai 54,8%. Rheumatoid arthritis penyakit yang menyerang pada bagian sendi sehingga mengakibatkan struktur ataupun jaringan terganggu sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari. Untuk mengurangi nyeri sendi yang dialami penderita dapat dilakukan dengan non farmakologi yaitu dengan senam rematik. Kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan untuk memberikan pemahaman dan pencegahan penyakit Rheumatoid arthritis pada lansia di Posyandu Mugi Sehat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu penyuluhan kesehatan dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan praktik senam rematik. Pasca pengabdian masyarakat diketahui bahwa peserta mengalami peningkatan pengetahuan terkait dengan Rheumatoid arthritis. Kegiatan pengabdian masyarakat penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait berbagai penyakit dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit rheumatoid arthritis sehingga dapat mengurangi tingkat kesakitan dan menurunkan prevalensi rheumatoid arthritis di Indonesia sendiri. Kata Kunci: Pencegahan, Rheumatoid Arthritis, Senam Rematik  ABSTRACT The prevalence of rheumatoid arthritis based on diagnosis by health workers in Indonesia is 11.9% based on diagnosis or symptoms is 24.7%. The prevalence based on rheumatoid arthritis sufferers aged 45-54 years reached 37.2%, aged 55-64 years was 45.0%, aged 65-74 years was 51.9% and aged over 75 years reached 54.8%. Rheumatoid arthritis, also known as rheumatic disease, is inflammation of the joints which causes the structure or tissue around it to become disturbed, which causes daily activities to be disrupted. To reduce joint pain experienced by sufferers, it can be done non-pharmacological, namely rheumatic exercises. Community service activities aim to provide an understanding and prevention of rheumatoid arthritis in the elderly at Posyandu Mugi Sehat.The method used in this activity is health education using lecture, discussion, question and answer methods, and rheumatic exercise practice. After community service, it was discovered that participants experienced increased knowledge related to Rheumatoid arthritis. It is important to carry out community service activities to increase public knowledge regarding various diseases and increase public awareness of the importance of preventing rheumatoid arthritis so that it can reduce the level of morbidity and reduce the prevalence of rheumatoid arthritis in Indonesia itself. Keywords: Prevention, Rheumatoid Arthritis, Rheumatic Exercise
Asuhan Keperawatan Gangguan Mobilitas Fisikextermitas Atas dan Bawah Sebelah Kanan Pada Pasien Ny. S dengan Post Riwayat Jatuh di Roujin Home (Ikedaen) Okinawa Jepang Anty, Febri; Ningrum, Ema Wahyu; Septiani, Febi
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2025 Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2025)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/snppkm.v4i1.1351

Abstract

Penelitian studi kasus ini berfokus pada asuhan keperawatan pasien lansia dengan gangguan mobilitas fisik pada ekstremitas atas dan bawah sebelah kanan akibat riwayat jatuh di Roujin Home (Ikeda En), Okinawa, Jepang. Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi muskuloskeletal dan neuromuskular, sehingga meningkatkan risiko jatuh dan menyebabkan keterbatasan aktivitas sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan proses asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan keperawatan berstandar. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa intervensi berupa latihan Range of Motion (ROM), dukungan mobilisasi dini, serta edukasi mampu membantu meningkatkan kekuatan otot dan rentang gerak pasien. Studi ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan ilmu keperawatan gerontik dan sebagai acuan praktik dalam meningkatkan kualitas hidup lansia dengan gangguan mobilitas fisik.
The Effect of Nurses’ Therapeutic Communication on People with Schizophrenia: A Literature Review Rikhan Luhur Prasetya; Febi Septiani
Jurnal EduHealth Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal EduHealt, January-March 2026
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Schizophrenia significantly impairs psychological functioning, behaviour, and social interaction, necessitating comprehensive nursing interventions. Therapeutic communication is considered a core nursing competency in establishing effective therapeutic relationships and optimising patient outcomes. This scoping review aimed to synthesise recent evidence on the effects of nurses’ therapeutic communication in the care of patients with schizophrenia. A scoping review was conducted following the Arksey and O’Malley framework. Literature searches were performed in PubMed, Google Scholar, ScienceDirect, and Garuda for primary studies published between 2019 and 2025 using the keywords “therapeutic communication,” “nurse,” and “schizophrenia.” Ten eligible studies employing quantitative, qualitative, or mixed-methods designs were analysed through thematic mapping. The findings consistently demonstrate that therapeutic communication contributes to measurable improvements in patient outcomes, including enhanced self-concept, reduced anxiety and anger, decreased aggressive behaviour, improved hallucination control, and strengthened therapeutic alliance. These results reinforce the role of structured, empathy-based communication strategies as an evidence-informed intervention in psychiatric nursing practice. Overall, integrating therapeutic communication into schizophrenia care supports more effective management across multiple psychiatric nursing diagnoses and strengthens the therapeutic process, highlighting its strategic value in improving clinical and psychosocial outcomes.
Peran Agen Anestesi Dalam Disfungsi Kognitif Pasca Operasi: Systematic Literature Review Seroja; Made Suandika; Febi Septiani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.416

Abstract

Disfungsi kognitif pasca operasi (Postoperative Cognitive Dysfunction/POCD) merupakan komplikasi umum, khususnya pada pasien usia lanjut yang menjalani prosedur bedah besar dengan anestesi umum. POCD dapat menyebabkan gangguan memori, konsentrasi, dan orientasi yang berdampak pada peningkatan morbiditas dan mortalitas. Jenis agen anestesi diduga berperan dalam kejadian POCD, namun bukti yang ada masih bervariasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi peran agen anestesi terhadap kejadian POCD melalui kajian sistematis literatur berbasis bukti. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review berdasarkan panduan PRISMA Flow. Pencarian dilakukan pada artikel penelitian primer berbahasa Inggris dan Indonesia yang diterbitkan antara tahun 2019–2024. Artikel yang relevan dievaluasi kualitasnya menggunakan instrumen JBI Critical Appraisal Tool dan dianalisis menggunakan pendekatan PICO. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa anestesi intravena seperti propofol lebih banyak dikaitkan dengan penurunan risiko POCD dibandingkan anestesi inhalasi seperti sevoflurane atau isoflurane. Propofol memiliki efek perlindungan dengan cara memodulasi neurotransmitter, menekan pelepasan sitokin proinflamasi, serta onset dan pemulihan yang cepat. Kombinasi dengan agen seperti dexmedetomidine dan S-ketamin juga menunjukkan peningkatan kualitas pemulihan dan perlindungan kognitif. Kesimpulan dari literature ini adalah jenis dan kombinasi agen anestesi memengaruhi kejadian POCD. Propofol dan pendekatan multimodal anestesi menunjukkan potensi dalam menurunkan risiko POCD, terutama pada populasi lansia. Pemilihan agen anestesi perlu dipersonalisasi berdasarkan faktor usia, jenis operasi, dan kondisi pasien.
Work-life balance & burnout among nurses in the inpatient ward of Goeteng Taroenadibrata General Hospital, Purbalingga Tri Sumarni; Febi Septiani
Riset Informasi Kesehatan Vol 15 No 1 (2026): Riset Informasi Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/rik.v15i1.1128

Abstract

Background: Nursing is one of the most stressful professions, and nurses need to have a balance between their work and personal lives (work-life balance). Work-life balance plays an important role in preventing burnout and improving the professional performance of nurses. This study aims to determine the relationship between work-life balance and burnout among nurses. Method: This study is a correlational descriptive study with a cross-sectional approach. The sampling technique used total sampling of 124 nurses. The research instruments were the Work-Life Balance (WLB) Scale questionnaire consisting of 15 questions and the burnout questionnaire using the Maslach Burnout Inventory-Human Services Survey (MBI-HSS) consisting of 22 statements regarding emotional exhaustion, depersonalization, and low personal achievement. Bivariate analysis used the Spearman rank statistical test. Results: Nurses' work-life balance was mostly in the low category (67.7%). The majority of nurses' burnout was in the moderate category (54%). There was a negative relationship between nurses' work-life balance and burnout; the higher the nurses' work-life balance, the lower their burnout (r=0.448, p value=0.001). Conclusion: The need for hospital management to pay attention to all dimensions of work-life balance and factors that contribute to reducing nurse burnout.
Edukasi Mekanisme Koping untuk Meningkatan Koping dalam Mencegah Stres Kerja pada Karyawati di Pabrik Soun Scorpio Desa Karangsoka Kabupaten Banyumas Aprilia Sukma Prameswari; Tri Sumarni; Febi Septiani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.698

Abstract

Stres kerja merupakan permasalahan signifikan bagi karyawati dengan beban kerja tinggi yang jika tidak dikelola dapat menurunkan produktivitas. Pendidikan kesehatan mengenai mekanisme koping adaptif menjadi solusi penting untuk meningkatkan kemampuan individu dalam merespons tekanan secara positif. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan koping 25 karyawati di Pabrik Soun Scorpio, Desa Karangsoka, melalui edukasi menggunakan media power point dan leaflet. Metode evaluasi melibatkan kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan, stres kerja, serta mekanisme koping partisipan. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan dari 50,2 menjadi 56, serta penurunan tingkat stres kerja yang signifikan, di mana jumlah responden pada kategori stres rendah meningkat dari 4 orang menjadi 15 orang. Selain itu, terdapat penguatan mekanisme koping tinggi pada responden setelah intervensi. Dapat disimpulkan bahwa edukasi mekanisme koping efektif dalam menurunkan tingkat stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawati di lingkungan kerja.
Asuhan Keperawatan Gerontik Gangguan Mobilitas Fisik pada Ny. S dengan Stroke Hemiparesis Kanan Rumah Sakit Lansia “The Season” Jepang Umi Sarah Fauziah Ali; Wasis Eko Kurniawan; Febi Septiani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.82

Abstract

Prevelensi stroke secara global menunjukan lebih dari 80 juta orang hidup dengan menderita stroke. Hemiparesisi merupakan kelemahan ekstremitas yang salah satunya dapat disebabkan oleh stroke. Lansia dengan stroke sering mengalami gangguan mobilitas fisik akibat hemiparesis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas latihan Range of Motion (ROM) dalam meningkatkan kekuatan otot pada Ny. S, pasien lansia di Rumah Sakit "The Season", Jepang. Studi kasus deskriptif dilakukan pada lansia usia 88 tahun dengan hemiparesis kanan, afasia, dan demensia. Intervensi ROM pasif diberikan dua kali sehari selama tiga hari. Pengkajian menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan observasi klinis. Hasil menunjukkan peningkatan kekuatan otot, serta penurunan kekakuan sendi. Pasien menunjukkan peningkatan partisipasi meskipun masih memerlukan bantuan. Latihan ROM terbukti memberikan dampak positif jangka pendek pada kekuatan otot dan mobilitas pasien stroke.
Gambaran Stres Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa Negeri Panca Nuriz Zaneni; Noor Yunida Triana; Febi Septiani
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 6 (2025): Desember 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i6.935

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat stres yang dialami oleh orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa Negeri Purbalingga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, di mana data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan pengisian kuesioner oleh 83 orang tua murid yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden terdiri dari 1 orang remaja akhir (1,3%), 22 orang dewasa awal, dan 57 orang dewasa akhir (71,3%). Dari total responden, 71 orang (88,8%) adalah perempuan dan 9 orang (11,2%) adalah laki-laki. Tingkat stres yang dialami oleh orang tua terbagi dalam kategori stres ringan sebanyak 14 orang (17,5%) dan stres sedang sebanyak 66 orang (82,5%). Penelitian ini memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan yang dihadapi oleh orang tua dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus, termasuk kekhawatiran yang sering dialami oleh ibu, seperti rasa cemas akan masa depan anak dan pandangan negatif dari lingkungan sekitar. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pihak terkait dalam meningkatkan dukungan bagi orang tua dan anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Hubungan Work Engagement dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RS Wijayakusuma Purwokerto: Penelitian Akbar Bagus Pambudi; Tri Sumarni; Febi Septiani
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.540

Abstract

Kinerja perawat merupakan salah satu indikator keberhasilan pelayanan kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perawat adalah work engagement. Work engagement merupakan kondisi psikologis positif yang ditandai oleh vigor, dedication, dan absorption penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hubungan work engagement dengan kinerja perawat di ruang rawat inap RS Wijayakusuma Purwokerto. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik sampling dengan random sampling sebanyak 70 perawat, analisis data menggunakan uji spearman rank. Data diambil dengan pengisian kuesioner work engagement menggunakan The Utrech Work engagement Scale (UWES) dan kinerja perawat menggunakan Form penilaian kinerja. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan work engagement dengan kinerja perawat dengan nilai p-value = 0.000 < α (α = 0,05), dan nilai koefisien korelasi 0,447 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan searah. Oleh karena itu, meningkatkan work engagement perawat sangat penting. Ketika perawat merasa terikat secara emosional dan bersemangat dalam menjalankan tugasnya, kinerja mereka cenderung lebih baik.