This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Taufik Suprihatini
Unknown Affiliation

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Hubungan antara Gaya Kepemimpinan dan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Motivasi Kerja pada Perusahaan PT. CNTIC (China National Technical Import & Export Corporation) Triana Lestari; Taufik Suprihatini; Much Yulianto; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.08 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini yaitu karyawan PT. CNTIC pebangunan PLTU Cilacapmelakukan demo secara berulang-ulang pada tahun 2013 dengan perumusan masalahpimpinan sangat menerapkan aturan safety first namun terjadi incident jatuhnya karyawandari ketinggian saat bekerja sampai meninggal dunia dan tuntutan karyawan mengenaitambahan gaji, makanan tambahan, tunjangan ketinggian tidak cepat direspon dengan baiksehingga waktu yang seharusnya digunakan karyawan untuk bekerja tersita untuk demo.Tujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan dan iklim komunikasiorganisasi dengan motivasi kerja karyawan pada perusahaan PT. CNTIC pembangunanPLTU Cilacap.Upaya menjawab permasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakanteori X yang dilkembangkan McGregor (1967) dan teori ERG yang dikembangkan olehAlderfe (1972) dengan menggunakan metode kuantitatif. Obyek penelitian karyawanPT.CNTIC pembangunan PLTU Cilacap. Sampel sebanyak 152 responden, menggunakankuesioner sebagai teknik pengumpulan data dan selanjutnya data kuantitatif dianalisa melaluiStatistical Package For Socil Science (SPSS) dengan diwujudkan dalam mono tabel dantabulasi silang dan uji korelasi menggunakan Kendall TauHasil dari penelitian ini adalah gaya kepemimpinan memiliki hubungan yang lemahdengan motivasi kerja karyawan dengan korelasi sebesar 0,091, iklim komunikasi memilikihubungan yang emah dengan motivasi keja dengan hubungan sebesar 0,028, secara bersama-sama gaya kepemimpinan dan iklim komunikasi memiliki hubungan yang lemah denganmotivasi kerja yaitu sebesar 0,164 dengan koefisien determinasi 0,027 artinya variabel gayakepemimpinan dan iklim komunikasi dapat menjelaskan perubahan motivasi kerja sebesar2,7% sehingga 97,3% dipengaruhi oleh faktor lain.Disarankan untuk mendukung penerapan Safety First maka kebutuhan akan AlatPelindung diri dipenuhi, bila perusahaan menghadapi masalah dan belum dapat memenuhituntutan karyawan maka hendaknya dikomunikasikan dengan lebih terbuka karena karyawanterutama laki-laki bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.Key Words : Gaya Kepemimpinan, Iklim Komunikasi, Motivasi kerja
Pembingkaian Berita Media Online : Kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) Imanda Aulia Akbarian; Taufik Suprihatini; Much Yulianto; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.042 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana suatu realitas kejadian dikonstruksi oleh media online khususnya pemberitaan tentang kasus Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing untuk melihat bagaimana media online seperti Tempo.co dan Republika online dalam membingkai pemberitaan kasus kekerasan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan teori yang diberikan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang dilakukan Republika online cenderung bersikap netral dalam menyikapi kasus kekerasan TKW yang menimpa Erwiana Sulistyaningsih, sedangkan media Tempo.co memiliki kecenderungan kontra terhadap pemerintah. Media Tempo.co mengkonstruksikan dan mengarahkan pembaca untuk menilai Pemerintah sebagai pihak yang bersalah. Ketika pembaca melihat isi pemberitaan Tempo.co, yang terlintas dan diingat pembaca adalah pihak pemerintah seperti BNP2TKI merupakan pihak yang tidak bertanggung jawab atas penyebab berulangnya kasus penyiksaan TKI, baik dalam hal pengawasan TKW maupun membantu penyelesaian administrasi rumah sakit dimana Erwiana di rawat. Media Tempo.co menunjukkan kecenderungannya untuk mendukung Erwiana sebagai korban. Selain itu layaknya media online umumnya, headline menjadi salah satu senjata utama dalam menarik perhatian masyarakat untuk membacanya begitu juga dengan Tempo maupun Republika. Ini berarti, media online seperti Tempo dan Republika lebih menjual headline dalam tiap pemberitaan disajikan dan kadang mengesampingkan konten berita itu sendiriKata Kunci : Kekerasan, Perempuan dan TKW, Media
Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta ) Fitria Purnama Sari; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.835 KB)

Abstract

Adaptasi Budaya dan Harmoni Sosial( Kasus Adaptasi Budaya Ikatan Mahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )AbstrakMahasiswa perantauan merupakan pendatang di sebuah daerah dengan latar belakang budaya yangberbeda dari daerah asalnya. Saat berada di daerah baru, biasanya mahasiswa perantauan akan bergabungdalam sebuah ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmenyatukan mahasiswa perantauan. Namun, ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini terkesan eksklusif,tertutup dan tidak mau berinteraksi dengan budaya di luar ikatan mahasiswa berbasis etnisitas. Kesaneksklusif dan tertutup rentan terhadap konflik dengan host culture. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui cara beradaptasi mahasiswa perantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasisetnisitas, kendala yang dihadapi mahasiswa perantauan selama beradaptasi dan memahami penerimaanhost culture terhadap budaya minoritas mahasiswa perantauan. Upaya menjawab permasalahan dan tujuanpenelitian dilakukan dengan paradigma interpretif dengan menggunakan metode analisis fenomenologi.Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Anxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst,William : 2005 ), Interaction Adaption Theory ( Gudykunst, William : 2005 ). Subjek penelitian adalahenam mahasiswa perantauan yang tergabung dalam tiga ikatan mahasiswa berbasis etnisitas serta tigaorang host culture yang berstatus mahasiswa. Sedangkan lokasi penelitian ini berada di Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa perantauan harus beradaptasi dengan budaya di Yogyakarta,seperti bahasa, adat istiadat dan cita rasa makanan. Mahasiswa perantauan akan menggunakan tigastrategi untuk beradaptasi dengan bahasa, yaitu strategi aktif, pasif dan interaktif. Sedangkan untukberadaptasi dengan adat istadat di Yogyakarta, mahasiswa perantauan mempelajari saat berinteraksidengan host culture. sedangkan untuk beradaptasi dengan cita rasa makanan, mahasiswa perantauancenderung untuk memilih makanan yang cocok dengan selera mereka. Meskipun mereka tergabung dalamikatan mahasiswa berbasis etnisitas, mereka dapat menjalin hubungan baik dengan host culture. Haltersebut dapat dilihat dari kegiatan – kegiatan yang dilakukan mahasiswa perantauan bersama hostculture. Di sisi lain, host culture masih memiliki persepsi negatif terhadap mahasiswa perantauan.Meskipun begitu, host culture dapat menerima keberadaan mahasiswa perantauan selama mereka dapatmenjaga hubungan baik dengan masyarakat Yogyakarta. Ketika mahasisa perantauan dan host culturesaling beradaptasi, pada akhirnya mereka memiliki kompetensi komunikasi. Adanya sikap mindful antaramahasiswa perantauan,penerimaan host culture serta kompetensi komunikasi antara keduanya dapatmenciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada. Implikasi akademis yangdapat menambah pengetahuan mengenai proses interaksi antarbudaya terutama Anxiety / UncertaintyManagement Theory dari Gudykunst. Cakupan teoritis mengenai komunikasi antarbudaya yang mindfulperlu diperluas dengan memasukkan faktor tingkat pendidikan yang bisa mempengaruhi terciptanyasituasi komunikasi yang mindful.Kata kunci : adaptasi budaya, etnisitas, harmoni sosialCulture Adaptation and Social Harmony( The Adaptation Culture Case of Student BondsBased On Ethnicity in Yogyakarta )AbstractMigrant students are newcomer in a region with different culture background of their region original.When the migrant student in a new region, they join in a student bonds based on ethnicity. The aim of thisstudent bonds based on ethnicity is bringing them together. However, the student bonds based onethnicity is exclusive, enclosed impressed and do not want to interact with the culture outside the studentbonds based on ethnicity. This exclusive and enclosed impressed is conflict vulnerable with host culture.The goals of this research are understand how the migrant student who joined in student bonds based onethnicity can be adapted, obstacles when migrant student are adapted and understand the acceptance ofhost culture to migrant students’ minority culture. Attempting to answer the issue and the goals byinterpretive paradigm and using phenomenological analysis method. The theories in this research areAnxiety/Uncertainty Management Theory (Gudykunst, William : 2005 ), Interaction Adaption Theory (Gudykunst, William : 2005 ). The subject of this research are six migrant students who joined in studentbonds based on ethnicity and three student of host culture. This research’s location in Yogyakarta.The outcome of this research shows the migrant student must be adapted with culture in Yogyakarta, suchas language, custom and the taste of food. The migrant students will use three strategies to languageadapted, such as active, passive and interactive strategy. While adapted with the custom is learning whenthe migrant student interact with host culture. while adapted with the taste of food, the migrant studentstend to choose the food which suited to their taste. While the migrant student joined in student bondsbased on ethnicity, they can have a good relation with host culture. This can be seen from the activitieswhich done by migrant students with host culture. In the other hand, host culture still having a negativeperception toward the migrant students. Nevertheless the host culture can accept the existence of migrantstudent during they keep the good relation with the people of Yogyakarta. When the migrant student andhost culture having an adaptation with each other, they have a communication competence. A mindfulattitude from migrant student, acceptance from host culture and communication competence betweenmigrant student and host culture can create social harmony in the diversity of culture. Academicimplication which can increase the knowledge about the process of intercultural interaction especiallyAnxiety / Uncertainty Management Theory from Gudykunst. Theoretical coverage of the mindfulintercultural communication needs to be expanded to include education level factors that can affect thecreation of mindful communication situations.Key word: culture adaptation, ethnicity, social harmonyAdaptasi Budaya dan Harmoni Sosial ( Kasus Adaptasi Budaya IkatanMahasiswa Berbasis Etnisitas di Yogyakarta )SkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Fitria Purnama SariNIM : D2C 009 067JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO2013PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangSebagai mahasiswa yang menuntut ilmu di daerah dengan latar budaya baru, yang kemudianakan disebut sebagai mahasiswa perantauan, mereka akan merasa asing ketika berada di daerahtersebut, terutama daerah yang memiliki latar budaya yang berbeda dari daerah asalnya.Kehadiran mereka pun sangat mudah dikenali, misalnya saja dari bahasa dan logat yangdigunakan berbeda dengan host culture.Sebagai mahasiswa perantauan, mereka harus beradaptasi dengan lingkungan barumereka. Bentuk adaptasi para mahasiswa perantauan dengan host culture dapat berupa adaptasidengan bahasa, adat istiadat, norma, kepercayaan bahkan makanan. Bagaimana paramahasiswa perantauan ini dapat beradaptasi sangat mempengaruhi hubungan dengan hostculture kedepannya.Mahasiswa yang berasal dari luar Yogyakarta atau mahasiswa perantauan ini biasanyaakan membentuk satu paguyuban berdasarkan kesamaan latar budaya atau yang biasa disebutdengan ikatan mahasiswa. Ikatan mahasiswa berbasis etnisitas ini bertujuan untukmempersatukan mereka selama mereka berada di Yogyakarta.Hal itulah yang memberikan kesan ekslusif yang seolah – olah paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnis ini “ berbeda “ dengan budaya host culture dan tidak mauberinteraksi dengan budaya di luar paguyuban. Tidak mau berinteraksi dengan budaya di luarpaguyuban memiliki arti yaitu budaya yang ada dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitastersebut tidak bisa melebur menjadi satu dengan budaya sekitar yang berbeda sehingga tidakdapat menghargai perbedaan antara satu budaya dengan budaya lain. Selain itu, ikatanmahasiswa berbasis etnisitas ini dapat menimbulkan solidaritas sempit antar anggotanya.Hal itu juga berbeda dengan semboyan bangsa Indonesia “ Bhinneka Tunggal Ika “ yangmemiliki arti “ Berbeda – beda tetapi tetap Satu Jua “. Berbeda – beda disini merujuk padakebudayaan bangsa Indonesia yang beragam namun tetap harmonis demi terciptanya persatuandan kesatuan bangsa. Harmoni sosial dapat tercipta apabila budaya yang beragam tersebut dapatmelebur menjadi satu dan kelompok antar etnis yang mengusung setiap budaya dapat salingmenghargai tanpa ada pengkotak – kotakan budaya.1.2 Rumusan MasalahRumusan masalah dalam penelitian ini adalah:1. Bagaimanakah cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture?2. Apa sajakah kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture?3. Bagaimanakah penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal iniadalah budaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas?1.3 Tujuan PenelitianDari penjelasan – penjelasan di atas peneliti di sini berusaha untuk:1. Memahami cara beradaptasi mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswaberbasis etnisitas dengan host culture.2. Memahami kendala yang dihadapi oleh mahasiswa yang tergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas selama beradaptasi dengan host culture.3. Memahami penerimaan host culture dengan budaya minoritas, dalam hal ini adalahbudaya dari ikatan mahasiswa berbasis etnisitas.1.4 Signifikansi Penelitian1.4.1 Kegunaan TeoritisPenelitian ini secara teoritis atau akademis diharapkan dapat memberikan kontribusiterhadap intercultural adaptation saat ini dalam melihat fenomena antara paguyuban sepertiikatan mahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dalam konteksadaptasi dengan host culture.1.4.2 Kegunaan PraktisSecara praktis penelitian ini diharapkan paguyuban – paguyuban seperti ikatanmahasiswa berbasis etnisitas khususnya etnis luar Jawa di Yogyakarta dapat menciptakanharmoni sosial mengingat Indonesia memiliki keberagaman budaya.1.4.3 Kegunaan SosialHasil penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat mengenaibagaimana cara mahasiswa yang tergabung dalam ikatan mahasiswa beradaptasi danmenciptakan harmoni sosial dengan host culture.1.5.Kerangka Pemikiran Teoretis1.5.1 State of Art1.5.2 Paradigma InterpretifStudi tentang mahasiswa yang tergabung sebagai anggota ikatan mahasiswa berbasis etnisitasdalam menciptakan harmoni sosial dengan host culture, secara teoritik didekati denganmerujuk pada gagasan genre interpretif, yaitu pemikiran – pemikiran teoritik ( komunikasi )yang berusaha menemukan makna dari suatu tindakan dan teks ( Littlejohn, 1999 : 15 )1.5.3 Pendekatan FenomenologiMenurut Littlejohn ( dalam Rahardjo, 2005 : 44 ), sejalan dengan genre interpretatif yangdigunakan sebagai basis berpikir dalam penelitian ini, maka gagasan teoritik yang memilikiketerkaitan dengan genre interpretatif adalah fenomenologi.1.5.4 Teori Manajemen Ketidakpastian ( Uncertainty ) dan Kecemasan ( Anxiety )1.5.5 Teori Interaksi Adapatasi1.6 Operasionalisasi Konsep1.7 Metoda Penelitian1.7.1 Desain PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor ( 1975 :2 ) mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan datadeskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapatdiamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan inidvidu tersebut secara holistik ( utuh ).1.7.2 Situs PenelitianLokasi yang digunakan sebagai tempat penelitian adalah lingkungan tempat berkumpulnyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas yang ada di Yogyakarta.1.7.3 Subjek PenelitianSubjek penelitian adalah mahasiswa – mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang tergabungdalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas seperti BAMANA ( Barisan Mahasiswa Kaimana ),FORMASY ( Forum Mahasiswa Sula Yogyakarta ) dan Forum Keluarga Mahasiswa NTT –Bersatu Yogyakarta serta host culture yang merupakan warga yang berasal dari Yogyakarta yangpernah berinteraksi langsung dengan mahasiswa perantauan yangtergabung dalam ikatanmahasiswa berbasis etnisitas.1.7.4 Sumber DataJenis dan sumber data dalam penelitian ini adalah :1. Data Primer2. Data Sekunder1.7.5 Teknik Pengumpulan DataData dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dari subyek penelitian.1.7.6. Analisis dan Interpretasi DataBAB IIDESKRIPSI TEKSTURAL DAN STRUKTURALADAPTASI BUDAYA DAN HARMONI SOSIAL2.1 Deskripsi Tekstural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.1.1 Informan 12.1.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.1.2 Interaksi Antarbudaya2.1.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.2 Informan 22.1.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.2.2 Interaksi Antarbudaya2.1.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.3 Informan 32.1.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.3.2 Interaksi Antarbudaya2.1.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.4 Informan 42.1.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.4.2 Interaksi Antarbudaya2.1.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.5 Informan 52.1.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.5.2 Interaksi Antarbudaya2.1.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.1.6 Informan 62.1.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.1.6.2 Interaksi Antarbudaya2.1.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2 Deskripsi Tekstural Individu ( Host Culture )2.2.1 Informan 12.2.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.1.2 Interaksi Antarbudaya2.2.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.2 Informan 22.2.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.2.2 Interaksi Antarbudaya2.2.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.2.3 Informan 32.2.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.2.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3 Deskripsi Struktural Individu ( Mahasiswa Perantauan )2.3.1 Informan 12.3.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.1.2 Interaksi Antarbudaya2.3.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.2 Informan 22.3.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.2.2 Interaksi Antarbudaya2.3.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.3 Informan 32.3.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.3.2 Interaksi Antarbudaya2.3.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.4 Informan 42.3.4.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.4.2 Interaksi Antarbudaya2.3.4.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.5 Informan 52.3.5.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.5.2 Interaksi Antarbudaya2.3.5.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.3.6 Informan 62.3.6.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.3.6.2 Interaksi Antarbudaya2.3.6.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4 Deskripsi Struktural Individu ( Host Culture )2.4.1 Informan 12.4.1.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.1.2 Interaksi Antarbudaya2.4.1.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.2 Informan 22.4.2.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.2.2 Interaksi Antarbudaya2.4.2.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.4.3 Informan 32.4.3.1 Proses Adaptasi Antarbudaya2.4.3.2 Interaksi Antarbudaya2.2.3.3 Kendala saat Berinteraksi serta Cara Mengatasinya2.5 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Mahasiswa Perantauan )2.6 Deskripsi Tekstural Gabungan ( Host Culture )BAB IIISINTESIS MAKNA TEKSTURAL DAN STRUKTURAL3.1 Proses Adaptasi AntarbudayaSebagai pendatang di Yogyakarta, informan ( mahasiswa perantauan ) mengalami perbedaanbudaya. Perbedaan budaya yang dapat mereka rasakan secara jelas adalah bahasa, cara berbicara,kebiasaan dan cita rasa makanan. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang selalu digunakanoleh masyarakat Yogyakarta dalam kesehariannya, terutama bagi warga Yogyakarta yang sudahberusia lanjut, mereka sudah terbiasa menggunakan bahasa Jawa dibanding bahasa Indonesia.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu beradaptasi terhadap penggunaan bahasa Jawa olehhost culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) juga perlu beradaptasi dengan kebiasaan host culture.Informan ( mahasiswa perantauan ) perlu memahami kebiasaan host culture seperti menyapadengan anggukan sambil tersenyum yang diikuti dengan sapaan monggo atau bahasa tubuhmenyilakan masuk menggunakan tangan ketika mempersilakan seseorang masuk terlebih dahuluyang terkadang juga diikuti dengan kata monggo. Kebiasaan host culture seperti itu merupakanbentuk dari komunikasi non verbal.Proses adaptasi informan 1, 2, 3 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) terhadap cita rasamakanan di Yogyakarta cukup lama. Pada awal proses adaptasi, mereka makan hanya untukmemenuhi kebutuhan perut yang lapar tanpa mempedulikan rasa yang menurut mereka tidakenak. Bahkan menurut informan 2 dan 6 ( mahasiswa perantauan ) benar – benar menganggapmakanan di Yogyakarta “ tidak bisa dimakan “, sehingga selama proses adaptasi, mereka hanyamemakan makanan instan saja.Ellingsworth ( dalam Liliweri, 2001:63 ) mengemukakan bahwa setiap individudianugerahi kemampuan untuk beradaptasi antarpribadi. Oleh karena itu maka setiap individumemiliki kemampuan untuk menyaring manakah perilaku yang harus atau yang tidak harusdilakukan. Adaptasi nilai dan norma antarpribadi termasuk antarbudaya sangat ditentukan olehdua faktor, yakni pilihan untuk mengadaptasi nilai dan norma yang fungsional atau mendukunghubungan antarpribadi. Atau nilai dan norma yang disfungsional atau tidak mendukunghubungan antarpribadi.3.2 Interaksi AntarbudayaInforman ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari hal – hal yang perlu diadaptasi ketikamereka berinteraksi dengan host culture. Interaksi informan ( mahasiswa perantauan ) denganhost culture banyak terjalin dalam kegiatan ruang publik seperti di kampus, organisasi, gereja,dan lingkungan tempat tinggal. Kampus, organisasi, gereja dan lingkungan tempat tinggalmerupakan wadah bagi informan ( mahasiswa perantauan ) serta host culture untuk dapat salingbertatap muka dan mengenal satu sama lain lebih dekat, sehingga proses adaptasi dapat terjalindiantara mereka.Cara untuk memahami penyesuaian antar budaya adalah dengan bersikap sesuai denganpergaulan dan efektif antar individu dalam host culture. Dalam pandangan ini, stranger telahmenyesuaikan diri saat mereka telah belajar untuk berinteraksi secara efektif dengan host culturedan perilaku mereka sesuai dengan host culture. ( Furnham and Bochner; Grove and Torbiorn;Torbiorn dalam Gudykunst 2005:424 ).3.3 Kendala ketika Berinteraksi serta Cara MengatasinyaPerbedaan bahasa membuat sebagian besar informan ( mahasiswa perantauan ) mengalamiketidakpastian ( uncertainty ) dan kecemasan ( anxiety ). Ketidakpastian ( uncertainty ) dankecemasan ( anxiety ) merupakan salah satu kendala mahasiswa perantauan saat berinteraksidengan host culture.Jika informan 1 ( host culture ) mengalami kendala dalam pemahaman bahasa olehmahasiswa perantauan, bagi informan 2 dan 3 ( host culture ) kendala yang dirasakan selamaberinteraksi dengan mahasiswa perantauan adalah karakteristik masing – masing individu.Setiap mahasiswa perantauan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga perlu adanyapemahaman karakteristik dari masing – masing individu agar dapat terjalin komunikasi yangefektif.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi,makan informan mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensikomunikasi.BAB IVPENUTUP4.1 KesimpulanPenelitian ini merupakan studi yang mengkaji mengenai pengalaman proses adaptasi mahasiswaperantauan yang tergabung dalam ikatan mahasiswa berbasis etnisitas dengan host culture untukmenciptakan harmoni sosial di Yogyakarta. Penelitian ini didasarkan pada fenomena adanyaikatan mahasiswa berbasis etnisitas dalam menciptakan harmoni sosial. Sebagai kaum minoritasdi sebuah kota perantauan, informan ( mahasiswa perantauan ) diharapkan dapat beradaptasi danberinteraksi dengan host culture.Cara beradaptasi informan ( mahasiswa perantauan ) dapat dilakukan saat berinteraksidengan host culture. Interaksi dengan host culture dapat terjadi saat informan ( mahasiswaperantauan ) melakukan suatu kegiatan secara bersama – sama. Dari proses interaksi tersebut,informan ( mahasiswa perantauan ) dapat mempelajari budaya di daerah perantauannya.Dalam beradaptasi dengan perbedaan budaya, individu informan ( mahasiswa perantauan) menghadapi kendala bahasa. Namun, mereka dapat mengatasinya dengan bertanya kepadalawan bicara maupun orang lain yang lebih fasih berbahasa daerah. Selain bertanya, informan (mahasiswa perantauan ) juga dapat mengatasi kendala bahasa dengan cara memperhatikan danmempelajari bahasa non verbal dari lawan bicara. Setelah bertanya maupun mempelajari bahasanon verbal, informan ( mahasiswa perantauan ) memiliki pengetahuan baru mengenai budaya didaerah perantauannya. Pengetahuan barunya itu dapat meminimalisir rasa ketidakpastian dankecemasan saat berinteraksi dengan host culture yang lain.Meskipun informan ( host culture ) masih memiliki stereotipe terhadap informan (mahasiswa perantauan ), namun host culture dapat menerima keberadaan mereka selama merekadapat menjalin hubungan yang baik dengan host culture.Sedangkan informan ( mahasiswa perantauan ) yang menerima perlakuan kurangmenyenangkan yang disebabkan oleh stereotipe host culture bersikap mindful. Informan (mahasiswa perantauan ) memahami stereotipe tersebut sebagai pengetahuan agar dapatmengantisipasi perilaku host culture yang lainnya.Ketika kedua informan yaitu informan mahasiswa perantauan dengan informan hostculture dapat melakukan adaptasi dan meminimalisir hambatan komunikasi yang terjadi, makaninforman mahasiswa perantauan dan informan host culture memiliki kompetensi komunikasi.Tiga komponen kompetensi komunikasi tersebut adalah motivasi, pengetahuan, keterampilan.Sikap mindful informan ( mahasiswa perantauan ), penerimaan dari informan ( hostculture ) serta kompetensi yang dimiliki informan ( mahasiswa perantauan ) dan informan ( hostculture ) dapat menciptakan harmoni sosial di tengah – tengah keberagaman budaya yang ada diYogyakarta.DAFTAR PUSTAKABogdan, Robert C. And Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A.Phenoinenological Approach in The Social Sciences. 1975. John Wiley and Sons – alihbahasa Arief F. Surabaya: Usaha Nasional.Gudykunst, William. Theorizing About Intercultural Communication. 2005. California: SagePublication, Inc.Littlejohn, Stephen W. Theories of Human Communication ( Sixth Edition ). 1999. Belmont,California: Wadsworth Publishing Company.Liliweri, Alo. Gatra – gatra Komunikasi Antarbudaya. 2001. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Rahardjo, Turnomo. Menghargai Perbedaan Kultural: Mindfulness dalam KomunikasiAntaretnis. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Memahami Komunikasi Persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalam Meyakinkan ODHA Bergabung Untuk Membangun Kepercayaan Diri Nugraheni Yunda Nuraga; Taufik Suprihatini; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang ODHA adalah Orang Dengan HIV/AIDS merupakan sebutan di Indonesiabagi mereka yang mengidap HIV/AIDS. Keberadaan ODHA selalu dipandangsebelah mata oleh kebanyakan orang. Di Indonesia masyarakat menganggap virusHIV/AIDS sebagai suatu aib, masyarakat lebih memilih menghindari ODHAbahkan berdampak hingga orang – orang terdekat ODHA seperti orang tua,saudara dan teman. Masyarakat menganggap demikian karena kebanyakan orangmengkaitkan virus HIV/AIDS dengan sex bebas atau penggunaan narkoba.Muncul diskriminasi antara ODHA dengan masyarakat, sehingga mengakibatkanadanya tekanan psikologis seperti takut, stres, marah dan kecewa. Dengankeadaan demikian, ODHA memilih untuk tertutup dari dunia luar.Tekanan psikologis seperti stres, mendorong ODHA dapat merubahkarakteristik kepribadian mereka. Tekanan negatif dari orang – orang disekitarODHA membentuk konsep diri yang negatif bagi ODHA. Kepribadian yangawalnya terbuka, bersikap positif, dan supel dapat berubah menjadi sebaliknya.Keadaan demikian dapat memperburuk kehidupan sosialisasi ODHA dalamrutinitas keseharian mereka.Keadaan tertutup sebenarnya menambah beban bagi ODHA, hal ini dapatmenurunkan mutu hidup mereka. Mutu hidup adalah motivasi untuk tetap survivedan dapat beradaptasi dengan keadaan. Dengan mutu hidup yang baik, makamereka akan memiliki semangat juang untuk bertahan hidup yang tinggi. ODHAmembutuhkan interaksi komunikasisekedar untuk mencurahkan isi hati ataubahkan menambah informasi mengenai penyakitnya tersebut. Sulit bagi ODHAmembuka percakapan tentang dirinya kepada orang lain. Kenyamanan,kepercayaan, dan kedekatan menjadi aspek penting bagi ODHA untuk melakukankomunikasi. Salah satu caranya adalah bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya (KDS).Namun, ODHA utamanya mereka yang menetap di KabupatenTemanggung masih enggan untuk bergabung dengan Kelompok DukunganSebaya Smile Plus. Salah satu pengurus KDS Smile Plus (Dias. 53tahun)menyatakan, “ ODHA di Kota Temanggung kebanyakan belum memiliki tingkatkesadaran diri mengenai penyakit yang di idapnya. Ada beberapa yang takutbergabung karena faktor kecemasan, tidak percaya diri dan ada pula yang sudahtidak mau memperdulikan kesehatannya lagi”. Hingga tahun 2011 sendiri anggotaSmile Plus tergabung sebanyak 32 orang, dan bersifat dinamis. Sedangkan padaawal tahun terbentuk di tahun 2008 hingga tahun 2010, jumlah anggota hanyamencapai 24 anggota. Jumlah ini sangat miris jika dibandingkan dengan jumlahpenderita HIV/AIDS di Kota Temanggung sebanyak 192 kasus.Kurangnya pengetahuan, rasa tidak percaya diri, malu, takut untuk terbukamembuat ODHA memilih untuk tetap menutup diri dengan tidak bergabungdalam Kelompok Dukungan Sebaya ini. Dengan jumlah kasus HIV/AIDS diTemanggung tinggi dan kurangnya kesadaran diri ODHA untuk bergabungdengan Kelompok Dukungan Sebaya menjadi suatu masalah bagi pengurus SmilePlus. Mereka harus melakukan komunikasi persuasif yang tepat dan baik untukmeyakinkan bahwa melalui Kelompok Dukungan Sebaya Smile Plus membantuODHA untuk memotivasi diri mereka, memperdulikan kesehatan mereka, dantempat untuk saling berbagi.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk memahami komunikasi persuasif KelompokDukungan Sebaya (KDS) Smile Plusdalam meyakinkan ODHA bergabung untukmenumbuhkan kepercayaan diri.Penemuan Penelitian1. Karakteristik KDS Smile Plus dalam komunikasi kelompokKelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus lebih mengacu kepadakomunikasi kelompok primer. Karakteristik kelompok primer antara lain; (1).Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas, artinyamenembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, pada kelompok primer kitaungkapkan hal – hal yang bersifat pribadi. (2). Komunikasi pada kelompok primerbersifat personal, dalam kelompok primer yang penting ialah siapa dia, bukanapakah dia. Kita mengkomunikasikan seluruh pribadi kita. (3). Pada kelompokprimer, komunikasi lebih menekankan pada aspek hubungan dari pada aspek isi,komunikasi dilakukan untuk memelihara hubungan baik. (Jalaludin Rakhmat.2007; 142 – 143).Karakteristik kelompok primer sangat dekat sekali dengan karakteristikKDS Smile Plus. Kualitas komunikasi yang mendalam menembus pada hal – halpribadi, dan membangun ikatan emosional dengan anggota menjadi landasanSmile Plus untuk melakukan komunikasi dengan anggotanya. Pembimbing diSmile Plus membuat ODHA nyaman untuk menceritakan hal – hal pribadinya,sehingga anggota Smile Plus menganggap kelompok ini seperti keluarga bukansebagai kelompok profesional. Dua informan yang merupakan pembimbing diKDS Smile Plus selalu memposisikan dirinya sebagai saudara, orang tua atausahabat dengan anggotanya. Dengan anggapan seperti itu membuat anggota SmilePlus yang hampir keseluruhan adalah ODHA akan membangun ikatan emosionalyang dekat, tidak merasa KDS Smile Plus sebagai kelompok yang profesional,sehingga mereka menganggap KDS Smile Plus sebagai keluarga kedua.2. Cara KDS Smile Plus dalam membangun self disclosure ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Menurut Liliweri (1994:163), teori self disclosure menekankan bahwahubungan antar pribadi yang ideal adalah kalau seseorang membiarkan dirinyadan orang lain membagi pengalaman mereka sepenuhnya dengan membuka diri,karena adanya prinsip bahwa pribadi yang dimiliki ibarat kertas “tembuspandang” (transparan), sukar ditutupi sehingga orang lain pun bisa melihat.Membuat ODHA mau terbuka menceritakan segala hal yang dialaminyakepada orang lain membutuhkan cara yang berbeda dengan orang – orangbiasanya. KDS Smile Plus menggunakan beberapa cara agar ODHA nyamanuntuk terbuka dengan pembimbing di Smile Plus, diantaranyaa. Membangun ikatan emosional kekeluargaan antara KDS Smile Plus denganODHAb. Menjaga Privasi ODHAc. Mengikuti kesenangan ODHA dalam berkomunikasi3. Cara KDS Smile Plus dalam membangun kosep diri positif ODHA (OrangDengan HIV/AIDS)Membentuk konsep diri yang positif di pikiran ODHA tidak mudah,karena mereka beranggapan bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak adaobatnya dan apabila orang lain tahu bahwa dirinya positif HIV/AIDS makaresikonya adalah akan dikucilkan. Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yangdapat mempengaruhi berubahnya konsep diri ODHA menjadi positif, diantaranyaadalah keberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.William D. Brooks (Jalaludin Rakhmat, 2007:99) mendefinisikan konsepdiri sebagai “those phsyical, social, and psychological perception of ourselvesthat we have derived from experiences and our interaction with others”. Jadikonsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentangdiri ini bisa bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Seperti yang sudah disebutkansebelumnya, konsep diri yang dimiliki ODHA dapat berubah positif dari pengaruhkeberadaan pembimbing Smile Plus sebagai orang lain bagi ODHA dalammelakukan pendampingan dan kelompok rujukan yang diikuti oleh ODHA.1. Orang Lain.Orang lain dalam hal ini adalah peran pendampingan yang dilakukan olehpembimbing KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diri positif pada ODHA.Gabriel Marcel menjelaskan bahwa “the fact is that we can understandourselves by starting from the other, or from others, and only by starting fromthem” . Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.Bagaimana orang lain menilai diri kita, akan membentuk konsep diri kita pribadi.(Jalaludin Rakhmat, 2007: 101). Maka bagaimana pendamping KDS Smile Plusmenilai ODHA, akan membentuk konsep diri ODHA seperti apa.2. Kelompok Rujukan atau (Refrence Group)Tergabung dalam sebuah kelompok sangat mempengaruhi konsep diriseseorang. Secara tidak langsung ODHA akan mengikuti aturan – aturan hinggakebiasaan sebuah kelompok yang diikuti dalam keseharian. Sama halnya denganODHA yang bergabung dengan KDS Smile Plus, mereka secara disadari atautidak perlahan mengalami perubahan, baik perilaku atau konsep diri mereka. KDSSmile Plus yang dibentuk untuk ODHA dan dari ODHA bertujuan untuk menjadiwadah bagi ODHA untuk saling bertukar informasi dan saling menguatkan diri.ODHA yang sebelumnya merasa sendiri, memiliki konsep diri negatif akanberubah menjadi lebih baik karena pengaruh kelompok ini.ODHA akan menyesuaikan keadaan yang ada di dalam KDS Smile Plus.Di dominasi dengan pendampingan dari pembimbing yang selalu memacumotivasi hidup ODHA untuk survive, dan pengaruh teman dalam kelompoktersebut, maka hal itu berpengaruh besar bagi ODHA untuk melakukan hal yangsama dengan teman – temannya yang satu kelompok dengannya.Kelompok rujukan adalah kelompok yang secara emosional mengikat dirikita, dan berpengaruh terhadap konsep diri kita. Dengan melihat kelompok ini,orang mengarahkan perilakunya dan menyesuaikan diri dengan ciri – cirikelompoknya. (Jalaludin Rakhmat, 2007: 104).Cara – cara yang digunakan oleh KDS Smile Plus dalam membentuk konsep diriyang positif di diri ODHA diantaranya adalaha. Memberikan pujian kepada ODHAb. Menggunakan testimonic. Event KDS Smile Plus (close meeting)4. Karakteristik ODHA dalam komunikasi persuasifKomunikasi persuasif menurut Nimmo (2000:128) mengungkapkanpersuasi mengubah sikap dan perilaku orang dengan menggunakan kata – katalisan dan tertulis, menanamkan opini baru dan usaha yang disadari mengubahsikap, kepercayaan, atau perilaku orang melalui transmisi pesan. Komunikasipersuasif merupakan metode untuk menyamapikan pesan – pesan darikomunikator untuk mempengaruhi komunikannya dengan pesan – pesan yangsebelumnya telah dikelola seraya menyesuaikan dengan keadaan psikologis dansosiologis serta kebudayaan dari komunikan atau dengan kata lain denganmenggunakan tehnik persuasi (Soenarjo & Djoenasih, 1993:30).Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh KDS Smile Plus kepadaODHA diantaranya adalah untuk merubah perilaku negatif ODHA danmenguatkan diri mereka dari status positif HIV/AIDS. Mengajak ODHA untukmerubah perilaku sangat sulit, terutama bagi mereka yang sudah menjadi sebuahkebiasaan. Dalam penelitian ini, ODHA yang sulit untuk dipersuasif melakukanpendampingan adalah ODHA yang memiliki jabatan atau tokoh di lingkungannya.Mereka takut jika statusnya tersebut tersebar hingga ke telinga orang – orangdisekitarnya, sehingga mereka mengganggap bahwa dirinya sehat dan tidak perludilakukan pendampingan dari KDS Smile Plus.Dengan demikian dibutuhkan caratersendiri bagi pembimbing di KDS Smile Plus agar komunikasi persuasif iniberjalan efektif.Dalam melakukan komunikasi persuasif dalam bukunya Miller dan Williamsyang berjudul “The 5 Path To Persuasion”, menjelaskan lima tipe komunikandalam melakukan komunikasi persuasif, yang pertama adalah the charismaticdecision maker, kedua the thinker decision maker, skeptic decision maker,follower decision maker, dan yang terakhir adalah controller decision maker . Jikaditerapkan dalam karakteristik ODHA di Temanggung dapat diklasifikasikanberdasarkan tipe komunikan dalam buku Miller dan Williams ini.a. ODHA sebagai follower decision maker.Follower berdiskusi berdasarkan pada pengalamanan terdahulu yangpernah dialaminya sebelumnya. Mereka mempunyai tanggung jawab yang baik.Untuk melakukan komunikasi persuasif kepada follower yang harus dilakukanadalah sediakan banyak bukti yang menyatakan proposal atau data tersebut suksesuntuk kasus sebelumnya dan harus relevan serta kredibel. (Williams dan Miller.2005. 108).b. ODHA sebagai Skeptic decision maker.Mereka sulit menerima informasi dari orang lain. Mereka akan terusbertanya dan melawan apabila tidak sesuai dengan pikirannya, terutama padaremaja. Mereka memiliki gaya bicara seenaknya sendiri, sulit menghargai oranglain dan akan mengatakan apa yang mereka fikirankan tanpa memperdulikanorang lain. Skeptis memiliki kepribadian yang kuat, namun skeptis merupakantipe yang sulit mempercayai orang. Untuk dapat mempersuasif tipe skeptis harusmemiliki strategi yang kuat diantaranya membangun kepercayaan, kemudianmencari penengah antara skeptis dan persuator, jangan berfikir dari sudut pandangpersuator sendiri, harus ada sumber terpercaya untuk mempersuasif orang tipeskeptis. (Williams dan Miller. 2005. 77).Dalam penelitian ini juga memperlihatkan perbedaan tehnik komunikasipersuasif yang dilakukan oleh pembimbing KDS Smile Plus kepada ODHA.Dalam penelitian ini menunjukan bahwa pembimbing yang positif HIV/AIDSmelakukan komunikasi persuasif dengan mengontrol emosinya menjadi lebihsabar dan lembut. Ia berusaha untuk meredam emosi ODHA dengan halus.Sedangkan pembimbing yang negatif dari virus HIV/AIDS lebih terbuka danmudah beradaptasi/ mudah bergaul dalam melakukan komunikasi persuasifdengan ODHA. Ia tidak sungkan untuk mengingatkan ODHA dengan lebih tegasjika mereka melakukan kesalahan.Implikasi AkademisBerdasarkan lingkup teoritis, penelitian ini membahas mengenaikomunikasi persuasif Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Smile Plus dalammeyakinkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bergabung untuk membangunkepercayaan diri. Dengan teori konsep diri yang memaparkan mengenai konsepdiri positif mempengaruhi ODHA memiliki pengembangan kepercayaan lebihbaik dari pada ODHA dengan konsep diri negatif. Di dukung dengan adanya teoriself-disclosure ODHA bisa berbagi tentang privasinya kepada pembimbing diKDS Smile Plus, sehingga memudahkan dalam melakukan pendampingan.Sedangkan pada teori komunikasi persuasif menunjukan bahwapembimbing KDS Smile Plus melakukan interaksi perusasif tanpa ada paksaan.Pembimbing menghormati segala keputusan ODHA saat dilakukannyapendampingan. Pembimbing KDS Smile Plus membangun kepercayaan denganODHA dan berusaha agar adanya perubahan membangun kepercayaan diri padaODHA. Maka dalam penelitian ini tidak terbukti adanya penemuan – penemuanuntuk mengembangkan teori baru.DAFTAR PUSTAKABuku:Adler, Ronald.B dan Neil Towne. 1987. Looking Out/Looking In InterpersonalCommunication. USA: CBS Coliege Publishing.Alvin A. Goldberg Carli. E Larson. 1985. Komunikasi Kelompok Proses-ProsesDiskusi dan Penerapannya. Penerbit Universitas Indonesia (UI- Press)Beebe, Steven A, Susan J. Beebe, Mark V.Redmond. 2005. InterpersonalCommunication Relating To Others. United States of America : PersonEducation, Inc.De Vito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: ProfessionalBooks.Guba, Egon G & Yvonna S. Lincoln. 1994. Competing Paradigms in QualitativeResearch. Dalam Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln (ed).Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California : SAGEPublications.Jourard, S.M. 1971. The Transparent Self (Edisi Revisi). New York: VanNostrandLiliweri, Alo. 1994. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung : PT Citra Aditya Bakti.Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication (6th edition).USA : WadsworthLittlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Communication (6th edition).USA : Wadsworth.Littlejohn, Stephen W. 2008. Theories of Humn Communication (8th edition).USA: Wadsworth.Miller, Robert B & Williamms, Garry A. 2005. Acclaim For The 5 Paths ToPersuasion. New York : Warner Book GroupMoleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT RemajaRosdakarya.Moustakas, Clark. 1994. Phenomenological Research Methods. London : SagePublications, Inc.Nimmo, Dan. 2000. Komunikasi Politik Komunikator, Pesan dan Media. RemajaRosdakarya: Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1998. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Onong Uchayana MA, Effendi. 1999. Hubungan Insani. PT. Remaja Rosdakarya,Bandung.Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS.Rakhmat, Jalaluddin. 1989. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi, Edisi Revisi. Bandung. RemajaRosdakarya.Soenarjo & Djoenasih.S. 1993. Komunikasi Persuasif dan Retorika. Yogyakarta:Liberty.
Sosok Perempuan Pelaku Kejahatan Pada Sampul Majalah Detik (Analisis Semiotika) Syarifa Larasati; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.669 KB)

Abstract

Kasus kejahatan hampir setiap hari menghiasi media massa dan belakangan semakin intensdiberitakan. Tidak hanya laki-laki, sederet nama wanita yang terjerat kasus tindak kejahatan terusbermunculan. Meningkatnya jumlah perempuan yang terlibat kasus kejahatan baik itu sebagai pelakumaupun korban sesungguhnya mewakili gejala sosial tertentu. Dalam pemberitaan media, sosok perempuanyang lemah dan emosional, menjadikan perempuan sebagai objek. Hal inilah yang melatarbelakangipenelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perempuan pelaku kejahatandigambarkan dalam majalah Detik.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Penelitian ini digunakan teori representasioleh Stuart Hall. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melaluisistem penandaan yang tersedia. Semiotika Roland Barthes digunakan dalam penelitian ini untukmembedah teks sampul majalah Detik dan mengungkap mitos di dalamnya. Semiotika adalah salah satumetode yang paing interpretif dalam menganalisis teks. Penelitian ini menggunakan sampul pada lima edisiMajalah Detik yang dipilih dari beragam bentuk tindak kejahatan.Hasil penelitian ini ditemukan fakta bahwa Majalah Detik melakukan labeling pada perempuanpelaku kejahatan dalam sampulnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konstruksi perempuanpelaku kejahatan nampaknya tidak bisa lepas dari budaya patriarki, konsumerisme, dan romansa. Mitosyang muncul dalam penelitian ini adalah sosok perempuan androgini, sosok wanita pendosa dan istri yangburuk (bad wives), sosok perempuan penggoda, sosok perempuan manipulator dan penguasa yang semenamena.Selain itu, gejala meningkatnya kejahatan yang dilakukan oleh wanita tidak dapat dilepaskan dariperubahan nilai budaya dan meningkatnya peranan sosial wanita dalam kehidupan sosialImplikasi hasil penelitian ini dalam aspek teoritis ini adalah memberikan kontribusi bagi penelitiankomunikasi terkait konstruksi perempuan dalam media massa dalam sampul majalah. Implikasi praktis darihasil penelitian ini memberikan penjelasan tentang sebagai bahan evaluasi dan referensi industri mediayang bergerak di bidang serupa agar meminimalisir kecenderungan menggunakan labeling dalammemberitakan perempuan pelaku kejahatan. Sedangkan implikasi sosial dari penelitian ini adalah penelitianini dapat bermanfaat bagi masyarakat, dalam memilah produk media, masyarakat diharapkan sadar danlebih kritis untuk tidak menerima segala produk media mentah-mentah.
Persepsi Khalayak tentang Aksi Demonstrasi FPI di Surat Kabar Suara Merdeka Anike Puspita Yunita; Joyo NS Gono; Lintang Ratri Rahmiaji; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.563 KB)

Abstract

Pascareformasi, demonstrasi marak terjadi di berbagai daerah di tanah air.Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anggota Front Pembela Islam (FPI)rupanya memiliki daya tarik tersendiri bagi media massa untuk mengangkatnyamenjadi berita. Suara Merdeka merupakan salah satu media cetak yang menulisdemonstrasi FPI dalam pemberitaannya. Akan tetapi, Suara Merdekamengidentikkan demonstrasi yang dilakukan oleh anggota FPI dengan tindakananarkis dan selalu berujung dengan bentrokan pada berita yang dihasilkannya.Kata-kata bentrokan, kericuhan, keributan, perusakan, dan kemacetan hampirselalu ada dalam berita demonstrasi FPI di Suara Merdeka.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana persepsikhalayak tentang aksi demonstrasi FPI di surat kabar Suara Merdeka. Tipepenelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi.Dalam analisis resepsi, khalayak dipandang sebagai produser makna, tidak hanyamenjadi konsumen media. Khalayak akan menerima berita demonstrasi FPI yangdibacanya sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan pengetahuan mereka.Penelitian ini juga menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall, untukmenjelaskan jalannya proses encoding dan decoding berita-berita aksi demonstrasiFPI.Hasil penelitian menunjukkan bahwa khalayak aktif dalammenginterpretasi berita demonstrasi FPI yang diterimanya. Interpretasi khalayakterbagi dalam tiga posisi pemaknaan: dominant-hegemonic position, negotiatedposition, dan oppositional position. Khalayak yang masuk dalam dominanthegemonicposition, memaknai demonstrasi FPI identik dengan tindakan anarkisdi dalamnya. Khalayak tersebut memaknai demonstrasi FPI sesuai dengan maknadominan yang dihadirkan Suara Merdeka. Sementara khalayak dengan negotiatedposition, akan menerima makna dominan yang ada, tetapi mereka memilikipemaknaan alternatif dimana ada campur tangan pihak lain atau pemerintah dalamdemonstrasi FPI. Kemudian tidak ada khalayak yang berada pada posisi oposisi.Hal ini dilihat dari kecenderungan pemberitaan yang seragam.Temuan lain dari penelitian ini yaitu tidak ada korelasi antara perbedaanagama dengan pemaknaan khalayak terhadap berita aksi demonstrasi FPI.
Eksistensi Graffiti sebagai Media Ekspresi Subkultur Anak Muda Triliana Kurniasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.248 KB)

Abstract

PENDAHULUAN Menuangkan pesan ke dalam bentuk visual masih sering menjadi pilihan karena bentuk visual memiliki beberapa kelebihan, seperti bisa dinikmati lebih lama, pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan lebih jelas, dan dapat terdokumentasikan dengan baik. Sementara di sisi lain, komunikasi visual juga bisa menjadi representasi sosial budaya suatu masyarakat yang dijalankan dan menjadi kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat itu. Di sini masyarakat dalam suatu cara tertentu memilih untuk berkomunikasi visual yang justru menunjukkan kelebihannya dibandingkan dengan budaya lainnya, termasuk lewat kemunculan budaya komunikasi visual dalam karya seni rupa jalanan atau street art.Graffiti, sebagai salah satu bentuk street art, mengandung pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya. Pesan bisa muncul secara tersembunyi atau eksplisit. Graffiti dipelopori oleh anak-anak muda yang “gatal” ingin menuangkan ide-ide kreatifnya untuk menunjukkan eksistensi dan ekspresi diri walaupun menggunakan cara-cara yang kerap dianggap melanggar aturan atau norma. Graffiti yang ada di Indonesia kemudian kental dihubungkan dengan kota Yogyakarta, karena bisa dikatakan hampir tiap tembok jalanan di sana tak luput dari sentuhan dan perhatian seniman lukis jalanan.Pada awalnya, menurut Majalah HAI No. 36/XXX/4-10 September 2006 (Wicandra, 2006: 52), graffiti menjadi sekadar coretan dinding yang berafiliasi dengan kelompok atau geng tertentu. Kemudian graffiti menemukan gaya baru yang mengarah pada artistic graffiti sehingga muncul seni mural yang banyak menyajikan kritik sosial. Di sini tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Dengan menggunakan nama jalanan (street name) dan ideologinya masing-masing, setiap writer (pembuat graffiti) menumpahkan ekspresinya melalui penampakan warna, objek, dan kata-kata dalam graffiti.Setiap kota ternyata memiliki ceritanya sendiri tentang keberadaan budaya visual graffiti, termasuk di Kota Semarang yang terlihat dari mulai banyaknyasudut kota yang dihiasi oleh graffiti. Walaupun aktivitas graffitinya tidak seramai di Yogyakarta, Kota Semarang pernah dihiasi graffiti mural yang menjadi perbincangan banyak orang yang bertema “Cicak vs Buaya”. Mural ini dibuat oleh 12 PM (one two pm), salah satu komunitas street art di kota Semarang, di Jalan Hayam Wuruk, Pleburan, Semarang, dan merupakan hasil kerjasama antara komunitas street art 12 PM dengan LSM Antikorupsi KP2KKN Jateng. Pesan dalam mural ini begitu mengena karena menggambarkan tentang kondisi politik di Indonesia saat itu yang sarat dengan kisruh politik antara Polri (digambarkan sebagai Buaya) dan KPK (sebagai Cicak).Daya kritis dalam graffiti menunjukkan seni memang tak bisa dipisahkan dengan realitas kehidupan sosial di masyarakat. Seni juga tidak bisa berdiam jika ada ketimpangan dalam kehidupan. Dengan bahasa dan style yang berkarakter, seni mampu berbicara dengan bahasa sendiri. Para seniman akan terus berekspresi meskipun wahana atau wadah mereka banyak yang hilang akibat ditelan perubahan zaman. Tembok jalanan menjadi tempat atau medium alternatif bagi seniman guna mengekspresikan segala hal yang mereka rasa dan pikirkan. Selain itu, cara ini juga dapat digunakan sebagai wujud pemenuhan kebutuhan akan eksistensi diri maupun komunitas. Demi sebuah eksistensi dan mempertahankan identitas agar tetap diakui, kelompok seniman street art tak kehabisan akal guna menuangkan uneg-uneg, mereka berkreasi bukan lagi di atas kanvas namun di tembok-tembok jalan (Andrianto, 2009).Kemunculan komunitas graffiti sendiri sesungguhnya merupakan salah satu bentuk subkultur anak muda di tengah masyarakat. Apa yang membuat subkultur anak muda sangat “terlihat” adalah adanya sifat khas dan perilaku anak muda yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Beberapa cara yang dilakukan anak muda untuk mengkomunikasikan eksistensi dirinya muncul salah satunya lewat kebiasaan yang melanggar aturan atau norma. Dalam hal ini, graffiti yang muncul kerap dianggap sebagai salah satu masalah yang ditimbulkan anak muda ketika mereka tidak berhasil mendapatkan akses komunikasi yang diharapkan. Praktik graffiti kerap dijuluki sebagai vandalisme karena bentuknya yang dianggap merusak,mengotori, dan memperkumuh tembok kota. Karena itu, kerap muncul undang-undang yang melarang keberadaan graffiti di tengah masyarakat.Perkembangan komunitas graffiti menjadi suatu subkultur anak muda, dengan adanya sifat khas dan perilaku yang suka mencari perhatian, melakukan pendobrakan, gemar pamer, dan tentu saja, berbeda. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini merumuskan permasalahan tentang eksistensi graffiti sebagai media komunikasi dan ekspresi subkultur anak muda.PEMBAHASANPenelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, di mana peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki dan bilamana fokus penelitian terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2002: 1). Menggunakan tiga orang informan yang terdiri dari para writer, studi kasus dipilih agar dapat memahami dan menjawab keingintahuan peneliti terhadap fenomena graffiti yang tengah berlangsung secara spesifik di Kota Semarang dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Selain itu, penelitian dilakukan karena terdapat keunikan pada penggunaan graffiti sebagai media komunikasi subkultur yang menyajikan berbagai elemen visual mulai dari penampakan garis, objek, warna, kata-kata, hingga penempatannya di jalanan yang mampu menarik perhatian khalayak.Graffiti sebagai bentuk komunikasi visual, sesuai dengan pendapat Chaffee (1993: 3) bahwa komunikasi mempunyai banyak muka, informasi bisa ditransmisikan melalui berbagai bentuk. Di sini komunikasi terbentuk melalui visualisasi graffiti berupa objek, kata-kata, dan pewarnaan sebagai media berekspresi anak muda. Adanya penampakan objek biasanya mewakili pesan yang ingin disampaikan, sementara kata-kata yang tersaji bisa menjadi sarana yang memudahkan penerimaan pesan oleh khalayak. Sedangkan penggunaan warna, bagi informan pria, secara psikologis menunjukkan ekspresi maskulinitas dengan kecenderungan warna gelap. Hal ini berbeda dengan informan wanita yang cenderung menunjukkan ekspresi keceriaan, kesetiaan, atau dedikasi pada orang lain. Tidak hanya itu, mereka yang merasa sebagai pemalu dan tidak percaya diri,bisa menyuarakan ekspresinya lewat graffiti karena di sini mereka tidak harus berbicara.Berdasarkan pengamatan, dominasi graffiti yang muncul di Semarang cenderung menyampaikan pesan visual dan tidak banyak graffiti yang membawa pesan sosial terkait dengan kondisi masyarakat di sekitarnya. Pesan visual tersebut biasanya dibuat dengan maksud memperindah suatu lokasi atau untuk menunjukkan eksistensi diri pada komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai elemen dalam graffiti bisa menghasilkan bentuk estetika tersendiri dalam berkomunikasi sehingga mampu membangun hubungan antara pembuat dengan khalayaknya. Hal ini karena adanya tiga elemen estetika visual seperti yang diutarakan Dake (2005: 7) tentang objek (yaitu graffiti), pembuat (yaitu writer), dan khalayak. Ketiga elemen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain yang pada akhirnya saling membentuk umpan dan timbal balik atas penampakan graffiti.Sementara itu, keberadaan graffiti merupakan suatu bentuk subkultur di tengah masyarakat. Hebdige (Hasan, 2011: 220-221) berpandangan bahwa subkultur adalah subversi bagi apa yang dianggap normal. Subkultur bisa saja dianggap sebagai hal yang negatif karena watak kritisnya terhadap standar masyarakat yang dominan. Subkultur dibawa secara bersama-sama oleh kumpulan individu yang merasa diabaikan oleh standar masyarakat dan menyebabkan mereka mengembangkan perasaan kememadaian terhadap identitasnya sendiri.Mengikuti cara Gelder (Hasan, 2011: 221-222) yang mengusulkan enam kunci cara mendefinisikan subkultur, terlihat ada persamaan dan perbedaan bila masing-masing kunci tersebut diperbandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan sebagai berikut:a. Melalui hubungan negatif mereka terhadap kerja (misalnya bersifat parasit, malas-malasan suka bermain di waktu luang).Berkaitan dengan hal ini, kenyataannya setiap writer tetap melakoni pekerjaan lain dalam rangka mempertahankan posisinya secara ekonomi dan politik agar tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat. Umumnya mereka ini sangat aktif mengembangkan seni atau mengakrabi dunia anak muda. Dunia yang digeluti tidak jauh dari dunia kreatif, seperti menjadi desainer grafis. Jadi bisadikatakan hubungan negatif yang diutarakan Gelder tidak tampak pada subkultur graffiti yang muncul di Semarang.b. Melalui hubungan mereka yang ambivalen atau negatif terhadap kelas (jika subkultur bukanlah „kesadaran kelas‟ dan tidak konformitas terhadap definisi kelas secara tradisional).Secara umum, graffiti di Semarang tidak dijadikan sebagai sebuah gerakan yang merujuk pada kelas tertentu termasuk kelas atau kelompok akar rumput. Lebih tepatnya, para pelaku yang muncul justru mengandalkan graffiti hanya sebagai sumber ketenaran kelompok dan individu. Graffiti yang tersaji kebanyakan melambangkan nama kelompok dan belum banyak jenis graffiti mural yang menyikapi keadaan sekitar dengan kritis. Ini menandakan bahwa graffiti di Semarang masih berupaya pada usaha mencari “jati diri” street art yang ingin dikembangkan oleh subkultur.c. Melalui asosiasi mereka terhadap teritori atau wilayah (misalnya di jalanan, di klab, kelompok tertentu) daripada pada kepemilikan dan kekayaan.Sebagai salah satu bentuk street art, graffiti sudah tentu beredar di jalanan. Setiap kelompok (crew) umumnya mempunyai penanda markasnya masing-masing. Di sini ada kebiasaan untuk mencantumkan tanda tangan di setiap sudut jalanan yang pernah disinggahi, tidak peduli apakah itu ditimpakan di tembok, baliho, bahkan rambu lalu lintas. Selain itu, ada aturan yang dianut setiap writer untuk saling meminta ijin sebelum menimpa gambar writer lain. Aturan lainnya yang berlaku adalah tidak menggambar di daerah terlarang seperti rumah sakit, sekolah, dan tempat ibadah.d. Melalui perpindahan mereka keluar rumah dan ke dalam bentuk-bentuk kepemilikan non-domestik (kelompok sosial daripada keluarga).Berbeda dengan pendapat Gelder ini, pergerakan subkultur graffiti di Semarang tetap mendapat dukungan domestik yakni dari keluarga. Kenyataannya setiap individu tidak melepaskan dirinya dari pergaulan dalam kelompok sosial termasuk dengan subkultur lain berkembang di sekitarnya. Artinya tidak ada perpindahan para pelakunya ke luar rumah, melainkan secara seimbang mereka bergerak di antara kutub domestik dan non-domestik.e. Melalui ikatan mereka yang unik terhadap gaya yang berlebihan dan kadang keterlaluan.Mengamati pergerakan writer di Semarang, ternyata tidak terdapat gaya berlebihan yang muncul melainkan terdapat pembedaan gaya yang khas terhadap komunitas atau subkultur lain. Kekhasan yang muncul hanyalah penggunaan identitas crew yang melekat pada pakaian yang didesain dan didistribusikan komunitas graffiti secara independen (distro). Hal ini dikarenakan setiap writer umumnya juga bergerak di bidang desain grafis sehingga bisa mengambil keuntungan untuk mengenalkan crew-nya melalui distro tersebut.f. Melalui penolakan mereka terhadap kedangkalan (banalitas) dari kehidupan yang umum yang merupakan korban masifikasi dan tren.Salah satu bentuk penolakan dalam subkultur graffiti misalnya adalah penggunaan ideologi indie atau DIY (Do It Yourself) seperti yang dianut kelompok musik underground, komunitas BMX, skateboard, dan subkultur lainnya. Ideologi indie berlaku pada pemakaian identitas pada merek distro yang dikenakan setiap individu dan biasanya setiap writer akan melekatkan karakter graffitinya ke dalam merek distronya. Penolakan lainnya berupa perlawanan atau perebutan ruang publik dengan tembok-tembok komersial. Ketika wajah perkotaan dipenuhi oleh pesan komersial, saat itulah writer menggunakan graffiti sebagai ajang perlawanan lewat pembuatan tagging secara masif dan diam-diam dalam satu spot komersial.Karakteristik utama dari semua subkultur adalah bahwa anggota subkultur terpisah atau terlepas di berbagai tingkat yang dianggap sebagai budaya dominan. Pembagian tersebut bisa berupa isolasi total atau terbatas pada aspek-aspek kehidupan seperti pekerjaan, sekolah, kesenangan, pernikahan, pertemanan, agama, atau tempat tinggal. Sebagai tambahan, pemisahan tersebut bisa terjadi dengan sukarela, karena lokasi geografis, atau kebebasan (Ferrante, 2011: 61). Hal inilah yang terjadi pada subkultur graffiti yang memisahkan diri dari masyarakat dengan membentuk identitasnya sendiri berdasarkan kesepakatan dan aturan yang dianut di dalam kelompoknya. Dalam pembentukan identitas tersebut, subkulturgraffiti juga membawa ekspresi perlawanan yang mengiringi pergerakannya di tengah masyarakat.Sementara itu, kultur perlawanan yang terbentuk dalam subkultur graffiti Semarang berupa “perang” public space, di mana para writer bertarung memperebutkan ruang publik dengan pemerintah dan para pengiklan. Ruang publik adalah tempat berinteraksi yang mempertemukan semua unsur masyarakat ke dalam sebuah situasi yang luas. Karenanya tidak jarang ruang publik dimanfaatkan berbagai pihak untuk kepentingan menyampaikan pesan. Salah satunya oleh pemerintah dalam mensosialisasikan kebijakan kepada masyarakat melalui baliho, spanduk, dan sebagainya. Pihak lainnya yakni para pemilik modal atau pengiklan yang mampu menyewa tembok untuk kepentingan komersial. Di sini, kultur perlawanan oleh subkultur graffiti mewujud dalam bentuk vandalisme. Vandalisme memang tidak bisa dipisahkan dari budaya graffiti dan lebih sering muncul lewat timpa-menimpa gambar graffiti.Berdasar pengamatan, iklan komersial ternyata cukup mendominasi wajah ruang publik. Setiap tempat di sudut kota tidak ada yang tidak tersentuh iklan, sebut saja di jembatan penyeberangan, di persimpangan jalan, di sekitar lampu merah, di tembok rumah, di mana pun bisa ditemui iklan komersial. Bahkan penempatan iklan komersial tidak jarang menyalahi aturan, seperti dengan menempelkan sederet poster iklan yang sama pada satu tembok. Kemampuan iklan komersial melahap ruang publik dikarenakan kemampuan pemilik modal untuk membayar waktu dan tempat beriklan. Karenanya bila dilihat secara kasat mata, iklan komersial begitu merajai beragam medium yang tersaji di jalanan. Pada posisi inilah graffiti menjadi pesaing iklan-iklan komersial. Writer sejatinya termasuk salah satu pihak yang bersaing mendapatkan perhatian khalayak di ruang publik. Karena adanya persaingan tersebut, tidak jarang tanda tangan atau tagging ditimpakan pada iklan-iklan komersial di tembok kota.Perlawanan ini menciptakan subkultur graffiti yang memadukan tiga bentuk protes seperti yang disebutkan Yinger (Hasan, 2011: 222), yaitu 1) penentangan terhadap nilai dominan berupa tindakan masyarakat yang patuh pada pemerintah dan budaya konsumerisme karena adanya iklan komersial, 2) penentangan terhadap struktur kekuasaan yang terlihat melalui larangan mencorat-coret tembok atau kemampuan pemilik modal dalam membeli tembok, dan 3) penentangan terhadap pola-pola komunikasi yang terperangkap dalam nilai-nilai dominan itu yakni berupa paksaan mematuhi peraturan pemerintah serta bujukan dan rayuan terhadap terbentuknya masyarakat konsumen.Adanya ekspresi perlawanan memang tidak pernah lepas dari graffiti, di mana dengan perlawanan tersebut graffiti bisa mendapatkan posisinya saat ini di masyarakat. Posisi tersebut di satu sisi masih lekat dengan penolakan yang menganggapnya sebagai perusakan terhadap fasilitas publik, sedangkan di sisi lain ia diterima karena efektivitasnya dalam mengkritisi keadaan sosial masyarakat.PENUTUPFenomena graffiti yang muncul di beberapa kota belakangan ini menjadikan dinamika perkotaan yang semakin beragam menarik untuk dipelajari. Tidak terkecuali di Kota Semarang di mana kemunculannya mendapat penilaian yang berbeda-beda dari masyarakat. Bagi sebagian kalangan, graffiti dianggap hanya sebagai coretan tembok belaka yang tidak mempunyai makna. Namun bagi sebagian yang lainnya, graffiti dianggap sebagai karya seni yang menyatukan elemen garis, bentuk, dan warna di medium tembok jalanan. Selain itu, graffiti juga dianggap bisa menyampaikan pesan tentang eksistensi pembuatnya.Eksistensi gerakan graffiti di Semarang masih berupaya mencari jati diri dengan cara bergerilya dari satu tembok ke tembok lainnya, masif, dan militan. Ada kecenderungan graffiti menjadi semacam tren di kalangan anak muda yang muncul dengan ideologi “ikut-ikutan”. Hal ini terlihat dari kemunculan banyak seniman (writer) baru yang menggunakan graffiti hanya sebagai ajang pemenuh kepuasan pribadi dan eksistensi diri, yakni dengan membuat pesan visual seperti dalam piece, tagging, dan throw-up yang dibuat sebebas-bebasnya, tanpa mengandung pesan sosial tertentu seperti yang ada pada jenis mural dan stensil. Meskipun demikian, seniman yang lebih senior biasanya telah menemukan originalitas karya dengan membuat graffiti yang berisi pesan sosial.Gerakan graffiti di Semarang membawa ekspresi perlawanan yang berupa perebutan ruang publik antara para seniman dengan para pemilik modal. Perlawanan terlihat dari kecenderungan writer untuk menimpa gambar secarasembunyi-sembunyi dan tanpa ijin di spot-spot yang dipenuhi dengan pesan periklanan atau komersial. Hal ini terkait dengan kenyataan banyaknya tembok kota yang menjadi spot komersial sehingga sarana untuk menumpahkan ekspresi semakin berkurang. Karena bentuk perlawanan tersebut, graffiti di Semarang masih lekat dengan stempel vandalisme. Masyarakat cenderung menilai graffiti sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mengotori keindahan lingkungan.Menggunakan metode studi kasus, penelitian ini memberikan gambaran bagaimana komunitas graffiti membentuk subkultur yang terus bertahan di tengah masyarakat dan menggunakan graffiti sebagai media ekspresi dan komunikasi. Dalam hal ini, studi kasus dipilih untuk menjawab keingintahuan peneliti berkaitan dengan kemunculan fenomena graffiti secara spesifik di suatu wilayah, yaitu di Semarang, dengan batasan penelitian yang dibahas yakni eksistensi subkultur dan ekspresi yang dibawa oleh subkultur melalui graffiti. Hal ini terkait dengan pemanfaatan graffiti untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Penempatannya di jalanan menjadi daya tarik tersendiri, di mana mulai dari proses pembuatan hingga hasil akhir selalu menarik perhatian khalayak yang lalu lalang di jalanan.Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perkembangan komunikasi visual di kalangan anak muda, khususnya graffiti yang disajikan sebagai bentuk ekspresi diri namun kerap dianggap vandalisme oleh masyarakat. Peneliti berusaha memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa graffiti selayaknya dihargai sebagai media komunikasi dan ekspresi anak muda yang menyajikan berbagai pesan mulai dari eksistensi individu hingga pesan sosial. Oleh karena itu, peneliti memberikan rekomendasi agar writer mampu menyajikan graffiti yang bisa dipertanggungjawabkan, artinya memiliki konsep yang jelas dan mengandung pesan sosial sekaligus pesan visual sehingga bisa menimbulkan timbal balik yang lebih banyak dari khalayak. Dengan demikian fungsi sosial dan visual graffiti sama-sama bisa terpenuhi, yakni di satu sisi pesan pesan sosial mampu membangkitkan pemahaman bahwa graffiti bisa ditujukan sebagai media mengkritisi keadaan di lingkungan masyarakat. Sementara di sisi lain, secara visual graffiti dapat dimanfaatkan untuk memperindah lokasi.DAFTAR PUSTAKAChaffee, Lyman G. 1993. Political Protest and Street art: Popular Tools for Democratization in Hispanic Countries. Westport: Greenwood Publishing Group, Inc.Dake, Dennis. 2005. “Aesthetic Theory” (dalam Handbook of Visual Communication: Theory, Methods, and Media, Ken Smith dkk, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., hal. 3-22).Ferrante, Joan. 2011. Seeing Sociology: An Introduction. California: Wadsworth Cengage Learning.Hasan, Sandi Suwardi. 2011. Pengantar Cultural Studies. Yogyakarta: Ar Ruz Media.Yin, Robert K. 2002. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Sumber internet:Andrianto, Andi. 2009. “Graffiti, Simbol Perlawanan Kota” (http://www.suara merdeka.com/smcetak/index.php?fuseaction=beritacetak.detailberitacetak&id_beritacetak=58125; diakses 25/03/2012 22:16:13)Wicandra, Obed Bima. 2006. “Graffiti di Indonesia: Sebuah Politik Identitas Ataukah Tren? Kajian Politik Identitas pada Bomber di Surabaya” dalam Jurnal Nirmana Vol. 8, No. 2, Juli 2006, hal. 51-57. (http://fportfolio. petra.ac.id/user_files/02-032/POLITIK%20IDENTITAS%20GRAFFITI. PDF; diakses 24/03/2012 21:31:26)
Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor Indonesia Wilis Windiasih; Taufik Suprihatini; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.433 KB)

Abstract

Bintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih (D2C009061)AbstrakMenonjolkan pornografi dan menggunakan bintang film dewasa, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette, dalam film horor Indonesia menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Adanya seks dan bintang film dewasa mengubah film horor menjadi film yang penuh dengan adegan vulgar dan erotis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proses pembuatan film horor dan alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkan bintang film dewasa. Teori yang digunakan yaitu Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) dan Star System (Paul McDonald, 2000). Tipe penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan dikaji dengan analisis ekonomi politik media. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada producer, casting manager, script writer, dan general manager Maxima Pictures.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan film baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang mendatangkan keuntungan berlimpah. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hasil lainnya, yaitu industrialis perfilman tetap memperhatikan nilai, tema, dan pesan dalam memproduksi film horor berbau seks yang melibatkan bintang film dewasa. Namun, ketiga hal tersebut sangat kecil kemungkinannya tersampaikan kepada penonton karena film dibuat semata-mata untuk kepentingan komersil. Industrialis perfilman juga memperhatikan kode etik di mana dialog, adegan, dan penyampaiannya yang tidak mendetail saat menampilkan adegan seks dalam film horor.Kata kunci: ekonomi politik media, industri film horor, seks, bintang film dewasaPorn Star as a Commodity in Indonesian Horror MoviesWilis Windiasih (D2C009061)AbstractHighlight the use of pornography and porn stars, like Rin Sakuragi, Maria Ozawa, Sora Aoi, Tera Patrick, Sasha Grey, and Vicky Vette, in Indonesian horror movies become promising business field. The existence of sex and porn stars alter horror movies into a film filled with vulgar and erotic scenes. The purpose of this study are to determine the process of making horror movies and the main reason underlying the film industrialist producing sexist horror movies involving porn stars. The theory used the Culture Industry (Theodor W. Adorno, 1991) and the Star System (Paul McDonald, 2000). This type of research is a qualitative descriptive phenomenological approach and studied by analysis of the political economy of media. Data is collected by in-depth interview to producer, casting manager, script writer, and general manager of Maxima Pictures.These results indicate that porn stars are involved in the manufacture of Indonesian horror movies to perform his duties as a labor specialist in an industry. Therefore, their involvement are very influential in the marketing and sales of both films during preproduction, production, postproduction, distribution, and exhibition. Because as a labor specialist, porn stars are treated more special than other workers in terms of pay and facilities acquired. Sex and porn stars in the horror movie industry become a profitable business abound. Sex appeared in horror movies because of where the market share of Indonesian society with things like that pornography. The involvement of porn stars because at the time they are loved and popular among the people of Indonesia. Other results, the movie industralist still consider the values, themes, and messages in producing sexist horror movies involving porn stars. However, three things are much less likely conveyed to the audience because the films are made solely for commercial purposes. The movie industrialist also pay attention to the code of ethics in which dialogue, scenes, and delivery time are not detailed while displaying sex scenes in horror movies.Keywords: political economy of media, horror movie industry, sex, porn starBintang Film Dewasa sebagai Komoditas dalam Film Horor IndonesiaWilis Windiasih, Dra. Taufik Suprihatini, M. Si (dosen pembimbing I), Triyono Lukmantoro, S.Sos, M.Si (dosen pembimbing II)PENDAHULUAN: Salah satu fungsi film (film horor) adalah sebagai media hiburan. Film horor merupakan salah satu genre film yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Melihat peluang tersebut, para industrialis perfilman berlomba-lomba memproduksi film horor dengan kemasan semenarik mungkin. Karena begitu digemari oleh masayarakat luas, maka perkembangannya pun begitu pesat. Hingga akhirnya film horor mengalami masa keemasan, yaitu di era 80-an dan 2000-an. Masa keemasan di sini tidak hanya ditandai oleh banyaknya penonton yang antusias terhadap film di era tersebut, tetapi juga kualitas dari film itu sendiri. Di era 80-an, film horor Indonesia lebih banyak dibintangi oleh Suzanna Martha Frederika van Osch, seperti film Sundel Bolong (1981), Nyi Blorong (1982), Telaga Angker (1984), dan Malam Jumat Kliwon (1985). Tahun 2000-an ditandai dengan munculnya film Jelangkung (2001) yang mencapai penonton hingga 5,7 juta dan Kuntilanak (2006) dengan 2,4 juta penonton (Cheng dan Barker, 2011: 200). Karena begitu ketatnya persaingan dalam industri film horor, maka sang produser mencari inovasi dan gebrakan baru terhadap film horor, sehingga filmnya berbeda dengan lainnya. Muncullah bintang film dewasa dari Jepang, seperti Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aio yang digunakan oleh rumah produksi Maxima Pictures dengan Produsernya Ody Mulya Hidayat, serta bintang film dewasa dari Amerika, seperti Tera Patrick, Sasha Grey, dan Vicky Vette yang dikontrak oleh rumah produksi K2K Production dengan produsernya yaitu KK Dheeraj.Adanya bintang film dewasa yang terlibat dalam film horor Indonesia, maka perannya pun sangat dekat dengan hal-hal yang berbau pornografi. Jadi, film horor tersebut menonjolkan seks di dalamnya. Menurut Karl Heider seks merupakan salah satu dari tiga formula ampuh yang digunakan dalam film horor Indonesia, yaitu seks, komedi, dan religi (Rusdiarti, 2009: 11). Adanya perpaduan seks dan bintang film dewasa, ternyata menarik perhatian banyak penonton. Akhirnya, industrialis dapat menikmati keuntungan yang mereka peroleh dari penjualan filmnya. dapt dikatakan bahwa film merupakan menjadi salah satu produk dari industri budaya (culture industry). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan strategi penggunaan seorang bintang (star system). Kemudian bintang tersebut mengalami komodifikasi tenaga kerja. Melihat fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan film yang melibatkan bintang film dewasa dalam film horor Indonesia dan ingin mengetahui alasan utama yang mendasari industrialis perfilman memproduksi film horor berbau seks dengan melibatkn bintang film dewasa.PEMBAHASAN: Menurut Carrol horor dapat diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk membangkitkan ketakutan dan hal yang menjijikkan yang ditujukan langsungkepada sebuah monster yaitu makhluk yang dianggap mengancam. Definisi monster yang dimaksud oleh Carroll adalah makhluk-makhluk yang mengerikan. Sedangkan menurut Freeland, horor diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk mengeksplorasi segala bentuk kejahatan (Livingston dan Plantinga, 2009: 46). Jadi film horor, menurut Vincent Pinell, diartikan sebagai film yang penuh dengan ekspoitasi unsur-unsur horor yang bertujuan untuk membangkitkan ketegangan penonton (Rusdiarti, 2009: 2). Menurut Charles Derry, film horor dibagi menjadi tiga subgenre, yaitu horror of personality (horor psikologis), horrof of armageddon (horor bencana), dan horror of demonic (horor hantu) (Rusdiarti, 2009: 2-3). Horor of personality dihadapkan pada tokoh-tokoh manusia biasa yang tampak normal, tetapi di akhir film mereka memperlihatkan sisi “iblis” atau “monster” mereka. Biasanya mereka adalah individu-individu yang “sakit jiwa” atau terasing secara sosial. Horror of armageddon adalah jenis film horor yang mengangkat ketakutan laten manusia pada hari akhir dunia atau hari kiamat. Manusia percaya bahwa suatu hari dunia akan hancur dan umat manusia akan binasa. Horror of demonic merupakan film yang paling dikenal dalam dunia perfilman horor. Menurut Derry, film jenis ini menawarkan tema tentang dunia (manusia) yang menderita ketakutan karena kekuatan setan menguasai dunia dan mengancam kehidupan umat manusia. Subgenre horor hantu inilah yang sering digunakan dalam film horor Indonesia. Hantu yang sering digunkanan adalah jenis hantu kuntilanak dan pocong.Dalam perkembangannya, film horor mengalami modifikasi dan muncullah konsep sex-horror-comedy. Film horor Indonesia antara tahun 2009 hingga 2011 lebih banyak didominasi film-film yang menonjolkan pornografi di dalamnya, seperti Suster Keramas yang dimainkan oleh Rin Sakuragi, Hantu Tanah Kusir oleh Maria Ozawa, dan Suster Keramas 2 oleh Sora Aoi. Ketiga film tersebut merupakan produksi Maxima Pictures. Adanya seks dalam film horor mereka karena masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dari Jepang karena memang ketiga bintang tersebut sedang digandrungi oleh masayarakat Indonesia. Fenomena semacam ini disebut sebagai culture industry. Film horor kini menjadi salah satu produk industri budaya. Artinya, film horor merupakan sebuah fenomena yang diangkat dari budaya yang ada di masyarakat Indonesia. Kemudian, film horor tersebut dijadikan sebuah konsumsi massa. Jadi, produk industri budaya tidak ada dengan sendiri, melainkan telah melalui proses perencanaan yang dibuat oleh para industrialis yaitu produser. Dapat dikatakan bahwa industri budaya (culture industry) merupakan sebuah komodifikasi dan industrialisasi budaya, dikelola dari atas dan diproduksi untuk mendatangkan keuntungan (Schement, 2002: 209). Dalam memasarkan produknya, industri budaya menggunakan salah satu strategi yaitu penggunaan seorang bintang. Jadi, Maxima Pictures untuk memasarkan filmnya menggunakan star system dalam produksinya. Dalam rangkaian pertukaran komersial, bintang menjadi bentuk modal yang merupakan aset untuk membuat dan mendapatkan keuntungan dalam pasar hiburan. Bintang film dewasa yang berasal dari Jepang menjadi aset yang berharga karena dengan nama besarnya dan ketenarannya di dunia pornografi, industri film akan meraup keuntungan yang berlimpah. Dapat dikatakan bahwa bintang film dewasa dianggap sebagai sebuah citra, sebagai modal, dan sebagai tenaga kerja dalam indsutri film horor Indonesia.Bintang sebagai citra dibangun dalam berbagai kategori teks, yang tidak hanya penampilan bintang film, tetapi juga bentuk-bentuk publisitas dan promosi (McDonald, 2000: 7). Faktor-faktor lain yang berkontribusi terhadap citra bintang adalah karakter yang mereka mainkan dan gaya kinerja mereka gunakan untuk menggambarkan peran itu. Citra Rin Sakuragi, Maria Ozawa, dan Sora Aoi terbentuk dari dunia pornografi. Peran dan kinerjanya dalam memainkan adegan-adegan seks dalam blue film membawa namanya hingga ke kancah internasional. Melihat peluang tersebut, Maxima Pictures memanfaatkan ketiga bintang film tersebut karena mereka merupakan ikon dalam dunia pornografi. Dengan demikian, Maxima Pictures tidak bersusah payah untuk mendapatkan market filmnya karena dengan adanya bintang film dewasa secara otomatis akan menarik perhatian penonton.Bintang juga menjadi bentuk modal karena dalam komersial industri film, ia adalah aset berharga bagi sebuah perusahaan produksi. Bintang adalah bentuk investasi yang digunakan dalam produksi film sebagai penjaga terhadap kemungkinan kerugian. Upah bintang sebagian besar dari anggaran setiap film dan bintang juga merupakan alat pemasaran, yang citranya dipromosikan dengan maksud untuk mempengaruhi pasar hiburan. Cathy Klaprat melihat nilai dari bintang melalui prinsip-prinsip ekonomi produk diferensiasi dan inelastisitas permintaan (McDonald, 2000:11). Klaprat berpendapat bahwa diferensiasi bintang secara teoritis bisa menstabilkan permintaan, menciptakan konsistensi kinerja box office untuk sebuah bintang film, sehingga memungkinkan distributor untuk menaikkan harga produk mereka terhadap exhibitors. Diferensiasi bintang itu menjadi strategi yang berharga karena menawarkan cara untuk tidak hanya menstabilkan harga film tetapi juga meningkatkan harga terhadap produk tertentu. Bintang film dewasa yang ada dalam film horor Maxima Pictures memang menjadi aset yang berharga. Bintang film dewasa tersebut diharapkan akan membawa keuntungan bagi Maxima Pictures. Keuntungan di sini tentulah keuntungan materi yang akan diperoleh industri tersebut. Hal tersebut akan berdampak pada penjualan tiket di bisokop 21 di seluruh nusantara. Tingginya penjualan yang diperoleh film horor yang dibintangi oleh bintang film dewasa, maka film Maxima Pictures dapat bertahan satu setengah bulan untuk diputar di bioskop tersebut.Bintang adalah orang yang bekerja di dalam industri film dan dengan demikian mereka merupakan bagian dari tenaga kerja dari produksi film. Peran bintang dalam industri tersebut tidak hanya terbatas pada fungsi mereka dalam proses pembuatan film, tetapi juga pada proses distribusi dan pameran (McDonald, 2000: 5). Oleh karena itu, bintang film dewasa yang digunakan oleh Maxima Pictures sebagai alat promosi yang akan membantu pemasaran dan penjualannya baik saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja, seorang bintang mengalami sebuah komofidikasi tenaga kerja. Komodifikasi tenaga kerja direproduksi melalui proses eksploitasi absolut (memperpanjang hari kerja) dan eksploitasi relatif (intensifikasi proses kerja) yang memperdalam ekstraksi nilai lebih (Mosco, 2009: 131). Hal tersebut melibatkan perpanjangan hari kerja untuk upah yang sama dan untuk mengintensifkan proses tenaga kerja melalui kontrol yang lebih besar atas penggunaan waktu kerja, termasuk pengukuran dan sistem pemantauan untuk mendapatkan lebih banyak tenaga kerja keluar dari unit waktu kerja. Dengan kata lain, dalam komodifikasi tenaga kerja telah menciptakan nilai absolut dan relatif. Komodifikasi mengacu pada proses mengubah nilai guna menjadi nilai tukar, dariproduk transformasi yang nilainya ditentukan oleh kemampuan pemilik modal untuk memenuhi individu dan kebutuhan sosial ke dalam produk yang nilainya ditetapkan oleh harga pasar mereka (Mosco, 2009: 132).Dalam pembagian kerja, bintang dikategorikan sebagai spesialis kinerja di mana bintang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu (McDonald, 2000: 9). Apa yang dilakukan oleh bintang film dewassa merupakan tanggung jawab spesialis bintang dalam pembagian perburuhan. Bintang dapat dikategorikan sebagai spesialis kinerja, tetapi posisi mereka dalam industri juga ditandai dengan status hierarkis mereka. Dane Clark menjelaskan perbedaan antara bintang dan pemain biasa dalam hal kekuatan perbedaan kerja (McDonald, 2000: 10). Bagi Clark, setiap pemahaman tentang sistem bintang tidak bisa berkonsentrasi secara eksklusif pada pemain dengan status bintang, tetapi harus melihat bintang sebagai posisi relatif dalam kondisi tenaga kerja. Meskipun istilah star system mengacu pada hirarki kelembagaan yang dibentuk untuk mengatur dan mengontrol pekerjaan dan penggunaan semua aktor, bintang telah menjadi kelas istimewa dalam pembagian kerja. Melihat sistem bintang dengan cara ini menuntut pertimbangan daya yang melekat pada bintang dalam industri film. Bintang film dewasa yang turut main dalam film horor Maxima Pictures, posisinya lebih istimewa dibanding dengan pemain maupun tim lapangan lainnya. Hal tersebut terlihat pada bayaran yang diterima oleh bintang film dewasa mencapai 1,5 milyar rupiah dan fasilitas yang diperoleh, seperti penyambutan dengan polisi, hotel bintang lima, dan ke mana-mana dikawal oleh bodyguard. Keistimewaan tersebut dikarenakan bintang film dewasa mempunyai nama yang terkenal dan menjadi ikon, meski mereka menjadi ikon dalam blue film bukan dalam public film. Daya yang melekat pada ketiga bintang tersebut sebagai seorang bintang film dewasa, yaitu molek, seksi, menggoda, dan menggairahkan.Fenomena film horor sebagai sebuah industri budaya yaitu dengan menggabungkan unsur horor dan seks yang lebih dominan, menjadi bisnis yang menjanjikan bagi perusahaan Maxima Pictures. Untuk menarik perhatian penonton, mereka tidak tanggung-tanggung dalam memproduksi film horornya yaitu dengan melibatkan bintang film dewasa untuk memainkan adegan-adegan syur dan erotis. Dengan kata lain, Maxima Pictures menggunakan star system dalam film horor Suster Keramas, Hantu Tanah Kusir, dan Suster Keramas 2. Apa yang dilakukan oleh industri tersebut hanyalah memanfaatkan peluang yang ada dengan dasar melihat apa yang sedang tren pada waktu itu. Bintang film dewasa dari Jepang begitu populer pada saat itu. Secara cerdik Maxima Pictures langsung mengadakan kontrak kerjasama dengan manajemen bintang film dewasa tersebut. Tentulah masyarakat penasaran terhadap film horor tersebut karena ingin mengetahui seperti apa bintang film dewasa ketika main dalam film yang bersifat publik.Walau Maxima Pictures melihat berdasarkan tren yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat, tetapi film horor yang disuguhkan tidak semata-mata untuk memenuhi keinginan khalayak. Tujuan utama Maxima Pictures adalah untuk kepentingan komersil dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Film yang diproduksi lebih mengarah pada kemauan industri tersebut yaitu mencampurkan pornografi di dalamnya untuk diperankan oleh bintang film dewasa. Maxima Pictures yakin bahwa filmnya akan laku keras di pasaran. Alhasil, film horornya booming, sehingga menghasilkan pundi-pundi materi yang berlimpah. Hasil film horor tersebutmemang spektakuler, tetapi adegan seks di dalamnya terlalu berlebihan yaitu adanya adegan menanggalkan baju yang hampir terlihat telanjang bulat.Adegan seks dalam film Maxima Pictures telah melanggar Kode Etik Penyensoran Indonesia karena mengarah pada: (1) Adegan seorang pria atau wanita dalam keadaan atau mengesankan telanjang bulat, baik dilihat dari depan, samping, atau dari belakang. Bintang film dewasa beradegan yang mengesankan telanjang bulat terlihat pada Rin Sakuragi yang beradegan sedang mandi di air terjun dan mandi di kamar mandi. Maria Ozawa saat berganti pakaian di kamar tidurnya karena bajunya tersiram sayur dan di dalam rumah tua karena bajunya basah kuyup akibat hujan di mana ia akan menggantinya dengan kain sarung. Sora Aoi melepaskan pakaian di toilet atas anjuran lawan main pria untuk mengusir setan. (2) Close up alat vital, paha, buah dada, atau pantat, baik dengan penutup maupun tanpa penutup. Dalam film horor Maxima Pictures bagian dada dari ketiga bintang film dewasa sering di-close up hingga beberapa kali, sehingga memperlihatkan nafsu para pemain prianya. (3) Adegan, gerakan, atau suara persenggamaan, atau yang memberikan kesan persenggamaan, baik oleh manusia maupun oleh hewan, dalam sikap bagaimanapun, secara terang-terangan atau terselubung. Rin Sakuragi beradegan minum es lilin dan kemudian d jilat-jilat serta menjulurkan lidahnya secara terselubung memberikan kesan persenggamaan. Begitupun dengan Sora Aoi yang menunjukkan keinginannya untuk pergi ke tempat karaoke kepada pemain prianya. Sedangkan suara persenggamaan, seperti mendesah, dimainkan oleh Shinta Bachir.PENUTUP: Bintang film dewasa yang terlibat dalam pembuatan film horor Indonesia melaksanakan tugas-tugasnya sebagai tenaga kerja spesialis dalam sebuah industri. Oleh karena itu, keterlibatannya sangat berpengaruh pada pemasaran dan penjualan baik pada saat preproduction, production, postproduction, distribution, dan exhibition. Karena sebagai tenaga kerja spesialis, bintang film dewasa diperlakukan lebih istimewa dibandingkan tenaga kerja lainnya baik dari segi bayaran maupun fasilitas yang didapat. Seks dan bintang film dewasa dalam industri film horor menjadi bisnis yang menjanjikan. Seks muncul dalam film horor dikarenakan adanya pangsa pasar di mana masyarakat Indonesia suka dengan hal-hal yang berbau pornografi. Adanya keterlibatan bintang film dewasa dikarenakan pada waktu itu sedang digandrungi dan populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Perpaduan kedua hal tersebut membuat industri film meraup keuntungan yang berlimpah.DAFTAR PUSTAKA: Adorno, Theodor W. (1991). The Culture Industry: Selected Essays on Mass Culture. New York: Routledge.; Livingston, Paisley dan Carl Plantinga. (2009). The Routledge Companion to Philosophy and Film. New York: Routledge.; McDonald, Paul. (2000). The Star System: Hollywood’s Production of Popular Identities. London: Wallflower Publishing.; Mosco, Vincent. (2009). The Political Economy of Communication. 2nd Edition. London: Sage Publications.; Rusdiarti, Suma Riella. (2009). Film Horor Indonesia: Dinamika Genre. Universitas Indonesia.;Schement, Jorge Reina. 2002. Encyclopedia of Communication and Information. New York: Gale Group.
Sikap Media Terhadap Isu Kenaikan Harga BBM Bersubsidi (Analisis Framing Pemberitaan Koran Tempo dan Harian Sindo) Arlinda Nurul Nugraharini; Taufik Suprihatini; Turnomo Rahardjo; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.847 KB)

Abstract

Kenaikan Harga BBM bersubsidi merupakan salah satu isu yang menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang menggunakan bahan bakar bersubsidi sebagai bahan bakar utama. Tentu saja hal tersebut menarik perhatian para awak media untuk menjadikan isu tersebut sebagai bahan pemberitaannya. Pemberitaan yang disajikan dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda pada masing – masing media.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap Koran Tempo dan Harian Sindo Jateng dalam menanggapi isu kenaikan harga BBM bersubsidi yang dianalisis melalui pemberitaan – pemberitaannya. Analisis yang digunakan adalah model analisis framing Robert N. Entman, yang terdiri dari empat perangkat yaitu Define Problems ( pendefinisian masalah ), Diagnose Cause ( memperkirakan penyebab masalah ), Make Moral Judgement ( membuat keputusan moral ), dan Treatment Recommendation ( Menekankan penyelesaian ). Sementara teori yang dipakai adalah teori konstruksi reaitas sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann.Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pemberitaan dari Koran Tempo didominasi oleh pemberitaan yang lebih mendukung pihak pemerintah. Sangat jarang Tempo mengeluarkan pemberitaan yang tidak senada dengan pemerintah, seperti pemberitaan tentang aksi penolakan dari masyarakat yang keberatan atas kebijakan kenaikan BBM bersubsidi. Tempo lebih bermain aman dalam memberitakan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Sedangkan pada Harian Sindo Jateng, sebagian besar pemberitaannya yang terkesan menyudutkan pemerintah sebagai pihak yang salah dalam membuat kebijakan tersebut. Terlihat dari beberapa pemberitaan tentang aksi penolakan kebijakan pemerintah dalam menaikkan BBM bersubsidi, mendapat porsi lebih banyak dibanding pemberitaan yang menyuguhkan informasi terkait tujuan dari kenaikan harga BBM bersubsidi.
Representasi Rasisme Kaum Kulit Putih Terhadap Kulit Hitam dalam film 42 “Forthy Two” Bebby Rihza Priyono; M Bayu Widagdo; Taufik Suprihatini; Dr. Sunarto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.67 KB)

Abstract

Film merupakan salah satu media massa yang digunakan untuk menyampaikan pesan serta sekaligus menyebarkan ideologi kepada khalayak. Film banyak merepresentasikan kejadian-kejadian yang ada di dunia nyata dengan menyelipkan ideologi-ideologi dari para pembuat film. Di dalam film menyajikan sebuah tampilan visual yang berisi kode-kode serta mitos yang berasal dari kebudayaan. Film 42 “forthy two” merupakan film yang menggambarkan kebudayaan masyarakat Amerika yang lekat dengan hal rasisme kaum kulit putih Amerika dengan kaum Afro-Amerika. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana gambaran orang kulit hitam mendapat perlakuan dari orang-orang kulit putih yang direpresentasikan melalui tanda-tanda visual dan verbal. Penelitian ini juga ingin menunjukkan mitos yang ada di dalam film 42 “forthy two”. Di dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian milik Roland Barthes mengenai analisis semiotika.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa rasisme kaum kulit putih terhadap orang kulit hitam di Amerika ditunjukkan dengan berbagai macam cara baik secara verbal seperti menghina dan meremehkan, maupun secara nonverbal seperti melempar kepala orang kulit hitam dengan bola. Tanda-tanda komunikasi tersebut diungkap melalui pergerakan kamera, dialog, serta kode-kode ideologi di dalam film 42 “forthy two” baik secara verbal maupun secara visual. Selain itu, penelitian ini menggunakan teori Standpoint dan metode penelitian dari Rolland Barthes yang mana menggunakan lima pengkodean untuk mengatahui ideologi apa yang terdapat di dalam film. Penelitian ini juga menunjukkan hasil bahwa rasisme dari dulu sampai sekarang masih tetap ada dan hal tersebut dikarenakan oleh sejarah yang mendasarinya yaitu kapitalisme. Tetapi tidak semua orang dapat terpengaruh dengan adanya rasisme. Ada orang yang memilih untuk mundur dan lari untuk menghindari masalah, tetapi juga ada orang yang tetap pada pendiriannya dan tetap bertahan ditengah-tengah situasi rasisme yang menghimpitnya. Dalam penelitian ini, menunjukkan hasil dengan memperlihatkan pada bagaimana seseorang bertahan ditengah situasi rasisme dan pada akhirnya tetaplah berujung dengan kapitalisme. Kaum dominan menggunakan istilah “memperjuangkan hak asasi manusia” sebagai bentuk mendapat keuntungan lebih dari dunia luar dengan memanfaatkan rasisme yang terjadi terhadap kaum marjinal. Kata kunci : Semiotika, Barthes, Film, Rasisme