Indra Waluyohadi, Indra
Unknown Affiliation

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Penambahan Metakaolin sebagai Pengganti Sebagian Semen terhadap Laju Korosi Beton Siagian, Ivan Reynal Jekson R.; Firdausy, Ananda Insan; Waluyohadi, Indra
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Korosi pada tulangan baja merupakan salah satu penyebab utama kerusakan prematur struktur beton bertulang, khususnya di lingkungan yang terpapar ion klorida. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh substitusi metakaolin (MK) sebagai pengganti sebagian semen terhadap ketahanan korosi beton bertulang menggunakan metode akselerasi arus paksa (impressed current). Benda uji berupa silinder beton berukuran 100×200 mm dengan tulangan baja ulir D16 (panjang terekspos 15 cm, luas permukaan = 75,40 cm²) dibuat dengan variasi kadar MK sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% terhadap berat binder, faktor air-semen (FAS) 0,35, dan superplasticizer 1%. Beton dirawat selama 28 hari lalu diuji dalam larutan NaCl 5% dengan tegangan konstan 10 V. Perubahan arus direkam setiap 4 jam hingga hari ke-24. Parameter yang diukur meliputi waktu initial corrosion (IC) dan tingkat korosi aktual tulangan berdasarkan kehilangan massa penimbangan. Seleksi sampel dilakukan berdasarkan uji deviasi, dan analisis statistik menggunakan One-Way ANOVA serta uji Tukey HSD (α = 0,05). Hasil menunjukkan bahwa penambahan MK berpengaruh signifikan terhadap kedua parameter (waktu IC: F = 17,69, p = 0,0002; tingkat korosi: F = 8,45, p = 0,0030). Kadar MK 10% memberikan performa optimal: waktu IC valid rata-rata 440 jam (152,9% lebih lama dari kontrol MK 0% = 174 jam) dan tingkat korosi valid terendah 0,463% (turun 72,3% dari kontrol 1,675%). MK 20% menunjukkan anomali overdosage dengan waktu IC hanya 216 jam dan tingkat korosi 2,003% — lebih buruk dari MK 0% dan MK 5%. Uji Tukey HSD mengkonfirmasi MK 10% dan MK 15% berbeda signifikan dari MK 20% dalam hal tingkat korosi. Nilai workability (slump) menurun seiring meningkatnya kadar MK dari 18 cm (MK 0%) menjadi 6 cm (MK 20%), menunjukkan perlunya penyesuaian water demand. Metakaolin 10% direkomendasikan sebagai kadar substitusi semen parsial optimal untuk meningkatkan ketahanan korosi beton bertulang.
Pengaruh Variasi Persentase Metakaolin sebagai Pengganti Parsial Semen terhadap Kuat Tekan dan Modulus Elastisitas Beton Ilman, Robby Zidny; Firdausy, Ananda Insan; Waluyohadi, Indra
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 3 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi semen dalam jumlah besar untuk kebutuhan konstruksi beton menimbulkan permasalahan lingkungan akibat tingginya emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan selama proses produksinya. Salah satu upaya mitigasi yang banyak dikembangkan adalah pemanfaatan bahan pozzolan sebagai pengganti parsial semen, salah satunya metakaolin (MK), yaitu hasil kalsinasi tanah liat kaolin yang bersifat pozzolanik reaktif. Pengaruh variasi persentase MK terhadap kuat tekan beton telah banyak dikaji, namun pengaruhnya terhadap modulus elastisitas, khususnya pada rentang substitusi yang lebih luas hingga 20%, masih memerlukan kajian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi persentase MK (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen) terhadap kuat tekan dan modulus elastisitas beton normal pada faktor air semen (FAS) konstan sebesar 0,35. Sebanyak 15 benda uji silinder beton berdiameter 150 mm dan tinggi 300 mm diuji pada umur 28 hari, dengan pengujian kuat tekan mengacu ASTM C39/SNI 1974:2011 dan modulus elastisitas mengacu ASTM C469 menggunakan compressometer. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan beton meningkat dari 40,5 MPa (MK- 0) hingga mencapai nilai optimum sebesar 43 MPa pada variasi MK-10 (naik 6,2%), kemudian menurun pada variasi MK-15 (41,5 MPa) dan MK-20 (39 MPa). Modulus elastisitas menunjukkan pola yang berbeda: menurun pada variasi MK-5 menjadi 13.607,82 MPa dari 17.206,40 MPa pada MK-0, kemudian meningkat konsisten hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 27.992,26 MPa pada variasi MK-20. Perbandingan dengan pendekatan teoritis SNI 2847:2019 (Ec = 4700√f'c) menunjukkan penyimpangan nilai eksperimental yang bervariasi antara - 4,6% hingga -55,3%, dengan penyimpangan terkecil justru terjadi pada kadar MK tinggi. Perbedaan pola antara kuat tekan dan modulus elastisitas mengindikasikan bahwa kekakuan beton bermetakaolin tidak semata-mata mengikuti besaran kuat tekannya, sehingga kadar substitusi optimum perlu ditentukan sesuai parameter kinerja yang menjadi prioritas.