Yvonne Suzy Handajani
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Dan Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Indonesia

Published : 34 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

HUBUNGAN STATUS PERKAWINAN APOE 4 DAN JENIS AKTIVITAS FISIK TERHADAP PENURUNAN KOGNITIF PADA LANSIA PEREMPUAN Nicholas Andrian Singgih,* Yuda Turana,* Yvonne Suzy Handajani,* Nelly Tina Widjaja,* Linda Suryakus
NEURONA Vol. 36 No. 2 Maret 2019
Publisher : Neurona Majalah Kedokteran Neuro Sains

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTRODUCTION THE NUMBER OF ELDERLY POPULATION IN INDONESIA CONTINUES TO INCREASE EVERY YEAR ESPECIALLY WOMEN ELDERLY WOMEN ARE AT HIGHER RISK OF EXPERIENCING DECREASED COGNITIVE FUNCTION
HUBUNGAN OBESITAS, HIPERGLIKEMIA DAN HIPERTENSI TERHADAP SARKOPENIA PADA LANSIA DI PUSAKA KALIDERES, JAKARTA BARAT 2019-2020 sandy Ayu Monica Silalahi; Yuda Turana; Yvonne Suzy Handajani
Bahasa Indonesia Vol 20 No 2 (2021): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v20i2.2037

Abstract

Introduction: Aging and physical disability are often associated with hypertension, obesity and blood sugar levels which are important factors in the development of metabolic syndrome and cardiovascular disease.This study aims to determine the relationship between obesity, hyperglycemia, hypertension and sarcopenia among the elderly at PUSAKA Kalideres, West Jakarta. Methods: This study used a cross-sectional analytical descriptive study consisting of 107 respondents aged ≥ 60 years at PUSAKA Kalideres, West Jakarta from September 2019 to November 2019. The dependent variable studied was sarcopenia, while the independent variables of the study were obesity, hyperglycemia and hypertension. The criteria for sarcopenia are based on the 2019 Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS). Obesity is categorized if the BMI is ≥ 25 kg, hyperglycemia if the fasting blood sugar level is ≥100 mg / dL, hypertension if the blood pressure is ≥140 / 90 mmHg. Results: Based on 107 respondents, most of them were aged  65 years (62.6%) and most of them were female (70.1%). The results showed 30 respondents (28%) sarcopenia, 51 respondents (47.7%) obesity, 24 respondents (22.4%) hyperglycemia, and 31 respondents (29%) hypertension. Based on bivariate analysis, it shows that age and obesity have a significant relationship with sarcopenia p = 0.006 (p> ) and obesity p = 0.022 (p> ). The results of multivariate analysis showed that age and non-obesity were associated with sarcopenia (p = 0.005; OR = 4.734; CI = 1.587 - 14.122 and obesp = 0.015; OR = 0.309; CI = 0.120 - 0.796). Conclusion: Age is a risk factor for sarcopenia in the elderly and those who are not obese have a greater risk of developing sarcopenia.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Malaria dengan Perilaku Pencegahan pada Kehamilan pada Ibu Hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Indonesia Kezia Christy; Tommy Nugroho Tanumihardja; Yvonne Suzy Handayani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.477

Abstract

Pendahuluan: Mentawai merupakan daerah dengan angka malaria terbesar di Sumatera Barat, namun masih sedikit penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil sebagai kelompok masyarakat berisiko tinggi. Metode: Penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional pada ibu hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Sumatera Barat. Pengambilan data dengan wawancara responden dari rumah ke rumah menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Chi square dan Fisher dengan Interval Kepercayaan 95% dan nilai kemaknaan p<0,05 menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Hasil: Dari 36 responden, 22 responden (61,1%) memiliki pengetahuan baik, 24 responden (66,7%) memiliki sikap positif, 27 responden (75%) tidak memiliki perilaku pencegahan. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku (p=0,062) dan sikap dengan perilaku (p=0,706). Terdapat hubungan bermakna antara usia (p=0,020), jarak fasilitas kesehatan (p=0,020) dan peran tokoh panutan (p=0,001) terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku dan sikap dengan perilaku mengenai pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Terdapat hubungan bermakna antara usia, jarak fasilitas kesehatan dan peran tokoh panutan terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai metode efektif penyampaian informasi untuk masyarakat Mentawai serta pengaruh faktor budaya pada perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil.Introduction: Mentawai is a region with the most frequent cases of malaria in West Sumatera. There is still little research on knowledge, attitude and practice, especially about malaria in pregnancy as a high-risk group. Methods: An analytic study with a cross-sectional approach on pregnant women in Muara Siberut and Maillepet Village. Data were collected by house to house interview on respondents using questionnaires. Data were analyzed with chi square and Fisher method with 95% Confidence Interval and significance value of p<0,05. Results: Total respondents are 36 pregnant women, 22 (61,1%) have a good knowledge, 24 (66,7%) have a positive attitude, 27 respondents (75%) don’t have a preventive health practice. There were no significant relationship between knowledge and practice (p=0,062) on malaria prevention during pregnancy, no significant relationships between attitude and practiceon malaria prevention during pregnancy (p=0,706). There were significant relationships between age (p=0,020), distance of health clinic (p=0,020), and role of community leaders (p=0,001) towards practice on malaria prevention during pregnancy. Conclusion: No significant relationships between knowledge and practice on malaria prevention during pregnancy, also no significant relationship between attitude and practice on malaria in pregnancy. 
Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Malaria dengan Perilaku Pencegahan pada Kehamilan pada Ibu Hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Indonesia Kezia Christy; Tommy Nugroho Tanumihardja; Yvonne Suzy Handayani
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.465

Abstract

Pendahuluan: Mentawai merupakan daerah dengan angka malaria terbesar di Sumatera Barat, namun masih sedikit penelitian mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil sebagai kelompok masyarakat berisiko tinggi. Metode: Penelitian analitik dengan desain penelitian cross-sectional pada ibu hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Sumatera Barat. Pengambilan data dengan wawancara responden dari rumah ke rumah menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Chi square dan Fisher dengan Interval Kepercayaan 95% dan nilai kemaknaan p<0,05 menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Hasil: Dari 36 responden, 22 responden (61,1%) memiliki pengetahuan baik, 24 responden (66,7%) memiliki sikap positif, 27 responden (75%) tidak memiliki perilaku pencegahan. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku (p=0,062) dan sikap dengan perilaku (p=0,706). Terdapat hubungan bermakna antara usia (p=0,020), jarak fasilitas kesehatan (p=0,020), dan peran tokoh panutan (p=0,001) terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku dan sikap dengan perilaku mengenai pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Terdapat hubungan bermakna antara usia, jarak fasilitas kesehatan, dan peran tokoh panutan terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai metode efektif penyampaian informasi untuk masyarakat Mentawai serta pengaruh faktor budaya pada perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Introduction: Mentawai is a region with the most frequent cases of malaria in West Sumatera. There are still few research on knowledge, attitude and practice, especially about malaria in pregnancy as a high-risk group. Methods: An analytic study with a cross-sectional approach on pregnant women in Muara Siberut and Maillepet Village. Data were collected by house to house interview on respondents using questionnaires. Data were analyzed with chi square and Fisher method with 95% Confidence Interval and significance value of p<0.05. Results: Total respondents are 36 pregnant women, 22 (61.1%) have a good knowledge, 24 (66.7%) have a positive attitude, 27 respondents (75%) don’t have a preventive health practice. There were no significant relationship between knowledge and practice (p=0.062) on malaria prevention during pregnancy, no significant relationship between attitude and behavior of malaria prevention during pregnancy (p=0.706). There were significant relationships between age (p=0.020), distance of health clinic (p=0.020), and role of community leaders (p=0.001) towards practice on malaria prevention during pregnancy. Conclusion: No significant relationship between knowledge and practice on malaria prevention during pregnancy, also no significant relationship between attitude and practice on malaria in pregnancy.
VERBAL FLUENCY SEBAGAI DOMAIN KOGNITIF YANG PALING MEMENGARUHI AKTIVITAS FUNGSIONAL LANSIA DI PULAU JAWA Pricilya H. Wangi; Yvonne Suzy Handajani; Yuda Turana
NEURONA Vol 39 No 1 (2021)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v39i1.313

Abstract

Introduction: The prevalence of cognitive impairment and functional disability increases with age. Decreases in cognitive subdomains increase the risk of functional disability in the elderly. Aim: Obtain an overview of the ability of the elderly in carrying out functional activities as well as risk factors, especially cognitive disorders in the elderly community on the island of Java. Method: A cross-sectional study using secondary data from the 2014-2015 Indonesian Family Live Survey (IFLS-5) was conducted on respondents aged 60 years or older. Impaired cognitive function was assessed using the Telephone Survey of Cognitive Status (TICS) method. There are several cognitive domains in the TICS with a total score of 0-34, with the possibility of experiencing global cognitive impairment if the score is ≤13. Verbal fluency is said to be impaired with a value of <16. Elderly independence was assessed using the Instrumental Activity of Daily Living (IADL). Result: Obtained 1688 respondents, mostly aged 60-74 years (88.7%), women (54.3%), with less than nine years of education (72.8%), and living in urban areas (58.4%). A total of 26.7% of respondents experienced global cognitive impairment, 73.6% of respondents with impaired verbal fluency, and 28.6% needed assistance doing IADL. The analysis result shows a relationship between several domains of cognitive function and IADL in the elderly on the island of Java. Discussion: Based on multivariate analysis, the most influencing factor for IADL was age, while the cognitive domain that most influenced IADL was verbal fluency. Respondents over 75 years old and impaired verbal fluency were 2,2 and 1,7 times, respectively, at greater risk of developing IADL dependence. Keywords: Cognitive, elderly, instrumental activity of daily living, verbal fluency.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kejadian Depresi pada Lansia Berpendidikan Rendah Berdasarkan Indonesian Family Life Survey 5 Tanuwijaya, Melyana; Suryakusuma, Linda; Turana, Yuda; Handajani, Yvonne Suzy
Majalah Kedokteran Neurosains Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Vol 40 No 1 (2023): Vol 40 No 1 (2023)
Publisher : PERDOSNI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52386/neurona.v40i1.371

Abstract

Introduction: The prevalence of depression increases with age and a high level of education is a protective factor from depression among elderly. However, majority of elderly in Indonesia are low educated which have an increased risk of depression. Aim: To determine the factors influencing the incidence of depression in low educational attainment elderly. Method: A cross-sectional study using secondary data from the 2014-2015 Indonesian Family Life Survey 5 (IFLS-5) which was conducted on respondents aged 60 years or older with low educational attainment. Depression was assessed using the Center for Epidemiologic Studies Depression Scale-10 (CESD-10), cognitive function was assessed using the Telephone Interview for Cognitive Status (TICS), the intensity of physical activity using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) short-form, functional disability was assessed using 6 items of Katz Activity Daily Living (ADL) and the Lawton Instrumental Activity of Daily Living (IADL), and other variables using questions in the IFLS questionnaire. Result: Among 3481 respondents in this study, mostly aged 60-74 years (86,4%), women (55,3%), married (63,3%), working (54,9%), doing moderate-high intensity physical activity (64,6%), independent in performing ADL (87,3%), and normal in IADL (73,5%). Addition, most of them did not experience decrease in cognitive function (79,9%), had no history of hypertension (74,1%), diabetes mellitus (95%), arthritis/rheumatism (87,2%), and physical disability (99,2%), also not depressed (83,8%). Based on bivariate analysis, there was a significant relationship between age (p=0,042; RO=0,737), hypertension (p=0,005; RO=1,332), arthritis/rheumatism (p=0,000; RO=1,681), physical disability (p=0,001; RO=3,716), ADL (p=0,000; RO=1,632), and IADL (p=0,000; RO=1,907) with depression in low educational attainment elderly. However, there was no significant relationship between gender (p= 0,091), marital status (p=0,227), occupation (p=0,328), cognitive function (p=0,304), diabetes mellitus (p=0,704), and physical activity (p=0,525) with depression in low educational attainment elderly. In the multivariate analysis it was found that IADL to be the most contributing factor to the incidence of depression among low educated elderly based on IFLS-5 (p=0,000; RO=1,896). Discussion: There was a significant relationship between age, hypertension, arthritis/rheumatism, physical disability, ADL, and IADL with the incidence of depression in low educational attainment elderly with IADL being the most significant factor. Respondents with dependency (IADL) were 1,8 times, respectively, at greater risk of experiencing depression.
DEVELOPMENT OF STANDARDIZED OLFACTORY TEST AS A COGNITIVE IMPAIRMENT SCREENING TOOL IN INDONESIAN ELDERLY: A PRELIMINARY STUDY Kristian, Kevin; Handajani, Yvonne Suzy; Widjaja, Nelly Tina; Suswanti, Ika; Turana, Yuda
Berkala Ilmiah Kedokteran Duta Wacana Vol. 9 No. 1 (2024): BERKALA ILMIAH KEDOKTERAN DUTA WACANA
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Kristen Duta Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/bikdw.v9i1.631

Abstract

The decline of olfactory function is an early indicator of neurodegenerative diseases, such as Alzheimer’s and Parkinson’s disease. An olfactory function assessment instrument using ten familiar scents with multiple-choice answers has been developed, but several items were inapplicable and had not been standardized. This study aimed to identify various scents that have not been standardized for the aging population with normal cognitive function. This research was a preliminary study with a descriptive cross-sectional approach conducted in Kalianyar village, Jakarta, involving 23 elderly participants with normal cognitive function. An instrument consisting of a list of scents was employed in two steps, with or without assistance. Initially, participants had one chance to smell and try to guess the type of scent given. If the scent was not guessed correctly, participants were then provided with multiple-choice options as a hint. Based on the assessment of twelve scents from the existing research, only nine scents were recognizable. Among them, coffee, lemongrass, oranges, eucalyptus, and menthol were the scents with the most correct answers without assistance. Additionally, there were four scents recognized with or without assistance, such as jasmine, lemon, aromatic ginger, and lime. This study found that only nine scents were familiar and had the potential to be utilized in the future as a screening tool for cognitive impairment.
Depresi dan Pendidikan Sebagai Determinan Utama Kualitas Hidup Pada Lansia Elsiandi, Caroline Alvina; Turana, Yuda; Handajani, Yvonne Suzy; Barus, Jimmy Fransisco Abadinta
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.4822

Abstract

Pendahuluan: Kualitas hidup mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan lansia, namun kualitas hidup cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor (faktor sosiodemografi, depresi, dan fungsi kognitif)  yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi potong lintang yang dilakukan pada 205 responden berusia ≥60 tahun di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner World Health Organization Quality of Life – BREF (WHOQOL-BREF); depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; fungsi kognitif dinilai dengan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuesioner. Regresi logistik multivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Hasil: Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, sebagian besar responden adalah wanita (72,2%), dengan usia lebih dari sama dengan 70 tahun (57,1%), berpendidikan kurang dari sama dengan 12 tahun (56,1%), dan bertatus menikah (55,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p=0,014; OR=2,566), kepuasan terhadap kesehatan (p=0,007; OR=2,869), domain fisik (p=0,003; OR=3,049), domain psikologis (p=0,000; OR=4,458), domain hubungan sosial (p=0,000; OR=3,967), dan domain lingkungan (p=0,001; OR=3,407). Pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,002), kepuasan terhadap kesehatan (p= 0,016), domain fisik (p= 0,004), domain psikologis (p= 0,012), dan domain lingkungan (p= 0,008). Selain itu, usia hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,004). Simpulan: Pendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, kepuasan terhadap kesehatan, domain fisik, domain psikologis, dan domain lingkungan, sedangkan depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup dan keempat domainnya serta lansia yang mengalami depresi lebih berisiko memiliki kualitas hidup yang buruk.
Gangguan Fungsi Kognitif Sebagai Faktor Risiko Utama Kejadian Depresi Pada Lansia Latasya, Chelsea Destania; Turana, Yuda; Handajani, Yvonne Suzy; Barus, Jimmy Fransisco Abadinta
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.4356

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan prevalensi depresi pada lansia dapat berdampak pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini secara spesifik dilakukan untuk mengetahui persentase depresi beserta hubungannya dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, sarkopenia, dan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang memiliki latar belakang homogen di lingkungan perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 s.d. Oktober 2022 di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan subjek penelitian 203 lansia (≥60 tahun). Depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; sarkopenia diukur menggunakan Bio-Impedance Analysis, handgrip dynamometer, dan stopwatch; fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuisioner.  Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan fungsi kognitif dengan kejadian depresi pada lansia (p≤0,05; OR=2,523). Responden yang mengalami gangguan fungsi kognitif memiliki persentase depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami gangguan fungsi kognitif. Akan tetapi, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, lama pendidikan, dan sarkopenia dengan kejadian depresi pada lansia. Simpulan: Lansia dengan gangguan fungsi kognitif 2,5 kali lipat lebih berisiko mengalami depresi. Oleh karena itu, peningkatan layanan kesehatan penting untuk mendeteksi dini kejadian depresi, terutama pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif. Terlepas dari kenyataan saat ini, bahwa gangguan fungsi kognitif tidak dapat diobati, masih banyak gaya hidup dan faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap tentang Malaria dengan Perilaku Pencegahan pada Kehamilan pada Ibu Hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Indonesia Kezia Christy; Tommy Nugroho Tanumihardja; Yvonne Suzy Handayani
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 5 (2019): Pediatri
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i5.465

Abstract

Pendahuluan: Mentawai merupakan daerah dengan angka malaria terbesar di Sumatera Barat, namun masih sedikit penelitian mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil sebagai kelompok masyarakat berisiko tinggi. Metode: Penelitian analitik dengan desain penelitian cross-sectional pada ibu hamil di Desa Muara Siberut dan Desa Maillepet, Mentawai, Sumatera Barat. Pengambilan data dengan wawancara responden dari rumah ke rumah menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Chi square dan Fisher dengan Interval Kepercayaan 95% dan nilai kemaknaan p<0,05 menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Hasil: Dari 36 responden, 22 responden (61,1%) memiliki pengetahuan baik, 24 responden (66,7%) memiliki sikap positif, 27 responden (75%) tidak memiliki perilaku pencegahan. Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku (p=0,062) dan sikap dengan perilaku (p=0,706). Terdapat hubungan bermakna antara usia (p=0,020), jarak fasilitas kesehatan (p=0,020), dan peran tokoh panutan (p=0,001) terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku dan sikap dengan perilaku mengenai pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Terdapat hubungan bermakna antara usia, jarak fasilitas kesehatan, dan peran tokoh panutan terhadap perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai metode efektif penyampaian informasi untuk masyarakat Mentawai serta pengaruh faktor budaya pada perilaku pencegahan malaria terutama pada ibu hamil. Introduction: Mentawai is a region with the most frequent cases of malaria in West Sumatera. There are still few research on knowledge, attitude and practice, especially about malaria in pregnancy as a high-risk group. Methods: An analytic study with a cross-sectional approach on pregnant women in Muara Siberut and Maillepet Village. Data were collected by house to house interview on respondents using questionnaires. Data were analyzed with chi square and Fisher method with 95% Confidence Interval and significance value of p<0.05. Results: Total respondents are 36 pregnant women, 22 (61.1%) have a good knowledge, 24 (66.7%) have a positive attitude, 27 respondents (75%) don’t have a preventive health practice. There were no significant relationship between knowledge and practice (p=0.062) on malaria prevention during pregnancy, no significant relationship between attitude and behavior of malaria prevention during pregnancy (p=0.706). There were significant relationships between age (p=0.020), distance of health clinic (p=0.020), and role of community leaders (p=0.001) towards practice on malaria prevention during pregnancy. Conclusion: No significant relationship between knowledge and practice on malaria prevention during pregnancy, also no significant relationship between attitude and practice on malaria in pregnancy.