Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

ANALISIS KOMPARATIF TARJAMAH QS. AN-NISA’ AYAT 34 DALAM TAFSIR AL-AZHAR DAN TAFSIR AL-MISHBAH Muhammad Alif Ramadhan; Andi Abdul Hamzah; Khairudin
BASHA'IR: JURNAL STUDI AL-QUR'AN DAN TAFSIR Vol 6 No 1 (2026): Basha'ir: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47498/4mmx3y34

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengkaji secara komparatif terjemahan QS. An-Nisā' ayat 34 dalam Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dengan menggunakan kerangka analisis tarjamah harfiyah dan tarjamah tafsiriyah. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, dengan sumber data primer berupa teks terjemahan dari kedua tafsir tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode komparatif yang menitikberatkan pada aspek pilihan diksi, struktur kalimat, dan penerjemahan istilah-istilah kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufasir memadukan unsur tarjamah harfiyah dan tarjamah tafsiriyah, namun dengan kecenderungan yang berbeda. Tafsir Al-Misbah lebih dominan menerapkan strategi yang mendekati tarjamah harfiyah melalui pemertahanan istilah Arab seperti qawwāmūn dan nusyūz guna menjaga kekayaan semantik teks sumber. Sebaliknya, Tafsir Al-Azhar lebih dominan menerapkan tarjamah tafsiriyah dengan menyajikan padanan bahasa Indonesia yang lebih komunikatif dan mudah dipahami pembaca umum. Perbedaan tersebut tidak mencerminkan pertentangan makna, melainkan orientasi yang berbeda dalam menyeimbangkan kesetiaan terhadap teks sumber dan keterpahaman pembaca bahasa sasaran. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah studi penerjemahan Al-Qur'an di Indonesia serta memberikan kontribusi terhadap pemahaman dinamika penerjemahan makna Al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia. Abstract This study comparatively examines the translation of QS. An-Nisā' verse 34 in Tafsir Al-Azhar by Hamka and Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab, employing the analytical framework of literal translation (tarjamah harfiyah) and interpretive translation (tarjamah tafsiriyah). A qualitative approach based on library research was adopted, with primary data sourced from the translation texts of both works. Data were collected through documentation and analyzed using a comparative method focusing on lexical choices, sentence structures, and the translation of key terms. The findings reveal that both exegetes combine elements of literal and interpretive translation, albeit with differing tendencies. Tafsir Al-Misbah predominantly employs a strategy closer to literal translation by retaining Arabic terms such as qawwāmūn and nusyūz in order to preserve the semantic richness of the source text. In contrast, Tafsir Al-Azhar predominantly applies interpretive translation by offering Indonesian equivalents that are more communicative and accessible to general readers. These differences do not reflect a conflict of meaning, but rather distinct orientations in balancing fidelity to the source text and comprehensibility for the target readership. This study is expected to enrich the scholarship of Quranic translation studies in Indonesia and contribute to an understanding of the dynamics of translating Quranic meaning into the Indonesian language.
Dinamika Islam Lokal: Akulturasi Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Rambu Solo' di Toraja Sukmawati; Andi Abdul Hamzah; Darussalam Syamsuddin
JMPI: Jurnal Manajemen, Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 4 No. 1 (2026): Vol 4 No 1 June 2026
Publisher : Pondok Pesantren As-salafiyah Asy-syafi'iyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71305/jmpi.v4i1.1787

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk akulturasi nilai-nilai ajaran Islam dalam tradisi Rambu Solo', mengidentifikasi strategi negosiasi yang dilakukan masyarakat Muslim Toraja (Sallang Toraya), serta menjelaskan implikasinya terhadap harmonisasi sosial dan moderasi beragama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap pelaksanaan Rambu Solo' pada keluarga Muslim, wawancara mendalam dengan tokoh adat, tokoh agama Islam (MUI dan KUA), serta pelaku ritual, yang didukung oleh studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akulturasi nilai-nilai Islam berlangsung melalui reinterpretasi makna ritual dan penyesuaian terhadap unsur-unsur yang tidak sesuai dengan prinsip syariat tanpa menghilangkan struktur utama adat. Masyarakat Muslim Toraja mengembangkan strategi negosiasi teologis dan kultural untuk menjaga keseimbangan antara komitmen terhadap ajaran Islam dan keterikatannya dengan budaya lokal. Proses tersebut berimplikasi pada penguatan harmonisasi sosial, praktik moderasi beragama berbasis kearifan lokal, serta penguatan identitas masyarakat Muslim Toraja sebagai bagian dari komunitas adat sekaligus sebagai pemeluk agama Islam. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan konsep negosiasi teologis dan kultural sebagai mekanisme utama akulturasi Islam dalam tradisi Rambu Solo', yang menjelaskan bagaimana reinterpretasi, adaptasi selektif, dan dialog budaya memungkinkan nilai-nilai Islam dan budaya lokal berkembang secara harmonis dalam masyarakat multikultural. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kajian Islam lokal sekaligus memperkaya perspektif mengenai hubungan agama, budaya, dan moderasi beragama di Indonesia.
Analisis Ekuivalensi dalam Penerjemahan Arab-Indonesia: Sintesis Teori Nida, Koller, dan Newmark/Equivalence Analysis in Arabic–Indonesian Translation: A Synthesis of the Theories of Nida, Koller, and Newmark Khaerun Nisa Nuur; Andi Abdul Hamzah
Loghat Arabi : Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab VOL 6, NO 2 (DESEMBER 2025): LOGHAT ARABI
Publisher : Universitas Islam DDI AGH Abdurrahman Ambo Dalle Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36915/la.v6i2.522

Abstract

Translating technical and scientific texts from Arabic into Indonesian is a complex task requiring deep understanding of both languages and academic context. This research explores core translation principles such as terminology accuracy, consistency, readability, and neutrality. Methods like literal, semantic, idiomatic, and adaptive translation are analyzed based on text type and purpose. The main focus is the concept of equivalence, ensuring alignment in meaning, form, and function between the source and target texts. The study applies Eugene Nida’s and Werner Koller’s frameworks to address linguistic and cultural differences. Identified challenges include sentence structure, technical term limitations, and cultural nuances. Recommended strategies include expert collaboration, wise use of AI, and thorough revision to ensure academic quality. This article attempts to contribute by bridging the literature gap through a conceptual synthesis between Nida, Koller, and Newmark's equivalence theory and a methodological formula for Arabic-Indonesian translation based on the concept of functional equivalence assisted by controlled AI.Penerjemahan teks teknikal dan ilmiah dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia merupakan proses yang kompleks dan memerlukan pemahaman mendalam terhadap kedua bahasa dan konteks keilmuannya. Penelitian ini membahas prinsip dasar penerjemahan seperti akurasi terminologi, konsistensi, keterbacaan, dan netralitas. Metode seperti literal, semantik, idiomatis, dan adaptif dianalisis sesuai dengan tujuan dan karakter teks. Fokus utama adalah konsep ekuivalensi yang menjamin kesepadanan makna, bentuk, dan fungsi antara teks sumber dan teks sasaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan Eugene Nida dan Werner Koller untuk mengatasi perbedaan linguistik dan budaya. Tantangan yang diidentifikasi meliputi struktur kalimat, keterbatasan istilah teknis, dan nuansa budaya. Untuk mengatasinya, disarankan kolaborasi dengan ahli, pemanfaatan AI secara bijak, dan revisi menyeluruh untuk menjaga kualitas akademik. Artikel ini mencoba memberikan kontribusi dengan menjembatani celah literatur melalui sintesis konseptual antara teori ekuivalensi Nida, Koller, dan Newmark dan formula metodologis untuk penerjemahan bahasa Arab-Indonesia yang berbasis pada konsep ekuivalensi fungsional dibantu dengan AI secara terkontrol.
Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam Pembelajaran Qawā‘id: Studi Kasus di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang/Challenges and Solutions in Implementing the al-Miftāh li al-‘Ulūm Method in Qawā‘id Learning: A Case Study at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School Abdullah Abdullah; Andi Abdul Hamzah; Mohamad Harjum
Loghat Arabi : Jurnal Bahasa Arab dan Pendidikan Bahasa Arab VOL 7, NO 1 (MARET 2026): LOGHAT ARABI
Publisher : Universitas Islam DDI AGH Abdurrahman Ambo Dalle Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36915/la.v7i1.542

Abstract

This study aims to analyze the challenges and solutions in the implementation of the al-Miftāh li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School, Bantaeng Regency. This study uses a descriptive qualitative approach to analyze the challenges and solutions in the application of the al-Miftāh li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning: a case study at the Nurul As’adiyah Parang Islamic Boarding School, Bantaeng Regency. Descriptive research describes the phenomena that exist in the field, while qualitative research analyzes and interprets social activities, attitudes, beliefs, and perceptions of individuals or groups. The results show that this study offers a five-step solution model to overcome the challenges of implementing the al-Miftāḥ li al-‘Ulūm method in qawā‘id learning, namely habituation, providing motivation, filtration, classifying students based on ability, and adding teaching staff. This model is a new contribution because it has not been formulated systematically in previous studies that generally only focus on the effectiveness of learning methods.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan solusi dalam penerapan metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis tantangan dan solusi dalam penerapan metode al-Miftāh li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id: studi kasus di Pondok Pesantren Nurul As’adiyah Parang Kabupaten Bantaeng. Penelitian deskriptif menggambarkan fenomena yang ada di lapangan, sedangkan penelitian kualitatif menganalisis dan menginterpretasi aktivitas sosial, sikap, keyakinan, dan persepsi individu atau kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian ini menawarkan model solusi lima langkah untuk mengatasi tantangan penerapan metode al-Miftāḥ li al-‘Ulūm dalam pembelajaran qawā‘id, yaitu habituasi, pemberian motivasi, filtrasi, pengklasifikasian santri berdasarkan kemampuan, serta penambahan tenaga pengajar. Model ini menjadi kontribusi baru karena belum dirumuskan secara sistematis dalam penelitian sebelumnya yang umumnya hanya berfokus pada efektivitas metode pembelajaran.
Rhetoric and Literature in the Classical Arabic Tradition: From Stylistic Devices to the Literary Genres Hasyim Ashari; Andi Abdul Hamzah
Al-Uslub: Journal of Arabic Linguistic and Literature Vol. 9 No. 01 (2025): Al-Uslub: Journal of Arabic Linguistic and Literature
Publisher : Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/al-uslub.v9i01.214

Abstract

This research highlights the position of rhetoric in the classical Arabic tradition, as well as several literary genres that developed during that period,particularly those with unique characteristics that distinguish them from the literature of other nations. The aim is to explain how the Arab people paid great attention to the importance of beauty and effectiveness in language to strengthen the message conveyed to the listener. In addition, this study also aims to explore the characteristics and uniqueness of several literary genres such asal-qas}i>dah, al-khamriyyah, al-maqa>mah, dan al-ams|a>l. This research uses a descriptive qualitative approach with a text analysis method where data is taken from various references, especially those related to classical Arabic literature. The findings are as follows: 1) The Arabs have long emphasized the aspects of beauty and effectiveness in speech, even before rhetoric (al-balagha) became a formal academic discipline. 2) In the classical Arab tradition, there are several literary genres that are unique and distinct from those of other cultures, reflecting the creativity of Arab writers at that time.
Kontestasi Legitimasi Politik pada Masa Abu Bakar As-Siddiq dan Umar Bin Khattab serta Implikasinya terhadap Stabilitas Negara Modern Dien Fitri Awalia; Hasaruddin; Andi Abdul Hamzah
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Blantika: Multidisciplinary Journal
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.530

Abstract

Legitimasi politik merupakan faktor fundamental dalam menjaga keberlangsungan pemerintahan karena menentukan tingkat penerimaan dan kepercayaan masyarakat terhadap kekuasaan yang berlaku. Dalam sejarah politik Islam, masa Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab menjadi periode penting dalam pembentukan pola legitimasi kepemimpinan yang berimplikasi terhadap stabilitas politik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontestasi legitimasi politik pada masa Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin Khattab serta mengkaji relevansinya terhadap stabilitas negara modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber literatur berupa buku sejarah, artikel jurnal ilmiah, dan kajian politik yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan membandingkan dinamika legitimasi pada kedua periode kepemimpinan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legitimasi Abu Bakar terbentuk melalui proses musyawarah dan kompromi politik dalam situasi krisis pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, kemudian diperkuat melalui konsolidasi terhadap ancaman internal seperti Perang Riddah. Sementara itu, legitimasi Umar berkembang melalui institusionalisasi kekuasaan, penguatan administrasi negara, serta kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stabilitas politik sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin dalam membangun legitimasi melalui penerimaan masyarakat, efektivitas pemerintahan, dan penguatan institusi. Temuan ini memberikan perspektif historis bagi negara modern dalam menghadapi tantangan krisis legitimasi politik.
Dampak Jangka Panjang Perang Salib terhadap Relasi Dunia Islam dan Barat dalam Politik Global Kontemporer Lonny Viona D; Hasaruddin; Andi Abdul Hamzah
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 4 No. 7 (2026): Blantika: Multidisciplinary Journal
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v4i7.531

Abstract

Perang Salib merupakan salah satu peristiwa historis yang memiliki pengaruh panjang terhadap pembentukan relasi antara dunia Islam dan Barat. Konflik yang berlangsung pada abad ke-11 hingga ke-13 tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga melibatkan kepentingan politik, ekonomi, dan konstruksi identitas yang kemudian membentuk persepsi antarperadaban hingga masa kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak jangka panjang Perang Salib terhadap relasi Islam dan Barat dalam politik global kontemporer melalui kajian terhadap pembentukan identitas, stereotip, memori kolektif, dan dinamika hubungan internasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis berbagai literatur akademik, buku sejarah, jurnal ilmiah, dan dokumen relevan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif-interpretatif dengan perspektif konstruktivisme dalam hubungan internasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perang Salib tidak hanya meninggalkan dampak material, tetapi juga membentuk konstruksi sosial berupa narasi konflik, persepsi antagonistik, dan identitas “kita” versus “mereka” yang terus direproduksi dalam berbagai wacana politik global. Warisan historis tersebut masih terlihat dalam dinamika konflik Timur Tengah, Islamofobia, kebijakan luar negeri, serta hubungan diplomatik antara dunia Islam dan Barat. Kesimpulannya, Perang Salib menjadi salah satu faktor historis yang berkontribusi dalam membentuk pola relasi kontemporer Islam–Barat, meskipun dinamika politik modern juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, dan geopolitik lainnya.
Dinamika dan Tantangan Masyarakat Islam di Era Modernisasi Fitriani Fitriani; Andi Abdul Hamzah; Darussalam Syamsuddin
AL-HIKMAH:Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam Vol 8, No 1 (2026): AL-HIKMAH : Jurnal Theosofi dan Peradaban Islam
Publisher : UIN Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51900/alhikmah.v8i1.29530

Abstract

This article discusses the dynamics and challenges faced by muslims in the era of modernization, marked by the rapid development of science, technology, and globalization. Modernization brings varous changes in social, cultural. Economic, and relegious aspects that influence the mindset and behavior of muslim communities. On one hand, modernazation opens great opportunities for the progress of muslims through access to education, technological innovation, and global participation. On the other hand, challenges arise such as identiy crisis, shiffing moral values, secularization, and weak understanding of religious teachings. This article uses a descriptive qualitative approach to analyze how muslims respond to these changes. The results of the study indicate that an adaptive, critical and selective attitude is needed in facing modernization, while still adhering to the principles of islamic teachings. The integration of islamic values and contemporary developments is key to maintaining a balance between progress and religious identity. Thus, muslims can play an active role in building an advanced civilization without losing their spiritual foundation.
Education on the Arabic Language at the Time of the Qur'an's Revelation to Enhance Community Islamic Literacy Andi Bangsawan Tolere; Kamaluddin Abu Nawas; Andi Abdul Hamzah
Maslahah: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 7, No 2 (2026): Publication in progress
Publisher : Yayasan Rahmat Islamiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56114/maslahah.v7i2.13645

Abstract

This Community Partnership Program (PKM) aims to strengthen the community's Islamic literacy through education on the characteristics of the Arabic language during the period of the Quran's revelation and its contribution to the development of Islamic civilization. The program was designed to enhance participants' understanding of the historical development of the Arabic language, the linguistic uniqueness of the Quran, and the importance of Arabic in understanding Islamic teachings. The PKM employed an educational approach consisting of lectures, interactive discussions, question-and-answer sessions, and the distribution of learning materials. The implementation demonstrated that participants' knowledge and awareness of the significance of the Arabic language in Islamic scholarship improved considerably. Participants also gained a better understanding of how the Quran transformed Arabic into the language of revelation, scholarship, and civilization, while introducing the foundations of linguistic sciences such as nahwu, sarf, balaghah, and tafsir lughawi. The program concludes that community-based educational activities can effectively improve Islamic literacy and encourage greater appreciation of the Arabic language as an essential medium for understanding the Quran and preserving the continuity of the Islamic intellectual heritage.
Socialization of the Characteristics of the Arabic Language during the Pre-Islamic (Jahiliyyah) Period as an Effort to Strengthen Islamic Linguistic Insight Maswan Ahmadi; Andi Abdul Hamzah; Kamaluddin Abu Nawas
Maslahah: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 7, No 2 (2026): Publication in progress
Publisher : Yayasan Rahmat Islamiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56114/maslahah.v7i2.13646

Abstract

This Community Service Program (PKM) aimed to enhance public literacy on the characteristics of the Arabic language during the Jahiliyah (Pre-Islamic) period as a foundation for understanding the development of Arabic and the Qur'an. The program was implemented through educational sessions, lectures, interactive discussions, and question-and-answer activities involving community participants. The materials covered the socio-cultural background of pre-Islamic Arab society, the characteristics of the Arabic language during the Jahiliyah period, the traditions of Jahiliyah poetry and literature, the moral values embedded in these literary works, and their relevance to contemporary Arabic language learning and Islamic education. The results of the program demonstrated an improvement in participants' understanding of the development of the Arabic language prior to the revelation of the Qur'an, the significance of Jahiliyah literary traditions as an integral part of the Islamic intellectual heritage, and their contribution to contextual Arabic language learning. Participants also showed a high level of enthusiasm throughout the activities and were able to relate the materials to Arabic language teaching practices in educational settings. In conclusion, this community service program successfully strengthened participants' Islamic literacy and broadened their understanding of the historical development of the Arabic language as a fundamental basis for comprehending the Qur'an and Islamic sciences.