Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Jurnal Jaffray

Ulasan Buku: Penafsiran Narasi Perjanjian Lama Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buku ini menegaskan keistimewaan kritik narasi terhadap Alkitab sebagai suatu gaya penulisan mengenai pengisahan peristiwa atau kejadian yang diakui sebagai fakta sejarah mengenai pekerjaan Allah di bumi ciptaan-Nya dan melalui umat-Nya (hal. 1).  Menarik sebab penulis buku ini (Peniel C.D. Maiaweng) tetap mempertahankan narasi sebagai “fakta sejarah” sebab pada umumnya kritik naratif mendekonstruksi latar belakang sejarah dalam tulisan dengan memberi penakanan terhadap upaya untuk menggali dan menghargai estetika/seni di dalam Alkitab oleh karena setiap narasi/cerita yang ada di dalamnya sarat dengan makna.  Selanjutnya, penulis mendeskripsikan dengan panjang lebar komponen-komponen narasi yakni narator atau pencerita, sudut pandang, waktu cerita, plot atau alur, adegan, pemilihan materi, tokoh, pengulangan dan kata kunci, dan atmosfir (hal. 2-10).  Agaknya penulis sangat bergantung dengan struktur yang diusulkan oleh Richard L. Pratt, Jr (He Gave Us Stories) dan Grant Osborne (The Hermeneutical Spiral), sehingga komponen-komponen lain dalam genre narasi maupun kritik naratif yakni tema, motif, gaya, gaya bahasa, simbolisme, setting tempat tidak diangkat oleh penulis.  Sekalipun demikian, cukuplah sudah penulis telah mengantar pembaca untuk membahas seluk-beluk kritik naratif sebagai alternatif dalam hermeneutika Alkitab.
Siapakah Dia: Sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai? Studi Terhadap Makna Teks Yesaya 8:23-9:6 Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Jurnal Jaffray Volume 13 No. 2 Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Panggilan dan pelayanan kenabian Yesaya berada dalam situasi genting seperti yang telah diungkapkan di atas.  Akan tetapi penekanan nubuat Yesaya adalah kepada eksistensi dan atribut Tuhan Yang Mahakudus yang dapat dipercaya dan diandalkan.  Bergantung kepada manusia sekuat atau sehebat apapun kekuasaannya hanya bersifat sementara dan cenderung membahayakan dalam waktu yang lama.  Sedangkan bergantung pada Allah justru membawa  damai sejahtera dan pemulihan.  Dalam situasi genting, sendiri hadir dan bertindak untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel.  Tuhan jugalah yang merupakan “Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai” yang dapat dipercaya dan diandalkan ketimbang raja-raja, kerajaan-kerajaan maupun orang-orang bijaksana.  Bangsa Israel sebagai pendengar nubuat Yesaya maupun pembaca mula-mula Kitab Yesaya telah mendengar hal tersebut, sekalipun mereka “tidak mengerti, tidak menanggapi, tidak mendengar, menutup mata dan tidak melihat” (Yesaya 6:9-10).           Bagi orang Kristen yang memercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi daging (Yohanes 1:14), disamping memiliki kekayaan yang melimpah dalam terang Perjanjian Baru untuk mengenal dan memahami pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus, juga terdapat Perjanjian Lama dengan kekayaan yang sama yakni sebagai kitab untuk menelusuri akar-akar inkarnasi Sang Juruselamat!  Karena itu, sebetulnya pemberitaan firman Tuhan dari Yesaya 8:23-9:6 tidak melulu hanya disampaikan pada “musim perayaan Natal”, namun menjadi pemberitaan sepanjang masa dalam situasi sukacita terlebih dalam situasi genting.  Karena Tuhan begitu mengasihi dan mempedulikan setiap situasi manusia dan ciptaan-Nya, bahkan seperti cinta orang muda; dengan “kasih yang cemburu”!
Pandangan Teologi Reformed Mengenai Doktrin Pengudusan Dan Relevansinya Pada Masa Kini Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 14, No 2 (2016): Jurnal Jaffray Volume 14, No. 2 (Oktober 2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v14i2.211

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pandangan teologi Reformed mengenai Doktrin Pengudusan (Sanctification) dan relevansinya pada masa kini.  Teologi Reformed memandang konsep pengudusan  sebagai bagian integral dari doktrin keselamatan (soteriologi) yang merupakan karya anugerah Allah yang menjadikan orang pilihan yang kemudian memercayai Yesus Kristus sebagai “orang kudus” (pengudusan definitif) serta berkesinambungan dalam proses kehidupan orang percaya tersebut untuk menghidupi kekudusan dalam kehidupan setiap hari melalui pertumbuhan iman dalam Kristus yang akan berlangsung seumur hidup (pengudusan progresif).  Hal ini juga yang menjadi paradoks dalam soteriologi Reformed bahwa pengudusan bersifat monergis (pengudusan definitif) sekaligus  sinergis (pengudusan progresif).  Dengan demikian, soteriologi Reformed tidak sekedar konsep yang ideal dan filosofis seperti yang tersirat dalam slogan Sola Christo, Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, namun juga bersifat praktis yang melibatkan pengalaman hidup setiap orang percaya dengan Tuhan (Sola Expierientia).
Pendekatan Penginjilan Kontekstual Kepada Masyarakat Baliem Papua Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 16, No 1 (2018): Jurnal Jaffray Volume 16, no. 1 April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i1.282

Abstract

Studi ini memperlihatkan adanya nilai-nilai budaya dan konsep worldview masyarakat Baliem yang “relatif dekat”, yaitu kepercayaan kepada Walhowak atau Nyopase Kain atau Elalin Walhasikhe, konsep cargo cults berupa pengharapan situasi ideal masa depan dalam mitos Nabelan–Kabelan atau Nawulal-Hawulal atau Nabudlal-Habudlal atau Nabutal–Habutal atau Nanggonok-Kanggonok serta pengharapan oknum ideal masa depan dalam mitos Naruekul, serta sikap loyalitas kepada Ap Kain sebagai “kepala suku” akhuni Palim meke, sehingga dapat “dipertemukan” dengan nilai-nilai Injil melalui penggantian fungsi. Dengan demikian maka sangatlah memungkinkan untuk menentukan konsep pendekatan penginjilan kontekstual kepada mereka.This study demonstrates the existence of cultural values and the concept of the worldview of the “relatively close” Baliem society, which is the belief in Walhowak or Nyopase Kain or Elalin Walhasikhe, the concept of cargo cults in the hope of the ideal situation of the future in the myths of Nabelan-Kabelan, Nawulal-Hawulal, Nabudlal-Habudlal, Nabutal-Habutal or Nanggonok-Kanggonok, as well as the hope of the future ideal person in the myth of Naruekul, as well as the attitude of loyalty to Ap Kain as the “head of the tribe” akhuni Palim meke, so as to be "reunited" with the values of the gospel through functional replacement. Thus it is possible to determine an approach concept of contextual evangelism for them.
Pendekatan Penginjilan Kontekstual Kepada Masyarakat Baliem Papua Mawikere, Marde Christian Stenly
Jurnal Jaffray Vol 16, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v16i1.282

Abstract

Studi ini memperlihatkan adanya nilai-nilai budaya dan konsep worldview masyarakat Baliem yang “relatif dekat”, yaitu kepercayaan kepada Walhowak atau Nyopase Kain atau Elalin Walhasikhe, konsep cargo cults berupa pengharapan situasi ideal masa depan dalam mitos Nabelan–Kabelan atau Nawulal-Hawulal atau Nabudlal-Habudlal atau Nabutal–Habutal atau Nanggonok-Kanggonok serta pengharapan oknum ideal masa depan dalam mitos Naruekul, serta sikap loyalitas kepada Ap Kain sebagai “kepala suku” akhuni Palim meke, sehingga dapat “dipertemukan” dengan nilai-nilai Injil melalui penggantian fungsi. Dengan demikian maka sangatlah memungkinkan untuk menentukan konsep pendekatan penginjilan kontekstual kepada mereka.This study demonstrates the existence of cultural values and the concept of the worldview of the “relatively close” Baliem society, which is the belief in Walhowak or Nyopase Kain or Elalin Walhasikhe, the concept of cargo cults in the hope of the ideal situation of the future in the myths of Nabelan-Kabelan, Nawulal-Hawulal, Nabudlal-Habudlal, Nabutal-Habutal or Nanggonok-Kanggonok, as well as the hope of the future ideal person in the myth of Naruekul, as well as the attitude of loyalty to Ap Kain as the “head of the tribe” akhuni Palim meke, so as to be "reunited" with the values of the gospel through functional replacement. Thus it is possible to determine an approach concept of contextual evangelism for them.
Pandangan Teologi Reformed Mengenai Doktrin Pengudusan Dan Relevansinya Pada Masa Kini Marde Christian Stenly Mawikere
Jurnal Jaffray Vol 14, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v14i2.211

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pandangan teologi Reformed mengenai Doktrin Pengudusan (Sanctification) dan relevansinya pada masa kini.  Teologi Reformed memandang konsep pengudusan  sebagai bagian integral dari doktrin keselamatan (soteriologi) yang merupakan karya anugerah Allah yang menjadikan orang pilihan yang kemudian memercayai Yesus Kristus sebagai “orang kudus” (pengudusan definitif) serta berkesinambungan dalam proses kehidupan orang percaya tersebut untuk menghidupi kekudusan dalam kehidupan setiap hari melalui pertumbuhan iman dalam Kristus yang akan berlangsung seumur hidup (pengudusan progresif).  Hal ini juga yang menjadi paradoks dalam soteriologi Reformed bahwa pengudusan bersifat monergis (pengudusan definitif) sekaligus  sinergis (pengudusan progresif).  Dengan demikian, soteriologi Reformed tidak sekedar konsep yang ideal dan filosofis seperti yang tersirat dalam slogan Sola Christo, Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, namun juga bersifat praktis yang melibatkan pengalaman hidup setiap orang percaya dengan Tuhan (Sola Expierientia).
Siapakah Dia: Sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai? Studi Terhadap Makna Teks Yesaya 8:23-9:6 Marde Christian Stenly Mawikere
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i2.172

Abstract

Panggilan dan pelayanan kenabian Yesaya berada dalam situasi genting seperti yang telah diungkapkan di atas.  Akan tetapi penekanan nubuat Yesaya adalah kepada eksistensi dan atribut Tuhan Yang Mahakudus yang dapat dipercaya dan diandalkan.  Bergantung kepada manusia sekuat atau sehebat apapun kekuasaannya hanya bersifat sementara dan cenderung membahayakan dalam waktu yang lama.  Sedangkan bergantung pada Allah justru membawa  damai sejahtera dan pemulihan.  Dalam situasi genting, sendiri hadir dan bertindak untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel.  Tuhan jugalah yang merupakan “Sang Penasihat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai” yang dapat dipercaya dan diandalkan ketimbang raja-raja, kerajaan-kerajaan maupun orang-orang bijaksana.  Bangsa Israel sebagai pendengar nubuat Yesaya maupun pembaca mula-mula Kitab Yesaya telah mendengar hal tersebut, sekalipun mereka “tidak mengerti, tidak menanggapi, tidak mendengar, menutup mata dan tidak melihat” (Yesaya 6:9-10).           Bagi orang Kristen yang memercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menjadi daging (Yohanes 1:14), disamping memiliki kekayaan yang melimpah dalam terang Perjanjian Baru untuk mengenal dan memahami pribadi dan karya Tuhan Yesus Kristus, juga terdapat Perjanjian Lama dengan kekayaan yang sama yakni sebagai kitab untuk menelusuri akar-akar inkarnasi Sang Juruselamat!  Karena itu, sebetulnya pemberitaan firman Tuhan dari Yesaya 8:23-9:6 tidak melulu hanya disampaikan pada “musim perayaan Natal”, namun menjadi pemberitaan sepanjang masa dalam situasi sukacita terlebih dalam situasi genting.  Karena Tuhan begitu mengasihi dan mempedulikan setiap situasi manusia dan ciptaan-Nya, bahkan seperti cinta orang muda; dengan “kasih yang cemburu”!
Discourse on Alternative Contextual Evangelism Models to The Bolaang Mongondow Tribe as An Unreached People Group in North Sulawesi Marde Christian Stenly Mawikere; Christie Garry Mewengkang
Jurnal Jaffray Vol 18, No 2 (2020): October 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v18i2.465

Abstract

This article is a historical study of alternative contextual evangelism models to Intau(means“person”)Bolaang Mongondow, which is communally called tribe or society (ethnic group/people group) Bolaang Mongondow.This study uses a literature review approach. It begins with researching the religion and beliefs of Intau Bolaang Mongondow. Then proceed with the socio-cultural phenomena of Intau Bolaang Mongondow, namely the dynamics of acculturation, openness to external influences, public attitudes towards change, and its essential element to determine alternative contextual evangelistic approaches.This study's final results show that attention to culture in developing a contextual evangelistic approach does not mean that the church must conform fully or assume harmony between the Gospel and culture. It is precisely by understanding and utilizing culture in the preaching of the contextual Gospel that it will be seen that Christian values have an advantage regarding the guarantee of eternal salvation in the Lord Jesus Christ. Therefore, efforts to prepare a contextual evangelist who has integrity, character, and competence regarding the Bible and culture are significant. Likewise, efforts to pioneer and develop contextual churches in the Intau Bolaang Mongondow environment must touch and empower those cultural values.
Ulasan Buku: Penafsiran Narasi Perjanjian Lama Marde Christian Stenly Mawikere
Jurnal Jaffray Vol 13, No 2 (2015): Oktober 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj71.v13i2.182

Abstract

Buku ini menegaskan keistimewaan kritik narasi terhadap Alkitab sebagai suatu gaya penulisan mengenai pengisahan peristiwa atau kejadian yang diakui sebagai fakta sejarah mengenai pekerjaan Allah di bumi ciptaan-Nya dan melalui umat-Nya (hal. 1).  Menarik sebab penulis buku ini (Peniel C.D. Maiaweng) tetap mempertahankan narasi sebagai “fakta sejarah” sebab pada umumnya kritik naratif mendekonstruksi latar belakang sejarah dalam tulisan dengan memberi penakanan terhadap upaya untuk menggali dan menghargai estetika/seni di dalam Alkitab oleh karena setiap narasi/cerita yang ada di dalamnya sarat dengan makna.  Selanjutnya, penulis mendeskripsikan dengan panjang lebar komponen-komponen narasi yakni narator atau pencerita, sudut pandang, waktu cerita, plot atau alur, adegan, pemilihan materi, tokoh, pengulangan dan kata kunci, dan atmosfir (hal. 2-10).  Agaknya penulis sangat bergantung dengan struktur yang diusulkan oleh Richard L. Pratt, Jr (He Gave Us Stories) dan Grant Osborne (The Hermeneutical Spiral), sehingga komponen-komponen lain dalam genre narasi maupun kritik naratif yakni tema, motif, gaya, gaya bahasa, simbolisme, setting tempat tidak diangkat oleh penulis.  Sekalipun demikian, cukuplah sudah penulis telah mengantar pembaca untuk membahas seluk-beluk kritik naratif sebagai alternatif dalam hermeneutika Alkitab.
Ethnotheology Studies Concerning the Substance of Folk Religion as Local Theology of the Tugutil Ethnic in Halmahera Towards Contextual Ministry Marde Christian Stenly Mawikere; Sudiria Hura; Imbran Batelemba Bonde
Jurnal Jaffray Vol 20, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jj.v20i2.694

Abstract

This article is an ethnotheological study of the substance of Folk Religion as Local Theology of the Tugutil Ethnic in Halmahera Island, North Maluku Province, Indonesia. This study examines and describes the elements of folk religion, namely beliefs about God, humans, sin and salvation as the fundamental beliefs of traditional societies with animism-dynamism patterns. The research was carried out using a qualitative method with an ethnographic approach. The results of this study show that the local theology of the Tugutil ethnicity regarding Jou Ma Dutu as God. He was the creator and owner of the universe; trichotomous human nature o roehe-o gikiri-o gurumini; the human reality that is o baradoha ma nyawa which only causes the instability of the universe and disturbances to the ancestral spirits. Likewise, the concept of salvation they believe in is present and pragmatic, which does not give place to futuristic eternal life. The final result of this study shows that by examining deeply folk religion, the local theology was adopted by the Tugutil ethnic group. It becomes a consideration for implementing sociocultural approaches and contextual ministry, both spiritual and social ministry, for the Tugutil ethnic group as one of the isolated community groups in Indonesia.