Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Hazard identification, risk assessment, and determining control (HIRADC) pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah Melati, Vita Mardhiyanti; Djunaidi, Zulkifli
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2868

Abstract

Background: Underground declines are the primary access point for the movement of heavy equipment, personnel, and utilities, and pose operational complexity and high safety risks due to interactions between activities in the underground environment. The high potential for hazards in maintenance activities involving vehicle traffic, ventilation systems, and drainage management requires the implementation of a systematic prevention strategy using the Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC) method. Purpose: To apply HIRADC to underground decline maintenance activities in underground mines, thereby identifying hazards, assessing risks, and determining controls for safe work. Method: This study used a qualitative descriptive approach through observations and interviews of underground decline maintenance activities with one supervisor, one underground manager, and one geotechnical personnel from December 2025 to February 2026. The study covered the HIRADC stages, from consultation and communication, risk context determination, hazard identification and risk assessment, risk control, to monitoring and review. Primary data was obtained from observations of underground technical activities and secondary data from internal company documents. The analysis was conducted using a risk matrix based on the multiplication of likelihood and consequence in accordance with ISO 31000:2018 principles and an occupational safety risk assessment approach. Results: The application of HIRADC to underground decline maintenance activities identified seven primary hazards: working at height, rock support failure, waterlogging, electrical energy, fire, hazardous atmospheres, and interactions between heavy equipment, light vehicles, and workers. The risk assessment results using a 5x5 matrix showed all risk levels were in the moderate category after the implementation of existing controls, indicating that the combination of engineering, administrative, and PPE controls reduced the risk to an acceptable level. Conclusion: All hazards in underground decline maintenance activities were at a moderate risk level, indicating that existing controls were able to maintain risk within acceptable limits and support safe and controlled work execution.   Keywords: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Underground Decline Maintenance; Underground Mining.   Pendahuluan: Underground decline merupakan akses utama bagi pergerakan alat berat, personel, dan utilitas yang memiliki kompleksitas operasional serta risiko keselamatan tinggi akibat interaksi antar aktivitas di lingkungan bawah tanah. Tingginya potensi bahaya pada kegiatan maintenance yang melibatkan lalu lintas kendaraan, sistem ventilasi, dan pengelolaan drainase menuntut penerapan strategi pencegahan sistematis melalui metode Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control (HIRADC). Tujuan: Untuk menerapkan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline di tambang bawah tanah, sehingga dapat mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan menentukan pengendalian agar pekerjaan dapat dilakukan secara aman. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi dan wawancara pada kegiatan maintenance underground decline dengan subjek satu pengawas, satu manajer underground, dan satu personel geotechnical selama periode Desember 2025 hingga Februari 2026. Penelitian mencakup tahapan HIRADC mulai dari konsultasi dan komunikasi, penentuan konteks risiko, identifikasi bahaya dan penilaian risiko, pengendalian risiko, hingga pemantauan dan peninjauan, dengan data primer dari pengamatan aktivitas teknis underground dan data sekunder dari dokumen internal perusahaan. Analisis dilakukan menggunakan matriks risiko berdasarkan perkalian likelihood dan consequence sesuai prinsip ISO 31000:2018 dan pendekatan penilaian risiko keselamatan kerja. Hasil: Penerapan HIRADC pada kegiatan maintenance underground decline mengidentifikasi tujuh sumber bahaya utama yaitu bekerja di ketinggian, kegagalan penyanggaan batuan, genangan air, energi listrik, kebakaran, atmosfer berbahaya, serta interaksi alat berat, kendaraan ringan, dan pekerja. Hasil penilaian risiko menggunakan matriks 5×5 menunjukkan seluruh tingkat risiko berada pada kategori sedang (moderate) setelah penerapan pengendalian yang ada, yang mengindikasikan bahwa kombinasi pengendalian rekayasa teknik, administratif, dan APD mampu menurunkan risiko hingga batas yang dapat diterima. Simpulan: Seluruh sumber bahaya pada kegiatan maintenance underground decline berada pada tingkat risiko sedang (moderate) yang menunjukkan bahwa pengendalian yang ada mampu menjaga risiko dalam batas yang dapat diterima serta mendukung pelaksanaan pekerjaan secara aman dan terkendali.   Kata Kunci: Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control (HIRADC); Maintenance Underground Decline; Tambang Bawah Tanah.
Peran Kepemimpinan Transformasional dalam Membangun Iklim Keselamatan yang Efektif: Sebuah Tinjauan Sistematis Model Konseptual Louis Sonna Martuah Purba; Zulkifli Djunaidi
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 5 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i5.5852

Abstract

Cedera kerja masih menimbulkan beban besar bagi pekerja dan perusahaan di banyak negara. Di antara faktor yang membentuk iklim keselamatan, gaya kepemimpinan kian menarik perhatian peneliti. Kepemimpinan transformasional dinilai paling relevan, tetapi bagaimana keempat dimensinya membangun iklim keselamatan, dan apa saja jembatan di antaranya, masih tersebar di banyak studi tanpa kerangka pemersatu. Tinjauan ini merangkum bukti empiris maupun konseptual tentang hubungan kepemimpinan transformasional dengan iklim keselamatan, mengenali variabel mediasi dan moderasi yang dominan, lalu menawarkan model konseptual yang utuh. Analisis dilakukan melalui sintesis tematik, pemetaan konseptual, dan analisis komparatif. Empat dimensi transformasional tidak memberi pengaruh setara. Inspirational motivation dan idealized influence menunjukkan asosiasi paling kuat dan paling sering berulang, sedangkan individualized consideration dan intellectual stimulation cenderung selektif tergantung konteks. Tiga mediator berulang muncul: komunikasi keselamatan, kepercayaan, dan motivasi keselamatan. Adapun budaya organisasi, beban kerja, dan tekanan produksi berperan memoderasi hubungan. Pada industri dengan tekanan produksi tinggi, pengaruh kepemimpinan terlihat melemah. Kepemimpinan transformasional ikut membentuk iklim keselamatan, tetapi besar pengaruhnya bergantung pada konteks. Model konseptual yang diajukan membuka jalan bagi pengujian empiris lanjutan sekaligus menjadi acuan rancangan intervensi K3 berbasis kepemimpinan, khususnya di sektor berisiko tinggi di Indonesia.
Critical Control Management sebagai Pendekatan Pengelolaan Risiko Fatal pada Operasi Alat Berat Pertambangan Batubara: Tinjauan Konseptual Indra Kurniawan Pratomo; Zulkifli Djunaidi; Mufti Wirawan
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i6.64660

Abstract

Industri pertambangan batubara merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko keselamatan kerja tertinggi, terutama pada aktivitas pengoperasian dan interaksi alat-alat berat. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa kecelakaan tambang berakibat mati di Indonesia masih didominasi oleh kegagalan pengendalian kritis yang berulang, bukan semata-mata ketiadaan pengendalian. Pendekatan konvensional yang berbasis inspeksi aktivitas, seperti Inspeksi Observasi Terencana, cenderung memeriksa keberadaan kontrol secara administratif tanpa menilai apakah kontrol tersebut benar-benar berfungsi efektif. Artikel ini bertujuan mengkaji secara konseptual kerangka Critical Control Management (CCM) yang dikembangkan oleh International Council on Mining and Metals sebagai pendekatan alternatif dalam pengelolaan risiko fatal. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur konseptual terhadap sumber-sumber primer berupa panduan ICMM, literatur keselamatan berbasis barrier, serta dokumen pemerintah Indonesia. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa CCM menawarkan proses sistematis yang meliputi identifikasi Material Unwanted Event, pemetaan bow-tie, seleksi critical control, penetapan performance criteria, dan mekanisme verifikasi lapangan. Kerangka ini mengintegrasikan teori Swiss Cheese Model, atribut performa barrier, serta konsep degradation factor sehingga mampu menilai keandalan kontrol secara multidimensi. Artikel ini menyimpulkan bahwa CCM memiliki relevansi tinggi untuk diterapkan pada konteks pertambangan batubara Indonesia, khususnya dalam menjembatani kesenjangan antara pendekatan berbasis aktivitas yang dominan saat ini dengan kebutuhan akan verifikasi keandalan kontrol kritis terhadap risiko fatal.
Implementasi Penggunaan Driving Monitoring System (DMS) Sebagai Kendali Bahaya Dari Aktivitas Pengoperasian Unit Pengangkutan Batubara PT. Berau Coal: Implementation of the Use of Driving Monitoring System (DMS) as a Hazard Control from the Operational Activities of the Coal Transportation Unit of PT. Berau Coal Sepriyanto; Zulkifli Djunaidi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 6 (2022)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.723 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v5i6.2524

Abstract

Latar Belakang: Implementasi teknologi pada kegiatan operasional perusahaan adalah sebuah keniscayaan, jika perusahaan ingin tetap exist dan bergerak maju seiring dengan kebutuhan zaman. Termasuk dalam kegiatan operasional penambangan batubara yang ada di PT Beraucoal, saat ini berusaha untuk mengimplementasikan teknologi sebagai tools untuk kendali bahaya yang muncul. Salah satunya adalah penggunaan DMS (Driving Monitoring System) yang bertujuan untuk melakukan pengawasan langsung terhadap prilaku pengopersian unit/kendaraan (aktifitas operator di dalam kabin dan kondisi di luar kabin) untuk mencegah kecelakaan yang disebabkan oleh un safe act dari operator saat mengoperasikan unit. Dalam tahap awal, implementasi DMS diterapkan batu hanya pada kegiatan hauling coal, karena selain tingkat incident pada kegiatan pengoperasian unit di lokasi ini cukup tinggi, lokasi ini juga dari segi infrastruktur lebih menudukung, yaitu berupa keberadaan jaringan cellular sebagai salah satu elemn untuk dapat menjalankan DMS secara ideal dan maksimal. Fokus kendali DMS pada tiga Tindakan Tidak Aman yang diketahui sebagai penyebab terbesar kecelakaan pada kegiatan pengoperasian unit di jalan hauling, yaitu: 1. Prilaku berkendara operator (distraction, smoking, phoning, coalision), 2. Fatigue (yawning, head down, closed eyes), 3. Kecepatan Berkendara. Adapun subyek penelitian adalah perusahaan pertambangan yang merupakan mitra kerja PT. Berau Coal, yaitu: PT. PAMA, PT. BUMA, PT. MADHANI, PT. RICOBANA dan PT. MTL. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi penggunaan driving monitoring system (dms) sebagai kendali bahaya dari aktivitas pengoperasian unit pengangkutan batubara PT. Berau Coal Metode: Penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif yaitu dengan menggunakan pendekatan yang disebut dengan analisis data sekunder. Hasil: Dari data yang dikumpulkan, didapat bahwa implementasi DMS telah memberikan dampak terhadap penurunan jumlah incident pada aktifitas pengoperasian unit di jalan hauling, dengan total penurunan incident rata-rata dalam dua tahun setelah implementasi DMS yaitu sebesar 77%dari total rata-rata incident pada kegiatan pengoperasian unit di jalan jauling selama dua tahun sebelum implementasi DMS. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya implementasi teknologi dalam kegiatan operasional pertambangan di PT. Berau Coal terus dilakukan. Salah satu yang dijalankan saat ini adalah implementasi Driving Monitoring System (DMS), yang berfungsi untuk mengcapture atau menangkap Tindakan Tidak Aman yang dilakukan oleh operator saat mengoperasikan unit
Qualitative Analysis using HFACS Model on Factors Causing Risk-taking Behavior at Workplace Rizky Yuli Ikhwanuddin; Zulkifli Djunaidi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 10 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i10.5991

Abstract

Introduction: The risk of workplace accidents, according to the 2022 Indonesian National Occupational Health and Safety (OHS) Profile, is influenced by human factor in safety. This factor includes risk-taking behavior at workplace. One of the industrial sectors that needs a highlight in investigating risk-taking behavior is mining industry, which has 100% increase of workplace accidents in 2022. Objective: This paper explores several results from research which aims to identify factors causing risk-taking behavior at workplace. Method: Qualitative approach of a research is explored in this paper. The participants of this study are 283 employees of PT. XYZ Site A, a mining contractor company in Indonesia, ranging from managers, supervisors, and workers. The primary data of this paper was collected from the answers and reasons that the participants write in a questionnaire with open-ended questions, while the secondary data of this paper was taken from SMKP implementation documents and records obtained from PT. XYZ Site A. These data were then analyzed qualitatively using HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) Model. Result: As per HFACS analysis, factors causing risk-taking behavior at workplace are decision errors and perceptual errors (Unsafe Acts level), complacency, misplaced motivation, and lack of communication (Preconditions for Unsafe Acts level), inadequate supervision, failure to correct problem, and supervisory violations (Unsafe Supervisiion level), as well as resource management, organizational climate, and organizational process (Organizational Influences level) Conclusion: All levels of HFACS contribute risk-taking behavior at workplace, in which organizational influences level is the one whose all sublevels play roles in triggering such behavior. organization needs to increase its influence to its employees to not take risk at their works by improving resource management, organizational climate, as well as safe organizational processes.
Impact of Safety Leadership on Safety Climate in Process Industry Workers: Literature Review Titus Halomoan Mg; Zulkifli Djunaidi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 12 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i12.6322

Abstract

Background: Safety climate concerns individual perceptions of safety policies, procedures, practices and behavior in the work environment. The low safety climate increases the risk of work accidents. Improvement safety climate, one of which can be done by increasing safety leadership, which is safety leadership bring policy direction and commitment regarding the importance of occupational safety and health. This research aims to determine the effect safety leadership to safety climate in process industry workers. Method: This research uses the "PRISMA” or preferred reporting items for systematic reviews and meta-analyses. In searching for relevant research using database google scholar and Sciendirect, with keywords “safety leadership”, “safety climate" And “process industry worker”.The total number of journals that meet the inclusion and exclusion criteria is 4 journals indexed Q1. Results: The results of this study show that there is a direct influence between safety leadership to safety climate in a positive direction. The influence is in a positive direction indicating that there is an increase safety leadership influence on safety climate which is better. There is an indirect influence between safety leadership to safety perfomance with through safety climate. Conclusion: Safety leadership influences improving the safety climate for process industry workers. These findings can be used as reference material for improving the safety climate as well as safety performance in process industry, to reducing the possibility of work accidents.
Analysis of The Causes of Workplace Accidents in The Oil and Gas Industry at PT X in 2023 Using The Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) Method Theresia Iin Wulandari; Zulkifli Djunaidi
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 8 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i8.6077

Abstract

The oil and gas industry is recognized as one of the highest-risk industrial sectors due to its complex operations, hazardous technologies, and intensive interactions among human, technical, and organizational factors. Despite the implementation of occupational safety management systems, fatal workplace accidents continue to occur, indicating that conventional investigations focusing solely on human error are insufficient to identify the underlying causes of incidents. This study aimed to identify patterns of human and organizational failures contributing to fatal workplace accidents at PT X during 2023 using the Human Factors Analysis and Classification System (HFACS). A descriptive-analytical research design with a retrospective approach was employed. The analysis focused on three fatal accident cases documented in 2023 using accident investigation reports, incident records, and occupational safety performance data. Each accident was systematically classified into four HFACS levels: unsafe acts, preconditions for unsafe acts, supervisory factors, and organizational influences. The findings revealed that all fatal incidents involved causal factors across the four HFACS levels. Organizational culture, operational processes, resource management, inadequate supervision, tools and technology, communication, coordination, and planning were identified as dominant latent conditions across all cases. At the operational level, decision errors and routine violations consistently emerged as the primary active failures directly contributing to fatal accidents. These results demonstrate that workplace fatalities are primarily driven by systemic organizational weaknesses rather than isolated worker errors. Therefore, strengthening safety culture, improving supervisory effectiveness, enhancing competency management, and reinforcing risk-based operational planning are essential strategies for preventing future fatal accidents and improving sustainable safety performance in the oil and gas industry.