Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Form, Space and Meaning of Traditional Architecture of Towani Tolotang Traditional Community Amparita Sidenreng Rappang Sani, Andy Sandra; Wikantari, Ria; Harisah, Afifah
ASTONJADRO Vol. 13 No. 1 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Towani Tolotang traditional community, which has traditional Bugis houses, is known for having houses with rounded pillars malibu lenrong, many squares and does not use glass as a window ornament so that it has a distinctive shape. When observing their way of life, the belief in Pengderreng or ade’ customs' greatly influenced the Towani Tolotang Indigenous Community's way of life, also affecting the Towani Tolotang Indigenous Community's view of the world or cosmo, which in turn will influence the meaning of the architecture of their house. The problem in this study is how the relationship between form, space and meaning in the Towani Tolotang traditional house and the influence of cosmology on its form and space. The purpose of this study was to identify the relationship between form, space and meaning and the influence of cosmology on the form and space of the Traditional Architecture of the Towani Tolotang Indigenous Community by using descriptive analysis. While data collection was done by interview and photo methods. The results of this study show that there are differences between the Uwwata, uwak and to sama houses, the Uwwata house is bigger than the uwwa house, has a tapping makampar and is on the watang pola. Main body of the house and Bola is not there or the house next door does not have a chair and table in the living room like the Bugis house in general, the watang pola and the siwali bola unite. The Outer Tapping is a place to receive guests who convey good news, while guests who go straight inside and sit on the inner tapping mean they are delivering sad news. Uwak has a long tapping on the body of the house while the house for to sama, some has tapping and some doesn't have tapping, short tapping is on the body of the house and has a living room in terms of the meaning of Towani Tolotang Architecture which still maintains its customs and sacred rituals Mappenre nanre, tudang sipulung, massarapo and Attorioloang led by Uwatta and Uwak.
ARSITEKTUR HUNIAN SUKU BAJO DESA TOROSIAJE DARI PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL BUDAYA BERMUKIM Laparaga, Kurniawan Oktavianto; Wikantari, Ria; Radja, Abdul Mufti
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2023): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v11i1.382

Abstract

Permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki keunikan tersendiri yaitu permukiman tersebut dibangun di atas laut yang benar-benar terpisah dari daratan serta sebagian besar daerahnya didominasi oleh perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengeksplorasi arsitektur hunian Suku Bajo di Desa Torosiaje dari perspektif kearifan lokal budaya bermukim. Metode penelitian ini menggunakan metode pengamatan alami dengan paradigma fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di dalam permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki empat rumah awal (1901) dan masih bertahan hingga saat ini (2022) meskipun sudah banyak mengalami perubahan. Sampai sekarang khususnya untuk ruang yang disebut Tingnga ma Dambila Kidal (kamar depan yang terletak di sebelah kiri di dalam sebuah rumah) dan teras depan (Bunda) serta teras belakang (Buliang), masih tetap diaplikasikan ke dalam empat bangunan yang ada; Jambata’ (ruang penghubung) terdapat Dego-dego yang menjadi tempat untuk masyarakat Suku Bajo melakukan interaksi sosial berupa Pupo’ Susurang; Tiang Bendera Batte selain menjadi simbol akan adanya permukiman, juga dijadikan sebagai ritual tolak bala oleh masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje.
ARSITEKTUR HUNIAN SUKU BAJO DESA TOROSIAJE DARI PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL BUDAYA BERMUKIM Laparaga, Kurniawan Oktavianto; Wikantari, Ria; Radja, Abdul Mufti
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2023): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v11i1.382

Abstract

Permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki keunikan tersendiri yaitu permukiman tersebut dibangun di atas laut yang benar-benar terpisah dari daratan serta sebagian besar daerahnya didominasi oleh perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengeksplorasi arsitektur hunian Suku Bajo di Desa Torosiaje dari perspektif kearifan lokal budaya bermukim. Metode penelitian ini menggunakan metode pengamatan alami dengan paradigma fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di dalam permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki empat rumah awal (1901) dan masih bertahan hingga saat ini (2022) meskipun sudah banyak mengalami perubahan. Sampai sekarang khususnya untuk ruang yang disebut Tingnga ma Dambila Kidal (kamar depan yang terletak di sebelah kiri di dalam sebuah rumah) dan teras depan (Bunda) serta teras belakang (Buliang), masih tetap diaplikasikan ke dalam empat bangunan yang ada; Jambata’ (ruang penghubung) terdapat Dego-dego yang menjadi tempat untuk masyarakat Suku Bajo melakukan interaksi sosial berupa Pupo’ Susurang; Tiang Bendera Batte selain menjadi simbol akan adanya permukiman, juga dijadikan sebagai ritual tolak bala oleh masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje.
Studi Latar Perilaku di Ruang Administrasi Departemen Arsitektur, Universitas Hasanuddin Ishak, Rahmi Amin; Wikantari, Ria; Harisah, Afifah; Radja, Abd. Mufti; Sir, Moh. Mochsen; Ramadhanti, Yusaumi Fitri
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 10 No. 1 (2021): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.475 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v10i01.13

Abstract

Ruang Administrasi Departemen Arsitektur Universitas Hasanuddin (Unhas) merupakan bagian dari fungsi ruang di Gedung Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Gowa yang memiliki intensitas aktivitas cukup tinggi. Sebagai fungsi administrasi, akademik, dan penunjang, ruang ini menjadi titik simpul pertemuan antara staf pegawai, dosen, dan mahasiswa. Terjadi pergeseran sifat ruang administrasi yang formal menjadi informal dengan adanya kegiatan lain. Studi ini bertujuan mengidentifikasi latar perilaku (behavior setting) pemanfaatan ruang kerja Departemen Arsitektur Unhas, dengan mengamati objek penelitian dan menjelaskan atau menggambarkan latar fisik ruang, dan latar perilaku pengguna ruang, serta menganalisis unsur-unsur atribut yang terjadi dalam ruang. Penelitian ini bersifat eksploratif-deskriptif, menggunakan teknik pengamatan pemetaan perilaku (behavior mapping) yang menekankan pada perilaku pengguna dalam suatu waktu di tempat tertentu (place-centered mapping), physical trace, dan time budget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan latar fisik ruang mempengaruhi perilaku pengguna dan membentuk pola perilaku dan konfigurasi peta mental yang cenderung terjadi berulang. Ruang kerja dan ruang tunggu cenderung fleksibel dan adaptabel, terdapat teritori pada area ruang kerja. Di ruang kerja tampak penggunaan ruang dalam satu latar mengalami proses identifikasi perilaku, namun identifikasi tersebut cenderung tidak berpengaruh pada latar ruang. The Administration Room of Architecture Department, Hasanuddin University (Unhas) is part of the function room in the Engineering Faculty Architecture Building, Hasanuddin University, Gowa, which has a high intensity of activity. As an administrative, academic and support function, this room becomes a meeting point between staff, lecturers, and students. There has been a change like formal administrative space to be informal with other activities. This study aims to identify the behavior settings of the workspace of the Architecture Department, by observing research objects, describing the physical setting of space and the behavior setting of space users, and analyzing elements of the attributes that occur in space. This research is explorative-descriptive, using behavior mapping observation techniques that emphasize user behavior at a particular time (place-centered mapping), physical trace, and time budget. The results showed that the tendency of a physical arrangement of space affects user behavior and forms behavioral patterns and mental map configurations that tend to repeat themselves. Workspaces and waiting rooms tend to be flexible and adaptable, there are areas in the workspace area. In the workspace, it appears that the use of space in one setting undergoes a process of identifying behavior, but such identification tends not to affect the spatial arrangement.