Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Factors Associated with Mortality Among Stroke Patients Admitted to the Intensive Care Unit: A Retrospective Study Andriani; Asri, Yuni; Maharani, Ananda Sagita
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke is a leading cause of mortality worldwide, particularly among patients requiring intensive care. Identifying factors associated with mortality in the intensive care unit (ICU) is essential to improve clinical management. This study examined factors associated with mortality among stroke patients admitted to the ICU. A retrospective analytic study was conducted using secondary medical record data of stroke patients admitted to the ICU of TK. II R.W. Mongisidi Hospital, Manado, Indonesia, between December 2025 and January 2026. A total of 55 patients were included. Mortality during ICU stay was the primary outcome. Sociodemographic variables, clinical factors, and length of stay were analyzed using Chi-square and Fisher’s exact tests in SPSS version 26, with significance set at p < 0.05. The mortality rate was 41.8%. Most patients had a history of hypertension (78.2%) and uncontrolled blood pressure (87.3%). Age, gender, education, employment status, marital status, genetic factors, medication adherence, history of hypertension, and blood pressure status were not significantly associated with mortality (p > 0.05). Length of ICU stay was significantly associated with mortality (p < 0.001), with deaths occurring more frequently among patients with shorter stays. Length of ICU stay was the only factor significantly associated with mortality among ICU-admitted stroke patients
Peran Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Minum Obat pada Pasien PRB di Klinik Blimbing Malang Nizam, Moh. Syahrul; Asri, Yuni; Maharani, Ananda Sagita
Borobudur Nursing Review Vol. 6 No. 1 (2026): Borobudur Nursing Review Vol 6 No 1 (January-June 2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.16688

Abstract

Kepatuhan minum obat merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan penyakit kronis, khususnya pada pasien Program Rujuk Balik (PRB) di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Namun, ketidakpatuhan masih menjadi tantangan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien PRB di Klinik Blimbing Malang. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 73 pasien PRB dengan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis. Variabel independen adalah tingkat pendidikan, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan minum obat. Analisis menggunakan uji Chi-square atau Fisher’s exact dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan tinggi (82,2%). Tingkat pendidikan berhubungan signifikan dengan kepatuhan (p = 0,003), sedangkan variabel lain tidak menunjukkan hubungan bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan berperan dalam meningkatkan literasi kesehatan yang memengaruhi perilaku kepatuhan. Oleh karena itu, penguatan edukasi pasien diperlukan untuk mengoptimalkan hasil terapi.
Hubungan Karakteristik Sosiodemografi dengan Risiko Gaya Hidup Multipel pada Pasien Tuberkulosis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer: Studi Cross-Sectional di Indonesia Ali, Sugandi; Asri, Yuni; Maharani, Ananda Sagita
Borobudur Nursing Review Vol. 6 No. 1 (2026): Borobudur Nursing Review Vol 6 No 1 (January-June 2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.16916

Abstract

Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, dan perilaku gaya hidup tidak sehat dapat memperburuk luaran penyakit. Identifikasi faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan Risiko gaya hidup multipel penting untuk mendukung pengembangan intervensi yang lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik sosiodemografi dan Risiko gaya hidup multipel pada pasien tuberkulosis di fasilitas pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan memanfaatkan data sekunder dari UPT Puskesmas Ome selama periode 2025–2026. Sebanyak 50 pasien tuberkulosis dilibatkan dalam penelitian ini. Risiko gaya hidup multiple didefinisikan sebagai adanya kombinasi perilaku merokok, konsumsi alkohol, pola makan tidak sehat, dan aktivitas fisik rendah. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25.0 melalui statistik deskriptif, uji Chi-square, dan uji Fisher’s exact. Sebagian besar responden merupakan kelompok dewasa (90,0%), laki-laki (54,0%), bekerja (60,0%), dan termasuk dalam kategori risiko tinggi gaya hidup multipel (66,0%). Jenis kelamin (p < 0,001) dan status pekerjaan (p < 0,001) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan risiko gaya hidup multipel. Pasien laki-laki dan pasien yang bekerja lebih cenderung memiliki perilaku hidup berisiko tinggi. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara usia, tingkat pendidikan, dan status perkawinan dengan risiko gaya hidup multipel. Jenis kelamin dan status pekerjaan merupakan determinan penting Risiko gaya hidup multipel pada pasien tuberkulosis. Intervensi berbasis perilaku dan gaya hidup perlu diprioritaskan terutama pada pasien laki-laki dan pasien yang bekerja guna meningkatkan keberhasilan pengelolaan tuberkulosis dan luaran kesehatan pasien.
Hubungan Faktor Sosiodemografi dan Gaya Hidup dengan Derajat Hipertensi pada Lansia di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer di Indonesia Budiman, Cindria; Asri, Yuni; Maharani, Ananda Sagita
Borobudur Nursing Review Vol. 6 No. 1 (2026): Borobudur Nursing Review Vol 6 No 1 (January-June 2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.16917

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada lansia dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosiodemografi serta gaya hidup. Namun, bukti mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan derajat hipertensi pada lansia di fasilitas pelayanan kesehatan primer di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor sosiodemografi dan gaya hidup dengan derajat hipertensi pada lansia di pusat pelayanan kesehatan primer di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder dari rekam medis di Puskesmas Gogagoman pada April 2026. Sebanyak 68 lansia dengan hipertensi dilibatkan dalam penelitian ini. Variabel sosiodemografi meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, dan status pekerjaan, sedangkan faktor gaya hidup meliputi kebiasaan merokok, riwayat konsumsi alkohol, pola makan, dan aktivitas fisik. Analisis data dilakukan menggunakan IBM SPSS Statistics versi 25 dengan uji Chi-square dan Fisher’s Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (66,2%), berusia 60–69 tahun (88,2%), dan mengalami hipertensi stadium 1 (77,9%). Kebiasaan merokok memiliki hubungan yang signifikan dengan derajat hipertensi (p<0,001), di mana perokok menunjukkan proporsi hipertensi stadium 2 yang lebih tinggi dibandingkan dengan non-perokok. Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara derajat hipertensi dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan, status pekerjaan, riwayat konsumsi alkohol, pola makan, maupun aktivitas fisik (p>0,05). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan derajat hipertensi pada lansia. Oleh karena itu, penguatan program berhenti merokok, modifikasi gaya hidup, dan pemantauan hipertensi secara rutin di fasilitas pelayanan kesehatan primer sangat penting untuk mengurangi komplikasi hipertensi pada populasi lansia.