Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pendampingan Pengembangan Kurikulum Model Taba Berbasis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Dalam Mengatasi Problematika Kurikulum Merdeka Di SMK Isa Ansori; Bachtiar Sjaiful Bachri; Lamijan Hadi Susarno
Inisiatif : Jurnal Dedikasi Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 (2026): Inisiatif : Jurnal Dedikasi Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/inisiatif.v5i1.792

Abstract

Vocational education curricula in Indonesia continue to face complex structural challenges, including excessive administrative orientation, rigid centralized approaches, and limited opportunities for teachers to act as curriculum developers who are responsive to industry demands and students’ characteristics. This community service program aimed to assist teachers at SMKN 6 Surabaya in improving their curriculum design competencies through the implementation of the Taba Model based on the educational philosophy of Ki Hadjar Dewantara. The program involved 48 teachers from eight vocational departments and was conducted over two weeks using a participatory mentoring approach through theoretical workshops, Focus Group Discussions (FGDs), collaborative teaching material development practices, peer review sessions, and reflective activities. The results showed a significant paradigm shift from teachers functioning merely as curriculum implementers toward becoming independent grassroots curriculum developers. In addition, teachers demonstrated improved abilities in designing teaching modules and instructional materials aligned with workplace needs, as well as integrating the values of Ki Hadjar Dewantara—Among System, freedom of learning, and the principles of Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, and Tut Wuri Handayani—into curriculum practices. All eight vocational departments successfully produced teaching modules and instructional materials with an average quality score of 85/100. In conclusion, the collaborative mentoring program based on the Taba Model effectively transformed teachers’ perspectives and produced relevant, humanistic, and industry-oriented instructional materials.
Problem Solving Berbasis CTL terhadap Pemecahan Masalah dan Berpikir Komputasional Ditinjau Kecerdasan Logika Matematika Siswa SMP dalam Pembelajaran MIPA: SLR Oktaviani Indria Purnamasari; Rusijono Rusijono; Lamijan Hadi Susarno
JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026): JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA
Publisher : Yayasan Pendidikan Bima Berilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53299/jagomipa.v6i3.4784

Abstract

Pembelajaran MIPA SMP memerlukan model yang tidak hanya menguatkan pemahaman konsep, tetapi juga melatih siswa menggunakan penalaran logis dan prosedural untuk menyelesaikan masalah nyata. Urgensi kajian ini muncul karena penelitian tentang problem solving, Contextual Teaching and Learning (CTL), kecerdasan logika matematika, kemampuan pemecahan masalah, dan berpikir komputasional masih banyak dibahas secara terpisah, padahal kelima aspek tersebut saling berkaitan dalam pembelajaran MIPA. Penelitian ini bertujuan menganalisis kecenderungan hasil penelitian tentang model problem solving berbasis CTL, kecerdasan logika matematika, kemampuan pemecahan masalah, dan berpikir komputasional siswa SMP dalam pembelajaran MIPA. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan adaptasi pedoman PRISMA 2020. Pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar, ERIC, IEEE Xplore, DOAJ, Garuda, dan SINTA pada rentang publikasi 2016-2026. Kriteria inklusi meliputi artikel yang membahas pembelajaran MIPA atau informatika jenjang SMP/sederajat, memuat variabel problem solving, CTL, kecerdasan logika matematika, kemampuan pemecahan masalah, atau berpikir komputasional, serta tersedia dalam teks lengkap. Dari 650 dokumen awal, diperoleh 25 artikel yang memenuhi kriteria untuk dianalisis secara tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa problem solving berbasis CTL berpotensi memperkuat keterkaitan konsep MIPA dengan situasi nyata, meningkatkan aktivitas bernalar, dan mendorong siswa menyusun strategi penyelesaian masalah secara sistematis. Kecerdasan logika matematika berperan sebagai faktor kognitif yang mendukung abstraksi, pengenalan pola, dekomposisi, dan berpikir algoritmik. Kajian ini merekomendasikan penelitian lanjutan berupa eksperimen, pengembangan perangkat ajar, dan meta-analisis untuk menguji efektivitas model problem solving berbasis CTL terhadap kemampuan pemecahan masalah dan berpikir komputasional berdasarkan kategori kecerdasan logika matematika siswa.
PERAN KURIKULUM DALAM MEMBANGUN RESILIENSI AKADEMIK MAHASISWA PG PAUD DI ERA DIGITAL Dwi Nurhayati; Lamijan Hadi Susarno; Dewi Mayangsari
Pedagogi : Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini Vol 12 No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/pedagogi.v12i1.29225

Abstract

Perkembangan pembelajaran digital telah menyebabkan perubahan signifikan dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya pada jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Perubahan ini menuntut staf akademik untuk membangun daya tahan akademik yang kokoh, supaya mampu menghadapi tekanan yang melekat, tuntutan teknologi yang terus maju, serta berbagai mode pembelajaran daring dan campuran. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menelaah peran esensial kurikulum dalam mendukung ketahanan akademik mahasiswa PAUD di masa disrupsi digital, dengan menggunakan metode tinjauan naratif literatur. Pendekatan metodologis meliputi penelusuran literatur akademik yang terdaftar dalam periode sepuluh tahun terakhir, pengkajian tematik yang mendalam, serta metode triangulasi konseptual yang menggabungkan bidang kurikulum, psikologi pendidikan, dan teknologi pembelajaran. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa ketangguhan akademik mahasiswa bergantung pada tiga aspek utama: tantangan yang diajukan oleh teknologi digital dan pengaruhnya terhadap kondisi psikologis mahasiswa; kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap struktur kurikulum dan alat teknologi; serta mutu desain kurikulum yang mendukung pengintegrasian literasi digital, pembelajaran kolaboratif, dan praktik pengajaran reflektif. Implementasi kurikulum yang didesain secara adaptif dan responsif terbukti efektif dalam memperkuat ketahanan akademik mahasiswa, sekaligus membekali mereka untuk menghadapi kompleksitas yang melekat pada ekosistem pendidikan digital. Studi ini secara tegas menggarisbawahi urgensi perancangan kurikulum PAUD yang berpusat pada kompetensi esensial abad ke-21, guna menumbuhkan lulusan yang memiliki ketahanan, kemampuan adaptasi, dan kesiapan profesional untuk berkontribusi dalam masyarakat yang dicirikan oleh transformasi digital yang berkelanjutan.
The CIPP Model In Training Program Evaluation: How Effective Is It? Mihnatuz Zahroh; Lamijan Hadi Susarno; Bachtiar Sjaiful Bachri
Journal of Educational Technology Studies and Applied Research Vol 2 No 2 (2025): [5] - 2025 December
Publisher : Teknologi Pendidikan ID

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70125/8nmx6v52

Abstract

Evaluating training programs is crucial for ensuring their effectiveness and long-term impact. Traditional evaluation models, such as the Kirkpatrick and ROI models, have been widely used but face limitations in assessing the entire training process, particularly in tracking implementation challenges and long-term impact. A key gap in research is the inconsistent implementation and validation of the CIPP (Context, Input, Process, Product) model across different training settings. This study systematically reviews the effectiveness of the CIPP model in training program evaluation from 2015 to 2025, analyzing ten open-access journal articles. The findings reveal that while the CIPP model provides a structured and comprehensive framework for training evaluation, challenges persist, including inconsistent application, resource constraints, and the need for better feedback mechanisms. The results highlight the necessity of refining training assessments through standardized implementation, improved evaluator training, and digital integration. These insights are critical for policymakers, educators, and corporate trainers in optimizing training effectiveness and fostering continuous improvement.
Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Dasar Wilayah Pesisir Priyono Tri Febrianto Febrianto; Bachtiar Syaiful Bachri; Lamijan Hadi Susarno
Jurnal Masyarakat Maritim Vol 6 No 2 (2022): Oktober, 2022
Publisher : Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jmm.v6i2.5246

Abstract

Merdeka belajar merupakan program yang dicanangkan dan diluncurkan di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Makarim. Program ini memberikan pilihan bebas kepada siswa sehingga bakat, minat dan karakter siswa dapat dikembangkan melalui merdeka belajar. Selama ini terdapat berbagai variasi model pembelajaran yang diterapkan guru. Ada yang menerapkan metode konvensional dan ada pula yang telah menerapkan inovasi pembelajaran yang lebih modern. Studi ini bertujuan untuk mengkaji persepsi mahasiswa tentang implementasi kurikulum Merdeka belajar di Sekolah Dasar di wilayah pesisir. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Jumlah responden sebanyak 129 responden. Studi ini menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan bahwa Merdeka belajar relevan untuk diimplementasikan di SD wilayah pesisir. Kebijakan ini merupakan langkah untuk mentransformasikan pendidikan Indonesia, guna mewujudkan sumber daya manusia unggul. Kurikulum Merdeka Belajar diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan siswa di pesisir, Merdeka belajar mampu mengubah nasib anak pesisir. Merdeka Belajar mampu meningkatkan kecerdasan siswa di pesisir. Merdeka Belajar mampu meningkatkan kecerdasan siswa di pesisir, Merdeka belajar mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi nelayan, Merdeka belajar mampu mengubah nasib anak pesisir Keywords: Merdeka belajar, implementasi kurikulum, siswa Sekolah Dasar, wilayah pesisir
Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Pendidikan Anak Usia Dini Luluk Asmawati; Budi Purwoko; Lamijan Hadi Susarno
Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 13, No 1 (2025): Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkc.v13i1.97557

Abstract

Inovasi teknologi mampu memfasilitasi model dan media pembelajaran anak usia dini. Tujuan menganalisis filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada pendidikan anak usia dini. Metode penelitian menggunakan kajian pustaka. Analisis penelitian menggunakan analisis konten. Hasil kajian penelitian: (1) filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara relevan dengan implementasi muatan Kurikulum Merdeka, (2) Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada pendidikan anak usia dini relevan dengan peningkatan pendidikan nilai-nilai agama, budi pekerti, dan jati diri untuk anak usia dini. Simpulan filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara relevan sebagai landasan yang kuat untuk implementasi Kurikulum Merdeka yang memadukan kekayaan warisan budaya kearifan lokal dengan model pembelajaran modern untuk peningkatkan karakter anak usia dini.
Curriculum Adaptation and Educational Technology Implementation in Border Areas: Infrastructure Challenges and Teachers’ Adaptive Strategies at SMP Negeri 2 Kefamenanu, East Nusa Tenggara Feliksitas Angel Masing; Lamijan Hadi Susarno; Bachtiar Syaiful Bachri
The Future of Education Journal Vol 5 No 2 (2026): Continued
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i2.1889

Abstract

This study aims to explore curriculum adaptation in border regions facing challenges in implementing educational technology amid infrastructure limitations, with a case study at SMP Negeri 2 Kefamenanu, East Nusa Tenggara. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth semi-structured interviews with an Indonesian Language teacher who participated in the Guru Penggerak (Teacher Mover) program. Five major themes emerged: (1) limited infrastructure conditions, (2) adaptive implementation of the Merdeka Curriculum, (3) technology integration strategies under constraints, (4) digital competency gaps between teacher generations, and (5) local culture-based contextualization of learning materials. Findings reveal that despite significant infrastructure limitations, meaningful learning continues through adaptive strategies developed by teachers. This study contributes to the literature on curriculum adaptation and educational technology by emphasizing contextual approaches and highlighting the need for more affirmative educational policies for border regions.
Development of a critical thinking skills instrument through problem-based learning for senior high school students Dimas Iqbal; Mustaji Mustaji; Lamijan Hadi Susarno
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol. 12 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang in collaboration with APSTPI and IPTPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um031v12i32025p173

Abstract

This study aims to develop an assessment instrument, comprising essay questions and scoring rubrics, to measure high school students’ critical thinking skills through Problem-Based Learning (PBL). The instrument was developed by adapting the Research and Development (R&D) design using the ADDIE model, which consists of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Expert validation results indicated that the instrument was suitable for use, with minor editorial revisions recommended to improve clarity and objectivity. A trial conducted with 67 students showed that all assessment items were valid (r-calculated > r-table) and the instrument demonstrated high reliability (Cronbach’s Alpha = 0.745). The scoring rubric consists of six main indicators referring to the critical thinking framework by Robert Ennis (1993): focus, supporting reasons, reasoning, organisation, language use, and relevance. This instrument is considered effective in supporting authentic assessment and can be used by teachers to evaluate students’ critical thinking skills more systematically, in line with the Merdeka Curriculum and 21st-century competency demands.