Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Pelayanan Preventif Terhadap Pasien Anak Yang Diberikan Oleh Dokter Praktek Umum Mandiri Di Kecamatan Soreang Abdullah Mushlih; Nita Arisanti; Kuswandewi Mutyara
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.414 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i3.11959

Abstract

Pelayanan preventif dapat menghemat biaya kesehatan dan sesuai dengan masalah kesehatan yang banyak terjadi pada anak, namun pelaksanaan pelayanan ini masih rendah. Pelayanan preventif yang menjadi kompetensi dokter umum antara lain imunisasi, skrining dan pengurangan risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi jenis dan faktor yang memengaruhi perilaku pemberian pelayanan preventif pada pasien anak. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan terhadap dokter praktik umum mandiri di Kecamatan Soreang. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam kepada dokter mengenai pelayanan preventif yang diberikan kepada pasien anak dan faktor yang memengaruhinya sampai didapat jawaban pertanyaan yang jenuh. Analisis data dilakukan dengan transkripsi, reduksi dan kategorisasi. Penelitian ini dilakukan dari September sampai Desember 2015. Penelitian ini telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Hasil wawancara mendalam dilakukan kepada 5 orang informan. Dua dari lima informan melakukan pelayanan imunisasi, namun hanya jenis imunisasi dasar. Seluruh informan tidak melaksanakan skrining, identifikasi risiko, dan pengurangan risiko secara rutin hanya yang menjadi bagian dari proses pengobatan pasien yang dilakukan. Perilaku pemberian pelayanan preventif dipengaruhi oleh, motivasi dan pengetahuan dokter, sosial ekonomi pasien, waktu pelayanan, fasilitas, permintaan pasien, pedoman dan peraturan. Kesimpulan perilaku pemberian pelayanan preventif terhadap pasien anak yang diberikan oleh dokter umum praktek mandiri belum menjadi kegiatan yang rutin diberikan. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain motivasi dan pengetahuan dokter, waktu pelayanan, fasilitas, sosial ekonomi pasien, permintaan pasien, pedoman, dan peraturan.Kata Kunci: Anak, dokter umum, pelayanan preventif
Evaluation on the Implementation of Rural-Based Program for Undergraduate Medical Student Nita Arisanti; Insi Farisa Desy Arya; Indah Amelia; Kuswandewi Mutyara; Elsa Pudji Setiawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.175 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.2986

Abstract

Evaluation of a program is needed to determine whether the program could be implemented and generate inputs to improve the program. The objective of this study was to evaluate the implementation of community-based programs for medical clerkship students in rural areas. This research was a qualitative study using interpretivism paradigm and case study approach. Data collection method was focus group discussions with the head of publichealth center (puskesmas) and preceptor. Data were analyzed through transcription, coding, categorization, and generating theme. The study was conducted from August 2015 to November 2016 in Sukabumi and Cianjur, West Java. Triangulation method and member check were conducted to elicit valid and reliable data. Two focus group discussions were conducted with 11 informants comprises 5 heads of puskesmas and 6 preceptors. There were 7 themes generated from the discussion. The themes were socialized and disseminate the information; collaboration and local government involvement; integration of education and service; encourage lifelong learning; encourage the improvement of performance; skill enhancement; and sustainability. Implementation of community-based medical education curriculum in rural areas has been implemented. Sustainability of the curriculum is needed to contribute to the improvement of community health status.EVALUASI IMPLEMENTASI PROGRAM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DI DAERAH PEDESAAN UNTUK PROGRAM PROFESI DOKTER Evaluasi sebuah program dibutuhkan untuk mengetahui apakah program tersebut dapat dilaksanakan dan mendapatkan masukan yang akan digunakan dalam rangka memperbaiki program. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi pelaksanaan program pendidikan kedokteran berbasis daerah pedesaan untuk mahasiswa profesi dokter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretivism dan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan diskusi kelompok terarah kepada kepala puskesmas dan preseptor lapangan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Agustus 2015 sampai November 2016 di Sukabumi dan Cianjur, Jawa Barat. Analisis data hasil wawancara dilakukan melalui proses transkripsi, koding, kategorisasi, dan penyusunan tema. Triangulasi dan member check dilakukan untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel. Dua diskusi kelompok terarah dilakukan kepada 11 informan yang terdiri atas 5 orang kepala puskesmas dan 6 orang preseptor. Berdasar atas hasil diskusi didapatkan 7 tema dalam evaluasi kurikulum pendidikan, yaitu sosialisasi dan diseminasi informasi; kolaborasi dan keterlibatan pemerintah setempat; integrasi pendidikan dan pelayanan; mendorong pembelajaran sepanjang hayat; mendorong peningkatan kinerja staf; pemahiran keterampilan; serta keberlanjutan. Pelaksanaan kurikulum pendidikan kedokteran berbasis komunitas di daerah pedesaan telah dilakukan dengan baik, hal ini terlihat dari beberapa manfaat yang dikemukakan oleh informan. Agar implementasi kurikulum ini memberikan hasil yang lebih baik untuk masyarakat dibutuhkan keberlanjutan program.
Effects of Motivation, Knowledge, and Skills of Lung Tuberculosis Officers on Case Detection Rate of Health Centers Margareta Suhanika Purnaningsih; Elsa Pudji Setiawati; Kuswandewi Mutyara
Review of Primary Care Practice and Education (Kajian Praktik dan Pendidikan Layanan Primer) Vol 5, No 1 (2022): January
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/rpcpe.53026

Abstract

Background: One of the main indicators of tuberculosis prevention is the Case Detection Rate (CDR). The CDR of health centers in East Lampung Regency in 2017 was 24.8% which is still below the national standard. Case finding was still being done passively and suspect screening in several health centers was found lacking attention to the patient's medical history. Accordingly, increasing CDR needs improvement efforts to be strongly influenced by tuberculosis officers.Objectives: This study aimed to determine the effects of motivation, knowledge and skills of tuberculosis Officers on CDRs of community health centers in East Lampung Regency.Methods: This study is a cross-sectional quantitative study with total sampling. Data were obtained from questionnaires, checklists and secondary data from community health centers and East Lampung District Health Office. Respondents are 34 community health centers in Lampung Timur represented by 89 officers. Dependent variable was CDR while motivation, knowledge, and skills were the independent variables. The data were analyzed by Rank Spearman tests and multiple linear regression methods.Results: Respondents showed they were lacking in motivation, good knowledge and skills. Rank Spearman correlation coefficient ranged between 0.665 to 0.696 with sig.=0,000. Regression sig values were 0.000 for motivation, 0.0962 for knowledge and 0.001 for skills. Adjusted R square was 0.703, while regression coefficient was 2.872 for motivation and 1.196 for skills.Conclusion: There were significant correlations between motivation, knowledge and skills with CSRs of community health centers in East Lampung Regency. Knowledge had no effect on CSR but motivation and skills have a significant effect partially and simultaneously. Motivation contributed the biggest effect.
FAKTOR DETERMINAN SOSIAL DAN FUNGSI KELUARGA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH LANJUT USIA Hari Peni Julianti; Nita Arisanti; Kuswandewi Mutyara
Media Medika Muda Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi dan insidensi nyeri punggung bawah (NPB) pada lanjut usia (lansia) menunjukkan peningkatan. Dampak NPB adalah nyeri,spasme pada otot, fleksibilitas punggung berkurang, fungsi punggung terganggu, keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (AKS) dan kualitas hidup yang kurang. Faktor determinan sosial seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, status ekonomi, kepemilikan asuransi kesehatan dan fungsi keluarga merupakan faktor yang dapat berhubungan dengan kualitas hidup lansia penderita NPB. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan determinan sosial dan fungsi keluarga dengan kualitas hidup lansia dengan NPB. Manfaat penelitian adalah sebagai sumber informasi pengetahuan dan meningkatkan pelayanan kesehatan di layanan kesehatan primer terutama upaya promotif dan preventif.Metode : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Subyek penelitian adalah lansia yang mengalami NPB di daerah praktik lapangan Interprofessional Education Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Puskesmas Rowosari Semarang. Determinan sosial yang dinilai adalah  tingkat pendidikan, status ekonomi, jenis kelamin, usia dan kepemilikan asuransi kesehatan. Fungsi fisiologis keluarga diukur dengan APGAR dan fungsi patologis keluarga diukur dengan SCREEM.  Kualitas hidup dinilai dengan SF-36. Analisis statistik menggunakan uji Chi Squre.Hasil :. Hasil uji dengan chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara usia dengan kualitas hidup lansia penderita NPB (p=0,18), jenis kelamin dengan kualitas hidup lansia penderita NPB (p=0,82). Tingkat pendidikan (p=0,006, OR=8,31,SD=1,71-40,32) dan status ekonomi (p-0,00, OR=7,84, SD=2,82-21,77) serta kepemilikan asuransi kesehatan (p=0,005, OR=4,43, SD=1,65-11,89) menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kualitas hidup penderita NPB lansia.  Fungsi fisiologis (0,00, OR=30,86, SD=6,43-148-18) dan fungsi patologis (p=0,00, OR=44,18, SD=9,04-216,03) keluarga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kualitas hidup penderita NPB lansia  .Simpulan : Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan, status ekonomi, kepemilikan asuransi kesehatan, fungsi fisiologis dan fungsi patologis keluarga dengan kualitas hidup lansia penderita NPB. Kata kunci : determinan sosial, fungsi keluarga, kualitas hidup, nyeri punggung bawah, lansia.
PENGEMBANGAN MODEL KONSELING KB BERBASIS VIDEO Astri Nurdiana; Firman Wirakusumah; Kuswandewi Mutyara
2-TRIK: TUNAS-TUNAS RISET KESEHATAN Vol 6, No 4 (2016): November 2016
Publisher : FORUM ILMIAH KESEHATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.041 KB)

Abstract

Salah satu rendahnya cakupan MKJP adalah karena rendahnya pengetahuan calon akseptor mengenai MKJP. Video dapat menjadi alternatif media konseling KB yang menarik dan mudah diingat oleh calon akseptor untuk mengatasi permasalahan tersebut. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu dengan pre-post test design. Sampel penelitian adalah 62 ibu nifas 10−14, terdiri atas kelompok kontrol dan perlakuan. Pre test pengetahuan dilakukan dengan mengisi enam pertanyaan pada hari ke 10−14 masa nifas. Post test pengetahuan dilakukan pada 36−40 hari masa nifas. Pre test pemilihan MKJP dilakukan dengan wawancara dan post test pemilihan MKJP dilakukan observasi sampai ibu nifas menggunakan alat kontrasepsi. Hasil penelitian didapatkan perbedaan pengetahuan MKJP pada kelompok kontrol dan perlakuan sebelum dengan sesudah perlakuan (p
Cultural perceptions of child abuse in terms of parents’ perspective: a qualitative study in Bandung-Indonesia Reizkiana Feva Kosmah Dewi; Viramitha Kusnandi Rusmil; Sri Endah Rahayuningsih; Kuswandewi Mutyara; Nita Arisanti; Nanan Sekarwana; Meita Dhamayanti
Journal of Community Empowerment for Health Vol 5, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcoemph.73142

Abstract

Child abuse (CA) is a serious problem and difficult to detect. According to World Health Organization, CA is responsible for 950,000 deaths of children. Many various cultural norms may affect CA. This research aims to determine the cultural perceptions of child abuse in terms of parents in Indonesia. A qualitative study using focus group discussions (FGDs) was conducted with 31 parents who were selected purposively. The FGDs centered on the CA definition, classification, frequency, level of CA (mild, moderate, and severe), and the difference between violence and discipline. The FGDs were divided into three groups based on level of education completeed: elementary and junior high school, senior high school, and bachelor’s degree. The process of the FGDs was recorded, transcribed, and analyzed using manifest qualitative content analysis. This study was conducted from December 2018 to April 2019 in Pamekaran, Soreang Bandung. Every culture in Indonesia perceived that CA is a form of parents’ emotion that could injure children physically and mentally. Indonesian cultures were not familiar with neglect and exploitation. Participants’ opinions regarding level of violence can be categorized as severe if leaving wounds, and needing to be hospitalized. The parents assumed there was CA if it occurred more than twice and/or leaving marks. The discipline purpose is not to mistreat, but for protecting their children’s life, building characters, and educating the children. In conclusion, a cultural perception of parents about CA is a form of parents’ emotion which leads to injury of children physically and mentally.
Knowledge, Subjective Norm, Attitude, Perceived Behavior Control, Intentions About Hemoglobin in Pandemic Pregnant Women Maria Agnes Kun Mawardani; Kuswandewi Mutyara; Siska Wiramihardja
Jurnal Health Sains Vol. 4 No. 2 (2023): Journal Health Sains
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jhs.v4i2.829

Abstract

Anemia will increase the risk of miscarriage, giving birth to babies with low birth weight, born prematurely, the risk of bleeding before and or during delivery which can cause the death of the mother and baby. According to the Indonesian Ministry of Health, in 2021, Banten Province is part of the 6 provinces that contribute 50% of maternal mortality cases. The purpose of this study was to analyze the effect of anemia and nutrition education on hemoglobin levels in anemic pregnant women in primary care during the COVID-19 pandemic. This study uses a quasi-experimental design with the nonequivanlent control group design. A sample of 40 pregnant women with anemia in the second trimester in Primary Services in Tangerang City, Banten Province. Consisting of 20 pregnant women in the experimental group and 20 people in the control group. Anemia and nutrition education is given to pregnant women individually at the first visit for ANC and follow-up education via WA/SMS every week for 4 weeks and during ANC visits primary data is collected using a semi-structured questionnaire for interviews and hemoglobin levels are also checked. at the start of the ANC visit and 4 weeks later. Data were collected after 4 weeks for anemia and nutrition education intervention and data were analyzed using T test, Wilcoxon test, Mann Whitney test. Active collaboration support between medical personnel and pregnant women through online media Whatsapp/SMS reminder. Effect of anemia and nutrition education on hemoglobin levels in anemic pregnant women in primary care during the Covid 19 period.
Pengaruh Edukasi Anemia dan Gizi Pada Pengetahuan, Norma Subyektif, Sikap, Perceived Behavior Control dan Niat Terhadap Kadar Hemoglobin Pada Ibu Hamil Anemia di Layanan Primer Pada Masa Pandemi Covid-19 Maria Agnes Kun Mawardani; Kuswandewi Mutyara; Siska Wiramihardja
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.525 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i11.11721

Abstract

Pada ibu hamil, anemia akan mempertinggi risiko keguguran, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, lahir sebelum waktunya, risiko perdarahan sebelum dan atau pada saat persalinan yang dapat menyebabkan kematian ibu dan bayinya. Menurut Kemenkes RI, 2021, Provinsi Banten termasuk bagian 6 Provinsi penyumbang 50% kasus kematian ibu. Tujuan studi ini adalah untuk menganalisa pengaruh dari edukasi edukasi anemia dan gizi terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil anemia di layanan primer pada masa pandemi covid-19. Penelitian ini menggunakan disain kuasi eksperimen dengan dengan rancangan the nonequivalent control group design. Sampel sebanyak 40 orang ibu hamil anemia trimester 2 di Layanan Primer di Kota Tangerang Provinsi Banten. Terdiri dari 20 orang ibu hamil pada kelompok eksperimen dan 20 orang pada kelompok kontrol. Data dikumpulkan setelah 4 minggu untuk intervensi pendidikan anemia dan gizi dan data dianalisis menggunakan uji T test, uji Uji Wilcoxon, Uji Mann Whitney. Hasil penelitian menyimpulkan ada perbedaan yang signifkan antara kelompok eksperimen dan kontrol pada tingkat pengetahuan (P Value= 0.000), Norma Subyektif (P Value= 0.000), sikap (P Value= 0.005), pengetahuan umum (P Value= 0.000), kadar hemoglobin (P Value= 0.000). Dan hasil penelitian menunjukkan hasil hasil yang tidak signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol adalah pada Perceived Behavioral Control (P Value= 1.000) dan niat (P Value= 0.602). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada pengaruh edukasi anemia dan gizi terhadap kadar hemoglobin pada ibu hamil anemia di layanan primer pada masa covid 19.
Patient Satisfaction with National Health Insurance and Public Health Center Accreditation: Lessons Learnt from Majalengka Regency, Indonesia Ruhiyat, Yayat; Sunjaya, Deni Kurniadi; Gondodiputro, Sharon; Mutyara, Kuswandewi; Sujatmiko, Budi; Arisanti, Nita
Althea Medical Journal Vol 10, No 4 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15850/amj.v10n4.2743

Abstract

Background: Perceptions of patient satisfaction influence the quality of the public health center (Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas) services. This study aimed to determine the differences in the level of patient satisfaction with national health insurance and the accreditation status of Puskesmas.Methods: This quantitative analytical study using a cross-sectional method was conducted at four Puskesmas in Majalengka Regency from October to November 2021 using a purposive sampling technique. The instrument used was the community satisfaction instrument (IKM-29) questionnaire , with the variable measured being the level of satisfaction. Data was transformed into numerical form using Rasch modelling and analyzed using the Chi-Square, independent-t, and one-way ANOVA tests.Results: A total of 273 respondents consisted of insured (Jaminan Kesehatan Nasional, JKN) and non-insured (non-JKN) respondents, resulting in the satisfaction mean value between JKN and non-JKN patients of 2.50 and 2.51 (p-value= 0.926). Satisfaction at Puskesmas levels 1 (Dasar), 2 (Madya), 3 (Utama), and 4 (Paripurna) was 2.15, 2.23, 2.56, 3.03, respectively (p-value = 0.002), indicating an increase in the level of satisfaction at the Puskesmas accreditation level.Conclusion: There is no difference in satisfaction between respondents using JKN and non-JKN. However, there is an increase in satisfaction related to the Puskesmas accreditation level. It is recommended for each Puskesmas to maintain the same service to all patients and improve the quality of service, especially in service dimensions that are considered inferior. Additionally, it is necessary to review the minimum standard value for accreditation programs.
Epidemiology and population-based incidence of influenza in two communities, Bandung district, West Java, Indonesia, 2008–2011 Agustian, Dwi; Mutyara, Kuswandewi; Murad, Chrysanti; M. Uyeki, Timothy; B. Kartasasmita, Cissy; Simoes, Eric AF.
Narra J Vol. 4 No. 3 (2024): December 2024
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v4i3.981

Abstract

Influenza surveillance is important for monitoring influenza virus circulation and disease burden to inform influenza prevention and control measures.  The aim of this study was to describe the epidemiology and to estimate the incidence of influenza in two communities in West Java, Indonesia, before and after the 2009 H1N1 pandemic. A population-based surveillance study in the community health care setting was conducted to estimate the annual incidence of influenza. A real-time reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) assay was used for influenza case ascertainment. A population census was implemented to calculate the population at risk and estimate community health care utilization rate. The mean annual incidence of influenza A and B, adjusted for healthcare utilization, was 1.6 (95%CI: 1.3–2.0) and 0.7 (95%CI: 0.5–1.0) per 1000 persons, respectively, with the most affected group being young and school-age children. The annual cumulative incidence of influenza A for children under five in 2009, 2010, and 2011 was 7.0 (95%CI: 4.4–11.2), 10.6 (95%CI: 7.3–15.4), and 6.3 (95%CI: 3.8–10.2). For influenza B was 4.3 (95%CI: 2.4–7.8), 2.0 (95%CI: 0.8–4.7), and 0.4 (95%CI: 0.1–2.8), respectively. This study highlights that the incidence of influenza among young and school-age children is consistently higher compared to adults and the elderly throughout these periods. These populations are potential targets for influenza vaccination in Indonesia.