Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK) DAMPAK PELAKSANAAN REMOTE AUDIT PADA AUDITOR PT. XXX DI MASA PANDEMIK Setiawati, Lyza Yuni; Djunaidi, Zulkifli
Jurnal Cahaya Mandalika ISSN 2721-4796 (online) Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Institut Penelitian Dan Pengambangan Mandalika Indonesia (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jcm.v3i2.1960

Abstract

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) “Penyakit akibat kerja diartikan sebagai gangguan kesehatan yang muncul akibat faktor risiko pada lingkungan pekerjaan”. Sedangkan menurut Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2019 Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan/atau lingkungan kerja yang kemudian dijelaskan jenis PAK ada yang disebabkan oleh faktor fisika salah satunya kerusakan pendengaran diakibatkan oleh kebisingan. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan hubungan aktivitas remote audit pada masa pandemik dengan gangguan terhadap telinga akibat bising (Noise Induced Hearing Loss /NIHL) akibat penggunaan headset/ headphone/ earphone. Nilai ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di tempat kerja menetapkan Nilai Ambang Batas kebisingan adalah 85 dB dengan waktu pekerjaan tidak melebihi 8 jam sehari/40 jam seminggu (peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi no PER/13/MEN/X/2011). Kesimpulannya kegiatan remote audit menggunakan headset/ headphone/ earphone tidak akan menimbulkan gangguan telinga akibat bising jika dapat dibatasi lamanya penggunaan headset/ headphone/ earphone.
Perilaku Berisiko Sebagai Faktor Penyebab Kecelakaan Pada Pengemudi Sepeda Motor Komersial: Systematic Review Afif Mauludi, Ahmad; Djunaidi, Zulkifli; Saiful Arif, Luthfi
Jurnal Keselamatan Transportasi Jalan (Indonesian Journal of Road Safety) Vol. 8 No. 1 (2021): JURNAL KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN (INDONESIAN JOURNAL OF ROAD SAFETY)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46447/ktj.v8i1.307

Abstract

Transportasi menjadi hal yang penting dalam mobilitas di zaman modern dan jasa sepeda motor komersial menjadi pilihan utama pengguna jalan di Indonesia. Terlepas dari banyaknya keuntungan tersebut pengemudi sepeda motor komersial memiliki ancaman keselamatan dengan tingginya angka kecelakaan sepeda motor. Kecelakaan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh perilaku berisiko yang dilakukan oleh pengemudi itu sendiri. Penelitian merupakan sebuah tinjauan pustaka sistematis, yang bertujuan untuk mengkaji bentuk perilaku berisiko saat berkendara, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana kontribusinya dalam kejadian kecelakaan lalu lintas pada pengemudi sepeda motor komersial dari berbagai penelitian. Berdasarkan hasil systematic review, perilaku berisiko pengemudi sepeda motor komersial signifikan berhubungan dengan kejadian kecelakaan memiliki bentuk, berkendara dalam pengaruh alkohol, merokok saat mengemudi, penggunaan lampu kendaraan yang tidak sesuai, penggunaan handphone saat mengemudi, jumlah penumpang yang melebihi kapasitas, pelanggaran marka jalan, menyalip secara berbahaya, penggunaan lampu indikator yang tidak sesuai, pelanggaran kecepatan, pelanggaran rambu dan sinyal lalu lintas. Perilaku berisiko saat mengemudi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya persepsi keselamatan dan risiko berkendara, kondisi jalan, tuntutan ekonomi, kebiasaan merokok, umur, tingkat pendidikan, pengalaman kecelakaan, pelatihan dan pengalaman mengemudi. Untuk mengurangi tingkat kecelakaan pada pengemudi sepeda motor komersial, diperlukan penyediaan fasilitas peningkatan edukasi dan pelatihan keselamatan oleh pihak penyedia aplikasi atau pemerintah.
Factors Affecting Safety Action in JOB Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi Harjanto, Meddy; Djunaidi, Zulkifli
National Journal of Occupational Health and Safety Vol. 1, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increasing oil and gas production is one of the main concerns for companies engaged in oil and gas mining Human behavior related to safety is an approach to analyze what is needed to make the safe action more possible and reduce risky behavior. Therefore, research is conducted on the factors that influence safe behavior so that these factors can be more optimized. This research is a quantitative study with a cross-sectional design. The population in this study amounted to 291 people. Data retrieval is done randomly with a sample of 130 respondents conducted using the simple random sampling method. Bivariate analysis was carried out by the chi-square test. Based on the results of the study, it was found that 63.8% of workers behaved safely, and 36.2% of workers behaved unsafely. Factors that do not affect safe behavior are knowledge, attitude, perception, motivation, age, length of work, availability of PPE, safety regulations, safety promotion, and training. Whereas, the factors that are proven to influence safe behavior are the supervisory role and the role of co-workers. Therefore, the researcher suggested that supervisors play an active role and be monitored regularly and consistently. In addition, care for co-worker needs to be improved through the Safety Observation program.
Analisis Keterkaitan Fatality Akibat Longsoran Pertambangan Batubara dengan Safety Maturity Level demi Peningkatan Kinerja Keselamatan Indrafahrudi, Dio Wiratama; Djunaidi, Zulkifli
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 01 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v15i01.4152

Abstract

Kecelakaan fatal sering kali menjadi indikator puncak dari kegagalan sistemik yang lebih dalam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kematangan keselamatan (Safety Maturity Level - SML) suatu organisasi dengan terjadinya kecelakaan fatal melalui studi kasus kualitatif pada insiden longsor di Tambang PT X akhir 2018. Dengan mengadaptasi metode Design Failure Mode and Effects Analysis (DFMEA) untuk mengidentifikasi akar penyebab secara sistematis, penelitian ini memetakan temuan-temuan tersebut ke dalam kerangka teori SML oleh Hudson. Hasil analisis menunjukkan bahwa akar penyebab utama kecelakaan terletak pada kegagalan sistemik dalam perencanaan tambang, manajemen risiko, dan koordinasi antar perusahaan. Bukti-bukti ini secara kualitatif menempatkan SML organisasi pada tingkat reaktif. Diskusi lebih lanjut mengaitkan temuan ini dengan metode pengukuran formal oleh Kepdirjen Minerba No. 10.K/30/DJB/2023, yang menyoroti potensi diskoneksi antara skor kepatuhan formal dengan realitas budaya di lapangan. Studi ini menyimpulkan bahwa SML yang rendah berkorelasi langsung dengan terjadinya kecelakaan katastropik dan menyarankan penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara model penilaian SML dengan kinerja lagging indicator di sektor pertambangan Indonesia. Perusahaan harus belajar dari perbaikan leading seperti yang ditemukan dalam hasil analisis investigasi, agar level reaktif bisa menjadi genaratif (compliance). Sehingga, organisasi akan menjadikan hal tersebut adalah sebuah sistem yang memiliki keberlanjutan yang baik dan kecelakaan serupa tidak terjadi kembali.
Implementasi Penggunaan Driving Monitoring System (DMS) Sebagai Kendali Bahaya Dari Aktivitas Pengoperasian Unit Pengangkutan Batubara PT. Berau Coal: Implementation of the Use of Driving Monitoring System (DMS) as a Hazard Control from the Operational Activities of the Coal Transportation Unit of PT. Berau Coal Sepriyanto; Zulkifli Djunaidi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 6 (2022): June 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.723 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v5i6.2524

Abstract

Latar Belakang: Implementasi teknologi pada kegiatan operasional perusahaan adalah sebuah keniscayaan, jika perusahaan ingin tetap exist dan bergerak maju seiring dengan kebutuhan zaman. Termasuk dalam kegiatan operasional penambangan batubara yang ada di PT Beraucoal, saat ini berusaha untuk mengimplementasikan teknologi sebagai tools untuk kendali bahaya yang muncul. Salah satunya adalah penggunaan DMS (Driving Monitoring System) yang bertujuan untuk melakukan pengawasan langsung terhadap prilaku pengopersian unit/kendaraan (aktifitas operator di dalam kabin dan kondisi di luar kabin) untuk mencegah kecelakaan yang disebabkan oleh un safe act dari operator saat mengoperasikan unit. Dalam tahap awal, implementasi DMS diterapkan batu hanya pada kegiatan hauling coal, karena selain tingkat incident pada kegiatan pengoperasian unit di lokasi ini cukup tinggi, lokasi ini juga dari segi infrastruktur lebih menudukung, yaitu berupa keberadaan jaringan cellular sebagai salah satu elemn untuk dapat menjalankan DMS secara ideal dan maksimal. Fokus kendali DMS pada tiga Tindakan Tidak Aman yang diketahui sebagai penyebab terbesar kecelakaan pada kegiatan pengoperasian unit di jalan hauling, yaitu: 1. Prilaku berkendara operator (distraction, smoking, phoning, coalision), 2. Fatigue (yawning, head down, closed eyes), 3. Kecepatan Berkendara. Adapun subyek penelitian adalah perusahaan pertambangan yang merupakan mitra kerja PT. Berau Coal, yaitu: PT. PAMA, PT. BUMA, PT. MADHANI, PT. RICOBANA dan PT. MTL. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi penggunaan driving monitoring system (dms) sebagai kendali bahaya dari aktivitas pengoperasian unit pengangkutan batubara PT. Berau Coal Metode: Penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan pendekatan yang disebut dengan analisis data sekunder. Hasil: Dari data yang dikumpulkan, didapat bahwa implementasi DMS telah memberikan dampak terhadap penurunan jumlah incident pada aktifitas pengoperasian unit di jalan hauling, dengan total penurunan incident rata-rata dalam dua tahun setelah implementasi DMS yaitu sebesar 77%dari total rata-rata incident pada kegiatan pengoperasian unit di jalan jauling selama dua tahun sebelum implementasi DMS. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya implementasi teknologi dalam kegiatan operasional pertambangan di PT. Berau Coal terus dilakukan. Salah satu yang dijalankan saat ini adalah implementasi Driving Monitoring System (DMS), yang berfungsi untuk mengcapture atau menangkap Tindakan Tidak Aman yang dilakukan oleh operator saat mengoperasikan unit
Analisis Pengaruh Faktor Individu dan Faktor Organisasi pada Persepsi Risiko Keselamatan Pekerja Unit Precast PT X Tahun 2025 Elfariyani, Annisa; Djunaidi, Zulkifli
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i3.64058

Abstract

Konstruksi berbasis precast memiliki karakteristik risiko keselamatan yang spesifik akibat kompleksitas aktivitas kerja dengan tingkat risiko keselamatan yang tinggi. Namun, kajian keselamatan kerja pada sektor precast masih relatif terbatas dibandingkan konstruksi secara umum. Dalam konteks tersebut, persepsi risiko keselamatan pekerja menjadi aspek penting karena berpengaruh terhadap kewaspadaan, pengambilan keputusan, dan perilaku keselamatan di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor individu dan faktor organisasi terhadap persepsi risiko keselamatan pekerja unit precast PT X. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan kuisioner kepada 281 pekerja di lima plant precast PT X. Faktor individu meliputi usia, pendidikan terakhir, pengalaman kerja, dan bagian pekerjaan, sedangkan faktor organisasi meliputi iklim keselamatan, beban kerja, dan pengalaman kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunukan bahwa 58,4% pekerja memiliki persepsi risiko keselamatan yang baik, sementara 41,6% berada pada kategori buruk. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa faktor individu dan organisasi berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko keselamatan. Dari faktor individu, bagian pekerjaan (p=0,000; OR=0,012) dan Pendidikan terakhir (p=0,045; OR=1,458) berpengaruh signifikan. Dari faktor organisasi, beban kerja (p=0,000; OR=5,118), iklim keselamatan (p=0,000; OR=3,211), dan pengalaman kecelakaan kerja (p=0,041; OR=0,056) juga menunjukan pengaruh signifikan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan program pelatihan K3 yang bersifat mendalam dan kontekstual, perbaikan iklim keselamatan melalui kepemimpinan transformatif, pengaturan beban kerja yang optimal, serta pengembangan sistem pelaporan kecelakaan yang transparan sebagai bentuk pembelajaran dalam meningkatkan persepsi risiko dan budaya keselamatan kerja di industri precast.
Hazard identification, risk assessment, and determining control (HIRADC) pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah Melati, Vita Mardhiyanti; Djunaidi, Zulkifli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2868

Abstract

Background: Underground declines are the primary access point for the movement of heavy equipment, personnel, and utilities, and pose operational complexity and high safety risks due to interactions between activities in the underground environment. The high potential for hazards in maintenance activities involving vehicle traffic, ventilation systems, and drainage management requires the implementation of a systematic prevention strategy using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) method. Purpose: To apply HIRADC to underground decline maintenance activities in underground mines, thereby identifying hazards, assessing risks, and determining controls for safe work. Method: This study used a qualitative descriptive approach through observations and interviews of underground decline maintenance activities with one supervisor, one underground manager, and one geotechnical personnel from December 2025 to February 2026. The study covered the HIRADC stages, from consultation and communication, risk context determination, hazard identification and risk assessment, risk control, to monitoring and review. Primary data was obtained from observations of underground technical activities and secondary data from internal company documents. The analysis was conducted using a risk matrix based on the multiplication of likelihood and consequence in accordance with ISO 31000:2018 principles and an occupational safety risk assessment approach. Results: The application of HIRADC to underground decline maintenance activities identified seven primary hazards: working at height, rock support failure, waterlogging, electrical energy, fire, hazardous atmospheres, and interactions between heavy equipment, light vehicles, and workers. The risk assessment results using a 5x5 matrix showed all risk levels were in the moderate category after the implementation of existing controls, indicating that the combination of engineering, administrative, and PPE controls reduced the risk to an acceptable level. Conclusion: All hazards in underground decline maintenance activities were at a moderate risk level, indicating that existing controls were able to maintain risk within acceptable limits and support safe and controlled work execution.   Keywords: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Underground Decline Maintenance; Underground Mining.   Pendahuluan: Underground decline merupakan akses utama bagi pergerakan alat berat, personel, dan utilitas yang memiliki kompleksitas operasional serta risiko keselamatan tinggi akibat interaksi antar aktivitas di lingkungan bawah tanah. Tingginya potensi bahaya pada kegiatan maintenance yang melibatkan lalu lintas kendaraan, sistem ventilasi, dan pengelolaan drainase menuntut penerapan strategi pencegahan sistematis melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control (HIRADC). Tujuan: Untuk menerapkan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah, sehingga dapat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan pengendalian agar pekerjaan dapat dilakukan secara aman. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi dan wawancara pada kegiatan maintenance underground decline dengan subjek satu pengawas, satu manajer underground, dan satu personel geotechnical selama periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Penelitian mencakup tahapan HIRADC mulai dari konsultasi dan komunikasi, penentuan konteks risiko, identifikasi bahaya dan penilaian risiko, pengendalian risiko, hingga pemantauan dan peninjauan, dengan data primer dari pengamatan aktivitas teknis underground dan data sekunder dari dokumen internal perusahaan. Analisis dilakukan menggunakan matriks risiko berdasarkan perkalian likelihood dan consequence sesuai prinsip ISO 31000:2018 dan pendekatan penilaian risiko keselamatan kerja. Hasil: Penerapan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline mengidentifikasi tujuh sumber bahaya utama yaitu bekerja di ketinggian, kegagalan penyanggaan batuan, genangan air, energi listrik, kebakaran, atmosfer berbahaya, serta interaksi alat berat, kendaraan ringan, dan pekerja. Hasil penilaian risiko menggunakan matriks 5×5 menunjukkan seluruh tingkat risiko berada pada kategori sedang (moderate) setelah penerapan pengendalian yang ada, yang mengindikasikan bahwa kombinasi pengendalian rekayasa teknik, administratif, dan APD mampu menurunkan risiko hingga batas yang dapat diterima. Simpulan: Seluruh sumber bahaya pada kegiatan maintenance underground decline berada pada tingkat risiko sedang (moderate) yang menunjukkan bahwa pengendalian yang ada mampu menjaga risiko dalam batas yang dapat diterima serta mendukung pelaksanaan pekerjaan secara aman dan terkendali.   Kata Kunci: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Maintenance Underground Decline; Tambang Bawah Tanah.
Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Iklim Keselamatan yang Efektif: Sebuah Tinjauan Sistematis Model Konseptual Louis Sonna Martuah Purba; Zulkifli Djunaidi
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5852

Abstract

Cedera kerja masih menimbulkan beban besar bagi pekerja dan perusahaan di banyak negara. Di antara faktor yang membentuk iklim keselamatan, gaya kepemimpinan kian menarik perhatian peneliti. Kepemimpinan transformasional dinilai paling relevan, tetapi bagaimana keempat dimensinya membangun iklim keselamatan, dan apa saja jembatan di antaranya, masih tersebar di banyak studi tanpa kerangka pemersatu. Tinjauan ini merangkum bukti empiris maupun konseptual tentang hubungan kepemimpinan transformasional dengan iklim keselamatan, mengenali variabel mediasi dan moderasi yang dominan, lalu menawarkan model konseptual yang utuh. Analisis dilakukan melalui sintesis tematik, pemetaan konseptual, dan analisis komparatif. Empat dimensi transformasional tidak memberi pengaruh setara. Inspirational motivation dan idealized influence menunjukkan asosiasi paling kuat dan paling sering berulang, sedangkan individualized consideration dan intellectual stimulation cenderung selektif tergantung konteks. Tiga mediator berulang muncul: komunikasi keselamatan, kepercayaan, dan motivasi keselamatan. Adapun budaya organisasi, beban kerja, dan tekanan produksi berperan memoderasi hubungan. Pada industri dengan tekanan produksi tinggi, pengaruh kepemimpinan terlihat melemah. Kepemimpinan transformasional ikut membentuk iklim keselamatan, tetapi besar pengaruhnya bergantung pada konteks. Model konseptual yang diajukan membuka jalan bagi pengujian empiris lanjutan sekaligus menjadi acuan rancangan intervensi K3 berbasis kepemimpinan, khususnya di sektor berisiko tinggi di Indonesia.