Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pengaruh Usia dan Lama Masa Kerja terhadap Beban Kerja Fisiologi dan Psikologi Operator Lady, Lovely; Astriani Pratiwi, Yuli; Sri Mariawati, Ade
Journal Industrial Servicess Vol 2, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v2i1.1510

Abstract

Beban kerja haruslah sesuai dengan kemampuan pekerja. Usia merupakan lama waktu hidup yang dihitung sejak dilahirkan atau diadakan. Dengan bertambahnya usia pekerja, banyak tugas yang biasa mereka selesaikan dengan mudah dapat menjadi semakin sulit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh usia terhadap beban kerja fisiologi dan psikologi operator, mengidentifikasi pengaruh perbedaan karakteristik mesin terhadap beban kerja operator dan mengidentifikasi perbedaan masa kerja terhadap beban kerja operator. Beban kerja fisik diukur berdasarkan %CVL, konsumsi energi dan nadi pemulihan. Beban kerja mental diukur menggunakan metode NASA-TLX. Pengujian variabel dilakukan menggunakan two sample t-test. Hasil yang diperoleh, usia mempengaruhi beban kerja fisik operator mesin manual sedangkan operator mesin otomatis tidak. Usia tidak mempengaruhi beban mental operator mesin manual maupun otomatis. Perbedaan jenis mesin tidak mempengaruhi beban fisik maupun mental operator dewasa awal sedangkan untuk dewasa pertengahan variabel ini berpengaruh pada beban fisiknya saja. Perbedaan masa kerja tidak mempengaruhi beban kerja.
USULAN PENERAPAN HAZARD IDENTIFICATION RISK ASSESSMENT AND DETERMINING CONTROL (HIRADC) UNTUK MENGURANGI KECELAKAAN KERJA DI BAGIAN UTILITY (PARAXYLENE STORAGE TANK) PTIP Umyati ST., MT, Ani; Sri Mariawati ST., MT., Ade; Aditya, Raka
Journal Industrial Servicess Vol 2, No 1 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v2i1.1498

Abstract

PTIP adalah perusahan petrokimia penghasil bahan baku dasar untuk pembuatan polyethylene. Sebelum berganti nama menjadi PTIP perusahaan ini bernama PTPPKR. PTIP memiliki tiga tangki penyimpanan paraxylene sebagai bahan baku utama yang berkapasitas hampir 10000 m3. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan di area tangki paraxylene yaitu sounding level paraxylene dan cleaning suction filter pompa paraxylene. Ada berbagai potensi bahaya di area ini dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di area tangki paraxylene bila dilakukan dengan tidak hati-hati akan berakibat fatal bagi diri sendiri, lingkungan kerja, dan lingkungan sekitar. Untuk mengetahui potensi-potensi bahaya yang ada pada kegiatan sounding level paraxylene dan cleaning suction filter pompa paraxylene digunakan metode Hazard Identification Risk Assessment and Determining Control (HIRADC). Dari metode HIRADC dapat diketahui potensi-potensi bahaya yang akan terjadi, dampak yang ditimbulkan, dan nilai risiko dari bahaya yang ada. Bahaya yang dapat terjadi diantaranya jatuh dari ketinggian, kebakaran, kematian, hingga terjadinya ledakan yang dapat menyebabkan kerugian bagi pekerja dan perusahaan. Selanjutnya dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif, dan penyediaan alat keselamatan (APD).
Pengukuran tingkat kelelahan kerja teller bank menggunakan Bourdon Wiersma test Ade Sri Mariawati; Lely Herlina; Ayu Fitriyani; Ani Umyati
Journal Industrial Servicess Vol 7, No 2 (2022): April 2022
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v7i2.14432

Abstract

PT Bank X cabang Cilegon merupakan bank milik pemerintah daerah. Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa, pelayanan merupakan hal yang penting, tak terkecuali bagi PT Bank X. Demi memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah, para karyawan terutama teller memiliki tanggung jawab yang besar. Teller harus memiliki tingkat ketelitian dan kecepatan yang tinggi serta harus senantiasa bersikap ramah dalam melayani para nasabah. Namun saat melakukan pekerjaannya, teller dapat mengalami kesalahan sebagai akibat adanya kelelahan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelelahan yang dirasakan oleh teller bank dengan menggunakan metode Bourdan Wiersma. Bourdon Wiersma adalah metode pengukuran beban kerja secara objektif untuk mengetahui tingkat pembebanan secara mental pada pekerjaan yang memerlukan ketelitian, kecepatan dan konstansi yang tinggi maupun untuk pekerjaan yang bersifat monoton. Terdapat tiga aspek yang dihitung yaitu tingkat kecepatan, ketelitian dan konstansi. Interpretasi metode Bourdon Wiersma menggunakan nilai weighted score yang merupakan tabel norma standar pada Bourdan Wiersma test. Hasil perhitungan pada kelima teller bank menunjukkan bahwa teller yang memiliki kelelahan kerja pada tingkat kecepatan, ketelitian, dan konstansi dengan tingkat signifikansi kelelahan tertinggi adalah teller 4. Berdasarkan weighted score sebelum dan sesudah bekerja, interpretasi kelelahan kerja berada pada kategori tingkat kelelahan ringan hingga lelah berat dengan nilai weighted score nya adalah 9 sampai 11 untuk kategori kelelahan ringan dan 0 sampai 6 untuk kategori kelelahan berat.
Penentuan prosedur dan waktu baku untuk proses produksi guna standarisasi bagi IKM bahan pangan di Kabupaten Lebak (studi kasus : IKM roti) Ani Umyati; Andita Nurhikmawati; Ade Sri Mariawati
Journal Industrial Servicess Vol 7, No 1 (2021): Oktober 2021
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v7i1.12392

Abstract

IKM Jaya Roti merupakan sebuah usaha yang bergerak dalam industri makanan yang berdiri pada tahun 2014, jenis roti yang diproduksi meliputi roti goreng rasa cokelat, roti dengan isian selai rasa stroberi, cokelat, kelapa, keju, moka dan martabak rasa stroberi, namun pada saat ini IKM Jaya Roti tidak memproduksi martabak. Dalam kondisi normal jumlah produksi Jaya Roti setiap harinya rata-rata mencapai 15.000 bungkus per hari, sedangkan untuk kondisi saat ini hanya memproduksi roti sebanyak 10.000 bungkus per hari hal ini disebabkan kurangnya permintaan dari pelanggan karena Jaya Roti biasa mendistribusikan produknya ke warung, agen, kantin sekolah.  Berdasarkan hasil wawancara, IKM Jaya Roti juga belum memiliki prosedur dan waktu standar untuk setiap proses pekerjaan sehingga belum adanya acuan waktu untuk pekerja, dengan tidak adanya waktu standar ini tidak dapat mengukur kemampuan maksimal pekerja pada saat melakukan tugasnya pada masing-masing stasiun kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam proses produksi roti di IKM ini terdiri dari 7 operasi, yaitu pengadonan (5 elemen aktivitas), pengembangan adonan, pencetakan (4 elemen aktivitas), pembuatan selai (5 elemen aktivitas), pemanggangan/penggorengan (4 elemen aktivitas), dan pengemasan (3 elemen aktivitas. Sedangkan waktu standar untuk proses produksi roti panggang adalah selama 272,85 menit.
Analisis Postur Kerja Operator Welder, Milling dan Helper di Workshop IV Cold Rolling Mill (CRM) PT Krakatau Steel dengan Pendekatan RULA (Rapid Upper Limb Assessment) Ade Sri Mariawati; Putri Marliana
Journal Industrial Servicess Vol 1, No 2 (2016): Maret 2016
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v1i2.1491

Abstract

Workshop IV adalah bagian dari PT Krakatau Steel yang merupakan divisi “central workshop & field maintenance”. Workshop IV CRM memiliki dua bagian area kerja, yaitu machine shop dan welding shop dengan lebih dari 30 jenis mesin yang digunakan. Pada area machine shop, terdapat berbagai jenis mesin seperti mesin gerinda besar hingga gerinda tangan, mesin bubut kecil hingga besar, mesin cutting, mesin gergaji hack dan back, crane, serta mesin milling besar dan kecil. Sedangkan pada area welding shop terdapat berbagai jenis mesin las dari yang kecil hingga mesin las CNC serta crane. Penelitian yang dilakukan adalah menganalisa postur kerja dari operator welder, milling dan helper di workshop IV CRM dengan menggunakan metode RULA. Observasi awal adalah melakukan penyebaran kuesioner nordic body map terhadap 3 operator welder, 2 operator milling serta 1 helper penghalusan untuk mengetahui keluhan-keluhan yang terjadi pada saat atau selesai bekerja. Ketiga mesin tersebut merupakan mesin yang memiliki intensitas kesibukan yang cukup tinggi. Hasil dari perhitungan dengan menggunakan software CATIA dan perhitungan manual menghasilkan skor yang sama, yaitu skor 3 pada bagian tubuh kanan dan kiri dari kegiatan mengelas, skor 5 pada bagian tubuh kanan dan skor 6 pada bagian tubuh kiri dari kegiatan membersihkan kerak sisa las, skor 7 pada bagian tubuh kanan dan skor 6 pada bagian tubuh kiri dari kegiatan memasang atau melepas benda kerja mesin milling, skor 7 pada bagian tubuh kanan dan kiri dari kegiatan memasang ragum mesin milling, skor 3 pada bagian tubuh kanan dan kiri dari kegiatan mengoperasikan mesin milling, serta skor 7 pada bagian tubuh kanan dan kiri dari kegiatan penghalusan (helper). Kategori skor1-2 memiliki level resiko minimum yang berarti sudah aman, skor 3-4 memiliki level resiko kecil dan diperlukan beberapa waktu kedepan untuk tindakan, skor 5-6 memiliki level resiko sedang dan diperlukan tindakan dalam waktu dekat, skor 7 memiliki level resiko tinggi dan perlu dilakukan tindakan sekarang juga
Perbaikan Metode Kerja Pada Stasiun Truss And Roof Dengan Pendekatan Biomekanika Di PT.XYZ Erdi Hermawan; Lovely Lady; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 3 No. 2 Juli 2015
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3487.741 KB)

Abstract

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memacu terciptanya berbagai peralatan atau mesin. Penggunaan mesin dimaksudkan untuk membantu kemampuan, kebolehan dan keterbatasan manusia dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya sehingga tercapai hasil kerja yang lebih banyak, lebih cepat, lebih kuat, mutu produk lebih baik, kesalahan lebih sedikit, beban kerja yang lebih ringan serta dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Dilihat dari kuesioner nordic body map pada operator yang memiliki keluhan rasa sakit pada tubuh bagian leher bagian atas, leher bagian bawah, bagian siku kiri, jari-jari tangan dan lain-lain. Selain itu, identifikasi postur kerja dengan metode RULA menggunakan software CATIA diperoleh skor operator pada pekerjaan pemindahan produk truss dan roof  rata-rata memiliki nilai 5-7 pada posisi tubuh, namun posisi tubuh yang paling berbahaya terdapat pada kegiatan mengarahkan beban pada pekerjaan produksi roof.. Hasil skor tersebut perlunya perbaikan postur kerja dalam waktu dekat dan perbaikan sekarang juga. Penelitian ini bertujuan untuk membuat usulan perbaikan metode kerja dengan menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assesment) dan biomekanika gaya. Hasil penilaian postur kerja dengan metode RULA diperoleh skot tertinggi pada operator 1 dan 2 stasiun roof kegiatan memgarahkan produk sebesar 7, sehingga diperlukan perbaikan sekarang juga. Kemudian hasil penilaian biomekanika gaya diperoleh gaya tekan sebesar 4642.834 N dan 4506.62 N, maka operator perlu hati-hati dalam melakukan kegiatan kerja ini karena besarnya gaya tekan (FC) > AL (batasan gaya angkat normal:3500N).  Selain itu, kegiatan kerja ini berpotensi untuk  terjadinya keluhan cidera musculoskeletal dan back injury. Perbaikan dengan merancang alat bantu rak dalam proses penyimpanan produk roof, dengan dilakukan perbaikan metode kerja membuat kerja berubah dan menjadi lebih baik. Penilaian skor RULA setelah perbaikan menunjukkan nilai skor 2 dan 3, artinya postur kerja ini sudah dikategorikan baik dan tidak berbahaya. Sedangkan hasil penilaian biomekanika gaya setelah perbaikan diperoleh gaya tekan sebesar 3371.649 N dan 3383.69 N, kegiatan kerja ini sudah dalam keadaan baik karena besarnya gaya tekan (FC) < AL (batasan gaya angkat normal:3500N).
Penilaian Beban Kerja Karyawan Unit Mikro Bank Menggunakan Metode NASA TLX Novi Aris Sasongko; Ade Sri Mariawati; Ani Umyati
Jurnal Teknik Industri Untirta VOL. 5 NO. 1 MARET 2017
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.692 KB)

Abstract

Unit Mikro kredit merupakan lembaga keuangan yang sedang berkembang dan memerlukan Sumber daya manusia yang mampu memberikan kinerja yang baik. Kegiatan yang saat ini berjalan adalah penyedian dana usaha untuk para pedagang kecil menengah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui skor beban kerja pada setiap level jabatan dan mengetahui faktor-faktor yang paling mempengaruh level jabatan terhadap beban kerja yang dialami oleh karyawan di setiap unit mikro kredit. Penelitian ini dilaksanakan di 3 (tiga) unit mikro bank antara lain unit mikro Bank BRI, unit Mikro BJB dan Unit Mikro Bukopin. Subyek penelitian ini adalah seluruh karyawan yang ada dalam unit tersebut. Beban kerja yang di ukur adalah beban kerja mental. Beban kerja mental diukur dengan menggunakan metode NASA TLX. Metode ini memuat enam indikator yaitu kebutuhan mental, kebutuhan fisik, kebutuhan waktu, performansi, usaha, tingkat frustasi. berdasarkan hasil analisis NASA TLX, karyawan yang menerima beban mental tertinggi ada pada 1 level jabatan yang sama yaitu, Branch manager, kepala unit dan manager unit dengan masing masing memperoleh nilai beban kerja sebesar 82.00 ; 82.67 dan 80.33 yang termasuk dalam kategori beban kerja sangat tinggi
Identifikasi Penilaian Aktivitas Pengelasan Pada Bengkel Umum Unit 1-4 Dengan Pendekatan Job Safety Analysis di PT.Indonesia Power UBP Suralaya Brian Hadi W.; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 2 No. 2 Juli 2014
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1603.556 KB)

Abstract

PT.Indonesia Power merupakan perusahaan pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Indonesia. PT.Indonesia Power mempunyai bagian pemeliharaan salah satunya untuk unit 1-4 yang didalamnya terdapat bengkel umum unit 1-4. Bengkel umum unit 1-4 memiliki beberapa aktivitas yaitu mengelas listrik, membubut, menggerinda, cutting, penggurdian dan lain-lain. Berdasarkan wawancara aktivitas las listrik di bengkel umum unit 1-4 memiliki jumlah kecelakaan kerja lebih banyak dibandingkan aktivitas lainya. Untuk itu diperlukan identifikasi potensi bahaya, penilaian risiko serta pengendaliannya. Latar belakang dari penelitian ini adalah pada bengkel umum unit 1-4 tidak memiliki Job Safety Analysis (JSA) pada setiap aktivitas. Aktivitas pengelasan pada bengkel umum unit 1-4 dilakukan diberbagai tempat seperti pengelasan di ruang terbuka, ruang tertutup dan ditempat ketinggian. Pada aktivitas pengelasan di tempat terbuka dilakukan setiap hari sedangkan pada aktivitas pengelasan di ruang tertutup atau ketinggian dilakukan tidak setiap hari dan jarang terjadi dikarenakan dilakukan apabila terdapat masalah dan gangguan mesin. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan observasi langsung. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi bahaya dan dampak bahaya dari aktivitas pengelasan, menilai risiko dari bahaya aktivitas pengelasan yang memiliki tingkat risiko/peringkat risiko tertinggi, dan menentukan cara pengendalian bahaya pada aktivitas pengelasan tempat terbuka, pengelasan tempat tertutup dan pengelasan di tempat ketinggian yang dilakukan bengkel umum unit 1-4. Dalam penelitian ini menggunakan metode Job Safety Analysis untuk mengidentifikasi potensi bahaya pengelasan listrik, penilaian risiko serta pengendaliannya. Hasil dari penelitian ini didapat potensi bahaya yang memiliki tingkat resiko/peringkat risiko tertinggi adalah Terkena sinar ultraviolet dan infra merah, Asap pengelasan terhirup pekerja, Percikan api mengenai benda yang mudah terbakar atau mengenai tabung, terdapat kandungan gas hidrogen di area pengelasan tempat tertutup dan ketinggian, Terjatuh/terpeleset dari ketinggian, potensi bahaya ini tergolong risiko tinggi, potensi bahaya lainya dari aktivitas pengelasan adalah Tersengat listrik, Terbakar ketubuh pekerja (terkena percikan api las), pekerja mengalami panas dalam ruangan tertutup, Terbentur/tertimpa material, Tertusuk material yang tajam, Tangan terjepit, Terjatuh, Terpukul palu terak, Tergores material tajam, Terhirup debu material, Tangan terkena logam panas, Terkena serpihan api saat gerinda, Terkena pecahan geram pada putaran gerinda. Dampak bahaya yang akan terjadi adalah Merusak mata dan kulit, Gangguan pernapasan, Menimbulkan ledakan atau kebakaran, kematian, Cidera/pingsan, Luka bakar pada tubuh pekerja, dehidrasi, Luka gores pada tangan, Luka bakar. Pengendalian yang dilakukan berdasarkan hirarki pengendalian yaitu engineering control, administrative control dan personal protective equuipment (APD).
Perancangan Ruang Menyusui yang Ergonomis dengan Metode Rasional Rohma Nurmala; Ja&#039;far Salim; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 1 No. 2 Juli 2013
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.932 KB)

Abstract

Rumah sakit umum yang ada saat ini masih banyak yang belum menyediakan ruang khusus menyusui.  Dalam rangka mendukung pemberian Air Susu Ekslusif (ASI) setiap rumah sakit diwajibkan memiliki ruang dan fasilitas pendukung pemberian ASI. Salah satu fasilitas yang perlu ada dalam ruang menyusui yaitu  kursi. Kursi untuk menyusui yang ada saat ini belum menggunakan prinsip ergonomi dan anthropometri dalam perancangannya sehingga membuat ibu dan bayi merasa  kurang nyaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang kursi pada ruang menyusui agar memberikan rasa nyaman pada ibu dan bayi saat proses menyusui. Peneliti mencoba merancang kursi dengan menggunakan metode rasional. Metode rasional menitik beratkan sebuah perancangan terstruktur berdasarkan costumer need. Sehingga input, penggunaan dan hasil dari rancangan ini adalah berpusatkan kepada pengguna dengan kata lain perancangan ini berdasarkan human center design. Kuesioner disebarkan kepada 36 responden yang kemudian dilakukuan uji validitas dan reliabilitas.setelah dilakukan pengolahan data dengan metode rasional dari tahap awal hingga tahap akhir maka diperoleh tujuan utama yaitu merancang kursi yang dapat memberikan rasa nyaman pada ibu menyusui, dengan alternatif terpilih yaitu desain kursi untuk perorangan, memiliki sandaran, bentuk sandaran lurus,memiliki penyangga tangan, dan bahan kursi dari kayu solid berlapis busa.
Identifikasi Penilaian Aktivitas Pengelasan Pada Bengkel UmuDengan Pendekatan Job Safety Analysis Brian Hadi Winiarto; Ade Sri Mariawati
Jurnal Teknik Industri Untirta Vol. 1 No. 1 Maret 2013
Publisher : Jurnal Teknik Industri Untirta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.109 KB)

Abstract

PT.Indonesia Power merupakan perusahaan pembangkit listrik tenaga uap terbesar di Indonesia. PT.Indonesia Power mempunyai bagian pemeliharaan salah satunya untuk unit 1-4 yang didalamnya terdapat bengkel umum unit 1-4. Bengkel umum unit 1-4 memiliki beberapa aktivitas yaitu mengelas listrik, membubut, menggerinda, cutting, penggurdian dan lain-lain. Berdasarkan wawancara aktivitas las listrik di bengkel umum unit 1-4 memiliki jumlah kecelakaan kerja lebih banyak dibandingkan aktivitas lainya. Untuk itu diperlukan identifikasi potensi bahaya, penilaian risiko serta pengendaliannya. Latar belakang dari penelitian ini adalah pada bengkel umum unit 1-4 tidak memiliki Job Safety Analysis (JSA) pada setiap aktivitas. Aktivitas pengelasan pada bengkel umum unit 1-4 dilakukan diberbagai tempat seperti pengelasan di ruang terbuka, ruang tertutup dan ditempat ketinggian. Pada aktivitas pengelasan di tempat terbuka dilakukan setiap hari sedangkan pada aktivitas pengelasan di ruang tertutup atau ketinggian dilakukan tidak setiap hari dan jarang terjadi dikarenakan dilakukan apabila terdapat masalah dan gangguan mesin. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan observasi langsung. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengidentifikasi bahaya dan dampak bahaya dari aktivitas pengelasan, menilai risiko dari bahaya aktivitas pengelasan yang memiliki tingkat risiko/peringkat risiko tertinggi, dan menentukan cara pengendalian bahaya pada aktivitas pengelasan tempat terbuka, pengelasan tempat tertutup dan pengelasan di tempat ketinggian yang dilakukan bengkel umum unit 14. Dalam penelitian ini menggunakan metode Job Safety Analysis untuk mengidentifikasi potensi bahaya pengelasan listrik, penilaian risiko serta pengendaliannya. Hasil dari penelitian ini didapat potensi bahaya yang memiliki tingkat resiko/peringkat risiko tertinggi adalah Terkena sinar ultraviolet dan infra merah, Asap pengelasan terhirup pekerja, Percikan api mengenai benda yang mudah terbakar atau mengenai tabung, terdapat kandungan gas hidrogen di area pengelasan tempat tertutup dan ketinggian, Terjatuh/terpeleset dari ketinggian, potensi bahaya ini tergolong risiko tinggi, potensi bahaya lainya dari aktivitas pengelasan adalah Tersengat listrik, Terbakar ketubuh pekerja (terkena percikan api las), pekerja mengalami panas dalam ruangan tertutup, Terbentur/tertimpa material, Tertusuk material yang tajam, Tangan terjepit, Terjatuh, Terpukul palu terak, Tergores material tajam, Terhirup debu material, Tangan terkena logam panas, Terkena serpihan api saat gerinda, Terkena pecahan geram pada putaran gerinda. Dampak bahaya yang akan terjadi adalah Merusak mata dan kulit, Gangguan pernapasan, Menimbulkan ledakan atau kebakaran, kematian, Cidera/pingsan, Luka bakar pada tubuh pekerja, dehidrasi, Luka gores pada tangan, Luka bakar. Pengendalian yang dilakukan berdasarkan hirarki pengendalian yaitu engineering control, administrative control dan personal protective equuipment (APD).