Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

The Relationship Between Compliance with Antihypertensive Medication and the Quality of Life of Hypertensive Patients at Jailolo Regional Hospital, North Maluku Dwi Fortuna, Ananda; Fani, Rif'atul
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 8, No 2 (2025): JKPBK Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v8i2.24208

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang memberikan dampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan dan menjadi tantangan utama dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi memiliki peran sentral dalam menjaga kestabilan tekanan darah sekaligus mempertahankan kondisi fisik dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan antara tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien hipertensi di RSUD Jailolo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien hipertensi yang menjalani pengobatan di RSUD Jailolo, Maluku Utara pada tahun 2024 sebanyak 272 orang, dengan 162 responden dipilih sebagai sampel menggunakan rumus Slovin melalui metode random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen utama, yaitu Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8) untuk mengukur tingkat kepatuhan minum obat dan WHOQOL-BREF untuk menilai kualitas hidup pasien. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis karena hasil uji normalitas menunjukkan distribusi data tidak normal. Hasil analisis menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat antihipertensi dengan kualitas hidup pasien pada pada domain psikologis (H=9,220; p=0,010) serta domain lingkungan (H=8,616; p=0,013). Sebaliknya, tidak ditemukan hubungan yang signifikan pada domain fisik (H=2,180; p=0,336) dan hubungan sosial (H=4,949; p=0,084). Temuan ini menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat berkontribusi secara selektif terhadap aspek tertentu dari kualitas hidup pasien hipertensi. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan intervensi peningkatan kepatuhan yang lebih komprehensif dalam pelayanan hipertensi serta mendukung penguatan konsep perilaku kesehatan, khususnya Health Belief Model, dalam menjelaskan implikasi kepatuhan terhadap luaran kualitas hidup yang multidimensional.
Basic Life Support Training On Ability And Self- Confidence Student In Handling Cardiac Arrest Cahyadi, Faisal Ahmad; Hastuti, Apriyani; Indari, Indari; Kurniawan, Ardhiles Wahyu; Laksono, Bayu Budi; Jamil, Mokhtar; ristanto, riki; Fani, Rif'atul; Roesardhyati, Ratna; Soares, Domingos
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 10 No 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v10i4.27738

Abstract

Background: Basic life support or BLS is a series of first aid measures in emergency situations to save the life of someone experiencing cardiac arrest or respiratory problems. Objective This research aims to determine the effect of BLS (basic life support) training on students' knowledge and self-confidence in handling cardiac arrest in students Bachelor of Nursing Study Program ITSK RS Dr Soepraoen Malang. Method In this study, a pre-experimental research design was used, namely research in which before the research was carried out, the sample was given first in the form of a pre-test on December 18th 2024 and at the end of the study the sample was given a post-test on December 22 2024. The population in this study were college study in Department of Nursing with 160 students involving 160 students as samples using the Cluster sampling method. The independent variable in this research is Basic Life Support (BLS) training and the dependent is knowledge and self-confidence, the data from the examination results are analyzed using univariate and bivariate analysis. Results The research results showed that students' knowledge in handling cardiac arrest was mostly poor, as many as 128 students (80%). and after students took part in the training, there was an increase in students, namely to 44 people (27.50%) who answered correctly and those who answered with less marks decreased to 66 students (41.25%). Meanwhile, the level of self-confidence of students in handling cardiac arrest was found to be mostly good, 112 people (70%). Students' self-confidence also increased for the better, to 138 people (86.25%) who answered good and the remaining 22 people (13.75%) answered enough. Conclusion There is an influence of basic life support training on students' level of knowledge and self-confidence in handling cardiac arrest. It is hoped that students can apply the knowledge they have gained from BLS training and continue to increase their knowledge and self-confidence to help victims with cardiac arrest.
Hubungan Diabetes Melitus dengan Penyakit Ginjal Kronis pada Lansia di Indonesia: Analisis Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Maharani, Ananda Sagita; Asri, Yuni; Fani, Rif'atul
Borobudur Nursing Review Vol 5 No 2 (2025): Borobudur Nursing Review Vol 5 No 2 (July-December 2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.15592

Abstract

Latar Belakang: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia, terutama pada lansia yang memiliki risiko lebih tinggi akibat penuaan fisiologis dan gangguan metabolik. Diabetes melitus merupakan penyebab utama PGK secara global, namun bukti berbasis populasi pada lansia Indonesia masih terbatas. Tujuan: Menganalisis pengaruh diabetes melitus serta faktor sosiodemografi dan klinis terhadap PGK pada lansia Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Metode: Studi potong lintang ini menganalisis 97.339 responden berusia ≥60 tahun dari dataset SKI 2023. Status PGK ditentukan melalui diagnosis dokter yang dilaporkan sendiri. Analisis survei kompleks pada IBM SPSS Statistics 25 menggunakan pembobotan, stratifikasi, dan pengelompokan untuk menyesuaikan desain survei. Uji chi-square digunakan dengan batas signifikansi p < 0.05. Hasil: Prevalensi PGK sebesar 0,5% (n = 452). Diabetes melitus menunjukkan asosiasi terkuat dengan PGK (p = 0.001). Jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal juga signifikan, sedangkan kelompok umur, status perkawinan, dan pekerjaan tidak signifikan. Kesimpulan: Diabetes melitus merupakan determinan utama PGK pada lansia Indonesia, sehingga perlu penguatan pengendalian glikemik, skrining rutin, dan edukasi kesehatan yang lebih terarah. Kata Kunci: Diabetes Melitus; Indonesia Health Survei; Lansia; Penyakit Ginjal Kronik.
Korelasi Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Derajat Dismenore Primer pada Remaja Putri Priska Meilinda Priardhana; Ardhiles Wahyu Kurniawan; Rif’atul Fani
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KEDOKTERAN Vol. 5 No. 1 (2026): April: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kedokteran
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrike.v5i1.8027

Abstract

Adolescent girls represent a population that commonly experiences primary dysmenorrhea. Inadequate dietary habits may contribute to inflammatory responses, while low levels of physical activity can reduce the body’s natural pain regulation, both of which may intensify menstrual pain. This study aimed to analyze the association between dietary habits and physical activity with the severity of primary dysmenorrhea among adolescent girls. A quantitative correlational study with a cross-sectional design was conducted. Participants were selected using proportional random sampling, involving 71 eleventh-grade students at SMAN 6 Malang. Dietary intake was assessed using a FFQ, physical activity levels were measured through the PAL indicator, and dysmenorrhea severity was evaluated using the WaLIDD score. The results showed that nearly half of the respondents had adequate dietary habits (49.3%) and moderate physical activity levels (47.9%), while most participants experienced moderate primary dysmenorrhea (53.5%). Statistical analysis using Somers’ d and Gamma tests yielded p-values of 0.039 and <0.001, indicating significant associations between dietary habits, physical activity, and dysmenorrhea severity. Correlation analysis demonstrated a moderate inverse relationship between dietary habits and dysmenorrhea severity (r = −0.301) and a strong association between physical activity and dysmenorrhea severity (r = 0.690).
Developmental Status of Toddlers with Stunting Sulistiyo, Agung Rahmat; Hastuti, Apriyani; Fani, Rifatul; Kurniawan, Ardhiles Wahyu
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 11 No 1 (2026): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The development of children who experience stunting is slower than the development of normal toddlers. Developments in this case, include gross motor, fine motor, social independence and language. This study aims to determine the development of children under-five years who experience stunting in the Public Health Center in Malang Regency. Research method The research design in this research is a descriptive study with a cross-sectional design approach. This research was conducted on 72 children under-five years in the Tajinan Public Health Center, Malang Regency, which was carried out in June- July 2022. The research instrument was the developmental pra- screening questionnaire and growth assessment using HAZ compared with z-score table. Data analysis in this study is univariate analysis. Result The results of the study showed that most of 67% had a suspect developmental level of 48 toddlers, almost half of the toddlers 28% of the aberration development had deviations of 20 toddlers and a small proportion of toddlers 5% (4 toddlers) had a normal development. Based on the research results, it is hoped health workers and health cadres will provide health education to mothers of toddlers regarding the fulfillment of essential nutrients to support the growth and development of toddlers, besides that health workers are expected to be able to monitor and evaluate toddlers with stunting cases.
LEVEL OF KNOWLEDGE AND PERSONAL GENITAL HYGIENE BEHAVIORS WITH THE DEGREE OF VAGINAL DISCHARGE IN ADOLESCENT GIRLS Auriel Jasmine; Shinta Wahyusari; Rif'atul Fani
HEARTY Vol 14 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v14i2.22231

Abstract

Vaginal discharge is a reproductive health problem that is often experienced by adolescent girls, but is often considered normal so it is not taken seriously. In fact, vaginal discharge can be a sign of certain diseases so good knowledge is needed to prevent the risks. Increasing knowledge and behavior of genetically modified personal hygiene is important to form adolescent awareness in maintaining the cleanliness of the reproductive organs. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and personal hygiene genetalia with the degree of vaginal discharge in adolescent girls. This study used a cross sectional analytical design with a research sample consisting of 182 adolescent girls in grades 7 and 8 at SMPN 1 Wajak. Data collection was carried out using a questionnaire, then the data was analyzed using a Gamma statistical test. The research instruments used were based on indicators of knowledge, personal hygiene behavior, and degree of vaginal discharge. The results of this study show that there is a relationship between the level of knowledge and vaginal discharge in adolescent girls with a ρ value of 0.011 and there is also a relationship between genetic personal hygiene behavior and the degree of vaginal discharge in adolescent girls with a ρ value of 0.042. These findings indicate that adolescent girls' understanding of vaginal discharge and genetic personal hygiene behaviors still needs to be improved, so schools and health workers need to strengthen reproductive education, and further research is recommended to develop.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE DENGAN PENCEGAHAN DIARE PADA BALITA Keyzia Botutihe; Rif'atul Fani; Ananda Sagita Maharani
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v9i1.47322

Abstract

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sering terjadi pada balita dan memerlukan upaya pencegahan yang efektif di tingkat rumah tangga. Pengetahuan ibu berperan penting dalam membentuk perilaku pencegahan diare pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang diare dengan tindakan pencegahan diare pada balita di wilayah kerja puskesmas saritani, Boalemo, Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 57 pasangan ibu dan balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur tingkat pengetahuan ibu dan tindakan pencegahan diare pada balita. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan baik dan cukup, namun tindakan pencegahan diare masih didominasi oleh kategori cukup. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu tentang diare dengan tindakan pencegahan diare pada balita. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik belum sepenuhnya diikuti oleh penerapan perilaku pencegahan yang optimal, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan ibu berhubungan dengan tindakan pencegahan diare pada balita. Disarankan agar tenaga kesehatan memperkuat edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan aplikatif guna meningkatkan praktik pencegahan diare di tingkat rumah tangga.
Hubungan Peran Orang Tua Dengan Sikap Dan Prilaku Kesehatan Reproduksi Remaja MTS Darul Huda Ayu Ananda; Shinta Wahyusari; Rif’atul Fani; Ratna Roesardhyati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.571

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan kondisi yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, kesiapan yang dimulai sejak usia remaja. Kesehatan reproduksi remaja meliputi fungsi, proses, dan sistem reproduksi remaja. Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan peneliti dengan wawancara pada siswa remaja Mts Darul Huda setelah bertemu dan berinteraksi dengan responden. Dalam 10 murid yang diwawancarai, ditemukan bahwa orang 5 siswi mengatakan tidak mendapat informasi mengenai kebersihan organ genetalia dari orang tua mereka dan 3 orang siswi mengatakan mereka merasa malu dan merupakan hal yang porno untuk diungkapkan, selain itu 2 orang siswi mengatakan hanya mendapat pengetahuan tentang menggunakan pembalut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan sikap dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja Mts Darul Huda. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di MTS Darul Huda Jl. KH Ahmad Dahlan, Sumber Wuni, Codo, Kec. Wajak, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswi Mts Darul Huda pada tingkat kelas VII, VIII, dan IX yang berusia antara 12–15 tahun dengan jumlah populasi 53. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling.  Hasil penelitian ini berupa peran orang tua (khususnya dalam aspek komunikasi) pada remaja MTs Darul Huda mayoritas berada pada kategori rendah atau bermasalah, yaitu sebesar 62,3% hingga 64,2%, Mayoritas remaja memiliki sikap kesehatan reproduksi dalam kategori kurang (69,8%), perilaku kesehatan reproduksi remaja menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, di mana 73,6% responden memiliki perilaku berisiko. Kondisi ini mencakup aspek higiene reproduksi yang rendah serta kurangnya pengendalian diri dalam interaksi sosial.  Kesimpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan sikap kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,015). Kekuatan hubungan bersifat negatif (r = -0,331) dan terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,002).  
Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus Pada Remaja SMP Elvina Yoandrawati; Rif’atul Fani; Shinta Wahyusari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.641

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit yang semakin meningkat prevalensinya di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Faktor kecerdasan emosional dianggap berpengaruh terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja. Kecerdasan emosional berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri terhadap perilaku berisiko. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Metode: Desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada siswa SMP Kristen Aletheia Malang bulan November hingga Desember 2025. Sampel sebanyak 54 siswa dipilih melalui total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Trait Kecerdasan Emosional Questionnaire–Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Diabetes-related Instrument to Assess Preventive Behaviors among Adolescents (DIAPBA) untuk mengukur perilaku pencegahan diabetes melitus. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes (r = 0,491; p<0,001). Kesimpulan: Kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan aspek kecerdasan emosional dalam upaya meningkatkan perilaku pencegahan diabetes di kalangan remaja.
MEDICATION ADHERENCE AND STRESS LEVELS IN RELATION TO QUALITY OF LIFE AMONG PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS Putri Cahyaningrum; Rif'atul Fani; Mokhtar Jamil
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2026): May
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jkep.v11i1.2351

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease that may affect physical, psychological, and social well-being, thereby influencing patients’ quality of life. This study aimed to analyze the relationship between medication adherence and stress levels with quality of life among patients with T2DM in primary healthcare. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional approach was conducted among 83 patients with T2DM selected using purposive sampling. Medication adherence was measured using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), stress levels using the Perceived Stress Scale (PSS-10), and quality of life using the Diabetes Quality of Life–Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI). Data were analyzed using Chi-square tests with a significance level of p ≤ 0.05. Most respondents demonstrated high medication adherence (47.0%), low stress levels (47.0%), and high quality of life (48.2%). There was a significant relationship between medication adherence and quality of life (p = 0.005). Respondents with higher medication adherence tended to report better quality of life. Stress level was also significantly associated with quality of life (p = 0.032), where higher stress levels were associated with poorer quality of life. Medication adherence and stress levels were significantly associated with quality of life among patients with T2DM. These findings highlight the importance of integrating adherence support and psychosocial management into diabetes care in primary healthcare settings.