I Gusti Agung Gede Putra Pemayun
Laboratorium Bedah Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

Published : 32 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Laporan Kasus: Penanganan Hernia Paracostalis pada Kucing Lokal Jantan dengan Laparotomi Mandara, Ikhsan; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 10 (4) 2021
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2021.10.4.644

Abstract

Hernia adalah penyembulan organ visceral abdominal melalui suatu lubang, masuk ke dalam suatu kantong yang terdiri dari peritoneum, tunica flava, dan kulit. Hernia paracostalis merupakan penyembulan yang terlihat pada daerah costae terakhir. Seekor kucing lokal jantan bernama Bimba berumur tiga tahun dan bobot badan 4,3 kg diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan tanda klinis terdapat benjolan pada perut yang letaknya pada daerah paracostalis. Pemeriksaan radiografi menunjukan adanya penyembulan pada abdomen bagian lateral yang berisi limpa yang terlihat lebih radiopaque dibandingkan dengan isi rongga abdomen. Penanganan dilakukan dengan tindakan pembedahan untuk mereposisi organ limpa kembali ke dalam rongga abdomen dan menutup cincin hernia. Pascaoperasi diberikan antibiotik injeksi cefotaxime dengan dosis 30 mg/kg BB per hari yang diberikan dua kali sehari selama tiga hari kemudian dilanjutkan dengan cefixime dengan dosis 23,2 mg/kg BB per hari yang diberikan dua kali sehari secara oral selama empat hari dan injeksi analgesik tolfedine dengan dosis 4 mg/kg BB per hari selama tiga hari. Kesembuhan luka mulai terlihat pada hari ke-8 pascaoperasi. Luka mengering dan tepi luka menyatu dengan baik, serta penyembulan pada hernia paracostal tidak nampak lagi.
Laporan Kasus: Enukleasi Transkonjungtiva Prolapsus Bulbus Oculi Sinistra pada Kucing Persia Jantan Maharani, Nisa; Fanayoni, Aditana; Ayu Kurniawati, Ni Made; Putra Pemayun, I Gusti Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 11 (1) 2022
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2022.11.1.137

Abstract

Prolapsus bulbus oculi adalah kondisi bola mata keluar dari cavum orbita yang dapat disebabkan oleh benturan, trauma atau tumor. Seekor kucing ras persia bernama Bobi, berumur 5 bulan, bobot badan 1,2 kg, berjenis kelamin jantan, dengan keadaan bola mata kiri keluar dari rongga mata dan telah mengalami nekrosis. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, hewan didiagnosis mengalami prolapsus bulbus oculi sinistra dengan prognosa infausta. Tindakan yang dilakukan untuk menangani kasus ini adalah operasi enukleasi bulbi dengan pendekatan subkonjungtiva. Terapi pascaoperasi yang diberikan adalah amoxicillin syrup 40 mg/kg BB diberikan tiga kali sehari selama tujuh hari, dexamethasone tablet 0,25 mg/kg BB diberikan dua kali sehari selama lima hari, dan salep mata gentamicyn sulfate 0,1% diberikan secukupnya selama dua hari sampai luka mengering. Tindakan operasi enukleasi prolapsus bulbus oculi sinistra pada kucing kasus berjalan dengan lancer. Selama tujuh hari perawatan kucing kasus menunjukkan hasil yang baik dengan luka bekas operasi sudah mengering dan kondisi kucing terpantau stabil serta tidak ada keluhan lain.
Mengebiri Kuda Posisi Berdiri dengan Metode Terbuka (THE CASTRATION OF STANDING HORSES BY OPEN METHOD) Luh Putu Listriani Wistawan; Ni Nyoman Sutiati; I Gusti Agung Gede Putra Pemayun; I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 2 No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4365.953 KB)

Abstract

Abstak dapat dibaca pada Full Text Abstract can be read at Full Text
Anestesi Tetes Infus Gravimetrik Ketapol sebagai Alternatif Bius Umum Secara Inhalasi Guna Menjaga Status Teranestesi pada Babi I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Gusti Ngurah Sudisma
Jurnal Veteriner Vol 19 No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.838 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2018.19.1.126

Abstract

This study aim was to evaluate quality and effectiveness of anaesthesia by using gravimetric infusion anaesthesia with ketamine and propofol (ketafol) on pigs. The quality of anesthesia time, the cardiovascular and respiratory response of anaesthesia were evaluated in twelve male pigs with average body weight 35±5 kg. The pigs were divided into four treatments and each treatment consisted of three pigs as repetition. All the experimental animals were premedicated with atropine 0.03 mg/kg mixed with xylazine 2 mg/kg in one syringe injected intramuscularly. Fifteen minutes after premedicated, the pigs was induced intravenously with ketamine 6 mg/kg and propofol 2 mg/kg. Furthermore, the anesthetized state maintaned with gravimetric, each through infusion with propofol (0.1 mg/kg/minute) (PI-P) , ketamine (0.3 mg/kg/ minute) (PIK), combination propofol-ketamin (0.1 and 0.3 mg/kg/minute) (PI-PK), and inhalation with isoflurane 1-2% (PI-I). The heart rate, pulse, respiratory rate, rectal temperature, blood oxygen saturation (SpO2 ), capillary refill time (CRT) were observed before and after treatment of the anesthetic. Premedication combination of atropin 0.03mg/kg mixed with xylazine 2 mg/kg in one syringe and then induced with ketamine 6 mg/kg and propofol 2 mg/kg showed the average length of anesthesia for 32,33 minutes, longer compared to five other treatments with average length of induction three minutes and average recovery time 20.33 minutes. Maintenance of anesthesia with propofol infusion drops (0.1 mg/kg/minute), or propofolketamine infusion drops (0.3 and 0.1 mg/kg/minute) showed safer anesthesia, because they did not make drastic change of heart rate, respiratory rate, rectal temperature, oxygen saturation, pulse, and CRT value in the experimental pigs. The conclusion of this study is the methode of gravimetric intravenous infusion by using ketamine and propofol (ketafol) can be used to maintain anesthesia as an alternative general inhalation anaesthesia in pigs.
Radiographic Evaluation of Rabbit Femur Implanted Bali Cattle Bone Graft I Wayan Wirata; Steven Dwi Purbantoro; Luh Made Sudimartini; IWN Fajar Gunawan; AA Oka Dharmayudha; IGAG Putra Pemayun
Jurnal Veteriner Vol 19 No 3 (2018)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.401 KB)

Abstract

Bone xenograft from cattle bone is commonly used to treat a comminuted fracture case. This study aims to know the process of fractured-femur bone healing in rabbit post-implantation powder bone graft from cortical femur bone of Bali cattle evaluated by radiographs. Ten male local rabbits were used in this study, which were divided into 2 groups randomly. Group I (KI) as control, the diaphysis of femur bone was drilled with a diameter of 5 mm without implanting the bone graft, while Group II (KII), the diaphysis of femur bone was drilled 2 holes with a diameter of 5 mm each and with distance 20 mm, substituted with mineralized powder bone graft for the proximal hole (KIIa) and demineralized powder bone graft for the distal hole (KIIb). Fracture healing evaluation was done at week 0 (24 hours), 2, 4, and 6 postoperative by monitoring the growth of callus, fracture line, and union process with radiograph based classification according to Hammer et al., tabulated statistically, and presented descriptively. The results showed that KI and KII were in the sequel of fracture healing but had not reached remodeling phase perfectly. In conclusion, mineralized and demineralized powder bone graft used in this study was as osteoconductive and the use of bone graft shows no different significance and time shows different significance to fracture healing.
Respons Fisiologis Babi Bali Terhadap Anestetik Ketamin dan Propofol I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Gusti Ngurah Sudisma
Jurnal Veteriner Vol 23 No 1 (2022)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.809 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2022.23.1.70

Abstract

ABSTRAKAnestesi merupakan tahapan yang sangat penting sebelum dilakukan tindakan pembedahan. Anestesi ketamin dan propofol sering digunakan sebagai agen induksi pada manusia maupun hewan kesayangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu induksi, durasi anestesi, waktu pemulihan dan respons fisiologis babi bali terhadap anestesi ketamin, propofol dan kombinasi ketamin-propofol (ketafol). Digunakan 12 ekor babi bali, bobot 22-27 kg, umur 2,5-3,0 bulan, dan jenis kelamin jantan. Alat fisiograf digunakan untuk pemantauan perubahan fisiologis pada sistem kardiovaskuler, respirasi dan suhu tubuh. Babi dipremedikasi dengan atropin sulfat (0,02 mg/kg bb) dan xilazin (2 mg/kg bb) secara intramuskuler, 20 menit kemudian diinduksi dengan ketamin (4 mg/kg bb), propofol (1,5 mg/ kg bb) dan kombinasi ketamin- propofol (2 dan 0,75 mg/kg bb) secara intravena. Babi yang diinduksi ketamin menghasilkan waktu induksi 1,87±0,41 menit, durasi anestesi 13,00±2,55 menit, dan waktu pemulihan 14,25±3,77 menit, yang diinduksi propofol menghasilkan waktu induksi 2,75±0,56 menit, durasi anestesi 19,25±3,77 menit dan waktu pemulihan 7,50±1,80 menit, sedangkan yang diinduksi ketafol menghasilkan waktu induksi 2,25±0,56 menit, durasi anestesi 25,50±3,64 menit dan waktu pemulihan 8,50±1,66 menit. Babi yang diinduksi ketamin, propofol dan ketafol menunjukkan waktu induksi yang tidak berbeda nyata, tetapi durasi anestesi dengan ketapol nyata lebih lama dibandingkan dengan ketamin atau propofol dan waktu pemulihan tidak berbeda nyata dengan propofol tetapi sangat nyata lebih singkat dibandingkan dengan ketamin. Anestesi dengan ketafol menghasilkan durasi anestesi yang nyata lebih lama dan waktu pemulihan yang sangat nyata lebih cepat, tidak ditemukan perubahan yang ekstrim terhadap respon fisiologis pada sistem kardiovaskuler dan respirasi selama babi bali teranestesi.
Adenokarsinoma pada Kelenjar Ambing Kucing Ras Himalaya: Tampilan Klinik, Penanganan dengan Mastektomi dan Hasilnya I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Wayan Batan; Adrian Hasan Rahmatullah
Jurnal Veteriner Vol 24 No 2 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.2.221

Abstract

Adenokarsinoma kelenjar mammae adalah pertumbuhan sel-sel kelenjar yang tidak terkontrol dan tidak terkoordinasi umumnya dijumpai pada anjing dan jarang pada kucing. Adenokarsinoma mammae pada kucing bersifat malignant dan merusak jaringan kelenjar mammae secara progresif, sehingga berakibat fatal pada kucing. Seekor kucing Himalaya berusia 4 tahun, berjenis kelamin betina yang belum disteril, bobot badan 3 kg, warna bulu coklat tua, mengalami pembengkakan pada satu kelenjar mammae bagian belakang sebelah kanan dan tidak mau mengecil. Pemeriksaan dengan palpasi adanya massa yang menonjol cukup besar, terasa keras dan padat pada kelenjar mammae. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor, kucing didiagnosa menderita adenokarsinoma ditandai dengan sel-sel kelenjar mengalami proliferasi tidak terkontrol, bersifat infiltratif, adanya proses angiogenesis, adanya sel-sel tumor pada pembuluh darah kelenjar, ductus, bentuk dan ukuran ductus yang bervariasi (pleomorfik). Penanganan dilakukan dengan pembedahan mastektomi yaitu pengangkatan kelenjar mammae yang terdapat jaringan tumor. Pascaoperasi kucing diberikan cefotaxime 20 mg/kg BB IV (q12h), dan tolfedine 4 mg/kg BB IM (q24h) selama tiga hari dan dilanjutkan dengan pemberian cefixime trihydrate 10 mg/kg BB (q12h), dan deksametason 0,08 mg/ kg BB (q12h) secara oral selama 5 hari. Kucing dinyatakan sembuh pada hari ke 14 pascaoperasi dengan luka operasi telah mengering, nafsu makan, minum baik, defikasi dan urinasi normal serta pemeriksaan radiografi, dan hematologi kucing dalam keadaan normal.
Laporan Kasus: Penanganan Pyometra Tertutup Disertai Kalkuli Vesika Urinaria pada Anjing Pomeranian Berusia Tujuh Tahun Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo; I Gusti Agung Gde Putra Pemayun; I Wayan Wirata; I Gusti Made Krisna Erawan; I Wayan Batan
Jurnal Veteriner Vol 24 No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.4.573

Abstract

Pyometra adalah kondisi peradangan pada endometrium mengakibatkan akumulasi nanah di dalam rahim. Pyometra dapat terjadi secara kronis (pyometra terbuka) dan secara akut (pyometra tertutup). Pyometra tersebut harus segera mendapatkan penanganan karena sifatnya gawat darurat. Masalah kesehatan pada sistem perkencingan juga banyak ditemukan pada anjing, salah satunya adalah kalkuli vesika urinaria (VU). Kalkuli adalah kondisi terbentuknya urolith pada saluran perkencingan terutama di VU. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengungkap kejadian pyometra yang berlangsung secara bersamaan dengan kalkuli VU pada anjing. Anjing ras pomeranian, berusia tujuh tahun, jenis kelamin betina, dengan bobot 2,3 kg, dibawa oleh pemiliknya ke Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner FKH Unud dengan keluhan terjadi pembesaran pada bagian perut. Berdasarkan anamnesis dan gejala klinis yaitu pembesaran abdomen serta keluarnya leleran berwarna putih dan berbau dari vagina. Pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan hematologi rutin, pemeriksaan biokimia darah, menunjukkan leukositosis dan trombositopenia yang parah. Pemeriksaan radiografi rongga abdomen, dan pemeriksaan ultrasonografi, menunjukkan hasil adanya penebalan dinding dan pembesaran uterus serta gambaran hipoekoik di dalam uterus, serta hasil radiografi memperlihatkan adanya massa radiopaque bulat pada VU, anjing menderita pyometra tertutup disertai dengan adanya kalkuli pada VU. Penanganan yang diberikan berupa tindakan pembedahan ovariohysterectomy untuk mengangkat rahim dan sistotomi untuk mengeluarkan batu dari dalam VU. Premedikasi yang diberikan adalah Atropine Sulfate dengan dosis 0,02 mg/kg BB secara subkutan dan kemudian diinduksi menggunakan kombinasi Xylazine 0,87 mg/kg BB dan Ketamin 4,35 mg/kg BB secara intravena. Selama operasi diberikan tambahan anestesi dengan dosis yang sama dengan dosis awal pemberian. Pada hari kedua setelah operasi kondisi anjing menurun dan akhirnya mati.
Laporan Kasus: Keberhasilan Penanganan Vulnus Morsum Stadium III dan IV pada Kucing Lokal Nissa, Yulia Khalifatun; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Jayawardhita, Anak Agung Gde
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.861

Abstract

Vulnus morsum adalah luka yang diakibatkan oleh gigitan. Vulnus morsum yang tidak ditangani secara cepat dan tepat dapat menimbulkan infeksi. Seekor kucing lokal betina steril berumur satu tahun dengan bobot badan 2,3 kg diperiksa karena adanya luka gigitan pada daerah scapula bagian kiri yang telah berlangsung lebih dari dua minggu. Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan adanya dua luka terbuka, salah satu luka sudah mengalami nekrosis dan luka lainnya terlihat dalam. Mukosa mulut tampak pucat dengan capillary refill time (CRT) lebih dari dua detik, serta nafsu makan dan minum yang berkurang. Pemeriksaan hematologi menunjukkan polisitemia dan trombositopenia, sedangkan parameter lainnya menunjukkan hasil yang normal. Kucing kasus didiagnosis mengalami vulnus morsum stadium III dan IV dengan prognosis fausta. Kucing ditangani dengan operasi penutupan luka menggunakan tiga prinsip penanganan luka, yaitu pembersihan luka (cleansing), pengangkatan jaringan yang mati dan rusak (debridement), dan penutupan luka dengan jahitan (suturing). Luka diberikan iodin dan ditutup menggunakan kasa yang mengandung antibiotik framycetin sulfate. Pasca operasi diberikan cefotaxime 20 mg/kg BB (IM q12h) selama tiga hari dan cefixime 10 mg/kg BB (PO q12h) selama empat hari serta dexamethasone 0,5 mg/ekor (PO q12h) selama tiga hari. Pada hari ke-10 pascaoperasi, kucing menunjukkan kesembuhan secara klinis yang ditandai dengan menyatunya luka, nafsu makan dan minum baik, serta adanya peningkatan bobot badan.
Sebaceous Adenoma in a Geriatric Poodle Dog: A Case Report Winaya, Ida Bagus Oka; Adi, Anak Agung Ayu Mirah; Sudimartini, Luh Made; Merdana, I Made; Sudipa, Putu Henrywaesa; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra; Sewoyo, Palagan Senopati
Jurnal Medik Veteriner Vol. 7 No. 2 (2024): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol7.iss2.2024.413-419

Abstract

A 14-year-old black male Poodle was brought to the Animal Teaching Hospital, Udayana University by its owner with clinical signs of frequent licking of its left front paw. Upon examination, red bumps were observed on the left front leg, accompanied by small, round black spots scattered on the dorsal side of the body. Additionally, black nodules were present on the lower eyelids and hind limbs. Surgical intervention was undertaken to excise the tumor mass, with the animal under anesthesia induced by ketamine at 5 mg/kg BW intravenously. The reddish nodule was excised by performing an elliptical incision at the base of tumor. Postoperatively, the animal received an antibacterial injection comprising ceftriaxone and tazobactam at 25 mg/kg BW intramuscularly and antiseptic wound dressing for supportive care. Microscopic examination revealed neoplastic cells arranged into lobules of varying sizes and shapes within the tumor mass. These lobules consisted of differentiated sebocytes and basaloid cells. At the periphery of the neoplastic lobules, the basaloid cells displayed several layers and exhibited invasion with moderate anisocytosis. The mitotic index was no more than ten cells in one field of view. Based on these histopathological features, the tumor was confirmed to be a sebaceous adenoma. After a 10-month follow-up period, there were no signs of tumor recurrence observed.