Syukur Makmur Sitompul, Syukur Makmur
Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Published : 51 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Modifikasi Sistem Vertikultur Mikrohidroponik pada Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) dalam Penyediaan Unsur Hara Astaranni, Dhea; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 10 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vertikultur mikrohidroponik adalah bentuk hidroponik sederhana menggunakan media padat selain tanah yang disusun secara vertikal. Sistem ini cocok untuk diterapkan pada budidaya tomat (Lycopersicum esculentum Mill.). Permasalahan yang dihadapi adalah tambahan biaya untuk media tanam dan larutan nutrisi secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman tomat dalam sistem vertikultur mikrohidroponik dengan media sederhana (tanah + NPK) dan media konvensional (arang sekam + NS). Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2017 ̶ Juli 2017, di Kota Malang (112o 36` BT, 7o 58’ LS), menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dimana terdapat 4 perlakuan yaitu TN = tanah + NPK, TS = tanah + NS, AN = arang sekam + NPK, AS = arang sekam + NS. NS adalah Nutrient Solution. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tanaman tomat dengan sistem vertikultur mikrohidroponik dapat diusahakan dengan penggunaan media tanah dan NPK, yang mana hasil pertumbuhan vegetatif tinggi tanaman tidak berpengaruh nyata sedangkan jumlah daun, jumlah bunga dan kandungan klorofil daun menunjukkan bahwa pada media tanah dan arang sekam serta keduanya diberikan nutrisi NPK hasil tanaman tomat lebih banyak dan berbeda nyata dari tanaman tomat yang ditanam dengan NS pada media tanah maupun arang sekam. Perkembangan generatif tanaman tomat yang meliputi jumlah buah dan bobot buah segar antara media sederhana (tanah + NPK) tidak berbeda nyata dari media konvensional (arang sekam + NS).
Pertumbuhan Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) pada Kondisi Cekaman Air Iriantika, Ervina Riedo; Roviq, Mochammad; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 10 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) adalah salah satu salah satu bahan pangan (sayur) yang sangat bermanfaat bagi kesehatan salah satu manfaatnya adalah untuk mencegah penyakit kanker karena mengandung antioksidan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kandungan betasianin dan pertumbuhan tanaman bit merah pada kondisi cekaman air. Penelitian dilaksanakan di Agro Technopark Universitas Brawijaya Cangar pada tanggal 3 Maret (tanam) hingga 1 Juni (panen) 2017.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima (5) ulangan digunakan pada penelitian ini dalam penempatan perlakuan yang terdiri dari lima (5) tingkat pengairan: 1 X 3 hari (W3), 1 x 4 hari (W4), 1 x 5 hari (W5), 1 x 6 hari (W6), 1 x 7 hari (W7). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval pengairan 1 x 3 hari, 1 x 4 hari, 1 x 5 hari, 1 x 6 hari, 1 x 7 hari dapat mempengaruhi pertumbuhan berupa tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun. Interval pengairan 1 x 3 hari, 1 x 4 hari, 1 x 5 hari, 1 x 6 hari, 1 x 7 hari dapat mempengaruhi hasil umbi tanaman bit merah yaitu berat segar umbi, berat kering umbi dan indeks panen. Dari keseluruhan pertumbuhan dan hasil yang didapat menunjukkan hasil yang menurun seiring dengan peningkatan interval pemberian air. Semakin meningkat interval pengairan nilai pertumbuhan dan hasil semakin berkurang.
Pengaruh Lama Penyinaran (Fotoperiode) Terhadap Pertumbuhan dan Hasil pada Tiga Varietas Kedelai (Glycine max L. Merr) Afidah, Ika Khurotul; Karyawati, Anna Satyana; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan kedelai terus meningkat tiap tahunnya seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan. Data BPS 2015 menunjukkan produksi kedelai di Indonesia sebesar 1 juta ton dan pada tahun 2014 sebesar 1,3 juta ton. Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas kedelai di Indonesia mengalami penurunan di tahun 2015. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis yang membutuhkan panjang hari 14-16 jam sedangkan Indonesia dengan iklim tropis memiliki panjang hari hampir konstan yaitu 12 jam. Kurangnya kebutuhan panjang hari tersebut menyebabkan produktivitas kedelai di Indonesia masih rendah.  Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah panjang hari yaitu dengan memanipulasi cahaya matahari menggunakan lampu LED (Light Emitting Diode). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon dari tiga varietas kedelai terhadap lama penyinaran menggunakan lampu LED. Bahan yang digunakan dalam penelitIan ini adalah kedelai varietas UB 1, UB 2, dan Anjasmoro, lampu LED dan kabel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan Rancangan Petak Terbagi (RPT). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Agustus 2017 di Agro Techno Park, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto, Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman kedelai dengan lama penyinaran 14 jam mengalami pertumbuhan yang lebih baik di banding dengan tanaman kedelai dengan panjang hari yang normal. Pembentukan polong tanaman kedelai mengalami peningkatan pada umur 65 hst dan jumlah polong berbeda pada tiap varietas. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah penyinaran dengan menggunakan lampu LED selama 2 jam dapat meningkatkan pembentukan polong kedelai pada umur 65 hst dengan jumlah polong yang berbeda pada tiap varietas.
Tanggapan Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Kedelai [Glycine max (L) Merr.] terhadap Pengairan Nuria, Grace Ajeng; Nihayati, Ellis; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 7 No. 12 (2019)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditas tanaman penting di Indonesia. Komoditas ini kaya protein nabati yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya dan diperlukan untuk meningkatkan gizi masyarakat (Damardjati et al., 2005). Kebutuhan kedelai sekitar 2,3 juta ton biji kering tahun-1 sementara produksi dalam negeri berkisar pada 982,47 ribu ton biji kering tahun-1 yang hanya dapat memenuhi 43% dari total kebutuhan negara. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (2015), Konsumsi kedelai akan mengalami peningkatan sebesar 4,99% per tahun. Ketidakstabilan produksi kedelai di Indonesia disebabkan oleh penurunan luas panen kedelai yang tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas kedelai (Malian, 2004). Dalam kegiatan budidaya, salah satu faktor yang berperan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah ketersediaan air. Ketersediaan air yang tercukupi pada fase generatif sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu perbedaan varietas juga dapat memberikan respon yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Jatimulyo. Penelitian dilakukan faktorial dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan pengulangan sebanyak 5 kali. Faktor pertama merupakan pemberian air dengan tingkat berbeda, faktor kedua merupakan varietas dengan dua varietas berbeda. Macam tingkat pemberian air yang digunakan adalah K0 (100% kapasitas lapang), K1 (75% kapasitas lapang), K2 (50% kapasitas lapang), K3 (25% kapasitas lapang). Dan varietas yang digunakan adalah V1 (UB 2) dan V2 (Anjasmoro). Data dianalisis mengunakan analisis ragam taraf 5% dan dilanjutkan menggunakan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila terdapat interaksi dan jika tidak terdapat interaksi, maka dilakukan uji lanjut  menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT).
Pengaruh Naungan Terhadap Hasil dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai [Glycine max (L.) Merr.] dari Beberapa Varietas Salsabila, Ghina Zahra; Maghfoer, Mochammad Dawam; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 7 No. 12 (2019)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai adalah salah satu komoditi pertanian penting di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kedelai memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan gizi pangan masyarakat. Kebutuhan terhadap kedelai semakin meningkat dari tahun ke tahun, sementara produksi yang dicapai belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut. Masalah yang terjadi pada saat pembentukan polong kedelai adalah polong yang lebih awal terbentuk dapat menghalangi pembentukan polong selanjutnya atau terjadinya dominasi polong. Pertumbuhan polong yang tidak maksimal, akan berdampak pada jumlah biji yang ada di dalamnya. Hal ini menunjukan bahwa jumlah polong dapat ditingkatkan oleh faktor-faktor dari dalam atau lingkungan yang memodifikasi dinamika temporal dari produksi polong. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Jatimulyo, Malang pada bulan Januari 2019 sampai Maret 2019. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Petak Terbagi (split plot design) dengan 2 faktor. Faktor pertama merupakan naungan dan faktor kedua merupakan varietas. Macam naungan yang digunakan adalah N0 (Tanpa naungan) dan N1 (Naungan 44%), dan varietas yang digunakan adalah V1 (Var. Wilis), V2 (Var. Tidar), V3 (Var. Ub1) dan V4 (Var. Ub2).  Ulangan dilakukan sebanyak 5 kali. Uji lanjut menggunakan Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5% dan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5% jika terdapat interaksi. Parameter pertumbuhan meliputi Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, Luas Daun, Umur Berbunga, Umur Berpolong dan Bobot Kering Tanaman. Parameter fotosintesis meliputi kandungan nitrogen dan klorofil daun. Parameter Komponen hasil meliputi jumlah polong, berat polong, jumlah biji dan berat biji. Perlakuan tanpa naungan dengan varietas Tidar memberikan hasil paling tinggi pada jumlah dan berat polong, jumlah dan berat biji.
Pengaruh Pupuk Kandang dan Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine max [L.] Merr.) Utami, Widi Rizky; Barunawati, Nunun; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan utama sebagai  penghasil protein nabati bagi penduduk Indonesia. Berdasarkan data BPS (2015) produksi kedelai di Indonesia mencapai 963.183 ton. Namun jumlah produksi ini belum bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemberian pupuk organik yang berupa pupuk kandang dapat memperbaiki agregasi dalam tanah sehingga tanah menjadi lebih gembur dan akar mampu menyerap hara lebih baik. Nitrogen berperan penting dalam proses fotosintesis sehingga memiliki peran penting bagi metabolisme dan respirasi tanaman. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari pembentukan polong, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai dengan pemberian pupuk kandang dan untuk mempelajari peranan nitrogen pada pengaruh pupuk kandang terhadap pembentukan polong, pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2019 hingga Mei 2019. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial. Faktor pertama adalah  pupuk kandang ayam dengan empat taraf, yaitu 0, 10, 20 dan 30 ton ha-1. Faktor kedua adalah pupuk nitrogen dengan dua taraf, yaitu 0 kg N ha-1 dan 150 kg N ha-1. Ulangan dilakukan sebanyak 5 kali dan diuji lanjut menggunakan BNT 5% dan DMRT 5%. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat kering tanaman, umur berbunga dan umur berpolong. Parameter fotosintesis meliputi kadar klorofil daun dan kandungan nitrogen tanaman. Parameter hasil meliputi jumlah polong, berat polong, jumlah biji dan berat biji. Pemberian pupuk kandang ayam 30 ton ha-1 dengan pemupukan nitrogen merupakan hasil terbaik dalam pertumbuhan tanaman dan pemberian pupuk kandang ayam 10 ton ha-1 dengan pemupukan nitrogen memberikan hasil terbaik pada komponen hasil.
Respon Pertumbuhan Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) pada Cekaman Salinitas Ashari, Sinta Ayu Dewi; Purwaningrahayu, Runik Dyah; Islami, Titiek; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 8 No. 5 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai merupakan komoditas kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia karena kandungan nutrisi yang tinggi. Produksi kedelai di Indonesia belum dapat memenuhi tingkat konsumsi sehingga menyebabkan terjadinya impor. Faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas kedelai dalam negeri salah satunya semakin berkurangnya lahan optimal karena beralih fungsi. Hal tersebut yang mendasari perlu ditingkatkannya produktivitas kedelai melalui beberapa hal seperti ekstensifikasi. Ekstensifikasi bisa dilakukan dengan penggunaan lahan marginal yaitu tanah salin. Penggunaan tanah salin dalam budidaya kedelai nyatanya masih mengalami hambatan dalam menghasilkan produksi kedelai yang tinggi. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari tanggapan pertumbuhan dari varietas dan galur harapan kedelai terhadap salinitas, Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca BALITKABI Malang pada bulan April-Juli 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF). Faktor pertama terdiri dari tingkat salinitas 0 mS cm-1 (S0), 4 mS cm-1 (S4), 8 mS cm-1 (S8), 12 mS cm-1 (S12), 16 mS cm-1 (S16). Faktor kedua varietas dan galur harapan kedelai terdiri dari Anjasmoro (G1), Wilis (G2), Ringgit (G3), K-10 (G4), K-11 (G5), K-12 (G6), K-13 (G7), K-14 (G8), K-15 (G9), N-8 (G10).  Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi tingkat salinitas dengan benih kedelai. Kedelai mengalami pertumbuhan yang tidak normal bahkan megalami kematian pada tingkat salinitas yang semakin tinggi yaitu 16 mS cm-1. Galur harapan K-15 dan K-13 memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan galur harapan dan varietas pembanding yang lain pada beberapa tingkat salinitas ditinjau dari parameter pertumbuhan.
Pertumbuhan, Hasil dan Pigmen Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) dengan Pemberian Pupuk Nitrogen dan Pupuk Kandang Ayam Afida, Yuniar Nur; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 8 No. 7 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman Bayam (Amaranthus tricolor L.) adalah salah satu sayuran daun yang dibudidayakan di Indonesia baik yang hijau maupun yang merah. Peningkatan kualitas dan kuantitas bayam merah melalui pupuk nitrogen sebaiknya diimbangi dengan pemupukan organik seperti pupuk kandang ayam. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan, hasil dan pigmen (klorofil, karotenoid dan antosianin) tanaman bayam merah (A. tricolor L.). Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jatimulyo, Malang. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan digunakan pada penelitian ini yang terdiri dari perlakuan dengan dua faktor. Faktor pertama adalah pupuk nitrogen (N) dengan empat taraf yaitu: 0 (N0), 60 (N1), 120 (N2), dan 180 (N3) kg N ha-1. Faktor kedua adalah pupuk kandang ayam dengan tiga taraf yaitu: 0 (A0), 5 (A1), dan 10 (A2) ton ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan tinggi tanaman paling tinggi dihasilkan dengan pemberian pupuk nitrogen sebesar 180 kg N ha-1 dan pupuk kandang ayam sebesar 10 ton ha-1.  Parameter pertumbuhan dan hasil yaitu bobot segar, bobot kering, bobot segar total dan bobot konsumsi tanaman dapat meningkat dengan pemberian pupuk nitrogen sebesar 180 kg N ha-1. Parameter pertumbuhan dan hasil yaitu bobot segar, luas daun, bobot kering, bobot segar total, bobot akar, bobot konsumsi tanaman dan kandungan nitrogen dapat meningkat dengan pemberian pupuk kandang ayam sebesar 10 ton ha-1. Pigmen tanaman (klorofil, karotenoid dan antosianin) tidak meningkat dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang ayam.
Respon Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) Terhadap Pemberian Unsur Hara Nitrogen dan Pupuk Kandang Ayam di Dataran Rendah Yolanda, Yolanda; Roviq, Mochammad; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 8 No. 7 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bit merah (Beta vulgaris L.) adalah tanaman umbi-umbian yang termasuk dalam famili Chenopodiaceae yang kaya akan gizi. Bit merah memiliki pigmen betalain yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu betasianin dan betasantin, yang diketahui memiliki efek anti radikal bebas dan aktivitas antioksidan yang tinggi. Bit merah yang dibudidayakan pada ketinggian tempat lebih rendah dapat mengalami cekaman suhu yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Upaya dalam mengatasi pengaruh negatif dari cekaman suhu dapat dilakukan dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang. Penelitian ini ditujukan untuk mempelajari tingkat adaptasi tanaman bit merah dalam pertumbuhan, hasil umbi dan pigmen tanaman pada dataran rendah dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2019 di lahan Agro Techno Park Universitas Brawijaya Jatikerto. Penelitian dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok secara faktorial. Faktor pertama adalah pupuk kandang ayam dengan dua taraf, yaitu 0 dan 20 ton ha-1. Faktor kedua adalah pupuk nitrogen dengan empat taraf, yaitu 0, 100, 200 dan 300 kg N ha-1. Ulangan dilakukan sebanyak empat kali dan diuji lanjut menggunakan BNT 5%. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot basah tanaman dan bobot kering tanaman. Parameter hasil umbi meliput bobot basah umbi dan bobot kering umbi. Parameter pigmen tanaman meliputi kandungan klorofil daun dan betalain. Adaptasi tanaman bit merah di dataran rendah hanya dapat ditingkatkan dalam pertumbuhan pada jumlah daun, luas daun dan bobot kering tanaman dengan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk kandang ayam.
Respon Tanaman Bit Merah (Beta vulgaris L.) terhadap Pemberian Pupuk Nitrogen dan Fosfor pada Elevasi Suboptimal di Kota Batu Khesia, Stepani Astrid; Roviq, Mochammad; Sitompul, Syukur Makmur
Produksi Tanaman Vol. 8 No. 8 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman bit merah (Beta vulgaris L.) merupakan tanaman tahunan dan termasuk tanaman sub-tropis yang dimanfaatkan dalam bidang perindustrian dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemupukan nitrogen dan fosfor terhadap cekaman suhu pada tanaman bit merah serta kandungan betasianin yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – September 2019 di Kampung Tani, Kelurahan Temas, Kota Batu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor dengan empat (4) ulangan. Faktor I merupakan konsentrasi nitrogen dengan empat (4) tingkat penyediaan unsur hara nitrogen: 0 kg N ha-1 (N0), 100 kg N ha-1 (N1), 200 kg N ha-1 (N2) dan 300 kg N ha-1 dan faktor II merupakan konsentrasi unsur hara fosfor dengan 2 taraf perlakuan : 0 kg P2O5 ha-1 (P0) dan 150 kg P2O5 ha-1 (P1). Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk nitrogen dan pupuk fosfor pada tanaman bit merah dapat meningkatkan adaptasi tanaman dalam pertumbuhan dan hasil pada elevasi suboptimal di Kota Batu. Pupuk nitrogen dan fosfor berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar total, berat kering total dan hasil umbi. Namun, pupuk nitrogen dan pupuk fosfor tidak meningkatkan adaptasi tanaman bit merah dalam pigmen daun dan umbi.