Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK PEKERJA DAN PERILAKU PEKERJA DENGAN TINGKAT RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI PT X Kadek Agus Budhiadnya; Meily Kurniawidjaja
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 2 (2022): AGUSTUS 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i2.5022

Abstract

Penyakit jantung koroner adalah jenis penyakit jantung yang paling umum, membunuh 360.900 orang pada 2019. Penelitian menunjukkan sekitar 80 persen dari semua penyakit kardiovaskular dapat dicegah dengan mengendalikan tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi, bersama dengan mengadopsi perilaku gaya hidup sehat seperti tidak merokok. Di PT X, PJK masih merupakan penyebab utama kematian pekerja, data 7 tahun terakhir kasus jantung 95 dan 10 kematian. Karena itu, penting untuk melihat bagaimana hubungan karakteristik dan perilaku terhadap PJK. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain studi cross sectional perusahaan PT X di Kalimantan Timur pada data medis. Penelitian ini menggunakan JCS sebagai alat untuk mengambil data penelitian, Jumlah sampel yang diambil adala sejumlah 250. Hasil analisis, didapatkan faktor risiko dominan yang dapat dimodifikasi yaitu variabel kebiasaan merokok karena memiliki nilai Odds Ratio tertinggi yaitu sebesar 7,930 (95% CI: 4,130 – 15,250). Faktor risiko dominan yang tidak dapat dimodifikasi yaitu variabel umur karena memiliki nilai Odds Ratio sebesar 6,126 (95% CI: 3,352 – 11,195). Faktor kebiasaan merokok menjadi salah satu faktor yang signifikan dalam penelitian. Perusahaan sebaiknya menyusun program kesehatan kerja yang mengatur mengenai kebiasaan merokok seperti program berhenti merokok, penegasan area-area dilarang merokok, dan promosi Kesehatan bahaya rokok di PT X
Nyeri Punggung Bawah pada Pekerja Perkantoran: A Systematic Review St. Rahmawaty; L. Meily Kurniawidjaja
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2022): December
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v6i2.581

Abstract

Nyeri Punggung Bawah (NPB) merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi para pekerja perkantoran, membuat seseorang merasa terganggu dan tidak nyaman sehingga bisa mengganggu produktivitas pekerjaannya. Menurut WHO, secara global gangguan muskuloskeletal dialami sekitar 1,71 miliar orang di seluruh dunia, dengan nyeri punggung bawah sebagai kontributor utama kecacatan di 160 negara dan membutuhkan layanan rehabilitasi di 134 dari 204 negara yang dianalisis. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan faktor risiko nyeri punggung bawah pada pekerja perkantoran. Penelitian ini merupakan systematic review menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analyses) dengan dua database yaitu PubMed dan Science Direct. Rentang waktu yang digunakan adalah 2017 – 2022. Kata kunci yang digunakan “Low Back Pain” OR “Office Workers” menghasilkan 7 artikel yang dapat dianalisis dan membahas faktor risiko yang berhubungan dengan nyeri punggung bawah pada pekerja perkantoran. Empat jurnal termasuk dalam Q1 dan tiga jurnal lainnya termasuk Q2. Faktor risiko nyeri punggung bawah pada pekerja perkantoran berdasarkan hasil systematic review ini yaitu faktor individu (usia, jenis kelamin, Pendidikan), faktor gaya hidup (merokok, aktivitas fisik), faktor pekerjaan (posisi duduk, durasi duduk, frekuensi istirahat, kursi kerja) dan faktor psikologis (stress dan depresi). Kejadian nyeri punggung bawah pada pekerja perkantoran perlu dikendalikan agar meningkatkan produktivitas kerja, seperti melakukan stretching setiap 2 jam sekali di tengah pekerjaan, mengoreksi postur janggal pekerja, memodifikasi peralatan kantor khususnya kursi ergonomis dan sesuai dengan ukuran pekerja.
Religious Coping Strategies For Nurses’ Work Related Stress: A Scoping Review Ika Nopa; L Meily Kurniawidjaja; Dadan Erwandi
Contagion: Scientific Periodical Journal of Public Health and Coastal Health Vol 5, No 2 (2023): CONTAGION
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/contagion.v5i2.15197

Abstract

Stress was recognized internationally as a work hazard for nurses, but effective coping can prevent work stress. Religious coping is the type of emotional coping that is widely used by nurses. A compilation of studies related to the role of religious coping in nurses’ work-related stress is still limited. The purpose of this scoping review is to determine the use of religious coping technique in nurses and its impact on stress. Methods: This scoping review was carried out following the PRISMA Statement recommendations checklist, Items for Systematic Reviews, and Meta-Analyses—Extension for Scoping Reviews (PRISMA-SCR). Databases for literature searching were SCOPUS, Springer Link, and Science Direct. The search strategy was (nurse or nursing) and (religious or spiritual) and coping and (job stress or work stress or occupational stress). Only original research articles, published within the last 10 years, in English or Indonesian, free full-text availability, and focusing on nurses’ religious coping synthesized by the authors. Result: A total of 14 articles have been included in the review. 10 out of 11 articles stated that nurses used religious coping. 2 of 2 articles that analyzed the relationship between religiosity and distress stated there was a significant relationship. 2 of 3 articles that analyzed the relationship between religious coping and distress stated there was no significant relationship, and 1 article stated they were significantly related. Conclusion: Religious coping is an emotional coping method commonly used by nurses to reduce stress. Religiosity is a resource for preventing work stress in nurses. There are variations in the results of the relationship between religious coping and stress in nurses. Variations in results can be caused by the type of stressor, level of religiosity, and indicators of religiosity. Future research needs to analyze how the types of stressors and religiosity affect religious coping.  Keyword: Nurse, Religious Coping, Work Stress
HUBUNGAN FAKTOR PEKERJAAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT PUSKESMAS DI KABUPATEN SAMBAS TAHUN TAHUN 2023 Dian Dian; Meily Kurniawidjaja
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.16086

Abstract

Kelelahan merupakan proses alami pada manusia namun dalam kontek pekerjaan, kelelahan kerja harus dicegah dan dihindari. Kelelahan kerja memiliki dampak negatif dan berisiko menimbulkan gangguan baik gangguan fisik, kognitif dan emosional. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh faktor pekerjaan terhadap kejadian kelelahan kerja pada perawat puskesmas di Kabupaten Sambas Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan dari maret 2023 sampai Mei 2023. Sampel pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di puskesmas kabupaten Sambas sejumlah 126 orang. Pengambilan sampel dilakukan secara non-probability sampling dengan quota sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan instrumen kuesioner yang disebarkan dalam bentuk google form. Analisis data menggunakan uji statistik chi square dengan alpha 5% (0,05). Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan signifikan antara shift kerja p=0.595, beban kerja p=1.000 dan jam kerja p=0.368 dan kelelahan kerja. sementara itu terdapat hubungan signifikan antara stres kerja p=0.001 dan kelelahan kerja. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa variabel stres kerja berpengaruh terhadap kelelahan kerja dan variabel shift kerja,beban kerja dan jam kerja tidak berpengaruh terhadap kelelahan kerja pada perawat puskesmas di Kabupaten Sambas Tahun 2023. Diharapkan manajemen puskesmas dapat menyusun kebijakan dan stategi terkait manajemen kelelahan di tempat kerja.
Distress Factor Analysis of Workers in a Construction Company in 2024 Safitri, Silvana; Kurniawidjaja, L. Meily
Interdiciplinary Journal and Hummanity (INJURITY) Vol. 3 No. 12 (2024): INJURITY: Journal of Interdisciplinary Studies.
Publisher : Pusat Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58631/injurity.v3i12.1387

Abstract

This study aims to describe the level of distress and risk factors associated with distress in workers in a construction company, which was conducted in May - December 2024. A cross sectional design was carried out in this study. A total of 255 people who have completed the complete online questionnaire were included in the study. The primary data collection was the measurement of the psychosocial state of workers using a questionnaire distributed online. The measurement of worker stress levels also used DASS 21 and the variables of context of work and context of the work were taken using COPSOQ III, NIOSH questionnaires and previous studies that have gone through validity and reliability tests. A multivariate analysis was conducted to identify the risk factors that have a significant effect on dysstress, namely, marital status and career improvement, status and wages. The dominant risk factors for distress in the construction industry in 2024 are increased careers, status, and wages, with a 95% IK: 1,325 - 5,443, after controlling work schedules/hours, organizational culture and function, and marriage. The findings could serve as a foundation for developing targeted strategies to mitigate distress, enhance workplace conditions, and ultimately improve productivity and morale within construction companies. Furthermore, comparative studies across different construction companies or regions could identify best practices and strategies that successfully reduce distress levels among workers facing similar challenges.
Sustaining Digital Health Interventions for Long-Term Cardiovascular Disease Prevention in the Energy Industry Isnadi, Yul; Kurniawidjaja, L. Meily; Ramdhan, Doni Hikmat
Kesmas Vol. 20, No. 5
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cardiovascular disease (CVD) is a major health concern for energy industry workers due to occupational risks. Digital health interventions (DHIs) offer innovative strategies for CVD prevention in this high-risk group. This study aimed to explore the effectiveness and sustainability of DHI by incorporating behavior change theories, behavior change techniques, and principles of persuasive system design. A literature review was performed using PubMed, Scopus, Web of Science, and CINAHL databases to collect relevant information on interventions for CVD prevention among energy sector workers. The results indicated that while DHI could improve physical activity, dietary habits, and medication adherence in the short term, sustaining these changes remained challenging due to intervention fatigue, lack of ongoing support, and changing user engagement. To maintain long-term effectiveness, strategies including adaptive interventions, gamification, social support, and iterative refinement based on user feedback are essential. Furthermore, employing a user-centered design approach and integrating DHIs with existing health programs can further enhance sustained behavior change. In conclusion, DHI holds significant potential for CVD prevention in the energy industry. However, its long-term success requires structured approaches, personalized strategies, and ongoing evaluation tailored to this unique occupational setting.
Persepsi Risiko Berkendara dan Perilaku Penggunaan Sabuk Keselamatan di Kampus Universitas Indonesia, Depok Salihat, Ing Kurnia; Kurniawidjaja, L. Meily
Kesmas Vol. 4, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di lingkungan Universitas Indonesia, setiap tahun terjadi peningkatan kejadian kecelakaan. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara persepsi risiko keselamatan berkendara dengan perilaku penggunaan sabuk keselamatan pada mahasiswa Universitas Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan semi kuantitatif dan desain penelitian potong lintang. Partisipan adalah 98 mahasiswa Universitas Indonesia di Kampus Depok, berusia 18-25 tahun yang mengendarai kendaraan sendiri. Faktor internal yang membentuk persepsi risiko keselamatan berkendara secara bermakna adalah pengalaman (nilai p = 0,000) dan kepercayaan (nilai p = 0,008), sedangkan faktor eksternal yang signifikan adalah pengaruh teman (nilai p =0,000). Responden yang mempunyai persepsi risiko keselamatan berkendara yang buruk berisiko tidak menggunakan sabuk keselamatan 72 kali lebih besar [OR 72,46 (15,26; 344,02)] daripada responden yang mempunyai persepsi risiko terhadap keselamatan berkendara yang baik. Perlu dilakukan upaya meningkatkan persepsi risiko antara lain melakukan hazard communication dengan menggunakan pengalaman teman sebagai salah satu sumber informasi bagi individu, disebarluaskan melalui website, pemutaran film kejadian kecelakaan, dan membuat papan informasi yang diletakkan pada gerbang utama, meliputi informasi secara berkala dan berkelanjutan tentang kejadian kematian, cedera, dan luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas. Deaths and injuries caused by traffic accidents has become a public health problem not only in Indonesia but throughout the world. Based on the data of UPTK3LH University of Indonesia, there is increasing incident and accident in campus within the university each year. The aim of this study is to see the relationship between perception of risk driving safety with safety belts usage behavior among the University of Indonesia students, using semi-quantitative approach and cross-sectional research design. Participants were 98 students of University of Indonesia Depok aged 18 to 25 years who drive their own vehicles. With 5% a, 80% power of the test and SPSS 10:00 software, obtained significant internal factors shape the perception of safety risks are the driving experience (p value = 0.000) and confidence (p value = 0.008), whereas a significant external factor is the influence of friends (p value =0.000). Respondents who have bad perceptions of the driving safety risk have a chance of 72 times [OR 72.46 (15.26; 344.02)] for not using safety belts compared to respondents who have a good perception of driving safety risk. Efforts are required to increase the risk perception include hazard communication by using the experience of a friend as one source of information for individuals, spread through websites, film screenings of an accident scene, and create information boards placed at the main gate, from the death scene information, injury, and injuries due to traffic accidents. The most important things is regular socialization
Filosofi dan Konsep Dasar Kesehatan Kerja Serta Perkembangannya dalam Praktik Kurniawidjaja, L. Meily
Kesmas Vol. 1, No. 6
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan kerja merupakan masalah setiap individu karena bekerja dibutuhkan semua orang sebagai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sejak lama diketahui bahwa bekerja dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit. Sebaliknya, kesehatan dapat mengganggu pekerjaan. Artikel ini bertujuan memberikan pemahaman tentang konsep, praktik dan manfaat kesehatan kerja bagi para pekerja dan pemberi kerja. Kesehatan kerja seharusnya tidak hanya terfokus pada diagnosis dan pengobatan klinis, tetapi juga mengerjakan rekognisi hazard, penilaian risiko dan intervensi untuk menghilangkan atau meminimalkan risiko. Lingkupnya diperluas untuk mencegah penyakit dengan cara: (1) penempatan pekerja pada pekerjaan/ jabatan yang sesuai (fit) dengan status kesehatan dan kapasitas kerjanya. (2) program promosi kesehatan pekerja; (3) perbaikan lingkungan kerja; (4) perbaikan pekerjaan; (5) pengembangan pengorganisasian pekerjaan dan budaya bekerja.; dan (6) surveilans kesehatan pekerja. Indonesia telah meratifikasi konvensi dan rekomendasi ILO yang berhubungan dengan kesehatan kerja. Ada profesional dari multidisiplin dan organisasi profesi melakukan kesehatan kerja di lapangan tersebut, dan banyak pengandil yang lain. Occupational health (OH) is everybody responsibility, because work is human being and decent work is human right, Many work related diseases were documented and stimulated people to do something to overcome it. The objective of this article is to explain the concept, practice and benefit of the occupational health for wokers and employers. The occupational health should not only focus on clinical diagnostic and therapy, but should do hazard recognizing, risk assessment and intervention to eliminate or minimize the risk (risk management method), and widen its scope to prevent diseases by (1) placing the worker in a task adapted to his health status and working capacity; (2) workers’ health promotion program;(3) the improvement of the working environment; (4) the improvement of work; and (5) the development of work organization and working cultures; (6) workers health surveillance. Indonesia had ratified ILO conventions and recommendations related to OH. There are professionals from multidiscipline and organizations conduct OH in the field, and many other OH stakeholders.
Promosi Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Berpola Hidup Sehat pada Kelompok Senam Kurniawidjaja, L. Meily; Erwandi, Dadan; Pujiriani, Ike
Kesmas Vol. 7, No. 9
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendirian grup senam masyarakat perkotaan sering dipicu oleh ancaman penyakit jantung koroner dan stroke (penyakit kardiovaskular). Banyak diantara mereka masih berisiko tinggi penyakit kardiovaskular antara lain berat badan lebih dan kadar kolesterol tinggi serta faktor umur dan genetik, tetapi faktor risiko penyakit kardiovaskular dapat diturunkan dengan pola hidup sehat. Tujuan penelitian ini adalah menilai pengaruh metode promosi kesehatan dengan pendekatan siklus rekognisi, analisis, perencanaan, komunikasi, persiapan, implementasi, evaluasi, dan kelanjutan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik ibu-ibu pesenam tentang pola hidup sehat. Penelitian ini menggunakan pretest and posttest design untuk menilai hasil intervensi pada 60 orang berusia rata-rata 58,26 tahun dan hampir semua (93,33%) adalah perempuan pada dua kelompok senam di Kelurahan Pulogadung selama 10 bulan. Hasil penelitian memperlihatkan peningkatan nilai posttest (58%) pengetahuan peserta, peningkatan sikap dengan mau berbagi menu sehat dan mengisi alat pantau diri, serta peningkatan keterampilan berpola hidup sehat berupa menyusun menu sehat, bersenam minimal empat kali seminggu, tidur 7-8 jam perhari dan cukup istirahat. Selain itu, kelompok ini berhasil menyusun buku Masak Makanan Sehat. Disarankan kegiatan ini dapat diteruskan dengan penyajian dan diskusi makanan bijak secara berkala sekali dalam dua bulan dengan menggunakan dana yang terkumpul dari iuran sukarela. Urban exercise groups are often triggered by the perception of the severity and threat of coronary heart diseases and stroke (cardiovascular disease). But many of them are still high in cardiovascular disease risk i.e.overweight and high cholesterol. Cardiovascular disease risk factors can be reduced by healthy lifestyle. This study aimed to assess the effectiveness of recognition, analysis, planning, communication, preparation, implementation, evaluation and continuity health promotion strategy in enhancing the knowledge, attitude and practice of healthy lifestyle among the exercise group members. Pretest and posttest design was used to assess the effectiveness of 10 months intervention among 60 participants aged 58,26 (27-93) year old, most of them (93,33%) were ladies from two exercise groups in Kelurahan Pulogadung. The intervention improved the score of pre-posttest (58%), the willingness to share the healthy menu and to fill the healthy lifestyle self-monitoring form, and to practice healthy lifestyle e.g. cooking the prudent food, minimum 4 times a week exercise, 7-8 hours sleeping and enough leisure time. Additionally, this groups had successfully produced The Multiethnic Healthy Food Cooking book. It was concluded these health promotion model could enhance the healthy lifestyle of the exercise group members.
INTERVENSI FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DI TEMPAT KERJA: A SYSTEMATIC REVIEW Kosasih, Kosasih; Kurniawidjaja, L. Meily
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.24526

Abstract

Penyakit jantung koroner memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat khususnya masyarakat pekerja. Baik secara global maupun di Indonesia masih menjadi penyebab kematian tertinggi dan menghabiskan anggaran yang sangat besar. Penyakit ini sebagian besar dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menilai literature terkait intervensi faktor risiko penyakit jantung koroner di tempat kerja. Sehingga program pencegahan serupa dapat dirasakan manfaatnya untuk pekerja, perusahaan dan masyarakat lainnya. Penelitian sistematis ini dilakukan dengan menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) untuk menilai, menelaah dan mensintesis penelitian. Pencarian melalui database PubMed dan Google Schoolar. Periode yang diambil adalah 2018-2023. Kata kunci yang digunakan adalah “Coronary Artery Disease”, “Wellness Program”, “Worksite Intervention”. 7 jurnal penelitian dipilih setelah melalui tahapan yang ditentukan dengan index scopus Q1  dan Q2. Ada beberapa intervensi faktor risiko penyakit jantung koroner yang dijumpai diantaranya adalah aktivitas fisik atau olahraga, pengaturan pola makan, penyuluhan kesehatan, program berhenti merokok dan manajemen stres. Intervensi tersebut untuk mengendalikan faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu obesitas, hipertensi, dislipidemia, diabetes, merokok, konsumsi alkohol, stres, kurang aktivitas fisik. Dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi dari sarana yang dimiliki, intervensi tersebut terbukti signifikan dalam mengendalikan faktor risiko penyakit jantung koroner. Manfaat dapat dirasakan baik oleh pekerja dan perusahaan.