Yuli Frita Nuningtyas
Department Of Feed And Animal Nutrition, Faculty Of Animal Science, Universitas Of Brawijaya, Jl. Veteran, Malang, East Java 65145 - Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Economic Assessment of Quality-Related Revenue Loss in a Closed-House Layer System: An Opportunity Cost Analysis Wahidiyah, Synta Nur; Huang, Wen Chi; Prafitri, Rizki; Nuningtyas, Yuli Frita
Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 36 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jiip.2026.036.01.5

Abstract

This study evaluates the technical performance and economic implications of egg quality degradation in a closed-house layer system at UB Teaching Farm, Indonesia, across three production cycles (2020–2024). While automated systems are designed to optimize efficiency, hidden revenue leakage due to quality attrition is frequently overlooked in traditional financial analyses. Weekly production records were analyzed to quantify degraded egg rates and financial attrition using an opportunity cost framework. Differences in quality-related attrition across production cycles were evaluated using One-Way Analysis of Variance (ANOVA). The research quantified revenue loss resulting from the price disparity between Grade A eggs and abnormal (cracked/damaged) eggs. Results showed a total cumulative volume of 2,473 kg of abnormal eggs across the three cycles. Due to a contractual price agreement that limited the price gap to IDR 1,000/kg, the total cumulative revenue loss was contained at IDR 2,488,300. Economically, the study identified a cumulative revenue loss (P<0.05). Although physical attrition is below the 1% threshold, this loss represents a direct reduction in net profit margins and is equivalent to the cost of approximately 355 kg of high-quality layer feed. This study concludes that sustainable poultry management in closed-house systems requires not only advanced technology but also rigorous mechanical maintenance and data-driven interventions to mitigate quality-related financial leakage.
Evaluasi Kualitas Pakan Sapi Berbasis Ketela Pohon (Manihot esculenta Crantz) Berdasarkan Perbedaan Varietas dan Kandungan Glikosida Sianogenik Ndaru, Poespitasari Hazanah; Kusmartono; Mashudi; Nuningtyas, Yuli Frita; Kartika, Aprilia Dwi; Pariasa, Imaniar Ilmi
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol. 9 No. 1 (2026): JNT Jurnal Nutrisi Ternak Tropis March
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jnt.2026.009.01.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas silase berbasis umbi dan daun ketela pohon (Manihot esculenta Crantz) sebagai pakan ternak ruminansia berdasarkan perbedaan varietas dan kandungan glikosida sianogenik. Penelitian menggunakan empat varietas ketela pohon, yaitu ketela pohon ketan (KE), ketela pohon jawa (JK), ketela pohon kuning (KU), dan ketela pohon kretek jawa (KJ), dengan enam ulangan pada setiap perlakuan sehingga terdapat 24 unit percobaan. Silase dibuat dari campuran daun dan umbi dengan perbandingan 1:10 melalui fermentasi anaerob selama 21 hari pada suhu ruang. Hipotesis penelitian ini adalah perbedaan varietas ketela pohon memengaruhi kandungan HCN bahan pakan, dan proses ensilase mampu menurunkan kadar HCN sehingga lebih aman digunakan sebagai pakan ruminansia. Kadar HCN dianalisis menggunakan metode spektrofotometri, sedangkan data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan uji Duncan apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar HCN campuran daun dan umbi sebelum ensilase berkisar antara 55,26–72,63 mg/kg, kemudian menurun menjadi 22,10–29,05 mg/kg setelah ensilase. Proses ensilase menurunkan kadar HCN sebesar 60,00% pada seluruh varietas. Kadar HCN tertinggi sebelum ensilase terdapat pada varietas KE, yaitu 72,63 mg/kg, sedangkan terendah pada KU, yaitu 55,26 mg/kg. Setelah ensilase, kadar HCN tertinggi tetap terdapat pada KE, yaitu 29,05 mg/kg, sedangkan terendah pada KU, yaitu 22,10 mg/kg. Hasil ini menunjukkan bahwa ensilase efektif menurunkan kandungan HCN pada ketela pohon dan berpotensi meningkatkan keamanan penggunaannya sebagai pakan ternak ruminansia.