Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

INOVASI PEMBELAJARAN: MENGENALKAN FLEXIBLE LEARNING SEBAGAI PINTU GERBANG BLENDED LEARNING BAGI MAHASISWA BARU UKSW Nababan, Kristina Roseven; Sasi, Galuh Ambar; Permatasari, Carolina Lita
Suluh Abdi Vol 5, No 2 (2023): SULUH ABDI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sa.v5i2.7123

Abstract

Konsep Blended Learning sebagai alternatif pendidikan yang menjanjikan dengan menggabungkan pembelajaran daring (online) dengan interaksi tatap muka (offline), sehingga membentuk pengalaman belajar yang komprehensif dan terintegrasi. Blended Learning memadukan konsep pembelajaran berbasis teknologi sehingga dibutuhkan platform pembelajaran atau e-learning untuk dapat  menyampaikan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan mahasiswa juga untuk memudahkan serta mewujudkan tercapainya pemahaman materi kepada mahasiswa, menciptakan suasana pembelajaran efektif, kreatif dan menciptakan kemampuan penguasaan teknologi pada diri mahasiswa. UKSW menyediakan Learning Management System Flexible Learning (F-Learn) sebagai platform pembelajaran. Fitur yang disediakan perlu dipelajari oleh mahasiswa terutama mahasiswa baru sehingga diperlukan pendampingan dan pelatihan bagi para mahasiswa baru UKSW. Melalui penerapan flexible learning, pendekatan blended learning diperkenalkan secara holistik, memberikan pengalaman belajar yang terpadu antara pembelajaran daring dan tatap muka. Peran dosen sebagai fasilitator memiliki peran penting dalam membimbing mahasiswa dalam memahami dan mengakses platform flexible learning. Inovasi pembelajaran dapat membuka pintu gerbang menuju pembelajaran blended yang lebih efektif dan interaktif. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan adaptasi dalam lingkungan pembelajaran yang semakin beragam untuk menghadapi tuntutan pendidikan tinggi di era digital.
Tradisi lisan bencana alam di Gunung Telomoyo: studi awal Sasi, Galuh Ambar; Setiyono, Nabella Angellita; Anggoro, Juhan Abel; Wulandari, Sahesti Sri; Uropmabin, Deden
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 17, No 2 (2023): Dinamika Ekologi di Indonesia: Sejarah, Budaya dan Permasalahannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v17i22023p152-163

Abstract

Indonesia is rich in oral traditions. One of them is about natural disasters. Unfortunately, these traditions are often considered non-historical.  As a result, local people's awareness of disasters is low. In this regard, this paper attempts to revisit oral traditions about natural disasters on Mount Telomoyo, the most hospitable mountain in Central Java. Using the corpus analysis method of oral tradition research data, we make three findings. Firstly, natural disasters that occur on Mount Telomoyo are volcanic eruptions, landslides, earthquakes, cold lava and flash floods. These disasters are present in babad or oral history stories, literary works in the form of orally transmitted songs, ceremonies, prayers, knowledge about the village landscape, tax documents, local advice, folklore, and historical gossip. Second, natural disasters as a marker of the transition of power and the balance of the cosmos caused by behavioural deviations. Third, the oral tradition of natural disasters in Mount Telomoyo also represents knowledge about the path of earthquakes.  Indonesia kaya akan tradisi lisan. Salah satunya adalah tentang bencana alam. Sayangnya, tradisi tersebut kerap kali dianggap bukan sejarah.  Akibatnya, kesadaran masyarakat lokal terhadap bencana pun rendah. Sehubungan dengan hal tersebut, tulisan ini mencoba mengkaji kembali tradisi lisan tentang bencana alam Gunung Telomoyo, gunung yang dianggap paling ramah di Jawa Tengah. Dengan menggunakan metode analisis korpus data penelitian tradisi lisan, kami menghasilkan tiga temuan. Pertama, bencana alam yang terjadi di Gunung Telomoyo adalah letusan gunung berapi, tanah longsor, gempa bumi, lahar dingin, dan banjir bandang. Bencana-bencana ini hadir dalam babad atau cerita sejarah lisan, karya sastra dalam bentuk nyanyian yang diwariskan secara lisan, upacara, doa, pengetahuan tentang lanskap desa, dokumen pajak, petuah-petuah lokal, cerita rakyat, dan gosip sejarah. Kedua, bencana alam sebagai penanda peralihan kekuasaan dan keseimbangan kosmos yang disebabkan oleh penyimpangan perilaku. Ketiga, tradisi lisan bencana alam Telomoyo juga merepresentasikan pengetahuan tentang jalur terjadinya gempa.
Gethok Tular: A Source of Self-Care Knowledge for Older Women with Hypertension in Rural Areas Rayanti, Rosiana Eva; Werfete, Rivaldy Alfrets; Sasi, Galuh Ambar; Raswandaru, Marsela Riska
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v11i1.789

Abstract

Aims: This study explores the role of gethok tular (oral tradition) in promoting self-care management among elderly Javanese women with hypertension in rural areas, where access to health information remains limited despite existing education programs. Methods: This study employed a qualitative ethnographic approach conducted between January and June 2022. Data were collected through in-depth interviews and observations involving five elderly women in Ngrawan Village, Semarang Regency. To ensure triangulation, additional insights were gathered from midwives and posbindu (integrated healthcare posts for non-communicable diseases) cadres. The participants were Javanese women aged 60 years or older, born and residing in Ngrawan Village, diagnosed with hypertension for more than two years, and actively participating in posbindu activities. Content analysis was used to interpret the data. Results: Gethok tular facilitates the informal exchange of hypertension-related knowledge, particularly during interactions at posbindu sessions. Despite limited understanding of hypertension, participants practiced self-care by staying active, attending check-ups, and using herbal remedies like soursop and avocado leaves to manage symptoms. Conclusion: The gethok tular tradition offers a culturally relevant method for disseminating health information and improving self-care practices in rural communities. This approach holds potential for integration into community-based health programs.
PENDAMPINGAN DAN PENGAYAAN MATERI PELAJARAN IPS-SEJARAH BAGI PESERTA DIDIK SD DAN SMP DI KOTA SALATIGA MELALUI METODE EKSKURSI Wahyu Purwiyastuti; Firosalia Kristin; Galuh Ambar Sasi
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v13i1.62445

Abstract

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan untuk memberikan pendampingan dan pengayaan materi pelajaran IPS-Sejarah kepada peserta didik SD dan SMP di Kota Salatiga. Tim pengabdian memberikan stimulus membangun ketrampilan berpikir sejarah dan menghadirkan layanan “Bengkel Sejarah” sebagai ruang lokakarya kesejarahan. Di bengkel tersebut, peserta didik maupun guru IPS dapat melakukan maintenance proses pembelajarannya. Metode pendampingan dipraktikkan melalui beberapa tahap. Pertama, membangun motivasi peserta didik, dilanjutkan Focus Group Discusion (FGD) bersama guru IPS, berlatih problem solving, dan webinar “Kebangsaan Indonesia”, melakukan kunjungan ekskursi kesejarahan, serta memproduksi historiografi. Kegiatan berlangsung baik dan mendapat umpan balik berupa rekomendasi untuk melanjutkan pendampingan periode berikutnya. Hasil PkM adalah munculnya pemahaman bahwa pelajaran sejarah yang terintegrasi dengan IPS tidak dipelajari dengan cara menghafal. Metode ekskursi dinilai relevan dan bermanfaat untuk membantu mengimajinasikan fakta sejarah sehingga peserta didik mampu menulis historiografi secara logis kritis.
Gethok Tular: A Source of Self-Care Knowledge for Older Women with Hypertension in Rural Areas Rayanti, Rosiana Eva; Werfete, Rivaldy Alfrets; Sasi, Galuh Ambar; Raswandaru, Marsela Riska
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v11i1.789

Abstract

Aims: This study explores the role of gethok tular (oral tradition) in promoting self-care management among elderly Javanese women with hypertension in rural areas, where access to health information remains limited despite existing education programs. Methods: This study employed a qualitative ethnographic approach conducted between January and June 2022. Data were collected through in-depth interviews and observations involving five elderly women in Ngrawan Village, Semarang Regency. To ensure triangulation, additional insights were gathered from midwives and posbindu (integrated healthcare posts for non-communicable diseases) cadres. The participants were Javanese women aged 60 years or older, born and residing in Ngrawan Village, diagnosed with hypertension for more than two years, and actively participating in posbindu activities. Content analysis was used to interpret the data. Results: Gethok tular facilitates the informal exchange of hypertension-related knowledge, particularly during interactions at posbindu sessions. Despite limited understanding of hypertension, participants practiced self-care by staying active, attending check-ups, and using herbal remedies like soursop and avocado leaves to manage symptoms. Conclusion: The gethok tular tradition offers a culturally relevant method for disseminating health information and improving self-care practices in rural communities. This approach holds potential for integration into community-based health programs.
Narratives and Contextualisation Gaps: A Preliminary Exploration of East Asian History Teaching Sasi, Galuh Ambar
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 15 No 3 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.js.2025.v15.i3.p309-317

Abstract

Asia Timur adalah kawasan yang memiliki pengaruh besar di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Beberapa akademisi telah melakukan kajian itu,. Indonesia bahkan memiliki pusat studi, program master, bahkan mata kuliah wajib tentangnya. Sekalipun demikian, belum ada kajian tentang bagaimana kawasan ini dalam pelajaran sejarah di Indonesia. Berangkat dari hal itu, penulis mengombinasikan metode analisis korpus terhadap buku pelajaran sejarah di Sekolah Menengah dan wawancara terhadap guru pengampu mata pelajaran tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku mata pelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas di Indonesia paling banyak mendiskusikan Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Adapun pengajaran tentang kawasan ini berpusat pada periode penjajahan Jepang di Indonesia. Oleh karena itu, penulis berargumen bahwa perlu ada kerja sama antara sekolah dan universitas untuk pengembangan materi kontekstual tentang kawasan tersebut serta mmengontekstualkan isu-isu internasional ataupun regional tentangnya dengan realitas lokal.
KEBIASAAN MAKAN SUKU ALUNE DENGAN HIPERURISEMIA Rayanti, Rosiana Eva; Ubro, Maya Santika; Sasi, Galuh Ambar
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jikeperawatan.v9i2.1251

Abstract

Maluku Province has the highest incidence of hyperuricemia in Indonesia. The people of Maluku, including the Alune Tribe in Elpaputih Village, Seram Regency, have eating habits related to the local culture and traditions. Eating habits in hyperuricemia patients can trigger an increase or decrease in uric acid levels. The research aims to explore the eating habits of hyperuricemia patientsin the Alune tribe. The research method is descriptive qualitative. This research explores the eating habits among ten housewives. Criteria for participants are people with hyperuricemia in the family based on community health center data. Source triangulation used through community health center data on hyperuricemia, in-depth interviews, observation and thematic analysis. The results showed the concept of food, coconut milk as a favorite food and food setup for families with hyperuricemia. The food concept of the Alune Tribe is hereditary, putus asa, kumpul basudara, and bayah seram. Hereditary means the types of food are passed down from ancestors. Next, putus asa is introducing local foods such as papeda/sago porridge to children. Kumpul basudara is a symbol of brotherhood. Bayah seram concept is a particular tradition of the Alune people to prevent danger. Women have a position and role in food production with family food recipes from generation to generation, especially foods containing coconut milk. Women use food sources around the house and process them using firewood and a stove. Prevention of hyperuricemia through reducing food portions and food substitution. Tribal eating habits depend on cultural characteristics and geographic location.
Gethok Tular: A Source of Self-Care Knowledge for Older Women with Hypertension in Rural Areas Rayanti, Rosiana Eva; Werfete, Rivaldy Alfrets; Sasi, Galuh Ambar; Raswandaru, Marsela Riska
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 11 No. 1 (2025): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v11i1.789

Abstract

Aims: This study explores the role of gethok tular (oral tradition) in promoting self-care management among elderly Javanese women with hypertension in rural areas, where access to health information remains limited despite existing education programs. Methods: This study employed a qualitative ethnographic approach conducted between January and June 2022. Data were collected through in-depth interviews and observations involving five elderly women in Ngrawan Village, Semarang Regency. To ensure triangulation, additional insights were gathered from midwives and posbindu (integrated healthcare posts for non-communicable diseases) cadres. The participants were Javanese women aged 60 years or older, born and residing in Ngrawan Village, diagnosed with hypertension for more than two years, and actively participating in posbindu activities. Content analysis was used to interpret the data. Results: Gethok tular facilitates the informal exchange of hypertension-related knowledge, particularly during interactions at posbindu sessions. Despite limited understanding of hypertension, participants practiced self-care by staying active, attending check-ups, and using herbal remedies like soursop and avocado leaves to manage symptoms. Conclusion: The gethok tular tradition offers a culturally relevant method for disseminating health information and improving self-care practices in rural communities. This approach holds potential for integration into community-based health programs.
TELUSUR.KOTA: PENGUATAN IDENTITAS “SALATIGA KOTA TOLERAN” DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN PERDAMAIAN BERKELANJUTAN Ismoyo, Petsy Jessy; Prakosa, Abel Jatayu; Sasi, Galuh Ambar; Lado Ae, Rikko Yan; Harvanda, Visianya Agusti
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.59563

Abstract

The initiative to strengthen Salatiga's identity as the "City of Tolerance" through a historical city tour is a vital modality for peacebuilding. Salatiga, with its rich cultural tapestry and historical significance, is increasingly recognised for its harmonious coexistence among diverse communities. This project aims to highlight the city's multicultural heritage, showcasing its colonial architecture and historical sites that reflect a legacy of tolerance and cooperation. By organising guided tours that explore Salatiga's historical landmarks, such as colonial-era buildings and local cultural sites, participants—particularly young people—can engage with the city's narrative of unity amidst diversity. These tours will not only educate visitors about Salatiga's past but also foster dialogue among different community groups, enhancing mutual understanding and respect. Moreover, the project emphasises the importance of historical tours in peacebuilding efforts, encouraging civic engagement in building inclusive narratives. This grassroots approach is crucial for promoting an inclusive identity that resonates with both locals and visitors. In conclusion, the historical city tour is more than just a cultural exploration; it is a strategic effort to reinforce Salatiga's image as a beacon of tolerance and peace. By celebrating its history and fostering community engagement, Salatiga can position itself as a model for peaceful coexistence in Indonesia and beyond.Inisiatif untuk memperkuat identitas Salatiga sebagai “Kota Toleran” melalui tur kota bersejarah merupakan modal penting bagi pembangunan perdamaian. Salatiga, dengan kekayaan budaya dan nilai historisnya yang tinggi, semakin dikenal sebagai kota yang hidup berdampingan secara harmonis di antara berbagai komunitas. Proyek ini bertujuan untuk menyoroti warisan multikultural kota ini, dengan menampilkan arsitektur kolonial dan situs-situs bersejarah yang mencerminkan warisan toleransi dan kerja sama. Dengan menyelenggarakan tur berpemandu yang menjelajahi landmark bersejarah Salatiga, seperti bangunan era kolonial dan situs budaya lokal, sasaran kegiatan ini yang merupakan anak muda dapat terlibat dalam narasi persatuan kota di tengah keberagaman. Tur ini tidak hanya mengedukasi pengunjung tentang sejarah Salatiga, tetapi juga mendorong dialog di antara berbagai kelompok masyarakat, meningkatkan rasa saling pengertian dan rasa hormat. Selain itu, proyek ini menekankan pentingnya wisata sejarah dalam upaya pembangunan perdamaian, mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun narasi yang inklusif. Pendekatan akar rumput ini sangat penting untuk mempromosikan identitas inklusif yang beresonansi dengan penduduk setempat dan pengunjung. Kesimpulannya, tur kota bersejarah lebih dari sekadar eksplorasi budaya; ini adalah upaya strategis untuk memperkuat citra Salatiga sebagai mercusuar toleransi dan perdamaian. Dengan merayakan sejarahnya dan mendorong keterlibatan masyarakat, Salatiga dapat memposisikan diri sebagai model untuk hidup berdampingan secara damai di Indonesia dan sekitarnya.
Sinergi Kampus dan Komunitas: Aksi Cegah PTM Melalui Posbindu di Desa Ngrawan Rayanti, Rosiana Eva; Natalia, Theresia Destin; Noya, Wilda Pascalia; Natawirarindry, Catherine; Yanto, Oliviani; Sasi, Galuh Ambar; Laksono, Dwi
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SISTHANA Vol. 7 No. 2 (2025): Desember : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Sisthana
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/pkmsisthana.v7i2.2105

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia yang berdampak besar terhadap kualitas hidup masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedesaan. Upaya pencegahan dan peningkatan kesadaran dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin menjadi strategi dalam menurunkan risiko PTM pada berbagai kelompok usia. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan guna mendeteksi faktor risiko PTM melalui pengukuran kadar asam urat, kolesterol, glukosa darah, tekanan darah, serta pengukuran antropometrik (berat badan dan tinggi badan). Metode: Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara kampus dan Posbindu di Desa Ngrawan, Jawa Tengah pada bulan Juli-September 2024. Pemeriksaan dilakukan terhadap tekanan darah, kadar glukosa, asam urat, kolesterol, berat, dan tinggi badan. Data dianalisis secara deskriptif untuk memetakan risiko PTM pada kelompok usia produktif dan lanjut usia. Hasil: Sebanyak 70 warga mengikuti pemeriksaan, terdiri atas 59% usia lanjut dan 41% usia produktif, dengan mayoritas perempuan (90%). Sebagian besar kadar asam urat dan glukosa normal, namun ditemukan kolesterol tinggi pada usia produktif (45%) dan lanjut usia (67%), serta hipertensi pada kedua kelompok (66% dan 59%). Kesimpulan: Kegiatan kolaboratif antara kampus dan Posbindu di Desa Ngrawan menunjukkan partisipasi masyarakat yang tinggi serta mengungkap potensi risiko hipertensi dan kolesterol tinggi. Sinergi ini menegaskan kebutuhan penguatan kader dan keberlanjutan Posbindu dalam deteksi dini dan pencegahan PTM di pedesaan.