Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Globally Connected Fake Eyelash Industry in Relation to the Increase of Local Income per Capita (Case of Kutasari, Purbalingga Regency) Galih Nur Seto; Isti Andini; Hakimatul Mukaromah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.88275.16-28

Abstract

The impact of the global economy on foreign investment in various locations has a profound influence on the growth of local industries, including the fake eyelash industry, thereby stimulating local economic development. The emergence of local industries also brings about changes in the economic structure of local communities. This study aims to determine the extent to which local industries contribute to the rise in per capita income within these communities. To achieve this objective, the research initially identifies the characteristics of the industry and subsequently examines their impact on per capita income growth. The results demonstrate that the industry exhibits favorable conditions in terms of workforce, products, and relationships. Moreover, the industry has a high likelihood of positively influencing the increase in per capita income of local communities. In conclusion, local industries play a significant role in bolstering per capita income and even enhancing other aspects related to the community's quality of life.
Identifikasi Karakteristik Kawasan Permukiman Pesisir dalam Menghadapi Bencana Banjir Rob di Pantai Utara Kota Pekalongan Tsabita Aqila Husna; Winny Astuti; Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i1.83737.70-88

Abstract

Kebertahanan permukiman pesisir merupakan kapasitas adaptasi yang dimiliki kawasan permukiman di wilayah pesisir. Kebertahanan pada permukiman pesisir menjadi pertimbangan dalam merencanakan pembangunan di suatu wilayah pesisir yang terkena dampak perubahan iklim. Kawasan permukiman di pesisir Kota Pekalongan yang berlokasi di pantai utara pulau Jawa ditetapkan menjadi salah satu kawasan minapolitan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan karena memiliki potensi sumber daya kelautan dan sarana prasarana penunjang wilayah pesisir yang memadai. Namun demikian, kawasan permukiman pesisir Kota Pekalongan menjadi salah satu kota di pesisir yang kerap mengalami bencana banjir rob setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kebertahanan permukiman pesisir terhadap bencana banjir rob. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, kuesioner, wawancara, dan studi literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kebertahanan permukiman pesisir terhadap bencana banjir rob di pantai utara Kota Pekalongan memiliki klasifikasi kebertahanan tingkat sedang. Nilai klasifikasi kebertahanan tingkat sedang dapat diartikan bahwa karakteristik pada kawasan permukiman pesisir di pantai utara Kota Pekalongan belum sepenuhnya memenuhi kriteria dari beberapa indikator.
Preferensi Bermukim Buruh Industri Besar di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo Fiki Octavia; Hakimatul Mukaromah; Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 2 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v5i2.72229.38-50

Abstract

Hinterland Kota Surakarta merupakan wilayah yang strategis dalam pengembangan sektor industri, dimana salah satunya adalah di Kabupaten Sukoharjo. Menurut Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Sukoharjo Tahun 2018-2038, di Kabupaten Sukoharjo terdapat kawasan yang perkembangannya sangat pesat, yaitu Kecamatan Grogol. Perkembangan pesat di Kecamatan Grogol ini ini mengundang banyak pendatang untuk bekerja sebagai buruh industri yang kemudian tidak dapat mengakses perumahan formal sebagai akibat kurangnya penyediaan rumah formal bagi buruh industri. Dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda, para pendatang mengakses perumahan dengan preferensi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi pengaruh dalam preferensi untuk bermukim pada buruh industri besar di Kecamatan Grogol. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif  dengan pengumpulan data primer melalui observasi dan kuesioner, serta pengumpulan data sekunder melalui pengumpulan data instansional dan studi literatur. Teknik analisis yang dipakai adalah analisis faktor. Hasil analisis yang mendapatkan bahwa faktor yang mempengaruhi buruh industri dalam menentukan lokasi bermukim adalah faktor kondisi rumah dan kualitas lingkungan, faktor kenyamanan lingkungan dan jarak tempat kerja, faktor keamanan mengakses layanan umum, serta yang terakhir adalah faktor sarana dasar. Faktor dominan yang mempengaruhi buruh industri besar di Kecamatan Grogol dalam memilih tempat tinggal adalah faktor kondisi rumah dan kualitas lingkungan.
Kesesuaian Lokasi Terminal Jalan Sutra di Kabupaten Boyolali Titin Putri Dhaniati; Isti Andini; Hakimatul Mukaromah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.76409.82-97

Abstract

Sistem transportasi memiliki peran dalam mengakomodasi kebutuhan mobilitas penduduk yang terus berkembang. Dalam keberhasilan pembangunan wilayah serta pertumbuhan ekonomi, sistem transportasi juga berperan sebagai katalisator penggerak pembangunan. Terminal merupakan salah satu komponen transportasi yang berfungsi sebagai sarana transportasi publik yang serbaguna untuk melayani kebutuhan dalam mengakses seluruh wilayah perkotaan. Untuk menciptakan terminal yang memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan wilayah, Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 24 Tahun 2021 menetapkan karakteristik lokasi ideal dalam penetapan lokasi terminal penumpang. Pemerintah Kabupaten Boyolali melakukan relokasi terminal tipe B dari Terminal Induk Sunggingan ke Terminal Jalan Sutra. Namun, lokasi Terminal Jalan Sutra yang dianggap sebagai titik pertumbuhan ekonomi, ditengarai tidak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah sekitar. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai kesesuaian lokasi terminal tipe B di Kabupaten Boyolali, yaitu Terminal Jalan Sutra tersebut. Variabel penelitian meliputi aksesibilitas, kesesuaian terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), keterhubungan dengan jaringan trayek angkutan umum, keterhubungan dengan jaringan jalan, kesesuaian kinerja lalu lintas, ketersediaan lahan, dan kelestarian lingkungan. Penelitian dilakukan dengan analisis kuantitatif dengan teknik analisis skoring dan pembobotan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa lokasi Terminal Jalan Sutra memiliki nilai kesesuaian sebesar 2,53 dari total skor kesesuaian 3,13 yang artinya lokasi Terminal Jalan Sutra dinyatakan sesuai terhadap prasyarat lokasi terminal penumpang tipe B. Berdasarkan hasil penilaian kesesuaian, lokasi Terminal Jalan Sutra memiliki kesesuaian terhadap aksesibilitas (indikator waktu tempuh, biaya atau ongkos perjalanan, pendapatan pelaku perjalanan, dan jarak), kesesuaian dengan RTRW, keterhubungan dengan jaringan trayek angkutan umum (jaringan trayek angkutan umum Antar Kota Dalam Provinsi/AKDP, jaringan trayek angkutan perkotaan, dan jaringan trayek angkutan perdesaan), keterhubungan dengan jaringan jalan (fungsi dan kelas jalan, rencana pengembangan jalan), dan terhadap kesesuaian lalu lintas, serta kelestarian lingkungan.
Tingkat Perubahan Pergerakan Siswa pada Penerapan Sistem Zonasi Sekolah (Studi Kasus SMA Negeri 1 dan 2 Purwokerto) Rahma Putri Nabiilah; Isti Andini; Bambang Slamet Pujantiyo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.91347.68-80

Abstract

Sistem zonasi sekolah yang telah ditetapkan sebagai kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di sekolah negeri hadir sebagai salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi disparitas pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini dilaksanakan melalui seleksi calon peserta didik baru dengan mengutamakan jarak rumah siswa menuju sekolah sehingga dapat memperkecil jangkauan layanan sekolah sekaligus memastikan siswa yang seharusnya terlayani sarana pendidikan mampu mengakses layanan tersebut. Hadirnya sistem zonasi sekolah mengubah distribusi daerah asal siswa sehingga mengubah pergerakan siswa, dan dalam skala kumulatif berpotensi mengubah kinerja jalan perkotaan. SMAN 1 dan SMAN 2 Purwokerto terletak di pusat pendidikan area perkotaan Purwokerto dan merupakan sekolah dengan cakupan jangkauan layanan yang luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterkaitan sistem zonasi sekolah terhadap tingkat perubahan pergerakan siswa. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis statistika deskriptif dan analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa pasca penerapan sistem zonasi di SMAN 1 dan SMAN 2 Purwokerto, jangkauan layanan sekolah mengecil dengan selisih sebesar 2,32 km. Jumlah perubahan pergerakan siswa didominasi kategori “sedang” dan rata-rata penurunan pergerakan siswa yang terjadi di kawasan penelitian mencapai 22,84%. Penurunan pergerakan siswa yang terjadi sebanding dengan penurunan angka kemacetan pada 6 ruas dari 12 ruas jalan di kawasan, yang artinya kinerja jalan pada kawasan semakin optimal.
Penilaian Kualitas Permukiman Perkotaan Berdasarkan Konsep Livable Settlement (Studi Kasus: Permukiman Kumuh Danukusuman) Frinka Salma Nanda Rifiona; Winny Astuti; Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v8i1.91906.62-74

Abstract

Kota Surakarta dinobatkan menjadi Kota Paling Layak Huni atau the Most Livable City berdasarkan survey Indonesian Most Livable City Index (MLCI) pada tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia. Namun, sesungguhnya masih banyak dapat ditemui permukiman-permukiman kumuh atau tidak layak huni di Kota Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta juga masih menetapkan sejumlah kawasan permukiman kumuh perkotaan. Salah satu kawasan kumuh perkotaan yang mempunyai aktivitas pergerakan yang tinggi di Kota Surakarta adalah permukiman kumuh kawasan Danukusuman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kualitas permukiman pada permukiman kumuh kawasan Danukusuman berdasarkan konsep livablesettlement dengan menggunakan analisis skoring dan metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan data dilakukan melalui observasi lapangan, studi literatur, dan penyebaran kuesioner kepada masyarakat dengan kriteria yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kualitas permukiman berdasarkan konsep livable settlement pada permukiman kumuh kawasan Danukusuman mempunyai skor sebesar 82,4% yang termasuk ke dalam kategori sangat tinggi. Kategori yang sangat tinggi tersebut menunjukkan bahwa kawasan Danukusuman tidak termasuk ke dalam permukiman kumuh jika dinilai berdasarkan konsep livable settlement.
Kesesuaian Karakteristik Rusunawa-rusunawa di Kecamatan Cakung Jakarta Timur terhadap Preferensi Masyarakat Berpenghasilan Rendah Alfanto Kurneryo Isanjaya; Winny Astuti; Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v8i1.90918.26-40

Abstract

Pembangunan infrastruktur di Jakarta sebagai ibu kota negara menyebabkan meningkatnya permintaan lahan untuk tempat tinggal, sementara ketersediaan lahan terbatas dan mahal. Hal ini menjadikan sulit bagi penduduk yang berpenghasilan rendah untuk memiliki hunian yang layak dan menyebabkan banyaknya permukiman kumuh yang tidak sehat. Untuk mengatasi masalah ini, Pemerintah Provinsi Jakarta membangun Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian karakteristik Rusunawa-rusunawa di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur terhadap preferensi MBR. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan mengumpulkan data melalui survei dan wawancara terhadap penghuni empat Rusunawa di Cakung, Jakarta Timur, yaitu Rusunawa Rawa Bebek, Rusunawa Cakung Barat, Rusunawa Pinus Elok, dan Rusunawa Penggilingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik Rusunawa-rusunawa di Cakung secara keseluruhan sesuai dengan preferensi MBR, dengan rata-rata persentase kesesuaian sebesar 97%. Aksesibilitas dan keamanan mendapat nilai sempurna, sementara kenyamanan dan fasilitas juga mendapat nilai tinggi meskipun terdapat sedikit perbedaan dengan preferensi MBR. Di sisi lain, harga sewa menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan, yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik Rusunawa-rusunawa di Cakung telah berhasil memenuhi kebutuhan dan preferensi MBR dalam banyak aspek penting meskipun perlu evaluasi kebijakan harga untuk memastikan kesesuaian dapat maksimal.