Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

“REMBUG GENKU” REMAJA BUGAR GENERASI KUAT DENGAN MENINGKATKAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG TRIAD KRR Yuliyanik; Mayasari, Senditya Indah; Rahmawati, Wenny
Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH) Vol. 7 No. 1 (2024): CIASTECH 2024 Potensi dan Dampak Artificial Intelligence (AI) di Era Society 5.
Publisher : Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ciastech.v7i1.6976

Abstract

Masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat secara fisik, psikis dan intelektual. Menurut Word Health Organization (WHO) tahun 2014 batasan usia remaja adalah 10 – 19 tahun. Beberapa penelitian mengungkapkan remaja memiliki masalah yang cukup serius selama masa peralihannya. Masa peralihan inilah yang membuat remaja rasa ingin tahunya sangat tinggi. Rasa ingin tahu jika tidak mendapatkan informasi yang benar, maka dapat berisiko pada kehidupan remaja tersebut, salah satunya masalah tentang TRIAD KRR. TRIAD KRR adalah Tiga Ancaman Dasar Kesehatan Reproduksi Remaja yaitu Seksualitas, HIV/AIDS dan NAPZA. Tujuan PKM ini adalah untuk menjaga remaja tetap bugar dalam menghadapi masa peralihan dan terhindar dari masalah yang berkaitan dengan TRIAD KRR. Metode yang dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan tentang TRIAD KRR dan dampaknya. PkM ini dilaksanakan pada siswa kelas IX di SMPN 26 Malang. Kesimpulan dari PkM adanya peningkatan pemahaman siswa terhadap TRIAD KRR dan dampak yang ditimbulkan. Remaja merupakan generasi penerus bangsa, remaja yang sehat akan membuat negara kuat.
SIGAP (Sosialisasi dan Informasi Gawat Preeklamsia): Menekan RisikoPreeklamsia Sejak Dini Retnaningrum, Dwi Norma; Rahmawati, Wenny; Yuliyanik, Yuliyanik
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/mqdp0628

Abstract

Preeklampsia menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal, khususnya diIndonesia. Kondisi ini umumnya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai denganpeningkatan tekanan darah dan keberadaan protein dalam urin. Kurangnya pemahaman ibu hamilmengenai gejala dan risiko preeklampsia kerap menyebabkan keterlambatan dalam deteksi danpenanganan, yang pada akhirnya dapat membahayakan kesehatan ibu dan janin. Sebagai bentukkontribusi dalam meningkatkan literasi kesehatan ibu hamil, program pengabdian masyarakatbertajuk SIGAP (Sosialisasi dan Informasi Gawat Preeklampsia) dilaksanakan dengan tujuanutama untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap preeklampsia.Program ini mengedepankan pendekatan edukatif melalui kegiatan penyuluhan dan distribusimateri informasi kepada kelompok sasaran, yaitu ibu hamil, keluarga, dan kader kesehatan diwilayah intervensi. Metode pelaksanaan mencakup ceramah interaktif, diskusi kelompok,demonstrasi pemeriksaan tekanan darah secara mandiri, serta pembagian leaflet edukatif. Kegiatanini ditujukan kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk ibu hamil dan menyusui, kaderposyandu, dan tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan primer. Evaluasi program dilakukan melaluipre-test dan post-test yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam tingkat pengetahuan pesertasetelah mengikuti kegiatan. Skor pengetahuan meningkat signifikan dari 30 ± 10 % menjadi85 ± 8 % (p < 0,001). Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan berkomitmen menerapkaninformasi yang diperoleh Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi melaluiprogram SIGAP memiliki potensi yang besar dalam menurunkan risiko preeklampsia dimasyarakat dan turut berkontribusi dalam peningkatan kualitas kesehatan ibu hamil di Indonesia.
PENYULUHAN KESEHATAN REPRODUKSI SEKS BEBAS DALAM PENCEGAHAN KTD/ KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN DAN PMS/PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DI SMK JAYANEGARA LAWANG KAB. MALANG Yuliyanik
Media Husada Journal Of Community Service Vol. 1 No. 2 (2021): Media Husada Journal of Community Service
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.91 KB)

Abstract

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, dimana remaja mulai mencari jati diri, mulai berpikir bahwa mereka sudah dewasa karena telah terjadi perubahan pada dirinya secara fisik maupun mental. Informasi tentang perubahan remaja seringkali kurang jelas karena berbicara seks masih dianggap tabu, sehingga membuat remaja tersebut mencari-cari dan mempersepsikan sendiri artinya seks. Salah satu faktor ketidaktahuan yang dialami oleh siswa SMK Jayanegara Lawang menyebabkan remaja tersebut tidak memahami bahwa apa yang dilakukan dengan lawan jenisnya dapat membawa dampak yang merugikan bagi remaja tersebut. Solusi mengatasi masalah ini adalah dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi yang terkait dengan seks bebas, untuk mencegah terjadinya KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) dan PMS (Penyakit Menular Seksual) pada siswa tersebut. Penyuluhan dilakukan secara online, karena saat pelaksanaan PKM tersebut Indonesia sedang mengalami lockdown Pandemi Covid-19. Walaupun dilakukan penyuluhan secara online, siswa tetap mengikuti dengan antusias. Antusias dari siswa dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan, baik saat dilakukan ataupun di luar kegiatan penyuluhan. Setelah mendapatkan penyuluhan, para siswa dapat memahami dampak dari seks bebas, sehingga mereka dapat mencegah terjadinya KTD dan PMS. Metode: Penyuluhan secara online. Hasil: Siswa memahami tentang mencegah terjadinya KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) dan PMS (Penyakit Menular Seksual). Kesimpulan: Penyuluhan kesehatan reproduksi secara langsung kepada siswa sangat berpengaruh pada pemahaman siswa tentang KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) dan PMS (Penyakit Menular Seksual).
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT KELOMPOK BERMAIN DAN TARBIYATUL ATHFAL "IMPIANKU" KOTA MALANG YULIYANIK; SUBHI, MISBAHUL
Media Husada Journal Of Community Service Vol. 2 No. 2 (2022): Media Husada Journal of Community Service
Publisher : STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.287 KB) | DOI: 10.33475/mhjcs.v2i2.37

Abstract

PAUD adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Untuk menggambarkan situasi kelompok tersebut, maka dilakukan survey dengan membuat sejumlah daftar yang berisi lokasi dan kepemilikan, perijinan operasional sekolah, data guru, data siswa, sarana dan prasarana, metode pembelajaran, kurikulum, lulusan dan sistem promosi serta pendokumentasian. Luaran dari program ini adalah tersedianya Alat Permainan Edukatif (APE), tersedia media pembelajaran sederhana elektronik, tersedia sarana audio visual, guru telah mengikuti pelatihan dan implementasi sarana tersebut akan dapat memperbaiki proses belajar mengajar (PBM).
Hubungan Dukungan Pendamping Sebaya dengan Keterbukaan Status Pada Orang dengan HIV/AIDS Daramatasia, Wira; Zunaedi, Rosly; Yuliyanik, Yuliyanik
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 8 (2025): Volume 5 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i8.19883

Abstract

ABSTRACT Disclosure of status among people living with HIV/AIDS (PLWHA) is an important step in improving adherence to antiretroviral therapy (ART) and quality of life. However, social stigma often becomes an obstacle. Peer support can help PLHIV face these challenges by providing information, motivation, and emotional support. This study aims to analyze the relationship between peer support and disclosure of HIV status among PLHIV in the Jombang Care Center Plus community in Jombang Regency. This study uses an observational analytic design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 41 active PLHIV respondents, selected through purposive sampling based on inclusion and exclusion criteria. Primary and secondary data were collected and analyzed univariately and bivariately. The instruments used were the Social Provision Scale questionnaire for peer support and the Self Disclosure Scale for disclosure of status. The contingency coefficient correlation test was used to analyze the relationship between variables. The research results show that the majority of PLHIV respondents are adults (97.9%), male (56.4%), have a high school education (48.8%), are married (46.3%), and have the main transmission through sexual relations (51.2%) and MSM (48.8%). Most respondents felt that there was support from peers (63.4%), and 61% were open about their HIV status. There is a significant relationship between peer support and disclosure of status (p = 0.036), where those who received support were more open (73%) compared to those who did not (40%), with a correlation coefficient (r=0.310) indicating a weak to moderate positive relationship. Peer support plays an important role in increasing the disclosure of status among PLHIV. The integration of peer support programs with healthcare services and the enhancement of peer support capacity are recommended to strengthen their impact. Keywords: HIV/AIDS, Peer Support, Disclosure of Status, PLHIV, Stigma  ABSTRAK Keterbukaan status pada orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) merupakan langkah penting dalam meningkatkan kepatuhan terapi antiretroviral (ARV) dan kualitas hidup. Namun, stigma sosial sering kali menjadi hambatan. Dukungan pendamping sebaya dapat membantu ODHIV menghadapi tantangan ini dengan memberikan informasi, motivasi, dan dukungan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan pendamping sebaya dengan keterbukaan status ODHIV di komunitas Jombang Care Center Plus Kabupaten Jombang. Penelitian ini mengimplementasikan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 41 responden ODHIV yang aktif di komunitas Jombang Care Center Plus, dipilih dengan purposive samplingberdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data primer dan sekunder dikumpulkan, dianalisis secara univariat dan bivariat. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner Social Provision Scale untuk dukungan pendamping sebaya dan Self Disclosure Scale untuk keterbukaan status. Uji korelasi koefisien kontingensi digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden ODHIV berusia dewasa (97,9%), laki-laki (56,4%), berpendidikan SMA (48,8%), menikah (46,3%), dengan penularan utama melalui hubungan seksual (51,2%) dan LSL (48,8%). Sebagian besar responden merasakan ada dukungan dari pendamping sebaya (63,4%) dan 61% terbuka tentang status HIV mereka. Terdapat hubungan signifikan antara dukungan pendamping sebaya dengan keterbukaan status ODHIV (p = 0,036), di mana yang mendapat dukungan lebih terbuka (73%) dibanding yang tidak (40%), dengan koefisien korelasi (r=0,310) menunjukkan hubungan positif lemah hingga sedang. Dukungan pendamping sebaya berperan penting dalam meningkatkan keterbukaan status ODHIV. Integrasi program pendampingan dengan layanan kesehatan dan peningkatan kapasitas pendamping sebaya direkomendasikan untuk memperkuat dampaknya. Kata Kunci: HIV/AIDS, Dukungan Pendamping Sebaya, Keterbukaan Status, ODHIV, Stigma
EFEKTIVITAS COKLAT KELOR TERHADAP KEJADIAN DISMINORE: Yuliyanik
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 3 No. 1 (2025): Januari
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v3i1.18

Abstract

Dysmenorrhea is a pain disorder experienced by women during menstruation. Menstrual pain can interfere with daily activities if not handled properly. There are two types of dysmenorrhea, namely primary dysmenorrhea and secondary dysmenorrhea. Dysmenorrhea that often occurs is primary dysmenorrhea, while secondary dysmenorrhea is dysmenorrhea experienced by a woman with indications of a disease. Menstrual pain which is included in primary dysmenorrhea can be overcome by consuming natural preparations, namely chocolate. This statement is in accordance with research that has been done that there is a relationship between consuming chocolate and the incidence of dysmenorrhea. This research will be carried out by giving moringa chocolate preparations to the incidence of dysmenorrhea. The study population was female students at MTS Al Munawwaroh, Jambu Village, Pandanmulyo Hamlet, Kec.Tajinan, Kab. Malang as many as 40 female students. Sampling according to the inclusion criteria. The research time is June 2023. The research location is at MTS Al Munawwaroh, Jambu Village, Pandanmulyo, Kec.Tajinan, Kab. Malang. Data was collected by giving questionnaires and the data was processed using SPSS 26. The purpose of this study was to determine the effectiveness of moringa chocolate on the incidence of dysmenorrhea. The results and conclusions answer the research that has been done.
The Relationship Between The Level Of Knowledge And Attitudes Of Adolescents With The Behavior Of The Three Basic Threats To Adolescent Reproductive Health (Triad Krr) In Grade Vii Students Of Smp Negeri 3 Candi Sidoarjo Chory Febryan, Gladies Arnez Chory Cebryan; Retnaningrum, Dwi Norma Retnaningrum; Yuliyanik, Yuliyanik
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 3 No. 2 (2025): Juli
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v3i2.26

Abstract

Adolescence is a crucial transition period marked by major changes in physical, mental and social aspects, including the development of reproductive function. In Indonesia, teenagers are often faced with reproductive health challenges which are included in the KRR Triad concept, including sexuality, HIV/AIDS and drugs. This research aims to analyze the relationship between the level of knowledge and attitudes of teenagers towards their behavior in facing the KRR Triad, with a focus on class VII students at SMP Negeri 3 Candi Sidoarjo.The research design used was an analytical survey method using a cross-sectional approach. This research used respondents with a population of 285 people. Using the Slovin formula resulted in 74 respondents. The research instrument used was a questionnaire with validity tests and previous rehabilitation tests.The results of the research show that there is a significant relationship between the level of knowledge and attitudes towards adolescent behavior in the context of the KRR Triad, which is indicated by a statistical significance value of p < 0.05. The results of this study emphasize the importance of comprehensive reproductive health education as a means of increasing awareness and positive attitudes towards the KRR Triad. Recommendations for schools include improving reproductive health education programs, involving parents, teachers and health workers, as well as implementing interactive educational media for ongoing learning effectiveness so that it can help build healthy behavior patterns among teenagers.
Peer Support as Protective Factor Against Suicide Risk in Generation Z: Study in Indonesia Renaldi, Shefi Rivan; Alfianto, Ahmad Guntur; Yuliyanik, Yuliyanik; Muanjan, Montira; Khan, Bachal
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 9, No 2 (2025): JIK-OKTOBER VOLUME 9 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : UNIVERSITAS ALIFAH PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33757/jik.v9i2.1504

Abstract

Background: The mental health of Gen Z is a concern worldwide, of which suicide is one of the major causes of death. In collectivist societies such as Indonesia, the support of the peers may be a very important factor that protects the individual, however, there is still very little research evidence available to substantiate this.Objective: This study aimed to understand the association between peer support and suicide risk in Gen Z individuals from Malang City, Indonesia.Methods: A cross-sectional study was conducted on 207 Gen Z participants (mean age 21.37 years, 68.6% females) chosen through purposive sampling. Peer support was assessed by the Peer Social Support questionnaire (37 items, α=0.932), and suicide risk by the Revised Suicide Ideation Scale (10 items, α=0.941).Results: The prevalence of high suicidal ideation was 11.6%. There was a very strong correlation between peer support and suicide risk (χ2=112.847, p<0.001, Cramér's V=0.523). As many as 97.3% of those with high peer support had low levels of suicidal ideation, while 88.2% of those with low peer support showed high levels of suicidal ideation.Conclusion: There is a strong association between peer support and a decrease in the risk of suicide in Indonesian Gen Z which shows bigger effects than in the West. The results lead to the support of the implementation of culturally-appropriate peer-based interventions such as gatekeeper training and digital platforms.
KARAKTERISTIK IBU DAN POST NATAL TREATMENT (PNT) BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA POSTPARTUM BLUES IBU NIFAS Yuliyanik, Yuliyanik
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 7, No 2 (2019): EDITION JULY 2019
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.565 KB) | DOI: 10.33366/jc.v7i2.1319

Abstract

This study aimed at examining the occurrence of postpartum blues in postpartum mothers. Post partum blues is categorized as a mild mental disorder syndrome for it is often ignored so that it is undiagnosed and not treated as it should, which finally leads to a difficult and unpleasant problem that may create feelings of discomfort for women who experience it. The study is intended to prevent the occurrence of Post partum blues in postpartum mothers. Post Partum Blues can be prevented by doing ANC and Post Natal Treatment routinely. Post Natal Treatment is a series of treatments performed specifically for postpartum mothers, which include massage, breast care, oxytocin massage, postpartum spa and full-blooded face. The research employed observational methods. The population of all puerperal mothers was 20 people, using total sampling. Data is obtained from primary data and secondary data, then the data is processed using SPSS 16 with chi square test. The conclusion of the value of p = 0.01 is that there is a relationship between the characteristics of postpartum mothers and PNT with the occurrence of postpartum blues. Age, education and occupation of postpartum mothers are associated with the insidence of postpartum blues. PNT that had been received by postpartum mothers was also related to the insidence of postpartum blues. Researcher's suggestion is for postpartum mothers to carry out ANC and PNT routinely to prevent the occurrence of post partum blues.