Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Gambaran Faktor - Faktor Waktu Pulih Sadar Pada Pasien Post General Anestesi Di RSUD dr. Soedirman Kebumen Reivita Amelia; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.193

Abstract

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 140 juta orang di seluruh dunia menjalani operasi setiap tahun, dengan 1,2 juta di antaranya terjadi di Indonesia saja. General anestesi merupakan metode umum untuk menghilangkan rasa sakit dan kesadaran sementara selama prosedur bedah. Sejumlah variabel, termasuk usia, jenis kelamin, IMT, kondisi fisik ASA, dan jenis operasi, memengaruhi waktu pemulihan setelah anestesi. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami faktor – faktor yang memengaruhi waktu pemulihan.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik faktor - faktor yang mempengaruhi masa pemulihan pasien di RSUD Dr. Soedirman Kebumen pasca anestesi umum. Metode : Penelitian ini menggunakan metodologi kuantitatif dengan desain deskriptif pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel purposif sampling digunakan untuk memilih sampel penelitian, yang mencakup pasien yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Aldrete score dan rekam medis pasien digunakan mengumpulkan data melalui observasi untuk variabel-variabel berikut: usia, jenis kelamin, IMT, status fisik ASA, dan jenis operasi. Distribusi frekuensi dan persentase digunakan dalam analisis data untuk mengkarakterisasi variabel-variabel yang memengaruhi waktu pemulihan. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan faktor yang mempengaruhi lama waktu sadar kembali adalah umur 26-35 tahun sebanyak 26 (23,4%) responden, jenis kelamin perempuan 65 (58,6%) responden, IMT normal 87 (78,4%) responden, ASA II 69 (62,2%) responden, dan jenis operasi kecil 59 (53,2%) responden. Kesimpulan : Sejumlah faktor fisiologis dan prosedural memengaruhi waktu pemulihan setelah anestesi umum. Risiko masalah pascaoperasi dapat dikurangi dan pemulihan dipercepat dengan penggunaan anestesi yang tepat dan pemantauan yang optimal.
Pengaruh Pemberian Audiovisual Animasi Motion Graphic Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di RSUD Pandega Pangandaran Bima Bayu Ningrat; Danang Tri Yudono; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.243

Abstract

Sectio caesarea merupakan prosedur pembedahan yang dapat menimbulkan kecemasan pada pasien, khususnya saat akan dilakukan anestesi spinal. Kecemasan ini berdampak negatif terhadap kondisi fisiologis dan psikologis pasien. Intervensi non-farmakologis seperti edukasi menggunakan audiovisual animasi motion graphic dapat menjadi alternatif untuk menurunkan kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian audiovisual animasi motion graphic terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea dengan spinal anestesi. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest dengan jumlah sampel sebanyak 92 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kecemasan adalah kuesioner APAIS (Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale). Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Sebelum diberikan audiovisual, sebagian besar pasien mengalami kecemasan sedang (72,8%). Setelah intervensi, terjadi penurunan tingkat kecemasan di mana mayoritas pasien mengalami kecemasan ringan (63%) dan sebagian tidak mengalami kecemasan (25%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value sebesar 0.000 (<0.05) yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara pemberian audiovisual terhadap penurunan tingkat kecemasan.
Hubungan Kecemasan Dengan Tekanan Darah Pada Pasien General Anestesi Di Ruang Pre Operasi Rumah Sakit Umum Daerah Pandega Pangandaran Sony Sanjaya Deol; Danang Tri Yudono; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.311

Abstract

Kecemasan menjelang operasi merupakan masalah umum yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis pasien, salah satunya tekanan darah. Peningkatan tekanan darah praoperasi dapat menimbulkan risiko komplikasi baik selama maupun setelah pembedahan, khususnya pada pasien yang menjalani anestesi umum. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kecemasan dengan tekanan darah pada pasien di ruang praoperasi RSUD Pandega Pangandaran. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode cross sectional. Sampel sebanyak 109 responden diperoleh melalui teknik purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur mengunakan kuesioner APAIS, sedangkan tekanan darah dinilai dengan tensimeter digital. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil menunjukkan adanya korelasi bermakna antara kecemasan dan tekanan darah (p < 0,05). Semakin tinggi tingkat kecemasan pasien, semakin besar kemungkinan terjadi peningkatan tekanan darah. Penanganan kecemasan praoperasi perlu dilakukan untuk menekan risiko komplikasi kardiovaskular.
Gambaran Pengetahuan Dan Kepatuhan Pasien Pra Operasi Dalam Menjalankan Puasa Fazri Saputra Rafi; Emiliani Elsi Jerau; Danang Tri Yudono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.332

Abstract

Puasa praoperasi sangat penting untuk mencegah komplikasi anestesi, terutama aspirasi. Ketidakpatuhan pasien terhadap instruksi ini meningkatkan risiko komplikasi selama dan setelah operasi. Penelitian ini bertujuan mengukur pengetahuan dan kepatuhan pasien praoperasi terhadap puasa di RSUD dr. Soedirman Kebumen, lalu memberikan rekomendasi untuk meningkatkan edukasi. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 133 responden dipilih melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang terdiri atas 14 pertanyaan pengetahuan dan 10 pertanyaan kepatuhan. Penelitian ini menemukan pada puasa pra operasi bahwa 90 responden (67,7%) memiliki pengetahuan yang baik. Seluruh responden sebanyak 133 responden (100%) patuh terhadap instruksi puasa. Masih ada sebagian pasien yang pengetahuannya belum optimal, dipengaruhi oleh pendidikan dan usia. Diperlukan edukasi praoperasi yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman pasien, yang dapat menjadi acuan bagi rumah sakit.
Gambaran Kejadian Menggigil Pada Pasien Post Anestesi Spinal Di Ruang Instalasi Bedah Sentral RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung A. Zulkifli; Danang Tri Yudono; Martyarini Budi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.337

Abstract

Menggigil merupakan komplikasi umum pasca anestesi spinal yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, peningkatan kebutuhan oksigen, dan risiko kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kejadian menggigil pada pasien post anestesi spinal berdasarkan usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), dan lama operasi. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dilakukan di IBS RS Bhayangkara Ruwa Jurai Bandar Lampung pada April 2025 dengan 97 responden melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi Crossley & Mahajan Shivering Scale. Hasil menunjukkan kejadian menggigil paling banyak terjadi pada pasien usia lanjut, perempuan, IMT rendah, dan durasi operasi 60 menit. Derajat menggigil terbanyak adalah derajat 1 dan 2. Faktor usia, jenis kelamin, IMT, dan lama operasi berpengaruh terhadap kejadian menggigil. Hasil ini dapat menjadi dasar penyusunan SOP penanganan menggigil di ruang operasi.
Gambaran Tekanan Darah Pada Pasien Sectio Caesarea Pasca Spinal Anestesi Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen Quratul Yuqa Nabila; Danang Tri Yudono; Amin Susanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.344

Abstract

Sectio caesarea merupakan tindakan obstetri yang banyak menggunakan anestesi spinal. Pemberian anestesi spinal dapat menyebabkan perubahan hemodinamik, salah satunya penurunan tekanan darah yang berisiko menimbulkan komplikasi pada ibu maupun janin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan darah pada pasien yang menjalani operasi sectio caesarea pasca anestesi spinal di RSUD dr. Soedirman Kebumen. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 51 responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Karakteristik responden mencakup usia, status kehamilan, dan riwayat penyakit, dengan mayoritas berusia 26–35 tahun, berstatus multigravida, serta tidak memiliki riwayat penyakit. Pengukuran tekanan darah dilakukan setiap 5 menit selama 30 menit pertama setelah pemberian anestesi spinal. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik setelah anestesi spinal. Rata-rata sistolik tertinggi pada menit ke-5 (114,82 mmHg), kemudian menurun hingga menit ke-20, dan stabil pada menit ke-30 (108,08 mmHg). Tekanan darah diastolik juga menurun dari 72,22 mmHg menjadi 64,86 mmHg pada akhir pengamatan. Hipotensi paling banyak terjadi pada awal observasi, sedangkan pada sebagian pasien di menit akhir pengamatan terjadi peningkatan hingga kategori hipertensi.
Implementasi Video Edukasi Komunikasi Situation, Background Assessment, Recommendation (SBAR) Terhadap Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Dhea Wulandary; Emiliani Elsi Jerau; Danang Tri Yudono
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.363

Abstract

Komunikasi efektif mempunyai pengaruh yang besar terhadap keselamatan pasien untuk mencegah terjadinya kejadian yang tidak diinginkan. Salah satu metode komunikasi efektif untuk meminimalisir insiden keselamatan pasien yaitu komunikasi SBAR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi video edukasi komunikasi Situation, Background Assessment, Recommendation (SBAR) terhadap tingkat pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperiment dengan pre-test post-test control group dimana intervensi edukasi pada kelompok intervensi melalui video dan kelompok kontrol melalui leaflet. Sample pada penelitian ini sejumlah 70 responden Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa tingkat III. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan pada kelompok kontrol mean sebelum intervensi 63,37 dan setelah intervensi 66,74 dengan p-value 0,566. Pada kelompok intevensi mean sebelum intervensi 62,54 dan setelah intervensi 96,06 dengan p-value 0,000. Hasil uji menggunakan mann whitney menunjukkan mean rank pada kelompok kontrol 19,27 dan kelompok intervensi 51,73 dengan p-value 0,000. Dapat disimpulkan terdapat perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi, sehingga terdapat pengaruh video edukasi terhadap peningkatan pengetahuan mahasiswa.
Edukasi Dalam Upaya Untuk Mengurangi Kecemasan Pasien Pra Pembedahan Dan Anestesi Di RS Jatiwinangun Purwokerto Rizki Ananda; Danang Tri Yudono; Linda Yanti
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.423

Abstract

Latar belakang: Kecemasan praoperasi dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung. Salah satu faktor penyebab utama kecemasan tersebut adalah kurangnya pemahaman pasien terhadap prosedur bedah dan anestesi yang akan dijalani. Pemberian informasi yang jelas kepada pasien mengenai tindakan   pre operasi sangat diperlukan, salah satunya adalah melalui pemberian edukasi preoperatif. Tujuan: mengetahui tingkat kecemasan sebelum dan sesudah edukasi pada pasien pra pembedahan di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun Purwokerto. Metode: metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat yaitu dengan studi deskriptif pada pasien pra operasi untuk mengetahui kecemasan sebelum dan sesudah edukasi. Responden dalam pengabdian kepada masyarakat sebanyak 30 pasien. Alar ukur yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien dengan Kuesioner APAIS. Hasil: Usia yang paling dominan yaitu usia 26-35 tahun (53,3%), Pekerjaan yang paling dominan adalah Buruh (43,3%) dan tingkat pendidikan yang paling dominan yaitu SMP (30%).  Tingkat kecemasan sebelum dilakukan edukasi yang paling dominan adalah tingkat kecemasan yang paling dominan pada kategori sedang (60%). Hasil kecemasan setelah dilakukan edukasi yang paling dominan dengan kategori tidak cemas (43,4%).
Hypertension Self Management Behavior and Achievement of Therapeutic Targets Grade 1 Essential Hypertension Suci Khasanah; Didik Prapto Sasongko; Amin Susanto; Danang Tri Yudono; Pramesti Dewi
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v6i2.2043

Abstract

Uncontrolled blood pressure in hypertension will increase the risk of cardiovascular disease. Hypertension Self-Management correlates with controlled blood pressure and correlates with blood pressure. The current study used the controlled parameter of blood pressure based on the classification of hypertension, with measurements at that time, it does not describe the type of hypertension studied and the extent to which the therapy target was achieved based on time. This research aims to determine the correlation of Hypertension Self-Management Behavior (HSMB) with Target Achievement of Essential Hypertension Therapy. The research design was correlational. Data collection using the HSMB Questionnaire, documentation of blood pressure for the last 3 months and blood pressure measurements in the fourth month. All respondents who met the criteria to be the research sample, namely as many as 34 respondents. Most of the respondents had good HSMB and SBP therapy targets achieved (41.2%) and DBP therapeutic targets were not achieved (58.8%). The results of the correlation test: HSMB with the achievement of TDS and TDD targets obtained p values of 0.475 and 1.000. There is no correlation between hypertension self-management behavior and the achievement of treatment targets for Grade 1 hypertension, both on systolic and diastolic blood pressure.
Multiple case study manajemen nyeri secara farmakologi pada pasien pasca operasi dengan spinal anestesi di ruang pemulihan rumah sakit Syarifuddin; Martyarini Budi; Danang Tri Yudono
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v3i1.3374

Abstract

Background: Postoperative pain is a common problem experienced by patients after surgery and can lead to delayed recovery and an increased risk of complications. Adequate pain management is crucial for enhancing patient comfort and the success of perioperative care. Purpose: To determine the profile of pharmacological pain management in postoperative patients who underwent spinal anesthesia in the recovery room at Dr. Tadjuddin Chalid Central Hospital, Makassar. Method: Qualitative descriptive approach with a multiple case study design. The participants consisted of 4 patients selected through purposive sampling. Data were collected through observation, pain assessment using the Numeric Rating Scale (NRS), and documentation of analgesic administration. Results: Most patients experienced initial pain with a score of ≥7. After pharmacological therapy was administered, pain decreased in all participants. The combination of ketorolac and paracetamol reduced pain from a score of 7 to 3, fentanyl reduced it from 7 to 4, and metamizole reduced it from 7 to 3. Meanwhile, patients receiving epidural analgesia exhibited minimal pain from the outset (0–1). Conclusion: Pharmacological pain management is effective in reducing pain intensity in postoperative patients who underwent spinal anesthesia.   Keywords: Pharmacological Pain Management; Postoperative Pain; Recovery Room; Spinal Anesthesia.   Pendahuluan: Nyeri pasca operasi merupakan masalah umum yang dialami pasien setelah tindakan pembedahan dan dapat berdampak pada keterlambatan pemulihan serta peningkatan risiko komplikasi. Manajemen nyeri yang adekuat sangat penting untuk meningkatkan kenyamanan dan keberhasilan perawatan perioperatif. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran manajemen nyeri secara farmakologi pada pasien pasca operasi dengan spinal anestesi di ruang pemulihan Rumah Sakit Metode: Penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan multiple case study. Partisipan berjumlah 4 pasien yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, pengkajian nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), serta dokumentasi pemberian analgetik. Hasil: Sebagian besar pasien mengalami nyeri awal dengan skala ≥7. Setelah diberikan terapi farmakologi, terjadi penurunan nyeri pada seluruh partisipan. Kombinasi ketorolac dan paracetamol menurunkan nyeri dari skala 7 menjadi 3, fentanyl menurunkan dari 7 menjadi 4, dan metamizole menurunkan dari 7 menjadi 3. Sementara itu, pasien dengan analgesia epidural menunjukkan nyeri minimal sejak awal (0–1). Simpulan: Manajemen nyeri secara farmakologi efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien pasca operasi dengan spinal anestesi.   Kata Kunci: Manajemen Nyeri Farmakologi; Nyeri Pasca Operasi; Recovery Room; Spinal Anestesi.