Claim Missing Document
Check
Articles

PENYISIHAN ORGANIK LIMBAH CAIR DOMESTIK PADA INSTALASI PENGOLAHAN DENGAN SISTEM JOHKASOU KASUS: RUSUN DUKUH SEMAR, CIREBON Prayatni Soewondo
Purifikasi Vol 8 No 1 (2007): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v8.i1.111

Abstract

Johkasou wastewater treatment system, which was developed in Japan, has been adapted in the Dukuh Semar low cost appartment in Cirebon City. Information on the community attitude in handling the sanitation problems was identified by questionairres. Whereas, the performance of the Johkasou instalation is evaluated according to Water Quality Standards according to goverment regulations No. 82/2001. Field observations showed that the organic removal rate reaches 88,94% on BOD and 84,66% on COD. While the instalation has an influent of about 1,1016 kg/day and an organic loading of about 0,0286 kg/m3/day. The rasio of BOD5/COD of the wastewater of the Johkasou instalation is 0,62. The efficiency of nitrogen removal reaches 80,85% for amonia with a loading of 0,852 kg/day and 52,69% for nitrate with a loading of 0,2644 kg/day. Other parameters that have also been observed are suspended solid (74,72%), fosfate (88,43%) and bacteria (99,63% as coliform). The quality of waste water that has not achieved the ideal standard is nitrogen, so there are needs to be further processing that includes nitrification and denitrification. The work applied by this instalation has not achieved its optimum capacity because of certain phisical conditions and also some imperfection in the instalation effected by the habitual conditions of the society living inside the housing area.
OPTIMASI PENURUNAN WARNA PADA LIMBAH TEKSTIL MELALUI PENGOLAHAN KOAGULASI DUA TAHAP Agustine Sartika Putri; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2010.16.1.2

Abstract

Abstrak : Limbah tekstil sebagian besar terdiri dari zat warna  yang digunakan untuk proses pencelupan dan pencapan pada kain. Jenis zat warna yang paling sering digunakan  dalam kegiatan industri adalah zat warna reaktif  azo seperti Remazol Red RB 133 yang digunakan dalam penelitian kali ini. Limbah zat warna ini akan sulit  terurai dan menyebabkan pencemaran bila dibuang tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah limbah warna melalui koagulasi dua tahap (Two Stages Coagulation) yang merupakan proses koagulasi dengan dua kali pembubuhan koagulan disertai dua kali pengadukan cepat dan dilanjutkan satu kali proses flokulasi (Dewi.2008). Proses ini merupakan salah satu alternatif pengolahan air secara koagulasi untuk air dengan warna dan zat organik tinggi (Carlson et al, 2000) dan diperlukan karena proses koagulasi secara konvensional seringkali tidak berhasil pada beberapa kondisi air. Hal ini disebabkan jenis material dalam air berbeda-beda, setiap jenis material membutuhkan kondisi proses koagulasi yang bermacam-macam. Dosis optimum didapat melalui percobaab Jartest, pada pengolahan One Stage Coagulation didapatkan pada 0,2 mg/L Poly Aluminium Chloryde (PAC) dengan kondisi basa (pH 9), efisiensi penurunan konsentrasi warna mencapai 98,11%. Pada Two Stage Coagulation didapatkan dosis optimum yang lebih rendah yaitu 0,16 mg/L sehingga pemakaian PAC menjadi lebih ekonomis. Efisiensi penurunan konsentrasi warna mencapai 100% dengan membagi dosis koagulan secara merata (50:50) untuk setiap tahap diikuti pengaturan pH pada kondisi asam untuk tahap pertama dan kondisi basa untuk  tahap kedua. Namun secara garis besar, kondisi pH netral (pH 7) untuk kedua tahap juga memberikan hasil yang cukup maksimal.Abstract : Wastewater from textile industries consist of dye which is used for dyeing and printing the fabrics. Most of dye types commonly used are reactive azo such as Remazol Red RB 133 which is used in this research. It was undegradable and can caused pollution if  it was disposed without a treatment. This research done to treat dyes wastewater with Two Stages Coagulation. It is a kind of process which coagulant added and rapid mixing were done two times and followed with a flocculation process (Dewi, 2008)  . Two stages coagulation is one of water treatment alternatives by coagulation especially for water treatment with high color and organic matter (Carlson et al,2000). Because of mineral variaty in the water, some conventional coagulation are often not success to remove them, so it necessary to get an optimum condition of coagulation.The efficiency of Poly Aluminium Chloryde (PAC) in discoloration of dying wastewater has been investigated with the Jartest methode.The results show that  optimum dosage of one stage coagulation was 0,2 mg/L at pH 9, the efficiency of removal color reaches 98,11%. While the optimum dosage of Two Stages Coagulation is 0,16mg/L,  lower than One Stage Coagulation so that the consumption of PAC can be minimazed. The color removal efficiency reaches 100% by dividing coagulant added 50% of dosage for the first stage and the 50% other for the second stage, The pH adjustmet for the first stage before coagullant added was 5 (acid condition) and then pH should be incresed till 9 for the second stage. But, for overall the neutral condition (pH 7) give the optimum performance for color removal. But initially, when the initial pHis neutral for both stages, the two stages coagulation gives the best performance to color removal.Key words:  One Stage Coagulation,  pH, Poly Aluminium Chloryde (PAC), Two Stages Coagulation
PENYISIHAN SENYAWA ORGANIK BIOWASTE FRAKSI CAIR MENGGUNAKAN SEQUENCING BATCH REACTOR ANAEROB Lulu Destiana Purwita; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.4

Abstract

Abstrak : Penyisihan senyawa organik dari biowaste fase cair yang berasal dari sampah pasar tradisional dengan sistem sequencing batch reactor anaerob dipelajari pada tugas akhir ini. Satu siklus sistem SBR terdiri dari 5 (lima) fase yaitu pengisian( fill), reaksi (react), pengendapan (settle), pengurasan (decant) dan stabilisasi (idle) ini dijalankan dengan variasi waktu reaksi siklus 1: 7 hari, siklus 2: 6  hari, dan siklus 3: 5 hari dengan beban influen dari sampah asli sekitar 15000 mg/L COD total. Proses seeding dan aklimatisasi dilakukan pada penelitian sebelumnya sehingga biomassa yang digunakan telah beradaptasi dengan limbah biowaste yang akan diolah. Pada proses pengolahan SBR anaerob, siklus 1 dengan waktu reaksi 7 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 50,31%, siklus 2 dengan waktu reaksi 6 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 43,82% dan siklus 3 dengan waku reaksi 5 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 36,36%. Pada siklus 1, pembentukan TAV tertinggi sebesar 2926,64 mg/L, terjadi pada fase pengurasan dengan laju pembentukan sebesar 58,97% dan laju penyisihan sebesar  39.48%. Pada akhir fase stabilisasi terbentuk gas metana sebesar 3%. Pada siklus 2, pembentukan TAV tertinggi sebesar 3461,43 mg/L, terjadi pada fase reaksi, dengan laju pembentukan sebesar 55,81% dan  laju penyisihan sebesar 18,60%. Sampai akhir siklus tidak terbentuk gas metana. Pada siklus 3, pembentukan TAV tertinggi 3732,20 mg/L, terjadi pada fase reaksi, dengan laju pembentukan mencapai 82,57% dan laju penyisihan 53,33%. Akan tetapi pada siklus 3 ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan gas dikarenakan kromatografi gas yang digunakan dalam perbaikanKata Kunci: biowaste, sequencing batch reactor anaerob,   Abstract: Removal of organic compounds from liquid phase biowaste derived from the traditional market waste with an anaerobic sequencing batch reactor system studied in this final task. One cycle of the SBR system consists of five phases, namely fill, react, settle, decant and idle, it's executed with variations in reaction time, cycle 1: 7 days, Cycle 2: 6 days, and cycle 3: 5 days with the influent load of original rubbish approximately 15 000 mg / L COD total. Seeding and acclimatization process from previous research, so biomass that used has been adapted to the waste. In anaerobic SBR process, cycle 1 with reaction time 7 days, produce removal organic compounds of 50.31%, cycle 2 with a reaction time of 6 days, produce removal organic compounds of 43.82% and cycle 3 with reaction 5 days, , produce removal organic compounds of 43.43%. In cycle 1, TAV highest rate production of 2926.64 mg / L, occurred at decant phase with formation rate of 58.97% and removal rate of 39.48% and the methane gas is formed by 3%. In cycle 2, TAV highest rate production of 3461.43 mg / L, occurred at react phase with formation rate of 55.81 % and removal rate of 18.60% and has not formed methane. In cycle 3, TAV highest rate production of 3732.20 mg / L, occurred at react phase with formation rate of 82.57% and removal rate of 53.33 % But during the third cycle, gas inspection was not possible due to the gas chromatograph that used in repairs. Keywords: anaerobic sequencing batch reactor, biowaste
EFISIENSI PENYISIHAN SENYAWA ORGANIK PADA BIOWASTE FASA CAIR MENGGUNAKAN UPFLOW ANAEROBIC FIXED BED (UAFB) REACTOR DENGAN MEDIA PENUNJANG BATU APUNG Wulandari Bachtiar; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2012)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2012.18.1.9

Abstract

Abstrak: Timbulan sampah kota yang semakin meningkat tidak disertai dengan meningkatnya luas lahan untuk TPA sehingga diperlukan suatu penanganan dan pengolahan sampah kota yang baik. Dilihat dari komposisi sampah, sebagian besar sampah kota di Indonesia tergolong sampah organik (biowaste). Pada penelitian ini digunakan biowaste yang berasal dari Pasar Induk Caringin Kota Bandung dengan proses biologi yang dilakukan adalah pengolahan secara anaerob menggunakan  reaktor  kontinu  Upflow  Anaerobic  Fixed  Bed  (UAFB)  dengan  media  penunjang  batu  apung, resirkulasi efluen, dan tanpa pengatur pH. Penelitian ini  bertujuan untuk  melihat kinerja proses dan efisiensi penyisihan senyawa organik dengan reaktor UAFB skala laboratorium dalam mendegradasi biowaste fasa cair. Digunakan reaktor dengan volume operasi sebesar 9  liter dengan HRT ditentukan sebesar 6  hari dan variasi konsentrasi influen ±12.000, ±10.000, ±8.000, ±6.000, dan ±4.000 mg/L COD terlarut. Efisiensi penyisihan COD berkisar antara 60,67-91,70% dan pada variasi konsentrasi influen ±4.000 mg/L COD dengan beban organik sebesar 0,67 kg COD/m3/hari memberikan efisiensi penyisihan COD terbesar yaitu 91,70%. Biogas berupa gas metan yang terbentuk sebesar 52,14-77,42% (v/v) dengan pembentukan gas metan terbesar pada variasi konsentrasi influen ±4.000 mg/L COD. Besarnya gas metan yang terbentuk menunjukkan proses metanogenesis telah terjadi. Semakin  rendah konsentrasi influen, maka efisiensi penyisihan COD dan pembentukan gas metan semakin tinggi.Kata kunci: anaerob, batu apung, biowaste fasa cair, fixed bed, konsentrasi influen. Abstract: The increase of solid waste in urban areas has not been accomodated by the availability of landfill so that the proper handling and processing of municipal solid waste is necessary. From the view of waste composition, the majority of municipal solid waste in Indonesia is classified as organic waste (biowaste). One of the technological processes that can be used to process biowaste is Mechanical Biological Treatment (MBT) that involves the process of sorting, counting, mixing, and separation. Biowaste used in this study is obtained from the Caringin Market in Bandung with the biological processes that are applied in the anaerobic process using a continuous reactor Upflow Anaerobic Fixed Bed (UAFB) with pumice supporting media, effluent recirculation, and without pH control. This study aims to investigate a process performance and removal efficiency of organic compounds with UAFB reactor in laboratory scale to degrading liquid phase of bio-waste. A reactor with a volume of 9 liters was used for the operation applying 6 days HRT and influent concentration ±12.000, ±10.000, ±8.000, ±6.000, and ±4.000 mg/L soluble COD. The COD removal efficiency ranged from 60.67 to 91.70% and with variation of influent concentration 4,000 mg/L soluble COD with organic loading 0.67 kg COD/m3/day, the COD removal efficiency reach its highest level which is 91.70%. Biogas formed in the methane form ranged 52.14 to 77.42% (v/v) with the largest biogas formation occurs in the variation of influent concentration 4,000 mg/L soluble COD. The amount of methane formed indicates methanogenesis process has occurred. The lower influent concentration, the higher the COD removal efficiency and methane formation will be. Keyword: anaerobic, fixed bed, influent concentration, liquid phase of biowaste, pumice.
STUDI PENGOLAHAN AIR SUNGAI TANGGULAN SUB DAS CIKAPUNDUNG MENGGUNAKAN FLOATING TREATMENT WETLANDS DENGAN POTENSI PARTISIPASI MASYARAKAT SEKITAR Annisa Satwika Lestari; Rofiq Iqbal; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.2

Abstract

Abstrak: Mayoritas penduduk Indonesia yang menempati wilayah bantaran sungai masih membuang air limbah domestiknya langsung ke sungai sehingga kualitas air sungai menurun drastis. Padahal air sungai merupakan salah  satu  sumber  air  utama  yang  dimanfaatkan sebagai  air  baku  untuk air  minum,  misalnya air  sungai Cikapundung di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung. Masyarakat di bagian timur sungai ini membuang air limbah domestiknya ke sungai tersebut, sementara masyarakat di bagian barat sungai menggunakan air sungai tersebut sebagai sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci pakaian, peralatan dapur, bahkan bahan makanan. Hal inilah yang membuat sungai di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung ini menjadi perhatian utama dalam kebutuhan teknologi pengolahan air yang efektif dan tepat guna. Ketepatgunaan teknologi ini juga harus meliputi partisipasi masyarakat. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efisiensi pengolahan floating tretment wetlands dengan 3  variasi tumbuhan dan potensi aplikasinya sebagai teknologi pengolahan air yang tepat guna di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung. Penelitian mengenai efisiensi pengolahan dari floating treatment wetlands (FTWs) yang memiliki 3 tipe tumbuhan, Ipomoea reptans, Amaranthus tricolor, dan Lactuca sativa, dilakukan dalam skala laboratorium dalam kondisi batch. Wawancara dan kuesioner dilakukan terhadap 34 orang dari 137 KK dengan tingkat kesalahan 0,16 untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat di Kampung Tanggulan, Dago Pojok, Bandung, Indonesia. Hasil efisiensi penyisihan rata-rata yang didapat mencapai lebih dari  45 % total suspended solids (TSS), 63 % chemical oxygen demand (COD), 84 % biological oxygen demand (BOD5), 73 % Ammonium (NH4+-N) dan 86 % ortofosfat (PO43-). Berdasarkan pengamatan didapat bahwa vegetasi dengan pengolahan terbaik adalah I reptans. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner, teknologi FTWs ini berpotensi untuk menjadi teknologi tepat guna dengan partisipasi masyarakat yang mungkin diaplikasikan untuk restorasi sungai Cikapundung.
STUDI PERBANDINGAN KITOSAN CANGKANG KERANG HIJAU DAN CANGKANG KEPITING DENGAN PEMBUATAN SECARA KIMIAWI SEBAGAI KOAGULAN ALAM Maulana Nur Arif; Sinardi Sinardi; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.7

Abstract

Abstrak: Koagulasi merupakan proses pengolahan air untuk menghilangkan materi tersuspensi dan koloid. Tawas adalah bahan kimia yang sering dipakai sebagai koagulan. Penggunaan tawas menimbulkan masalah karena residu anorganik yang dihasilkan bersifat karsinogenik dan dapat mengganggu lingkungan dan kesehatan serta tidak mudah dibiodegradasi. Ini mendorong pemanfaatan koagulan dari bahan alami seperti kitosan. Kitosan dapat dihasilkan dari cangkang kerang hijau dan cangkang kepiting yang keberadaannya melimpah di Indonesia. Produksi cangkang kerang hijau dan cangkang kepiting berpotensi menjadi limbah karena belum dirmanfaatkan dengan baik. Salah satu pemanfaatan cangkang kerang hijau dan cangkang kepiting adalah dengan membuat kitosan sebagai koagulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efisiensi penggunaan kitosan cangkang kerang hijau dan cangkang kepiting sebagai koagulan. Tahapan penelitian meliputi karakterisasi  kitosan,  preparasi  air  sintetis  sebagai  sampel,  uji  jartest,  dan  uji  parameter  yang  meliputi kekeruhan,  zat  organik,  dan  besi.  Pada  penelitian ini  didapat  bahwa  kitosan  cangkang  kerang hijau  dan cangkang kepiting memiliki kadar air rendah, 1,02% dan 2,21%. Hasil pengukuran FTIR juga menunjukan bahwa kitosan cangkang kerang hijau dan cangkang kepiting memiliki derajat deasetilasi besar, 77,80% dan 87,64%. Ini menyebabkan koagulasi menjadi lebih efektif. Dari jartest, didapatkan bahwa pH optimum kitosan cangkang kerang hijau adalah pH 7-9 dan untuk kitosan cangkang kepiting adalah pH 5. Pada penelitian didapatkan dosis optimum kitosan cangkang kerang hijau pada pH 5, 7, dan 9 adalah 200, 350, dan 250 mg/l serta kitosan cangkang kepiting pada pH 5, 7, dan 9 yaitu 6, 10, dan 14 mg/l.
PENGARUH KADAR AIR PADA PENGOLAHAN LUMPUR TINJA TANGKI SEPTIK BERBASIS TERRA PRETA SANITATION Lulu Destiana Purwita; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.7

Abstract

Abstrak: Ekskreta manusia (feces dan urin) berkontribusi kecil dalam volume tetapi merupakan penyebab utama dari pencemaran air. Pendekatan sanitasi berbasis ekologi (ecological sanitation) mempertimbangkan limbah (kotoran) manusia sebagai sumber daya dibandingkan dengan limbah. Salah satu konsep ecological sanitation yang sedang dikembangkan adalah Terra Preta Sanitation (TPS). Terra Preta Sanitation merupakan suatu konsep sanitasi dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesuburan tanah, tetapi mampu mengatasi masalah bau yang tidak enak dengan adanya proses laktofermentasi dan vermikompos. Saat  ini,  konsep  Terra  Preta  diadopsi  dan  dikembangkan menjadi  konsep  alternatif pengolahan limbah cair dan limbah padat domestik/rumah tangga. Tujuan utama dari penelitian ini adalah optimaisasi proses laktofermentasi pada pengolahan lumpur tinja tangki septic. Pada penelitian ini dilakukan pengolahan lumpur tinja yang berasal dari 3 tangki septik dengan variasi kadar air untuk mengetahui  pengaruh  kadar  air  pada  proses  laktofermentasi. Variasi  kadar  air  dilakukan  dengan pengurangan 10% air sampel dan penambahan 0%, 10% dan 20% air pencampur. Reaktor yang digunakan merupakan reaktor batch anaerob dengan kapasitas 2,5 liter. Bakteri yang digunakan berasal dari bakteri kultur campuran jenis EM4  (Effective Microorganism 4) sebanyak 20% dari volume efektif reaktor, sedangkan untuk co-substrat digunakan larutan glukosa dan air keran sebagai air pencampur. Penelitian ini dilakukan selama 21 hari pada suhu ruang. Parameter yang dianalisa seperti pH, kadar air, kadar volatile, Total Organic Carbon (TOC), Total Kjedahl Nitrogen (TKN), Total phosphate, Total Asam Volatile (TAV), amonium, dan H2S. Karakteristik awal sampel tinja memiliki nilai organik tinggi dengan angka TOC sekitar 25000 mg/L. Pada akhir pengolahan, hasil menunjukkan sampel dengan pengurangan10% air sampel memberikan degradasi organic yang lebih baik, konsentrasi H2S dan produksi asam laktat lebih besar. Efisiensi penyisihan karbon organik sekitar 50%, penyisihan NTK sekitar 60%, penyisihan posphat total sekitar 70% dan penyisihan indikator bau yaitu H2S mencapai 90%. Pembentukan asam laktat pada akhir reaksi mencapai 3,9%.  Kata kunci: terra preta sanitation, laktofermentasi, Effective Microorganism 4, tangki septik Abstract : Human excrement (faeces and urine) have small in volume of domestic wastewater but it is the main causes of water pollution. Ecological sanitation considers human wastes as resources rather than waste. A new emerging concept in ecological sanitation is Terra Preta Sanitation (TPS). Terra Preta Sanitation is sanitation concept with final purpose for improve soil fertility, but able to overcome odor problem with lactic acid fermentation and vermicomposting process. Today, TPS concept is adopted and developed to be alternative concept for domestic waste treatment. The main objective of this research is optimizing lactic acid fermentation process in sludge of septic tank treatment. This research conducted with black water treatment from three septic tanks with variation of water content. Water content variations are with 10% sample water reduction, 0%, 10%, and 20% mixing water addition Reactor that used is anaerobic reactor with 2.5 liter capacity. Effective Microorganism 4 (EM4) is used as source of lactic acid bacteria for treat sludge from septic tank. Glucose is used as co-substrate and tap water as mixing water. The study was conducted in 21 days at room temperature. pH, water content, volatile content, Total Organic Carbon (TOC), Total Kjedahl Nitrogen (TKN), Total phosphate, Total Volatile Acid (TVA), ammonium, and H2S are analyzed.  Characteristic of sample have organic content approximately 25000 mg/L. In the end of treatment, the result show, that the sample with 10% sample water reduction had better degradation, lower H2S and greater lactic acid production. Organic carbon removal efficiency about 50%, TKN removal efficiency about 60%, total phosphate efficiency about 70%, and H2S removal efficiency about 90%. Production of lactic acid in the end of reaction time about 3.9%  Key words: terra preta sanitation, lactic acid fermentation, Effective Microorganism 4, septic tank 
PENYEDIAAN AIR MINUM DI DAERAH PESISIR KOTA BANDAR LAMPUNG MELALUI RAINWATER HARVESTING Ade Esti Rahmayanti; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 21 No. 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.2

Abstract

Abstrak: Atap rumah merupakan komponen utama dalam sistem pemanenan air hujan, sehingga selain dari kondisi lingkungan yang mempengaruhi kualitas air hujan, atap rumah juga memberikan pengaruh terhadap kualitas air hujan yang dipanen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari waktu Panen Air Hujan, lokasi pemanenan air hujan, dan beberapa jenis atap (asbes, seng dan genting tanah liat) terhadap kualitas air hujan terpanen. Beberapa parameter uji kualitas air (pH, kekeruhan, suhu, TDS, Fluorida, Nitrit, Nitrat, Besi, Seng, Kadmium, Kromium, Kesadahan, Mangan, Sulfat, Klorida) dianalisa dan hasilnya dibandingkan dengan standard baku mutu untuk air minum berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.Konsentrasi Kadmium (Cd) yang terkandung pada air hujan terpanen saat hujan kedua (0,0204 mg/L) lebih tinggi dibandingkan dengan hujan pertama (0,0123 mg/L). Atap genting merupakan jenis atap yang paling ideal untuk melakukan pemanenan air hujan dan kualitas air hujan yang jatuh di lokasi industri maupun lokasi yang jauh dari industri tidak jauh berbeda. Kuantitas air hujan dalam rangka penyediaan air minum melalui pemanenan air hujan ditunjukkan dengan tingkat keandalan atau reliabilitas (Re) melalui simulasi tampungan air hujan untuk kapasitas tangki 1 m3 menggunakan data hujan selama tiga tahun berturut-turut dan simulasi tersebut menunjukkan bahwa keandalan air hujan sebagai alternatif sumber air minum, sumber air untuk memasak pada saat musim penghujan berlangsung yang jatuh di lokasi studi bisa mencapai 79,84% dan 45,80%. Sedangkan tingkat keandalan air hujan sebagai alternatif sumber air minum sesuai dengan hasil survey bisa mencapai 91,97%. Survey sosial ekonomi menunjukkan bahwa tidak banyak masyarakat menyadari manfaat penggunaan air hujan dan beberapa dari mereka bahkan memiliki kesalahpahaman tentang kualitas air hujan. Persepsi negatif mengenai pemanenan air hujan adalah bahwa pemanenan air hujan bukan merupakan hal yang umum dilakukan terutama di daerah dekat dengan perkotaan. Kata kunci: Pemanenan air hujan, penyediaan air minum, kualitas air, kuantitas air hujan Abstract : Roof of the house is the main component in a rainwater harvesting system that gives direct impact towards the quality of the harvested rainwater regardless the environmental conditions. This study aims to determine the effect of time, location, and roofing material (asbestos, metal sheet and clay tiles)on the quality of rainwater harvested. Some water quality parameters (pH, turbidity, temperature, TDS, Fluoride, Nitrite, Nitrate, Iron, Zinc, Cadmium, Chromium) were analyzed and the results were compared to drinking water standard based on the Regulation of the Minister of Health No. 492 of 2010. Cadmium (Cd) concentration contained in harvested rainwater after several rain events (0.0204 mg/L) is higher than the first rains (0.0123 mg/L). Clay tile roof is the most ideal roofing material for harvesting rainwater and the quality of rainwater that falls on industrial area and the residential area is not very different. The quantity of rainwater as a supporting capacity in drinking water through rainwater harvesting is indicated by the level of reliability (Re) through simulated rainwater tank capacity of 1 m3 using daily rainfall data for three consecutive years and simulations showed that the reliability of rainwater as an alternative source of drinking water attained 91.97% and 45.80% for cooking purpose. While the level of reliability of rainwater as an alternative source of drinking water based on the socio-economic survey is 79.84%.Socio-economic survey shows that not manylocal people are aware of the benefits of utilizing rainwaterandsome of them even have a misunderstanding regardingthe quality of rainwater. Negative perceptions about rainwater harvesting is that rainwater harvesting is not a common thing to do, especially in areas close to urban. Key words: Rainwater Harvesting, Water Supply, Water Quality, Rainwater Quantity
PENENTUAN TEKNOLOGI SANITASI DI KAWASAN SPESIFIK DAERAH KERING (STUDI KASUS DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NTT) Samahatud Durriyyah; Prayatni Soewondo; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 22 No. 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.9

Abstract

Abstrak: Salah satu wilayah spesifik yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah adalah wilayah spesifik dengan kondisi Iklim semi arid, dimana curah hujan rendah dan potensial evapotranspirasi yang tinggi menyebabkan wilayah NTT khususnya Kabupaten Sumba Barat Daya memiliki permasalahan penyediaan fasilitas sanitasi, terutama dalam infrastruktur air buangan domestik. Penelitian ini ingin mengetahui keadaan kapasitas masyarakat dan faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan teknologi sanitasi air buangan sehingga dapat ditentukan teknologi yang sesuai. Beberapa faktor kapasitas yang dikaji meliputi faktor institusi, ekonomi, lingkungan, teknis, dan sosial-budaya. Untuk mengetahui hal ini, dilakukan pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi lapangan. Selanjutnya dianalisis secara deskriptif, crostab, dan analisis Analytical Hierarcy Proscess (AHP) untuk menentukan prioritas faktor dan sub faktor yang mempengaruhi keberlanjutan sanitasi sehingga didapatkan teknologi sanitasi yang paling cocok. Dari analisis deskriptif didapatkan hasil bahwa 50% responden tidak memiliki fasilitas sanitasi dan melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di kebun dan bersih diri menggunakan serasah daun. Dari analisis crostab dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan penghasilan terhadap kepemilikan WC, cara bersih diri, dan penerimaan terhadap teknologi yang ditawarkan. Dari analisis kuesioner ahli dengan analisis AHP yang memberikan hasil bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam pemilihan teknologi sanitasi adalah faktor teknis dan teknologi yang paling tepat untuk masyarakat daerah spesifik lahan kering adalah cubluk, cubluk kembar, dan ecosan. Dari hasil keseluruhan analisis didapatkan rekomendasi teknologi sanitasi untuk daerah kering adalah cubluk satu lubang dengan sistem kering.   Kata kunci: Analisis kapasitas masyarakat, kawasan spesifik daerah kering, teknologi sanitasi Abstract : One of the specific areas that have received less attention from the government is a specific area with a semi-arid climate conditions, where low rainfall and high evapotranspiration potential causes NTT especially Southwest Sumba Regency has a problem providing sanitation  facilities, especially in the domestic waste water infrastructure. Therefore in this study wanted to know the state of the capacity of communities and the factors that affect the sustainability of the waste water sanitation technologies that can be determined in accordance with regional technology studies. Some of the factors that capacity factors examined include institutional, economic, environmental, technical, and socio "“ cultural. To know this, do data collection using questionnaires and field observations. Next, will be analyzed by descriptive, crostab, and Analytical Hierarcy Proscess (AHP) to determine the priority factors and sub- factors that affect the sustainability of sanitation to obtain the most suitable sanitation technologies from the descriptive analysis showed that 50 % of respondents do not have sanitation facilities and conduct defecation gratuitous (BABS) in the garden and clean themselves using leaf litter. Crostab analysis can be seen that there is a relationship between level of education and income against WC ownership, how to clean themselves, and acceptance of the technology offered.  AHP analysis which provides results that the most influential factor in the choice of sanitation technology is a technical factor. But the results of advice most appropriate technology for a specific area of dryland communities is cubluk, cubluk twin, and ecosan. From the overall results of the analysis obtained on sanitation technologies for arid areas is cubluk  one hole with dry system. Key words: community capacity analisys, specific dry areas, sanitation technology
PENYISIHAN ZAT WARNA NAPHTHOL PADA LIMBAH CAIR BATIK DENGAN METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN ADSORBEN TANAH LIAT DAN REGENERASINYA Valerie Atirza; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.7

Abstract

Abtrak: Industri Kecil Menengah (IKM) batik merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan dengan kandungan zat warna yang tinggi juga mengandung bahan-bahan kimia sintetis yang cukup stabil dan sukar untuk diuraikan/didegradasi secara alami, sehingga dapat membahayakan lingkungan sekitar. Apabila konsentrasi yang dibuang ke lingkungan cukup tinggi maka dapat menaikkan nilai COD (Chemical Oxygen Demand). Salah satu metode pengolahan limbah cair khususnya hasil proses pewarnaan batik, saat ini yang banyak dilakukan penelitian dan pengembangan adalah adsorpsi dengan menggunakan berbagai jenis adsorben yang berbeda beda. Alternatif lain jenis adsorben yang digunakan adalah tanah liat (clay), hal ini dilakukan mengingat keberadaan tanah liat melimpah di alam dan merupakan bahan alami yang dapat ditemukan hampir di semua wilayah Indonesia khususnya di Bandung, Jawa Barat. Zat warna naphthol merupakan salah satu pewarna sintetis yang digunakan dalam pembuatan batik. Pada penelitian ini dilakukan proses adsorpsi menggunakan limbah cair yang mengandung zat warna naphthol dari hasil proses pembuatan batik dengan adsorben tanah liat dan regenerasinya. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi terbesar untuk adsorben tanpa modifikasi adalah 65,648% dengan dosis 1,5 gr dan waktu kontak 30 menit, sedangkan adsorben dengan modifikasi didapat efisiensi sebesar 82,809% untuk dosis 2 gr dan waktu kontak 60 menit. Kinetika yang menggambarkan proses adsorpsi adalah kinetika pseudo orde 2 untuk kedua adsorben dan isoterm adsorpsi adalah isotherm Freundlich. Kata kunci: adsorpsi, tanah liat, napthol, isoterm Abstract: Small and medium industry (IKM) batik is one of the producers of liquid waste that comes from the process of staining with substances of high color also contains synthetic chemicals that are fairly stable and difficult to untangle/degradation in naturally, so that can harm the environment. When the concentration of dumped into the environment high enough then it can raise the value of COD (Chemical Oxygen Demand). One of the liquid waste processing methods in particular results of batik coloring process, which is currently much research and development is carried out adsorption using various types of different adsorbents. Other alternative types of adsorbents used is clay, this is done considering the existence of clay abundant in nature and are the natural ingredients that can be found in almost all regions of Indonesia especially in Bandung, West Java. Naphthol color substances is one of the synthetic dyes are used in the making of Batik. On the research of the adsorption process was carried out using liquid waste containing the substance the color results from naphthol batik processing with adsorbent clay and its regeneration. The results showed the greatest efficiency for adsorbents without modification was 65.648% with a dose of 1.5 grams and a contact time of 30 minutes, while the adsorbent with modification obtained efficiency of 82.809% for a dose of 2 grams and 60 minutes contact time. Kinetics that describes the process of adsorption is a pseudo second-order kinetics for both the adsorbent and adsorption isotherm is Freundlich.Keywords: adsorption, clay, naphthol dyes, isotherm