Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama dan sumber pangan pokok di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk yang mencapai 284,40 juta jiwa pada tahun 2025 turut meningkatkan kebutuhan beras. Namun, Kabupaten Malang sebagai salah satu sentra produksi mengalami penurunan produksi dari 161.312 ton pada tahun 2023 menjadi 147.123 ton pada tahun 2024 akibat berkurangnya luas panen dan menurunnya produktivitas. Kondisi ini menunjukkan perlunya peningkatan efisiensi penggunaan input produksi, seperti benih, pupuk, pestisida, herbisida, dan tenaga kerja agar biaya produksi tetap terkendali dan hasil panen lebih stabil. Keragaman praktik budidaya yang diterapkan petani juga menyulitkan analisis sistem produksi, sehingga pendekatan tipologi diperlukan untuk mengelompokkan sistem pertanian padi dan mempermudah evaluasi efisiensi tiap tipe. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2025 hingga Januari 2026 di Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Analisis data menggunakan pendekatan statistik multivariat, yaitu Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA). Sebelum analisis dilakukan, data diuji menggunakan Kaiser-Meyer-Olkin (KMO), Bartlett’s Test, dan Measure of Sampling Adequacy (MSA) untuk memastikan kelayakan data. Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak R (RStudio 4.5.2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pertanian padi di Desa Kemiri terbagi menjadi tiga tipe, yaitu MH (Medium size High yield), SH (Small size High yield), dan MM (Medium size Medium yield). Tipe MH memiliki produktivitas dan nilai R/C rasio tertinggi serta efisiensi terbaik pada penggunaan pupuk N, P, K, dan tenaga kerja. Tipe SH memiliki produktivitas relatif tinggi tetapi efisiensi input lebih rendah, sedangkan tipe MM menunjukkan produktivitas dan efisiensi pada kategori menengah.