Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Adi Husada Nursing Journal

DUKUNGAN KELUARGA DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT JIWA MENUR SURABAYA Chindy Maria Orizani; Yohanes Kurniawan
Adi Husada Nursing Journal Vol 4 No 1 (2018): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.873 KB) | DOI: 10.37036/ahnj.v4i1.108

Abstract

ABSTRACT Hallucinatory hearing is a mental disorder that can experience relapse, one of the things to reduce the recurrence of auditory hallucinations is the role of the family when handling the patient at home. This study aims to analize the relationship between family support with the frequency of auditory hallucinations recurrence in RSJ Menur Surabaya. In this research used correlation research design with cross sectional approach. The population was family which had hallucinations patient. The sampling used purposive sampling technique. The dependent variable in this research was family support and dependent variable was frequency of recurrence. Instrument used in data collection were questionnaire and demographic data sheet. After the research, the results of this study there was not a relationship of family support with the frequency of auditory hallucination recurrence in RSJ Menur Surabaya. Test results spearman rank test p= 0,085 which mean p> α 0,05. The highest value of family support was quite as much 18 response (45%) and the highest frequency of recurrence of hallucination patient was moderate as much 16 response (40%). The conclusions of this study were no association between family support and the frequency of recurrence of auditory hallucinations in RSJ Menur Surabaya. Suggestions to future develop the sciences and use questionnaires that have been tested for validity for more accurate resuits. Keyword : family support, recurrence, auditory hallucinations
SELF- ACCEPTANCE DAN EMPOWERMENT PADA PASIEN KATARAK Chindy Maria Orizani
Adi Husada Nursing Journal Vol 2 No 2 (2016): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.268 KB)

Abstract

ABSTRAK Sebagian penderita katarak mengalami ketidakberdayaan dalam melakukan kegiatan biasanya yang dilakukan karena penurunan kemampuan melihat sehingga sangat rentan terjadi cedera, maka agar penderita katarak tidak mengalami ketidakberdayaan memerlukan penerimaan diri (self-acceptance) dengan dapat menyadari dan mengakui karakteristik pribadi dan menggunakannya dalam menjalani kelangsungan hidupnya secara bermakna sehingga dapat mengendalikan situasi saat ini atau yang akan terjadi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan penerimaan diri dan keberdayaan pada pasien katarak. Jenis penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 40 penderita katarak dengan menggunakan tehnik consecutive sampling. Data dianalisis dengan menggunakan uji koefisien kontingensi. Hasil menunjukkan sebagian besar responden berusia 66-75 tahun, laki-laki, berpendidikan terakhir SMP, memiliki penghasilan antara Rp.500.000,00-Rp. 1.000.000,00, pensiunan, lama menderita katarak antara 1 – 3 tahun dan menggunakan fasilitas kesehatan rumah sakit. Hasil menunjukkan mayoritas responden menerima kondisi tubuh dan berdaya, dengan p=0,000 dan r=0,614, yaitu terdapat hubungan kuat antara penerimaan diri dan empowerment pada penderita katarak. Perubahan pada penderita katarak tidak mempengaruhi penerimaan dirinya, karena responden beranggapan penyakit sudah wajarnya terjadi pada lansia.Diharapkan peran perawat dapat ditingkatkan terutama dalam memberikan edukasi pada penderita katarak & keterlibatan keluarga dalam perawatan. Kata kunci: penerimaan diri, empowerment, pasien katarak ABSTRACT Most cataract patients experienced powerlessness in activities normally performed due to decreased ability to see so highly susceptible to injury, so that cataract patients do not experience the powerlessness requires self-acceptance to be able to realize and acknowledge personal characteristics and use them in carrying out their survival significantly so as to control the situation current or expected. The purpose of this study to identify a correlation of self-acceptance and empowerment in cataract patients. This type of research is correlational study with cross sectional approach. The research sample were 40 patients with cataract using consecutive sampling technique. Data were analyzed using contingency coefficient test. The results showed that most of the respondents aged 66-75 years old, male, junior high school education, have an income between Rp.500.000,00-Rp. 1.000.000,00, retirees, long suffering from cataract between 1-3 years and using hospitals as health facilities. The results showed the majority of respondents accept the condition of the body and empowerment, with p = 0.000 and r = 0.614, so there was a strong correlation between self-acceptance and empowerment in cataract patients. Changes in people with cataracts do not affect the self-acceptance itself, because respondents think the disease is already fair occur in the elderly. Expected role of nurses could be improved, especially in educating the cataract patient and family involvement in care. Keywords: self-acceptance, empowerment, cataract patients DOWNLOAD FULL TEXT PDF >>
PENGEMBANGAN INTERVENSI PERAWATAN LUKA PADA FOURNIER GANGRENE DENGAN MENGGUNAKAN NEGATIVE PRESSURE WOUND CARE BERDASARKAN COMFORT THEORY Chindy Maria Orizani
Adi Husada Nursing Journal Vol 1 No 2 (2015): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.874 KB) | DOI: 10.37036/ahnj.v1i2.13

Abstract

ABSTRAKFournier's gangrene merupakan fasciitis nekrotikans yang progresif pada daerah penis, skrotum, dan perineum dan memiliki potensi fatal dengan angka mortalitas tinggi dan termasuk dalam kasus kegawatdaruratan bedah dan urologi. Negative Pressure Wound Care merupakan perawatan luka pada pasien dengan Fournier’s Gangrene sebelum dilakukan debridemen dan digunakan sebagai metode untuk menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan klien. Tujuan dari studi ini adalah untuk melakukan analisis intervensi perawatan luka pada Fournier’s gangrene dengan menggunakan Negative Pressure Wound Care berdasar teori Comfort. Pencarian literatur yang relevan, dilakukan dengan mengakses database PubMed, ScienceDirect, dan SAGEPub dibatasi dari Januari 2006 sampai dengan Oktober 2015. Keywords yang digunakan adalah “Fournier’s gangrene”, “negative pressure wound therapy”, “Vacuum-assisted closure”, “chronic wound therapy”. Negative pressure wound therapy sangat efektif untuk mengontrol drainage luka setelah debridemen, mempermudah granulasi luka dan menurunkan penggunaan kasa/dressing luka dan proses perawatan dapat menimbulkan rasa nyaman bagi klien dibandingkan perawatan lain. Negative pressure wound therapy merupakan aplikasi tindakan keperawatan yang berdasarkan teori comfort yaitu meningkatkan kenyamanan klien dengan menurunkan tingkat nyeri yang dirasakan klien sehingga meningkatkan kualitas hidup klien. Kata kunci: Fournier’s gangrene, negative pressure wound therapy, penyembuhan luka ABSTRACTFournier's gangrene is a progressive necrotizing fasciitis in the area of the penis, scrotum, and perineum and potentially fatal disease with a high mortality rate and included in the case of emergency surgery and urology. Negative Pressure Wound Care is a wound care in patients with Fournier's Gangrene before debridement and used as a method to reduce pain and increase the comfort of the client. The aim of this study was to analyzed the wound care interventions on Fournier gangrene using Negative Pressure Wound Care on the Comfort theory. Search methods relevant literature, performed by accessing the databases PubMed, ScienceDirect, and SAGEPub restricted from January 2006 to October 2015. Keywords used were "Fournier's gangrene", "negative pressure wound therapy", "Vacuum-assisted closure", "chronic wound therapy ". Negative pressure wound therapy is very effective for controlling wound drainage after debridement, wound granulation simplify and reduce the use of gauze / dressing wounds and the treatment process may cause a sense of comfort for the client than other treatments. Negative pressure wound therapy is the application of nursing actions based on the comfort theory which can improve client comfort by lowering the level of pain felt by clients thus improving quality of life for clients. Keywords: Fournier’s gangrene, negative pressure wound therapy, wound healing DOWNLOAD FULL TEXT PDF >>
Pengaruh Spiritual Emotional Freedom Technique (Seft) Terhadap Hipertensi Pada Lansia Chindy Maria Orizani
Adi Husada Nursing Journal Vol 5 No 2 (2019): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v5i2.151

Abstract

ABSTRAK Proses menua (aging) merupakan proses menuju tahap lansia (lanjut usia) dimana pada diri manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik, psikologis maupun sosial. Pada perubahan fisiologis terjadi penurunan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi gangguan dari dalam maupun luar tubuh. Salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak dialami oleh lansia adalah pada sistem kardiovaskuler yaitu terjadi penurunan elastisitas dinding aorta, katup jantung menebal dan menjadi kaku, serta penurunan kemampuan jantung untuk memompa darah yang dapat mengakibatkan hipertensi. Pengelolaan gangguan hipertensi ada dua cara, yaitu terapi farmakologis dan terapi non-farmakologis. Terapi yang akan digunakan yaitu terapi non-farmakologis (terapi yang tidak menggunakan obat-obatan). Kali ini terapi yang akan digunakan yaitu terapi SEFT termasuk teknik relaksasi yang merupakan salah satu bentuk mind-body therapy dan alternatif pengobatan dalam keperawatan yang berfokus pada pikiran penyebab trauma gejala masalah yang dapat menurunkan tekanan darah. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan adanya pengaruh terapi SEFT terhadap tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi. Desain yang digunakan adalah pra- eksperimental dengan pendekatan one group pre-post test design. Sampel penelitian ini adalah lansia beragama Islam yang mengalami hipertensi sebanyak 30 responden yang diseleksi menggunakan simple random sampling. Analisisa data menggunakan uji statistic wilcoxon. Mayoritas responden yang berada di Wilayah Randu Agung RW 10 Kelurahan Sidotopo Wetan Kecamatan Kenjeran Surabaya berusia 60-74 tahun, perempuan, tidak bekerja, dan tidak memiliki riwayat penyakit. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p value = 0,000 < α= 0,05 artinya ada pengaruh terapi SEFT terhadap tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa menerapkan terapi SEFT dapat menurunkan tekanan darah lansia yang mengalami hipertensi. Kata Kunci : SEFT, Tekanan Darah, Hipertensi, Lanjut Usia
KARAKTERISTIK TIDUR DAN TEKANAN DARAH PADA DEWASA AKHIR Chindy Maria Orizani, Irawati Marga, Roberto Aloysius Goenarso, Yeni Novita Fiandari
Adi Husada Nursing Journal Vol 3 No 1 (2017): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.199 KB)

Abstract

Istirahat tidur merupakan kebutuhan dasar manusia. Tubuh dapat berfungsi secara optimal, jika kebutuhan tersebut terpenuhi. Perubahan status kesehatan dan usia akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan tidur dan tekanan darah pada dewasa akhir. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi hubungan karakteristik tidur dan tekanan darah pada dewasa akhir. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan crosssectional. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan tehnik consecutive sampling, jumlah sampel sebanyak 40 orang. Variabel independen adalah karakteristik tidur dan variabel dependen adalah tekanan darah pada dewasa akhir. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah Sleep & Wake Pattern Assesment Questionnaire Pasific Sleep Program dan lembar observasi tekanan darah. Hasil penelitian sebagian besar responden berusia 30-40 tahun, perempuan, pendidikan setingkat SD, menikah, ibu rumah tangga. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara karakteriktik tidur dengan tekanan darah dimana p value = 0,115 (α< 0,05). Karakteristik tidur bukan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tekanan darah. Responden hendaknya dapat memenuhi kebutuhan tidurnya agar aktivitas tetap berjalan dengan baik dan tekanan darah tetap normal. Kata kunci: Karakteristik tidur, tekanan darah, dewasa akhir ABSTRACT Rest and sleep is a basic human need. The body can function optimally, if the need is fullfilled. Changes in health status and age will affect the fulfillment of sleep needs and blood pressure in the late adult. The purpose of this study identified the relationship between sleep characteristics and blood pressure in late adulthood. This research used correlational design with cross sectional approach. Sampling method using consecutive sampling technique, the number of samples was 40 respondents. The independent variable was the sleep characteristics and the dependent variable was the blood pressure in the late adulthood. Instruments used to collect data were the Sleep & Wake Pattern Assesment Questionnaire Pacific Sleep Program and blood pressure observation sheet. The results of the study most of the respondents aged 30-40 years, women, elementary education, married, housewives. The results of statistical tests showed there was not a relationship between the characteristic of sleep with blood pressure which p value = 0,115 (α <0,05). Sleep characteristic is not a dominant factor affecting blood pressure. Respondents should be able to fullfill the needs of sleep to keep the activity running well and blood pressure remained normal. Keywords: sleep characteristics, blood pressure, late adulthood DAFTAR PUSTAKA (2008). Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi KDM. Jakarta: Salemba Medika. Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol. 2. Jakarta: EGC Dariyo, A. (2003). Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi konsep dan Proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika (2008). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi konsep dan Proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Japardi, I. (2002) Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara. Lanny Gunawan. (2001). Hipertensi Tekanan Darah Tinggi. Jogjakarta : Kanisius Mutaqqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Dengan Pasien Gangguan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika Potter & perry. (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, proses & praktik edisi 4. Jakarta : EGC Santrock (2002). Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Wahid. (2015). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC DOWNLOAD FULL TEXT PDF >>
PENINGKATAN PENERIMAAN DIRI DAN GAMBARAN DIRI WANITA MENOPAUSE DENGAN ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY Chindy Maria Orizani
Adi Husada Nursing Journal Vol 1 No 1 (2015): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.195 KB) | DOI: 10.37036/ahnj.v1i1.4

Abstract

Menopausal phase could impact the physical, psychological, social, economic, spiritual and quality of life. Changes appear on the physical aspects could cause decreasing self-image in menopausal women, whereas the psychological changes that arise sometimes menopausal women experience a decrease in self-acceptance. The aim of this study is to prove the existence of increased acceptance and self-image menopausal women with Acceptance and Commitment Therapy. The design used is Quasy Experiment Pre-posttest with Controlled Group Design. The sample was menopausal women who are willing to become respondents as many as 40 people, divided into two groups: a control group of 20 people and 20 people treated group. Sampling technique using consecutive sampling. The independent variable for the provision of Acceptance and Commitment Therapy is divided into two sessions of four meetings (1x meeting two sessions). The dependent variable is self-acceptance and self-image menopausal women. Measuring instruments used in the form of a questionnaire. Analysis of data used computer software. The majority of respondents were married women, Muslim, Javanese, recent education junior high school and not working. The results proved statistically there was increasing acceptance between control and treatment groups (p = 0.000). Self-image measurement results proved no increase between control and treatment groups (p = 0.000). Acceptance and Commitment Therapy is highly effective for improving acceptance and self image in menopausal women. The active role of the respondents strongly supported upon the success of therapy and need the support of her husband and peers. Masa menopause dapat berdampak pada aspek fisik, psikologis, sosial, ekonomi, spiritual dan kualitas hidup seseorang. Perubahan yang muncul pada aspek fisik mengakibatkan penurunan gambaran diri wanita menopause, sedangkan perubahan psikologis yang muncul terkadang wanita menopause mengalami penurunan penerimaan diri. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan adanya peningkatan penerimaan dan gambaran diri wanita menopause dengan Acceptance and Commitment Therapy. Desain yang digunakan adalah Quasy Experiment Pre-Posttest with Controlled Grup Design. Sampel penelitian ini adalah wanita menopause yang bersedia menjadi responden sebanyak 40 orang, dibagi menjadi dua grup, yaitu 20 orang grup kontrol dan 20 orang grup perlakuan. Teknik sampling menggunakan consecutive sampling. Variabel independen berupa pemberian Acceptance and Commitment Therapy empat sesi dibagi menjadi dua pertemuan (1x pertemuan dua sesi). Variabel dependen yaitu penerimaan diri dan gambaran diri wanita menopause. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner. Analisis data menggunakan software computer. Mayoritas responden adalah wanita menikah, beragama Islam, suku Jawa, pendidikan terakhir smp dan tidak bekerja. Hasil penelitian secara statistik terbukti ada peningkatan penerimaan diri antara grup kontrol dan perlakuan (p=0,000). Hasil pengukuran gambaran diri terbukti ada peningkatan antara grup kontrol dan perlakuan (p=0,000). Acceptance and Commitment Therapy ini sangat efektif untuk meningkatkan penerimaan dan gambaran diri pada wanita menopause. Peran aktif responden sangat mendukung kesusksesan terapi dan butuh dukungan dari suami dan teman sebaya. DOWNLOAD FULL TEXT PDF >>
Self Empowerment Dan Kualitas Hidup Lansia Kota Surabaya Chindy Maria Orizani; Gea Sanimustofies
Adi Husada Nursing Journal Vol 7 No 1 (2021): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v7i1.192

Abstract

Kemampuan seseorang atau pemberdayaan diri lansia dalam memenuhi kebutuhan, memecahkan masalah, memanfaatkan sumber daya yang ada untuk kehidupannya. Self empowerment yang dialami lansia menyebabkan perubahan kualitas hidup. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan self empowerment dengan kualitas hidup lansia di Wilayah Kelurahan TKK RW 2, Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan metode korelasional. Variabel independen self empowerment dan variabel dependen kualitas hidup. Populasi penelitian ini adalah semua lansia yang berada di Wilayah Kelurahan TKK RW 2, Kota Surabaya sebanyak 34 lansia. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yaitu 34 responden. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner WHOQOL dan kuesioner self empowerment. Hasil penelitian dilakukan uji statistik menggunakan chi-square dan menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna (p= 0,000), dan memiliki hubungan yang kuat dengan nilai (r= 1,000) antara self empowerment dengan kualitas hidup lansia di Wilayah Kelurahan TKK RW 2, Kota Surabaya. Permasalahan yang timbul pada lansia antara lain ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan, tidak ada jaminan hari tua dan kurang dukungan sosial. Akibat permasalahan tersebut, lansia merasa tidak berdaya dan tidak berguna (lack of self empowerment) dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci : Self Empowerment, Kualitas Hidup, Lansia
Cyberbullying Dan Interaksi Sosial Pada Remaja Kelas XI SMA Di Surabaya Chindy Maria Orizani; Monica Ganadhi The
Adi Husada Nursing Journal Vol 6 No 1 (2020): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v6i1.163

Abstract

Teknologi, informasi, dan komunikasi yang berkembang pesat memudahkan remaja untuk berkomunikasi melalui social media bahkan untuk hal negatif seperti perundungan maya atau cyberbullying. Korban cyberbullying menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dan mengalami kesulitan dalam perkembangan psikologisnya yang berdampak pada ketidakmampuan seorang remaja dalam berinteraksi sosial dengan baik. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan cyberbullying dengan interaksi sosial pada remaja kelas XI SMA di Surabaya. Desain penelitian ini menggunakan studi korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian yaitu siswa-siswi kelas XI SMA berjumlah 142 orang, sampel yang diambil sebanyak 105 orang dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan kejadian cyberbullying rendah dengan interaksi sosial sedang sebanyak 42 responden (40%). Hasil uji Spearman Rank didapatkan tidak ada hubungan cyberbullying dengan interaksi sosial dengan nilai p=0,516 dan r=-0,064. Remaja, diharapkan memahami dampak cyberbullying dan lebih tanggap terhadap kejadian cyberbullying yang terjadi di sekitarnya. Orang tua dan sekolah dapat memberikan pendidikan tentang cara menggunakan teknologi dengan bijak. Kata kunci: perundungan maya, interaksi sosial, remaja
PENGAMBILAN KEPUTUSAN TENTANG PENATALAKSANAAN SINDROM PREMENOPAUSE PADA WANITA Chindy Maria Orizani
Adi Husada Nursing Journal Vol 2 No 1 (2016): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKes Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.878 KB)

Abstract

ABSTRAKWanita berhak memilih penanganan premenopause namun penentuan keputusan menimbulkan masalah baru. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah literature mengenai pengalaman penentuan keputusan dalam memilih penanganan gejala menopause dan peran petugas kesehatan terutama perawat untuk membantu proses penentuan keputusan. Sumber diambil dari database PubMed, ScienceDirect, dan SAGEPub. Enam kata kunci yang digunakan adalah fulltext, berbahasa Inggris, penelitian kualitatif berhubungan dengan penentuan keputusan dalam memilih penanganan gejala menopause. Total terdapat 42 artikel dari empat Negara yang berbeda dan setelah dilakukan pemilihan kriteria inklusi, empat artikel yang ditelaah. Dari empat artikel menemukan bahwa wanita mengungkapkan perasaan mereka tentang kurangnya informasi tentang menopause dan manajemen gejala menopause sehingga mereka menemukan kesulitan ketika memutuskan untuk terapi. Sebagian besar itu menunjukkan tentang kurangnya dukungan dari petugas kesehatan. Dari artikel juga menemukan mengenai faktor tentang pengambilan keputusan, dibagi menjadi empat kategori: (1) karakteristik individu (demografi, pengalaman menopause, gejala); (2) nilai-nilai, sikap, keyakinan, dan preferensi (sikap dan keyakinan tentang menopause dan perawatan, modalitas disukai, toleransi untuk risiko / efek samping); (3) fakta dan informasi tentang menopause dan manajemen gejala (jumlah, jenis, sumber, kredibilitas, ketersediaan); dan (4) konteks pelayanan kesehatan (perawatan kesehatan penyedia komunikasi, kepercayaan, ketersediaan / waktu, pengetahuan, hubungan). Sebuah model yang komprehensif pengambilan keputusan manajemen gejala menopause harus dibuat di Indonesia. Perawat sebagai penyedia layanan harus meningkatkan kemampuan komunikasi yang efektif untuk membantu perempuan dalam proses pengambilan keputusan misalnya dengan menggunakan intervensi Coacing Decision di acara bimbingan atau konsultasi.Kata kunci: penentuan keputusan wanita menopause, penetuan keputusan, peran perawatABSTRACTWomen have a right for choose the best premenopause treatment for her ownself, but decision making process sometime become new problem. Aim of this study was to review the literature regarding experience related to women’s menopausal symptoms management decision making and role of care provider especially nurse for helping client in decision making process. Reference lists collected from PubMed, ScienceDirect, and SAGEPub database. There are six keywords have been used for searching the article. Full- text, English language, qualitative study articles related to women’s menopausal symptom management decision making were reviewed. A total of 42 articles from four different countries and after considered inclusion criteria, four articles were reviewed. From four articles found that women expressed their feeling about a lack menopause information and its menopausal symptom management so they found difficulties when decided for the therapy. Most of it showed about a lack of support from care provider. From articles also found about factors about decision making, devided to four catagories: (1) individual characteristics (demographics, menopause experience, symptomatology); (2) values, attitudes, beliefs, and preferences (attitudes and beliefs about menopause and treatments, preferred modalities, tolerance for risks/side effects); (3) facts and information about menopause and symptom management (amount, type, source, credibility, availability); and (4) health care context (health care provider communication, trust, availability/time, knowledge, relationship). A comprehensive model of menopausal symptom management decision making should be made in Indonesia. Nurse as a care provider must increase an effective communication ability to help women in decision making process for example by using Decision Coacing Intervention at tutoring or consultation event. Keywords: woman’s menopause decision making, decision making, role of nurse DOWNLOAD FULL TEXT PDF >>
Regulasi Emosi Melalui Emotion Focus Therapy (EFT) Pada Lansia Penderita Hipertensi Chindy Maria Orizani; Nur Fitriya Adianti; Early Sarah Meyvanni
Adi Husada Nursing Journal Vol 8 No 2 (2022): Adi Husada Nursing Journal
Publisher : STIKES Adi Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37036/ahnj.v8i2.350

Abstract

Lansia memiliki tingkat sensitivitas emosional yang tinggi sehingga mudah tersentuh hatinya terhadap hal kecil. Lansia sulit untuk meregulasi emosinya dengan baik ketika berhadapan dengan situasi khususnya situasi kurang menyenangkan. Emosi tak terkontrol menyebabkan penderita hipertensi mengalami peningkatan denyut nadi, tekanan darah dan gangguan ritme jantung. Intervensi Emotion Focus Theraphy (EFT) perlu diberikan pada lansia penderita hipertensi untuk mengontrol emosi dan dapat menstabilkan tekanan darah. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimental dengan one group pre-post test design. Sampel pada penelitian berjumlah 30 responden. Hasil penelitian yang didapatkan sebelum diberikan intervensi Emotion Focus Theraphy (EFT) sebagian besar mengalami regulasi emosi rendah sebanyak 25 responden (83,3%) dan hipertensi tingkat 1 sebanyak 22 responden (73,3%). Setelah mendapatkan intervensi EFT terdapat peningkatan kontrol emosi didapatkan data yang mengalami regulasi emosi sedang sebanyak 23 responden (76,67%) dan pra-hipertensi sebanyak 18 responden (60%). Analisa menggunakan uji wilcoxon signed rank. Hasil uji statistik menunjukkan p value=0,000 (α≤0,05) maka dapat disimpulkan bahwa intervensi EFT berpengaruh terhadap regulasi emosi penderita hipertensi di posyandu lansia RW 13 Platuk Donomulyo Kelurahan Sidotopo Wetan Kecamatan Kenjeran Surabaya. EFT sangat efektif sebagai upaya mengelola emosi pada lansia penderita hipertensi dengan merubah kesadaran, respon, ekspresi, refleksi dan transformasi pada emosi. Peneliti merekomendasikan EFT sebagai intervensi pengaturan emosi bagi lansia penderita hipertensi.