Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Agroprimatech

PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) DAN METIL METSULFURON DALAM PENGENDALIAN GULMA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 1 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.951 KB)

Abstract

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman industri andalan bagi perekonomian Indonesia. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit adalah gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman budidaya, Dalam penelitian ini, pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara ekstrak daun ketapang dengan metil metsulfuron. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi ekstrak daun ketapang dan metil metsulfuron yang terbaik dalam mengendalikan gulma diperkebunan kelapa sawit. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama konsentrasi ekstrak T.catappa terdiri dari 4 taraf, yaitu 0% (K0) 10% (K1), 20% (K2), 40% (K3). Faktor kedua metil metsulfuron terdiri dari 4 taraf yaitu, 0 (P0), 10 g/ha (0,1 g/plot) (P1), 20 g/ha (0,2 g/plot) (P2), 50 g/ha (0,5 g/plot) (P3). Terdiri dari 16 perlakuan dengan 2 ulangan, dan 32 plot. Data dianalisis dengan uji analisis varians, dan dilanjut dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun ketapang 40% (K3) dengan konsentrasi metil metsulfuron 0,5 gram/m2 (P3) efektif mematikan gulma sebesar 70,38%. Penggunaan ekstrak daun ketapang 10 % dan metil metsulfuron 0,2 g/m2 (P2K1) berpengaruh nyata terhadap persentase pertumbuhan gulma sebesar 8,5 % pada 5 minggu setelah aplikasi.
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SEKITAR PESISIR PANTAI CERMIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 1 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.222 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di perkebunan kelapa sawit sekitar pesisir pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pembuatan plot contoh dengan metode petak kuadrat ukuran 1m2 per plot. Pengambilan sampel dari total 10 plot adalah dengan sampel jenuh. Hasil analisis vegetasi keragaman tumbuhan menunjukkan bahwa Ageratum conyzoides, Asystasia intrusa, Axonops compresus, Cyclosorus aridus, Cyperus rotundus., Elaeis guineensis, dan Ottochloa nodosa, adalah jenis tumbuhan yang ditemukan dilapangan. Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan Indeks vegetasi rumus Shannon – Wiener (H’), dengan kriteria tingkat keragamannya adalah rendah (H’ < 1), sedang (1 < H’≤ 3) dan tinggi (H’ > 3). Indeks vegetasi keragaman H’ = 1,297. Tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit di sepanjang pesisir pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai adalah sedang.
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PRE NURSERY SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DENGAN WAKTU PERENDAMAN YANG BERBEDA Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 2 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) di pre nursery setelah pemberian ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dengan waktu perendaman yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dengan 4 taraf : 0% (B0), 25% (B1), 50% (B2), 100% (B3) dan faktor kedua adalah waktu perendaman dengan 4 taraf : 0 jam (P0), 5 jam (P1), 10 jam (P2), 20 jam (P3). Data di analisis dengan menggunakan sidik ragam (Analisis of variance) dengan signifikan 5 %. Dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan atau DMRT (Duncan multiple range test) dengan signifikan 5 %. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa pemberian konsentrasi ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dan waktu perendaman terhadap bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di pre nursery, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (berat segar, berat kering, panjang akar, panjang daun, dan diameter batang) pada minggu ke 4 – 12, kecuali diameter batang pada minggu ke 7.
Growth Percentage And Length Of Mucuna Bracteata Tendles With The Provision Of Local Microorganisms (Mol) From Banana Corn Tanjung, Agung Rafiul Naldi; Ginting, Chelvin Van Roy; Sulastri, Yustina Sri; Sihaloho, Martha Adiwaty; Sitinjak, Rama Riana; Pratomo, Bayu
Agroprimatech Vol. 9 No. 1 (2025): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v9i1.5356

Abstract

Mucuna bracteata plants can be propagated in two ways: generatively and vegetatively. Vegetative propagation is done through cuttings, while generative propagation uses seeds. In 1999, Mucuna bracteata found it very difficult to produce flowers, fruits, and seeds. Due to this difficulty, propagation can be done through cuttings. This study uses a Non-Factorial Randomized Block Design (RBD) with 4 Treatments (P) and 6 Replications (U). The concentration of watering consists of 4 levels: P0 (0 ml), P1 (50 ml), P2 (150 ml), and P3 (250 ml). Meanwhile, the soaking duration also consists of 4 levels: P0 (0 minutes), P1 (5 minutes), P2 (10 minutes), and P3 (15 minutes). The results of the study showed that the interaction between the concentration of watering with MOL (Microorganism Local) from banana stems and the soaking duration did not have a significant effect on all parameters. Various concentrations of watering with MOL from banana stems and soaking duration significantly affected the growth of Mucuna bracteata. Although statistically, it did not show a significant effect, several treatment combinations could be observed, such as U6P3, which showed the highest root weight (15.44 grams). Then, the vine length was 117.1 cm, the number of leaves was 20, and the number of nodules was 11. As the highest values from P3, this shows the highest concentration of watering and soaking duration with MOL from banana stems. Thus, this effort can reduce agricultural waste and pathogens.
PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa L.) DAN METIL METSULFURON DALAM PENGENDALIAN GULMA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 1 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan salah satu tanaman industri andalan bagi perekonomian Indonesia. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit adalah gulma. Gulma merupakan tumbuhan yang memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman budidaya, Dalam penelitian ini, pengendalian gulma dilakukan dengan menggunakan kombinasi antara ekstrak daun ketapang dengan metil metsulfuron. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi ekstrak daun ketapang dan metil metsulfuron yang terbaik dalam mengendalikan gulma diperkebunan kelapa sawit. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Faktor pertama konsentrasi ekstrak T.catappa terdiri dari 4 taraf, yaitu 0% (K0) 10% (K1), 20% (K2), 40% (K3). Faktor kedua metil metsulfuron terdiri dari 4 taraf yaitu, 0 (P0), 10 g/ha (0,1 g/plot) (P1), 20 g/ha (0,2 g/plot) (P2), 50 g/ha (0,5 g/plot) (P3). Terdiri dari 16 perlakuan dengan 2 ulangan, dan 32 plot. Data dianalisis dengan uji analisis varians, dan dilanjut dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun ketapang 40% (K3) dengan konsentrasi metil metsulfuron 0,5 gram/m2 (P3) efektif mematikan gulma sebesar 70,38%. Penggunaan ekstrak daun ketapang 10 % dan metil metsulfuron 0,2 g/m2 (P2K1) berpengaruh nyata terhadap persentase pertumbuhan gulma sebesar 8,5 % pada 5 minggu setelah aplikasi.
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI SEKITAR PESISIR PANTAI CERMIN KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 1 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang terdapat di perkebunan kelapa sawit sekitar pesisir pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pembuatan plot contoh dengan metode petak kuadrat ukuran 1m2 per plot. Pengambilan sampel dari total 10 plot adalah dengan sampel jenuh. Hasil analisis vegetasi keragaman tumbuhan menunjukkan bahwa Ageratum conyzoides, Asystasia intrusa, Axonops compresus, Cyclosorus aridus, Cyperus rotundus., Elaeis guineensis, dan Ottochloa nodosa, adalah jenis tumbuhan yang ditemukan dilapangan. Data dianalisis dengan menggunakan perhitungan Indeks vegetasi rumus Shannon – Wiener (H’), dengan kriteria tingkat keragamannya adalah rendah (H’ < 1), sedang (1 < H’≤ 3) dan tinggi (H’ > 3). Indeks vegetasi keragaman H’ = 1,297. Tingkat keanekaragaman tumbuhan di perkebunan kelapa sawit di sepanjang pesisir pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai adalah sedang.
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PRE NURSERY SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DENGAN WAKTU PERENDAMAN YANG BERBEDA Sitinjak, Rama Riana
Agroprimatech Vol. 2 No. 2 (2018): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq.) di pre nursery setelah pemberian ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dengan waktu perendaman yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok pola Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dengan 4 taraf : 0% (B0), 25% (B1), 50% (B2), 100% (B3) dan faktor kedua adalah waktu perendaman dengan 4 taraf : 0 jam (P0), 5 jam (P1), 10 jam (P2), 20 jam (P3). Data di analisis dengan menggunakan sidik ragam (Analisis of variance) dengan signifikan 5 %. Dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan atau DMRT (Duncan multiple range test) dengan signifikan 5 %. Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa pemberian konsentrasi ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) dan waktu perendaman terhadap bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di pre nursery, tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (berat segar, berat kering, panjang akar, panjang daun, dan diameter batang) pada minggu ke 4 – 12, kecuali diameter batang pada minggu ke 7.
Growth Percentage And Length Of Mucuna Bracteata Tendles With The Provision Of Local Microorganisms (Mol) From Banana Corn Tanjung, Agung Rafiul Naldi; Ginting, Chelvin Van Roy; Sulastri, Yustina Sri; Sihaloho, Martha Adiwaty; Sitinjak, Rama Riana; Pratomo, Bayu
Agroprimatech Vol. 9 No. 1 (2025): Agroprimatech
Publisher : Prodi Agroteknologi Fakultas Agro Teknologi Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/agroprimatech.v9i1.5356

Abstract

Mucuna bracteata plants can be propagated in two ways: generatively and vegetatively. Vegetative propagation is done through cuttings, while generative propagation uses seeds. In 1999, Mucuna bracteata found it very difficult to produce flowers, fruits, and seeds. Due to this difficulty, propagation can be done through cuttings. This study uses a Non-Factorial Randomized Block Design (RBD) with 4 Treatments (P) and 6 Replications (U). The concentration of watering consists of 4 levels: P0 (0 ml), P1 (50 ml), P2 (150 ml), and P3 (250 ml). Meanwhile, the soaking duration also consists of 4 levels: P0 (0 minutes), P1 (5 minutes), P2 (10 minutes), and P3 (15 minutes). The results of the study showed that the interaction between the concentration of watering with MOL (Microorganism Local) from banana stems and the soaking duration did not have a significant effect on all parameters. Various concentrations of watering with MOL from banana stems and soaking duration significantly affected the growth of Mucuna bracteata. Although statistically, it did not show a significant effect, several treatment combinations could be observed, such as U6P3, which showed the highest root weight (15.44 grams). Then, the vine length was 117.1 cm, the number of leaves was 20, and the number of nodules was 11. As the highest values from P3, this shows the highest concentration of watering and soaking duration with MOL from banana stems. Thus, this effort can reduce agricultural waste and pathogens.