Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Keanekaragaman Echinodermata Pada Ekosistem Lamun Di Teluk Kupang NTT Suprabadevi Ayumayasari S; Lumban Nauli Lumban Toruan; Lady Cindy Soewarlan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

cukup tinggi dan berfungsi sebagai penyumbang nutrisi yang sangat berpotensi bagi perairan di sekitarnya serta dijadikan sebagai habitat bagi biota laut untuk mencari makan dan tempat berlindung. Salah satu organisme yang hidup berasosiasi dengan lamun adalah filum Echinodermata. Keberadaan Echinodermata sangat berpengaruh penting pada tingkat kesuburan substrat dasar perairan yang disebabkan karena secara tidak langsung Echinodermata merupakan biota bentik pemakan deposit (deposit feeder). Saat ini belum ada informasi tentang keanekaragaman Echinodermata pada ekosistem lamun di Pantai Tebing, Kelurahan Alak, Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, kelimpahan, dan keanekaragaman Echinodermata serta mengetahui kondisi parameter fisika kimia perairan di ekosistem lamun. Pantai Tebing di lokasi penelitian ditemukan 175 individu Echinodermata yang terdiri atas 17 spesies, 14 genus, 13 famili, dan 4 kelas. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman, keseragaman komunitas yang bervariasi. Suhu pada lokasi penelitian adalah 28,68 °C, pH sebesar 7,8, dan salinitas sebesar 30,42. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi parameter sesuai dengan baku mutu No 51 Tahun 2014 antara lain suhu, pH dan salinitas berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perairan Pantai Alak dalam kondisi yang baik.
Keanekaragaman Echinodermata Pada Ekosistem Lamun Di Teluk Kupang NTT Suprabadevi Ayumayasari S; Lumban Nauli Lumban Toruan; Lady Cindy Soewarlan
Metamorfosa: Journal of Biological Sciences Vol. 11 No. 01 (2024)
Publisher : Program Magister Ilmu Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

cukup tinggi dan berfungsi sebagai penyumbang nutrisi yang sangat berpotensi bagi perairan di sekitarnya serta dijadikan sebagai habitat bagi biota laut untuk mencari makan dan tempat berlindung. Salah satu organisme yang hidup berasosiasi dengan lamun adalah filum Echinodermata. Keberadaan Echinodermata sangat berpengaruh penting pada tingkat kesuburan substrat dasar perairan yang disebabkan karena secara tidak langsung Echinodermata merupakan biota bentik pemakan deposit (deposit feeder). Saat ini belum ada informasi tentang keanekaragaman Echinodermata pada ekosistem lamun di Pantai Tebing, Kelurahan Alak, Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, kelimpahan, dan keanekaragaman Echinodermata serta mengetahui kondisi parameter fisika kimia perairan di ekosistem lamun. Pantai Tebing di lokasi penelitian ditemukan 175 individu Echinodermata yang terdiri atas 17 spesies, 14 genus, 13 famili, dan 4 kelas. Nilai indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi pada lokasi penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman, keseragaman komunitas yang bervariasi. Suhu pada lokasi penelitian adalah 28,68 °C, pH sebesar 7,8, dan salinitas sebesar 30,42. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kondisi parameter sesuai dengan baku mutu No 51 Tahun 2014 antara lain suhu, pH dan salinitas berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa perairan Pantai Alak dalam kondisi yang baik.
Sosialisasi dan Edukasi Pencemaran Sampah Plastik Laut di SMP Negeri 2 Semau Yudishinta Missa; Ahazia Imanuel Tampa; Lady Cindy Soewarlan; Lebrina Ivantry Boikh; Nikanor Hersal Armos; Winster Larwuy; Rifka Liling Palinggi; Desy Amalia Hidayati
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v3i2.515

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai ancaman pencemaran sampah plastik di perairan laut, khususnya pada wilayah pesisir Pulau Semau yang rentan terhadap akumulasi sampah. Sosialisasi berfokus pada sumber pencemar, karakteristik plastik yang sulit terurai, dampaknya terhadap ekosistem dan kesehatan, serta strategi pengurangan sampah melalui pendekatan 5R. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi secara interaktif melalui presentasi visual, diskusi, dan sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan melalui observasi terhadap keterlibatan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman siswa terkait bahaya sampah plastik dan pentingnya tindakan preventif dalam menjaga kebersihan laut, yang tercermin dari tingginya partisipasi dan kemampuan mereka mengidentifikasi solusi sederhana di lingkungan sekolah maupun rumah. Kegiatan ini dinilai efektif dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan dan mendorong siswa berperan sebagai agen perubahan. Program direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan diperluas ke komunitas pesisir lainnya.
Tingkat Pencemaran Perairan Laut di Pesisir Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia: Pollution Level of Sea Water on The Coast of Kupang Bay, East Nusa Tenggara, Indonesia Yulita Hellen Fernandez; toruan, lumban nauli lumban; Soewarlan, Lady Cindy
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 1 No. 1 (2023): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea May 2023
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2023.001.01.3

Abstract

Pencemaran air laut telah menjadi permasalahan yang umum terjadi pada wilayah pesisir, sebagai akibat dari peningkatan aktivitas di lingkungan perairan pesisir. Tingginya aktivitas yang dilakukan di wilayah pesisir Kota Kupang berkontribusi terhadap menurunnya kualitas perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perairan dan status pencemaran perairan pesisir. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Agustus 2021 di perairan pesisir Kota Kupang. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pencemaran tertinggi pada saat pasang ditemukan pada perairan Pelabuhan Tenau dengan nilai indeks pencemar 6,68 dan terendah pada perairan Lasiana dengan nilai indeks pencemar 3,19. Tingkat pencemaran tertinggi pada saat surut terdapat pada perairan Pelabuhan Tenau dengan nilai indeks pencemaran 6,61 dan terendah pada perairan Oesapa (2,95). Secara keseluruhan, maka perairan pesisir Kota Kupang pada saat pasang dan surut tergolong tercemar sedang.   Seawater pollution has become a problem that occurs in the coastal environment as a result of increased activity in the coastal water environment. The high level of activities carried out in the coastal waters of Kupang City is also feared to have an impact on pollution for water quality conditions. The purpose of this research was to determine the water quality and pollution status of coastal waters.  This research was conducted in August 2021, located in the coastal waters of Kupang City. The sampling method is carried out by purposive sampling method. The results showed that the highest level of pollution at high tide was found in the waters of Tenau Port with a pollution index value of 6.68 and the lowest in Lasiana waters with a pollution index value of 3.19. The highest level of pollution at low tide is found in the waters of Tenau Port with a pollution index value of 6.61 and the lowest is in Oesapa waters (2,95). Overall, the coastal areas of Kupang City at high tide and low tide are classified as moderately polluted.
Kontaminasi Mikroplastik Pada Insang dan Usus Ikan Tongkol (Auxis thazard) yang Ditangkap di Perairan Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur toruan, lumban nauli lumban; Qomariah, Siti; Soewarlan, Lady Cindy
Water and Marine Pollution Journal: PoluSea Vol. 4 No. 1 (2026): Water and Marine Pollution Journal: PoluSea April 2026
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.polusea.2026.004.01.4

Abstract

Pencemaran mikroplastik menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut karena sifatnya yang persisten, berukuran kecil (≤ 5 mm), dan berpotensi terakumulasi dalam organisme akuatik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi dan karakteristik mikroplastik pada organ insang dan usus ikan tongkol (Auxis thazard) yang ditangkap di Perairan Teluk Kupang, Indonesia. Ekstraksi mikroplastik dilakukan melalui destruksi kimia jaringan menggunakan larutan HNO₃ 65%, diikuti filtrasi (0,45 µm), dan identifikasi menggunakan mikroskop. Mikroplastik terdeteksi pada 80,8% individu, dengan tipe fiber sebagai satu-satunya tipe mikroplastik yang ditemukan pada kedua organ, yang menunjukkan dominasi sumber dari serat sintetis yang berkaitan dengan aktivitas domestik dan perikanan. Kelimpahan mikroplastik secara signifikan lebih tinggi pada insang (2,2 ± 1,7 partikel per individu) dibandingkan pada usus (1,2 ± 1,0 partikel per individu), yang menunjukkan peran insang sebagai jalur utama paparan melalui air, sementara keberadaan di usus mencerminkan proses asupan melalui rantai makanan. Mikroplastik berwarna hitam mendominasi baik pada insang (49,3%) maupun usus (43,5%), yang mengindikasikan adanya akumulasi selektif dan/atau perbedaan ketersediaan di lingkungan. Temuan ini menunjukkan adanya berbagai jalur paparan mikroplastik pada ikan pelagis serta menunjukkan dominasi partikel tipe fiber sebagai indikator utama masukan antropogenik di perairan pesisir. Penelitian ini menyediakan data dasar terkait kontaminasi mikroplastik pada ikan pelagis bernilai ekonomis penting serta menekankan urgensi penerapan strategi pengelolaan terpadu untuk mengurangi masukan mikroplastik ke dalam ekosistem laut.   Microplastic pollution poses a serious threat to marine ecosystems due to its persistence, small size (≤ 5 mm), and potential to accumulate in aquatic organisms. This study aimed to analyze the distribution and characteristics of microplastics in the gills and intestines of frigate tuna (Auxis thazard) collected from Kupang Bay, Indonesia. Microplastics were extracted through chemical digestion of tissues using 65% HNO₃, followed by filtration (0.45 µm) and microscopic identification. Microplastics were detected in 80.8% of individuals, with fibers as the only type observed in both organs, indicating a dominant input from synthetic fibers associated with domestic and fisheries-related activities. Microplastic abundance was significantly higher in the gills (2.2 ± 1.7 particles per individual) than in the intestines (1.2 ± 1.0 particles per individual), suggesting that gills serve as the primary pathway for waterborne exposure, while intestinal presence reflects trophic ingestion. Black-colored microplastics predominated in both the gills (49.3%) and intestines (43.5%), indicating selective accumulation and/or differences in environmental availability. These findings reveal multiple exposure pathways in pelagic fish and highlight the dominance of fiber-type particles as a key indicator of anthropogenic inputs in coastal waters. This study provides baseline data on microplastic contamination in an economically important pelagic species and emphasizes the need for integrated management strategies to reduce microplastic inputs into marine ecosystems.
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN ALAT TANGKAP RAWAI DASAR (MINI BOTTOM LONG LINE) DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI TENAU KUPANG Maria Selviana Luruk; Alexander Leonidas Kangkan; Lady Cindy Soewarlan; Kiik Gretty Sine
Jurnal Bahari Papadak Vol 7 No 1 (2026): Jurnal Bahari Papadak
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak - Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi sosial ekonomi nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tenau Kupang yang masih menghadapi ketidakpastian pendapatan akibat hasil tangkapan yang dipengaruhi musim, cuaca, serta biaya operasional penangkapan. Padahal sektor perikanan memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya nelayan rawai dasar (mini bottom long line). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan nelayan alat tangkap rawai dasar di PPP Tenau Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif dan didukung analisis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap 17 responden nelayan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data yang dianalisis meliputi biaya tetap, biaya operasional, penerimaan, dan pendapatan bersih nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan nelayan rawai dasar dipengaruhi oleh jumlah hasil tangkapan, jenis ikan, harga jual ikan, serta besarnya biaya operasional yang dikeluarkan selama kegiatan penangkapan. Sistem bagi hasil antara pemilik dan nahkoda juga memengaruhi besarnya pendapatan yang diterima nelayan di PPP Tenau Kupang.Kata kunci: pendapatan nelayan, rawai dasar, biaya operasional, penerimaan, PPP Abstract - This research is motivated by the socio-economic conditions of fishermen at the Tenau Kupang Coastal Fishing Port (PPP), who still face income uncertainty due to catches influenced by seasons, weather, and fishing operational costs. However, the fisheries sector has great potential in improving the welfare of coastal communities, especially bottom long line fishermen. This study aims to analyze the income of bottom long line fishermen at the Tenau Kupang Coastal Fisheries Port (PPP). The research method used is a survey method with a quantitative approach and supported by qualitative descriptive analysis. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation of 17 fishermen selected using a purposive sampling technique. The data analyzed included fixed costs, operational costs, revenues, and net income. The results showed that the income of bottom longline fishermen was influenced by the amount of catch, fish species, fish selling price, and the amount of operational costs incurred during fishing activities. The profit-sharing system between the owner and the captain also influenced the amount of income received by fishermen at the Tenau Kupang PPP.Keywords: fishermen's income, bottom longline, operational costs, revenue, PPP