Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Representasi Konflik Masyarakat Jawa Bagian Timur dalam Babad Blambangan Dwi Rahmawanto; Titik Pudjiastuti; Mamlahatun Buduroh; Turita Indah Setyani; Rias Antho Rahmi Raharjo; Mu’jizah Mu’jizah; Eko Suwargono
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 13, No 1 (2024): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v13i1.7283

Abstract

The opposition between community members that gave rise to the conflict was recorded in the Babad Blambangan (BB), an East Javanese manuscript from the 19th century. The text narrated the causes of the succession of the kings in Blambangan and the conflict situations that accompanied the change of power for every king in Blambangan, from Prabu Tawangalun until Raden Tumenggung Pringgakusuma. The conflicts that are represented indicate the existence of ideas in the minds of the people of East Java about building and maintaining social relations between communities. In this regard, this research aims to understand the perspective of the East Java society towards the phenomenon of conflict in social relations as represented in BB. To find this perspective, qualitative methods were used. This research was also carried out using a multidisciplinary approach through language analysis and socio-cultural conflict approaches. With this approach, various phenomena are classified, identified, analyzed, and interpreted. Theories used to understand the conflict phenomenon are semantics preference and conflict situations. The results of this research show that the conflict in the BB is dominated by issues of power and retaliation. This results reflects the community's perspective on social relations in eastern Java at that time, namely that the existence of personal ambition for power was something that needed to be controlled. If this desire is left uncontrolled, it can damage social relations in society. The findings also strengthen and add to the ideas of previous research regarding the concept of harmony in Javanese society, especially in eastern Javanese society. AbstrakSituasi pertentangan antaranggota masyarakat yang menimbulkan konflik tersebut tercatat dalam Babad Blambangan (BB), naskah Jawa Timur yang berasal dari abad ke-19. Dalam naskah itu dikisahkan penyebab suksesi raja-raja di Blambangan dan situasi konflik yang mengiringi pergantian kekuasaan setiap raja-raja di Blambangan mulai dari Prabu Tawangalun hingga Raden Tumenggung Pringgakusuma. Konflik-konflik yang direpresentasikan tersebut menandai adanya gagasan dalam pemikiran masyarakat Jawa Timur tentang membangun dan mempertahankan hubungan sosial antarmasyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang masyarakat Jawa bagian timur terhadap fenomena konflik dalam hubungan sosial yang direpresentasikan dalam BB. Upaya untuk menemukan cara pandang tersebut dilakukan dengan metode kualitatif. Penelitian ini juga dilakukan dengan pendekatan multidisiplin melalui analisis bahasa dan pendekatan konflik sosio-kultural. Dengan pendekatan tersebut, fenomena konflik diklasifikasi, diidentifikasi, dianalisis dan diinterpretasi. Teori yang dimanfaatkan untuk memahami fenomena konflik tersebut adalah preferensi semantik dan konsep conflict situation. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa konflik dalam kisah BB didominasi oleh isu kekuasaan dan pembalasan. Hal tersebut mencerminkan cara pandang masyarakat tentang hubungan sosial masyarakat di Jawa bagian timur di masa  itu yakni keberadaan ambisi pribadi atas kekuasaan merupakan suatu hal yang perlu dikendalikan. Apabila kehendak tersebut dibiarkan tanpa kendali maka dapat merusak hubungan sosial di masyarakat. Temuan dalam penelitian ini memperkuat dan menambahkan gagasan penelitian terdahulu tentang  konsep kerukunan masyarakat Jawa,  terutama pada masyarakat Jawa bagian timur.
Reinterpret Panji Roman in bedhaya gandrungmanis lost choreography Naufal Anggito Yudhistira; I Made Suparta; Mamlahatun Buduroh; Turita Indah Setyani
Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 20 No. 2 (2025)
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/dewaruci.v20i2.7684

Abstract

Bedhaya Gandrungmanis is one of the Bedhaya dance which was created in the 19th century during Pakubuwana VIII's reign in Keraton Surakarta. This dance narrates Panji Jayakusuma's text, which symbolizes political chaos in 19th century Keraton Surakarta. The dance itself could represent how Panji roman used by Keraton Surakarta to construct the idea of Javanese kingship. This research tries to put forward an understanding of Bedhaya Gandrungmanis, which had been fragmented and lost, based on manuscripts and oral tradition. This research uses an ethno-philological method, which integrates philological research in anthropological perspectives. Data collecting technique includes collecting philological data on manuscript research in Keraton Surakarta Library, Universitas Indonesia Library, and Pura Mangkunegaran Library, and also collecting ethnographic data by interview, field research, and observation. The earliest version of Bedhaya Gandrungmanis was interpreted as a symbol of royal succession. In the last version of the 20th century, Bedhaya Gandrungmanis was re-interpreted in more romantic terms and lost its political resonance. The Panji story in this dance comes from the Panji Jayakusuma story that formed by Pakubuwana VIII to symbolize cultural change in the 19th century during the Dutch Colonial era. Its meaning had been shifted and fragmented as a result of these cultural changes.
INOVASI PERMAINAN CONGKAK MENJADI PERMAINAN DIGITAL SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN Afifah Luthfiani; Mamlahatun Buduroh; Syahrial; Silva Tenrisara Pertiwi Isma
NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 5 No. 1 (2026): April, NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/nalar.v5i1.3062

Abstract

Preferensi bermain anak-anak di era digital cenderung beralih ke permainan digital sehingga permainan tradisional seperti congkak mulai ditinggalkan. Sebagai upaya pelestarian, permainan congkak dialihwahanakan ke bentuk digital, salah satunya melalui aplikasi Congkak di Google Play Store. Namun, congkak digital menghadirkan pengalaman dan aturan bermain yang berbeda dari congkak tradisional yang berdampak pada pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik dokumentasi dan observasi partisipatif serta diolah dengan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi Congkak tidak sepenuhnya mewariskan unsur nilai dan fungsi budaya permainan congkak tradisional. Aplikasi Congkak memberikan rasa senang dan bebas serta mewariskan fungsi permainan congkak untuk melatih keuletan, kemampuan berpikir kritis, dan berhitung anak.  Ketika aplikasi dimainkan berdua, unsur nilai yang diwariskan meliputi nilai demokrasi (musyawarah dan kejujuran), nilai sosial (kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, serta menghadapi dan memecahkan masalah), dan nilai kesatria (sportivitas, rendah hati, lapang dada, dan tenggang rasa).  Namun, ketika aplikasi dimainkan sendiri, unsur nilai-nilai tersebut tidak terwariskan. Meskipun inovasi ini relevan dengan era digital, peneliti berharap pengembang dapat memperbarui aplikasi dengan mempertimbangkan pewarisan nilai dan fungsi budaya congkak tradisional. Dengan demikian,  nilai dan fungsi congkak tradisional yang terwariskan bisa lebih banyak.
Menentukan Waktu Terbaik: Etnoastronomi Orang Bugis Berdasarkan Naskah Kutika Abad XIX Rahmatia Ayu Widyaningrum; Priscila Fitriasih Limbong; Mamlahatun Buduroh; Tommy Christomy
SAWERIGADING Vol 32, No 1 (2026): Sawerigading, Edisi Juni 2026
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v32i1.1537

Abstract

This study aims to map the ethnoastronomical structure and analyze the cosmological knowledge of the Buginese as represented in the Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR) manuscript. It employs a qualitative method with a philological-astronomical approach to bridge classical texts and the logic of traditional science. Data were collected through literature review and close reading of the Lontara-script manuscript, including stages of description, transcription, and transliteration. The data were analyzed using a descriptive-analytical approach by examining the structure and cosmological meanings of the Kutika Lima and Kutika Tujuh systems, as well as specific tables such as Kanjorona Masuwara and Putika Pa’kulu Jangé. The findings show that the KUSR manuscript presents a time system that functions as a form of social navigation to maintain harmony between the microcosm and macrocosm. This system demonstrates the standardization of local knowledge, integrating practical, symbolic, and spiritual dimensions into a unified framework, while reinforcing the position of Buginese ethnoastronomy as an adaptive and systematic form of traditional science. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memetakan struktur etnoastronomi dan menganalisis pengetahuan kosmologis masyarakat Bugis yang terepresentasi dalam naskah Kutika Ugi’ Sakke Rupa (KUSR). Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan filologi-astronomi untuk menjembatani teks klasik dengan logika sains tradisional. Data dikumpulkan melalui teknik studi pustaka dan pembacaan mendalam (close reading) terhadap naskah beraksara lontara’, yang meliputi tahap deskripsi, transkripsi, serta transliterasi teks. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis dengan membedah struktur dan makna kosmologis pada sistem Kutika Lima dan Kutika Tujuh, serta tabel-tabel spesifik, seperti Kanjorona Masuwara dan Putika Pa’kulu Jangé. Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah KUSR memuat sistem waktu yang berfungsi sebagai instrumen navigasi sosial untuk menjaga harmoni antara mikrokosmos dan makrokosmos. Sistem penentuan waktu dalam naskah ini membuktikan adanya standardisasi pengetahuan lokal yang mengintegrasikan dimensi praktis, simbolik, dan spiritual dalam satu kesatuan, sekaligus mempertegas posisi etnoastronomi Bugis sebagai bentuk sains tradisional yang adaptif dan sistematis.
UPAYA IDENTIFIKASI MANUSKRIP BOGOR SEBAGAI WARISAN BUDAYA MELALUI WORKSHOP DAN FOCUS GROUP DISCUSSION Mamlahatun Buduroh; Rias Antho Rahmi Suharjo; Farah Annisa Rischer; Muhammad Rifky Astari
MIMBAR INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 4 No 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : Biro Administrasi dan Akademik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/mimbarintegritas.v4i1.5621

Abstract

Manuskrip di wilayah Bogor merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai sejarah bagi masyarakat kebudayaan Sunda. Dalam penelusuran yang telah dilakukan tim pengabdi bersama pustakawan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor ditemukan manuskrip atau naskah kuno di beberapa tempat, di antaranya di Kampung Urug, Kampung Sindang Barang, dan wilayah Karadenan. Permasalahannya adalah pemilik dan pustakawan masih belum memahami bagaimana cara mengidentifikasi dan menangani pemeliharaan manuskrip tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan yang dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai cara mengidentifikasi dan menangani atau melakukan preservasi terhadap manuskrip. Kegiatan yang dilakukan berupa Workshop Penelusuran Manuskrip dan Focus Group Discussion yang membahas temuan-temuan manuskrip di wilayah Bogor. Kegiatan tersebut melibatkan para pemilik naskah, pustakawan, dan tokoh masyarakat di daerah Bogor dan sekitarnya. Hasil temuan dalam kegiatan tersebut dipublikasikan dalam bentuk artikel berita pada koran lokal dan nasional. Dengan demikian, kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran akan arti penting manuskrip Bogor bagi warga Bogor dan budaya Sunda secara khusus. Selain itu, keberadaannya juga menjadi penting dalam konteks sebagai warisan budaya Indonesia yang perlu dilestarikan
Pemaknaan dan Simbolisasi Ikan dalam Khazanah Naskah Melayu: Analisis Semiotika Roland Barthes Ragil Putra; Mamlahatun Buduroh
Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Department of Indonesia Language and Literature Teaching, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/dialektika.v10i2.35396

Abstract

Al-Attas in one of his sub-chapters mentions the use of the word 'Ikan Tunggal' (Unique Fish) in one of Hamza Fansuri's works entitled Sha’ir Jawl fasal fl bayan ‘Ilm al-Suluk wa’l-Tawhid. "Ikan Tunggal" or Unique Fish is a symbol of the Spirit, or can be interpreted as 'soul' or 'al-Ruh'. The problem discussed is whether the meaning of "ikan" brought by Hamza Fansuri affects the meaning of "ikan" in Malay texts or not. The corpus data used comes from the Malay Concordance Project by utilizing the direct search and chronological order features to bring up the word "ikan" in different texts and periods. This is qualitative research and the collected data would be analyzed with descriptive methods. All the collected data would be interpreted one by one according to the context in the text itself and with some addition to the secondary data, which is another research to support the arguments. The results of this paper conclude that the concept of "ikan" brought by Hamza Fansuri was not immediately accepted and followed by Malay authors and copyists because they still have their own variety. However, two works are excluded from interpreting "ikan" with such a concept, namely "ikan" as a sign in a dream and "ikan" as a catastrophic phenomenon from Allah SWT.Keyword: Hamzah Fansuri; Al-Attas; Ikan; Naskah Melayu; Semiotics; Roland Barthes.