Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Gerakan Bersih Pantai Dalam Menjaga Kelestarian Pesisir Di Desa Lero Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah Irawati Mei Widiastuti; Andi Heryanti Rukka; James Yosep Walalangi; Samliok Ndobe
Jurnal Cendekia Mengabdi Berinovasi dan Berkarya Vol 1, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jenaka.v1i3.476

Abstract

Pantai Lero kini mulai ramai dikunjungi wisatawan berkat adanya warung makan Rono Dange (makanan khas ikan teri bakar lokal), sebuah warung makan bergaya kios di sepanjang pantai. Hal ini dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan dan masalah banyaknya buangan ke laut akibat aktivitas di dekat pantai. Salah satu upaya yang diharapkan dalam menunjang kebersihan pantai adalah inisiatif seluruh lapisan masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar akan kebersihan lingkungan pesisir, juga dapat membantu masyarakat memahami bahwa sampah yang dihasilkan berdampak negatif terhadap perkembangan ekosistem, ekologi laut, dan biota. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah metode observasi dan partisipasi dengan pendekatan langsung untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat di sepanjang Pantai Lero. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini selain dapat mengembangkan pemikiran masyarakat tentang pencegahan pencemaran lingkungan pantai, juga berdampak pada kebersihan lingkungan pantai untuk meningkatkan daya tarik wisatawan ke pantai Lero. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan melibatkan 20 peserta dari kalangan masyarakat pesisir, tokoh desa dan kelompok pemuda untuk meningkatkan kesadaran tentang pariwisata. Kegiatan yang dilakukan adalah membuang sampah-sampah di sepanjang pantai Lero khususnya sampah plastik, kemudian meningkatkan kesadaran akan bahaya sampah plastik bagi lingkungan perairan. Kata kunci : pesisir, pencemaran, lingkungan
Daya Tetas Telur Ikan Mas Koi (Cyprinus rubrofuscus) dengan Perendaman Ekstrak Daun Sukun Artocarpus altilis Sulfa Ayulandari; Madinawati Madinawati; Nur Hasanah; Irawati Mei Widiastuti; Septina F. Mangitung
Jurnal Ilmiah AgriSains Vol. 24 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah AgriSains
Publisher : Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Tadulako, Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jiagrisains.v24i2.2023.58-67

Abstract

Pemanfaatan bahan herbal seperti ekstrak daun sukun menjadi alternatifuntuk meningkatkan keberhasilan penetasan. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh perendaman ekstrak daun sukun Artocarpus altilisterhadap daya tetas telur ikan mas koi (Cyprinus rubrofuscus). Desainpenelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuandan 5 ulangan sehingga menghasilkan 20 unit percobaan. Perlakuan yangdiujikan yaitu perendaman telur dalam ekstrak daun sukun dengan dosisperlakuan A= 0 g/L, B= 2 g/L, C= 4 g/L, dan D= 6 g/L. Data Daya tetasdianalisis menggunakan analisis ragam ANOVA dengan bantuan Minitab 16.Jika terdapat perbedaan perlakuan maka dilanjutkan dengan uji beda nyatajujur (BNJ). Data uji penapisan fitokimia, kelangsungan hidup, dan kualitasair dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan dosis palingefektif yaitu perlakuan B (2 g/L) dapat mengobati telur yang terinfeksisehingga menghasilkan daya tetas telur sebesar 83,2%. Penggunaanekstrak daun sukun berpengaruh nyata terhadap daya tetas telur ikan maskoi yang terserang jamur. Berdasarkan pemeliharaan larva ikan mas koiselama 14 hari menghasilkan kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan B(2 g/L) yaitu sebesar 94,5%.
Analysis of White Feces Disease (WFD) caused by Vibrio sp. Bacteria and Dinoflagellata in Vannamei Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Brackishwater Culture Pond Moh. Awaludin Adam; Irawati Mei Widiastuti; Ernawati Ernawati; Achmad Yani Yayan; Era Insivitawati; Yuliana Yuliana; Rini Fitriasari Pakaya; Agoes Soegianto; Ach. Khumaidi
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 14 No. 1 (2022): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v14i1.26684

Abstract

Highlight ResearchIndicated that white feces at Vanammei appeared along with the appearance of the disease besides its main trigger that is Vibrio sp.Increase the availability of carbon for photosynthesis process of phytoplankton.Clinical symptom of shrimp attacked by white feces disease is indicated by a change in intestine.AbstractShrimp disease that currently causes economic loss to shrimp farmers is White Feces Disease (WFD). This disease appeared due to several factors, such as poor pond management, unhealthy shrimp seed, and poor water quality which resulted in the appearance of Vibrio sp. bacteria and Dinoflagellate. This study aimed to analyze the cause of WFD outbreak in vannamei shrimp pond. The study method through direct experiment was applied in shrimp pond. Sampling was performed three times in each feeding tray to collect ten shrimps. Overall, sampling was performed twice a week. The Sample Survey Method was used to collect sample in this study. Result of study showed that clinical symptom was observed through changes in pattern and behavior of vannamei shrimp during culture. However, this observation resulted in insignificant data. Vannamei shrimp infected WFD tended to swim slower and often rose to the surface with body color turned red. Moreover, total organic matter (TOM) increased on week-7 along with the increasing growth of plankton, particularly from the Dinoflagellate group. However, bacterial growth of Vibrio sp. on week-7 was insignificant, yet many shrimps were found dead with white feces during that period. The result of analysis indicated that white feces disease was caused by Dinoflagellate besides the main trigger, namely, Vibrio sp.
Exploring the Anti-Menopausal Potential of Rhizophora mucronata Lam. Ethanol Extract: A Comprehensive Study on Estrogen Receptor β Agonist Activity Ernawati, Ernawati; Adam, Moh. Awaludin; Widiastuti, Irawati Mei; Insivitawati, Era; Nikmatullah, Muhammad; Riyadi, Putut Har; Azra, Mohamad Nor
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 29, No 3 (2024): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ik.ijms.29.3.414-424

Abstract

Mangrove is a tropical forest that stores millions of benefits ecologically, biologically, and economically. Rhizophora fruit extract contained bioactive compounds components derived from natural ingredients and scientifically proven to have positive effects on health, among others, to prevent cancer, etc. This study aimed to investigate the potential of R. mucronata ethanol extract as an estrogen receptor β agonist for anti-menopausal purposes. Using a Completely Randomized Design (CRD), 25 mice were divided into five groups: a normal control group (NK), an ovariectomy control group (Ovx), and three ovariectomized groups (Ovx D1, D2, and D3) receiving different doses of the extract (200, 400, and 800 mg.kg-1 BW, respectively). The extract was administered orally, and various measurements were taken, including flavonoid content, using densitometry thin layer chromatography (TLC) and FTIR for functional group characterization. The study found a high rutin content (13.29%) in the fruit. Twelve compounds with potential estrogenic activity were identified, which were analyzed using SwissAdme software. Estradiol levels in serum increased with higher doses of the extract over four weeks. In silico and in vivo analysis showed 5 (five) selected compounds from the ethanol and ethyl acetate fractions with highest (most negative) to lowest binding affinity as candidates for anti-menopausal drugs. The administration of R. mucronata Lam. fruit extract in Ovx D1, Ovx D2 and Ovx D3 gave significantly different effects to each other on rat blood serum estradiol hormone levels. In this study, the dose 400 mg.L-1 BW rat gave P>5 increasing blood serum estradiol levels of ovariectomized rats.
INTERACTION OF STOCKING DENSITY AND DIFFERENT PLANT TYPES IN CULTIVATING SANGKURIANG CATFISH (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) AQUAPONIC TECHNOLOGY Dg. Masese, Risa Apriana A.; Ndobe, Samliok; Widiastuti, Irawati Mei
AQUASAINS Vol 12, No 2 (2024): March 2024
Publisher : Jurusan Perikanan dan Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aqs.v12i2.p1451-1461

Abstract

This study investigated the impact of varying stocking densities and plant species interactions within an aquaponic framework. Conducted over a 45-day period (August-October 2023) at the Experimental Farm of Tadulako University, Palu, Central Sulawesi, the research utilized juvenile Sangkuriang catfish (Clarias gariepinus var. Sangkuriang) as the focal organism. Employing a factorial design, with stocking densities 12, 20, and 28 fish per 40 liters of water and three distinct plant species (Ipomoea aquatica, Brassica rapa subsp. chinensis, and Lactuca sativa), the study aimed to elucidate optimal growth conditions. Key findings revealed that the stocking density of 12 fish per 40 liters of water, coupled with pakchoi plants, yielded the most significant growth enhancements. Specifically, this configuration demonstrated a specific growth rate of 6.66±0.7% and absolute weight growth of 14.06±1.0, along with a specific length growth rate of 2.10±0.6% and absolute length growth of 4.48±0.6%. Notably, water quality parameters remained within acceptable limits across all treatments, ensuring an environment conducive to catfish growth. In conclusion, this research underscores the critical role of stocking density and plant selection in optimizing aquaponic systems. The findings offer valuable insights into enhancing both fish and plant growth dynamics within integrated aquaponic frameworks. Keywords: Catfish farming, aquaponics, growth rate, survival rate.
Dimsum Ikan Sebagai Alternatif Peluang Usaha Peningkatan Gizi Keluarga Widiastuti, Irawati Mei; Rukka, Andi Heryanti; Ndobe, Samliok; Rizal, Achmad; Hermawan, Roni
Jurnal Cendekia Mengabdi Berinovasi dan Berkarya Vol 3 No 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/jenaka.v3i1.740

Abstract

This community service activity aims to increase fish consumption as a source of quality protein by making fish-based dimsum. This activity was carried out in Tondo Village, Mantikulore District, Palu City, Central Sulawesi in 2024 involving 30 participants from various backgrounds, including housewives and teenagers. The methods used include counseling regarding nutritional needs, demonstrations of making fish dim sum, and direct practice by participants. The results of the activity showed an increase in participants' knowledge and skills in processing fish, as well as good acceptance of fish dimsum products in terms of taste and nutrition. Apart from meeting the family's nutritional needs, this activity opens up opportunities for fish-based small businesses. It is hoped that this activity can contribute to increasing fish consumption and sustainable community welfare.
STATUS TROPIK DAN ISI LAMBUNG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DARI WADUK WONOREJO, TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR Arfiati, Diana; Puspitasari, Asthervina Widyastami; Renitasari, Diana Putri; Widiastuti, Irawati Mei
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 3 No. 2 (2019): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.02.6

Abstract

Plankton merupakan salah satu jenis pakan alami yang berperan penting untuk pertumbuhan organisme akuatik terutama ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis plankton beserta kelimpahannya di perairan dan di lambung ikan nila yang tertangkap di Waduk Wonorejo, beserta aktivitas enzimatis lambung ikan nila tersebut. Penelitian ini bertempat di Waduk Wonorejo, Tulungagung, Jawa Timur dengan metode survei. Sampel diambil dari 2 stasiun, yaitu stasiun pertama di daerah wisata Waduk Wonorejo, sedangkan stasiun 2 berada di wilayah pemancingan umum Waduk Wonorejo. Plankton di perairan Waduk Wonorejo ditemukan 17 genus fitoplankton, dan 5 genus zooplankton, sedangkan di lambung ikan nila ditemukan 30 genus fitoplankton dan 2 genus zooplankton. Genus Spirogyra sp. merupakan genus yang paling tinggi kehadirannya baik di lambung maupun perairan Waduk Wonorejo. Kelimpahan plankton di perairan waduk dapat digolongkan oligotrofik dengan nilai kelimpahan plankton sebesar 1487 ind/ml di stasiun 1 dengan keanekaragaman tinggi dan 746 ind/ml di stasiun 2 dengan keanekaragaman sedang, serta tidak ada jenis plankton tertentu yang mendominasi di kedua stasiun tersebut. Analisis aktivitas enzim lambung ikan nila menunjukkan aktivitas enzim protease sebesar 0,84 ± 0,02 µmol tirosin/g enzim menit; enzim amilase 14,59 ± 1,07 µmol glukosa/g enzim menit; enzim lipase 17,83 ± 0,14 µmol asam lemak/g enzim menit. Kualitas air di Waduk Wonorejo tergolong baik dengan suhu berkisar 26,3-27,3 oC, pH 7, DO 7,1-8,4 mg/L, Kecerahan 110-154 cm, TOM 19-30,3 mg/L. Maka dari itu upaya untuk mempertahankan kondisi Waduk Wonorejo agar tetap oligotrofik perlu dilakukan.
Sosialisasi Alat Tangkap Ramah Lingkungan Di Desa Tambu Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah Rukka, Andi Heryanti; Rizal, Achmad; Widiastuti, Irawati Mei; Masyahoro, A.
TOLIS MENGABDI : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Universitas Madako Tolitoli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56630/tm.v1i2.482

Abstract

Praktik penangkapan ikan  yang merusak seringkali disebabkan oleh banyaknya permintaan jenis ikan tertentu dipasaran, khususnya ikan hidup. Konsumen dan pasar memiliki kekuasaan yang besar untuk mengendalikan harga ikan hidup, meskipun informasi yang ada masih kurang dan  kesadaran konsumen mengenai cara menangkap ikan di pasar masih rendah. Selain itu, penderitaan masyarakat nelayan yang masih kurang sejahtera membuat mereka  mencari jalan untuk memperoleh banyak uang  dengan mudah dan singkat. Teknik penangkapan ikan destruktif, nelayan dapat mencapai hasil yang signifikan dalam waktu  singkat. Kurangnya pemahaman terhadap siklus hidup ikan dan ekosistem yang mendukungnya (tempat mereka hidup dan berkembang biak) serta kurangnya penegakan hukum terhadap penangkapan ikan yang merusak membuat nelayan sulit memperbaiki kondisi perikanan (khususnya perikanan karang). Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian  masyarakat ini adalah  observasi dan partisipasi dengan  pendekatan langsung penyadaran dan partisipasi masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya dapat mengembangkan  pemikiran masyarakat mengenai penggunaan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan, namun juga memberikan kondisi bagi para nelayan dalam melakukan penangkapan ikan. Kegiatan ini  dilaksanakan dengan melibatkan 30  peserta yang merupakan anggota masyarakat pesisir, nelayan dan keluarganya.Kata kunci : Alat tangkap, ikan,  lingkungan
Penggunaan madu sebagai bahan seks reversal alami untuk ikan cupang Betta splendens (Teleostei: Osphronemidae) melalui perendaman embrio Herjayanto, Muh.; Madinawati, Madinawati; Widiastuti, Irawati Mei
Jurnal Intek Akuakultur Vol. 7 No. 1 (2023): Intek Akuakultur
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan (maskulinisasi). Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu (mL L-1) 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks.Individu jantan Betta splendens memiliki warna dan bentuk yang digemari di pasar ikan hias dibandingkan betina. Karena itu budidaya cupang dapat dilakukan melalui produksi jantan menggunakan teknologi seks reversal dalam mengarahkan perkembangan kelamin ikan menjadi jantan (maskulinisasi). Bahan alami yang telah digunakan untuk maskulinisasi ikan adalah madu. Karena itu tujuan penelitian adalah mengkaji penggunaan madu melalui perendaman embrio untuk maskulinisasi ikan cupang. Keberhasilan maskulinisasi dianalisis melalui karakteristik madu, persentase ikan jantan, tingkat penetasan telur, mortalitas tiap 15 hari, dan sintasan pada akhir pemeliharaan. Embrio yang digunakan berumur 20 jam setelah pembuahan. Perlakuan penelitian adalah perendaman embrio cupang di dalam larutan madu (mL L-1) 5, 10, 15, 20, dan 25. Perendaman dilakukan selama 7 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang digunakan memiliki kalium 0,31% dan pH 4. Pada penelitian ini pemberian madu tidak berpengaruh terhadap jumlah cupang jantan. Pemberian madu 25 mL L-1 air menghasilkan 56,98±4,58% jantan, tingkat penetasan telur 99,17±1,67%, dan sintasan umur 90 hari setelah menetas 79,89±4,50%. Mortalitas terjadi pada awal pemeliharaan larva. Setelah umur 60 hari setelah menetas tidak terjadi kematian pada cupang. Nilai tingkat penetasan telur dan sintasan yang tinggi menunjukkan bahwa madu adalah bahan alami yang aman digunakan untuk maskulinisasi ikan dalam budidaya monoseks.
Concentration and Distribution of Oligochaeta Worms in the Waters of Kejapanan, Pasuruan, Indonesia Polluted by Mercury Waste using DNA Barcode Irawati Mei Widiastuti; Moh. Awaludin Adam; Ernawati
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 17 No. 1 (2025): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.vi.56641

Abstract

Graphical Abstract Higlight Research Based on AAS test, results showed that the St2 sample has the highest concentration of mercury compared to other locations. St2 samples are samples taken right at the pollutant source. The results showed that the samples consist of the Nadidae family with two species, namely Limnodrilus hoffmeisteri and Branchiura sowerbyi. The COI gene that was successfully amplified had a length of approximately 700 bp using a 3000 bp DNA ladder as a comparison. Based on the results of the SEM-EDX test, the worm samples contained several elements. The majority of them are organic except Al, Si, and Ti. Aluminium (Al), Silicon (Si), and Titanium (Ti) are metals that are used by organisms.     Abstract Physiological monitoring of mercury waste contamination can be carried out using the biota around the waters. This study aims to identify concentration of Hg and the types of worms in the waters of Kejapanan, Pasuruan, East Java with a molecular approach. Target gene amplification was carried out using the mitochondrial genome COI barcode primer. Analysis of molecular identification was performed with DNA analysis and phylogenetic, similarity, DNA sequence variation, genetic distance, and the BOLD System. The concentration Hg was analyzed using AAS and the distribution of mercury in the worms was analyzed using SEM Edax Mapping. The results showed that the pollutant source area (St2 sample) has the highest concentration of mercury compared to other locations. The results of molecular identification indicate the formation of two clusters. The amplified samples produced DNA bands according to the target (600-700 bp), and the process was continued with morphological-based-key identification. The results showed that they consist of the family Nadidae with two species, namely Limnodrilus hoffmeisteri and Branchiura sowerbyi. A DNA length of 709 bp as well as nucleotide composition. BLAST results showed that species L. hoffmeisteri and B. sowerbyi had similarity indexes of 99% and 86%, respectively. Based on the research results, it was found that there was an accumulation of mercury exposure in worms in polluted areas. For this reason, the results of this study can provide a novelty that worms can be used as biomonitoring of water pollution using the barcode data.