Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Faktor-faktor Penentuan Harga Gambir (Studi Kasus: Pasar Gambir Nagari Lubuak Alai Kec. Kapur IX Lima Puluh Kota) Wedy Nasrul Indra Masrin
Jurnal Menara Ekonomi : Penelitian dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi Vol 1, No 1 (2015): Vol. I No.2 April 2015
Publisher : Jurnal Menara Ekonomi : Pelatihan dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/me.v1i1.138

Abstract

Peran dan fungsi pasar adalah sebagai tempat terjadinya transaksi, pasar juga bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan informasi, menekan biaya transaksi dan meningkatkan kepercayaan. Sejalan dengan ide dasarnya, fungsi penting pasar adalah sebagai penetapan harga dan proses pertukaran atau transaksi. Fungsi tersebut juga ada pada pasar gambir, sehingga penting dilihat beberapa faktor pentu harga pada pasar gambir.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Nagari Lubuak Alai Kecamatan Kapur IX Kabupaten 50 Kota Propinsi Sumatera Barat. Untuk teknis mengumpulkan data dilakukan dengan metode pengumpulan data kualitatif, yaitu: pengamatan langsung atau observasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok dan dokumentasi. Analisis data yang dilakukan adalah analisis kualitatif. Tahapan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk meyakini kebenaran yang tinggi dalam penelitian kualitatif dilakukan analisis kualitatif dengan teknik triangulasi.Terdapat beberapa faktor penentuan harga gambir diantaranya: a) Harga ditingkat eksportir atau pedagang besar. b). Mutu atau kualitas gambir. c) Bentuk olahan/produksi gambir. d) Kadar air atau berat gambir, dan e) Bantuan dan pinjaman pengumpul.Keyword: Harga, Gambir
Islamic Education: As a Character Building Effort Muhammad Amin; Mahyudin Ritonga; Wedy Nasrul
Al-Misbah (Jurnal Islamic Studies) Vol. 9 No. 1: April 2021
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/al-misbah.v9i1.2225

Abstract

This research aims to find out the patterns of students’ character building and factors that support and inhibit as faced by Islamic Education teachers in State Primary School 16 V Koto Timur District Padang Pariaman Regency. According to the objective, this research utilizes qualitative method with a descriptive approach. The data sources are a school principal, Islamic Education teachers, and Classroom teachers. The researchers use observation, interview, and documentation as the data collection techniques. The data analysis technique uses data reduction, classification, and presentation and conclusion drawing. It is known that Islamic Education is the students’ character-building effort. The character building pattern is done by integrating PAI (Islamic Education) and using uswah and hikmah method into character Education. In building students’ character, there are supporting and inhibiting factors that include school internal and external factors.
Analisis Kelayakan Usaha Tani Gambir Di Nagari Lubuak Alai Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Kota Wedy Nasrul; Yuliesi Purnawati; Muhamad Reza; Leli Suwita; Amri Santo
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4100

Abstract

Usahatani gambir di Nagari Lubuk Alai sudah lama dibudidayakan. Tingginya permintaan pasar membuat banyak masyarakat yang tertarik untuk berbudidaya gambir. Budidaya gambir merupakan suatu usaha yang membutuhkan biaya investasi yang cukup besar. Namun adanya perubahan harga input dan output yang terjadi sewaktu-waktu berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh petani gambir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani gambir di Nagari Lubuk Alai akibat adanya perubahan harga input dan output yang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah sampel 57 petani.  Analisis data menggunakan analisis perbandingan penerimaan dangan biaya Analisis Revenue Cost Ratio (R/C) dan Break Event Point (BEP). Hasil penelitian menujukan usaha tani gambir layak dilakaukan di Nagari Lubuak Alai. R/C ratio dan BEP volume produksi dan BEP harga. R/C 1 Ha (3,06), 2 Ha (2,37), 3 Ha (2,45), 4 Ha (2,78). Sedangkan BEP harga luas lahan 1 Ha Rp. 11.804, 2 Ha = Rp. 15.543, 3 Ha = Rp. 15.220 luas lahan 4 Ha= Rp. 13.192.Kata kunci: R/C, BEP
Analisis Pendapatan Usahatani Jamur Tiram Rizqha Sepriyanti Burano; Reta Oktali; Wedy Nasrul; Wahyunita Sitinjak
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 JANUARI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4098

Abstract

Usatatani jamur tiram menjadi alternative mata pencaharian petani di Kelurahan Tigo Koto Dibaruah beberapa tahun belakangan ini. Usahatani ini dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani. Akan tetapi berapa besar peningkatan pendapatan petani dan apakah usahatani ini benar-benar dapat mengeluarkan petani dari lingkaran kemiskinan tentu memelurkan kajian. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui biaya budidaya usahatani jamur tiram dikelurahan Tigo Koto Dibaruah dan juga untuk mengetahui berapa besar pendapatan yang diperoleh oleh usahatani jamur tiram di Kelurahan Tigo Koto Dibaruah. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive sampling ) dengan pertimbangan yaitu Kelurahan Tigo Koto Dibaruah merupakan daerah penghasil jamur terbeser di Payakumbuh. Teknik analisis data yang digunakan yaitu  menghitung biaya budidaya dan menghitung pendapatan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Petani jamur tiram yang ada di kelurakahan Tigo Koto Dibaruah dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu: petani yang membuat baglog lalu menjualnya, petani yang membuat baglog lalu membudidayakannya, dan petani yang membeli baglog lalu membudidayakannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya pendapatan petani dipengaruhi jumlah baglog yang mereka miliki. Dari tiga kelompok yang ada petani akan memiliki pendapatan yang paling besar adalah petani yang membuat baglog lalu membudidayakannya sendiri. Rata – rata pendapatan petani pembuatan baglog lalu membudidayakannya yaitu sebesar Rp. 3.266.712/bulan. Sesuai dengan kriteria yang dikeluarkan BPS ini artinya pendapatan petani sudah tergolong tinggi.Kata kunci:Usahatani ,Biaya Budidaya, Pendapatan, 
Model Pengembangan Kelembagaan Pasar Gambir Melalui Penguatan Aspek-Aspek Modal Sosial Wedy Nasrul; Muhamad Reza; Imran Imran
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 2 (2023): Vol 17 No. 02 JULI 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i2.4584

Abstract

Modal sosial sebagai bagian dari kehidupan sosial seperti jaringan, norma, dan kepercayaan yang mendorong partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan-tujuan bersama. Aspek modal sosial tidak banyak dibahas dalam aktivitas ekonomi. Namun kenyataan aspek-aspek modal sosial terlihat dan berperan dalam aktifitas ekonomi. Peneltian bertujuan untuk melihat peran modal sosial serta dampak pada kelembagaan pasar pertanian gambir. Seterusnya dirancang model penguatan dan pengembangan kelembagaan pasar gambir melalui pengutanan aspek modal sosial. Penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukan Aspek modal sosial yang terbangun (kepercayaan, jaringan, norma dan sangksi) berjalan baik dan memiliki dampak positif untuk keberlajutan usaha tani gambir. Namun juga memiliki dampak negatif dan sering merugikan petani. Aspek kepercayaan dalam mendapatkan pinjaman namun menimbulkan keterikatan (patron-klien) antara petani dan pengumpul. Aspek jaringan memudahkan dalam penjualan produk di tingkat lokal namun sulit untuk jaringan tingkat nasional dan internasional. Aspek norma dan sanksi tidak berjalan efektif dan sering dibiarkan terhadap mutu produk dimanfaatkan pengumpul untuk penekanan harga. Model penguatan dan pengembangan kelembagaan pasar gambir dilakukan melalui integrasi aspek-aspek modal sosial. Integrasi aspek-aspek modal sosial kepercayaan norma dan sanksi yang menghasilkan aksi kolektif. Bentuk-bentuk aksi kolektif seperti peningkatan mutu gambir, tempat dan waktu transaksi serta pembangungan lembaga penyangga. Model penguatan dan pengembangan kelembagaan pasar gambir diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan petani selama ini. Kata kunci: modal sosial, pasar gambir
PENGEMBANGAN USAHATANI GAMBIR MELALUI PRODUK TANIN Wedy Nasrul; Dedi Satria; Rudi Kurniawan Arief; Afdhil Arel; Leli Suwita; Revi Ernanda; Fajri Ramadhan
Jurnal Menara Ekonomi : Penelitian dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi Vol 9, No 2 (2023): VOLUME IX NO. 2 Oktober 2023
Publisher : Jurnal Menara Ekonomi : Pelatihan dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/me.v9i2.4856

Abstract

Usahatani gambir menjadi mata pencarian pokok petani di wilayah sentra gambir. Produksi gambir saat ini fokus pada produk gambir biasa (lumpang). Produk yang dihasilkan saat ini memiliki mutu yang buruk dan harga yang rendah. Sehingga perlu pengembangan produk gambir untuk mendapatkan harga yang lebih baik dan tambahan penghasilan. Pengembangan usaha gambir penting agar petani tidak tergantung pada satu produk dan pasar. Penelitan ini menggunakan metode kulitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif untuk menjelaskan pengembangan usahatani gambir berbasis tanin. Metode kuantitatif untuk menganalisis kelayakan pengembangan usaha gambir. Hasil penelitian menunjukan produksi gambir dapat dikembangkan dengan alat-alat sederhana dengan biaya terjangkau. Tanin memiliki harga yang lebih mahal dibanding harga gambir biasa. Harga gambir biasa sekitar Rp. 80.000,-/kg sedangkan harga tanin mencapai Rp. 300.000,-/kg. Pengembangan agroindustri tanin layak untuk dikembangkan, dimana hasil analisis Revenue Cost Ratio (R/C) sebesar 1,6. Break Event Point (BEP) untuk katekin Rp. 118.787,-/Kg jadi sangat menguntungkan dilihat dari harga tanin saat ini.Kata Kunci : Gambir, Petani, Tanin
PERANAN LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKMA) TERHADAP PERMODALAN USAHA TANI DI LKMA PINCURAN BONJO KELURAHAN PADANG ALAI KECAMATAN PAYAKUMBUH TIMUR KOTA PAYAKUMBUH yanti, trisna; Nasrul, Wedy
Journal of Agricultural Science Development (JASED) Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Journal of Agricultural Science Development (JASED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/pertanian umsb.v3i2.5586

Abstract

ABSTRAK Lembaga keuangan mikro agribisnis (LKMA) adalah lembaga usaha yang mengelola jasa keuangan untuk membiayai usaha agribisnis di pedesaan. Salah satu LKMA yang  memberikan layanan permodalan untuk pengembangan usaha tani adalah LKMA Pincuran Bonjo yang terletak di Kelurahan Padang Alai, Kecamatan Payakumbuh Timur, Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. LKMA Pincuran Bonjo mengatasi persoalan petani yang sebelumnya melakukan peminjaman kepada bank dengan prosedur yang cukup menyulitkan dan juga kepada rentenir dengan imbalan bunga yang besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan LKMA Pincuran Bonjo terhadap permodalan usaha tani berdasarkan persepsi petani, dan untuk mengetahui faktor-faktor yang paling mempengaruhi keberlanjutan LKMA tersebut dalam memberikan permodalan kepada petani.  Adapun metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif.  Dalam pengumpulan data yang diperlukan, peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan studi kasus.  Teknik analisa data yang digunakan yaitu Skala likert dan rating scale serta analisis persentase. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di LKMA Pincuran Binjo, secara umum LKMA ini berperan kuat terhadap terhadap permodalan usaha tani berdasarkan persepsi petani yaitu memperoleh persentase skor 84%. Faktor-faktor yang paling mempengaruhi keberlanjutan LKMA Pincuran Bonjo yaitu (1) tujuan LKMA memperoleh persentase 80%, (2) jenis kegiatan usaha memperoleh persentase 60%, (3) struktur organisasi memperoleh persentase 50%, (4) pembagian peran/fungsi persentasenya 40%, (5) sumber ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) persentasenya 30%, (6) manajemen usaha persentasenya 20%, dan (7) faktor sistem koordinasi 10%. Kata Kunci :Permodalan usaha tani, peranan LKMA, faktor internal dan faktor   eksternal, LKMA Pincuran Bonjo. 
RANTAI PASOK JERUK SIAM (Citrus nobilis) DINAGARI TALANG ANAU KECAMATAN GUNUANG OMEH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Septian, M. Halim; Nasrul, Wedy
Journal of Agricultural Science Development (JASED) Vol 5, No 1 (2021): VOLUME 5 NO 1 JUNI 2021
Publisher : Journal of Agricultural Science Development (JASED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/pertanian umsb.v5i1.5651

Abstract

ABSTRAK           Penelitian ini dilakukan di Nagari Talang Anau Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis rantai pasok jeruk siam di Nagari Talang Anau. Metode dalam penelitian ialah menggunakan metode deskriptif. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan wawancara langsung kekebun petani jeruk siam dan ketempat gudang toke jeruk siam. penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan bagaimana aliran rantai pasok jeruk siam di Nagari Talang Anau. Berdasarkan hasil yang mengacu pada pelaksanaan penelitian ini di Nagari Talang Anau terdapat 3  pola rantai pasok dalam pemasaran jeruk siam yaitu, (1) Pola Rantai Pasok 1 yaitu aliran rantai pasoknya melibatkan Petani – Toke – Pedagang pengecer – Konsumen akhir, (2) Pola Rantai Pasok 2, aliran yang hanya melibatkan Petani – Pedagang Pengecer – Konsumen akhir (3) Pola Rantai Pasok 3, pola yang melibatkan Petani – Konsumen akhir. Peran lembaga pada rantai pasok jeruk siam di Nagari Talang Anau Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota memiliki peran yang berbeda-beda, dimana setiap lembaga melakukan perannya dengan tujuan yang menguntungkan lembaga itu sendiri ataupun lembaga lainnya. Adapun peran yang membedakannya ialah (1) Petani hanya berperan sebagai mulai dari budidaya, panen hingga penjualan, (2) Toke berperan sebagai pembelian, sortasi dan grading, packing, pengangkutan dan melakukan penjualan, (3) Pedagang pengecer mempunyai peran melakukan pembelian, sortasi dan grading, pengangkutan dan penjualan, sedangkan konsumen akhir hanya berperan sebagai pembeli (Fadilla, 2009).  Kata Kunci : Rantai pasok, Peran Lembaga,  Jeruk siam, metode deskriptif.
ANALISIS NILAI TAMBAH PADA PENGOLAHAN GAMBIR DI NAGARI LUBUK ALAI KECAMATAN KAPUR IX KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Hatika, Mulia; Nasrul, Wedy; husnarti, husnarti
Journal of Agricultural Science Development (JASED) Vol 3, No 1 (2019): Vol 3 No 1 2019
Publisher : Journal of Agricultural Science Development (JASED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/pertanian umsb.v3i1.4593

Abstract

Penelitian ini dilakukan ditiga jorong (Jorong Sei Dua Anau, J.Koto Tinggi dan J.Rumbai) di Nagari Lubuk Alai Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis nilai tambah pada pengolahan gambir di Nagari Lubuk Alai. Metode yang dilakukan yaitu dengan meotode deskriptif kuantitatif. Dalam teknik pengumpulan data dilakukan observasi langsung kerumah kempa tempat pengolahan gambir. Teknik analisa dalam penelitian ini dihitung menggunakan Ms.Excel. Analisis yang dilakukan ini bertujuan untuk menganalisa nilai tambah pada pengolahan gambir di Nagari Lubuk Alai. Hasil penelitian diperoleh bahwa proses dalam pengolahan gambir masih tergolong sangat sederhana. Berdasarkan hasil perhitungan analisis nilai tambah yang dihitung menggunakan Metode Hayami,  nilai tambah yang dihasilkan dari proses pengolahan gambir di daerah penelitian masih tergolong rendah dengan rasio nilai tambah 50 % (49%). Masalah yang terdapat pada proses pengolahan gambir dan analisa nilai tambah yaitu proses pengolahan yang masih menggunakan alat yang sederhana sehingga tidak dapat memproduksi secara banyak, dan harga gambir yang selalu berubah bisa menjadi masalah dalam peningkatan nilai tambah terhadap pengolahan gambir. Permasalahan nilai tambah pada proses pengolahan gambir yang dihadapi petani ialah teknologi dan proses pascapanen/pengolahan. Permasalahan yang dihadapi dalam pengusahaan komoditas gambir adalah, 1) kualitas gambir rendah dan besarnya kehilangan dalam pengolahan yang memerlukan perbaikan mutu, 2) rantai tata niaga yang panjang dan didominasi pihak luar, 3) posisi tawar petani yang rendah dimana belum adanya jaminan harga yang stabil pada tingkat yang menguntungkan petani, 4) kurangnya informasi pasar internasional mengenai harga rill gambir, 5) adanya kebiasaan mencampur gambir dengan bahan-bahan lain sehingga harga jualnya lebih rendah, dan 6) peran pemerintah daerah yang terbatas. Permasalahan nilai tambah utama gambir saat ini ialah rendahnya produktivitas dan mutu produk yang dihasilkan, akibat dari cara budidaya dan proses pascapanen atau pengolahan yang belum optimal serta minimnya dukungan teknologi sehingga permasalahan ini sangat berkaitan dengan pendapatan petani dalam menghasilkan nilai tambah terhadap pengolahan gambir.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA TANI GAMBIR DI NAGARI LUBUK ALAI KECAMATAN KAPUR IX KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Santo, Amri; Nasrul, Wedy
Journal of Agricultural Science Development (JASED) Vol 6, No 1 (2022): VOLUME 6 NO 1 JUNI 2022
Publisher : Journal of Agricultural Science Development (JASED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/pertanian umsb.v6i1.5657

Abstract

ABSTRAK Sektor pertanian merupakan sektor utama dalam perekonomian bangsa Indonesia. Sebagai agraris sebagian besar penduduk Indonesia menjadikan sektor pertanian sebagai sumber penghidupan. Gambir adalah salah satu tanaman yang berasal dari wilayah Asia Tengara terutama Indonesia dan Malaysia. Gambir di Indonesia pada umumnya digunakan untuk menyirih,campuran berbagai macam obat seperti kosmetik, obat kumur, obat sariawan, obat sakit kepala, diare dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kelayakan usaha tani gambir di Nagari Lubuk Alai Kecamatan Kapur IX Kabupaten Limah Puluh Kota. Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu analisis usaha tani gambir di Nagari Lubuk Alai dilihat dari R/C ratio dan BEP volume produksi dan BEP harga,R/C. R/C 1 Ha (3,06) 2 Ha (2,37) 3 Ha (2,45) 4 Ha (2,48). Sedangkan BEP harga luas lahan 1 Ha Rp. 11,804, luas lahan 2 Ha Rp. 15,543, luas lahan 3 Ha Rp. 15,220, luas lahan 4 Ha Rp. 13,192. Dari R/C ratio dan BEP harga gambir pada Nagari Lubuk Alai layak. Kata Kunci : Pendapatan, Kelayakan Usaha Tani, BEP, RC/Ratio