Ni Made Armini Wiendi
Departemen Agronomi Dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (Bogor Agricultural University), Jl. Meranti, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Mutasi Induksi Dendrobium sylvanum var. flava Menggunakan Kolkisin secara In Vitro Musalamah; Ni Made Armini Wiendi; Sri Rianawati
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.541 KB) | DOI: 10.29244/jhi.9.1.54-62

Abstract

ABSTRACTIn Vitro mutation using colchicine on 2 month of self-pollinated protocorm like bodies of Dendrobium sylvanum var. flava was conducted to determine the effects of concentration and immersion duration in colchicine on proliferation of PLBs, and to identify of ploidy variants based on stomatal variable. Research was arranged using factorial completely randomized design with three factors in three replications. The first factor was concentration of colchicine, consisted of five concentrations (0.02; 0.04, 0.06; 0.08; dan 0.1%). The second factor was duration of immersion in the colchicine, consisted of four durations (1; 24; 48; 72 hours). The third factor was proliferation medium consisted of two concentrations of BAP (1; 0.5 mg L-1). Analysis of variance showed the significant effect of colchicine treatment on percentage of survived explants. LD50 in media 1 mg L-1 BAP was obtained at a colchicine concentration of 0.069% with duration immersion of 58.19 hours. On Media 0.5 mg L-1 BAP, LD50 was obtained at colchicine concentration of 0.054% with duration immersion of 47.63 hours. Percentage of solid polyploid mutant of Dendrobium sylvanum var. flava can not be determined on MV2 generation because the stomata leaf showed chimeras based on the chloroplast number in cell guard and stomata size.Keywords: colchicines, Dendrobium sylvanum, mutation, number of chloroplast stomatal density.ABSTRAKMutasi dengan kolkisin pada PLBs hasil selfing Dendrobium sylvanum var. flava umur 2 bulan dilakukan secara In Vitro dengan tujuan mempelajari pengaruh konsentrasi kolkisin, durasi perendaman dalam kolkisin, media proliferasi terhadap pertumbuhan PLBs Dendrobium sylvanum var. flava serta mengidentifikasi variasi ploidi berdasarkan variabel stomata. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap Faktorial 3 Faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama ialah konsentrasi kolkisin yang terdiri atas 5 taraf (0.02; 0.04, 0.06; 0.08; dan 0.1%). Faktor kedua ialah durasi perendaman yang terdiri atas 4 taraf (1; 24; 48; 72 jam). Faktor ketiga ialah media proliferasi media V&W yang ditambah BAP terdiri atas 2 taraf (1; 0.5 mg L-1). Hasil analisis ragam menunjukkan pengaruh kolkisin yang nyata terhadap variabel persentase hidup. LD50 pada media 1 mg L-1 BAP diperoleh pada konsentrasi 0.069 % dengan durasi perendaman 58.19 jam. Pada media 0.5 mg L-1 BAP, LD50 diperoleh pada konsentrasi 0.054 % dengan durasi perendaman 47.63 jam. Persentase mutan poliploid pada MV2 Dendrobium sylvanum var. flava ini belum dapat ditentukan karena stomata daunnya masih kimera berdasarkan karakter jumlah kloroplas sel penjaga dan ukuran stomata.Kata kunci: Dendrobium sylvanum, jumlah kloroplas, kerapatan stomata, kolkisin, mutasi.
Induksi mutasi Stevia rebaudiana dengan perendaman kolkisin secara in vitro (Induced mutation of Stevia rebaudiana through colchicine soaking in vitro) Masna Maya SINTA; Ni Made Armini WIENDI; Syarifah Iis AISYAH
E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.959 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v1i1.277

Abstract

Stevia rebaudiana Bert. is a plant producing steviol glycosides that have 200-300 times sweeter than sucrose. These steviol glycosides are produced in the leaves and then spread to all parts of the plant including stems. The use of superior stevia planting material is important for stevia sugar industry. One of the stevia breeding programme is to increase genetic diversity through colchicine soaking to produce polyploid plants. Polyploid plants usually have higher vigor than diploid plants. The purpose of this research was to induce genetic diversity of stevia through colchicine soaking in vitro. Single nodes of sterile stevia clone BS were soaked in colchicine at the concentration of 0.01; 0.02; 0.04; 0.08 and 0.1% for 48 and 72 hours, and in sterile aquadest as a control. Plantlet subcultures were done until MV4 (mutant vegetative 4). Putative mutants were observed by plantlet vigor and stomata analyses on MV5. Vigor of plantlets was observed by counting the number of leaves, nodes, roots, fresh weight and dry weight of the plantlet. Stomata analysis was performed by calculating stomata density, stomata size and chloroplast number in stomata guard cells. Results showed that colchicine soaking treatment increased significantly fresh weight and dry weight of putative mutants. Colchicine soaking treatment increased chloroplast number on stomata guard cell and stomata size, but decreased stomata density. Stevia soaked in colchicine for 48 hours at concentration 0.01-0.04% produce putative mutants with high chromosome numbers. [Key words: poliploidy, stomata, chloroplast, mutant]AbstrakStevia rebaudiana Bert. merupakan tanaman penghasil glikosida steviol yang memiliki tingkat kemanisan 200-300 kali lebih tinggi dibandingkan sukrosa. Glikosida steviol ini diproduksi di daun yang kemudian disalurkan ke bagian tanaman lainnya termasuk batang. Penggunaan klon terbaik stevia merupakan salah satu kunci penting keberhasilan industri gula stevia. Salah satu program pemuliaan tanaman stevia adalah meningkatkan keragaman tanaman melalui mutasi dengan kolkisin sehingga menghasilkan tanaman poliploid. Tanaman poliploid umumnya memiliki vigor lebih baik dibandingkan tanaman diploid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keragaman stevia melalui peren-daman kolkisin in vitro. Buku tunggal steril stevia klon BS direndam dalam kolkisin dengan konsentrasi 0,01; 0,02; 0,04; 0,08 dan 0,1% selama 48 dan 72 jam dengan perendaman dalam air steril sebagai kontrol. Sub kultur dilakukan hingga MV4 (mutan vegetatif 4). Pengamatan mutan putatif dilakukan meliputi analisis morfologi dan stomata pada MV5.  Analisis morfologi dilakukan dengan mengamati jumlah daun, buku, akar, bobot basah serta bobot kering planlet. Analisis stomata dilakukan dengan menghitung kerapatan stomata, ukuran stomata serta jumlah kloroplas pada sel penjaga stomata. Hasil menunjukkan bahwa perendaman stevia pada kolkisin meningkatkan bobot basah serta bobot kering stevia in vitro. Perlakuan perendaman kolkisin meningkatkan jumlah kloroplas pada sel penjaga stomata serta ukuran stomata namun menurunkan kerapatan stomata. Perendaman stevia selama 48 jam pada konsentrasi kolkisin 0,01-0,04% menghasilkan mutan putatif dengan jumlah kromosom tertinggi.[Kata kunci: poliploidi, stomata, kloroplas, mutan]
Optimalisasi Pengembangan Pertanian Modern melalui Program ”Ngariung Tani” (Studi Kasus: Desa Sindangsari, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur) Amelia Paramitha Mahanani; Lailatul Qodriyah Agne Verawati; Ni Made Armini Wiendi
Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat (PIM) Vol. 2 No. 3 (2020): Juni 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.887 KB)

Abstract

Currently the development of the concept of modern agriculture that is used combines two concepts, namely optimization of agricultural production through improving technology and improving the quality of crop yields using the latest technology that reflects the modernity in the agricultural world. "Ngariung Tani" is carried out by means of discussion between farmers and students, and PPL as an intermediary between students and farmers. This activity aims to discuss issues of agriculture and agricultural cultivation in the village of Sindangsari where most people earn a living as farmers. The increasing insight of students about the practice of rice cultivation and problems, especially those in the village of Sindangsari and the increasing insight of farmers about the modern agricultural system is an indicator of the success of discussion activities in community service. Keywords: agriculture, cultivation, Sindangsari, technology
Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Perkebunan Teh Negara Kanaan, Bandung Flowrentyka Ferona Haloho; Megayani Sri Rahayu; Ni Made Armini Wiendi
Buletin Agrohorti Vol. 10 No. 3 (2022): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v10i3.46419

Abstract

Produktivitas dan mutu teh dapat ditingkatkan melalui pengelolaan pemangkasan yang baik. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Kebun Teh Negara Kanaan, Bandung, Jawa Barat pada bulan Januari sampai April 2021. Penelitian bertujuan mengevaluasi pengelolaan pemangkasan tanaman teh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa produktivitas tanaman teh meningkat dari tahun pangkas pertama hingga tahun pangkas keempat, dan menurun pada tahun pangkas kelima. Gilir pangkas yang ditetapkan adalah 4-5 tahun. Kebun Negara Kanaan melaksanakan pemangkasan pada bulan Januari sampai Juni (semester I) dan bulan Oktober sampai Desember (semester II) dengan jenis pangkasan kepris sebagai pangkasan produksi yang paling sering digunakan. Rata-rata tinggi bidang petik tanaman teh sebelum dipangkas adalah 118.90 cm dengan rata-rata lebar bidang petik sebesar 105.99 cm. Rata-rata persentase pucuk burung tanaman teh sebelum dipangkas sebesar 89.22%. Tinggi tanaman setelah dipangkas, yaitu 63.08 cm. Tinggi tersebut tidak berbeda nyata dengan standar tinggi pangkasan kebun, yaitu 65 cm. Pertumbuhan tunas setelah pemangkasan menunjukkan bahwa tunas pada cabang dengan diameter yang lebih kecil tumbuh lebih cepat, namun cabang dengan diameter yang lebih besar memiliki jumlah tunas yang lebih banyak. Kata kunci: gilir pangkas, pemangkasan teh, pertumbuhan tunas, produktivitas, pucuk burung
Aplikasi Benzylamino Purine (BAP) untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Produktivitas Empat Varietas Padi Sawah Khalim Rizkiana Bahri; Sugiyanta; Ni Made Armini Wiendi
Buletin Agrohorti Vol. 10 No. 3 (2022): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v10i3.46488

Abstract

Laju pertambahan produktivitas padi nasional cenderung mengalami penurunan pada beberapa tahun terakhir. Produktivitas padi nasional pada tahun 2015-2020 rata-rata mengalami penurunan sebesar 0.87%. Potensi zat pengatur tumbuh diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan mengatasi pelandaian produksi padi. Benzylamino purine (BAP) merupakan kelompok sitokinin sintesis turunan dari adenin yang berfungsi mendorong pertumbuhan tanaman dan beberapa respon perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon empat varietas tanaman padi sawah terhadap aplikasi beberapa konsentrasi BAP. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sawah Baru, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB University pada bulan Februari hingga Juni 2020. Pengamatan beberapa peubah dilakukan di Laboratorium Pasca Panen dan Laboratorium Technopark hingga bulan Agustus 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah split plot dua faktor yaitu varietas sebagai petak utama dan konsentrasi BAP sebagai anak petak. Perlakuan varietas terdiri dari IPB 3S, Inpari 42, Hipa 18, dan Akitakomachi. Perlakuan konsentrasi BAP terdiri dari empat taraf konsentrasi 0; 15; 30; dan 45 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat varietas padi yang diteliti memiliki karakteristik berbeda pada beberapa peubah yang diamati meliputi, nilai bagan warna daun saat 10 MST, panjang daun bendera, jumlah anakan produktif, bobot 1,000 butir, persentase kehampaan, dan hasil gabah kering. Aplikasi BAP dapat meningkatkan nilai bagan warna daun saat 10 minggu setelah tanam, panjang daun bendera, dan bobot 1,000 butir. Kata kunci: akitakomachi, bobot 1,000 butir, Hipa 18, Inpari 42, IPB 3S, sitokinin
Induksi Proliferasi Tunas Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) melalui Organogenesis dengan Penambahan IAA dan BAP Ratna Trisnawati; Ni Made Armini Wiendi; Agus Purwito
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46585

Abstract

Bawang Dayak (Eleutherine americana Merr.) merupakan tumbuhan khas Kalimantan Tengah yang digunakan sebagai obat tradisional oleh suku Dayak. Teknologi kultur jaringan dapat digunakan untuk keperluan budidaya Bawang Dayak dalam menghasilkan kualitas benih yang baik dan ketersediaan benih yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mempelajari respon eksplan mata tunas vegetatif dari umbi Bawang Dayak dengan penambahan IAA dan BAP. Penelitian ini diharapkan dapat memperoleh komposisi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP yang optimal untuk perbanyakan tanaman Bawang Dayak secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan II, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan Oktober 2018 sampai Juni 2019. Penelitian ini terdiri dari 3 percobaan terpisah yang masing-masing menggunakan jenis eksplan dan perlakuan berbeda setiap percobaan. Percobaan I, proliferasi tunas aseptic umbi Bawang Dayak. Percobaan II, induksi proliferasi tunas dengan penambahan IAA dan BAP. Percobaan III, induksi tunas dari umbi ex vitro Bawang Dayak. Percobaan I, eksplan ditanam pada media perbanyakan KC2 dan MS13K. Percobaan II dan III.a disusun menggunakan rancangan perlakuan faktorial disusun dalam Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT), terdiri dari 2 faktor, yaitu IAA (0.0, 0.5, 1.0, 1.5 mg L-1) dan BAP (0.0, 1.0, 2.0, 3.0 mg L-1). Percobaan III.b terdiri atas 3 faktor, yaitu IAA (0.0, 0.5, 1.0, 1.5 mg L-1), BAP (0.0, 1.0, 2.0, 3.0 mg L-1), dan GA3 (0.0, 1.0, 2.0, 3.0, 4.0 mg L-1). Media perlakuan KC2 memiliki rataan jumlah tunas lebih tinggi sebesar 1.93 tunas per eksplan dibandingkan dengan media MS13K sebesar 1.42 tunas per eksplan. Media perlakuan IAA 1.0 mg L-1 dan media perlakuan BAP 3.0 mg L-1 berpengaruh sangat nyata dalam pembentukan tunas sebesar 6.5 tunas per eksplan. Subkultur kedua, media perlakuan IAA 1.5 mg L-1 berpengaruh sangat nyata dalam pembentukan tunas sebesar 3.3 tunas per eksplan. Media perlakuan IAA 1.5 mg L-1 + BAP 3.0 mg L-1 berpengaruh sangat nyata dalam pembentukan daun sebesar 5.7 daun per eksplan dibandingkan dengan media perlakuan yang lain. Kata kunci: Benzil Amino Purin, eksplan, Indole Acetic Acid, in vitro
Efisiensi Penggunaan Pupuk Majemuk Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Baby Kailan (Brassica oleracea L.) dengan Hidroponik Sistem Sumbu I Gusti Ngurah Galang Aditya; Ni Made Armini Wiendi; Juang Gema Kartika
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 1 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i1.46586

Abstract

Teknik hidroponik sistem sumbu sangat cocok dikembangkan dan diusahakan terutama di kota-kota besar. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh aplikasi jenis pupuk majemuk dan konsentrasi electrical conductivity (EC) terhadap pertumbuhan dan produksi baby kailan varietas Nova dengan hidroponik sistem sumbu. Percobaan ini dilaksanakan di greenhouse Kebun Percobaan Cikabayan dan Laboratorium Pascapanen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor, pada bulan Agustus 2017 sampai Oktober 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor yang disusun secara faktorial. Faktor pertama yaitu jenis pupuk majemuk (AB Mix, Growmore, dan Gandasil D) dan faktor kedua yaitu konsentrasi EC (1.5 mS cm-1; 2.0 mS cm-1; dan 2.5 mS cm-1). Setiap perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 27 satuan percobaan. Kombinasi pupuk AB Mix dengan konsentrasi EC 1.5 mS cm-1 pada budidaya baby kailan dengan hidroponik sistem sumbu menghasilkan tinggi tanaman pada 3 MST, jumlah daun pada 3 MST, panjang tangkai daun pada 2 dan 3 MST, dan panjang daun pada 1 MST yang nyata lebih tinggi dibandingkan kombinasi lainnya. Pupuk AB Mix dan konsentrasi EC 1.5 mS cm-1 merupakan perlakuan terbaik untuk budidaya baby kailan dengan hidroponik sistem sumbu. Kata kunci: baby kailan, electrical conductivity, hidroponik sistem sumbu, pupuk majemuk
Induksi Mutasi Kromosom dengan Iradiasi Sinar Gamma Cobalt60 untuk Merakit Padi (Oryza sativa) Tahan Kekeringan Secara In Vitro Indah Permata Dewi; Ni Made Armini Wiendi
Buletin Agrohorti Vol. 11 No. 2 (2023): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrob.v11i2.47142

Abstract

Banyak orang di dunia memilih nasi sebagai sumber karbohidrat utama selain jagung dan gandum. Meningkatnya jumlah penduduk membuat kebutuhan beras meningkat. Meningkatnya permintaan beras tidak diikuti oleh pasokan beras. Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti mencoba mencari kultivar padi baru yang dapat ditanam di lahan kering. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tekanan osmotik yang masih dapat diterima oleh padi var. Sintanur, mempelajari nilai LD 50 (lethal dose 50) pada padi khususnya di Sintanur dan mempelajari interaksi antara iradiasi dengan tekanan osmotik. Dalam penelitian ini, padi var. Sintanur diiradiasi menggunakan sinar gamma Cobalt60 dengan enam dosis 0 Gy, 100 Gy, 200 Gy, 300 Gy, 400 Gy, 500 Gy. Kemudian masing-masing benih hasil iradiasi ditanam pada empat jenis media yang mengandung Polyethylene glycol (PEG) dengan empat tingkat konsentrasi yaitu I0 (0 g L-1 PEG), I1 (116.538 g L-1 PEG), I2 (174.6 g L-1 PEG) dan I3 (219.547 g L-1 PEG). Berdasarkan data yang dianalisis, konsentrasi PEG tertinggi untuk seleksi toleran kekeringan pada padi var. Sintanur adalah 174.674 g L-1 PEG. Terdapat interaksi antara iradiasi dan medium PEG yang mempengaruhi tinggi tanaman dan perbanyakan tunas. LD 50 (lethal dose 50) dari padi var. Sintanur adalah 375 Gy. Kata kunci: LD 50, sintanur, polyethylene glycol
Photoautotrophic System: A Review and Potential Application for Plant Propagation In Vitro Krisantini Krisantini; Ni Made Armini Wiendi
Journal of Tropical Crop Science Vol. 5 No. 2 (2018): Journal of Tropical Crop Science
Publisher : Department of Agronomy and Horticulture, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.007 KB) | DOI: 10.29244/jtcs.5.2.73-78

Abstract

AbstractThe standard method of in vitro plant micro propagation uses of tightly closed culture bottles using agar media containing macro and micro nutrients and sucrose as a source of carbon for the explants. The closed bottle culture is usually kept in a temperature and light controlled environment which is lower and of different quality from the natural sunlight, resulting in high relative humidity and no air exchange inside the bottles.  Explants produced in vitro have malfunctioned stomata, undeveloped cuticles and lower leaf chlorophyll levels, and hyper hydration of the plantlets. Photoautotrophic tissue culture is micro propagation without or with a reduced sugar level in the culture media, so the growth or accumulation of carbohydrates of the explants is dependent fully upon photosynthesis and inorganic nutrient uptake. This method is usually combined with ventilation or CO2 enrichment, and recently, with incorporating porous materials such as vermiculite, gum or paper pulp to the agar media to promote better root system of the explants. This article discuss the advantages and disadvantages of the photoautotrophic micro propagation compared to the standard micro propagation methods, and provided the results of the photo autotrophic micro propagation studies conducted at Laboratory of Tissue Culture II of the Department of Agronomy and Horticulture, Bogor Agricultural University, Indonesia.
KARAKTER DAN PRODUKSI TIGA AKSESI TALAS DENGAN PENAMBAHAN DOSIS BAHAN ORGANIK Ridwan Diaguna; Edi Santosa; Trikoesoemaningtyas Trikoesoemaningtyas; Ni Made Armini Wiendi; Didy Sopandie; Sobir Sobir; Eny Widajati
Jurnal Agrotek Tropika Vol 12, No 1 (2024): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 12, Februari 2024
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v12i1.6728

Abstract

Perubahan iklim dan keberlanjutan merupakan tantangan besar dalam produksi pangan, yang didominasi sumber pangan biji-bijian yang rentan terhadap perubahan iklim. Sumber karbohidrat umbi dianggap lebih tahan dan mudah beradaptasi dengan tantangan tersebut. Talas merupakan salah satu potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan nilai gizi yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan dosis bahan organik terhadap karakter morfologi talas, dan hubungan karakter morfologi dan umbi yang dihasilkan, serta menentukan dosis yang tepat untuk budidaya talas di Indonesia. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal yaitu dosis bahan organik, dengan lima ulangan. Dosis bahan organik terdiri dari 4 taraf yaitu 0,25 kg tanaman-1, 0,5 kg tanaman-1, 0,75 kg tanaman-1, dan 1 kg tanaman-1. Bahan organik (BO) meningkatkan pertumbuhan vegetatif, umbi atribut dan produksi bibit. BO meningkatkan pertumbuhan vegetatif kuantitatif. Dosis sekitar 0,5 - 1 kg lubang-1 diidentifikasi sebagai dosis yang tepat untuk pertumbuhan vegetatif, umbi atribut dan produksi bibit talas. Ada korelasi positif antara pertumbuhan vegetatif, atribut umbi dan produksi bibit. Tinggi tanaman, ukuran daun, dan diameter batang sangat penting untuk menentukan perkembangan umbi, dan selanjutnya menyebabkan tingginya produksi bibit.