This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Taufik Suprihatini
Unknown Affiliation

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pencitraan Presiden Jokowi di Surat Kabar (Analisis Framing terhadap pembentukan citra Presiden Jokowi di harian Koran Tempo dan Media Indonesia) Desy Kurniasari; Joyo NS Gono; Primada Qurrota Ayun; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.106 KB)

Abstract

Joko Widodo (Jokowi) adalah presiden pertama yang mendapat penghargaan MURI, sebagai satu-satunya presiden yang mendapat syukuran terakbar dari rakyat. Sejak kemunculannya, sosok Jokowi selalu menarik perhatian publik, tidak terkecuali dengan isu-isu sensasional di masa seratus hari pertaman pemerintahannya. Polemik pemilihan Kapolri Budi Gunawan adalah salah satu kasus yang berhasil membuat situasi politik di Indonesia menjadi memanas. Kasus ini menuntut pembuktian eksistensi Jokowi sebagai pemimpin. Sikap yang ditempuh oleh Presiden Jokowi pada akhirnya akan menciptakan citranya di kalangan masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji citra Presiden Jokowi dalam frame yang dikembangkan oleh media khususnya harian Koran Tempo dan Media Indonesia dalam kasus polemik pemilihan Kapolri yang terjadi pada 14 Januari- 20 Februari 2015 dalam membangun citra Presiden Joko Widodo di mata publik. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan analisis framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki dengan perangkat framing yang dapat dibagi kedalam empat struktur besar, yaitu sintaksis, skrip, tematik dan retoris.Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pemberitaan yang disajikan oleh Koran Tempo mengenai Presiden Jokowi rata-rata menyudutkan Presiden Jokowi. Struktur sintaksis dan retoris Koran Tempo didominasi oleh berita-berita negatif yang menggambarkan bahwa Presiden Jokowi dipengaruhi kepentingan partai dalam menyelesaikan kasus pemilihan Budi Gunawan. Dalam menyiapkan materi konstruksinya, Koran Tempo cenderung menggunakan model bad news sehingga citra yang dimunculkan cenderung merugikan Presiden Jokowi. Sedangkan Media Indonesia, Presiden Jokowi digambarkan secara positif. Secara umum struktur sintaksis dan skrip di isi dengan pemberitaan positif terkait langkah Presiden Jokowi dalam menyelesaikan polemik pemilihan Kapolri. Media Indonesia cenderung menggunakan good news dalam membentuk citra Presiden Jokowi. Sehingga citra yang dimunculkan Media Indonesia cenderung menguntungkan Presiden Jokowi.
Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya (Kasus Pernikahan Antaretnis Batak – Cina) Paskah M Pakpahan; Taufik Suprihatini; Wiwid Noor Rakhmad; Turnomo Rahardjo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.799 KB)

Abstract

Proses adaptasi merupakan hal mutlak yang harus dilakukan oleh individu yang ingin melanjutkan hubungan sampai pada jenjang pernikahan, terlebih lagi pada pernikahan. Pernikahan antaretnis sering menimbulkan konflik yang terkadang berakibat pada perceraian. Realitas itu, menjelaskan bahwa interaksi budaya berbeda etnis mengakibatkan persinggungan budaya yang berlanjut kepada keterbukaan atau ketertutupan diri. Adaptasi akan tercipta setelah adanya interaksi. Sedangkan interaksi antara individu berbeda budaya, yang terikat dalam satu hubungan perkawinan, membutuhkan keterbukaan (self dislosure) agar tercipta pengetahuan dan pemahaman terhadap budaya masing-masing. Fenomena tersebut menggugah keingintahuan penulis mengenai proses adaptasi pasangan antaretnis. Karenanya, penelitian ini kemudian dilakukan untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya proses adaptasi pasangan pernikahan antaretnis.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi agar peneliti mampu memahami makna pengalaman pasangan pada pernikahan antaretnis saat beradaptasi, dari sudut pandang informan sebagai pelaku. Penelitian ini mengambil pasangan yang istrinya dari etnis Batak – suaminya etnis Cina, dan psangan yang istrinya Cina – suaminya etnis Batak sebagai informan penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis data fenomenologi.Melalui penelitian ini ditemukan beberapa usaha dari masing-masing individu untuk beradaptasi dengan psangan dan tetap mempertahankan perkawinan. Untuk menyelesaikan setiap konflik yang timbul dalam rumah tangga pasangan antaretnis pada penelitian ini, memiliki usaha-usaha yang dikelompokan menjadi beberapa sintesa diantaranya : pertama, pengalaman informan dalam beradaptasi dengan pasangan. Dari pengalaman beradaptasi dengan masing-masing informan mengaku mampu belajar dan mengetahui karakter pasangannya. Kedua, pola komunikasi dengan pasangan. Dalam berkomunikasi hendaknya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasangan, menjaga intensitas komunikasi, kualitas komunikasi dan pemhaman karakter masing-masing. Ketiga, keterbukaan saat berkomunikasi dengan pasangan untuk menyelesaikan setiap masalah dari konflik yang muncul. Keterbukaan saat berkomunikasi ini kemudian menjadi kunci keberhasilan rumah tangga pasangan antaretnis. Dan saling bertoleransi serta menghargai pasangan adalah salah satu cara yang ditempuh pasangan pernikahan antaretnis untuk mencegah timbulnya konflik dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dari beberapa hasil penelitian di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keberhasilan dalam proses adaptasi akan mempengaruhi keberhasilan hubungan pasangan suami-istri pada pernikahan antaretnis.
ANALISIS FRAMING BERITA KASUS SUAP KETUA MAHKAMAH KONSTITUSI PADA KORAN TEMPO Lintang Andini; Adi Nugroho; Taufik Suprihatini; Much Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.206 KB)

Abstract

Mahkamah Konstitusi adalah salah satu lembaga tinggi negara yang harus menjaga konstitusi dan menegakkan hukum di Indonesia. Namun, yang terjadi justru Ketua Mahkamah Konstitusi ditangkap KPK karena terlibat suap dalam sengketa Pilkada Gunung Mas dan Pilkada Lebak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Koran Tempo membingkai kasus suap yang melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar. Penelitian dilakukan terhadap Koran Tempo, karena koran ini dianggap layak dan memiliki keunggulan dibanding koran lain.Teori yang digunakan adalah teori konstruksi realitas sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Penelitian menggunakan pendekatan analisis framing yang dikembangkan Robert N. Entman, yang terdiri dari empat perangkat, yaitu Define Problems(pendefinisian masalah), Diagnose Cause (memperkirakan sumber masalah), Make Moral Judgement (membuat keputusan moral) dan Treatment Recommendation(menekankan penyelesaian). Hasil penelitian menunjukkan, define problem adalah Koran Tempo memahami kasus ini sebagai skandal besar di Indonesia. Kasus suap ini melibatkan ketua Mahkamah Konstitusi yang seharusnya menegakkan hukum dan memberantas korupsi. Diagnose Cause adalah Akil dianggap sebagai pihak yang bersalah dalam kasus ini. Make Moral Judgementyang diberikan Koran Tempo adalah penilaian negatif terhadap Akil, misalnya Akil dianggap hakim yang tidak netral dan diduga melakukan pencucian uang. Penilaian negatif juga ditujukan pada Mahkamah Konstitusi dengan memberitakan bahwa praktek pemerasan pihak berperkara sudah biasa terjadi disana. Treatment Recommendationdari Koran Tempo adalah KPK harus mengusut tuntas kasus ini. Koran Tempo memiliki ciri khas yang memberi perhatian khusus dan berani mengungkap kasus-kasus khusunya kasus korupsi dan suap. Bahasa yang digunakan Koran Tempo cenderung lebih berani. Pemberitaan Koran Tempo juga didukung dengan hasil investigasi yang mengungkap fakta bahwa banyak kejanggalan yang dilakukan Akil. Dapat disimpulkan, Koran Tempo membentuk konstruksi bahwa Akil Mochtar adalah pihak yang bersalah dalam kasus ini. Mahkamah Konstitusi juga dikonstruksikan sebagai lembaga yang tidak bersih dari tindak korupsi. Koran Tempo bersikap tidak netral dengan cenderung memihak pada KPK. Key Words: Mahkamah Konstitusi, Praktik Suap, Koran Tempo
Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan Kasus Penembakan di Lapas Cebongan Tineke Kristina Siregar; Taufik Suprihatini; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.604 KB)

Abstract

Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan Kasus Penembakan di LapasCebongan(Analisis Framing: Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Periode 24 Maret – 23 Mei2013)ABSTRAKOrganisasi media massa dalam membingkai sebuah berita diharapkan dapat membingkaisuatu peristiwa atau berita sesuai dengan fakta yang di dapat pada saat melakukan liputan dilapangan. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruksionis. Metode penelitian yangdigunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan analisis framing untuk melihatbagaimana SKH Kedaulatan Rakyat dalam membingkai pemberitaan kasus penenembakan diLP Cebongan. Penelitian ini menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberitaan yang dilakukan oleh SKH KedaulatanRakyat tentang kasus penembakan empat tahanan di Lapas Cebongan oleh anggota Kopassusbahwa adanya keberpihakan SKH Kedaulatan Rakyat secara tidak langsung kepada pihakKopassus. Pada awal pemberitaan yang disajikan oleh SKH Kedaulatan Rakyat dalammenentukan sikapnya, isi berita masih terlihat “abu-abu”. Surat kabar ini terlalu fokus padaunsur Who (Siapa) dan cenderung mengabaikan How (Bagaimana) sebagai salah satu unsuryang seharusnya dipenuhi dalam mengkonstruksi suatu pemberitaan.Kata Kunci : Kopassus, Lapas Cebongan, Tahanan.The Demeanor of Harian Kedaulatan Rakyat About Reporting The Shooting Case inCebongan Prisons(Framming Analysis: Daily News of Kedaulatan Rakyat Period 24th March – 23rd May2013)ABSTRACTIn order to framming an event, mass media organization has been expected to offer newsappropriately in according to reality which is gotten when reasearching in the field. Thisresearch use constructive paradigm and descriptive-qulitative as the method, with framminganalysis. This research uses theory which is given by Zhongdang Pan and Gerald M Kosicki.This research results showed that based on SKH Kedaulatan Rakyat’s reports about firingcase of four prisoners in Cebongan penitentiary by Army Social Forces members indicates.SKH Kedalautan Rakyat has indirectly certain interest with Army Social Forces. In thebeginning of the news which provided by SKH Kedaulatan Rakyat in choosing theirbelonging, the content of the news seems unclearly. This newspaper extremely focus on thesubject (Who), instead of analyze the news comprehensively (How).Keywords : Kopassus, Cebongan penitentiary, prisons.Sikap Harian Kedaulatan Rakyat Terhadap Pemberitaan KasusPenembakan di Lapas Cebongan(Analisis Framing: Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Periode 24Maret – 23 Mei 2013)SkripsiBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPemenuhan kebutuhan manusia akan informasi adalah merupakan suatu hal yang dianggapbegitu penting. Sama halnya dengan pemberitaan yang dilakukan oleh harian KedaulatanRakyat, dimana dalam hal ini, Kedaulatan Rakyat sebagai salah satu surat kabar lokal DIYjuga memberikan pemberitaan mengenai kasus penembakan 4 di Lapas Cebongan,Yogyakarta. Berikut berita yang dihasilkan oleh harian Kedaulatan Rakyat:Segerombolan pria bersenjata api laras panjang, Sabtu (23/3) dini harimenyerbu Lapas Sleman yang terletak di Cebongan Sleman.Berhasil masuk ke dalam, para pelaku kemudian menembak empattersangka, yakni Andrianus Candra alias Dedi (33), Hendrik BenyaminSahetapi alias Dicky (38), Gameliel Yermianto alias Adi Lado (29), danYohanes Juan Mambait (38).(Sumber : harian Kedaulatan Rakyat, 24 Maret 2013, Lapas Cebongan SlemanDiserbu 4 Tahanan Tewas).Peneliti menggunakan surat kabar harian Kedaulatan Rakyat sebagai objek dalampenelitian ini karena peneliti menilai bahwa surat kabar harian Kedaulatan merupakan suatusurat kabar lokal yang isi teks beritanya dianggap layak untuk digunakan dalam penelitiankhususnya analisis framing. Dalam hal ini peneliti mencoba melakukan penelitian denganmenggunakan analisis framing dalam kasus ini.1.2. Perumusan MasalahPermasalahan yang akan diteliti oleh peneliti yaitu: Bagaimana sikap harianKedaulatan Rakyat dalam membingkai (frame) pemberitaan Kasus Penembakan 4 orangTahanan oleh Anggota Kopassus di Lembaga Pemasyarakatan Cebongan?1.3. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui sikap harian Kedaulatan Rakyat dalam mengkonstruksipemberitaan Kasus Penembakan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan.1.4. Kegunaan Penelitian1.4.1 Kegunaan SosialPenelitian ini diharapkan nantinya dapat membantu masayarakat umum khususnyadalam mengkonsumsi media. Diharapkan masyarakat dapat dengan kritis dalammemilah dan memilih media yang ingin dikonsumsi1.4.2 Kegunaan TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan ilmiah dan memperkayakajian ilmu komunikasi khususnya mengenai persoalan yang berkaitan denganpembingkaian berita dengan menggunakan teori Zhongdang Pan dan Gerald M.Kosicki1.4.3 Kegunaan PraktisAgar dengan membaca penelitian ini, pembaca mengetahui sikap media massadalam peran surat kabar sebagai media massa yang memiliki pandangan yangberbeda-beda dalam mengonstruksi realitas yang ada.1.5. Kerangka Pemikiran Teoritis1.5.1. Paradigma Penelitian1.5.2. State of the art1.5.3. Media Massa1.5.4. Skema dan Produksi Berita1.5.5. Konstruksi Sosial1.5.6. Teori Analisis Framing1.5.6.1. Definisi dan Ideologi Framing1.5.6.2. Efek Framing1.5.6.3. Model Framing : Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki1.6. Metode Penelitian1.6.1. Tipe PenelitianPenelitian yang akan dilakukan ini menggunakan tipe penelitian kualitatif yang bersifatdeskriptif dengan menggunakaan metode analisis framing.1.6.2. Subjek PenelitianHarian Kedaulatan Rakyat periode 24 Maret- 23 Mei 2013.1.6.3. Sumber Dataa. Data PrimerHarian Kedaulatan Rakyat periode 24 Maret- 23 Mei 2013.b. Data sekunderData Sekunder dalam penelitian ini berupa data yang diperoleh diluar dariHarian Kedaulatan Rakyat seperti literatur-literatur, sumber bacaan bukutertulis .1.6.4. Teknik Pengumpulan DataDokumen eksternal, yaitu data-data unit analisis dikumpulkan dengan cara mengumpulkandata dari bahan-bahan tertulis yang disiarkan dari media massa.1.6.5. Analisis Data.Perangkat frame dapat dibagi ke dalam struktur besar menurut Zhongdang Pan dan GeraldM. Kosicki. Pertama, struktur Sintaksis. Kedua, struktur Skrip. Ketiga, struktur Tematik.Keempat, struktur Retoris.BAB IIGAMBARAN UMUM HARIAN KEDAULATAN RAKYAT DAN PEMBERITAANKASUS PENEMBAKAN 4 TAHANAN LP CEBONGAN DALAM HARIANKEDAULATAN RAKYAT2.1. Perkembangan Surat Kabar CetakSurat kabar adalah media massa yang paling tua dibandingkan dengan media massalainnya. Di Indonesia, surat kabar berkembang pesat dengan peran dan fungsinya sendirisebagai penyampai informasi kepada masyarakat luas hingga saat ini.2.2. Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.1. Sejarah Berdirinya Harian Kedaulatan Rakyat2.2.2. Kepemilikan dan Kepemimpinan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.3. Visi dan Misi Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.4. Kegiatan Sosial dan Penghargaan yang diterima Surat Kabar HarianKedaulatan Rakyat2.2.5. Rubrik Dalam Cetakan SKH Kedaulatan Rakyat dan Tiras SKHKedaulatan Rakyat .2.2.5.1. Rubrik Dalam Cetakan SKH Kedaulatan Rakyat2.2.5.2. Tiras Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat2.2.6. Jumlah Pembaca dan Profil Pembaca SKH Kedaulatan Rayat2.2.6.1. Jumlah Pembaca SKH Kedaulatan Rakyat2.2.6.2. Profil Pembaca SKH Kedaulatan Rakyat2.2.7. Struktur Organisasi dan Profil Harian Kedaulatan Rayat2.3. Deskripsi Kasus Penembakan 4 Orang Tahanan LP Cebongan Dalam HarianKedaulatan RakyatBAB IIISTRUKTUR FRAME PEMBERITAAN KASUS PENEMBAKAN EMPAT ORANGTAHANAN LP CEBONGAN1. Berita tanggal 24 Maret 2013Sintaksis : Menjelaskan kronologis penyerangan LapasSkrip : Unsur Why dalam berita ini tidak disebutkan.Tematik :Seluruh paragraf menerangkan mengenai kronologis penyerangan.Retoris : Gambar2. Berita tanggal 25 Maret 2013Sintaksis : Pihak kepolisian belum berhasil mengidentifikasi pelaku penyerang.Skrip : 5W+1H : sudah memenuhi kriteria.Tematik : menerangkan mengenai pengidentifikasian dan proses pencarian fakta-faktamengenai pelaku penyerang Lapas.Retoris : -3. Berita tanggal 26 Maret 2013Sintaksis : Menerangkan belum ditemukannya sidik jari penyerbu Lapas.Skrip : Tidak terdapat unsur how.Tematik : Seluruh paragraf menerangkan mengenai tahanan yang masih mengalamitrauna akibat penyeranganRetoris : Gambar4. Berita tanggal 27 Maret 2013Sintaksis : Menerangkan bahwa presiden SBY meminta Panglima TNI untuk membantuPolri mengungkap identitas pelaku penyerang.Skrip : Tidak terdapat unsur how.Tematik : terdapat keterkaitan antara paragraf 3 dan 5 yang menekankan peran polridalam pengungkapan penyerang Lapas.Retoris : Gambar.5. Berita tanggal 28 Maret 2013Sintaksis : Polri sudah mulai menemukan titik terang pelaku Lapas dan terdapat sandikhusus pelaku penyerangan.Skrip : Tidak terdapat unsur why dan how.Tematik : Isi berita merupakan pemberitaan terkait pengumpulan fakta dan buktipenyerangan LapasRetoris : Idiom6. Berita tanggal 30 Maret 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa Tim 9 diterjunkan untuk mengusut kasusCebongan.Skrip : Tidak terdapat unsur why dan how.Tematik : isi pemberitaan hanya memberikan keterangan mengenai keterlibatan oknumTNI AD dalam penyerangan Lapas.Retoris : Gambar7. Berita tanggal 01 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan mengenai pengamanan Polda DIY dan sketsaPenyerang Lapas akan disebar.Skrip : Hanya terdapat unsur where dan when saja.Tematik : Tidak begitu menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antar paragraf.Retoris : Gambar8. Berita tanggal 02 April 2013Sintaksis : mengenai belum adanya tersangka kasus penyerangan Lapas Cebongan.Skrip : Tidak terdapat unsur who, why dan how.Tematik : Adanya keterkaitan antara paragraf 4 dan 6. Dimana dalam hal ini lebihmenekankan adanya keterkaitan TNI dalam penyerangan Lapas.Retoris : Gambar9. Berita tanggal 04 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan mengenai penerjunan tim 9 ke Lapas belummenunjukkan adanya petunjuk pelaku penyerang Lapas.Skrip : Hanya terdapat unsur what, where dan when.Tematik : seluruh paragraf dari berita ini memberikan keterangan mengenai investigasiyang dilakukan oleh tim 9.Retoris : -10. Berita tanggal 05 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa oknum Kopassus mengaku serang Lapas danPenyerang siap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang pengakuan oknum Kopassus terhadap serangan ke Lapas danterkait dengan kronologis penyerangan.Retoris : Gambar11. Berita tanggal 06 April 2013Sintaksis : tentang pertanggung jawaban Komandan Jenderal terhadap penyerbuan anakbuahnya ke Lapas Cebongan.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang pertanggung jawaban Danjen terhadap anak buahnya yangmenyerang Lapas.Retoris : -12. Berita tanggal 10 April 2013Sintaksis : Judul berita : Judul ini memberikan keterangan terkait proses hukum yangakan dilakukan oleh 11 oknum Kopassus.Kutipan sumber: memberikan keterangan terkait persidangan yang akandilakukan.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : seluruh berita ini berisi tentang mengenai penyelidikan dan status 11 oknumKopassus.Retoris : Gambar13. Berita tanggal 12 April 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa tidak perlunya menggunakan DewanKehormatan Militer karena kasus ini dinilai bukanlah pelanggaran HAM.Skrip : Unsur how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang memberikan penekanan bahwa tidak perlunya menggunakanUU Peradilan HAM karena kasus ini tidak menyangkut HAMRetoris : -14. Berita tanggal 22 Mei 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa tersangka pelaku penyerangan Lapasbertambah menjadi 12 orang.Skrip : Unsur why dan how tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang sidang yang akan dilakukan secara terbuka dan bertambahnyapelaku menjadi 12 orang.Retoris : Gambar15. Berita tanggal 23 Mei 2013Sintaksis : memberikan keterangan bahwa Odmil telah menerima berkas Cebongan.Skrip : How tidak terdapat dalam berita.Tematik : berisi tentang berisi tentang kelengkapan berkas dan barang bukti dalampenyelidikan.Retoris : -BAB IV4.1. Kasus Cebongan Diserahkan Kepada “TIM 9” Yang Dibentuk TNISintaksis : Lead yang merujuk pada kutipan yang diberikan oleh unsur who dalam hal inisebagai pandangan awal dalam pembentukan body berita.Skrip: Berita ini tidak terdapat unsur Why dan How.Tematik: SKH Kedaulatan Rakyat sendiri belum terlihat memberikan kritikannya dalamkasus ini.Retoris: Adapun gambar yang diberikan oleh SKH Kedaulatan Rakyat yaitu menggambarkanseorang berpenutup wajah lengkap dengan pakaian tertutup dan sarung tangan dimana orangtersebut terlihat sedang membidik sesuatu dengan senjata api laras panjang, seolah-olah inginmenembak sesuatu.4.2. Oknum Kopassus Turun Gunung, Akui Eksekusi Preman, Penyerang LapasSiap Tanggung JawabSintaksis: Melalui judul berita ini SKH Kedaulatan Rakyat memberikan penonjolan melaluipemilihan kata yang digunakan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik:. SKH Kedaulatan Rakyat masih terlihat abu-abu dapat menentukan sikap danarahnya terkait penyerangan Lapas Cebongan.Retoris: Gambar yang dicantumkan dalam berita ini yang paling menonjol yaitumenunjukkan gambar seorang pria menggunakan seragam TNI AD.4.3. Tak Perlu Dewan Kehormatan MiliterSintaksis: Dalam berita ini terlihat jelas sikap SKH Kedaulatan Rakyat. Hal ini terlihat darijudul atau headline berita yang diberikan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik: Media sudah dengan jelas menunjukkan sikapnya.Retoris: Tidak ditemukan.4.4. Odmil Terima Berkas Cebongan, KSAD Jamin Tak IntervensiSintaksis: Melalui pemilihan kata memberikan penegasan kembali bahwa KSAD dijamin takakan intervensi apa pun dari proses peradilan.Skrip: Dalam berita ini tidak ditemukan unsur How.Tematik: Struktur tematik penulisan yang dilakukan SKH Kedaulatan Rakyat dalam beritaini, media dengan jelas menunjukkan sikapnya.Retoris: Tidak ditemukan.BAB VPENUTUP5.1 Kesimpulan1. Penyajian realitas menjadi sebuah berita dikonstruksi oleh SKH Kedaulatan Rakyat denganpemilihan narasumber berita yang kredibel.2. Surat kabar ini terlalu fokus pada unsur Who (Siapa) dan cenderung mengabaikan How(Bagaimana) sebagai salah satu unsur yang seharusnya dipenuhi juga.3. Struktur retoris yang diberikan dominan tidak sesuai antara gambar dan isi pemberitaanyang diberikan. Banyak gambar ataupun grafik yang tidak konsisten antara isi berita dangambar.5.2 Implikasi Hasil Penelitian1. Implikasi AkademikSecara teoritis, permasalahan dalam penelitian ini berhasil dipecahkan dengan menggunakanteori yang diberikan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki2. Implikasi PraktisPenelitian yang dilakukan ini memperlihatkan bagaimana media mengkonstruksi suaturealitas ke dalam sebuah pemberitaan. Pada penelitian yang akan dilakukan selanjutnya,peneliti baru dapat menggunakan menggunakan metode penelitian yang berbeda.3.Implikasi SosialMelalui hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar audiens atau seluruh orang yangmengkonsumsi media dapat dengan lebih cermat dan bijaksana dalam menilai setiappemberitaan yang disajikan oleh berbagai media.DAFTAR PUSTAKABaran , Stanley J dan Dennis K. Davis. 2010. Teori Komunikasi Massa: Dasar, Pergolakan,dan Masa Depan (5th ed.). (Terj.) Jakarta : Salemba HumanikaBungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi, Teori, Paradigma, dan Diskursi TeknologiKomunikasi di Masyarakat. Jakarta : KencanaD’Angelo Paul dan Jim A. Kuypers. 2010. Doing News Framing Analysis: Empirical andTheoretical Persfectives. New York : Routledge Communication SeriesEriyanto. 2002. Analisis Framing Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta : LkisYogyakartaLittlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2009. Teori Komunikasi, Theories of HumanCommunication. Jakarta : Salemba HumanikaMoleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMulyana, Deddy. 2008. Komunikasi Massa Kontroversi, Teori, dan Aplikasi. Bandung:Widya PadjajaranPawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta : PT Lkis Pelangi AksaraYogyakartaSeverin, Werner J dan James W. Tankard, JR. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode,,dan Terapan di Dalam Media Massa (5th ed.) Jakarta : KencanaSobur, Alex. 2004. Analisis Teks Media Massa, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung : Remaja RosdakaryaSudibyo, Agus. 2001. Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta : Lkis PelangiAksara YogyakartaSulistiono, 2013. Senangnya Menjadi Wartawan. Yogyakarta : PT Intan SejatiSuyanto, Bagong dan Sutinah. 2010. Metode Penelitian Sosial Berbagai AlternatifPendekatan. Jakarta : KencanaSumber Skripsi:Yunusiana Ariana, (2012) “Pembingkaian Majalah Tempo Pada Pemberitaan Pansus BankCentury” (Analisis Framing Majalah Tempo). Skripsi. UNDIPIka Kumala Wati, (2009) “Sikap Harian Suara Merdeka Tentang Pemberitaan BambangSadono dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2008” (Analisis framing HarianSuara Merdeka Periode Mei-Juni 2008). Skripsi. UNDIPSumber Tesis:Noor Irfan, (2011) Analisis Framing : Pemberitaan Harian Kompas atas RUUK-DIY. Tesis.UNDIPSumber Internet:Aris Fourtofour (2013). Sejarah Koran (Surat Kabar)http://www.kumpulansejarah.com/2013/01/sejarah-koran-surat-kabar.html diakses : 03Juli 2013, pukul 10.38David Straker (2002). The Newspaper Methods Go From Headline To Minor Detail.http://changingminds.org/description/methods/newspaper_method.html diakses : 20Mei 2012, pukul 22.10Febriana (2013). Perkembangan Media Cetak ; Surat Kabar dan Majalahhttp://ohninaaa.blogspot.com/2012/05/perkembangan-media-cetak-surat-kabar.htmldiakses 03 Juli 2013, pukul 11.14I Nyoman Wija, SE, AK (2011). Membungkam Pers dan Media Massa? Antara Fakta,Somasi, dan Hak Jawab. http://www.isi-dps.ac.id/berita/membungkam-pers-dan-mediamassa-antara-fakta-somasi-dan-hak-jawab diakses: 23 April 2013, pukul 12:30Iwan Awaludin Yusuf (2011). Bisnis Surat Kabar, Masihkah Menjanjikan?http://bincangmedia.wordpress.com/tag/suratkabar-di-indonesia/ diakses : 02 Juli 2013,pukul 14:49Jessica (2009). Konstruksi Pemberitaan Pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono X SebagaiCalon Presiden Pada Harian Kedaulatan Rakyathttp://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=28&submit.y=15&submit=next&qual=high&submitval=next&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Fikom%2F2009%2Fjiunkpe-ns-s1-2009-51405069-11641-sri_sultan-chapter4.pdf diakses : 03 Juli, pukul 13.20Mario (2009). Harian Kedaulatan Rakyat. http://id.shvoong.com/books/1873152-hariankedaulatan-rakyat/#ixzz2XsHbvcNx diakses : 02 Juli 2013, pukul 15:34Mesya Mohhamad (2013). Kronologi Pengeroyokan Anggota Kopassus Sertu Heru Didugajadi Pemicu Penyerangan Lapas Cebonganhttp://www.jpnn.com/read/2013/03/23/164068/Kronologi-Pengeroyokan-Anggota-Kopassus-Sertu-Heru- diakses : 02 Juli 2013, pukul 19.50Octa (2011). Perkembangan Pers di Indonesia. http://klikbelajar.com/umum/perkembanganpers-di-indonesia/ diakses : 02 Juli 2013, pukul 14.16Syaiful Hakim (2013). Penyerang LP Cebongan 11 Oknum Kopassus.http://www.antaranews.com/berita/367063/penyerang-lp-cebongan-11-oknum-kopassusdiakses: 23 April 2013, pukul 14:13Syamrilaode (2010). Pengertian Media Massa. http://id.shvoong.com/writing-andspeaking/2060385-pengertian-media-massa/#ixzz2Q8aDpKJJ diakses : 23 April 2013,pukul 14:38Tim Dishub Kominfo Pemerintah Provinsi DIY (2013). Kedaulatan Rakyat (KR)http://www.plazainformasi.jogjaprov.go.id/index.php/media-streaming/mediacetak/864-kr diakses : 02 Juli 2013, pukul: 20.45Tim Redaksi KR Yogya (2013). Profile SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakartahttp://krjogja.com/images/SKH%20Kedaulatan%20Rakyat.html diakses: 08 Juli 2013,pukul: 12.31Umi dan Daru (2013). Kronologi Penembakan Brutal di Lapas Sleman yang Tewaskan 4Orang "Sipir tidak bisa berbuat apa-apa dan menunjukkan lokasi sel"http://nasional.news.viva.co.id/news/read/399633-kronologi-penembakan-brutal-dilapas-sleman-yang-tewaskan-4-orang diakses : 02 Juli 2013, pukul 20.27Widhie Kurniawan (2012). Bentrok TNI VS Polri Berulang Kembalihttp://rri.co.id/index.php/editorial/72/Bentrok-TNI-vs-Polri-Berulang-Kembali#.Ua2gppyE9NE diakses : 04 Juni 2013, pukul 16.49
REPRESENTASI NASIONALISME WARGA PERBATASAN KALIMANTAN BARAT DALAM FILM (Analisis Semiotika pada Film Tanah Surga...Katanya) Febryana Dewi Nilasari; Taufik Suprihatini; Triyono Lukmantoro; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.258 KB)

Abstract

Film bertema nasionalisme dianggap memiliki daya tarik tersendiri. Berbeda dengan film lainnya yang memiliki tema drama dan mengangkat fenomena kehidupan sehari-hari, film yang bertema nasionalisme sangat dipengaruhi oleh faktor sosial politik yang ada di Indonesia. Pada film Tanah Surga... Katanya memperlihatkan secara gamblang kondisi keterpurukan dan kekalahan Indonesia dari negara tetangga (Malaysia) dalam  hal mensejahterakan rakyatnya. Film ini bercerita tentang sudut pandang lain dari semangat nasionalisme bangsa Indonesia yaitu bagaimana perjuangan warga perbatasan Kalimantan Barat untuk mempertahankan semangat nasionalismenya di tengah kehidupan yang serba terbatas di daerah perbatasan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat dalam film Tanah Surga... Katanya. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori representasi Stuart Hall dalam paradigma konstruktivis. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske “the code of television” yang memasukkan kode-kode sosial ke dalam tiga level yakni level realitas, level representasi dan level ideologi.Hasil penelitian menunjukkan pada level realitas film ini menunjukkan realitas kesenjangan yang terjadi di perbatasan Kalimantan Barat dan perbatasan Malaysia (Sarawak). Perbatasan Kalimantan digambarkan miskin (tradisional) sedangkan Malaysia digambarkan sejahtera (modern). Pada level representasi film ini menunjukkan visualisasi pesan nasionalisme di tengah keterpurukan warga perbatasan Kalimantan Barat yang disampaikan melalui beberapa aspek teknis. Alur cerita, konflik, dan dialog menceritakan kehidupan Salman dan Kakek Hasyim sebagai tokoh utama yang memiliki jiwa nasionalisme melawan setiap keadaan perbatasan yang menguji rasa nasionalisme. Level ideologis dalam film ini mengungkapkan ideologi nasionalisme warga perbatasan Kalimantan Barat melalui bentuk-bentuk perlawanan atau perjuangan melawan menghadapi keadaan (kemiskinan, keterpencilan, ketidakadilan dalam pembangunan). Bentuk-bentuk nasionalisme warga perbatasan meliputi, nasionalisme pada simbol-simbol negara, nasionalisme dalam mempertahankan kewarganegaraan, nasionalisme dalam kemiskinan, nasionalisme untuk generasi selanjutnya. Kata Kunci : film, nasionalisme, semiotika, perbatasan Kalimantan Barat
Memahami Proses Adaptasi Individu yang Berpindah Tempat dengan Host Culture di Semarang Fitria Nur Pratiwi; Taufik Suprihatini; Sri Widowati Herieningsih
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar BelakangManusia adalah makhluk sosial yang selalu berpindah tempat dari satu daerah kedaerah yang lain karena berpindah tugas, transmigrasi dan imigrasi, merekamembutuhkan interaksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat,norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pengalaman tentangperpindahan seseorang dari satu kota ke kota lainnya memang tidak mudah untukdihadapi, mempelajari karakteristik budaya sangat menolong dalam melakukankomunikasi yang lebih baik. Hal terpenting dalam budaya meliputi bahasa, agama,tradisi, dan kebiasaan.Perasaan takut dan was-was muncul dalam diri pendatang tersebut karenasetiap hari mereka harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya menggunakanbahasa daerah yang juga digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pergaulansehari-hari. Proses komunikasi antarbudaya sangat dipengaruhi oleh persepsiseorang manusia mengenai lingkungan, benda dan peristiwa yang beradadisekitarnya. Bila seorang manusia telah memahami dan menghargai persepsiorang lain yang berbeda budaya, maka akan bisa melangsungkan proseskomunikasi dengan lancar dan memperoleh reaksi yang diharapkan.(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Dalam prosesnya, perbedaan latar belakang budaya memiliki pengaruhkuat terhadap munculnya kecemasan dan ketidakpastian yang berpotensimenimbulkan kesalahpahaman yang menjadi kendala dalam proses adaptasi dankerjasama antarbudaya tersebut. Oleh sebab itu, melakukan adaptasi dankerjasama antarbudaya tidaklah mudah dilakukan. Proses adaptasi budaya yangterjadi pada setiap suku bangsa ada beberapa model adaptasi yang dilakukan olehpendatang terhadap penduduk asli, adaptasi yang dilakukan penduduk asliterhadap pendatang dan adaptasi yang tidak dilakukan oleh pihak manapun,dimana masing-masing etnik berdiam diri tanpa melakukan adapatasi. Padaumumnya adaptasi yang paling sering terjadi adalah adaptasi yang dilakukan olehpenduduk pendatang terhadap penduduk asli.(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf)3Keberadaaan pendatang di daerah yang baru merupakan hal yang menarikuntuk dicermati. Keberadaan pendatang tersebut dengan membawa budayaasalnya dengan mudah dapat ditemui dan dikenali misalnya dari logat maupunbahasa yang digunakan. Hal ini menjadikan mereka “berbeda” dengan masyarakathost culture. Keadaan “berbeda” ini akan menyebabkan suatu perasaan “asing”bagi para “perantau” ketika berada dilingkungan yang baru. Inilah yang disebutdengan gegar budaya.Ketika pertama kali berada di sebuah lingkungan yang baru berbagaimacam ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) dialami oleh hampirsemua individu. Ternasuk pendatang tersebut ketika berada di daerah baru.Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) relative tinggi dari masingmasingindividu ketika melakukan komunikasi antar budaya pada gilirannyamenyebabkan munculnya tindakan atau perilaku yang tidak fungsional. Ekspresiperilaku yang tidak fungsional tersebut antara lain tidak memiliki kepedulianterhadap eksistensi orang lain, ketidaktulusan dalam berkomunikasi dengan oranglain, melakukan penghindaran komunikasi cenderung mennciptakan permusuhandengan orang lain (Turnomo Rahardjo, 2005: 13).II. Rumusan MasalahFaktor perbedaan budaya yaitu masalah bahasa, kebiasaan sehari-hari dan adatistiadat antara pendatang dengan masyarakat setempat (host culture) dalam hal inikeluarga pendatang menjadi masalah. Perasaan “berbeda” dari segi bahasa,kebiasaan dan adat istiadat ini berpotensi menimbulkan conflik. Perasaan“berbeda” ini juga dipengaruhi oleh persepsi dan tingginya pengharapanseseorang ketika memasuki lingkungan yang baru.Ketidakmampuan untuk memprediksi perilaku kalangan pendatang adalahbentuk ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) yang dialami olehkeluarga tersebut di lingkungan yang baru. Hal ini berpotensi menimbulkankesalahpahaman. Dalam prosesnya, ketika “perbedaan” ditonjolkan, dapatmeyebabkan munculnya konflik.4III. Tujuan Penelitian1. Untuk memahami kecemasan dalam interaksi antarabudaya bagi kalanganpendatang yang berpindah tempat.2. Untuk memahami proses adaptasi dan strategi adaptasi yang diterapkanoleh para pendatang saat memasuki daerah yang baru.3. Untuk memahami pengalaman dari host culture ketika hidupberdampingan bermasyarakat dengan kalangan pendatang.IV. Kerangka TeoriSecara konseptual ketidakpastian (uncertainty) merupakan ketidakmampuanseseorang untuk memprediksikan atau menjelaskan perilaku, perasaan, sikap ataunilai-nilai yang diyakini orang lain. Sedangkan, kecemasan (anxiety) merupakanperasaan gelisah, tegang, khawatir atau cemas tentang sesuatu yang akan terjadi.Ketidakpastian merupakan pikiran (thought) dan kecemasan merupakan perasaan(feeling). Ketidakpastian (uncertainty) dan kecemasan (anxiety) merupakanfaktor-faktor penyebab kegagalan komunikasi antar kultural. Gudykunts (dalamGudykunts, 2005:23) menjelaskan bahwa untuk menyesuaikan diri terhadapkebudayaan baru, seseorang tidak seharusnya mengurangi kecemasan danketidakpastian mereka secara total. akan tetapi, mereka tidak dapat berinteraksisecara efektif dengan host culture apabila ketidakpastian dan kecemasan merekaterlalu tinggi, sehingga mereka tidak mampu memprediksi perilaku wargasetempat.Teori negosiasi muka (Face-Negotiation Theory) adalah salah satu darisedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yangberbeda memiliki bermacam-macam pemikiran mengenai “muka” orang lain.Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda.Wajah merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, wajah telah menjadifokus dari banyak penelitian didalam berbagai ilmu (Littlejohn & Karen A. Foss,1998 : 130).5Interaction Adaption Theory (IAT) is intended to provide a comprehensiveaccount of multiple concurrent adaptations patterns. Teori ini meningkatkanjangkauan dari model adaptasi yang lalu dengan menandai pengaruh yang kuatyang muncul dalam interaksi normal dan dengan memasukkan perilaku dan fungsikomunikasi yang lebih luas. Konsep kunci IAT adalah requirement, expectations,desires, interaction position, dan actual positions (Gudykunst, 2005: 162). Prosesadaptasi interaksi yang kompleks, yang belum ada, dan kadang-kadang takterlihat.Perasaan berbeda bahasa, adat istiadat dan budaya seketika hilang apabilakita mampu beradaptasi dengan baik di sekitar lingkungan baru kita. Perlahanlahanbudaya host culture harus dipelajari dan dimengerti apabila ingin hidupberdampingan secara harmonis dengan masyarakat setempat.V. Metodologi PenelitianTipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatanfenomenologi. Unit analisis data dalam penelitian ini terdiri dari empat orangpendatang (dua mahasiswa dan dua keluarga pendatang) sebagai subjekpenelitian, dan empat orang host culture yang menjadi informan tambahan gunacross-check data untuk memenuhi goodness criteria. Data diperoleh melaluiwawancara mendalam dengan delapan subjek penelitianVI. Kesimpulan Interaksi antarbudaya yang dilakukan oleh para informan dari luar pulau Jawadengan host culture di Semarang, mengalami kesulitan saat pertama kaliberinteraksi karena perbedaan budaya dan bahasa. Hal ini mengakibatkan parainforman mengalami kecemasan untuk berinteraksi kembali dengan hostculture serta ketidakpastian bahasa yang digunakan saat berpindah tempat diSemarang. Host culture membantu para informan yang mengalami kecemasandan ketidakpastian dengan membantu proses interaksi antarbudaya dalammelakukan adaptasi bagi para pendatang yaitu berinisiatif dahulu mengajak6para informan untuk berinteraksi dan mengajak para informan untukmengikuti kegiatan yang diadakan dilingkungannya, antara lain pengajian,arisan dan kegiatan olahraga. Proses adapatsi para informan dikatagorikan berdasarkan pengalamankomunikasi yaitu adaptasi antarbudaya yang dilakukan disekitarlingkungannya, konteks identitas dan perbedaan budaya serta bahasa parainforman, kepantasan dan keefektivitas para informan dalam berperilakusehari-hari di lingkungannya, pengetahuan para informan untuk lebihmengenal lingkungan baru, motivasi dalam melakukan interaksi dengan hostculture dan tindakan yang dilakukan para informan dilingkungannya. Prosesadaptasi para informan memakan waktu yang berbeda pada setiap informan,bergantung pada keaktifan informan terhadap kegiatan yang diadakan dilingkungannya. Semakin sering mengikuti aktivitas di lingkungannya, makaproses adaptasinya berjalan dengan cepat. Strategi adaptasi yang dipakai olehpara informan adalah strategi aktif dan strategi interaktif. Strategi aktif yaitumulai mencari tahu tentang lingkungan host culture dari orang yang sudahdahulu dikenal, strategi ini digunakan oleh informan I dan informan III yangberstatus mahasiswa. Sementara strategi interaktif yaitu berhubunganlangsung dengan host culture, seperti memulai percakapan dan interaksisehari-hari (pengajian, olahraga dan arisan), strategi ini digunakan olehinforman II dan informan IV yang merupakan keluarga pendatang. Pengalaman para host culture saat melakukan interaksi pertama kali denganpara informan berbeda-beda. Para host culture tersebut antara lain ibu kost,tetangga, teman kampus, teman kost dan teman lingkungan para informan. Ibukost para informan berinisiatif dahulu untuk melakukan pembicaraan denganinforman, karena akan menempati kost, sedangkan tetangga keluargapendatang juga lebih dahulu melakukan interaksi kepada informan agar cepatakrab dengan warga baru. Teman lingkungan kost maupun teman kampusmenunggu informan untuk melakukan interaksi terlebih dahulu karena takutberbeda bahasa dengan informan.7Gambar 4.1Bangunan Teoritik Pengalaman Proses Adaptasi Individu yang BerpindahTempat dengan Host Culture di SemarangMengalami Ketidakpastian KecemasanMembantu Proses AdatasiPENDATANGHOST CULTUREKompetensiKomunikasi:- AdaptasiAntarbudaya- Konteks- KepantasanDanEfektivitas- Pengetahuan- Motivasi- TindakanHambatan Proses Adaptasi:Internal : KarakteristikindividuExternal : Budaya danBahasaStrategi Adaptasi:- Strategi aktif- Strategi interraktif8DAFTAR PUSTAKABukuCupach, W. R., and Canary, D. J. (1997). Competence In Interpersonal Conflict.California: Waveland Press, Inc.Devito, A Joseph. (1997). Komunikasi Antar Manusia. Professional Books:Karisma Publishing.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994a). Competing Paradigms In QualitativeResearch. London: Sage Publications.Guba, E. G. and Lincoln, Y. S. (1994b). Naturalistic Inquiry . London: SagePublications.Gudykunst, William. (2005). Theorizing About Intercultural Communication.California: Sage Publication, Inc.Liliweri, Alo. (2002). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya.Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2003). Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya EdisiRevisi. Yogyakarta: LKis.Liliweri, Alo. (2004). Dasar-dasar Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Littlejohn, Stephen W, and Foss Karen A. (1998). Theories of HumanCommunication. Belmont: Thomson Learning, Inc.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (1996). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture. New York: HappercollinsCollege Publisher.Lustig, Myron W. and Jolene Koester. (2006). Intercultural Competence:Interpersonal Communication Across Culture 6th Edition. New York:Happercollins College Publisher.Martin, Judith N. and Thomas K. Nakayama. (2004). InterculturalCommunication in Contexts. New York: McGraw – Hill.Moleong, Lexy J. (2002). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.Moleong, Lexy J. (2005). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.9Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung:Remaja Rosdakarya.Moustakas, Clark. (1994). Phenomenological Research Methods. California: SagePublication, IncMulyana, Deddy. (2010). Komunikasi Lintas Budaya: Pemikiran, Perjalanan.Bandung: Remaja Rosdakarya.Mulyana, Deddy. (2006). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: RemajaRosdakarya.Rahardjo, Turnomo. (2005). Menghargai Perbedaan Kultural: KompetensiKomunikasi Antar Budaya dalam Komunikasi Antar Etnis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.Riswandi. (2009). Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, Jain C Nemi. (1984). UnderstandingIntercultural Communication. Jakarta: Salemba Humanika.Samovar, Larry A, and Porter Richard E, McDaniel R Edwin. (2010). KomunikasiLintas Budaya. Jakarta: Salemba Humanika.Sukmadinata, Nana Syaodih. (2006). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung :Remaja Rosda KaryaSingarimbun M, dan Sofian E. (1995). Metode Penelitian Survey. Jakarta:Pustaka LP3ES Indonesia.Ting-Toomey, Stella. (1999). Communicating Across Cultures. California:Guilford PressYin, Robert K. (2006). Studi Kasus : Desain dan Metode. Jakarta : Raja GrafindoPersadaJurnalRahardjo, Turnomo. (2007). Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. I. Semarang: 29SkripsiFrimandona, Nike., (2007). Memahami Adaptasi dalam Komunikasi Antarbudaya(Kasus Pernikahan Antaretnis Jawa-Minang). Skripsi. UniversitasDiponegoro.Ulfah, Maria., (2009). Memahami Adaptasi Antar Budaya antara Warga Asingdengan Host Culture di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.Khotimah, Khusnul., (2010). Adaptasi Antar Budaya Warga Korea Selatandengan Budaya Tuan Rumah di Salatiga. Skripsi. Universitas Diponegoro.10Internet(http://gatothp2000.com/2011/09/23/cross-culture-sesorang-yg-diperjalankan/).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 19.00 WIB(http://www.anneahira.com/komunikasi-antarbudaya.htm).Diunduh pada tanggal 14 September 2012 pukul 20.30 WIB(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19439/5/Chapter%20I.pdf).Diunduh pada tanggal 16 September 2012 pukul 21.00 WIB
Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra Polisi Ira Astri Rasika; Taufik Suprihatini; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.445 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Pemberitaan Teror di Surakarta dan Faktor Demografi (Usia, JenisKelamin, Tingkat Pendidikan) Terhadap Citra PolisiAbstrakPemberitaan mengenai teror terhadap anggota kepolisian yang terjadi di kota Surakartapada Agustus 2012 lalu menjadi topik utama di media massa. Hal ini dapat memengaruhipersepsi masyarakat mengenai citra polisi itu sendiri karena instansi kepolisian langsung menjadisorotan utama berkaitan dengan aksi teror yang menyerang anggotanya. Akan tetapi, tidak semuaorang memiliki persepsi yang sama, hal ini dikarenakan masyarakat terdiri dari berbagai macamkomposisi demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh terpaan media tentang pemberitaan teror solo dan faktor demografi(usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citra polisi di mata masyarakat. Penelitimenggunakan teori efek komunikasi kognitif yang dapat menjelaskan bagaimana pembentukancitra dapat terjadi karena terpaan media massa yang diterima oleh khalayak (Ardianto, 2004),teori kategori sosial dan teori perbedaan individual dari Melvin DeFleur dan Ball Rokeachmampu menjelaskan bagaimana faktor demografi penduduk dapat berpengaruh terhadappembentukan citra (Rakhmat, 2011). Populasi dari penelitian ini adalah warga kota Surakartayang berusia 15-64 tahun. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 70 orang.Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM)untuk melihat besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel terpaanpemberitaan (X) terhadap variabel citra polisi (Y) melalui variabel usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (intervening variable). Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan terorSolo berpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan,dengan nilai pengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278lebih besar dari nilai pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin,tingkat pendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048. Jadi, hipotesis yang diajukandalam penelitian ini ditolak. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameterestimasi pengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan keduavariabel tersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.Keywords: terpaan, citra polisi, faktor demografi, SEMThe Effect Of Exposure To News Coverage Of Terror In Surakarta and DemographicFactors (Age, Gender, Level of Education) To The Image Of The PoliceAbstractNews coverage of terror against members of the police force in the Surakarta on August 2012and became the main topic in the mass media. It can affect people's perception about the imageof the police because the police agency directly became highlights related to the terror actionagainst its members. However, not everyone has the same perception, this is because thecommunity is made up of a wide variety of demographic composition, such as age, gender, andlevel of education. This study aims to determine the effect of exposure to the news media aboutthe terror solo and demographic factors (age, gender, education level) on the image of the policein the eyes of society. Researchers using cognitive communication effects theory that can explainhow the image formation can occur because of mass media exposure received by audiences(Ardianto, 2004), social categories theory and the theory of individual differences and BallRokeach Melvin DeFleur able to explain how demographic factors can affect the imageformation (Rakhmat, 2011). The population of this research are the citizen of Surakarta aged 15-64 years. Accidental sampling conducted as many as 70 people.Hypothesis testing is done using analysis of Structural Equation Modelling (SEM) to seethe magnitude of the direct and indirect effect between news exposure variable (X) to the policeimage variable (Y) through the variables of age, gender, level of education (interveningvariable). Results of hypothesis testing is preaching terror Solo exposure influence the image notthrough age, gender, and education level, with the direct effect value of exposure to the image(standardized direct effect) of 0.278, is greater than the indirect effect value of exposure to theimage through the ages, gender, level of education (standardized indirect effect) of - 0.048. Thus,the hypothesis presented in this research was rejected. Regression Weights of test resultsobtained parameter estimates the effect of exposure to images of 0,778, the relationship testbetween the two variables indicate the value of C.R (critical ratio) of 2,637 greater than 1.96and probability = 0.008 (p < 0,05), it means the exposure has a positive effect to the image.Squared Multiple Correlation test to measure how far the model’s ability in explaining variationof the dependent variable, the result image is affected by exposure, education, age, and sex of24,8%, while the remaining 75.2% is explained by other factors not examined in this study.Keywords: exposure, image of the police, demographic factors, SEMPENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN TEROR DI KOTA SURAKARTA DAN FAKTORDEMOGRAFI (USIA, JENIS KELAMIN, TINGKAT PENDIDIKAN) TERHADAP CITRAPOLISI DI MATA MASYARAKATPENDAHULUAN: Media memang mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadapmasyarakat, disadari atau tidak, media massa mampu membuat masyarakat mempunyai penilaiantersendiri terhadap suatu informasi, terutama dalam hal mengubah persepsi atau sikapmasyarakat atas suatu realita. Dampak ini diperkuat dengan keseragaman para wartawan dalammenyajikan berita yang cenderung sama. Khalayak akhirnya tidak mempunyai alternatif yanglain sehingga mereka membentuk persepsinya berdasarkan informasi yang diterimanya darimedia massa (Rakhmat, 2011:199). Meskipun media memiliki kekuatan untuk membentuk ataumengubah persepsi, namun hal tersebut tetap tidak bisa memaksa semua masyarakat untukmemiliki respon yang sama dalam menerima setiap terpaan informasi yang diberikan oleh media.Hal ini dikarenakan, masyarakat terdiri dari berbagai macam komposisi demografi seperti usia,jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Komposisi demografi itulah yang akan mempengaruhicara dan pola pikir masyarakat dalam memberikan stimulus terhadap setiap informasi yangditerimanya. Pemberitaan tentang aksi teror Solo yang terjadi di Kota Surakarta beberapa waktulalu, menyedot perhatian media massa karena modus baru yang dilakukan oleh para teroris.Selama bulan Agustus, tercatat terdapat empat aksi teror yang dilakukan oleh teroris bersenjatayang melakukan penyerangan terhadap anggota kepolisian yang sedang bertugas jaga di pos- pospolisi, mulai dari melempar granat sampai penembakan yang menewaskan satu anggota polisi.Oleh sebab itu, seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya masyarakat Solo saja, serta parapejabat pemerintahan terus mengawasi dan memonitor kinerja instansi Kepolisian RepublikIndonesia dalam menyelesaikan dan mengusut kasus ini sampai tuntas, karena pemberitaan yangnegatif di media massa tersebut dapat membuat citra masyarakat terhadap polisi menjadi negatif.Sementara itu, menurut Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel, seperti yang dikutip dari salahsatu situs online, isu terorisme yang belakangan marak muncul di media massa dinilai semakinmemperburuk citra Polri. Kondisi tersebut dinilai kian menguatkan anggapan bahwa Polrisemakin lemah, dan masyarakat terguncang akibat berita- berita terorisme di media massa. Iamengatakan,”akibatnya, masyarakat semakin bersikap negatif terhadap Korps Tribata. Publikmenafsirkan, sudah korup, gagal pula menangkal beranak pinaknya teroris” (sumber:http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisi).Dalam hal ini, media telah menunjukkan kekuatannya sebagai pembentuk persepsi masyarakat,karena melalui pemberitaan- pemberitaan yang terus menerus mengenai aksi teror ini dapatmembentuk atau mengubah persepsi masyarakat tentang bagaimana citra kepolisian Indonesia dimata mereka. Berdasarkan hal tersebut, lantas sejauh mana pengaruh terpaan pemberitaan terordi Kota Surakarta dan faktor demografi (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan) terhadap citrapolisi di mata masyarakat?PEMBAHASAN: Terpaan (exposure) merupakan kegiatan mendengar, melihat, dan membacapesan-pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesantersebut yang terjadi pada individu dan kelompok (Kriyantono, 2006 : 205). Masyarakat yangmengkonsumsi media massa dan mendapatkan informasi mengenai aksi teror Solo, baik itudengan melihat, mendengar, dan membaca, serta mempunyai perhatian dan pengalaman pribadisecara langsung terhadap aksi teror Solo dapat dikatakan sudah mendapatkan terpaanpemberitaan aksi teror Solo dari media massa. Proses bagaimana masyarakat mendapatkanterpaan pemberitaan aksi teror Solo tidak lepas dari faktor- faktor yang juga menjadi kekuatanbagi media massa dalam mempengaruhi masyarakat. Noelle- Neumann mencetuskan faktorfaktoryang saling bekerjasama dalam membentuk perspektif yang selektif (Rakhmat, 2011:198):ubiquity (serba ada), keseragaman wartawan, dan kumulasi pesan. Dalam pemberitaan aksi terorSolo hampir semua media massa, baik itu elektronik, media cetak, bahkan media online,memberitakan hal yang sama tentang kasus teror setiap harinya (keseragaman wartawan). Entahitu melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara, wawancara dengan anggota instansikepolisian, hingga mengundang narasumber yang berbeda- beda dalam acara talk show danmembahas aksi teror. Hal yang dibahas pun semakin lama semakin merembet kemana- mana,dari aksi teror yang dilakukan, menyudutkan instansi kepolisian karena kelalaian kerjanya, motifdan tersangka aksi teror, hingga kontroversi seputar penangkapan teoris. Semua pesan- pesanmengenai aksi teror itu berakumulasi dan dapat mempengaruhi masyarakat. Namun menurutDeFleur dan Ball Rokeach tidak semua orang mempunyai respon yang sama terhadap terpaanpemberitaan di media massa. Hal tersebut dicetuskan dalam teori kategori sosial (social categorytheory) dan teori perbedaan individual (individual differences theory) (Rakhmat, 2011: 201-202).Menurut teori kategori sosial, respon setiap orang dalam menerima terpaan media tergantungdari faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Secara garis besar usiaadalah lamanya hidup individu yang terhitung sejak dia dilahirkan sampai berulang tahun. Usiadikelompokkan menjadi 3 yaitu usia belum produktif (0-14 tahun), usia produktif (15-64 tahun),dan usia tidak produktif (65 tahun ke atas). Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakatyang didasarkan pada perbedaan ciri fisik (organ reproduksi, bentuk tubuh) dan perbedaan sosial(perbedaan peranan), dan dikelompokkan menjadi laki- laki dan perempuan. Sedangkan tingkatpendidikan merupakan proses pembelajaran yang berstruktur yang mempunyai jenjang atautingkatan pada periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai perguruan tinggidan tercakup di dalamnya studi akademis umum. Asumsi dari teori kategori sosial adalah orangdengan usia dan jenis kelamin yang sama cenderung sama pula dalam merespon pesan yangdisampaikan oleh media massa. Orang dengan usia dewasa cenderung akan memiliki perhatianyang sama terhadap berita aksi teror Solo yang didapat melalui berbagai macam media,sedangkan orang dengan usia remaja yang lebih sering mengakses informasi melalui mediatelevisi dan online, cenderung merespon dengan biasa saja karena kejadian tersebut sedangmenjadi headline, tidak sampai terlalu mengikuti, karena orang dengan usia remaja cenderunglebih menyukai hal- hal yang bersifat hiburan. Tingkat pendidikan seseorang jika dilihat dariperspektif perbedaan individual (teori perbedaan individu), mempengaruhi respon atau stimulusyang diterima oleh setiap individu terhadap pesan yang disampaikan media massa. Perbedaanpengalaman belajar, yang ditentukan dari sekolah baik formal maupun informal yang berjenjangdari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi, mampu mempengaruhi pola pikir dan prasangkaseseorang yang lebih baik, serta lebih mampu menerima informasi. Orang dengan pendidikanyang rendah cenderung lebih mudah terkena terpaan karena pengetahuannya yang terbatas.Sedangkan orang dengan pendidikan yang lebih tinggi, seperti eksekutif atau mahasiswa,cenderung lebih sulit terkena terpaan karena pengetahuannya lebih luas, lebih bisa berfikir, lebihmencari berbagai referensi sebelum membuat keputusan. Dominick (2000) menyebutkan tentangdampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang. Media massaterutama televisi yang menjadi agen sosialisasi memainkan peran penting dalam transmisi sikappersepsi dan kepercayaan (Ardianto, 2004 : 58). Efek kognitif sangat memengaruhi pembentukancitra oleh khalayak terhadap sesuatu karena efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apayang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisipengetahuan, ketrampilan, kepercayaan, dan keyakinan. Media massa bekerja untukmenyampaikan informasi, sedangkan untuk khalayak, informasi tersebut dapat membentuk,mempertahankan, atau mendefinisikan citra berdasarkan persepsi seseorang. Jadi, citra terbentukberdasarkan informasi yang kita terima. Tipe penelitian ini adalah eksplanatif yaitu untukmenemukan penjelasan tentang mengapa suatu kejadian atau gejala terjadi. Populasi daripenelitian adalah warga kota Surakarta yang berusia 15-64 tahun, tetapi karena peneliti tidakmemiliki kerangka sampel yang cukup, maka pengambilan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling dan ditetapkan besarnya sampel adalah 70 orang. Teknik penarikan sampeldilakukan dengan teknik accidental sampling, di mana sampel dapat terpilih karena berada padawaktu, situasi, dan tempat yang tepat. Instrumen penelitian yang digunakan adalah denganmenggunakan kuesioner yang berupa daftar pertanyaan yang disiapkan oleh peneliti untukdisampaikan kepada responden yang jawabannya diisi oleh responden sendiri. Sedangkan teknikpengumpul data adalah dengan teknik wawancara, di mana selain memberikan kuesioner,peneliti juga memberikan kesempatan kepada responden untuk menanyakan yang tidakdimengerti responden dalam menjawab kuesioner sehingga mendapatkan jawaban yang lebihmemuaskan dan mendalam. Selain itu, teknik wawancara digunakan untuk memastikan bahwaresponden menjawab semua pertanyaan dalam kuesioner secara lengkap, tidak sembarangan, dantidak diisikan orang lain. Karena dalam penelitian ini terdapat variabel antara (intervening),maka jenis analisis ini adalah analisis multivariat. Analisis multivariate yang digunakan adalahdengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Model/SEM). Model ini digunakan karena penelitian ini ingin menguji pengaruh terpaan (X) terhadapcitra polisi (Y) melalui usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan (intervening variabel). Sebelummelakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan evaluasi atas asumsi- asumsi SEMyang dapat menentukan criteria layak uji SEM. Dalam penelitian ini, semua asumsi- asumsiSEM diterima sehingga variabel- variabel tersebut layak diuji menggunakan SEM. Uji hipotesisdilakukan dengan melihat pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel eksogenterhadap variabel endogen. Analisis ini diperlukan untuk membuktikan variabel intervening.Variabel intervening dalam penelitian adalah pendidikan, usia, dan jenis kelamin. Variabelpendidikan, usia, dan jenis kelamin terbukti sebagai variabel intervening yang dapat dilaluiterpaan terhadap citra apabila koefisien pengaruh tidak langsungnya lebih besar daripadapengaruh langsung. Dari pengujian Regression Weights diperoleh hasil parameter estimasipengaruh antara terpaan terhadap citra sebesar 0,778, pengujian hubungan kedua variabeltersebut menunjukkan nilai C.R (critical ratio) sebesar 2,637 lebih besar dari 1,96 danprobabilitas = 0,008 (p < 0,05), ini berarti terpaan berpengaruh positif terhadap citra. PengujianSquared Multiple Correlation untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalammenerangkan variasi variabel dependen, hasilnya adalah citra dipengaruhi oleh terpaan,pendidikan, usia, dan jenis kelamin sebesar 24,8%, sedangkan sisanya sebesar 75,2% (100%-24,8%) dijelaskan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil uji hipotesismenyatakan bahwa pengaruh langsung terpaan terhadap citra sebesar 0,278 lebih besar daripadapengaruh tidak langsungnya sebesar - 0,048. Jadi dapat disimpulkan bahwa terpaan berpengaruhterhadap citra tidak melalui pendidikan, usia, dan jenis kelamin, sehingga hipotesis yangdiajukan ditolak. Hasil hipotesis ini juga menunjukkan keperkasaan media (Noelle-Neumman,dalam Rakhmat, 2011:198). yang dapat memengaruhi hampir setiap orang dengan cara yangsama tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.PENUTUP: Polisi merupakan satu institusi pemerintahan yang mempunyai tugas berhubunganlangsung dengan masyarakat sebagai pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat. Oleh sebabitu, citra polisi di mata masyarakat pun harus dijaga agar hubungan antara masyarakat daninstansi kepolisian berlangsung dengan baik. Salah satu cara yang digunakan oleh kepolisianuntuk memperbaiki atau mempertahankan citranya di mata masyarakat adalah melalui mediamassa. Berkembangnya media massa sekarang ini, membuat media massa mempunyai perananpenting dalam membentuk persepsi dan keyakinan masyarakat tentang sesuatu. Kesimpulan daripenelitian ini adalah: 1. Hasil pengujian hipotesis adalah terpaan pemberitaan teror Soloberpengaruh terhadap citra tidak melalui usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan (hipotesisyang diajukan ditolak). Hasil ini diperoleh melalui berdasarkan pengolahan uji hipotesis yangdilakukan dengan menggunakan metode analisis Structural Equation Model (SEM), didapat hasilpengaruh langsung terpaan terhadap citra (standardized direct effect) sebesar 0,278 lebih besardari pengaruh tidak langsung terpaan terhadap citra melalui usia, jenis kelamin, tingkatpendidikan (standardized indirect effect) sebesar – 0,048; 2. Landasan teori yang diajukan untukmendukung hipotesis awal, yaitu teori kategori sosial dan teori perbedaan individual tidaksignifikan karena hasil uji hipotesis menyatakan bahwa terpaan berpengaruh terhadap citrasecara langsung tanpa melalui faktor- faktor demografi, seperti usia, jenis kelamin, dan tingkatpendidikan. Namun teori efek komunikasi dapat mendukung hasil uji hipotesis bahwa terpaanmempunyai pengaruh dalam pembentukan citra; 3. Berdasarkan temuan penelitian di lapanganyang didapatkan dengan membagikan kuesioner kepada 70 orang responden, sebanyak 44.3%menilai citra polisi cukup baik, disusul kemudian 27.1% menilai citra polisi kurang baik, 15.7%menilai citra polisi buruk, dan hanya 12. 9% yang menilai citra polisi baik. Berdasarkankesimpulan tersebut, maka sebaiknya media harus lebih berhati- hati dalam memberikaninformasi mengenai instansi kepolisian, misalnya dengan menyaring informasi mengenai instansikepolisian yang akan ditampilkan di media massa, tidak sembarangan mencari danmewawancarai narasumber, karena media memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhipersepsi masyarakat tentang citra kepolisian. Instansi kepolisian sebaiknya juga mempunyai jurubicara atau Humas yang bertugas memberikan informasi kepada masyarakat melalui mediasecara resmi melalui konferensi pers, tidak hanya di kantor pusat saja tetapi juga di daerahdaerah.Hal ini diperlukan agar informasi yang muncul di media massa dapat terkendali danterkontrol.DAFTAR PUSTAKA: Ardianto, Elvaro. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. SimbiosaRekatama Media: Bandung ; Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi.Kencana: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya:Bandung ; Ferdinand, Augusty. 2006. Structural Equation Modeling dalam PenelitianManajemen, Edisi Keempat. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ; Firdaus, M danFarid. 2008. Aplikasi Metode Kuantitatif Terpilih Untuk Manajemen dan Bisnis, Seri metodekuantitatif. IPB Press: Bogor ; Ghozali, Imam. 2008. Model Persamaan Structural: Konsep danAplikasi dengan Program Amos 16.0. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang ;Koentjaraningrat. 1977. Metode- metode Penelitian Masyarakat. PT Gramedia: Jakarta ;Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana: Jakarta ; Muhidin,Sambas Ali dan Maman Abdurahman. 2007. Analisis Korelasi, Regresi, Dan Jalur DalamPenelitian (Dilengkapi Aplikasi Program SPSS). CV Pustaka Setia: Bandung ; Prasetyo,Bambang dan Lina Miftahul Jannah. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.Rajawali Pers: Jakarta ; Rakhmat, Djalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Rakhmat, Djalaluddin. 1984. Psikologi Komunikasi. PT RemajaRosdakarya: Bandung ; Santoso, Singgih. 2007. Structural Equation Modelling, Konsep danAplikasi dengan Amos, Membuat dan Menganalisis Model SEM Menggunakan Program SPSS.PT Elex Media Komputindo: Jakarta ; Syah Putra, Dedi Kurnia. 2012. Media dan Politik:Menemukan Relasi Antara Dimensi Simbiosis- Mutualisme Media dan Politik. Graha Ilmu:Yogyakarta ; Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedelapan. Kencana: Jakarta ;http://berita.plasa.msn.com/nasional/republika/isu-terorisme-dinilai-justru-perburuk-citra-polisidiakses pada 20 Desember pukul 10.00 ;www.m.okezone.com/read/2012/09/01/337/683777/kapolri-aksi-di-solo-tidak-terkait-pilkada-DKI diakses pada 19 September pukul 13.00 ; http://suarapembaruan.com/home/teror-beruntundi-solo-polisi-ditembak-mati/24062 diakses pada 5 Maret 2013 pukul 18.00 ;http://m.tempo.co/read/news/2012/09/03/063427135/mabes-polri-motif-teror-solo-balas-dendamdiakses pada 5 Maret 2013 pukul 19.00 ; Laporan Harian Monitoring Isu Publik Depkominfodalam www.depkominfo.go.id di akses dan didownload pada 19 September 2012 pukul12.00.
Interpretasi Khalayak Terhadap Adegan Kekerasan Dalam Tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 Tommy Ardianto; Taufik Suprihatini; Adi Nugroho
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.847 KB)

Abstract

Interpretasi Khalayak Terhadap Adegan KekerasanDalam Tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan latar belakang bahwa tayangan sinetron Tendangan SiMadun Serial 3 yang hanya menghibur tapi juga memberikan pendidikan ternyata menonjolkanunsur kekerasan di dalamnya baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interpretasi khalayak terhadap adegankekerasan fisik maupun verbal yang terdapat dalam sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Teoriyang digunakan yaitu Teori Stimulasi Agresif (John Vivian,1995), Teori Pembelajaran Sosial(Albert Bandura,1996), dan Teori Kekerasan (Johan Galtung,1992). Penelitian ini menggunakanmetode penelitian kualitatif,yang memerlukan keterlibatan yang lebih mendalam denganpenonton itu sendiri, termasuk teknik wawancara untk mengetahui perilaku penonton dalamkaitannya dengan konsumsi media,dengan pendekatan analisis resepsi yang bertujuan untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yang berbedamembuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Penelitian ini merupakan kajianparadigma interpretative atau content media berupa teks. Teknik pengumpulan data dilakukandengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh penelitiyakni khalayak anak SMA yang aktif menonton sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. (Rayner,Wall dan Kruger,2004:96)Hasil penelitian ini ditunjukkan dengan pembagian posisi khalayak menurut Stuart Hallada tiga yakni posisi dominan hegemonik, posisi dinegosiasikan, dan posisi oposisional. Sepertiinforman 1 yang masuk dalam oposisional meihat sinetron ini dari segi alur ceritanya yangdiceritakan oleh Si Madun yang selalu pantang menyerah dan ingin menjadi pemain sepak bolayang hebat. Sedangkan informan 2 yang masuk posisi dinegosiasikan menganggap bahwaadegan kekerasan dalam sinetron ini hanya sebagian dari akting, meskipun informan ini jugatidak terlalu suka dengan adegan kekerasan tersebut, kemudian informan 3 yang masuk dalamdominan hegemonik menganggap bahwa adegan kekerasan ini tidak baik untuk perkembaganremaja yang menontonnya dan hanya membuang waktu saja. Informan 4 masuk dalam dominanhegemonic karena sinetron tersebut dianggap tidak layak ditonton setiap hari karena terdapatadegan kekerasannya.Sedangkan informan 5 masuk dalam dinegosiasikan karena informan initidak suka dengan adegan kekerasannya namun adegan verbalnya tidak perlu dihilangkan karenaadegan tersebut menghibur.Informan 6 masuk oposisional karena informan ini lebih melihat darisegi alur ceritanya yang menarik tentang perjalanan Si Madun yang semangat dalam menjalanikehidupannya. Berdasarkan hasil FGD menunjukkan bahwa keenam informan setuju terdapatadanya adegan kekerasan di dalam sinetron Tendangan Si Madun Serial 3, baik itu kekerasanfisik maupun kekerasan verbal. Kekerasan fisik yaitu kekerasan nyata yang dapat dilihat,dirasasakan oleh tubuh, contoh: penganiayaan, pemukulan, menendang. Sedangkan kekerasanverbal yaitu kekerasan yang memiliki sasaran pada rohani atau jiwa sehingga dapat mengurangibahkan menghilangkan kemampuan normal jiwa, contoh : mengejek, memfitnah, menyinggungorang lain.Kata Kunci : sinetron, media televisi, khalayak, resepsi.Audience Interpretation Against Violence ScenesImpressions Soap Opera Tendangan Si Madun Serial 3abstractThis study was conducted with a background that sinetrons kick Si 3 Serial Madun onlyentertain but also educate turns accentuating the violence in it either physical violence or verbalabuse . The purpose of this study was to determine how the public interpretation of the physicaland verbal violence contained in the soap opera The Madun Serial kick 3 . The theory used isAggressive Stimulation Theory ( John Vivian , 1995) , Social Learning Theory ( Albert Bandura, 1996) , and Theory of Violence ( Johan Galtung , 1992) . This study used a qualitative researchmethod , which requires a deeper engagement with the audience itself, including interviewtechniques to know the behavior of the audience remedy in relation to media consumption , witha reception analysis approach that aims to discover how the social context and the audience withdifferent backgrounds make diverse understanding of the text media.Penelitian interpretativeparadigm , we study the form of text or media content . Data was collected using in-depthinterview to six informants who had been chosen by the researchers active high school audiencewatching soap operas Madun Serial kick Si 3 . (Rayner,WallandKruger2004:96)The results of this study indicated the position of the division according to Stuart Hallaudience that there are three dominant hegemonic position , the position negotiated , andoppositional position . Like the first informant who fall into this soap opera meihat oppositionalterms of the plot is told by Si Madun who never give up and always wanted to be a great footballplayer . While the two informants who entered a negotiated position assumes that violence in theshow is only part of the act , although the informant is also not too happy with the scenes ofviolence , then the informant 3 are included in the dominant hegemonic assume that violence isnot good for teenagers perkembagan watch and just a waste of time . Informant 4 into thedominant hegemonic because soap is considered not worth watching every day because there isscene 5 kekerasannya.Sedangkan informants included in the negotiated because the informantdid not like the verbal scenes of violence but the scene does not need to be removed because thescene because menghibur.Informan 6 incoming oppositional this informant is more seen in termsof the plot is interesting about the Madun the journey through life in the spirit . Based on theresults of focus group discussions showed that the six informants agreed there has been noviolent scenes in the soap opera The Madun Serial Kick 3 , both physical violence and verbalabuse . Physical violence is real violence that can be seen , dirasasakan by the body , eg torture,beating , kicking . While verbal violence is violence that has targeted the spiritual or soul thatcan reduce or even eliminate the ability of normal life , eg, ridicule, slander , offend others .Keywords : soap operas , television media , audiences , receptions .BAB IPENDAHULUAN1.1.Latar BelakangSinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini menceritakan perjuangan Madun untukmenjadi pesepak bola yang terkenal dan hebat, namun dilarang oleh kedua orang tuanya,disebabkan ayah dan ibunya menginginkan Madun untuk menjadi Kyai atau Ustad saja,agar meniru seperti ayahnya. Namun Madun tetap memperjuangkan cita-citanya untukmenjadi pesepak bola walaupun banyak rintangan yang harus dihadapinya dari orangtuanya maupun dari lingkungan sekitarnya. Termasuk Martin yang selalu menjadipenghalang bagi Madun saat berada di lapangan,begitu juga ayahnya Martin,yangbernama Safe’i ini selalu menggunakan berbagai cara untuk menghalangi keinginanMadun untuk menjadi pesepakbola terkenal.1.2. Perumusan MasalahTendangan Si Madun Serial 3 merupakan sinetron yang cukup banyak disukaikarena program acara ini mempunyai unsur hiburan yang cukup banyak khususnyadalam permainan sepak bola, terutama bagi anak –anak. Apalagi isi ceritanyamenampilkan teknik-teknik menendang dengan cara yang menarik sehingga penontonpun semakin ingin menonton terus, selain itu juga memberikan hiburan atau canda tawadari para pemain.Namun tayangan ini kerap diabaikan oleh penonton mengenai adegan kekerasanyang selalu ada dalam setiap episodenya. Apalagi sebelumnya terdapat larangan dariKomisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar tidak menayangkan sinetron ini, karena KPI jugamelarang film naruto, Sponge Bob serta sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Untukitulah dalam penelitian ini dirumuskan bagaimana Interpretasi khalayak terhadaptayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 yang di peruntukkan bagi anak-anak?1.3. Tujuan Penelitian:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak dalam menontontayangan Sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 di MNC TV.1.4. Signifikansi Penelitian :1.4.1 Signifikansi Teoritis : penelitian ini secara teoritis diharapkan mampumemberikan kontribusi dalam mengkaji teori Stimulasi Agresif (AlbertBandura,1974) dan teori Pembelajaran Sosial (McCleland,1954) yangberhubungan dengan adegan-adegan kekerasan yang terdapat didalam televisidigunakan untuk mengkaji khalayak terutama anak atau remaja untukmeninterpretasikan pendapatnya terhadap tayangan sinetron.1.4.2 Signifikansi Praktis : dalam tataran praktis, peneliti menganjurkan kepadainforman yaitu para remaja yang menonton sinetron Tendangan Si Madun agarmemilih tayangan yang baik dan pantas untuk ditonton yaitu acara yang jauhdari adegan kekerasan karena dapat membahayakan perkembangandirinya,karena masa remaja merupakan masa yang cepat merekam sesuatuyang dilihat dan didengarnya secara cepat masuk ke otak sehingga butuhdidampingi serta bimbingan dari orang tua.1.4.3 Signifikansi Sosial : dalam tataran sosial, pemahaman dari penonton SinetronTendangan Si Madun Serial 3 ini memberikan masukan berharga agar dapatmemberikan tayangan yang lebih bermanfaat dan mempunyai unsurpendidikan di dalamnya, sehingga khalayak dapat selektif untuk memilihsinetron yang layak untuk ditonton anak-anak maupun remaja.1.5 Kerangka Pemikiran Teoritis1.5.1 Teori Stimulasi AgresifTeori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung mempraktikkan kekerasan yangdiganbarkan di media, bahwa khalayak dengan mudah terpengaruh atau menirukanterhadap hal-hal yang dilihat nya secara terus menerus melalui media televisi khususnyatelevisi.Dalam National Television Violence Study 1995-1997 menyatakan bahwa:“Menonton kekerasan di Televisi cenderung lebih meningkatkan perilaku kekerasanpemirsa dalam satu situasi di banding situasi lainnya.(Vivian,2008:487)1.5.2 Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)Selain teori stimulasi agresif , teori pendukung lainnya yaitu teori PembelajaranSosial , teori ini menjelaskan bahwa kita cenderung melakukan tindakan kekerasansetelah menonton tayangan kekerasan yang ada di dalam televisi. Selain itu jugamenjelaskan bahwa menonton televisi yang penuh dengan kekerasan akan membuatpenonton merasa takut atau terjadi kekhawatiran karena televisi menanamkan didalamgamabaran dunia yang kejam dan berbahaya. Teori ini dapat menganalisis kemungkinandampak kekerasan yang ditayangkan ditelevisi. (Winarso,2005:184)1.5.3 Teori KekerasanKekerasan mengingatkan kita pada sebuah situasi yang menyakitkan danmenimbulkan dampak negatif. Kekerasan mengilustrasikan sifat, aturan sosial, yangmerupakan suatu pelanggaran aturan dan reaksi sosial terhadap pelanggaran aturan yangkompleks dan seringkali bertentangan.Namun kebanyakan orang hanya memahamikekerasan sebagai suatu bentuk perilaku fisik yang kasar, keras, dan penuh dengankekejaman. Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yangterbuka (overt) atau yang tertutup (covert), dan baik yang bersifat menyerang (offensive)atau bertahan (defensive), yang disertai dengan penggunaan kekeuatan pada orang lain.(Sunarto,2009:11)1.5. Metode Penelitian1.7.1 Pendekatan dan Tipe PenelitianTipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif ini menghasilkandata deskriptif berupa kata-kata tertentu atau lisan dari orang-orang dan perilaku yangdapat diamati. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untukmenjelaskan fenomena sedalam-dalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.Riset kualitatif tidak menggunakan besarnya populasi atau sampel. Persoalan kedalaman(kualitas) data lebih ditekankan daripada banyaknya (kuantitas) data. Peneliti adalahbagian integral dari data, artinya peneliti ikut dalam menentukan jenis data yangdiinginkan. Peneliti menjadi instrumen penelitian yang harus terjun langsung di lapangan.Oleh karena itu, penelitian ini bersifat subjektif dan hasilnya lebih kasuistik, bukan untukdigeneralisasikan. (Kriyantono,2006:58-59)BAB IIPEMBAHASANGambaran pengalaman didapat melalui indepth interview atau wawancaramendalam yang dilaksanakan peneliti terhadap beberapa informan terhadap kegiatankomunikasi yang dilakukan oleh para informan.Informan dalam penelitian ini yaitu para pelajar yang menonton sinetron ini.Peneliti mengambil informan dari kalangan pelajar dengan alasan mereka aktif atauselalu menonton sinetron tersebut. Wawancara merupakan suatu cara untuk mengetahuipendapat para informan mengenai adegan kekerasan dalam tayangan sinetron TendanganSi Madun Serial 3. Hasil dari wawancara tersebut kemudian dimasukkan dalam opencoding. Open coding dilakukan untuk mendapatkan pengelompokkan hasil wawancarainforman yang berbeda-beda ke dalam kategori, konsep, dan tema-tema pokok.Selanjutnya para informan dilibatkan kembali dalam focus group discussion (FGD). FGDini digunakan untuk mengetahui pendapat dari enam informan. Pendapat dari keenaminforman ini akan dianalisis menggunakan analisis resepsi dari Stuart Hall (dalam Barandan Dennis K. Davis,2000:262) berdasarkan penggolongan interpretasi informanberdasarkan tiga posisi pemaknaan khalayak yaitu posisi dominan hegemonik, posisidinegosiasikan, dan posisi oposisional.Enam informan dalam penelitian ini, yakni:2.1. Identitas informanTabel 3.1. Identitas InformanNo Nama Usia JenisKelaminPendidikan Keterangan1. Muhammad Fikar Prasetya 16 Laki-laki SMA Informan 12. Sekar Sae Khoirunnisa 17 Perempuan SMA Informan 23. Putri Kemala Sari 16 Perempuan SMA Informan 34. Cahyaningtyas Wahyuningrum 15 Perempuan SMA Informan 45. Damar Pratama Putra 16 Laki-laki SMA Informan 56. Bisma Narendra 16 Laki-laki SMA Informan 6Untuk mengetahui lebih dalam mengenai interpretasi khalayak terhadap adegankekerasan dalam tayangan sinetron Tendangan Si Madun Serial 3, hasil wawancaradikelompokkan menjadi dua sub pokok bahasan. Yang pertama, terkait penggunaan unsurkekerasan dalam tayangan sinetron ini yang menjadi teks dominan dalam tayangantersebut. Dalam bahasan ini juga disertakan hasil FGD yang membahas masalahkekerasan dalam tayangan ini. Kedua, terkait dengan kapasitas tayangan Tendangan SiMadun Serial 3 sebagai sebuah program hiburan. Masing-masing tema pembahasan inimasih dibagi lagi ke dalam beberapa sub bahasanPembahasan akan dikelompokkan ke dalam dua sub judul yang mengambil temasesuai dengan interpretasi khalayak dari hasil wawancara mendalam dan satu sub judulyang berisi penggolongan interpretasi khalayak berdasarkan tiga posisi pemaknaankhalayak (posisi dominan hegemonik, posisi dinegoisasikan, dan posisi oppositional).Tiga sub judul tersebut adalah : Interpretasi khalayak terhadap tayangan sinetronTendangan Si Madun serial 3, Komodifikasi remaja terhadap tayangan sinetronTendangan Si Madun Serial 3 terkait dengan norma di Indonesia dan Pedoman PerilakuPenyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) , serta tipe dan posisi pemaknaaninforman terhadap adegan kekerasan dalam tayangan sinetron Tendangan Si MadunSerial 3.Menurut Stuart Hall (dalam Baran dan Dennis K. Davis, 2000:262) ada 3 (tiga) tipeposisi pemaknaan khalayak yakni Posisi Dominan Hegemonik, Posisi Dinegosiasikan,dan Posisi Oppositional :1. Posisi Dominan HegemonikPosisi Dominan Hegemonik : ketika preferred reading atau pendapat daripeneliti mengenai adegan kekerasan yang ada di sinetron Tendangan Si Madun Serial3 sama dengan pendapat dari informan.2. Posisi DinegosiasikanPosisi Dinegosiasikan : ketika preferred reading atau pendapat dari penelititidak sepenuhnya sependapat dengan informan mengenai adegan kekerasan yangterdapat di sinetron Tendangan Si Madun Serial 3. Informan ada yang berpendapatbahwa dalam sinetron tersebut mempunyai tujuan untuk menghibur.3. Posisi OppositionalPosisi Oppositional : ketika informan sama sekali tidak sependapat denganpreferred reading atau pendapat dari peneliti mengenai adegan kekerasan tersebut,mereka berpendapat bahwa sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 tidak adakekerasannya sama sekali,sinetron tersebut hanya bertujuan untuk menghibur.BAB IIIPENUTUPPenelitian mengenai interpretasi khalayak terhadap adegan kekerasan dalam tayangansinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini merupakan penelitian dengan menggunakanmetode analisis resepsi. Dalam pelaksanaannya, proses penelitian ini dilakukan denganmenggunakan teknik wawancara mendalam secara tatap muka dengan enam informan.Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang masihaktif menonton tayangan Tendangan Si Madun, dan pernah aktif menonton tayangantersebut. Dalam wawancara tersebut masing –masing informan menyampaikaninterpretasi mereka terkait dengan tayangan tersebut. Khalayak yang dalam hal inimerupakan penghasil makna, memaknai tayangan tersebut secara beragam, karena teksyang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang beragam.5.1. KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut:1. Kesimpulan dari peneliti terhadap keenam informan yang mempunyai beranekaragam pendapatnya mengenai adegan kekerasannya maupun isi dari cerita sinetronTendangan Si Madun Serial 3 bahwa mereka mempunyai pendapat masing –masingseperti informan 1 , informan 2 dan informan 3 yang berpendapat bahwa sinetronTendangan Si Madun Serial 3 ini lucu dan menghibur, namun mereka mempunyaiketidaksamaan pendapat sewaktu ditanya mengenai pendapatnya tentang adegankekerasan yang terdapat dalam sinetron tersebut seperti informan 1 yang berpendapatbahwa adegan itu hanya akting yang tujuan hanya menghibur, informan 2berpendapat bahwa tidak setuju dengan adegan keekrasan tersebut dikarenakan jikayang melihat anak-anak maka akan terjadi hal peniruan adegan kekerasan. Sedngkaninforman 3 berpendapat bahwa tidak setuju terhadap adegan kekerasan itudikarenakan sering dibuatnya kaget sewaktu adegan kekerasan itu muncul.2. Lain lagi dengan pendapat dari informan 4, 5 dan 6 yang mempunyai pendapat yanghampir sama tentang sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 yaitu suka karenasinetron ini bertema olahraga sepak bola. Informan 4 yang menyukai sinetron tersebutdikarenakan berbeda dengan sinetron lainya dan sinetron ini bertema sepak bola yangmenurut informan 4 pemainnya juga keren. Mengenai adegan kekerasan tidakmenjadikan masalah buat informan 4 menurutnya selagi masih ada adegan yangmembuat informan 4 ini tertawa itu tidak menjadikannya masalah.Informan juga sukadengan sinetron ini dikarenakan sinetron ini bertema olah raga sepak bola yangmenurutnya berbeda dengan sinetron yang lainnya. Mengenai adegan kekerasandalam sinetron tersebut informan 5 berpendapat bahwa jam taynagnya supaya di ubahmenjadi lebih malam lagi pendapat ini sama dengan pendapat dari informan6.Informan 6 juga hampir sama dengan informan 5 suka dengan sinetron ini karenabertema sepak bola .dan mengenai adegan kekerasan informan 6 berpendapat hampirsama dengan informan 5 supaya jam tayangnya diubah menjadi lebih malam lagi.5.2. Saran5.2.1 Implikasi TeoritisPenelitian ini berusaha mengembangkan pemikiran akademis atau teoritik dalam kajianmedia dan budaya khususnya media televisi dan media anak-anak yang mengandungkekerasan. Dengan menggunakan teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura yangberkaitan dengan penelitian ini yang menjelaskan bahwa tidak semua sinetrondidalamnya terdapat unsur kekerasan namun juga terdapat unsur pendidikannya sepertidijelaskan dalam teori ini, acara di dalam televisi hampir sebagian mengandung unsurpendidikan dan pengetahuan yang berguna untuk menambah informasi. Dikaitkan denganhasil penelitian yang diungkapkan semua informan bahwa menonton tayangan di televisidilihat dari alur ceritanya dan tidak melihat dari adegan kekerasannya. Namun padapenelitian selanjutnya dapat menggunakan metode yang berbeda yaitu metode penelitiankualitatif dan menggunakan unit analisis resepsi semisal acara film kartun lain yang jugamengandung unsur kekerasan didalamnya.5.2.2. Implikasi PraktisTelevisi, sebagai media yang paling digemari oleh anak-anak maupun remaja,hendaknya mendapatkan lebih banyak perhatian dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).Sebagai pengatur Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS),KPI dapat memilah siaran mana yang aman untuk dikonsumsi anak-anak. Selain itu, KPIjuga dapat mengajak masyarakat Indonesia supaya lebih melek media siaran (medialiteracy) yang mereka saksikan setiap harinya.5.2.3. Implikasi SosialOrang tua diharapkan mendampingi putra-putri mereka saat sedang menonton televisi.Walaupun acara-acara tersebut ditujukan untuk anak-anak maupun remaja, seringkalilebih banyak mengandung muatan negatif daripada positifnya. Orang tua juga diharapkanmampu menjadi gatekeeper (penyaring) acara mana yang boleh dikonsumsi serta acaraacarayang ternyata tidak baik untuk dikonsumsi oleh anak-anak mereka. Karena anakanaktanpa pengawasan orang tua dapat mengalami kesulitan untuk membedakan hal-halyang benar-benar terrjadi pada kehidupan sehari-hari serta hal hal-ahal lain yang hanyaterdapat di televisi. Selain itu, sebagai penonton pasif, mereka dpat dengan mudahnyamenelan apa saja yang mereka tonton tanapa adanya filter dari orang tua, sehingga orangtua perlu waspada terhadap tayangan-tayangan yang ditujukan untuk anak-anak tetapimemiliki muatan atau konten yang tidak baik untuk masa pertumbuhan mereka, seperticontohnya adalah sinetron Tendangan Si Madun Serial 3 ini.DAFTAR PUSTAKABUKU:Ardianto, Elvinaro, dan Lukiati Komala Erdinaya.2005.Komunikasi Massa suatuPengantar.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arswendo.2008. Pengertian sinetron atau soap opera.Jakarta:Gramedia.Burhan, Bungin.1990.Teori Komunikasi Massa,Jakarta:Gramedia.Burton.2007.Komunikasi Massa.Jakarta:GramediaByerly, Ross.2006. Kekerasan di media televisi.Bandung:SalembaDarwanto.2001.Sejarah dan perkembangan sinetron di Indonesia.Jakarta:GramediaDominick.1983.Teori kekerasan dalam media televisi.Jakarta:Salemba Humanika.Effendy.1996.Industri Pertelevisian Indonesia.Jakarta: Salemba Pustaka.Hadi,Baran.2008.Interview informan dan Interview guide.Jakarta:Gramedia.Hall,Storey.2007.Persepsi dalam analisis data.Jakarta:Salemba Pustaka.Jersey,Jensen.1993.Analisis Data Kualitatif.Jakarta:Salemba Pustaka.Kriyantono,Ahmad.2006.Metodologi penelitian: Pendekatan dan Tipe PenelitianKualitatif. Jakarta : Gramedia.Littlejohn, Stephen W dan Karen A.Foss.2005.Teori Komunikasi.(Terj)Jakarta:Salemba Humanika.Littlejohn, Stephen W.1996.”Communication Theory”. In Encyclopedia of Rhetoricand Composition :Communication from Ancient Times to the InformationAge, edited by Theresa Enos , 117-121.New York : Garland.Lynn.H.Turner,RichardWest.2008.Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi.Jakarta:Salemba Humanika.McQuail, Denis. 1987.Mass Communication Theory. An Introduction.London:Sage.Mohammadi,Sreberny.1990.Pengertian Analisis Resepsi,Bandung:SimbiosaRekatama Media.Rakhmat,2003.Teori Komunikasi Massa,Jakarta:GramediaSunarto,2009.Televisi, Kekerasan, dan Perempuan.Jakarta:GramediaSuyanto,Sujarwa.2005.Tayangan sinetron Indonesia yang mengandung unsurkekerasan.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.Vivian,John.2008.Teori Komunikasi Massa,Edisi Kedelapan.Jakarta:Kencana.Wawan, Kuswandi.2008.Komunikasi Massa. Jakarta: GramediaWinarso,Wiryawan.2005.Komunikasi Massa,.akarta:GramediaWindhu.1992.Teori Kekerasan Teori John Galtung.Jakarta: Salemba Humanika.SKRIPSI:Astuti, Indri.2010. Skripsi Penelitian “Menginterpretasikan Kekerasan DalamTayangan Komedi (Analisis resepsi terhadap tayangan Opera Van Java diTrans 7)” Universitas Diponegoro.Tripuspita,Hana.2010. Skripsi Penelitian “Naturalisasi Kekerasan dalam komediOpera Van Java (Analisis Semiotika)” Universitas Diponegoro.WEBSITE:Azis,I.2012.RatingSinetrondiTelevisi(http://hiburan.kompasiana.com/televisi/2013/07/01/ac-nielsen-rating-dan-pesanan/,diakses tanggal 11 November 2012, jam 13.00)Hermanto,Budi.2013.Acara tayangan Sinetron Tendangan Si Madun Season3(http://televisi_sinetrontendangansimadunseason3.com/,diakses tanggal 1 Juli 2013,jam 16.00)Budiono,Ardi.2013.kekerasanpadasinetronanakanak(http://wikipedia.kekerasan.sinetronanak-anak.com/,diakses tanggal 6 Maret 2013,jam 21.00)
Hubungan antara Asertivitas Komunikasi Manajer dan Iklim Komunikasi Organisasi dengan Tingkat Kedisiplinan Kerja Karyawan di CV Merapi Khairunnisya Sholikhah; Sri Widowati; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.464 KB)

Abstract

Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Perilaku komunikasi yang dilakukan pimpinan merupakan hal penting dalam kelangsungan organisasi, dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, maka pimpinan dapat menyampaikan pengetahuan, ide, gagasan kepada karyawannya. Pola-pola komunikasi yang ada dalam organisasi akan dapat membentuk sebuah iklim komunikasi. Iklim komunikasi sebuah organisasi mempunyai konsekuensi penting bagi pergantian dan masa kerja pegawai dalam suatu organisasi. Iklim komunikasi yang mendukung merupakan salah satu aspek bagi terciptanya hubungan kerja yang berhasil, karena iklim komunikasi menjembatani praktek-praktek pengelolaan sumber daya manusia dengan kinerja termasuk di dalamnya kedisiplinan karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asertivitas komunikasi manajer dan iklim komunikasi organisasi dengan tingkat kedisiplinan kerja karyawan. Asertivitas komunikasi manajer adalah gaya komunikasi manajer yang bersifat terbuka yang diukur dengan melihat kemampuan komunikasi manajer di dalam perusahaan. Iklim komunikasi organisasi diukur dengan lima dimensi iklim oleh Redding di antaranya supportiveness, partisipasi membuat keputusan, kepercayaan, keterbukaan dan keterusterangan, serta tujuan kinerja. Sedangkan disiplin kerja diukur dengan melihat tingkat kepatuhan karyawan terhadap jam kerja, penggunaan alat-alat kerja, dan prosedur kerja. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan tetap CV Merapi sebanyak 126 Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah quota samplingyang berjumlah 55 orang. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis koefisien korelasi rankKendall menggunakan perhitungan program SPSS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara asertivitas komunikasi manajer dengan tingkat kedisiplinan kerja karyawan. Hal ini dibuktikan berdasarkan perhitungan melalui uji statistik dimana diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,001 dengan koefisien korelasi sebesar 0,426. Oleh karena sig sebesar 0,001 < 0,01; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menerima Hipotesis alternatif (Ha) dan menolak Hipotesis nol (Ho). sedangkan untuk variabel iklim komunikasi organisasi dan tingkat kedisiplinan kerja karyawan tidak terdapat hubungan karena uji hipotesis menunjukkan bahwa diperoleh probabilitas kesalahan (sig) sebesar 0,096. Oleh karena sig sebesar 0,096 > 0,05; maka kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa menolak Hipotesis alternatif (Ha) dan menerima Hipotesis nol (Ho). Saran yang diberikan sebagai implikasi hasil penelitian adalah perlu diadakannya pelatihan ketenagakerjaan untuk line manajer maupun karyawan untuk dapat memperbaiki keahlian mereka dalam segi komunikasi maupun kinerja.Key words: Asertivitas Komunikasi Manajer, Iklim Komunikasi Organisasi, Tingkat Kedisiplinan Kerja Karyawan