Claim Missing Document
Check
Articles

TUARA PATUH : KARAKTER WAYANG KLUPAK TIYING PADA BUSANA EXCOTIC DRAMATIC Ardhanariswari, I Gst. Ayu Agung Sista; K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.385 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.735

Abstract

Wayang Klupak Tiying merupakan salah satu tradisi yang terdapat di Desa Batubulan, Gianyar, Bali yang cukup jarang diketahui oleh masyarakat pada umumnya, metafora dari karakter wayang Merdah dan Tualen pada tradisi wayang klupak tiying menjadi inspirasi utama pada karya penciptaan ini. Karakter wayang Merdah dan Tualen yang dipenuhi dengan kesederhanaan dan ketulusan untuk membimbing atau menuntun agar tidak terjadi bala pada diri setelah kecelakaan merupakan makna dari penggunaan sarana wayang klupak tiying pada upacara pengulapan yang tergolong sederhana.Dalam proses penciptaan busana pria dan wanita ini melalui 8 tahapan penciptaan "FRANGIPANI” TheSecret Steps of Art Fashion (Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan tersebut ialah (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), prototypes, sample and contraction, koleksi akhir (final collection), promosi, pemasaran, brand dan penjualan (promotion), marketing, (branding and sale), produksi (production) dan juga bisnis (business). Hasil akhir penciptaan ini berupa busana pria ready to wear, busana wanita ready to wear deluxe dan busana wanita Couture. Melalui penciptaan karya dalam bidang fashion ini, diharapkan kebudayaan lokal khususnya tradisi pengulapan wayang klupak tiying dengan unsur budaya dan tradisi semakin diketahui dan menjadi media penambah ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas
AMBON CARDINAL FISH : ANALOGI IKAN CAPUNGAN AMBON DALAM BUSANA BERGAYA GLAMOUR ELEGANT Sintya Dewi, Ni Komang Atik; Radiawan, I Made; Mayun KT, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.072 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.740

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan : (1) mewujudkan ide Ikan Capungan Ambon ke dalam busana Ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture, (2) strategi pemasaran branding dan penjualan koleksi busana ambon cardinal fish, (3) sistem produksi dan bisnis koleksi busana Ambon cardinal fish. Metode yang digunakan dalam proses penciptaan busana ini diwujudkan dengan 10 tahapan frangipani, the secret steps of art fashion yang meliputi finding the brief idea based on balinee culture, research and sourching, analising art fashion element, narating into design, giving a soul- TAKSU, interpreting the singularity of art fashion, promoting the final collection, affirmation branding, navigating art fashion production, introducing art fashion bussiness. Proses penciptaan yang digunakan yaitu design development, prototype, sample and construction, alat dan bahan. Simpulan dari tulisan ini mengacu pada busana yang diwujudkan menjadi 3 baju yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture. Strategi pemasaran yang digunakan adalah promosi, branding, dan penjualan produksi. Sistem produksi meliputi menyiapkan bahan, membuat pola, dan menciptakan busana.
Analogi Arsitektur Benteng Moraya dalam Penciptaan Busana Bergaya Exotic Dramatic Moray, Marcelina Magdalena; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Mayun KT, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.725 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1495

Abstract

Benteng Moraya yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Sulawesi Utara, Benteng Moraya merupakan peninggalan orang suku Minahasa yang menurut konsepsi benteng ini terletak di daerah Sulawesi utara tepatnya di desa Roong, Tondano di sebelah barat dan benteng ini adalah saksi bisu terjadinya perang tondano melawan penjajahan belanda pada tahun 1600 an. Benteng Moraya memiliki 3 struktur bangunan yang setiap strukturnya menyimpan cerita sejarah yang terjadi di tanah Minahasa. Dari ciri khas dan keunikan dari arsitektur benteng Benteng Moraya di pilih menjadi ide pemantik dalam penciptaan karya busana yang di wujudkan menjadi koleksi busana yang bertahap yaitu: ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture. Benteng Moraya di implementasikan dengan teori analogi dan kata kunci yan terpilih: Pilar, Relief, Lingkaran, Merah, Exotic Dramatic dan Textile Manipulation. Penciptaan karya busana ini menggunakan metode Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si, tahun 2016 dengan 8 tahapan : Ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain, sampel (design development), sample, prototype and construcion), dan Produksi (production), bisnis (bussines). Hasil penciptaan ini nantinya di harapkan dapat menambah referensi kepustakaan mengenai ilmu Fashion dengan teori Analogi Arsitektur Benteng Moraya yang diimplementasikan ke dalam busana Exotic Dramatic dengan menggunakan brand “Memarch”,strategi Bussines Model Canvas (BMC) dalam menjalankan usaha. Serta nantinya hasil karya tugas akhir dapat memperkenalkan kekayaan dan peninggalan bersejarah terlebih khusus arsitektur Benteng Moraya.
Sili Uwi : The Majesty of Reba dalam Busana Gaya Exotic Dramatic Devi Dasi, Komang Pushpa Priya; K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun; Priatmaka, I Gusti Bagus
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.536 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1501

Abstract

Reba merupakan sebuah upacara ritual adat yang dipercaya masyarakat Ngadha untuk mengingat kembali amanat yang telah ditinggalkan oleh Sili Ana Wunga dimana tanaman ubi disanjung -sanjung dan dipuja-puja. Upacara Reba berasal dari Flores, Kab. Ngadha, Nusa Tenggara Timur. Hal -hal yang dianggap tabu selama perayaan bila dilanggar akan menimbulkan malapetaka. Penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture ini ditujukkan untuk mewujudkan busana exotic dramatic dengan tradisi Reba sebagai ide pemantik. Tradisi Reba diimplementasikan dengan teori metafora dan kata kunci yang terpilih yaitu ubi, bambu, magis, tempurung kelapa dan tuba. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari delapan tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection, promoting, branding, sale, production business. Diharapkan hasil penciptaan ini dapat menambah kepustakaan khususnya dibidang mode dengan teori metafora tradisi Reba yang diimplementasikan dalam busana exotic dramatic.
Munjung Kerti : Rhythm of Ujungan Analogi Tradisi Ujungan dalam Penciptaan Busana Deluxe dan Semi Couture Andriasih, Maulia Putri; Radiawan, I Made; K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 1 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.321 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i1.1506

Abstract

Tradisi Indonesia merupakan warisan budaya yang masih dilestarikan sampai saat ini. Tradisi Ujungan merupakan salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Gumelem-Banjarnegara, Jawa Tengah. Tradisi Ujungan menjadi ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture dengan tema besar “Diversity of Indonesia” yang melahirkan koleksi dengan nama Munjung Kerti . Koleksi busana Munjung Kerti memadukan look cassual dengan sentuhan sexy alluring style yang menargetkan para wanita remaja. Penciptaan koleksi busana Munjung Kerti menggunakan metode yang dicetuskan oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si, yaitu “FRANGIPANI, The Secret Step of Art Fashion” dengan delapan tahapan seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap analogi yang diwujudkan sesuai dengan teori keyword yaitu obong menyan, rotan, berani, maskulin dan bela diri. Dari pemilihan keyword tersebut akan diaplikasikan pada koleksi busana dengan mencakup prinsip desain dan elemen desain sebagai acuan dalam penciptaan busana. Hasil dari proses penciptaan koleksi ini melahirkan suatu busana gaya cassual dengan menerapkan fabric manipulation di beberapa bagian serta penggunaan mutiara untuk meningkatkan nilai jual dalam mem-branding hasil karya.
“The Beauty Of Cock’s Comb Flower” Busana Semi Haute Couture Dan Deluxe Di Butik Luh Jaum Ginanti, Luh Kadek Ayu; Mayun, A.A Ngurah Anom; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.535 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1767

Abstract

Celosia cristata atau cockscomb adalah yang biasa kita kenal sebagai tanaman jengger ayam, atau biasa disebut coral celosia karena bentuk seperti batu karang. Sedangkan celosia plume atau celosia plumosa adalah jenis celosia yang bunganya seperti batang tegak, sekilas bunganya berbentuk mirip cemara kecil namun berwarna. Penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan semi haute couture ini ditujukan untuk mewujudkan busana wanita feminine dengan bunga jengger ayam sebagai ide penciptaan dan dilaksanakan bersamaan dengan program Magang/Praktik Kerja MBKM di butik Luh Jaum. Bunga jengger ayam diimplementasikan dengan teori analogi dan kata kunci terpilih yaitu: Ruffle, Runcing, Tekstur, Berurat, Benang Sari. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari delapan tahapan penciptaan “Frangipani”Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final cellection, promoting, branding sale, production business. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah kepustakaan khususnya dibidang fashion dengan teori analogi bunga jengger ayam yang diimplementasikan ke dalam wujud busana feminine.
Matur Tampiasih Segara : Metafora Tradisi Nyalamaq Dilauq sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Busana Bergaya Dramatic Elegance Amanda, I Gusti Agung Jessica; Sukmadewi, Ida Ayu Sri; Mayun, A.A Ngurah Anom
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.3 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1771

Abstract

Penulis mengeksplorasi keanekaragaman alam dan budaya nusantara yang nantinya diwujudkan dalam bentuk karya busana. Penulis memilih salah satu tradisi Indonesia yang berada di Lombok Timur NTB. tradisi Nyalamaq Dilauq adalah tradisi suku rantau yang yang ada di pulau Lombok, tradisi itu antara lain, suku Mandar, suku Bajo, suku Bugis, Suku Makasar, tradisi ini berlangsung selama 3 hari dan terdapat 3 rangkaian acara didalamnya, inti dari tradisi ini adalah persembahan dan ucapan syukur kepada alam laut , lelhur dan juga babao atau penggu lautan, persembahan ini dalam bentuk kepala kerbau yang di tenggelamkan ke sadar laut yang sudah dihias dengan emas. Tradisi ini mnejadi konsep dari penciptaan busana tugas akhir diwujudkan menjadi koleksi busana yang bertahap yaitu: ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture. Tradisi Nyalamaq Dilauq di implementasikan dengan teori Metafora dan kata kunci yan terpilih: mistis, persaudaraan, keagungan, persembahan, kehidupan. Penciptaan karya busana ini menggunakan metode frangipani oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si, tahun 2016 dengan 8 tahapan : Ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain, sampel (design development), sample, prototype and construcion), dan Produksi (production), bisnis (bussines). Hasil penciptaan ini nantinya di harapkan dapat menambah referensi kepustakaan mengenai ilmu Fashion dengan teori Metafora tradisi Nyalamaq Dilauq yang diimplementasikan ke dalam busana Dramatic elegance, agar dapat memperkenalkan budaya dan tradisi terlebih khususnya tradisi Nyalamaq Dilauq.
Bulan Pejeng : Amazing Moon from The Night Sky Hawaninggih, Ni Putu Hellmy Paulina; Mayun, A.A Ngurah Anom; Radiawan, I Made
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.438 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1775

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan yang busana yang terinspirasi dari legenda Bulan Pejeng ke dalam busana bergaya Exotic Dramatic yang berasal desa Pejeng,kecamatan Tampak Siring,kabupaten Gianyar. Bulan Pejeng adalah sebuah legenda yang dipercayai warga setempat sebagai bulan yang jatuh dari langit, bulan pejeng ini berbentuk nekara atau yang biasa disebut nekara pejeng, nekara pejeng ini berukuran sangat besar dan sakral tak hanya itu benda ini sudah diresmikan sebagai benda cagar budaya oleh bupati gianyar pada tahun 2019.Karna legenda dan visual benda ini sangat unik,penulis menjadikan inspirasi sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana ready to wear dan semi haute couture.Dengan mengunakan teknik digital printing,teknik bordir dan teknik payet sebagai penghias,yang perwujudannya dari keyword yang dipilih yaitu kedok muka,pola tumpal,logam,ukir dan bidang pukul nekara.Selain itu juga menciptakan sebuah brand yang bernama “HPH” dilengkapi dengan name card, price tag, paper bag, dan lain lain sesuai dengan brand HPH melalui strategi promosi, pemasaran, branding, dan penjualan dengan system bisnis model canvas.Metode penciptaan yang digunkan adalah analogi dan frangipani. Frangipani adalah delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample,Prototype, Dummy, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production, The Business. Hal ini menunjukkan bahwa untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya lokal yang unik kita bisa mempromosikannya melalui apapun salah satunya melalui desain fashion.
Panthera Tigris Balica : Metafora Harimau Bali dalam Busana Edgy Style Dewi, A.A. Sagung Putri Kesari; Mayun, A.A Ngurah Anom; Priatmaka, I Gusti Bagus
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.619 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1777

Abstract

Harimau Bali (Panthera tigris balica) punah pada tahun 1937, di daerah Sumber Kima, Bali Barat. Harimau Bali adalah subspesies harimau terkecil badannya dan tergelap warna kulitnya serta ciri khas Harimau Bali berekor pendek dari subspesies harimau lainnya. Makanan umum Harimau yaitu Babi Hutan, Kijang, Monyet, Rusa, Unggas, Tikus, Laba-laba, Katak, Serta terkadang harimau memakan Durian. Corak pada kulit harimau bali memiliki corak yang kembar dibagian tubuh kiri dan kanannya. Harimau bali dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana semi ready to wear deluxe dan semi haute couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap metafora berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu simetris, buas, ekor, tahun 1937 dan loreng. Pengaplikasian kata kunci simetris pada desain akan menerapkan pola simetris sebagai point of interestnya, buas diaplikasikan pada desain akan menerapkan bentuk busana dan cuttingan menyebar dan pemilihan warna gelap serta bentuk runcing pada aksesoris, ekor diaplikasikan pada desain akan menerapkan cutingan busana yang menjuntai, tahun 1937 diaplikasikan pada desain akan menerapkan siluet menyerupai jam pasir atau siluet H, serta loreng diaplikasikan pada desain akan menerapkan motif garis loreng pada busana. Style yang digunakan dalam desain yaitu edgy style
CHETOSIA MYRINA : Analogi Kupu – Kupu Sayap Renda dalam Busana Bergaya Glamour Elegant Dewi, Ira Kumala; Mayun, A.A Ngurah Anom; Sukmadewi, Ida Ayu Sri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.165 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1781

Abstract

Kupu – kupu sayap renda merupakan serangga endemic Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan. Kupu – kupu tersebut hanya dapat dijumpai di daerah Bantimurung Bulusaraung. Kupu – kupu adalah serangga berwarna warni yang bersayap segita besar. Kupu – kupu termasuk dalam ordo atau kelompok besar serangga yang disebut lepidoptera. Sisik – sisik ini sangat lembut, sehingga mudah rontok apabila sayap dipegang secara sembarangan. Kupu – kupu dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear deluxe dan haute couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap analogy berdasarkan 5 kata kunci yaitu, sayap metamorphosis, kepompong, berlekuk – lekuk. Dalam proses penciptaan karya pada sayap kupu – kupu diaplikasikan dalam metode printing untuk busana haute couture dan menggunakan detail payet pada busana, dan pengaplikasian busana ready to wear, busana haute couture menggunakan metode bordir mesin.