Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Leadership Model of Pastor and Presbyter in Church Stewardship Pairikas, Fenetson; Tari*, Ezra; Luji, Daud Saleh
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 9, No 1 (2024): Februari, Educational Studies, History of Education and Social Science
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v9i1.29085

Abstract

The goal of this article is to demonstrate the significance of pastors and presbyters working together to lead the church. This is due to a lack of them having to create healthy relationships and support one another. The research method used was qualitative. According to the findings of the study, pastors and presbyters have a role as pastors who care for congregation members. They must maintain relationships with the congregation, answer questions, offer support, and shepherd the congregation in their spiritual journey. The pastor is responsible for the worship service, preaching God's Word, and leading the congregation in prayer. Meanwhile, the presbyter has responsibility for handling church funds, creating church policies, and helping make key decisions. Pastors and presbyters collaborate to guide the church in carrying out its spiritual and administrative missions. They must have a positive working connection, support one another, and understand one another's roles. This contributes to the formation of a healthy and successful church in ministry.
Shalom sebagai Telos Pendidikan: Menuju Teologi Pendidikan Agama Kristen yang Holistis, Ekologis, dan Berkeadilan Daud Saleh Luji
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v4i2.147

Abstract

Abstract: This article examines shalom as the teleological foundation of Christian religious education. Through a qualitative literature review, this study argues that authentic Christian education must be oriented toward shalom—a holistic vision encompassing peace, justice, ecological integrity, and human flourishing. The discussion begins by tracing the biblical-theological roots of shalom in the Old Testament tradition and its pedagogical implications. It then explores the holistic dimension of Christian education, integrating faith, knowledge, and life praxis. Furthermore, this article analyses ecological responsibility as an essential content of Christian education in the era of environmental crisis. Finally, justice is discussed as the practical orientation of Christian education in the Indonesian context. This study concludes that a shalom-oriented Christian education offers a transformative theological framework that is holistic, ecological, and justice-bearing for contemporary society. Abstrak: Artikel ini mengkaji konsep shalom sebagai fondasi teleologis Pendidikan Agama Kristen. Melalui pendekatan kualitatif-kepustakaan, studi ini berargumen bahwa pendidikan Kristen yang autentik harus berorientasi pada shalom—sebuah visi holistis yang mencakup kedamaian, keadilan, keutuhan ekologis, dan kesejahteraan manusia. Pembahasan dimulai dengan menelusuri akar teologis-biblis konsep shalom dalam tradisi Perjanjian Lama dan implikasi pedagogisnya. Selanjutnya dieksplorasi dimensi holistis pendidikan Kristen yang mengintegrasikan iman, pengetahuan, dan praksis kehidupan. Artikel ini juga menganalisis tanggung jawab ekologis sebagai muatan esensial pendidikan Kristen di era krisis lingkungan. Terakhir, keadilan dibahas sebagai orientasi praksis pendidikan Kristen dalam konteks Indonesia. Studi ini menyimpulkan bahwa pendidikan Kristen berorientasi shalom menawarkan kerangka teologis transformatif yang holistis, ekologis, dan berkeadilan bagi masyarakat kontemporer
A, KEBERPIHAKAN GEREJA TERHADAP PARA PENYANDANG DISABILITAS DI WILAYAH TERITORI II KLASIS KUPANG TENGAH GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR Daud Saleh Luji; Hemi D. Bara Pa; Kristian E.Y.M. Afi
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 1 No. 1 (2021): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v1i1.41

Abstract

The purpose of this article is to find out how the Evangelical Christian Church in Timor, especially the Congregations in Territory 2 Klasis Kupang Tengah, takes sides with persons with disabilities. The method used in this research is a qualitative method by interviewing six people with disabilities and triangulation of sources to a number of pastors who have members of the congregation with disabilities. From the results of the research, it was found that the church has not taken sides with members of the congregation with special needs or disabilities because spiritual services in terms of visiting and praying for people with disabilities have not been carried out properly, the Church has never provided special assistance for people with disabilities. Skills training or working capital assistance has not been carried out, there is no access to worship, namely providing access to the church building for wheelchair users. Persons with disabilities have not been involved in court service programs and RAPBJ and persons with disabilities have not been given space to be involved in categorical and functional services.
TUGAS DAN FUNGSI JABATAN PENGAJAR JEMAAT DALAM GEREJA MASEHI INJILI DITIMOR (GMIT) Daud Saleh Luji
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 2 No. 2 (2022): December
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v2i2.166

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah untuk mencari tahu apa tugas dan fungsi jabatan pengajar di dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Untuk mendapatkan jawaban dari tujuan di atas maka metode yang dipakai adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasilnya adalah ada 4 tugas dan fungsi dari jabatan pengajar yang tertuang dalam Tata Gereja GMIT tahun 2010 yang dijabarkan lebih detail dalam Ketetapan Sinode GMIT No 5/TAP/SIN-GMIT/XXXII/2011 mengenai Peraturan Pokok tentang Jabatan dan Kekaryawan Gereja Masehi Injili Di Timor. Pasal 36 dari peraturan pokok di atas mengatakan bahwa tugas dan fungsi jabatan pengajar ada 4 yaitu : 1). Melaksanakan kegiatan pengajaran dalam jemaat; 2) Mengorganisir pelayanan pengajaran dalam jemaat; 3). Melaksanakan pendidikan agama Kristen bagi anggota sidi dan kelompok kategorial fungsional; 4). Bersama pendeta mempersiapkan bahan-bahan pengajaran bagi anggota jemaat, terutama untuk Pelayanan Anak dan Remaja (PAR) dan ketekisasi. Untuk memperjelas tugas dan fungsi tersebut maka penulis mendiskusikannya dengan berbagai pendapat dari sejumlah literatur sehingga memberikan pemahaman yang lebih jelas dari tugas dan fungsi jabatan pengajar dalam GMIT
Implementasi Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Cinta Kasih Pada Anak Usia Dini Lelo, Kaleb; Luji, Daud Saleh; Lumban Tobing, Oscard
JURNAL TALITAKUM: JURNAL PENDIDIKAN KRISTEN ANAK USIA DINI Vol 4 No 1 (2025): Talitakum: Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini
Publisher : PRODI PKAUD, IAKN TARUTUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69929/talitakum.v4i1.4

Abstract

Masa anak usia dini merupakan periode emas (golden age) yang krusial bagi pembentukan karakter, termasuk nilai cinta kasih sebagai inti dari ajaran Kekristenan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan Agama Kristen dalam membentuk karakter cinta kasih pada anak usia dini dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen tidak hanya berperan dalam mentransfer pengetahuan teologis, tetapi juga menjadi sarana pembentukan moral dan spiritual anak melalui pengalaman nyata, keteladanan, dan lingkungan belajar yang penuh kasih. Nilai kasih agape yang bersumber dari Allah harus diinternalisasi sejak dini melalui metode pembelajaran kontekstual seperti cerita Alkitab, permainan kelompok, kegiatan spiritual, serta keteladanan guru dan orang tua. Strategi seperti pembiasaan nilai kasih, penghargaan positif, pendidikan reflektif, dan penciptaan lingkungan suportif terbukti efektif dalam membentuk karakter anak. Namun, tantangan seperti minimnya pemahaman teologis-pedagogis guru dan pengaruh lingkungan sosial yang tidak mendukung perlu diatasi melalui pelatihan guru dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan gereja. Dengan demikian, pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis dalam menanamkan karakter cinta kasih yang menjadi dasar kehidupan beriman dan bermasyarakat sejak usia dini.