Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

An Integrated Analysis of Perceived Stress, Relaxation Behaviors, and Musculoskeletal Symptoms Among Undergraduate Health Science Students Risa Kusuma Anggraeni; Andy Sirada; Sri Gunda Fahriana Fahruddin
Window of Health : Jurnal Kesehatan Vol 9 No 2 (April 2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/woh.vi.2856

Abstract

Undergraduate health science students are exposed to academic demands, prolonged screen use, and sustained static posture, which may contribute to both perceived stress and neck–shoulder musculoskeletal symptoms. Previous student-based studies have reported that approximately one-third of university students experience moderate to high stress, while musculoskeletal discomfort, particularly in the neck and shoulder regions, affects around 40–60% of students. This study aimed to examine the associations among perceived stress, stretching and relaxation behavior, static posture duration, and neck–shoulder musculoskeletal symptoms among undergraduate health science students. This observational analytic study used a cross-sectional design involving 100 undergraduate health science students at Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Participants completed the Perceived Stress Scale, a stretching and relaxation behavior questionnaire, and the Nordic Musculoskeletal Questionnaire. Data were analyzed using descriptive statistics, Pearson correlation, and multiple linear regression. The mean age of respondents was 20.8 ± 1.2 years, and 76% were female. Neck pain and shoulder pain in the past 12 months were reported by 68% and 65% of students, respectively. Static posture for 4–8 hours per day was reported by 51% of respondents. Perceived stress was categorized as mild in 43%, moderate in 21%, and high in 36% of students. Perceived stress was negatively correlated with stretching frequency (r = -0.38, p < 0.001), and positively correlated with static posture duration (r = 0.31, p = 0.002) and neck–shoulder pain (r = 0.41, p < 0.001). Regression analysis showed that stretching frequency, static posture duration, and neck–shoulder pain were significantly associated with perceived stress and explained 43% of its variance. Perceived stress among undergraduate health science students is associated with modifiable physical and behavioral factors, particularly static posture, neck–shoulder symptoms, and stretching or relaxation behavior. Campus wellness programs should integrate posture education, scheduled movement breaks, stretching routines, and relaxation practices to support both physical comfort and psychological well-being.
IMPLEMENTASI EDUKASI KESEHATAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN STROKE PADA LANSIA Chandra Tri Wahyudi; Andy Sirada; Nabila Nasya; Reihana Zakiya; Galuh Nurulita Fitriani; Safa Marwah Ilmanan Rachmah Putri Setiawan
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.21312

Abstract

Abstrak: Stroke merupakan salah satu penyakit yang berlangsung dalam kurun waktu yang lama, serta dapat mengakibatkan kematian. Selain itu, stroke juga dapat berperan dalam timbulnya masalah demensia dan depresi. Pada lansia sendiri risiko terjadinya serangan stroke dapat meningkat sebanyak dua kali lipat. Tujuan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan gejala stroke dan kemampuan koping, sehingga tindakan yang tepat dapat segera diambil ketika stroke terjadi. Metode Pengabdian dengan metode sosialisasi dan pemeriksaan kesehatan. Peserta merupakan para lansia yang tergabung dalam komunitas dahlia senja berjumlah 43. Nilai rerata pretes pengetahuan 4.05, sikap 11.93, dan keterampilan 11.65 meningkat menjadi pengetahuan 4.3, sikap 12.07, keterampilan 12.79 pada postes. Hasil yang didapat adalah peningkatan pengetahuan, sikap, serta keterampilan terkait perilaku pencegahan stroke pada lansia.Abstract: Stroke is one of the diseases that occurs over a long period and can lead to death. Additionally, stroke can also play a role in the onset of dementia and depression. In the elderly themselves, the risk of experiencing a stroke can double. The goal of community service is to increase awareness of stroke symptoms and coping abilities, so that appropriate action can be taken promptly when a stroke occurs. The community service method involves pre-testing, counseling, post-testing, and health examinations. Participants are elderly individuals belonging to the Dahlia Senja community, totaling 43. The average pre-test values for knowledge, attitude, and skills are 4.05, 11.93, and 11.65, respectively, which increased to 4.3, 12.07, and 12.79 in the post-test. The results indicate an improvement in knowledge, attitude, and skills related to stroke prevention behavior in the elderly.
HEALTHY WORKPLACE MOVEMENT: SKRINING DAN EDUKASI KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KARYAWAN Andy Sirada; Kiki Rezki Faradillah; Susianna Jansen; Lina Berliana Togatorop; Dwi Suratmini; Rycco Darmareja
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39710

Abstract

Abstrak: Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami pekerja akibat posisi kerja statis, aktivitas berulang, dan penerapan ergonomi yang kurang optimal. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan, kapasitas kerja, dan produktivitas apabila tidak dilakukan upaya pencegahan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal melalui skrining menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kegiatan dilaksanakan pada 32 karyawan PT Cakra Manggilingan Jaya melalui edukasi kesehatan kerja, skrining keluhan muskuloskeletal, dan praktik workplace stretching. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri atas 10 pertanyaan terkait kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja. Indikator keberhasilan kegiatan ditetapkan berdasarkan peningkatan skor pengetahuan peserta setelah intervensi edukasi. Hasil evaluasi menunjukkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 58,4 pada pre-test menjadi 81,2 pada post-test dengan selisih peningkatan sebesar 22,8 poin. Hasil skrining NBM menunjukkan keluhan muskuloskeletal paling banyak ditemukan pada area pinggang/punggung bawah (75%), leher (62%), dan bahu (56%). Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai dan berpartisipasi dalam praktik workplace stretching yang diberikan. Kegiatan Healthy Workplace Movement efektif meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal di lingkungan kerja.Abstract: Musculoskeletal disorders are among the most common occupational health problems experienced by workers due to prolonged static postures, repetitive activities, and inadequate ergonomic practices. These conditions may reduce comfort, work capacity, and productivity if preventive measures are not implemented at an early stage. This community service program aimed to improve employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and to identify musculoskeletal complaints through screening using the Nordic Body Map (NBM). The program involved 32 employees of PT Cakra Manggilingan Jaya and consisted of occupational health education, musculoskeletal complaint screening, and workplace stretching practice. Knowledge evaluation was conducted using a pre-test and post-test comprising 10 questions related to musculoskeletal health and workplace ergonomics. The success indicator of the program was defined as an improvement in participants’ knowledge scores following the educational intervention. The results showed that the mean knowledge score increased from 58.4 in the pre-test to 81.2 in the post-test, representing an increase of 22.8 points. The NBM screening revealed that musculoskeletal complaints were most frequently reported in the lower back (75%), neck (62%), and shoulder (56%) regions. All participants completed the entire program and actively participated in the workplace stretching session. The Healthy Workplace Movement program was effective in improving employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and may serve as a promotive and preventive strategy to reduce the risk of musculoskeletal disorders in the workplace.
Meningkatkan Aktivitas Fisik Lansia Melalui Exergame: Inovasi Pengabdian Masyarakat Berbasis Teknologi Andy Sirada; Risa Kusuma Anggraeni; Sri Gunda Fahriana Fahruddin; Lina Berliana Togatorop; Kusumajanti Kusumajanti; Syifa Salsabila Putri Maharani; Nathashya Dwi Moranthi
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 6 No. 4 (2026): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v6i4.2881

Abstract

Aktivitas fisik merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan, kemandirian, dan kualitas hidup lansia. Namun, rendahnya motivasi serta kejenuhan terhadap bentuk latihan konvensional sering menjadi hambatan bagi lansia untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan fisik. Perkembangan teknologi digital memberikan peluang untuk menghadirkan metode latihan yang lebih menarik melalui pemanfaatan exergame, yaitu permainan interaktif yang menggabungkan aktivitas fisik dengan teknologi digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat lansia terhadap aktivitas fisik melalui pemanfaatan exergame sebagai media latihan berbasis teknologi. Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan Paguyuban Warga Lanjut Usia (WULAN) Indonesia dan diikuti oleh 58 peserta lansia. Metode pelaksanaan terdiri atas tahap survei lapangan, identifikasi kebutuhan dan pemilihan topik berdasarkan literatur, penyusunan materi, sosialisasi, praktik exergame, serta evaluasi. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta dari 61,8 pada pre-test menjadi 84,7 pada post-test. Selain itu, 91,4% peserta menyatakan kegiatan sangat bermanfaat dan 87,9% peserta menilai exergame sebagai metode latihan yang menarik dan menyenangkan. Hasil ini menunjukkan bahwa exergame berpotensi menjadi alternatif aktivitas fisik yang inovatif untuk meningkatkan keterlibatan lansia dalam berolahraga. Program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi dalam mendukung penuaan sehat dan peningkatan kualitas hidup lansia.