Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PELABUHAN WISATA DI MANADO. Biomimetik Arsitektur Sayun, Wayan S.; Sondakh, Julianus A. R.; Tungka, Aristotulus E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20840

Abstract

Kota Manado merupakan salah satu kota yang dikenal sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) di kawasan Timur Indonesia. Sejak dilaksanakannya program MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean, Kota Manado menjadi Pintu Gerbang program tersebut di kawasan pasifik. Dalam merespon hal tersebut, pemerintah Kota Manado hendak mengembangkan sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan peningkatan perekonomian, diantaranya sektor pariwisata. Salah satu potensi wisata yang berpeluang meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan wisatawan baik mancannegara maupun domestik, yaitu dengan Pelabuhan Wisata di Manado. Dengan demikian, perlu adanya suatu objek yang dapat membantu dan berkontribusi dalam mengembangkan pariwisata Kota Manado. Maka dihadirkanlah “Pelabuhan Wisata di Manado” dengan implementasi tema “Arsitektur Biomimetik”. Tema ini adalah seni dalam menciptakan atau membentuk suatu bangunan dengan mengemulsasi bentukan dari makhluk hidup dan juga melihat alam sebagai : model, measure (ukuran)  dan mentor untuk menciptakan suatu karya arsitektur, arsitektur biomimetik juga menekankan pada perencanaan bangunan dan perancangan ruang yang hemat energi dan futuristik.Kata kunci : Pelabuhan Wisata, Arsitektur Biomimetik.
PERANCANGAN AGROWISATA di MODOINDING, MINAHASA SELATAN-Estetika Lansekap Laatung, Felano Gregorio; Wuisang, Cynthia E.; Tungka, Aristotulus E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai tempat yang dijuluki Dapur Indonesia timur, Kecamatan Modoinding menjadi salah satu ponsdasi untul menyokong perkembangan perekonomian nasional di bidang pertanian dan pariwisata. Dengan potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Modoinding terutama di sektor pertanian, Kec Modoinding menjadi produsen bahan pangan terbesar di Sulawesi Utara. Untuk mengoptimalkan produktivitas dalam bidang pertanian dan pariwisata ke arah yang lebih modern diperlukan sebuah fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan edukasi, penelitian, budidaya, dan rekreasi yang meningkatkan nilai perekonomian sekaligus estetika dan keindahan alam dalam suatu kawasan. Perancangan objek agrowisata dapat menjadi solusi untuk permasalahan di atas. Selain menampung kegiatan edukasi, budidaya, dan pelestarian sumber daya alam, objek ini juga diperuntukan untuk destinasi wisata dengan memfokuskan pada potensi pertanian. Dengan pendekatan Tematik Arsitektur Lansekap, pada hakekatnya arsitektur lansekap adalaah ilmu dan seni perancangan atau perencanaan serta pengaturan ruang luar, penyusunan elemen-elemen alam dan buatan melalui ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tercipta suatu lingkungan yang fungsional dan estetis. Dengan kehadiran objek rancangan ini serta pendekatan tematik yang digunakan diharapkan mampu memberikan pemahaman dalam pemanfaatan ruang terbuka dan mampu bertindak dan menghasilgunakan potensi dan kemampuan lingkungan alam secara bijaksana sebagai kebutuhan lingkungan manusia. As the place is nicknamed the "Kitchen of Eastern Indonesia," Modoinding Regency serves as a foundation supporting national economic development in the fields of agriculture and tourism. With its potential, especially in the agricultural sector, Modoinding Regency is the largest food producer in North Sulawesi. To optimize agricultural productivity and tourism towards a more modern direction, facilities are needed that can accommodate educational, research, cultivation, and recreational activities that increase economic value while enhancing the aesthetics and natural beauty of the region. Agrotourism can be a solution to this problem. In addition to providing educational activities, cultivation, and natural resource conservation, these locations are also designated as tourist destinations with a focus on agricultural potential. With a Thematic Landscape Architecture, landscape architecture is essentially the science and art of designing/planning and arranging outdoor spaces, arranging natural and artificial elements through the application of science and culture, while maintaining a balance between service needs and resource conservation, which ultimately creates a functional and aesthetic environment. The presence of design objects and this thematic approach is expected to provide an understanding of the use of open spaces and enable students to act wisely to utilize and utilize the potential and capabilities of the natural environment according to human needs.
PERANCANGAN AGROWISATA di MODOINDING, MINAHASA SELATAN-Estetika Lansekap Laatung, Felano Gregorio; Wuisang, Cynthia E.; Tungka, Aristotulus E.
MEDIA MATRASAIN Vol. 22 No. 2 (2025): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai tempat yang dijuluki Dapur Indonesia timur, Kecamatan Modoinding menjadi salah satu ponsdasi untul menyokong perkembangan perekonomian nasional di bidang pertanian dan pariwisata. Dengan potensi yang dimiliki oleh Kecamatan Modoinding terutama di sektor pertanian, Kec Modoinding menjadi produsen bahan pangan terbesar di Sulawesi Utara. Untuk mengoptimalkan produktivitas dalam bidang pertanian dan pariwisata ke arah yang lebih modern diperlukan sebuah fasilitas yang dapat mewadahi kegiatan edukasi, penelitian, budidaya, dan rekreasi yang meningkatkan nilai perekonomian sekaligus estetika dan keindahan alam dalam suatu kawasan. Perancangan objek agrowisata dapat menjadi solusi untuk permasalahan di atas. Selain menampung kegiatan edukasi, budidaya, dan pelestarian sumber daya alam, objek ini juga diperuntukan untuk destinasi wisata dengan memfokuskan pada potensi pertanian. Dengan pendekatan Tematik Arsitektur Lansekap, pada hakekatnya arsitektur lansekap adalaah ilmu dan seni perancangan atau perencanaan serta pengaturan ruang luar, penyusunan elemen-elemen alam dan buatan melalui ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya, hingga pada akhirnya dapat tercipta suatu lingkungan yang fungsional dan estetis. Dengan kehadiran objek rancangan ini serta pendekatan tematik yang digunakan diharapkan mampu memberikan pemahaman dalam pemanfaatan ruang terbuka dan mampu bertindak dan menghasilgunakan potensi dan kemampuan lingkungan alam secara bijaksana sebagai kebutuhan lingkungan manusia. As the place is nicknamed the "Kitchen of Eastern Indonesia," Modoinding Regency serves as a foundation supporting national economic development in the fields of agriculture and tourism. With its potential, especially in the agricultural sector, Modoinding Regency is the largest food producer in North Sulawesi. To optimize agricultural productivity and tourism towards a more modern direction, facilities are needed that can accommodate educational, research, cultivation, and recreational activities that increase economic value while enhancing the aesthetics and natural beauty of the region. Agrotourism can be a solution to this problem. In addition to providing educational activities, cultivation, and natural resource conservation, these locations are also designated as tourist destinations with a focus on agricultural potential. With a Thematic Landscape Architecture, landscape architecture is essentially the science and art of designing/planning and arranging outdoor spaces, arranging natural and artificial elements through the application of science and culture, while maintaining a balance between service needs and resource conservation, which ultimately creates a functional and aesthetic environment. The presence of design objects and this thematic approach is expected to provide an understanding of the use of open spaces and enable students to act wisely to utilize and utilize the potential and capabilities of the natural environment according to human needs.