Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

A, KEBERPIHAKAN GEREJA TERHADAP PARA PENYANDANG DISABILITAS DI WILAYAH TERITORI II KLASIS KUPANG TENGAH GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR Daud Saleh Luji; Hemi D. Bara Pa; Kristian E.Y.M. Afi
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 1 No. 1 (2021): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v1i1.41

Abstract

The purpose of this article is to find out how the Evangelical Christian Church in Timor, especially the Congregations in Territory 2 Klasis Kupang Tengah, takes sides with persons with disabilities. The method used in this research is a qualitative method by interviewing six people with disabilities and triangulation of sources to a number of pastors who have members of the congregation with disabilities. From the results of the research, it was found that the church has not taken sides with members of the congregation with special needs or disabilities because spiritual services in terms of visiting and praying for people with disabilities have not been carried out properly, the Church has never provided special assistance for people with disabilities. Skills training or working capital assistance has not been carried out, there is no access to worship, namely providing access to the church building for wheelchair users. Persons with disabilities have not been involved in court service programs and RAPBJ and persons with disabilities have not been given space to be involved in categorical and functional services.
TUGAS DAN FUNGSI JABATAN PENGAJAR JEMAAT DALAM GEREJA MASEHI INJILI DITIMOR (GMIT) Daud Saleh Luji
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 2 No. 2 (2022): December
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v2i2.166

Abstract

Tujuan dari artikel ini adalah untuk mencari tahu apa tugas dan fungsi jabatan pengajar di dalam Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). Untuk mendapatkan jawaban dari tujuan di atas maka metode yang dipakai adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasilnya adalah ada 4 tugas dan fungsi dari jabatan pengajar yang tertuang dalam Tata Gereja GMIT tahun 2010 yang dijabarkan lebih detail dalam Ketetapan Sinode GMIT No 5/TAP/SIN-GMIT/XXXII/2011 mengenai Peraturan Pokok tentang Jabatan dan Kekaryawan Gereja Masehi Injili Di Timor. Pasal 36 dari peraturan pokok di atas mengatakan bahwa tugas dan fungsi jabatan pengajar ada 4 yaitu : 1). Melaksanakan kegiatan pengajaran dalam jemaat; 2) Mengorganisir pelayanan pengajaran dalam jemaat; 3). Melaksanakan pendidikan agama Kristen bagi anggota sidi dan kelompok kategorial fungsional; 4). Bersama pendeta mempersiapkan bahan-bahan pengajaran bagi anggota jemaat, terutama untuk Pelayanan Anak dan Remaja (PAR) dan ketekisasi. Untuk memperjelas tugas dan fungsi tersebut maka penulis mendiskusikannya dengan berbagai pendapat dari sejumlah literatur sehingga memberikan pemahaman yang lebih jelas dari tugas dan fungsi jabatan pengajar dalam GMIT
Penguatan Tugas dan Fungsi Pengajar Pelayan Anak dan Remaja di Klasis Lobalain Daud Saleh Luji; Ezra Tari; Fenetson Pairikas
DEDICATIO: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023): Desember: DEDICATIO: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of community service activities is related to explaining the duties and functions of teachers. Strengthening the roles and responsibilities of teachers serving children and adolescents is a crucial action in ensuring the continuity of their education and optimal development. Teachers are still hampered by a lack of tools and understanding of teaching creativity. Methods for implementing services, discussing and practicing. Interact with children to convey the goals and themes in storytelling activities. From the results of community service activities, it can be concluded that generally they are able to implement pop up books with puppet shows on stage. The teacher reveals about story development. The teacher emphasizes communication strategies that can affect children's emotions.
Implementasi Pendidikan Agama Kristen Dalam Membentuk Karakter Cinta Kasih Pada Anak Usia Dini Kaleb Lelo; Daud Saleh Luji; Oscard Lumban Tobing
JURNAL TALITAKUM: JURNAL PENDIDIKAN KRISTEN ANAK USIA DINI Vol 4 No 1 (2025): Talitakum: Jurnal Pendidikan Kristen Anak Usia Dini
Publisher : PRODI PKAUD, IAKN TARUTUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69929/talitakum.v4i1.4

Abstract

Masa anak usia dini merupakan periode emas (golden age) yang krusial bagi pembentukan karakter, termasuk nilai cinta kasih sebagai inti dari ajaran Kekristenan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan Agama Kristen dalam membentuk karakter cinta kasih pada anak usia dini dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan agama Kristen tidak hanya berperan dalam mentransfer pengetahuan teologis, tetapi juga menjadi sarana pembentukan moral dan spiritual anak melalui pengalaman nyata, keteladanan, dan lingkungan belajar yang penuh kasih. Nilai kasih agape yang bersumber dari Allah harus diinternalisasi sejak dini melalui metode pembelajaran kontekstual seperti cerita Alkitab, permainan kelompok, kegiatan spiritual, serta keteladanan guru dan orang tua. Strategi seperti pembiasaan nilai kasih, penghargaan positif, pendidikan reflektif, dan penciptaan lingkungan suportif terbukti efektif dalam membentuk karakter anak. Namun, tantangan seperti minimnya pemahaman teologis-pedagogis guru dan pengaruh lingkungan sosial yang tidak mendukung perlu diatasi melalui pelatihan guru dan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan gereja. Dengan demikian, pendidikan Agama Kristen memiliki peran strategis dalam menanamkan karakter cinta kasih yang menjadi dasar kehidupan beriman dan bermasyarakat sejak usia dini.
DAMPAK PENDAMPINGAN PASTORAL TERHADAP REMAJA NAKAL DI PANTI ASUHAN KASIH AGAPE: THE IMPACT OF PASTORAL ADMINISTRATION ON NAUGHTY ADOLESCENTS IN PANTI ASUHAN KASIH AGAPE Alfred Dubu; Ezra Tari; Daud Saleh Luji
Suluh: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 8 No. 1 (2022): Suluh : Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/suluh.v8i1.3613

Abstract

Kenakalan remaja merupakan suatu bentuk pelanggaran terhadap aturan, hukum maupun norma yang berlaku dalam masyarakat.Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisisfaktor-faktor penyebab tindakan kenakalan, bentuk dan fungsi pendampingan pastoral serta dampak pendampingan pastoral bagi remaja nakal. Penulis menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini berusaha mencari informasi di lapangan sesuai situasi yang ada. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab remaja nakal, yaitu secara internal seperti; rendahnya kontrol diri, emosi yang tidak terkendali, merasa bosan, jenuh dan ingin mencari suasana baru diluar panti. Bentuk pendampingan pastoral, yaitu; pendampingan pastoral individu dengan melakukan tiga kali pertemuan dalam seminggu dan akan berlanjut hingga masalah dapat terselesaikan dengan baik. Fungsi pendampingan pastoral yaitu;memberikan dorongan berupa semangat, memberikan jalan keluar, mendoakan, sharing firman Tuhan, memberikan contoh dan teladan dari tokoh-tokoh sukses. Dampak pendampingan pastoral ialah, secara fisik menjadi lebih sehat.secara psikis seperti; mampu mengontrol emosi, mandiri, mampu tampil didepan umum dan mampu saling menghargai, secara spiritualitas.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Karakter Siswa Sd Inpres Oelnunu Daud Saleh Luji; Simon Kasse; Jonatan Leobisa; Yulantika Anone
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.227

Abstract

Character education has a higher meaning than moral education because character education is not just about right or wrong but how to do it in daily life. PAK teachers have a big role in this matter. However, at SD Inpres Oelnunu there are still some children who do not have good character as expected, that is why research was conducted using qualitative methods to find out the role of teachers in shaping the character of students at SD Inpres Oelnunu. The results of the research show that the role of PAK teachers in building student character has been carried out from five aspects of assessment, namely religious character, nationalist character, integrity value, independent character, integrity character and mutual cooperation character. Indeed, there are still a small number of children who do not fully possess this character. However, according to the PAK teacher, he continues to play his role so that in the end he gets better results, namely students have good character from every aspect. AbstrakPendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter bukan hanya tentang benar atau salah tetapi bagaimana melakukannya dalam hidup kesehariannya. Guru PAK memiliki peran yang besar dalam hal tersebut. Namun Pada SD Inpres Oelnunu masih ada beberapa anak yang belum berkarakter baik seperti yang diharapakan, itulah sebabnya penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui bagaimana peran guru dalam membentuk karakter siswa pada SD Inpres Oelnunu. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran guru PAK dalam membangun karakter siswa sudah dilakukan dari lima aspek penilaian yaitu karakter religius, karakter nasionalis nilai integritas karakter mandiri, karakter integritas dan karakter gotong royong. Memang masih ada sebagian kecil anak yang belum sepenuhnya memimiliki karakter tersebut. Namun menurut guru PAK bahwa ia terus memainkan perannya sehingga pada akhirnya mendapatkan hasil yang lebih baik yaitu siswa memiliki karakter yang baik dari setiap aspek.