Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Correlation of Cognitive and Functional Ability among Elderly Gede Budhi Artha Yoga; I.A Pascha Paramurthi; I Putu Astrawan
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 2 No. 2 (2021): July-December 2021
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v2i2.34

Abstract

Background: Elderly is someone who has reached the age of 60 years and over. Increasing age will experience changes in the structure and physiology of the brain, which will affect cerebral blood flow and metabolism, which will affect the decline in cognitive function. The cognitive impairment will have a negative impact on the process of thinking, remembering, and processing information. Objective: To determine the relationship between cognitive and functional abilities in the elderly. Methods: A cross-sectional study was conducted on April 2021 with a population of elderly who met the inclusion and exclusion criteria. The elderly selected by purposive sampling obtained 52 samples. Cognitive measurement using MMSE and functional ability with IADL Lawton. Data were analyzed using a computer's Somers' d test to determine the relationship between cognitive and functional abilities. Results: Analysis of the relationship between cognitive and functional abilities of 52 elderly using Somers'd showed a p-value of 0.001 (p<0.005) which reported a significant relationship between cognitive and functional abilities. Conclusion: there was a relationship between cognitive and functional abilities in the elderly.
Correlation between body mass index with musculoskeletal disorders in employees at Annika Linden Center I Gusti Ayu Sri Novianti; I. A. Pascha Paramurthi; Komang Tri Adi Suparwati; Dewa Ayu Agustini
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 4 No. 1 (2023): January-June 2023
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v4i1.73

Abstract

Background: Problems that often occur in employees are health problems, especially musculoskeletal complaints. Internal and external factors can cause musculoskeletal complaints in employees. One of the internal factors is body mass index (BMI). Someone with an obese BMI will increase the risk of musculoskeletal disorders because when they want to work, the pressure on the waist usually feels heavy due to weakened muscle tone. This study aims to determine the relationship between BMI with musculoskeletal disorders (MSDs). Methods: This study used a cross-sectional study design. The sampling technique in this study uses the total sampling method. The number of samples is 50 people. Researchers took place at the Annika Linden Center. The measurement of musculoskeletal disorders using the Nordic body map (NBM). Results: The analysis of the relationship between BMI and musculoskeletal disorders using the Somers test obtained p=0.001 (p<0.05), meaning a significant relationship exists between body mass index and musculoskeletal disorders. Conclusion: There is a significant relationship between BMI and musculoskeletal complaints in Annika Linden Center employees.
KEBIASAAN MEROKOK MEMENGARUHI VO2MAX DAN TEKANAN DARAH PADA REMAJA USIA 18-23 TAHUN Luh Dian Raika Pramesti; I Putu Prisa Jaya; I.A. Pascha Paramurthi
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 3 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i03.p13

Abstract

Pendahuluan: Masa remaja merupakan masa atau tahapan seseorang untuk menemukan jati diri mereka, sehingga tak jarang perilaku remaja akan dipengaruhi pergaulan salah satunya yaitu perilaku merokok. Perilaku merokok akan memengaruhi tubuh seorang remaja. Adapun pengaruh dari merokok salah satunya akan memengaruhi VO2Max dan tekanan darah. Saat nilai VO2Max tidak optimal maka seseorang akan mudah mengalami kelelahan. Merokok juga menyebabkan kejadian hipertensi yaitu peningkatan tekanan darah oleh karena tembakau yang terdapat pada rokok memiliki zat-zat kimia yang memengaruhi tubuh. Tujuan penelitian ini yaitu untuk membuktikan hubungan kebiasaan merokok terhadap VO2Max dan tekanan darah pada remaja. Metode: Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional analitik yang dilakukan pada bulan Mei-Juni 2022 dengan total sampel berjumlah 57 orang remaja yang berusia 18-23 tahun di Banjar Adat Pande yang memenuhi kriteria inklusi, ekslusi dan drop out. Pengukuran kebiasaan merokok menggunakan kuisioner Brinkman Indeks, VO2Max menggunakan Tes Cooper 2,4 km dan tekanan darah menggunakan alat sphygmomanometer. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil: Hasil penelitian didapatkan hasil analisis hubungan antara kebiasaan merokok terhadap VO2Max dengan hasil p sebesar 0,000 (p<0,05) dengan nilai korelasi (r) -0,605 dan hasil analisis hubungan kebiasaan merokok terhadap tekanan darah dengan hasil p sebesar 0,000 (p<0,05) dengan nilai korelasi (r) 0,548. Simpulan: Disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan dan kuat dengan arah negatif antara kebiasaan merokok terhadap VO2Max dan terdapat hubungan yang signifikan dan kuat dengan arah positif antara kebiasaan merokok terhadap tekanan darah pada remaja usia 18-23 tahun di Banjar Adat Pande, Kelurahan Cempaga, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Kata Kunci: remaja, kebiasaan merokok, VO2Max, tekanan darah
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KUALITAS TIDUR DAN FUNGSI KOGNITIF PADA KELOMPOK LANSIA DHARMA SENTANA, BATUBULAN I Made Dhita Prianthara; I.A Pascha Paramurthi; I Putu Astrawan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 17, No 2 (2021): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v17i2.628

Abstract

Peningkatan jumlah populasi lansia menyebabkan semakin banyak masalah kesehatan yang akan dialami oleh lansia yang disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik seperti gangguan kualitas tidur dan penurunan fungsi kognitif. Seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya aktivitas fisik, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami gangguan kualitas tidur dan penurunan fungsi kognitif. Aktivitas fisik yang rutin dilakukan oleh lansia dapat mencegah terjadinya gangguan kualitas tidur dan mencegah penurunan fungsi kognitif. Semakin meningkat aktivitas fisik maka semakin meningkat kualitas tidur dan fungsi kognitif pada lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik terhadap kualitas tidur dan fungsi kognitif pada kelompok lansia Dharma Sentana, Batubulan. Penelitian ini adalah cross sectional study dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Penelitian dilakukan di kelompok lansia Dharma Sentana, Batubulan. Sampel penelitian ini berjumlah 50 orang lansia. Aktivitas fisik diukur dengan International Physical Activity Scale (IPAQ), kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), dan fungsi kognitif diukur dengan Mini-Mental State Examination (MMSE). Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan nilai p=0,007 yang artinya ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kualitas tidur dan nilai p=0,000 yang artinya ada hubungan antara aktivitas fisik dengan fungsi kognitif. Simpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara aktivitas fisik terhadap kualitas tidur dan fungsi kognitif pada kelompok lansia Dharma Sentana, Batubulan. Kata kunci: Lansia, Aktivitas Fisik, Kualitas Tidur, Fungsi Kognitif
Efektivitas Neurodynamic Sciatic Nerve Sliders Technique dalam Meningkatkan Fleksibilitas Otot Hamstring pada Subjek dengan Short Hamstring Syndrome Prianthara, I Made Dhita; Paramurthi, I.A Pascha; Astrawan, I Putu; Prisajaya, I Putu
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 2 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v14i2.3768

Abstract

Short hamstring syndrome merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh berkurangnya ukuran panjang jaringan otot hamstring dan menyebabkan ketegangan otot, muscle strain dan keterbatasan gerak dan fungsi yang dapat meningkatkan terjadinya risiko terjadinya nyeri pada pinggang, nyeri paha belakang dan meningkatkan risiko jatuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas neurodynamic sciatic nerve sliders technique dalam meningkatkan fleksibilitas otot hamstring pada subjek dengan short hamstring syndrome. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan rancangan pre dan post test one group design. Sampel penelitian berjumlah 22 orang yang diberikan intervensi neurodynamic sciatic nerve sliders technique. Pengukuran lingkup gerak sendi dilakukan dengan pasif straight leg raise (SLR) dan active knee extension (AKE) menggunakan goniometer. Hasil pengujian hipotesis menggunakan Paired Samples T Test yang diperoleh rerata selisih setelah perlakuan sebesar 21,818±1,447 pada pasif straight leg raise dan 40,455±2,567 pada active knee extension dengan nilai p=0,000. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan neurodynamic sciatic nerve sliders technique dapat meningkatkan fleksibilitas otot hamstring pada subjek dengan short hamstring syndrome.
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK TERHADAP KEBUGARAN KARDIORESPIRASI PADA SISWA DI SMA N 1 TABANAN Ni Putu Ayu Cintya Lestari Diani; I Putu Prisa Jaya; Komang Tri Adi Suparwati; I.A Pascha Paramurthi
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 8 No. 4 (2024): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v8i4.6170

Abstract

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot kerangka dan membutuhkan energi yang mencakup berbagai bentuk kegiatan mulai dari aktivitas sehari-hari. Aktivitas fisik dapat meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dengan memperkuat jantung, paru-paru, dan pembuluh darah sehingga tubuh lebih efisien dalam mengangkut dan menggunakan oksigen selama melakukan aktivitas fisik. Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas fisik terhadap kebugaran kardiorespirasi pada siswa SMA N 1 Tabanan. Jenis penelitian observasi non-eksperimental dengan rancangan penelitian cross sectional study yang dilakukan pada bulan Juni 2024 dengan populasi siswa laki-laki di SMA N 1 Tabanan yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Teknik pengambilan sampel dengan total sampling yang berjumlah 43 orang siswa. Pengukuran aktivitas fisik menggunakan kuesioner Physical Activity Questionnaire Adolescents (PAQ-A) dan pengukuran kebugaran kardiorespirasi menggunakan harvard step test. Data dianalisis dengan uji korelasi rank spearman untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran kardiorespirasi. Hasil analisis hubungan antara aktivitas fisik dengan kebugaran kardiorespirasi dengan uji kolerasi rank spearman, didapatkan hasil p = 0,139 ( p > 0,05) pada aktivitas fisik dengan kebugaran kardiorespirasi dengan nilai korelasi koefisien (r) sebesar 0,229 (rendah ke arah positif). Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna dan mempunyai korelasi yang rendah ke arah positif antara aktivitas fisik dengan kebugaran kardiorespirasi pada siswa SMA Negeri 1 Tabanan.
Hubungan antara Stunting dengan Perkembangan Personal Sosial dan Interaksi Sosial pada Anak Usia 3–6 Tahun Novianti, I Gusti Ayu Sri Wahyuni; Suadnyana, Ida Ayu Astiti; Paramurthi, I.A Pascha; Dewi, Ni Putu Putri Candra
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 15 No 3 (2025): Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v15i3.3756

Abstract

Indonesia masih dihadapkan dengan berbagai masalah kesehatan pada anak terutama stunting. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek dari standar usianya. Kekurangan zat gizi ini akan mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan aktivitas fisik anak yang akan berdampak pada perkembangan otak melalui interaksi anak dengan lingkungannya, dimana anak yang akan mengalami gangguan seperti cenderung bersikap apatis. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara stunting dengan perkembangan personal sosial dan interaksi sosial pada anak usia 3-6 tahun. penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan di lingkungan Puskesmas I Denpasar Barat dan Timur pada bulan Juni–Agustus 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang yang dihitung berdasarkan rumus fisher. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner personal sosial dan interaksi sosial yang sudah dilakukan uji validasi dan reliabilitas. Data dianalisis dengan melakukan uji chi-square. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan nilai p=0,014 yang artinya ada hubungan antara stunting dengan personal sosial dan nilai p=0,020 yang artinya ada hubungan antara stunting dengan interaksi sosial. Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara stunting dengan personal sosial dan interaksi sosial pada anak usia 3-6 tahun.
Peningkatan Kesadaran Osteoporosis pada Penderita Lupus di Denpasar Yoga, I Gusti Made Suandinata; Manuaba, Ida Ayu Ratih Wulansari; Astrawan, I Putu; Suparwati, Komang Tri Adi; Novianti, I Gusti Ayu Sri Wahyuni; Paramurthi, IA Pascha; Prianthara, I Made Dhita; Jaya, I Putu Prisa; Suadnyana, Ida Ayu Astiti
UNBI Mengabdi Vol. 4 No. 2 (2023): UNBI Mengabdi Juli
Publisher : Universitas Bali Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34063/um.v4i2.398

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit autoimun kronis yang meningkatkan risiko osteoporosis akibat pengobatan dan peradangan kronis. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengedukasi 25 pasien SLE di Laboratorium Prodia, Denpasar, tentang risiko dan pencegahan osteoporosis. Metode yang digunakan adalah ceramah informatif, kuesioner, dan pemeriksaan tanda vital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 92% peserta memiliki pengetahuan mengenai osteoporosis, dan 88% berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan tulang melalui suplementasi kalsium dan olahraga. Namun, beberapa peserta mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas fisik yang konsisten. Inisiatif ini menyoroti pentingnya edukasi kesehatan secara teratur dalam mencegah komplikasi sekunder seperti osteoporosis pada pasien SLE.   Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune disease that increases the risk of osteoporosis due to medication and chronic inflammation. This community service program aimed to educate 25 SLE patients at Prodia Laboratory, Denpasar, about osteoporosis risks and prevention. The methods included informative lectures, questionnaires, and vital sign checks. The results showed that 92% of participants gained awareness about osteoporosis, with 88% committed to improving bone health through calcium supplementation and exercise. However, a few participants struggled with consistent physical activity. This initiative highlights the importance of regular health education in preventing secondary complications like osteoporosis in SLE patients.
GAMBARAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA PETANI JERUK DI DESA PETANG Suparwati, Komang Tri Adi; Paramurthi, I.A Pascha; Wahyuni Novianti, I Gst Ayu Sri; Astrawan, I Putu; Krismantara, I Ketut Arya Yoga
PHYSIO MOVE JOURNAL Vol 4, No 1 (2025): Physio Move Journal
Publisher : Prodi Fisioterapi UFDK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32883/pmj.v4i1.3516

Abstract

ABSTRACTExposure to organophosphate pesticides will affect lung function which causes irritation, airway narrowing and decreased lung function. This condition is experienced by farmers through various activities such as the process of bringing pesticides to the farm, the process of mixing pesticides, the process of spraying pesticides on the farm and washing the tools that have been used to spray, all of these activities have the potential to cause exposure to farmers either through the skin or breathing. The symptoms of exposure to organophosphate pesticides such as shortness of breath and respiratory tract irritation resulting in a decrease in the value of peak expiratory flow (APE). The purpose of the study was to determine the value of Peak Expiratory Flow (APE) in citrus farmers in Petang Village. This study used descriptive analysis with a total of 30 respondents. The instrument in this study used a peak flow meter to measure the peak expiratory flow value of citrus farmers. The results of this study showed that the Peak Expiratory Flow value in the green zone was 6 respondents (20%), the yellow zone was 19 respondents (63.3%) and the red zone was 5 respondents (16.7%). Keywords: expiratory peak flow, citrus_farmer, pesticides ABSTRAKPaparan pestisida jenis organofosfat akan mempengaruhi fungsi paru yang dimana menimbulkan efek iritasi, penyempitan saluran nafas dan penurunan faal paru. Kondisi tersebut dialami oleh petani melalui berbagai kegiatan seperti proses membawa pestisida menuju lahan pertanian, proses pencampuran pestisida, proses penyemprotan pestisida di lahan pertanian dan mencuci alat yang sudah digunakan menyemprot, semua aktivitas ini berpotensi menimbulkan paparan pada petani baik melalui kulit ataupun pernapasan. Adapun gejala dari paparan pestisida jenis organofosfat seperti sesak nafas dan iritasi saluran pernapasan sehingga mengakibatkan penurunan nilai arus puncak ekspirasi (APE). Tujuan dari penelitian untuk mengetahui nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) pada petani jeruk di Desa Petang. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan total 30 responden. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan peak flow meter untuk mengukur nilai Arus Puncak Espirasi petani jeruk. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Arus Puncak Ekspirasi pada zona hijau adalah 6 responden (20%), zona kuning adalah 19 responden (63,3%) dan zona merah adalah 5 responden (16,7%). Kata kunci: arus_puncak_ekspirasi, petani_jeruk, pestisida
Effects of Prolonged Exposure to Hydrogen Peroxide on Expiratory Peak Flow Suparwati, Komang Tri Adi; Jaya, I Putu Prisa; Paramurthi, I.A Pascha; Dharmayanti, Cokorda Istri
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 1 No. 1 (2025): The 3rd MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : The bleaching process on the ibung to get a brighter color requires a hydrogen peroxide dyeing process. In this process, artisans are directly exposed to hydrogen peroxide vapor. The duration of exposure to hydrogen peroxide results in respiratory disturbances that affect the peak expiratory flow. Objective : This study aims to determine the relationship between the length of exposure and the duration of exposure in ibung craftsmen Research Methods/ Implementation Methods: This research is a type of quantitative research with an observational analytical method. The design of this study uses a cross-sectional approach with a sample of 50 people who meet the inclusion and exclusion criteria. The Peak Flow Meter instrument is used to assess the peak current of expiratory flow of the ibung craftsman against hydrogen peroxide exposure. Statistical analysis was carried out using descriptive and chi-square tests Results : Based on the chi-square test, the results were obtained on the meaningful relationship between the length of work and the peak flow of expiration with the value of p = 0.000 and a meaningful relationship was found between the duration of work and the peak flow of expiration with the value of p = 0.043 Conclusion/Lesson Learned : There is a relationship between exposure to hydrogen peroxide to the peak expiratory current in Ibung craftsmen, so it is expected that Ibung craftsmen use PPE (personal protect equipment when working to reduce exposure to hydrogen peroxide