Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Architectural Sustainability of an Achmad Noe'man's Mosque Design Mannan, Abdul; Harisah, Afifah; Wikantari, Ria; Sir, Mohammad Mochsen
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 6 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i6.17071

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengeksplorasi penerapan konsep arsitektur keberlanjutan masjid yang dirancang oleh Achmad Noe'man. Penelitian ini menekankan metode penelitian deskriptif-kualitatif secara eksplorasi. Untuk mendapatkan data kualitatif, ia menggunakan studi literatur dan pengamatan arsitektur masjid yang dirancang oleh Achmad Noe'man sebagai objek kajian. Pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui observasi empiris di lapangan, pengambilan foto atau foto, dan wawancara mendalam dengan penekanan pada ekstraksi informasi, terutama fisik bangunan masjid dan aspek lainnya. Data primer adalah masjid yang dirancang oleh Achmad Noe'man. Data sekunder yang dikumpulkan berasal dari berbagai referensi literatur yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan konsep keberlanjutan arsitektur masjid Noe'man mencakup beberapa temuan. Ruangan tersebut dapat menghemat penggunaan energi karena suasana masjid yang sejuk dengan langit-langit yang tinggi, ventilasi silang, bukaan, dan lubang yang mengalirkan udara tanpa menggunakan AC. Ini mengesankan harmoni dan keramahan terhadap alam dengan menghijaukan dan menata halaman masjid dengan balok rumput dan bahan paving yang dapat menyerap air hujan.
Form, Space and Meaning of Traditional Architecture of Towani Tolotang Traditional Community Amparita Sidenreng Rappang Sani, Andy Sandra; Wikantari, Ria; Harisah, Afifah
ASTONJADRO Vol. 13 No. 1 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Towani Tolotang traditional community, which has traditional Bugis houses, is known for having houses with rounded pillars malibu lenrong, many squares and does not use glass as a window ornament so that it has a distinctive shape. When observing their way of life, the belief in Pengderreng or ade’ customs' greatly influenced the Towani Tolotang Indigenous Community's way of life, also affecting the Towani Tolotang Indigenous Community's view of the world or cosmo, which in turn will influence the meaning of the architecture of their house. The problem in this study is how the relationship between form, space and meaning in the Towani Tolotang traditional house and the influence of cosmology on its form and space. The purpose of this study was to identify the relationship between form, space and meaning and the influence of cosmology on the form and space of the Traditional Architecture of the Towani Tolotang Indigenous Community by using descriptive analysis. While data collection was done by interview and photo methods. The results of this study show that there are differences between the Uwwata, uwak and to sama houses, the Uwwata house is bigger than the uwwa house, has a tapping makampar and is on the watang pola. Main body of the house and Bola is not there or the house next door does not have a chair and table in the living room like the Bugis house in general, the watang pola and the siwali bola unite. The Outer Tapping is a place to receive guests who convey good news, while guests who go straight inside and sit on the inner tapping mean they are delivering sad news. Uwak has a long tapping on the body of the house while the house for to sama, some has tapping and some doesn't have tapping, short tapping is on the body of the house and has a living room in terms of the meaning of Towani Tolotang Architecture which still maintains its customs and sacred rituals Mappenre nanre, tudang sipulung, massarapo and Attorioloang led by Uwatta and Uwak.
ARSITEKTUR HUNIAN SUKU BAJO DESA TOROSIAJE DARI PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL BUDAYA BERMUKIM Laparaga, Kurniawan Oktavianto; Wikantari, Ria; Radja, Abdul Mufti
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2023): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v11i1.382

Abstract

Permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki keunikan tersendiri yaitu permukiman tersebut dibangun di atas laut yang benar-benar terpisah dari daratan serta sebagian besar daerahnya didominasi oleh perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengeksplorasi arsitektur hunian Suku Bajo di Desa Torosiaje dari perspektif kearifan lokal budaya bermukim. Metode penelitian ini menggunakan metode pengamatan alami dengan paradigma fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di dalam permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki empat rumah awal (1901) dan masih bertahan hingga saat ini (2022) meskipun sudah banyak mengalami perubahan. Sampai sekarang khususnya untuk ruang yang disebut Tingnga ma Dambila Kidal (kamar depan yang terletak di sebelah kiri di dalam sebuah rumah) dan teras depan (Bunda) serta teras belakang (Buliang), masih tetap diaplikasikan ke dalam empat bangunan yang ada; Jambata’ (ruang penghubung) terdapat Dego-dego yang menjadi tempat untuk masyarakat Suku Bajo melakukan interaksi sosial berupa Pupo’ Susurang; Tiang Bendera Batte selain menjadi simbol akan adanya permukiman, juga dijadikan sebagai ritual tolak bala oleh masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje.
ARSITEKTUR HUNIAN SUKU BAJO DESA TOROSIAJE DARI PERSPEKTIF KEARIFAN LOKAL BUDAYA BERMUKIM Laparaga, Kurniawan Oktavianto; Wikantari, Ria; Radja, Abdul Mufti
RADIAL : Jurnal Peradaban Sains, Rekayasa dan Teknologi Vol. 11 No. 1 (2023): RADIAL: JuRnal PerADaban SaIns RekAyasan dan TeknoLogi
Publisher : Universitas Bina Taruna Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37971/radial.v11i1.382

Abstract

Permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki keunikan tersendiri yaitu permukiman tersebut dibangun di atas laut yang benar-benar terpisah dari daratan serta sebagian besar daerahnya didominasi oleh perairan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mengeksplorasi arsitektur hunian Suku Bajo di Desa Torosiaje dari perspektif kearifan lokal budaya bermukim. Metode penelitian ini menggunakan metode pengamatan alami dengan paradigma fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa di dalam permukiman Suku Bajo di Desa Torosiaje memiliki empat rumah awal (1901) dan masih bertahan hingga saat ini (2022) meskipun sudah banyak mengalami perubahan. Sampai sekarang khususnya untuk ruang yang disebut Tingnga ma Dambila Kidal (kamar depan yang terletak di sebelah kiri di dalam sebuah rumah) dan teras depan (Bunda) serta teras belakang (Buliang), masih tetap diaplikasikan ke dalam empat bangunan yang ada; Jambata’ (ruang penghubung) terdapat Dego-dego yang menjadi tempat untuk masyarakat Suku Bajo melakukan interaksi sosial berupa Pupo’ Susurang; Tiang Bendera Batte selain menjadi simbol akan adanya permukiman, juga dijadikan sebagai ritual tolak bala oleh masyarakat Suku Bajo di Desa Torosiaje.