Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : PERANAN

Pembesaran Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Keramba Jaring Apung dengan Penambahan Shelter Trisia Virnanda; Pindo Witoko; Dian Febriani
Jurnal Perikanan Terapan Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peranan.v1i1.1461

Abstract

Potensi pengembangan budidaya udang vaname di Indonesia saat ini masih terus berkembang. Salah satu pengembangan budidaya udang vaname yaitu teknik pembesaran di keramba jaring apung dengan penambahan shelter. Penerapan teknik penambahan shelter ini diharapkan dapat mengatasi sifat kanibalisme pada udang vaname. Penerapan shelter pada budidaya udang vaname di keramba jaring apung (KJA) bertujuan untuk mengetahui respon terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan feed conversion ratio (FCR). Materi yang digunakan yaitu benih udang vaname, pakan udang, keramba jaring apung berukuran 3 x 3 m, waring berukuran 3 x 3 x 3 m, pemberat jaring berbobot 2 kg, tali tambang dan shelter berukuran 2 x 2 m, scopnet, timbangan digital, serta perlengkapan lainnya.. Pengembangan teknik teknik pembesaran di keramba jaring apung dengan penambahan shelter mengasilkan Average Daily Growth sebesar 0,8 gram/hari, tingkat kelangsungan hidup sebesar 18,2 %, dan Feed Convertion Ratio sebesar 3,6.
Komposisi Kimia Daging Udang Vanamei Dan Udang Windu Dengan Sistem Budidaya Keramba Jaring Apung Aldi Huda Verdian; Pindo Witoko; Rahmadi Aziz
Jurnal Perikanan Terapan Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.501 KB) | DOI: 10.25181/peranan.v1i1.1479

Abstract

Salah satu terobosan untuk meningkatkan produksi udang adalah memanfaatkan laut dengan keramba jaring apung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan komposisi kimia dari udang putih (Litopenaeus vannamei) dan daging udang windu (Penaeus monodon) yang dibudidayakan di keramba jaring apung. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa daging udang putih memiliki kandungan protein dan abu yang lebih tinggi daripada daging udang windu. Komposisi langsung pada otot udang diatur oleh banyak faktor, termasuk spesies, tahap pertumbuhan, pakan dan musim.
Pemberian Probiotik dalam Pendederan Ikan Gurame (Osphronemus gouramy) Tahap III di kolam Terpal Dengan Padat Tebar Optimal Ari Yudatama; Pindo Witoko; Dian Febriani
Jurnal Perikanan Terapan Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peranan.v2i1.2357

Abstract

Ikan gurame merupakan jenis ikan konsumsi yang banyak diminati. Akan tetapi dalam budidaya memiliki kendala yaitu pertumbuhannya yang lambat. Salah satu pemecahan masalahnya adalah dengan pemanfaatan probiotik pada pakan. Probiotik merupakan mikroba hidup yang bersifat menguntungkan dan memberikan dampak bagi peningkatan keseimbangan mikroba saluran usus ikan dan memperbaiki kualitas air. Dosis probiotik yang diberikan 4ml/1 kg pakan dengan cara menyemprotkan ke permukaan pakan yang diberikan. Sebelum dilakukan penyemprotan, bakteri probiotik dicampurkan dengan molase 100 ml dan air tawar sebanyak 12ml kemudian disemprotkan ke 1 kg pakan yang kemudian di kering anginkan. Pemeliharaan benih ikan gurame dilakukan di kolam beton ukuran 3x1 m dan padat penebaran perlakuan yaitu 60 ekor/m2 yang dipelihara selama 40 hari. Benih gurame diberi makan 3 kali sehari sebanyak 5% dari bobot biomassa. Selama pemeliharaan hasil pertumbuhan yang didapatkan yaitu pertambahan panjang dari awal tebar 3,93 cm sampai panen 6,60 cm. Pertambahan berat dari 2,85 g sampai 5,75 g. Laju pertumbuhan panjang harian mencapai 0,3-2,8%, nilai FCR (Food Convertion Ratio) 1,8 serta tingkat kelulusan hidup ikan gurame mencapai 53,5%.
Penambahan Probiotik Em4 dan Bacillus sp Pada Pakan Buatan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Post Larva Udang Vaname Yoka Agustama; Tiara Abung Lestari; Aldi Huda Verdian; Pindo Witoko; Eulis Marlina
Jurnal Perikanan Terapan Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.898 KB)

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) Stadia Post Larva sangat rentan terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Sehingga Pakan Biasa tidak cukup untuk memenuhi Kelangsungan Hidup udang vaname. Dengan Keadaan tersebut kita dapat memanfaatkan Pengaplikasian Probiotik Em4 dan Bacillus sp terhadap pakan buatan dengan Tujuan Untuk Mengetahui Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup udang vaname. Penelitian ini Bertujuan untuk mengetahui Keberhasilan Pemberian Probiotik em4 danBacillus sp pada Pakan Buatan dan melakukan perbandingan dengan pemberian pakan pada udang tanpa pengaplikasian Probiotik. yang dilakukan adalah Persiapan Media, Pembuatan dan Penambahan Bacillus sp pada pakan Udang, Penebaran benur, pemeliharaan udang, pengamatan sampling, pengamatan kualitas air, dan Pemanenan. penebaran benur sebanyak 50 ekor dalam 1 Akuarium stadia post larva 7 udang vaname dan pemberian Probiotik Bacillus sp dengan Dosis 20 mL/kg pakan dan dosis em4 dengan dosis 15 ml/kg pakan. Data Survival Rate (SR) Akuarium Pemberian Probiotik Bacillus sp pada pakan buatan Udang Vaname yaitu 80%, Berat rata-rata 2,96 gram, Pertumbuhan Panjang Udang rata-rata 10,4. kemudian data Survival Rate (SR) Akuarium terkontrol yaitu 60%, berat rata-rata 2,77 gram, pertumbuhan panjang rata-rata 7,39 cm.  kemudian untuk hasil dengan penambahan probiotik em4 data Survival Rate (SR) Akuarium Pemberian Probiotik em4 pada pakan buatan Udang Vaname yaitu 64 %, Berat rata-rata 3,11 gram, Pertumbuhan Panjang Udang rata-rata 9,07 cm.
PEMBERIAN Lactobacillus sp. PADA PAKAN UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI TAMBAK INTENSIF juna, Junaidi; Witoko, Pindo; Indariyanti, Nur
Jurnal Perikanan Terapan Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peranan.v3i1.2727

Abstract

White shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the economically important shrimp that has several advantages including tolerance of water conditions, can grow quickly, and thick flesh. One of the problems in white shrimp cultivation is the slow growth of white shrimp due to inappropriate feed management. The addition of grampositive bacteria to the feed is scientifically believed to increase the growth of white shrimp. Among the grampositive bacteria that are commonly added to white shrimp aquaculture activities, namely Lactobacillus sp., this bacterium has many advantages for the survival of white shrimp in aquaculture activities. The addition of Lactobacillus sp. can increase the digestibility of feed due to simplification of complex proteins into simpler proteins so that the feed is easily absorbed by white shrimp. The results obtained from the administration of Lactobacillus sp. bacteria in the feed were getting very good growth results, the growth results from the lowest to the highest were A1 = 23.8 grams/head, A2=28.1 gram/head, A3=24.3 gram/head, A4=22.1 gram/head, A5=22.4 gram/head, A6=18.8 gram/head.
Penggunaan Automatic Feeder Terhadap Pertumbuhan Dan Rasio Konversi Pakan Pada Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Siswoyo, Siswoyo; Witoko, Pindo; Mahmuda Noor, Nuning; Huda Verdian, Aldi
Jurnal Perikanan Terapan Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peranan.v3i1.2713

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) banyak dibudidayakan di Indonesia. Budidaya udang yang semakin pesat sehingga pakan menjadi variabel terbesar dalam biaya produksi yaitu mencapai 50-60, sehingga perlu adanya sebuah teknologi yang dapat mengontrol dalam proses pemberian pakan udang. Automatic feeder adalah mesin pemberi pakan otomatis yang bekerja menggunakan tenaga listrik dan dapat diatur waktu pemberian pakan dan jumlah pakan yang diberikan. Pemeliharaan menggunakan kolam HDPE dengan penebaran 189 ekor/m² dengan dua perlakuan dan tiga ulangan, perlakuan yang dilakuakan yaitu : M (pemberian pakan manual) dan A (menggunakan automatic feeder). Benur yang digunakan PL-10. Pemeliharaan selama 63 hari. Dari hasil  pemeliharaan nilai rata-rata bobot udang dengan perlakuan metode pemberian pakan automatic feeder pada kolam A1 yaitu 17,61 gram, SR 44,1% dan FCR 1,23. Kolam A2 ABW akhir 12,06 gram, SR 68,2% dan FCR 1,27. Kolam A3 ABW akhir 15,94 gram, SR 54% dan FCR 1,21. Pada perlakuan metode pemberian pakan manual ABW akhir pada kolam M1 yaitu 14,16 gram, SR 39,8% dan FCR 1,43. Kolam M2 ABW akhir 9,94, SR 55,1% dan FCR 1,32. Kolam M3 ABW akhir 16,46 gram, SR 21,9% dan FCR 1,55. 
Pemberian Lactobacillus sp. Pada Pakan Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Di Tambak Intensif Witoko, Pindo; Indariyanti, Nur; Junaidi, Junaidi
Jurnal Perikanan Terapan Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/peranan.v3i1.4030

Abstract

White shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the economically important shrimp that has several advantages including tolerance of water conditions, can grow quickly, and thick flesh. One of the problems in white shrimp cultivation is the slow growth of white shrimp due to inappropriate feed management. The addition of gram-positive bacteria to the feed is scientifically believed to increase the growth of white shrimp. Among the gram-positive bacteria that are commonly added to white shrimp aquaculture activities, namely Lactobacillus sp., this bacterium has many advantages for the survival of white shrimp in aquaculture activities. The addition of Lactobacillus sp. can increase the digestibility of feed due to simplification of complex proteins into simpler proteins so that the feed is easily absorbed by white shrimp. The results obtained from the administration of Lactobacillus sp. bacteria in the feed were getting very good growth results, the growth results from the lowest to the highest were A1 = 23.8 grams/head, A2=28.1 gram/head, A3=24.3 gram/head, A4=22.1 gram/head, A5=22.4 gram/head, A6=18.8 gram/head.
PEMELIHARAAN LARVA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) DENGAN GENETIKA BERBEDA Subhan, Rio Yusufi; Witoko, Pindo; Kurniawan, Ilham Hadi
Jurnal Perikanan Terapan Vol 4 No 1 (2023): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vannamei shrimp is a prospective commodity that continues to be cultured intensively in Indonesia. Efforts to produce vannamei shrimp fry are an activity that continues to be developed by stakeholders, including efforts to improve genetics. Apart from a good aquaculture system, genetics is also an important factor in the success of vannamei shrimp culture. This research was conducted at CV. Manunggal Rasa with a research design carried out using a comparison of 2 genetics of vannamei shrimp larvae, namely American Penaeid, Inc (API) and Benchmark Genetics (BM) with a stocking density used of 40,000 individuals/m2 in each pond with an area of 25 m2. Rearing vannamei shrimp fry for 4 cycles provided several differences in the observation of absolute length growth and survival rate. The absolute length growth of the API genetic vannamei shrimp fry was 5.68 mm, while the BM genetics was 6.16 mm. The survival rate in each cycle is cycle 1 (API 89.9% and BM 93.1%), cycle 2 (API 91.4% and BM 95.6%), cycle 3 (API 88.9% and BM 89 .7%) and cycle 4 (API 93.2% and BM 94.6%). The water quality for each cycle is calculated to be optimal, namely ranging from 27-31oC (temperature), 4.5-5 ppm (DO), 30 ppt (salinity), 0-0.1 ppm (ammonia) and 7.9-8.3 (pH).
MASKULINISASI IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp.) MENGGUNAKAN PROPOLIS DENGAN METODE PERENDAMAN LARVA DAN PAKAN Witoko, Pindo; Noor, Nuning Mahmudah; Aziz, Rahmadi; Pramesthye, Errisha Ardhia; Pratama, Rizal Aditia Pratama
Jurnal Perikanan Terapan Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red tilapia (Oreochromis sp.) is the result of a cross between tilapia O. mozambicus and fish. tilapia O. niloticus. The advantages of tilapia are its relatively fast growth and relatively easy maintenance, as well as having a significant tolerance to environmental conditions. The growth rate of male fish is higher than that of females. Hormonal stimulants for male sexual orientation can be derived from natural ingredients, namely propolis. Propolis has advantages, including being safe for consumption, relatively inexpensive, and environmentally friendly. Treatment of propolis through immersion and artificial feed on red tilapia (Oreochromis sp.) seeds at a dose of 0.1 ml/L and 2.7 ml/kg of feed resulted in a male sex percentage of 85%, SR 100%, FCR treatment A (1 .43) and treatment B (1.34).
MASKULINISASI IKAN NILA MERAH (Oreochromis sp.) MENGGUNAKAN PROPOLIS YANG DICAMPUR KE DALAM PAKAN BUATAN Witoko, Pindo; Noor, Nuning Mahmudah; Pramesthye, Errisha Ardhia; Pratama, Rizal Aditia; Aziz, Rahmadi
Jurnal Perikanan Terapan Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Perikanan Terapan
Publisher : Politeknik Negeri Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masculinization is one of the efforts to increase the number of male fish by giving treatment to direct the fish to become male. Masculinization was carried out using Propolis Melia at a treatment dose of 2.7 mL/kg feed with 3 replications. The goal is to produce a male sex ratio and the survival of tilapia. With maintenance for 4 weeks with at-satiation feeding. The results of the percentage of male sex with the treatment dose used were 2.7 mL/kg of feed for repetition 1 (80%), repetition 2 (80%) and repetition 3 (85%) and survival rate 100%.