Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PEMANFAATAN GULMA SEMAK BUNGA PUTIH (Chromolaena odorata) SEBAGAI BAHAN PEMBUAT PUPUK ORGANIK BOKHASI DALAM RANGKA MENGATASI PENYEMPITAN PADANG PEMGGEMBALAAN DAN MENCIPTAKAN PERTANIAN TERPADU BERBASIS ORGANIK Johanis A. Jermias; Vinni Denivita Tome; Tri Anggarini Foenay
Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan
Publisher : Jurusan Peternakan Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.347 KB) | DOI: 10.35726/jpmp.v1i1.129

Abstract

Dua masalah dalam bidang peternakan dan pertanian yang dihadapi oleh Kelompok Tani Moin Fe’u  dan Kelompok Wanita Tani Moin Fe’u di Kelurahan Nonbes Kabupaten Kupang adalah: 1) invasi gulma semak bunga putih di padang penggembalaan yang mengancam ketersediaan pakan hijauan bagi ternak sapi; dan 2) ketergantungan terhadap pupuk anorganik untuk usaha pertanian tanaman hortikultura. Untuk membantu menyelesaikan kedua persoalan tersebut maka telah dilaksanakan kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan memanfaatkan gulma tersebut sebagai bahan pembuat pupuk organik bokhasi bersama dengan feces sapi  dan limbah pertanian lainnya. Kegiatan ini telah dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan demonstrasi plot. Selanjutnya pupuk organik tersebut telah diaplikasikan pada tanaman hortikultura yang ditanam di pekarangan rumah dan lahan percontohan. Luaran yang diperoleh dari kegiatan ini adalah: i) penurunan gulma di padang penggembalaan sehingga meningkatkan ketersediaan pakan bagi ternak sapi milik mitra yang dipelihara secara ekxtensif; ii) terciptanya pemahaman mitra akan manfaat dari gulma semak bunga putih; iii) pemanfaatan feces sapi menjadi bahan dasar pembuatan pupuk organik; iv) penurunan tingkat ketergantungan mitra terhadap pupuk anorganik; v) keterampilan mitra dalam pembuatan pupuk organik; vi) produk berupa pupuk organik bokhasi; vii) lahan percontohan pertanian organic; dan viii) produk pertanian organikKata Kunci: bokhasi, organik, hortikultura, semak bunga putih
The First Evidence Demographic and Density of Dog Population in Beach Area in West Timor, East Nusa Tenggara Ewaldus Wera; Johanis A. Jermias; Petrus M. Bulu; Hendrina Lero Kaka
Jurnal Veteriner Vol 24 No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2023.24.3.365

Abstract

Wilayah pantai Timor Barat memiliki banyak pelabuhan tradisional dan merupakan daerah transit nelayan dari dan keluar pulau Timor. Penularan rabies melalui pelabuhan tradisional sangat mungkin terjadi sehingga menempatkan Timor Barat pada kategori daerah beresiko tinggi tertular rabies di masa yang akan datang. Ketersediaan data demografi dan kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat sangat penting dalam pengendalian rabies yang efektif dan efisien jika terjadi wabah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggumpulkan data demografi dan mengestimasi kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat. Survei telah dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2021. Hasil penelitian menunjukan bahwa kepadatan populasi anjing di wilayah pantai Timor Barat berkisar antara 98-333 ekor per km2 dan didominasi oleh anjing berjenis kelamin jantan (62%), berumur lebih dari satu tahun dengan skor kondisi tubuh sedang. Jumlah jantan yang dominan berpotensi mempercepat laju penularan penyakit jika terjadi wabah penyakit zoonosis seperti rabies. Hal ini cukup beralasan karena daya jelajah anjing jantan jauh lebih luas dibanding anjing betina.Keberadaan anjing umur lebih dari satu tahun dan bebas berkeliaran di area umum akan berpotensi meningkatnya laju pertumbuhan populasi anjing mengingat kelompik anjing ini akan bereporoduksitanpa terkendali. Untuk itu edukasi manajemnen pemeliharaan dan kesehatan anjing perlu dilakukanuntuk menekan laju pertumbuhan populasi.
EFFECT OF ANTI-MOLD AND MYCOTOXIN BINDER ON CORN QUALITY AND BROILER PERFORMANCE Nalle, Catootjie Lusje; Supit, Max A.J.; Jermias, Johanis A.; Kusumaningrum, Damai; Kefi, Melani; Benu, Ariska
BIOTROPIA Vol. 32 No. 1 (2025): BIOTROPIA Vol. 32 No. 1 April 2025
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2025.32.1.2319

Abstract

Article Highlights:- The anti-mold used effectively maintained low aflatoxin levels in 13% moisture corn.- Synthetic mold inhibitors effectively decreased aflatoxin levels in corn during storage and maintained some nutritional quality- Mycotoxin binder supplementation did not improve broiler- Broiler performance declined as aflatoxin concentrations increased Abstract: The quality of animal feed is determined by high-quality ingredients and appropriate feed additives. This study aimed to assess: 1) the nutrient and aflatoxin total (AT) content of corn treated with an anti-mold (A) and 2) broiler performance fed with aflatoxin B1 (AFB1)-contaminated diets supplemented with a mycotoxin binder (MB).  Two experiments were carried out to achieve the objectives. Experiment 1 was set up with a 2 x 2 Factorial Completely Randomized Design (FCRD) with two factors: moisture content (MC at 13 and 15%) and anti-mold (A, -/+). Meanwhile, Experiment 2 was set up with a  3 x 2 Factorial Completely Randomized Design with two factors: the AFB1 (< 100, 165, 222 µg/kg) and MB (-/ +). The MC and A interaction was significant (P < 0.01) on the aflatoxin total of corn throughout the 2-month assay. The utilization of the anti-mold in afla-corn with different moisture levels did not influence (P > 0.05) corn’s nutrient content. The MC x A interaction was significant (P < 0.05) in the valine and glycine content of the stored corn. In the second experiment, no interaction of AFB1 x MB (P > 0.05) was observed in the bird’s performance during the study. The AFB1 Concentration (AC) of corn decreased significantly (P < 0.05 to 0.001) in feed intake, body weight gain, and feed efficiency of birds. Our study concluded that the anti-mold effectively maintained low aflatoxin levels in 13% moisture corn. Also, the anti-mold did not affect the nutrient profile of corn during storage. Our study also showed that mycotoxin binder supplementation did not improve broiler performance and broiler performance declined as aflatoxin concentrations increased.