Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Prevalensi Penyakit oleh Parasit Darah Anjing di Klinik Hewan Sahabat, Melaka, Malaysia Ying, Megan Chan Zhi; Wijaya, Agus; Afiff, Usamah
ARSHI Veterinary Letters Vol. 7 No. 4 (2023): ARSHI Veterinary Letters - November 2023
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.7.4.71-72

Abstract

Penyakit yang disebabkan oleh parasit darah anjing (penyakit yang ditularkan melalui kutu), adalah suatu kondisi ketika anjing digigit oleh kutu yang membawa patogen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai prevalensi penyakit yang disebabkan oleh parasit darah anjing (Anaplasmosis, Babesiosis, dan Ehrlichliosis) di Klinik Hewan Sahabat, Melaka, Malaysia dari Agustus 2020 hingga Juli 2022. Data sekunder dari 103 anjing yang terinfeksi diambil dari rekam medis. Anjing pada tahap anak anjing lebih sering didiagnosis yaitu sebesar 26,21%. Baik jantan maupun betina menunjukkan prevalensi yang hampir sama yaitu 52,43% dan 47,57%. Anjing kampung memiliki prevalensi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan anjing ras, tetapi tidak ada kecenderungan ras. Kasus infeksi ganda lebih sering terjadi dibandingkan dengan kasus infeksi tunggal. Penyakit yang ditularkan melalui kutu anjing menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi di antara musim pancaroba di Malaysia. Tanda-tanda klinis yang paling umum yang ditunjukkan oleh anjing adalah anoreksia, tidak aktif, dan diatesis pendarahan. Untuk mendukung diagnosa, anemia dan trombositopenia dapat diamati dari hasil hitung darah lengkap pasien, alat tes akan menunjukkan hasil positif ketika antibodi atau antigen terdeteksi dan parasit juga dapat diamati di bawah mikroskop dengan menggunakan apusan darah. Prevalensi penyakit yang ditularkan melalui kutu akan dipengaruhi oleh faktor intrinsik (usia, jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (cuaca).
Peningkatan Prestasi Belajar Menerapkan Fungsi Peripheral dan Instalasi Pc Materi Mengidentifikasi Macam-Macam Peripheral dan Fungsinya melalui Metode Information Search pada Siswa Kelas X TKJ 2 SMK Negeri 1 Suruh Wijaya, Agus
Jurnal Terapan Pendidikan Dasar dan Menengah Vol 3 No 3 (2023): Volume 3 Nomor 3, September 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/jtpdm.v3i3.1110

Abstract

Nilai yang diperoleh digunakan untuk menentukan jenis periferal dan fungsinya. Ini adalah topik yang pernah diuji di SMK Negeri 1. Hasil menunjukkan ketuntasan belajar siswa 31,43%, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk tingkat kesulitan belajar siswa dan lingkungan belajar yang tidak mendukung. Pembelajaran informasi diterapkan. Beberapa sumber informasi termasuk buku paket, majalah, dan koran. Teknik pencarian informasi mirip dengan ujian buku terbuka, di mana guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk membantu mereka menemukan lebih banyak informasi. Dalam penelitian ini, 35 siswa dari Kelas X TKJ 2 SMK Negeri 1 Suruh di Kabupaten Trenggalek terlibat, yang berada di Semester 2 Akademik 2014/2015. Siswa kesulitan menemukan cara menerapkan fitur periferal, menginstal sumber daya komputer, dan menemukan jenis periferal dan fungsinya. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa nilai rata-rata siswa masih jauh di bawah KKM. Berdasarkan percakapan di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian dua siklus dapat memberikan gambaran yang tidak bias tentang peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan fitur periferal, menginstal bahan di komputer, dan menemukan jenis periferal dan fungsinya melalui teknik pencarian informasi, serta selalu melibatkan siswa untuk menunjukkan materi yang diajarkan. Dengan demikian, prestasi belajar siswa kelas X TKJ 2 SMK Negeri 1 Suruh Kabupaten Trenggalek pada Semester 2 Tahun Pelajaran 2014/2015 dapat ditingkatkan. Sementara nilai rata-rata siswa pada siklus I adalah 77,71, jumlah siswa yang tuntas meningkat dari 24 menjadi 35 pada siklus II. Tingkat ketuntasan pada siklus I adalah 68,57%, tetapi naik menjadi 100% pada siklus II dengan peningkatan 31,43%.
PEMANFAATAN HAYLAGE RUMPUT RAWA YANG DISUPLEMENTASI DAUN UBI KAYU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG Riswandi, Riswandi; Kuncoro, Endo Argo; Wijaya, Agus; Hermanto, Hermanto; Maulidina, Agil; Muhakka, Muhakka; Sandi, Sofia; Ali, Asep Indra M; Lena, Mirza; Ulfah, Febrinita
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 2 (2026): Periode April 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i2.7989

Abstract

The limited availability of forage during the dry season and the suboptimal capacity of farmers in Kota Daro II Village, have contributed to insufficient feed supply for cattle and reduce livestock productivity. The potential of available natural resources offers a viable solution to ensure feed continuity throughout the year. The utilization of swamp grass and agricultural waste through the application of haylage technology can serve as an alternative feed source during the dry season. This activity was a community service program aimed at improving the knowledge and skills of farmers in Kota Daro II Village in utilizing swamp grass haylage supplemented with cassava leaves as an alternative feed source during times of feed shortages. This activity was carried out at the Kota Daro II Village Hall on October 8, 2025, with education and training methods for farmers through counseling on the introduction of haylage technology and training, demonstration of haylage production, which was attended by 25 farmers. Evaluation of haylage results after 21 days of storage to see physical quality and palatability testing of haylage. The results showed that the knowledge, understanding, and skills of farmers in Kota Daro II Village had improved regarding the application of haylage technology in utilizing swamp grass and agricultural waste as alternative feed during the dry season. The training was increased farmers’ understanding by 40–46% regarding haylage technology using swamp grass and agricultural waste. Additionally, the interest and motivation of farmers on how to make haylage was quite good, which was marked by a 100% attendance percentage and 60% farmers in interactive discussions.